"Dasar jalang..."
"Kau pikir kau sekolah disini untuk apa? lebih baik kau menjual tubuhmu saja sana. kau tidak butuh sekolah.."
"Aku tidak sudi sekelas dengan pelacur sepertimu."
"Keluarkan saja dia!"
Chan dan Hansol yang baru datang pun, awalnya terkejut dan tidak percaya mendapati berita ini apalagi sampai tertempel di seluruh mading sekolah. orang ini memang berniat mengerjai Seungkwan.
"Pasti Seokmin yang melakukannya!".
.
.
EGLANTINE ~*Aku Terluka untuk Sembuh*~
Author : Shee
Desclaimer : Tuhan YME, Orang tua mereka masing-masing, Pledis Ent. I just own the story.
CAST : SEVENTEEN member.
Rated : T
Genre : Romance, School Life, Angst (inginnya), Supranatural.
Summary : Didalam tubuh Jihoon ada satu lagi sisi manusia. Jihoon yang berjuang dengan kematiannya, dan sosok itu mencegahnya mati-matian.
.
.
Chapter 10
.
.
Hansol sudah membuncah amarahnya, semenjak kemarin hanya bisa dipendamnya. sekarang Seokmin memulai gara-gara lagi, ini tidak bisa dibiarkan.
Sebelum Hansol keluar kelas, Soonyoung sudah menariknya terlebih dahulu bermaksud menenangkannya. ia tidak mau masalah ini malah semakin runyam lagi dan Soonyoung percaya kalau ini bukan ulah Seokmin, karena ini memang bukan tipe Seokmin sama sekali. Mereka berteman sejak kecil dan Soonyoung tahu betul bagaimana sahabatnya itu.
"Tenang Hansol-ah. Seokmin bukan orang yang seperti itu... "
"Kau boleh membela sahabatmu. tapi, ini sudah keterlaluan. yang bisa berbuat sejauh ini serta orang yang berniat mencelakakan Seungkwan hanya dia. aku tidak terpikirkan orang lain.."
.
.
.
"Seungkwan, kau masih ingin meneruskan sekolah disini kan? apalagi ini tahun terakhirmu." itu sang guru konseling sedang memproses kasus yang bisa membuat nama baik sekolah tercemar. "Ibumu tidak ada di kota ini kan? bagaimana kalau aku memberinya surat panggilan untuk kemari dan membahasnya bersama beliau?." tanya sang guru, Seungkwan langsung menggeleng cepat dan tidak berhenti menangis. kalau sampai ibunya tahu dia berbuat sampai sejauh ini, jantung lemahnya mungkin bisa kambuh dan Seungkwan tahu bagaimana selanjutnya.
Hidup jauh dari ibunya sudah sulit apalagi jika tanpa ibunya, sungguh ia tidak akan punya alasan untuk hidup lagi, dia pindah sejauh mungkin dari kota kelahirannya yang berada di luar pulau hanya untuk membuat ibunya tidak khawatir soal membiayai Seungkwan, karena Seungkwan bilang kalau dia bisa mencarinya sendiri jika berada di Seoul.
"Tolong, jangan beri tahu ibu saya. jika saya dikeluarkan dari sekolah adalah keputusan terbaik. saya rela menerimanya.." ujar Seungkwan.
"Kau tahu, kami disini bukan untuk menyulitkanmu dengan membuatmu keluar dari sekolah, yang ingin kami tahu adalah kenapa sampai hal seperti ini bisa terjadi, apa alasannya? dan mungkin kita bisa menyelesaikannya.." ujar sang guru lagi, guru wanita ini memang terkenal paling tegas dan paling hangat terhadap semua muridnya, entah murid itu murid baik-baik seperti Jisoo, sampai yang bermasalah seperti Seungkwan, dia akan tetap menunjukkan kehangatannya.
"Katakan saja, ibu mau mendengarkannya. kalau kamu menyimpannya sendirian kamu akan terus terbebani..." kini sang guru sudah mulai mendekati Seungkwan dan mengelus-elus punggungnya mencoba membuatnya rileks.
Setelah merasa nyaman Seungkwan mulai menceritakan dari pertama kali dia datang ke kota ini sendirian dan tidak mengetahui apa-apa semenjak Sekolah menengah. Dia datang ke kota metropolitan tanpa uang yang mencukupi dan di umur yang belum mencukupi, dia tidak diijinkan untuk kerja paruh waktu, karena memaksa sekeras apapun dia akan melanggar undang-undang.
