NO CO-PAST

NO REPOST

NO PLAGIAT

Ok?

(Isi Kotak Review Setelah Baca)

.

.

AMBIGUOUS

"Tebak! Siapa yang ku temukan di depan apartementku sepagi ini? Apa yang kau lakukan disini Baek?" Kerucutan bibir menyambut pertanyaan main-main dari Chanyeol. Sebenarnya tidak sepenuhnya main-main sebab Chanyeol benar tengah mempertanyakan alasan mengapa kekasihnya sudah muncul di depan apartemennya sepagi ini sedangkan gadis itu seharusnya telah bersiap untuk berangkat sekolah.

"Sambutan yang sangat baik tuan muda Park!" Baekhyun mendegus kesal namun tetap menubruk tubuh jangkung kekasihnya dan memberikan sebuah pelukan erat.

"Hey, apa ada sesuatu yang kulewatkan?" Chanyeol mengecup berulang kali rambut kekasihnya. Selanjutnya adalah ia yang sempat terbuai oleh wangi strawberry yang menguar dari sana.

"Kenapa kau menyebalkan sekali sejak menjadi mahasiswa, huh?!" Lagi, si tampan berkerut kening mendengar pertanyaan dari kekasihnya yang sebenarnya tak begitu ia mengerti.

"Apa aku melakukan kesalahan?" Chanyeol menangkup kedua sisi wajah Baekhyun. Kedua tangan gadisnya masih berada di pinggang dan memeluknya.

"Benar! Kau melakukan kesalahan karena kau memiliki wajah tampan!" Pada jarak sedekat ini Chanyeol dapat melihat dengan jelas raut cemas kekasihnya yang terpancar dari kedua manik bening gadis itu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan gadisnya?

"Kau marah karena aku terlahir dengan wajah tampan?" Chanyeol cemas akan keadaan si mungil. Berusaha bergurau, setidaknya berharap jika keadaan gadis yang di cintainya ini segera membaik. Tidak biasanya Baekhyun seperti ini.

"Sial! Aku harus melakukan sesuatu padamu Park Chanyeol!" Bukannya menjawab kebingungan Chanyeol, Baekhyun justru secara tergesa melepas pelukan mereka dan segera menerobos tubuh Chanyeol, melewatinya untuk masuk ke dalam apartemen kekasihnya dengan beberapa gerutuan di bibir.

Baekhyun? Kau baik? Chanyeol rasa ada yang salah dengan anak itu.

Chanyeol mengikuti kekasihnya. Masih dengan berbagai pertanyaan yang bersarang di benaknya.

Baekhyun terlihat begitu kalut. Gadis itu menaiki tangga, lantas membuka kasar pintu kamar Chanyeol.

Sedangkan si jangkung masih membiarkan dan mengamati dalam perasaan cemas dan khawatir akan keadaan si mungil.

Lantas ketika ia memasuki kamarnya, yang di dapatinya adalah si mungil yang mengacak-ngacak lemari pakaiannya. Mengeluarkan beberapa setelan milik Chanyeol dan memasukkannya ke dalam koper. Oh! Bahkan Chanyeol tak menyadari kapan koper miliknya sudah berada di lantai dengan keadaan terbuka.

"Baekhyun" Chanyeol mencoba meraih kedua tangan kekasihnya, namun yang ia dapati adalah tangannya yang di tepis kasar oleh si mungil. Sejujurnya Chanyeol bukan cemas pada keadaan bajunya atau apapun itu. Ia hanya cemas pada satu hal. Keadaan Baekhyunnya.

"Sayang" Suara Chanyeol melembut, berusaha untuk meraih tangan Baekhyun lagi, namun tepisan yang sama ia terima.

"Aku akan membuang semua baju-baju dan koleksi sepatumu." Gadis itu semakin kalut. "Tidak! Kau tidak boleh mengenakan apapun! Apa yang harus aku lakukan Chanyeol? Hiks. Kau bahkan terlihat tampan meskipun menggunakan baju gelandangan" Baekhyun menelisik penampilan kekasihnya. Sial! Chanyeol bahkan benar-benar tampan meskipun kekasihnya itu dalam keadaan berantakan setelah baru bangun tidur.

Chanyeol semakin bingung dan kelabakan dengan tangis kekasihnya yang semakin menjadi. Jadi benar? Baekhyun seperti ini karena marah atas ketampanannya? Tapi kenapa?

"Sayang.. sayang dengarkan aku, hey!" Chanyeol meraih dagu Baekhyun untuk membawa gadis itu menatap padanya.

Ya Tuhan.. sudahkah Chanyeol bilang jika ada tiga hal yang benar-benar tak ingin Chanyeol lihat di dalam hidupnya?

Yang pertama adalah tangisan ibunya, yang kedua adalah tangisan kakak perempuannya, Yoora. Lalu yang ketiga adalah tangisan dari Baekhyun, gadis yang telah berhasil merebut seluruh hatinya.

Dan gadis itu melakukannya hari ini. Menangis di depan Chanyeol dengan wajah kalut, hidung memerah dan jangan lupakan tubuh yang sedikit bergetar di dalam dekapan Chanyeol.

Sebenarnya apa yang terjadi pada kekasihnya?!

Akan lebih baik jika Chanyeol tau jika dia telah melakukan kesalahan, maka setelah itu ia bisa menghukum dirinya sendiri karena telah menyakiti kekasihnya, dan lekas memperbaiki kesalahannya.

Namun saat ini Baekhyun tak memberikan sedikitpun pencerahan pada Chanyeol, selain gadis itu yang terus menggerutu akan ketampanannya.

"Katakan padaku, apa yang terjadi hm?" Chanyeol kembali membuka suara ketika di rasa Baekhyun sudah sedikit tenang di dalam pelukannya.

