Putih.

Lalu bayangan pudar, yang lama kelamaan berbentuk suster laki-laki yang menggantikan kantong darah. Lelaki itu tersenyum lembut, lalu mencatat sesuatu di papan jalan yang dibawanya. Si suster lelaki itu kemudian melepas selang-selang yang menyumpal mulut Shoto, membalurkan sesuatu yang dingin lengket ke daerah bibirnya yang pecah-pecah dan kemudian berbalik, berbicara kepada seorang wanita.

"...ku..."

Lirih parau yang nyaris tak terdengar itu membuat si wanita dan suster lelaki menoleh.

"Sudah sadar?! Kau sudah sadar, Shoto?!"

Suara itu. Suara perempuan yang di kenalnya. Tangan hangat menggenggam pergelangan Shoto, namun hatinya mendecih kecewa. Hawa itu juga begitu ia kenal. Namun, suara dan hawa tubuh itu bukan milik perempuan yang ia rindukan.

"Shoto? Kau dengar aku?"

"...zu...k..u..."

"Apa?" tangan itu mengusap kepalanya. "Kau butuh sesuatu?"

Shoto mengerenyit. Setiap tarikan nafas terasa begitu menyakitkan. Seakan seluruh reseptor sakitnya menjerit, memberitahukan ada kerusakan serius dalam tubuh. Shoto mengerjapkan netra dwiwarnanya perlahan, dan pandangannya lambat laun menjadi lebih jernih.

Si suster lelaki itu sudah pergi. Hanya ada wajah seorang perempuan yang semakin dekat, dan bibirnya menempel pada ujung hidung Shoto berupa seulas kecupan lembut. Sosok itu berambut panjang, dengan mata hitam sipit dan surai legam yang lurus.

Yaomomo rupanya.

"Shoto? Kau dengar aku?" ucapnya. Ada raut sedit terpatri di wajahnya.

"I..." Shoto mengerenyit, berusaha mengumpulkan sedikit tenaga untuk bicara. "...zu..k..u?"

"Izuku?" Yaomomo mengulang. "Kau mencari Izuku? Istrimu?"

Kepala bersurai nyentrik itu mengangguk lemah.

Yaomomo menggenggam tangan Shoto. Wajahnya yang nampak berekspresi kelam mendekat, membuat bibir keduanya menyatu. Shoto cukup sadar untuk menjelaskan bahwa Yaomomo menciumnya. Alasan dibaliknya yang tidak bisa ia terka. Meski sama-sama bibir wanita, rasanya tidak sama seperti mencium Izuku. Tidak ada perasaan gugup dan senang, sekaligus adiktif yang basah memompa. Ciuman Yaomomo terkecap hampa, tak bermakna sama sekali bagi Shoto. Wanita itu mengusap rambut Shoto dengan penuh kasih, dan tersenyum.

"Izuku tidak ada di sini." Katanya.

Shoto tidak membalas. Ia memejamkan matanya. Lelaki itu memilih untuk terlelap lagi.

Siapa tahu, setelah ini wajah Izuku yang ia lihat sebagai pemandangan bangun tidurnya.

Seperti biasanya pada setiap pagi.


ZRUUUNG...

ZRUUUNG...

Lembaran kertas bertinta basah melayang dan jatuh dengan teratur di sanggahan plastik. Izuku memandangi kertas-kertas naskah yang ia cetak dengan perasaan campur-aduk. Meski sudah memasuki hari ketiga, Shoto belum kunjung bangun. Atas insiden Katsuki yang tiba-tiba datang ke rumah Izuku, wanita berambut hijau tua panjang berombak itu memohon-mohon kepada sang ayah mertua agar ia bisa tidur di kediaman utama keluarga Todoroki. Enji menerimanya dengan tangan terbuka. Setelah kunjungan singkat menemui ibu mertuanya, Izuku dipinjamkan bekas kamar Shoto untuk menginap. Dirundung rasa penasaran, Izuku membongkar dan melihat-lihat barang-barang pribadi Shoto yang masih ada di sana.

Hal pertama yang ada dilihat Izuku adalah: piala, piagam, medali. Banyak sekali bentuk penghargaan yang dipajang di kamar itu. Medali perak olimpiade matematika nasional Jepang tingkat SMA, juara bertahan snowboarding selama dua musim berturut-turut, piagam penghargaan most influencing student di universitasnya pada masa ia kuliah, dan lain-lain. Shoto membingkai jaket jersey almamater universitasnya. Foto wisudanya bersama ayah dan kakak-kakaknya. Senyumnya tipis, namun begitu manis. Senyum yang tercipta ketika Izuku membuatkannya soba dingin untuk menu makan malam, menyanggupi ajakannya tanding marathon atau ketika sang suami memberikan ciuman selamat jalan.