Lalu disaat dia sudah putus asa, dia sudah tidak bisa menghidupi dirinya sendiri. disitulah dia tergoda. Seungkwan dahulu bilang pada ibunya ingin menemui temannya di Seoul, karena temannya akan membantunya dan mereka berbagi tempat tinggal bersama, tapi nyatanya Seungkwan hanya sendirian. Teman yang diceritakan itu tidak pernah ada. Disaat dia kelaparan dan dia terduduk di depan sebuah karaoke bar, tidak sengaja ada pria paruh baya yang menawarinya untuk menemaninya karena pria itu merasa tertarik dengan Seungkwan pada waktu itu.
Dari sana lah semua ini berasal, Seungkwan bisa hidup dengan layak bahkan lebih dari layak. walau terkadang dia menyesalinya tapi dia tidak bisa menghentikannya sampai sekarang, Saat pertama masuk sekolah tingkat atas Seungkwan mencoba berhenti melakukan apa yang diinginkan pria itu dengan mencoba mengambil kerja paruh waktu, tapi itu tidak berhasil. uang yang dihasilkan tidak akan sebanyak yang diberikan pria itu.
Dan sang pria paruh baya itu menginginkan Seungkwan untuk tinggal di rumahnya, dia bilang pada istri mudanya dia ingin mengangkat anak untuk disekolahkan, karena mereka tidak punya anak.
Istrinya mengizinkan dengan syarat Seungkwan tinggal bersama di kamar pembantu. Semakin hari Seungkwan makin dimanja dan disayang secara berlebihan bukan seperti anak lagi, istrinya mulai curiga dan pada suatu saat sang istri memergoki suaminya sedang bercumbu dengan Seungkwan di kamar mereka dan sejak saat itu Seungkwan langsung diteror secara diam-diam tidak diketahui suaminya supaya cepat pergi dari rumah itu.
Dan benar saja Seungkwan segera pergi dari rumah itu, tapi hubungannya masih belum putus juga dan bahkan dia mendengar kalau pria itu menceraikan istrinya demi menemukan Seungkwan lagi. Seungkwan masih bisa bertemu lagi dengan pria itu, bahkan sampai hari ini.
Sampai sekarang juga demi membalas dendam, sang istri terus mencari Seungkwan dan berniat membunuhnya karena Seungkwan telah merebut semua yang dimilikinya. bahkan sampai studi wisata kemarin wanita yang menyerangnya dan Jihoon adalah istri dari pria yang direbut Seungkwan.
Sang guru yang mendengarnya hanya bisa menatap Seungkwan iba, dia melalui begitu banyak penderitaan dibalik semua keceriaannya. Selama ini orang-orang berpikir bahwa Seungkwan itu hanya orang yang manja dan tidak mendapat perhatian orangtuanya, ternyata sebaliknya, dia hanya tidak ingin merepotkan ibunya walau caranya juga tidak bisa dibenarkan.
Membiarkan Seungkwan sendirian, para guru mulai rapat setelah mendengar semua cerita itu, dan beberapa kali ditanya para guru tentang bagaimana ide yang mereka utarakan apakah Seungkwan bisa menerimanya.
.
.
.
Seokmin baru masuk ke sekolah, dan didepan gerbang sekolah tidak sengaja dia ditabrak dengan keras oleh seorang wanita yang memakai baju hitam dan tergopoh-gopoh keluar sekolah. "Perhatikan jalanmu!" marah Seokmin saat dia terjatuh di tanah. Jun di belakangnya lalu menarik Seokmin bangun dan melihat aneh pada orang yang menabraknya.
"Kenapa orang itu?" komentar Jun.
Mereka berdua datang terlambat dan tidak tahu persis apa yang terjadi dengan keramaian ini, dengan santai mereka masuk kelas dan tidak mendapati guru disana dan keadaan kelas ramai berbincang-bincang dengan berkelompok.
"Ketua, ada apa ini? kenapa tidak ada pelajaran?" tanya Jun kepada ketua kelas yang kebetulan berada di hadapannya.
"Mereka sedang rapat." jelas sang ketua kelas singkat. Dan dua orang itu mengangguk-ngangguk paham.