Si tampan bermarga Park itu segera mengangkat tubuh kecil kekasihnya ke dalam gendongannya lantas segera berjalan dengan Baekhyun yang memeluk lehernya dan menyembunyikan kepalanya di ceruk leher Chanyeol.

Ia menggendong kekasihnya seperti koala. Membawa tubuh mereka berdua menuju sofa yang ada di kamarnya. Lantas segera mendudukkan diri dengan si mungil berada di pangkuannya.

"Sayangku" Chanyeol memeluk Baekhyun, mengecupi pundak kekasihnya yang terhalang oleh seragam sekolah gadis itu. Sungguh, ini bahkan masih terlalu pagi untuk Baekhyun berangkat ke sekolah. Bahkan jarum pendek jam masih belum sepenuhnya mencapai angka enam.

Baekhyun masih sesenggukan di sela-sela pelukannya, meskipun sudah tidak separah tadi.

"Apa aku telah menyakitimu?" Chanyeol kembali bertanya ketika gadisnya tak kunjung menjawab. Lalu sebuah anggukan ia terima sebagai jawaban. Cukup untuk membuatnya was-was sebab entah mungkin Chanyeol secara tidak sadar atau bagaimana benar-benar telah menyakiti kekasihnya.

"Oh Ya Tuhan. Maafkan aku, apakah aku benar-benar telah menyakitimu?" Baekhyun lagi mengangguk. Kali ini gadisnya itu melakukannya sembari memberikan pelukan pada Chanyeol yang semakin erat.

"Katakan, katakan supaya aku bisa memperbaikinya. Sayang" Chanyeol masih belum berhenti memberikan kecupan-kecupan pada pundak kekasihnya. Sejujurnya masih terlalu bingung dengan keadaan pagi ini. Seingatnya, mereka—Dia dan Baekhyunnya—masihlah baik-baik saja semalam saat ia mengantarkan kekasihnya itu pulang setelah mereka menghabiskan waktu untuk melihat festival kembang api di pinggir sungai Han lalu di lanjutkan dengan makan malam berdua.

Bahkan kekasihnya masih sempat mengirimkan sebuah video berisi ucapan selamat malam yang gadis itu berikan padanya lengkap dengan seekor puppy putih yang sudah sangat Chanyeol hafal bersama gadis itu.

Dan tentu saja tidak mungkin Chanyeol melakukan kesalahan di pagi ini sebab ia bahkan baru saja membuka mata saat mendengar bunyi bel apartemennya yang berbunyi secara tidak sabaran di hari yang masih terlalu pagi ini.

"K-kau hiks" Baekhyun bahkan kembali menangis saat ingin berbicara padanya. Apakah kesalahannya kali ini benar-benar fatal? Tapi nyatanya Chanyeol telah buntu akan hal itu.

"Benar, katakan.. apa yang membuatmu menangis seperti ini, hm?" Chanyeol berusaha membuat Baekhyun untuk segera memandangnya, namun yang terjadi justru Baekhyun yang semakin mengeratkan pelukannya. "Kau bisa menghukumku, atau memukulku sayang. Demi Tuhan, jangan menangis seperti ini, Baby"

"Kau berselingkuh dariku" Chanyeol dapat merasakan badan kekasihnya yang semakin bergetar. Belum lagi perkataan kekasihnya yang baru saja terucap membuat kepalanya semakin pening. Demi Tuhan, demi apapun! Chanyeol tidak pernah melakukan apa yang di tuduhkan Baekhyun padanya beberapa saat lalu.

Penggal kepala Chanyeol jika ia sampai berani menyakiti kekasihnya dengan setega itu. Ya Tuhan! Bahkan sebersit pemikiran untuk menghianati kekasihnya pun tidak Chanyeol miliki.

"Babe?"

"K-kau hiks. Kau meninggalkanku dan lebih memilih Wendy, kau benar-benar jahat Park Chanyeol"

Tidak!

Tunggu!

Wendy?! Siapa?! Demi otak Jongin yang sangat mesum! Chanyeol bahkan baru pertama kali ini mendengar nama itu.

"Sayang, apa—"

"Kau membuangku begitu saja hiks. Mentang-mentang kau semakin tampan setelah menjadi mahasiswa, lantas kau seenaknya berselingkuh di belakangku" nyatanya tangis Baekhyun tak juga kunjung berhenti.

Kali ini Chanyeol sedikit menggunakan tenaganya untuk membut kepala Baekhyun menegak sehingga keduanya bisa saling menatap. Dan itu berhasil.

"Babe? Aku tidak mengerti, Wendy siapa?" Chanyeol menghapus air mata Baekhyun. Astaga, gadisnya sudah menangis sangat banyak pagi ini.

"Tentu saja selingkuhanmu!" Chanyeol masih memandang cemas pada kekasihnya. Baekhyun tidak sedang mengalami sleepwalking bukan? Astaga! Kenapa ia justru berpikir konyol di saat keadaan seperti ini.

"Kapan aku melakukannya? Demi Tuhan, aku tidak pernah melakukan hal seperti itu, sayangku" Chanyeol memelas, ia tatap wajah cantik kekasihnya lantas segera mengecup tipis kemerahan yang sedikit membengkak akibat pemiliknya yang terlalu lama menangis.

"Kau melakukannya semalam!" Tetapi nyatanya Baekhyun masih bersikukuh atas tuduhannya.

Semalam?

Chanyeol sampai bertanya pada dirinya sendiri dengan segala keterbatasan miliknya. Apakah amnesia yang pernah ia alami beberapa tahun silam bisa kambuh kembali, hingga ia tak bisa mengingat jika ternyata semalam ia telah menghianati kekasihnya?!.