Senyuman Shoto itu langka dan benar-benar berharga.

Melihat seperti apa Shoto melalui masa remajanya, Izuku merasa bahwa mungkin saja Tuhan membuat kesalahan—yakni menciptakan sosok Shoto nyaris tanpa cacat. Wajahnya tampan, otaknya cerdas, tubuhnya atletis, lahir dari keluarga kaya dan multitalenta. Ah, tentu saja. Tuhan tidak pernah berbuat salah. Bagaimana bisa Izuku melupakan bekas luka bakar itu? Tentu saja, itu wajar. Terlalu banyak kelebihan yang membuat semua orang melupakan bekas luka bakar di mata kiri Shoto, dan prosesi terciptanya bekas luka tersebut.

Izuku menelaah kembali isi ruangan ini. Sebuah violin yang terpasang rapi di dalam petinya, bersandar stabil di sebelah lemari piala. Di dalam peti violin itu, ada secarik kertas berisi lirik lagu Eir Aoi. Lapis Lazuli, Tsubasa dan beberapa lagunya yang lain. Tertulis not-not huruf yang berkali-kali dicorat-coret. B#, A, Dm, dan modulasi-modulasinya. Nampaknya, Shoto berusaha meng-cover lagu tersebut dan membuat versi violin-nya. Izuku tertawa kecil. Ia tidak menyangka suaminya yang muram dan pendiam itu ternyata penah serius menekuni bidang seni musik.

Semakin menjelajahi barang-barang pribadi Shoto, semakin membuat Izuku sadar bahwa ia tidak mengenal Shoto barang setitikpun. Terlalu banyak rahasia yang terkuak, mulai dari pengalaman hidup, barang-barang penuh kenangan sampai hobi rahasia. Ketika membongkar rak buku untuk mencari koleksi literatur Shoto, Izuku menemukan empat buah buku yang begitu ia kenal.

Tiang gantungan, editan Aizawa Shota.

Valefor si Tukang Jam: Tabir Dosa Scarlett Willow. Diterbitkan pertama kali oleh FlashMight Publisher, sebagai hadiah juara I lomba menulis amatir yang diadakan oleh penerbit tersebut.

Klaustrophobia, editan Monoma Neito.

Antartica dan Artic, editan Hatsume Mei.

Antartica dan Artic, cetakan kedua. Editan Hatsume Mei dengan tambahan grafis.

Semua itu adalah buku karangan Midoriya Izuku.

Shoto memiliki semua buku yang ia tulis. Bahkan, cover-nya disampul plastik bening. Izuku mengambil buku berjudul Valefor si Tukang Jam dan menyadari ada kertas-kertas yang jatuh dari dalam buku. Bukan halaman buku itu, melainkan surat berbubuh tulisan tangan Shoto yang khas: besar, lurus, tegas dan jaraknya renggang-rengang antar kalimat.

" Tua bangka bajingan itu bilang bahwa ia akan menjodohkanku dengan seorang wanita. Meski bodoh dan nyaris tidak mungkin, kalau boleh berharap aku ingin dijodohkan dengan penulis buku ini. Aku tidak kenal dia, tetapi kuakui di foto buku ini dia cantik sekali. Dibandingkan jadi penulis, dia pasti lebih laku kalau jadi artis porno. Tapi, kuakui isi kepala dan kepandaian menulisnya benar-benar beyond common sense."

Izuku bersemu. Ia membalik buku tersebut hingga halaman terakhir, dan satu halaman berwarna yang memuat wajah, nama lengkap, alamat email resmi dan karir singkat menulis serta penilaian gaya menulis dari editor-editor FlashMight Publisher.

Apa Shoto sudah menjadi penggemar bukunya sebelum mereka bertemu?

Kenapa Shoto tidak pernah bilang?

Satu hal yang lucu, bahwa isi surat itu kini menjadi kenyataan. Todoroki Shoto dijodohkan dengan Midoriya Izuku. Keduanya menikah, dan hidup sebagai pasangan muda dengan rentang usia 7 tahun, yang kini pernikahan mereka telah berjalan tepat 2 bulan.

Bisakah kita anggap bahwa hal itu kebetulan?