Tidak lama setelah itu ada yang masuk kedalam kelas, Chan dan Hansol yang tadi berkeliling sekolah untuk membersihkan foto-foto tidak senonoh yang tersebar di seluruh sekolah kini masuk kelas dan tanpa basa-basi langsung melemparkan kertas-kertas itu di wajah Seokmin.
Seokmin tidak terima langsung berdiri, tanpa sempat melihat apa itu.
"Apa yang kau mau?." tanya Seokmin.
"Harusnya aku yang bertanya, apa maumu? tindakanmu terlalu rendah.." jawab Hansol.
Terlalu banyak yang Seokmin lakukan kemarin untuk menghilangkan stress-nya, sampai dia tidak tahu ini soal yang mana. Walau dia tahu yang dia lakukan bukan hal yang benar, tapi saat orang lain mengungkitnya rasanya tetap tidak enak.
"Berhenti melakukan tindak kekanakan. berbuat seperti ini tidak akan membuatmu menjadi lebih baik, kau mencemari nama baik Seungkwan hanya karna dia berbicara kasar padamu. kau sudah menghancurkan masa depannya, kami berusaha melindunginya selama ini dan kau dengan seenak jidatmu mengumbarnya tanpa rasa bersalah dan menyesal, kau ini sebenarnya manusia apa bukan?, dimana rasa simpati pada temanmu, bukankah kau juga pernah menyukainya?. inikah balasan atas perasaanmu yang tidak pernah diterimanya?."
Jihoon lalu melenggang keluar, bukan karena keinginannya tapi ketua kelas menyuruhnya keluar dan memanggil guru, kalau tidak kelas mereka bisa terkena kasus untuk ke berapa kalinya dalam sehari ini.
Saat Jihoon sampai di ruang guru, dia melihat Soonyoung berada di depan pintu ruang guru, dia menunggu Seungkwan disana.
Karena di ruang guru pun terlihat sedang rapat, jadi Jihoon berdiri di depan pintu dengan Soonyoung disana, ternyata anak ini bisa dipercaya. sesuai dengan pesan dari Wonwoo kemarin, dia benar-benar menjaga Seungkwan.
"Apa maksudmu dengan melindungi Seungkwan, kenapa kau bisa tahu?" tanya Soonyoung pada Jihoon, Sepertinya Jihoon tidak bisa bilang yang sebenarnya. "Kau mencurigaiku?" tanya Jihoon balik.
"Aku tidak bisa membiarkan Hansol terus menuduh Seokmin, makanya dari tadi aku terus berpikir. dan aku teringat ucapanmu kemarin.." ujarnya.
"Di kelas Hansol dan Seokmin sedang bertengkar. "
Soonyoung langsung berlari menuju ke kelas, dan harus segera menghentikan mereka berdua.
Jihoon masih ingin memanggil guru, karena kalau sesama siswa hanya akan menambah keramaian saja.
"Pak, di kelas kami—"
"Ah, Jihoon. maaf untuk hari ini kelas akan kosong, berikan saja cacatan ini pada sekertaris kelas untuk mencatatnya..." ujar sang guru sambil memberikan buku paket, lalu segera kembali mengurus sesuatu.
Jihoon pun segera kembali ke kelasnya, karena tidak berhasil membawa sang guru ke kelas.
Jihoon hanya menatap lurus ke arah Wonwoo.
"Kenapa menatapku seperti itu?" sahut Wonwoo, itu pandangan yang tidak biasa dari Jihoon, pandangan itu adalah pandangan meminta tolong. "Lakukan aegyo dulu." kali ini pandangannya jadi memincing tidak suka, "Baiklah.." akhirnya Wonwoo menyerah dan mengiyakannya tatapan itu.
Mereka seperti bisa berkomunikasi, lewat pikiran masing-masing.
.o0o.
Di kelas, sudah seribut yang ada di pikiran Jihoon, Jihoon hanya bersandar di pintu kelas dan memperhatikan kedua orang yang sedang beradu argumen dan tidak jarang terkadang sudah mulai kontak fisik. Jun, dia memang selalu tenang dan sangat siap untuk menarik Seokmin kembali mundur, atau mendorong Hansol mundur.
"Dari tadi, kau ini bicara apa hah? kalau kau ada sesuatu yang ingin diselesaikan denganku, bukan disini tempatnya." Seokmin sudah tidak tahan lagi, dan kini dia keluar kelas diikuti Jun, Hansol dan Soonyoung di belakang.
Di lapangan volley indoor yang terletak di bagian ujung sekolah.