Tentus saja itu tidak mungkin! Ya Tuhan!

Ia bahkan langsung pulang ke apartemen tanpa mampir kemanapun semalam! Yang benar saja!

"Aku berani bersumpah, Baekhyun. Aku langsung pulang dan tidak mampir kemanapun setelah mengantarkanmu semalam" Chanyeol nyaris berteriak frustasi sebab ia benar-benar tidak melakukannya.

"Tapi aku melihatmu" suara Baekhyun melirih di akhir.

"Kau melihatku?" Chanyeol meraih satu tangan Baekhyun dan mengecupnya dalam. "Dimana?"

"Aku bermimpi, kau berselingkuh dengan Wendy. Wendy itu teman sekelasku di tingkat Junior, lalu.. lau"

"Tidak! Tunggu!" Chanyeol mengintrupsi. Pening di kepalanya kian berdenyut saat ia telah menangkap inti dari pembahasan mereka.

Jadi maksudnya, sejak tadi Baekhyun menangis dan menuduhnya berselingkuh adalah di sebabkan oleh mimpi yang dialami gadis itu?

"Maksudmu, kau seperti ini karena mimpi?" Oh Tuhan!

Chanyeol hampir saja memilih berlari, lantas menghampiri balkon apartemennya dan segera menerjunkan diri dari lantai 8 ini jika saja ia tak mengingat perasaannya pada gadis yang telah mengangguk polos di depannya sangatlah besar.

Katakan!

Katakan pada Chanyeol, dimana ada lagi makhluk yang begitu ajaib seperti ini selain seorang Byun Baekhyun.

"Ya Tuhan! Kau membuatku ketakutan, kau membuatku hampir gila sayang" Chanyeol segera merengkuh tubuh mungil gadisnya, lantas memberikan bertubi-tubu kecupan pada pundak gadis itu. "Apa kau berniat membunuhku dengan tangisanmu yang begitu menyiksaku? Hm? Kau tau jika aku benar-benar tidak sanggup melihatmu menangis, Byun Baekhyun. Dan hari ini kau melakukannya hanya karena mempi konyol itu" Chanyeol terkekeh di akhir. Namun yang ia dapatkan adalah Baekhyun yang meronta dari dekapannya.

"Kau mengataiku konyol? Kau menertawakanku?!" Mata sabit itu memicing tajam dengan warna sedikit kemerahan efek dari acara menangisnya beberapa saat lalu.

"Tidak, tentu saja tidak sayang. Hanya saja, Ya Tuhan!" Chanyeol kembali memeluk tubuh Baekhyun. "Jangan lakukan hal seperti tadi lagi Baek. Kau tau aku tak akan pernah melakukannya. Aku tak akan sanggup menghianatimu, aku tak akan mampu menyakitimu, sayang. Itu hanya mimpi, dan tak akan pernah terjadi"

"Janji?" Chanyeol kembali terkekeh ketika lagi-lagi Baekhyun melepaskan pelukannya dan kini tengah mengacungkan jari kelingkingnya dengan wajah cantik yang begitu menggemaskan.

"Janji" tentu saja Chanyeol menerimanya dengan baik. Kemudian tak lagi menahan untuk tidak meraup bibir kemerahan milik kekasihnya.

Sebenarnya, bisa saja ia marah atas kecerobohan Baekhyun pagi ini yang sampai menangis seperti itu hanya karena sebuah mimpi. Namun dari pada itu, Chanyeol lebih merasa gemas pada si kecil.

Kenapa Baekhyunnya begitu indah? Kenapa Baekhyunnya begitu menggemaskan? Kenapa Baekhyunnya, gadisnya, kekasihnya begitu istimewa.

Lumatan demi lumatan ia berikan pada tipis yang berada pada belah bibirnya. Mengecap rasa manis yang menguar dari bibir si mungil. Menjelajahi setiap jengkal tipis tersebut yang selalu membawanya pada rasa candu.

"Uumhh" lantas ketika kesempatan itu datang, Chanyeol tak lagi membuang waktu untuk segera memasukkan lidahnya ke dalam rongga mulut Baekhyun. Mengajak kekasihnya berperang lidah, dengan tetesan saliva di sudut bibir Baekhyun yang menjadi saksi betapa hebatnya ciuman mereka pagi ini.

Bunyi keciplak yang di timbulkan oleh pertemuan kedua bibir mereka menjadi melodi indah pagi ini. Mengalahkan suara cicitan burung pagi di luar sana, dan Chanyeol menikmati sarapan paginya ini dengan sebuah perasaan cinta yang semakin besar pada gadis yang menggeliat di atas pangkuannya saat ini.

"Baekhyun, Baekhyunku" Chanyeol mengecupi seluruh wajah kekasihnya ketika ciuman hebat mereka berhenti sebab si mungil yang sudah memukul dadanya akibat oksigen yang semakin menipis di dalam paru-parunya.

"Jangan tinggalkan aku Chanyeolie~" Baekhyun kembali memeluk tubuh kekasihnya. Merapatkan tubuh mereka dan menyamankan posisi di atas pangkuan sang kekasih.

"Tidak akan! Aku sangat mencintaimu Byun Baekhyun. Byun Baekhyunnya Chanyeol" Baekhyun tersenyum lantas kembali mengeratkan pelukannya.

"Baekhyunie juga sangat mencintai Chanyeolie" keduanya terkekeh. Chanyeol tak peduli pada isi lemarinya dan juga kamarnya yang sedikit berantakan. Toh ia bisa membereskannya nanti. Berdua dengan Baekhyun, berbagi kalimat cinta dengan kekasihnya itu, tak ada pagi yang lebih sempurna dari pada saat-saat seperti ini.