Entahlah.

JREKKK!

Lamunan Izuku buyar ketika mesin cetak tidak lagi mencetak naskahnya. Printer-nya berderas keras, seakan mengingatkan Izuku kalau ia kehabisan kertas. Izuku kembali mengisi kertas, dan merapikan halaman yang telah ia cetak.

KRIET.

DUK. DUK. DUK.

Adrenalin bergeletar di tubuh Izuku. Ia beringsut, berlari ke dapur mencari senjata pelindung diri ketika mendengar suara langkah kaki tanpa permisi. Langkah itu semakin mendekat, dan bayangannya mulai tampak di ujung pintu masuk dapur.

"Sepi banget sih, ini rumah. Kaya goa han—HUWA IZUKU ITU PISAU! ITU PISAU BENERAN!"

Izuku terperanjat. "Monoma-san?"

"Iya, ini aku..." Monoma memucat ketika ujung pisau santoku itu mengacung beberapa inchi dari batang tenggorokannya. "Itu pisau betulan, DAN DEMI TUHAN TOLONG JAUHKAN BENDA ITU DARIKU!"

Dengan canggung, Izuku mengembalikan pisaunya ke tempat asal. "Lagian, masuk tanpa permisi. Kupikir maling."

"Pintu rumahmu terbuka. Tadi aku sudah ucap salam tapi tidak ada yang balas. Kupikir kau sedang di belakang."

Pundak Izuku melorot. Ia kembali ke ruang tengah, dan memungut naskah yang sempat ia geletakkan begitu saja di kursi kerja Shoto. Paranoia ini membuatnya lelah. Ia malu berkata pada siapapun soal kedatangan Katsuki kemari dan ajakannya berselingkuh. Selain karena Izuku tidak ingin membahasnya, ia tahu bahwa tidak akan ada yang percaya. Itu semua terlalu tidak mungkin.

Tapi ini Bakugo Katsuki yang ia bicarakan. Izuku-lah yang paling tahu bahwa lelaki itu jagonya membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin.

"Kemana suamimu?" Monoma menghempaskan dirinya ke sofa. "Kerja?"

Sudahlah, keluh Izuku dalam hati. Tidak perlu terlalu dipikirkan.

"Nggak." Izuku menggeleng. "Dia di opname."

"Sakit apa?" Monoma mengerutkan bibirnya dengan ekspresi ingin tahu.

"Semacam penggumpalan darah di paru-parunya." Jelas Izuku. "Kondisinya sudah stabil, tapi dia belum sadar."

"Operasi besar?" tanya Monoma lagi.

Izuku mengangguk.

"Ya sudah, setelah dari bagian kreatif visual grafis, aku akan antar kau ke rumah sakit." Monoma merenggangkan pundaknya. "Buat jenguk balok es kesayanganmu itu."

"Pernah ada yang bilang ke istrimu tidak kalau kau mulutmu itu benar-benar berbisa?" ketus Izuku.

Monoma tertawa sinis. "Makasih, lho."

"Aku tidak memuji."

"Izuku-chan, sayangnya golongan darahku S—satyr, sinister, and sarcasm." Monoma menyibak poninya dengan lagak selangit. "Bahkan ibu mertuaku sampai bilang, kalau saja aku tidak mencintai istri dan anakku, dia pasti sudah membunuhku bahkan sebelum aku menghamili putrinya."

"Ibu mertuamu salah. Harusnya dia membunuhmu sebelum kau menikahi putrinya, Monoma-san."

"Duh, bukan apa-apa, kok. Ohohohohohoho~"

Izuku memicing, menahan perasaan ingin mencekik seorang Monoma Neito karena dirundung rasa jijik berlebih. Ia memilih membereskan naskah yang ia cetak, lalu meletakkannya ke dalam map kertas. Kemudian, Izuku berganti pakaian dan bersiap pergi ke kantor FlashMight Publisher bersama Monoma.

"Hey, aku belum makan siang..." protes Monoma.

"Kenapa nggak makan masakan istrimu saja, sih?" Izuku menggerutu sambil mengenakkan sepatu di teras depan.

"Masakan istriku nggak enak." Monoma merengek. "Aku nggak suka kimchi."