"Seokmin dengarkan aku—" Soonyoung mencoba mencegah mereka untuk saling melukai satu sama lain.
"Kau saja tidak mendengarkanku, untuk apa aku mendengarkanmu.." sahut Seokmin.
Jihoon hanya mengikuti diam-diam dari belakang. Dan itu bukan Jihoon jika dilihat dari tatapannya yang sangat memincing tajam, itu Wonwoo. dia hanya bersiap-siap jika situasi memburuk.
Hansol tidak kunjung terlihat, padahal tadi dia jelas ada di belakangnya.
Di koridor.
"Hansol, hentikan apapun itu."
Hansol menoleh ke belakang dan melihat Seungkwan yang baru keluar dari ruang guru. Dia mendengar percakapan Jihoon dan Soonyoung dari dalam sana, dan saat melihat Hansol lewat dia berusaha mencegah.
"Tapi dia membuatmu seperti ini, kau tidak bisa sekolah dengan tenang.." ujar Hansol berbalik dan mendekati Seungkwan.
"Ini bukan salahnya, dari awal ini memang salahku. aku sudah mempersiapkan semua. harusnya kau membenciku dan mencaciku. kenapa kau malah seperti ini, dasar orang bodoh.." Seungkwan menangis tapi juga tersenyum, dan Hansol sangat canggung karena dia tidak bisa menenangkan. "Berbuat seperti itu tidak akan membuat segalanya kembali seperti semula" lanjut Seungkwan.
"Maafkan aku.."
Seungkwan memeluk sahabatnya itu, dan membisikkan sesuatu. "Jangan salahkan Seokmin lagi, ya?"
"Aku hanya tidak mau kehilangan mu." ujar Hansol.
"Begitupun denganku, makanya aku menghentikanmu." Seungkwan mencoba tersenyum.
.
Soonyoung memberitahu rinciannya, dan kenapa sampai Hansol melakukannya.
Seokmin tidak percaya, dia memang sudah sering dituduh melakukan sesuatu yang tidak dia lakukan, karena kenakalannya. tapi dia tidak pernah melakukan ini apalagi pada Seungkwan.
Dia tahu kalau Seungkwan memang bermulut tajam, dan Seokmin akan membalas mulut tajamnya, tapi hanya sebatas itu.
"Kenapa dia menyalahkanku?, bukan hanya aku yang bisa menjadi pelakunya. Jihoon juga punya alasan kuat untuk membalas dendam pada Seungkwan, dan dia beserta kekuatan sok tahunya pasti dia mengetahui masalah Seungkwan yang satu ini. bagaimana jika dia sepicik itu dan memanfaatkan pertengkaranku dengan Seungkwan kemarin.." bela Seokmin.
"Aku mempercayaimu kalau kau tidak melakukannya, dan aku juga percaya kalau itu bukan Jihoon.." sahut Soonyoung.
Seokmin mendekati Soonyoung, "Kau dan cinta butamu, persetan dengan itu. biar kutanya anak itu.."
"Seokmin, sebaiknya kau tidak melampiaskan semuanya ke Jihoon." ujar Soonyoung.
Dari jauh Jun menuju ke lapangan dan melihat Jihoon sedang berdiri di depan pintu.
"Jangan menghalangi jalan" Jun masuk sambil mendorong Jihoon, dan membuatnya jatuh ke lantai.
Seokmin dan Soonyoung melihat Jihoon ada di sana, melihat mereka bersama dengan Jun, kebetulan sekali. lupakan urusan Seungkwan untuk sesaat. Seokmin juga punya urusan dengan Soonyoung.
"Kau seperti menyalahkanku. memang aku yang membuat dia sakit, dan kau tidak. kau orang baik-baik yang selalu menjaganya kemanapun, hanya ada si brengsek Seokmin disini.. si brengsek Soonyoung sudah tidak ada lagi di dunia ini. Soonyoung, fakta bahwa kau pernah menyakitinya tidak akan pernah hilang meskipun hari ini kau berbuat baik padanya.." Seokmin mulai mendekati Jihoon, bermaksud menanyakan bagaimana tentang kesepakatan yang mereka setujui. "Dan kau, kita perlu membicarakan sesuatu.." Jihoon ditarik menjauh dari kerumunan itu, tapi Soonyoung mencegahnya, dengan menarik tangan Seokmin.