"Bukankah kau harus berangkat sekolah, anak pintar?" Chanyeol memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Baekhyun. Selanjutnya adalah ia yang kembali gemas oleh belah tipis kekasihnya yang kembali ia raup sesaat.

"Bolehkah aku tetap bersamamu sepanjang hari, hari ini?" Mata puppy itu menatapnya dengan penuh permohonan, membuat Chanyeol terkekeh gemas dan lagi, ia hanya bisa melampiaskannya dengan kecupan-kecupan sayang pada wajah kekasihnya.

"Hey! Membolos itu hanya di lakukan oleh anak-anak nakal, kau tau?" Ya Tuhan.. kenapa Byun Baekhyun begitu mempesona? Chanyeol bahkan di buat kelabakan oleh perasaannya yang justru semakin hari semakin menggebu-gebu untuk gadinya itu.

"Tapi aku ingin bersamamu hari ini~, sekaliii saja ya Chanyeol?"

"Lalu untuk apa kau mengenakan seragam jika pada akhirnya akan membolos?"

"Aku bisa berganti pakaian dengan pakaianmu dan menyimpan seragam jelek ini di tas" Chanyeol kembali terkekeh, gemas akan kerucutan bibir Baekhyun.

"Tidak, kau harus tetap pergi sekolah. Baekhyun, kau sudah di semester terakhir"

"Membolos satu hari tidak akan membuatku tidak lulus Chanyeol~" lagi pula siapa yang bisa menang jika sudah berdebat dengan seorang Byun Baekhyun?

Bahkan dua sahabat Baekhyun pun sudah buntu akan hal itu.

Baekhyun lah mutlak pemenangnya.

Gadis itu berjingkat riang penuh kemenangan saat Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan mencuri satu kecupan di bibirnya. Tanda jika lelaki itu telah mengalah.

.

.

"Hey pemalas, bukankah acara membolosmu sangatlah di sayangkan jika yang kau lakukan hanya sekedar bermalas-malasan di depan layar ini hm?" Chanyeol menunjuk layar plasma yang menampilkan sebuah kartun anak-anak di depan mereka dengan dagunya.

"Menonton kartun dengan Park Chanyeol bersamaku, kurasa itu adalah bermalas-malasan yang paling menyenangkan" Chanyeol terkekeh ketika lagi, lagi dan lagi ia merasa kalah pada Baekhyun.

Ia kalah ketika ritme detak jantungnya selalu dua kali lebih cepat dari biasanya ketika ia bersama gadisnya ini. Ia kalah ketika mata puppy yang memandangnya polos disana benar-benar menariknya ke dalam kubangan penuh bunga-bunga yang selalu membuatnya jatuh cinta dan jatuh cinta lagi pada yang lebih pendek.

Mungkin ini sebuah karma.

Chanyeol telah tidak sengaja melupakan Baekhyun di masa lalu. Melupakan janji mereka ketika kecil dulu. Beruntung Baekhyun masih mengenalinya, bahkan di pertemuan keduanya dulu gadis itu berteriak nyalang memaki dirinya karena salah satu gadis teman sekolahnya dulu menempelinya di kantin sekolah.

Kecelakaan yang di alaminya beberapa tahun silam, membuatnya mengalami luka berat di kepala. Kata ibunya, dokter saat itu sempat pasrah akan keadaan Chanyeol. Namun Tuhan masih begitu baik. Setelah mangalami koma selama dua minggu, Chanyeol sadar bagai sebuah keajaiban. Meskipun dengan ingatan sebelumnya yang sepenuhnya hilang dan tidak bisa kembali lagi sebab keadaan otaknya yang masih begitu dini. Tentu saja! Ia masih berusia 7 tahun kala itu. Dengan Chanyeol bisa bertahan hidup di usianya yang sangat kecil dengan luka di kepala yang sangat serius seperti itu saja sudah menjadi sebuah keajaiban. Bahkan dimana orang dewasa pun akan sulit bertahan dengan luka yang sama.

"Kau sudah sarapan sebelum berangkat kemari?" Chanyeol membawa kepala Baekhyun bersandar pada pundaknya, lantas mengelus lembut surai yang lebih pendek.

"Kau pikir aku sempat melakukannya ketika mimpi buruk sialan itu menakutiku?!" Chanyeol terkekeh, Oh Astaga! Sudah berapa kali hari ini Chanyeol mengatakan jika Byun Baekhyunnya begitu menggemaskan?

"Aku akan mandi terlebih dahulu dan segera membuatkanmu sarapan. Perut kecil ini tidak masalah bukan jika menunggu beberapa menit saja?" Chanyeol mengelus perut datar kekasihnya, membuat Baekhyun terkikik geli atas tindakan sang kekasih.

"Kau sudah tampan tanpa mandi, kenapa harus repot-repot hm?" Baekhyun mendongak untuk melihat wajah tampan si jangkung. Sedangkan Chanyeol sudah tak tahan untuk tidak mengecup ujung hidung kekasihnya.

"Kenapa kau sangat menggemaskan hm? Aku ingin menggigitmu" Chanyeol kembali melayangkan kecupan-kecupan sayang pada pipi Baekhyun.

"Gigit aku tuan vampir" nyatanya kadar menggemaskan di dalam diri Baekhyun tak terbatas. Chanyeol harus lebih kuat lagi untuk menahan dirinya sebab setiap harinya Baekhyun akan terus menunjukkan hal-hal baru yang berpotensi mengikis pertahanannya.