"Kan masakan Korea nggak Cuma kimchi. Ada yang bulgogi, tuh daging! Aku sih su—"

Karena Izuku tiba-tiba terdiam, Monoma berjalan ke teras depan menghampiri Izuku. Wanita mungil itu terperanjat, nampak luar biasa ketakutan ketika melihat sosok lelaki kokoh berambut ash blonde jabrik berjalan memasuki pekarangan rumahnya dan berhenti tepat di depan pintu. Ia menatap Monoma dengan alis menukik sebelah, lalu balas menatap Izuku tanpa arti. Pakaiannya terlihat semi formal, seakan ia telah membuat janji untuk mengajak Izuku pergi kencan.

"Heh." Lelaki itu mendecih. "Jadi ini si bedebah busuk yang kau nikahi?"

"Hah?" Monoma mengerenyit bingung. "Ah, kau kan—"

"Diam! Aku tidak bicara padamu, bajingan!" hardik Bakugo Katsuki, identitas lengkap sang sosok yang datang tak diundang tersebut. "Aku mau membawa kembali Deku-ku yang kau rebut."

"Oy, oy..." Monoma terkekeh parau. "Masa bodoh dengan kau dan Izuku, ya. Tapi nggak usah tiba-tiba bilang bajingan pada orang yang baru kau temui, dong."

"HEEEHH?!" Bakugo mendengking muak. "Mau kupukul mukamu, hah?!"

"MONOMA-SAN!"

Kedua lelaki itu sama-sama terkejut ketika mendengar Izuku berseru. Izuku berdiri, mendorong dada Katsuki hingga mundur selangkah dan menjambak lengan Monoma.

"Ayo pergi." Katanya.

"Hee? Uhm."

"Chotto!" Katsuki menepis lengan Izuku dan menjambak pundaknya. "Siapa namanya tadi? Monoma? Tapi...tapi papan rumah ini tulisannya Todoroki! Apa jangan-jangan kau selingkuh lagi dari suamimu, Deku?"

"Urusai." Desis Izuku. "Aku mau pergi."

"Oy, aku tahu kalau kau ini mantannya Izuku. Tapi kurasa kau salah di dua hal." Monoma menepuk lengan Katsuki dan menyingkirkannya dari pundak Izuku. "Satu, aku bukan suaminya atau selingkuhannya. Dua, dia bukan pacarmu lagi."

Katsuki melayangkan satu tinju dengan murka, namun Monoma dapat menghindarinya dengan mudah. Ia melirik Izuku yang nampak begitu buruk; marah, sedih, kecewa, dengan raut muka yang sulit diartikan. Monoma kembali menangkis pukulan Katsuki, lalu mendorongnya agar menjauh.

"Oy, princess. Aku yakin kau belum putus darinya saat married, ya?" Monoma menerka.

"Hah?" Katsuki terdiam seketika. "Deku?!"

Izuku menunduk. Kedua tangannya mengepal kuat.

"Ah, iya..." Monoma mengangguk dengan senyum culas. "Jadi, pacarmu yang cantik ini di—"

"Monoma-san..." potong Izuku. "Bi...biar aku saja."


[FLASHBACK]


Awal musim panas, sekitar 3 bulan yang lalu keluarga Midoriya mendapat kejutan yang luar biasa.

Midoriya Hisashi, lelaki yang keberadaannya sukar sekali diketahui akhirnya pulang. Izuku dan mamanya tentu saja senang. Mereka memasak banyak makanan kesukaan Papa Izuku, lalu makan sambil membicarakan banyak hal. Papa Izuku bekerja sebagai IT Manager di sebuah perusahaan multinasional berbasis online yang masih berada di bawah kepemimpinan Todoroki Group, yang kantornya berada di Kyoto. Bekerja di bawah sang konglomerat Todoroki Enji, dinilai Midoriya Hisashi adalah sebuah tekanan batin. Lelaki itu sangat terobsesi dengan hasil yang besar, sehingga ia menggencar semua divisi untuk mencapai target yang dirasa tidak masuk akal.

"Bahkan, kemarin apartemenku sampai didatangi polisi." Ungkap Papa Izuku sambil makan karaage buatan putrinya. "Fuwhaah, karaage buatan Izuku-chan memang paling enak! Eh, bukan berarti buatan Mama nggak enak lho, ya."

"Daijobu." Mama Izuku tertawa. "Kalau sual masak, Izuku tidak terkalahkan."

"Masak itu keahlian dasar seorang perempuan. Kalau masakanmu seenak ini, Izuku pasti bisa jadi istri idaman!"

Mama Izuku melotot. "Papa!"