Wonwoo sebenarnya ingin menampar mereka berdua, masalah mereka terlalu kekanak-kanakan untuk diteruskan. tapi beberapa kali Jihoon mencoba sadar dan mengeluarkan Wonwoo dari sana, mungkin dia ingin mengatakan sesuatu pada mereka.
"Jangan usik kehidupan dia lagi." teriak Soonyoung. "Seharusnya aku menuruti perkataan ayahku untuk menjauhimu, karena kau tidak ada bedanya dengan keluargamu." lanjutnya, Seokmin tidak suka jika topik mereka sudah berganti jadi masalah keluarga, apalagi tentang keluarganya.
Seokmin menarik kerah Soonyoung, menatapnya tidak suka. sepertinya seseorang harus menjaga mulutnya setelah ini. bersiap dengan kepalan tangannya, Seokmin mengincar kepala Soonyoung.
BUAGGHH
Ternyata Soonyoung bergerak lebih cepat, karena diantara mereka berdua yang benar-benar menguasai bela diri adalah Soonyoung, jadi Seokmin yang jatuh ke lantai dengan memar di pipinya.
Soonyoung menindihnya, sebelumnya dia tidak pernah benar-benar bisa memukul Seokmin. tapi hari ini dia harus bisa.
Jihoon berjalan mendekati mereka berdua. Saat Soonyoung berniat memukul wajah Seokmin, dengan sekuat tenaga Jihoon menarik tangan itu mundur kembali.
"Tidak ada yang bersalah disini, kalau permasalahan kalian adalah aku. aku sudah tidak mempermasalahkannya. "ujar Jihoon atau mungkin masih Wonwoo.
"Tapi—"
"Kamu mau apa? apa dengan memukuli Seokmin aku bisa sehat kembali? kalian yang hanya berpikir hanya dengan kekerasan bisa menyelesaikan semua masalah, akan menyesalinya suatu saat kelak." Jihoon menyeret Soonyoung supaya menjauhi Seokmin.
"Lagi-lagi, kau bertindak sok dewasa lagi, kalau aku tidak berhenti, apa kau akan memukuli kami lagi?" tanya Seokmin, dan Jihoon hanya mengangguk sebagai balasan. setelah itu Seokmin pergi, dia berniat mencari Jun yang sudah tidak ada disana lagi. "Jihoon, kuharap kau tidak melupakan pembicaraan kita.." ujarnya sebelum benar-benar pergi.
.o0o.
Jihoon dan Soonyoung pulang bersama, dan keadaan tubuh mereka sedikit lusuh.
"Maaf melibatkanmu lagi, kalau Mingyu tahu pasti dia akan menyalahkanku.." ujar Soonyoung memulai pembicaraan, dan Jihoon terlihat sangat lelah maka dari itu mereka duduk sebentar di sebuah bangku di pinggiran taman.
"Aku lelah," ujar Jihoon pelan, Soonyoung lalu memiringkan kepala Jihoon supaya bersandar pada bahunya. "Istirahatlah sebentar, nanti akan kuantar pulang kalau sudah tidak lelah lagi.." ujar Soonyoung.
Jihoon menyamankan sandarannya di bahu kiri Soonyoung, dan Soonyoung mulai menutupi sinar matahari yang mengenai wajahnya menggunakan tangan kanannya.
Angin yang menunjukkan hari mulai sore pun terasa, dan perlahan menyapu wajah mereka, karena begitu tenangnya, Soonyoung bisa mendengar obrolan orang-orang yang ada di hadapan mereka, maupun sekedar lewat, mereka mengatakan kalau dua orang itu sedang kasmaran dan romantis sekali.
Soonyoung tersenyum.
"Aku bisa mendengar, apa yang mereka gunjingkan. kalau kau tidak nyaman kau boleh pulang terlebih dulu.."
Soonyoung menoleh kearah Jihoon yang ternyata tidak tidur dan hanya memejamkan mata saja.
"Tidak apa, biarkan saja.."
"Apa maksudmu dengan biarkan saja?" tanya Jihoon.
"Toh ini perasaanku yang sesungguhnya, mereka bisa melihat dengan jelas kalau aku menyukaimu. begitupun aku ingin kau mengetahui dengan jelas kalau aku sungguh-sungguh mencintaimu.."
Entah kenapa, ini jadi berubah sebagai pernyataan cinta.