"Gigit aku disini" Baekhyun menunjukkan leher mulusnya. Ia telah berganti dengan kaos kebesaran milik Chanyeol, dan karena celana Chanyeol tak ada yang pas di tubuhnya, gadis itu tidak menggunakan bawahan apapun.

"Hey mesum!" Baekhyun terkekeh gemas akan mata Chanyeol yang tiba-tiba membola setelah mendengar kalimatnya dan segera mengatainya mesum.

"Aku tidak mesum!" Gadis itu masih berada posisinya dimana ia tengah mendongak dengan tangan Chanyeol menyangga bagian belakang lehernya.

"Kau mesum" Meskipun seperti itu, Chanyeol tetap mekakukan apa yang kekasihnya minta.

Ia kecup leher mulus tersebut hingga menimbulkan desisan lirih dari kekasihnya.

Baekhyun terbuai akan kecupan-kecupan intens yang di berikan Chanyeol pada leher jenjangnya. Menimbulkan beribu kupu-kupu seperti telah berterbangan di dalam perutnya. Hingga seiring waktu ketika kecupan-kecupan tersebut berganti menjadi lumatan memabukkan yang serasa mampu membawanya terbang.

"Aahh, Babe" Baekhyun mulai tak tenang di posisinya. Secara perlahan Chanyeol mulai mengubah posisi mereka dimana sang kekasih telah ia tempatkan di bawah kungkungannya. Chanyeol menikmatinya, dimana rasa manis yang entah memang dihasilkan oleh tubuh Baekhyun atau bagaimana selalu membuatnya candu. Satu per satu tanda merah keunguan mulai tercetak jelas di jenjang mulus tersebut. Bagaikan sebuah kanfas putih yang sengaja Chanyeol hiasi dengan hasil karyanya.

Lantas ketika ia rasa telah terlalu banyak bercak merah di leher sang kekasih, ia kembali beralih pada bibir tipis si mungil. Menikmati bagaimana candu yang selalu menyergapnya setiap manis pada tipis itu terasa begitu nikmat. Mengecap seluruh permukaan bibir kekasihnya lantas segera memasukkan lidah untuk menginfasi seluruh rongga mulut Baekhyunnya.

"Ummh" Dan mereka masihlah manusia yang membutuhkan pasokan oksigen tentu saja. Pria itu sedikit bingung harus berpindah kemana, membuat Baekhyun terkikik gemas akan kabut gairah yang mengepung sang kekasih namun raut wajah prianya cukup menghibur.

"Ya Tuhan, aku benar-benar mencintaimu Byun Baekhyun!" Selanjutnya adalah Baekhyun yang harus membusungkan dada serta mendongak ketika sang kekasih dengan tergesa meraup pucuk dadanya yang masih terhalang pakaian sepenuhnya.

"Chanyeolhh" Baekhyun di buat kelimpungan saat tangan Chanyeol telah berhasil menyusup di balik pakaiannya dan kini tengah memberikan remasan-remasan memabukkan pada satu sisi payudaranya.

Pergumulan itu kian memanas, bahkan Baekhyun tak sadar sejak kapan Chanyeol berhasil melepas pakaiannya dan hanya menyisakan bra hitam dan juga celana dalamnya.

"Sexy" Kekasihnya itu tersenyum begitu tampan saat memuja tubuhnya. Lantas bibir penuh milik prianya lah yang ia dapatkan kembali sebagai hadiah atas usahanya menjaga tubuhnya.

"Bukankah ini curang?" Chanyeol memandang bingung pada paras cantik di bawahnya. Menunggu Baekhyun melanjutkan kalimatnya. "Aku bertelanjang sendirian" Keduanya terkekeh, lantas yang terjadi selanjutnya adalah Baekhyun yang membantu kekasihnya melepas kaos hitam polos tersebut dengan senang hati sehingga perut kotak-kotak favoritnya sepenuhnya bisa ia lihat.

Pada akhirnya, keadaan perut yang masih kosong sebab kedua pemiliknya masih belum sama sekali menyentuh makanan tidak menjadi penghalang kegiatan keduanya.

Chanyeol telah sepenuhnya menenggelamkan kepalanya di pangkal paha si mungil, membuat kekasihnya mendesahkan namanya berulang kali serta menggeliat di atas sofa ruang tengah apartementnya.

"Aah! Chanyeol.. Oh! Ya Tuhan! Sayang~ bisakah kau melakukan lebih aah" Bibir tipis Baekhyun sejak tadi maracau atas kenikmatan yang ia terima serta hasrat ingin mendapatkan lebih dari sekedar oral yang ia dapat untuk kesekian kalinya. Namun yang ia dapati adalah hal yang sama, dimana Chanyeol menggeleng dan tetap melanjutkan kegiatannya untuk meraup kewanitaan Baekhyun.

"Uuh.. jangan di jilat! Aaah! Chanyeolhh" Baekhyun nyaris frustasi akibat rasa nikmat di bawah tubuhnya, ia merasakan sengatan di sekujur tubuhnya tiap kali lidah Chanyeol menyapu tonjolan sensitifnya. Namun berkali-kali peringatannya tak pernah di indahkan oleh kekasihnya, sebab Chanyeol terlalu asik menginfasi tonjolan tersebut dan membuat Baekhyun hampir berada di puncaknya.

Gadis itu benar-benar berantakan. Pakaiannya telah sepenuhnya meninggalkan tubuh mulusnya. Beberapa tanda kemerahan hasil karya Chanyeol menghiasi tubuhnya. Rambut berantakan akibat pemiliknya berulang kali merematnya sendiri, nafas terengah dengan dada yang naik turun mengatur pernafasan.

Chanyeol menyeringai di posisinya, pemandangan dimana mata sayu Baekhyun menatap padanya, pemandangan yang begitu sexy dimana kekasihnya terlihat berantakan akibat perbuatannya.