"Apa? Bukannya dia dan Katsuki bakal meni—"

Izuku meletakkan sumpitnya. Ia merengut, berusaha menahan luapan tangis dengan menggosok matanya. Papa tercengang, menganga tak paham sambil gantian menatap putri dan istrinya. Kedua orangtua Izuku sudah mengenal Bakugo Katsuki, salah satu anak tetangga mereka sebagai teman kecil Izuku. Mereka memang mengaku berpacaran saat SMA, dan orangtua keduanya optimis bahwa hubungan mereka akan langgeng sampai pelaminan.

"Izuku...hei, ada apa, sayangku?" Papa Izuku mendekat, menghapus sebulir airmata yang meleleh, menggantung di dagu Izuku. "Apa kau dan Katsuki bertengkar?"

"Hik...Papa..." Izuku merintih, berderai airmata. "Kacchan tidak memberiku kabar lagi. Dia bahkan menelpon orangtuanya setiap hari! Tapi dia tidak mengabariku! Aku tahu kapan dia pulang ke Jepang dari teman-temanku. Tapi...tapi...huk...dia tidak bilang apa-apa padaku!"

Papa Izuku memandangi istrinya dengan tatapan tidak mengerti. Namun, Mama Izuku tidak memberikan tanggapan.

"Se...sebelum dia pergi ke cruise, hik...hik...dia bilang aku harus menunggunya sukses. Ta..tapi...hik...ini sudah hampir 7 tahun, Pa! Kalau dia bosan, dia kan bisa bilang putus padaku, Pa!" Izuku mengadu sambil tersedu-sedu.

"Nan de?" Papa Izuku mengambil sehelai tisu dan membasuh wajah putrinya. "Apa kau sudah mencoba memberinya kabar duluan?"

"..." Izuku mengangguk pelan. "Tidak ada balasan. Bahkan ibunya Kacchan sampai minta maaf. Waktu ditanya ayahnya, Kacchan menjawab dia lupa..."

Papa Izuku menghela nafas. "Lupa itu manusiawi."

"Aku dan Kacchan sudah pacaran selama 13 tahun! Apakah melupakan kekasih yang sudah dipacari selama itu manusiawi?" Izuku terisak. "Awalnya, dia memarahiku karena menelpon setiap hari. Huk...dia bilang aku harus bersabar. Harus menunggu. Tapi...tapi..."

Izuku terdiam. Ia kehabisan kata-kata. Ia merasa sudah begitu bodoh, memberikan segala yang ia punya pada lelaki yang bahkan dengan mudah melupakannya karena terlalu larut dalam dirinya sendiri. Izuku mencintai Katsuki dulu, kini dan sampai nanti. Izuku percaya bahwa lelaki yang ia idamkan menjadi pasangan hidup semenjak kecil itu akan benar-benar menjadikannya pelabuhan terakhir. Maka, Izuku menunggu dengan sabar. Semua orang menghujat Izuku, menceramahi wanita berambut berombak itu bahwa mencintai Katsuki yang simpang siur keberadaannya itu bagaikan menggenggam segumpal asap, berharap hangat dari sumber apinya. Izuku mengenal baik Katsuki semenjak sekolah dasar, sehingga ia percaya bahwa Katsuki akan kembali dan membuktikan janjinya.

Maka, Izuku menunggu.

Menunggu.

Dan menunggu.

Sampai akhirnya, Midoriya Izuku lelah percaya.

Ia berhenti berharap.

"Izuku..." ucap Papa Izuku penuh kasih. "Habiskan makan malammu. Papa mau bicara nanti, di kamarmu setelah kita makan, ya."

Meski tidak ingin, Izuku berusaha menghabiskan malam malamnya. Hisashi pergi mandi, lalu Izuku membantu ibunya mencuci piring dan membereskan rumah. Lepas itu, Izuku pergi ke kamar untuk menenangkan diri. Papanya mohon izin untuk masuk, dan lelaki yang wajahnya nyaris serupa dengan Izuku tersebut menghempaskan diri ke kasur.

"Izuku, mau dengar cerita Papa, tidak?" tanyanya.

Izuku berbalik, duduk menghadap ayahnya dan mengangguk. "Mau."

"Ini rahasia, ya." Hisashi menyilangkan telunjuk di bibir. "Oke?"

Izuku mengangguk.

"Jadi begini..." Hisashi memulai dongengnya. "Boss Papa, yaitu Todoroki-san, menggelapkan dana 800 juta Yen dari perusahaan tempat Papa kerja, Technocrat, untuk disetorkan ke klan Matsumoto-gumi, salah satu klan gokudo terkuat Jepang yang basisnya di Shanghai."