Ia melanjutkan pekerjaannya sebab Baekhyun semakin tidak sabaran setiap kali puncak gairah gadis itu akan segera datang.

"Aah! Chanyeolhh.. aah, berhetiih! Aku inginh aah penismu, bukan lidahmuu ouuhh" Chanyeol kembali menggeleng di sela-sela pekerjaannya dan terus memainkan lidahnya di kiltoris kekasihnya. Sungguh, Chanyeol bahkan sangat berhati-hati dalam memainkan lidah miliknya, ia berusaha sebaik mungkin untuk tidak sampai memasukkan lunaknya tersebut pada lubang kewanitaan Baekhyun.

"Ouuh.. Chanhh akuh!" Baekhyun menegang di posisinya ketika puncak itu ia dapat. Yang dapat ia lihat hanyalah putih dan sisanya adalah sebuah kenikmatan tak terukur seiring dengan pelepasannya. Gadis itu terengah, mengatur nafas dan masih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Sedangkan Chanyeol tengah menopang badan di atasnya, menikmati pemandangan indah dimana kesexy-an seorang Byun Baekhyun ketika seperti ini benar-benar mempesona. Pria itu membantu merapikan rambut sang kekasih lantas memberikan kecupan-kecupan kecil pada wajah si mungil.

"Lalu bagaimana denganmu?" Baekhyun memandang prihatin pada keadaan pangkal paha kekasihnya yang terlihat begitu mengembung. Chanyeol mengikuti arah pandang kekasihnya, lantas tertawa canggung, bukannya mereka begitu konyol? Astaga!.

"Aku akan menyelesaikannya" Chanyeol hendak bangkit sebelum tangan Baekhyun menahannya.

"Kali ini, biarkan aku membantumu sayang. Aku bisa melakukan seperti yang kau lakukan padaku" Chanyeol terdiam, selama ini ia memang selalu menyelesaikan urusan adik kecilnya di dalam kamar mandi, tanpa bantuan Baekhyun. Pria itu hanya takut jika pertahannya terkikis dan berakhir dengan ia yang melanggar sumpahnya sendiri.

Namun, kali ini.. bolehkan Chanyeol mencobanya?

.

.

.

"Kemana bocah itu! Dia tidak mengabariku sama sekali" Kyungsoo bersungut-sungut sembari mengoceh hal tak jelas sejak tadi dengan beberapa camilan yang ia masukkan tergesa pada mulutnya.

Luhan hanya bisa menggeleng maklum melihat tingkah rakus temannya.

"Apa mungkin dia sakit?" Sebenarnya Luhan sedikit mengkhawatirkan keadaan satu temannya yang lain, Baekhyun. Anak itu tiba-tiba tidak masuk sekolah tanpa pesan apapun.

"Aku menelfon rumahnya, dan Byun Ahjumma bilang Baekhyun sudah berangkat pagi-pagi sekali bahkan ketika seharusnya gadis itu belum bangun tidur!" Kyungsoo kembali bergumam kesal. Pasalnya ia harus kembali mendapatkan hukuman dari Hong songsaenim sebab dirinya yang datang terlambat setelah menunggu Baekhyun yang tak kunjung menjemputnya.

Oke!

Itu memang hal biasa, sebab dari dulu ia juga selalu terlambat dan mendapat hukuman atas hal itu.

Tetapi demi Tuhan! Kali ini berbeda.. tidak! Beberapa bulan ini semuanya telah berbeda. Tidak ada lagi Jongin, Jongdae, dan Jaehyun yang menemaninya selama masa hukuman. Dan yang lebih menyebalkan lagi hari ini dia di hukum sendirian. Kalian dengar?!

Sendirian.

Si licik Baekhyun itu membolos tanpa mengajaknya!

Ingatkan Kyungsoo untuk menarik hidung bangir sahabatnya itu hingga memanjang seperti pinnochio saat si cerewet itu berhasil dia temukan.

"Dia bersama Chanyeol oppa" Luhan tiba-tiba berbicara setelah diam terfokus pada layar ponselnya.

"Dia menghubungimu?" Oh jangan buat seorang Do Kyungsoo semakin kesal dengan kau yang berhasil di hubungi Luhan namun untuk mengabari jika dirimu tidak bisa menjemputnya pagi tadi saja kau tidak bisa Byun Baekhyun.

"Tidak. Aku bertanya pada Sehun apa dia sedang bersama Chanyeol oppa, dan Sehun bilang Chanyeol oppa tidak datang ke kampus hari ini. Kau bisa menebaknya bukan? Mereka sedang pacaran" Kyungsoo menghela nafas, begitupun dengan Luhan. Setidaknya Baekhyun baik-baik saja.

Tentu saja.

Bagaimanapun, di atas segala kekesalannya pada sahabat mesumnya itu, Kyungsoo dan Luhan lebih khawatir pada keadaan Baekhyun.

"Kau, bagaimana hubunganmu dengan Jongin oppa?" Luhan kembali membuka suara.

"Bagaimana apanya?" Sudahkah Luhan bilang jika Do Kyungsoo itu biasanya memang sering tidak nyambung?!

"Kalian sudah berbaikan? Ya Tuhan Kyungsoo. Bukankah kali ini kau keterlaluan?! Apalagi masalahnya? Jongin oppa sampai menangis di apartementku dan Sehun!" Kyungsoo memutar bola matanya malas. Ia sedang malas untuk membahas kekasih hitamnya itu.

"Apa jam istirahat masih lama? Bukankah kita harus kembali ke kelas?"

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Luhan melotot tajam pada sahabatnya. Bukan apa-apa! Hanya saja Luhan turut prihatin pada keadaan Jongin yang sampai setiap hari mendatangi apartement Sehun, katanya supaya dia tidak galau karena memikirkan Kyungsoo terus. Selain itu.. kalian tau bukan jika Luhan dan Sehun sedang di mabuk cinta? Mereka jadi sulit bermesraan jika Jongin selalu berada disana sepanjang hari. Astaga!

"Bisakah kita tidak membahasnya dulu?" Bibir berbentuk hati itu mencebik kesal. Ia benar-benar sedang tidak ingin membahas tentang Jongin. Selain karena masih kesal, setiap membahas nama Jongin, perasaan rindu pada kekasih mesumnya itu juga semakin bertambah.

"Sebenarnya apa masalahmu Kyungsoo?! Ayo lah jangan seperti anak kecil begini. Seharusnya kau membicarakan masalah kalian baik-baik"

"Sajak kapan seorang Xi Luhan si pemain lelaki bisa berfikir bijak tentang menyelesaikan masalah di dalam sebuah hubungan? Hm?"

"Kau mengalihkan pembicaraan lagi!" Luhan kembali kesal sebab Kyungsoo selalu mengalihkan obrolan mereka.

"Biarkan saja. Salah siapa dia berani berkirim pesan dengan Jennie Jennie itu di belakangku" Sudah Luhan duga.

"Kau cemburu?" Kyungsoo mengangguk. Oh menggemaskan sekali!

"Lalu kenapa tidak bilang pada Jongin oppa? Dia kebingungan karena kau tiba-tiba mengacuhkannya"

"Lalu kenapa aku harus bilang? Kenapa bukan dia yang peka lebih dulu?" Lelaki memang tempatnya salah, oke!

"Memangnya mereka berbalas pesan seperti apa?" Luhan masih sabar menghadapi temannya. Bagaimanapun memburuknya hubungan Kyungsoo dan Jongin membawa dampak pada hubungannya dan Sehun.

Sudah Luhan katakan bukan jika ia jadi susah bermesraan dengan kekasihnya?

Astaga! Xi Luhan!

Benar-benar!.

"Mana aku tau?! Aku hanya melihat notifikasi di ponsel Jongin, disana ada pesan yang belum di buka dari Jennie. Wanita itu mengirim pesan hai Jongin, lengkap dengan emoticon hati!. Wajar bukan jika aku marah?!" Luhan nyaris berniat membenturkan kepala temannya itu ke tembok sungguh.

"Hanya itu?" Dan dengan polosnya Kyungsoo mengangguk. "Ya Tuhan, Soo! Kau bahkan tidak tau apakah Jongin oppa membalasnya atau tidak dan kau sudah menyimpulkan seenakmu. Setelah pulang sekolah! Segera perbaiki hubungan kalian jika kau tidak ingin Jongin berpaling pada yang lain!"

"Eeey.. Jongin tidak mungkin melakukan itu bukan?" Raut cemas itu cukup menghibur bagi Luhan, membuat ia semakin bersemangat untuk mengompori sahabatnya.

"Tentu saja dia akan melakukannya jika kau bertindak seperti ini terus. Kau tidak mempercayainya, untuk apa ia mempertahankan wanita yang tidak bisa percaya padanya"

"Benarkah?" Luhan masih menahan tawanya saat wajah Kyungsoo telah berubah memerah.

Namun tawa itu tak jadi lepas ketika air mata berlomba turun dari kedua mata temannya.

Ya Tuhan!

Luhan sama sekali tidak mengira jika reaksi Kyungsoo akan seperti ini.

"Hey Kyung! Aku hanya bercanda. Astaga! Jangan menangis! Ini masih di sekolah, kau membuatku malu bodoh! Yak" gadis bermata rusa itu kelabakan atas ulahnya sendiri.

"Hiks kau bilang Jongin akan meninggalkanku huweee"

"Tidak tidak. Itu hanya omong kosongku. Aku hanya bercanda. Ya Tuhan! Diamlaaah!" Hampir seluruh pasang mata yang ada disana memperhatikan keduanya.

"Bagaimana jika hiks, apa yang kau katakan hikss benar-benar ter.. jadi?" Kyungsoo masih menangis sesenggukan.

Demi Tuhan, Byun Baekhyun!!! Kenapa kau malah sibuk membolos untuk pacaran ketika keadaannya seperti ini?!

Luhan merutuk dalam hati.

"Aku bisa jamin itu tidak akan terjadi Kyung. Setelah pulang sekolah perbaikilah hubungan kalian huh?"

.

.

.

"Kau bisa menelannya sayang" Chanyeol meraup bibir mungil kekasihnya, mencoba membantu si mungil untuk berbagi cairan miliknya yang berada di dalam mulut Baekhyun.

"Uumph" Baekhyun menerima ciuman itu dan melakukan apa yang Chanyeol bilang untuk segera menelan cairan kental yang memiliki rasa sedikit aneh di dalam mulutnya.

"Terimakasih" lantas, satu kecupan di bibir mengakhiri kegiatan mereka.

"Bukankah itu tadi sperma, Chanyeol?" Si jangkung mengangguk, jemarinya bergerak untuk mengusap permukaan bibir gadisnya, lalu membantu merapikan penampilan si mungil. "Kalau begitu kenapa kau menyuruhku menelannya? Bagaimana jika aku hamil Chanyeol?!" Si tampan itu nyaris terbahak mendengar parkataan kekasihnya. Kenapa Baekhyun begitu menggemaskan.

"Menelannya tidak akan membuatmu hamil sayangku. Itu hanya akan terjadi jika cairanku masuk ke dalam tubuhmu melalui lubang yang lain" Wajah Baekhyun merah padam ketika menangkap kalimat Chanyeol yang begitu vulgar. Lantas yang ia lakukan adalah mendudukkan diri di pangkuan kekasihnya dan memeluk tubuh jangkung itu.