"Aku pernah dengar Matsumoto-gumi." Balas Izuku. "Waktu di hotel, aku melayani Matsumoto Suoh. Laki-laki seumurku. Kata head waiter, dia orang super penting."

Papa Izuku mengangguk. "Itu anaknya. Boss Matsumoto-gumi, yang berarti boss dari klan ini, adalah Matsumoto Kenshoo. Todoroki-san membayar upeti pada Matsumoto Kenshoo atas kemenangan tender perusahaan yang tembus ke wilayah Tiongkok. Naasnya, uang tersebut membuat Technocrat nyaris kolaps karena kehilangan tulang punggung finansial."

"Lalu?"

Midoriya Hisashi menyeringai. "Aku meretas salah satu bank besar di Jepang agar uang 800 juta itu bisa kembali pelan-pelan menyuplai Technocrat."

"Sonna..." sepasang Zamrud itu membulat tak percaya. "Papa kriminal!"

"Papa tidak mau dipecat." Papa Izuku menghela nafas. "Dan lagi, untungnya Matsumoto-gumi menyediakan pengacara yang membuat Papa lepas dari tuduhan. Jangan tanya caranya bagaimana."

"Lalu?"

"Todoroki-san memberikan Papa uang. Tapi, Papa tidak mengambilnya. Sisanya diputar ke perusahaan lagi." Tutur Papa Izuku. "Lalu, saat sedang ke ruangan Papa, Todoroki-san melihat foto Mama dan fotomu. Dia bertanya, apakah putrimu sudah menikah."

Papa Izuku menghela nafas. Ia lalu melanjutkan ceritanya. "Lalu saat kubilang belum, dengan gamblang Todoroki-san bilang bahwa putra bungsunya juga sudah dewasa tapi masih lajang."

"Papa mau main jodoh-jodohan?!" suara Izuku meninggi. "Jaman kapan ini, hoy?!"

"Dengar dulu!" Papa Izuku berseru. "Papa pernah lihat putra bungsunya Todoroki-san. Masih muda sekali, 25 tahun kalau tidak salah. Meskipun kaku dan pendiam, dia sebenarnya anak yang sangat baik."

Izuku terdiam. Ia menatap ayahnya dengan pandangan bingung.

"Lalu, setelah mendengar ceritamu..." Papa Izuku mendekat, mencium kening putri tunggalnya. "Papa rasa, Papa bertanggung jawab mencarikanmu seorang pangeran."

"Nggak mau." Izuku membuang muka. "Aku nggak mau nikah dengan orang asing. Bagaimana kalau dia macam-macam?"

"Kalau gitu, buatlah perjanjian pra-nikah." Balas Hisashi. "Dengan begitu, kalau dia melanggar perjanjian, kau bisa menututnya di pengadilan. Dan lagi, dia anak seorang konglomerat terkenal. Tidak mungkin bisa hilang tanpa bekas."

Hening.

"Izuku..." Hisashi menghela nafas. "Kau ini wanita paling tulus yang pernah Papa temui. Bahkan, Mamamu mungkin bisa lebih tempramental."

Izuku tidak membalas.

"Asal kau bisa menerima anak itu dengan tulus sebagai suamimu..." Papa Izuku menaruh tangannya di kening Izuku, lalu mengusapnya dengan lembut. "Kalian pasti bisa saling mencintai. Lalu hidup bahagia selamanya."

Izuku memilih menyimpan semuanya dalam benak. Papanya tidak lagi berkata. Lelaki paruh baya itu melingkarkan lengannya di pundak Izuku dan memberikannya pelukan hangat. Pelukan Papa selalu membuat Izuku tenang. Berbeda dengan kebanyakan laki-laki, Papa Izuku adalah orang yang realistis, cenderung pesimis. Maka, ketika ia menjanjikan sesuatu, maka hal itu pasti terkabul. Tentu saja, karena apa yang dijanjikannya adalah sesuatu yang masuk akal.

Meski ia dikecewakan oleh Katsuki, Izuku tidak pernah sekalipun kecewa ketika menggantungkan harapan pada papanya.

Maka, wanita berambut panjang berombak itu mengangguk mantap.

"Coba saja."


Chapter 10 update.

Tinggal beberapa langkah menuju ending. Saya akan berusaha sekuat tenaga menyajikan ending yang terbaik baik readers sekalian.

Sekian bacotan saya. See you on the next chapter, ya.