"Mau mandi bersama?" Chanyeol kembali bersuara.

"Tapi aku sudah mandi~" Baekhyjn merengek.

"Itu mudah, kau bisa mandi lagi bersamaku" dengan itu Chanyeol menggendong tubuh polos kekasihnya menuju kamarnya dan segera memasuki kamar mandi.

Bukankah pagi ini benar-benar pagi yang indah?

.

.

Sore ini kediaman keluarga Byun terlihat lebih sibuk dari biasanya. Chanyeol disana, tengah menggoda kekasihnya yang berlaga seperti seorang chef berpengalaman dengan segala peralatan dapur milik ibunya. Luhan dan Kyungsoo juga tampak sibuk membantu nyonya Byun menyiapkan beberapa bahan lain. Sedangkan Tuan Byun tengah fokus pada acara variety show yang menampilkan para gadis-gadis cantik anggota girl grup Korea.

"Apa yang kau buat, hm?" Chanyeol memeluk tubuh mungil kekasihnya dari belakang. Sedangkan Baekhyun hanya bisa membiarkan hal itu sebab kedua tangannya sedang sibuk mengaduk adonan miliknya.

"Tteok" Gadis bermata bulan sabit itu menolehkan sedikit kepalanya tanpa menghentikan gerakan tangannya menguleni adonan tepung beras yang ia buat.

Cup~

Kecupan singkat menyambutnya, membuat sepasang kekasih itu sama-sama terkekeh geli. Mereka menikmati setiap momen yang tercipta, pada setiap kesempatan yang ada.

Tetapi jika Luhan yang berkata, gadis bermata rusa tersebut lebih setuju jika menyebut Chanyeol dan Baekhyun itu tidak sadar tempat, seperti dunia hanya milik mereka berdua dari pada memanfaatkan kesempatan yang ada.

"Bukankah itu terlalu sedikit?" Baekhyun kembali menoleh, gadis itu berkerut kening.

"Untuk apa banyak-banyak? Aku kan hanya membuatkan untukmu?"

Cup~

"Teruskan sajaa! Ahjumma, jangan biarkan mereka berdua makan masakan kita nanti, biar saja mereka hanya makan tteok buatan Baekhyun yang rasanya penuh keraguan itu" Kyungsoo mencibir ke arah sahabatnya, mengundang tawa dari Luhan dan Nyonya Byun.

"Yak! Kau menghina masakanku?!" Baekhyun yang tidak terima dengan perjataan sahabatnya membalas dengan sebuah kue tteok di tangannya yang ia acungkan pada Kyungsoo dan Luhan.

Ngomong-ngomong, kenapa cara Baekhyun memegang tteok yang masih belum di potong-potong itu terlihat ambigu?

Astaga!

"Dasar tukang pamer! Awas saja nanti jika Jongin sudah datang" Kyungsoo kembali mencibir, sedangkan Baekhyun kembali acuh sebab Chanyeol telah berhasil mengalihkan perhatiannya.

Puk.

"Yaaa~" Chanyeol memprotes tindakan kekasihnya yang tiba-tiba menimpuk wajahnya dengan tepung. Namun kekehan dari keduanya tak juga surut.

Di belakang, Luhan dan Kyungsoo kembali mencibir sebab kekasih keduanya yang tidak juga datang mengharuskan mereka untuk melihat adegan tidak senonoh pasangan Chanyeol Baekhyun.

Sedangkan nyonya Byun hanya terkekeh makhlum atas kelakuan anak-anak muda tersebut.

Ibu Baekhyun itu berjalan mendekat ke arah anak dan calon menantunya —wanita paruh baya itu bahkan terkekeh dengan pemikirannya sendiri yang sudah menyebut Chanyeol sebagai calon menant— sebenarnya ingin mengambil beberapa peralatan yang berada disana, sekaligus mungkin menggoda pasangan muda-mudi itu tidaklah terlalu buruk.

"Chanyeol, Baekhyun" Nyonya Byun memanggil nama keduanya, membuat Chanyeol dan Baekhyun yang sebelumnya telah sibuk saling mengotori wajah dengan tepung menghentikan kegiatannya.

"Ya Eomma?" Baekhyun berkerut kening melihat senyum ibuny yang terlihat sedikit aneh.

"Menurut kalian, bagaimana dengan menikah muda?"

"Uhuuk!" Chanyeol tersedak ludahnya sendiri, dan sepertinya ada beberapa serbuk tepung yang tidak sengaja terhirup ke dalam hidungnya.

"Ya Tuhan, sayang" Baekhyun panik, nyonya Byun juga ikut panik.

"Eommaa~" lantas segera melayangkan protes pada ibunya.

"Kenapaa? Eomma hanya bertanya. Astaga, Chanyeol. Minum dulu nak"

.

.

.

TBC

.

.

Haaaayyyyy

Ada yang kangen sama si binal Baekhyun? Wkwkwk

Lama ya ambiguous gak update? Mian..

Ini cukup panjang, semoga bisa menebus rasa kangen kalian. (Iya kalo ada yg kangen, dasar!)

Intinya, aku minta maaf karena sempat lama banget gk update cerita ini. Kemaren-kemaren sibuk, udah gitu ide yg ngalir lagi mengarah ke story yg mellow-mellow jadi ambiguousnya belum sempet kekejar.

Okee.. udah gitu aja dulu yaa.

Sorry for typo. Aku gk edit ulang

Jangan lupa REVIEW wkwkwk

Baaayy

Salam ChanBaek is real.