Jihoon ingat perkataan Seokmin tempo lalu, mereka selalu berfirasat benar. sungguh sahabat yang saling mengetahui satu sama lain.
Tapi menurut Seokmin dia tidak boleh membiarkan Soonyoung jatuh cinta padanya, dia penasaran sekali dengan alasannya kenapa.
"Aku memintamu untuk menjadi kekasihku, apa kau menerimaku?" tanya Soonyoung kini sudah menggenggam sebelah tangan Jihoon, dan Jihoon tidak berniat beranjak dari bahu Soonyoung atau tempat itu.
Flashback
Jun yang berada didekatnya langsung sadar kalau Jihoon membuka matanya dan melihat ke sekitarnya, dan Jihoon sedikit terkejut saat membuka mata dia melihat wajah Jun di dekatnya. Kemudian yang lain mulai mendekat.
"Dia sadar..." panggil Jun pada dua temannya dan mereka mendekat meligkari di pinggir ranjang Jihoon. Jihoon sekarang melihat ke arah mereka bertiga secara bergantian.
"Kau butuh sesuatu? perlu dipanggilkan dokter atau suster? atau apa?" tanya Soonyoung. Seokmin dan Jun hanya diam melihat saja, pemikiran mereka benar kalau Soonyoung benar-benar perhatian pada Jihoon. Jihoon menggeleng dan dia hanya minta dia ditinggikan sandarannya supaya dia bisa duduk. tapi tiba-tiba Jihoon sadar kalau dia terluka dan masih sakit, mungkin dia butuh obat penghilang rasa sakit untuk saat ini.
Soonyoung langsung tahu karena Mingyu tadi bercerita lengkap, kalau Jihoon sedang dalam keadaan dibius untuk mengurangi rasa sakit tubuh luar. Soonyoung keluar dan mencari Mingyu.
Tinggallah Jihoon sendirian dengan Jun dan Seokmin di ruangan ini.
"Kamu kenapa bisa seperti ini?" tanya Jun berbasa-basi, dan sekarang sudah mencari kursi untuk duduk di dekat ranjangnya. Wonwoo sedang berdiri di belakang Jun dia bersiap-siap saja kalau dua orang ini ingin berniat macam-macam pada Jihoon.
"Aku hanya perlu beristirahat sebentar, nanti juga bisa kembali sekolah seperti biasa..." ujar Jihoon pelan,
"Apanya yang istirahat sebentar, kau tahu sudah disini berapa hari? bahkan masa skors kita dua minggu hampir berakhir, dan hari ini sudah mulai hari pertama sekolah.."
"Benarkah? hari ini hari pertama sekolah?" tanya Jihoon, sebenarnya dia sudah tahu tapi demi menanggapi pertanyaan itu saja, dia ingat betul berapa lama dia hanya berbaring disini, karena para suster selalu memberitahu hari apa sekarang saat memeriksanya.
"Jihoon, aku ingin membuat kesepakatan denganmu." ujar Seokmin, merasa waktunya tepat dan dengan orang yang tepat pula. "Apakah kau tahu tentang Soonyoung?" tanya Seokmin.
"Kenapa dia?"
"...Tentang perasaannya padamu, apa kau tahu?"
"..."
"Aku tidak akan mencampuri hidupmu lagi, kau bebas dari targetku. lagipula aku yang akan disalahkan kalau terjadi sesuatu padamu lagi..."
"Aku bersyukur bisa sakit, dan melihat kau ternyata orang yang perduli, lalu kesepakatannya?."
Jun dan Wonwoo hanya diam mendengarkan mereka berbicara. menurut Wonwoo begini pun tidak apa. Seokmin melanjutkan perkataanya setelah menatap Jun yakin.
"Jauhi Soonyoung. hanya itu."
Flashback End
kembali ke keadaan mereka sekarang, Sepertinya Soonyoung tidak mengetahui sesuatu.
Sahabatnya begitu menghawatirkannya, tapi bukan hanya itu saja. Jihoon harus memberitahu yang sesungguhnya.
"Aku menghargai semuanya, tapi maafkan aku-"
"Apa ini berhubungan dengan Seokmin?"
Soonyoung masih bisa mengatasinya, kalau memang Seokmin melarangnya atau bahkan mengancamnya.
"... aku sudah bersama Mingyu.."
Wajah harap-harap cemas Soonyoung langsung berubah menjadi wajah terkejut mendengar kenyataan.
.
.
TBC
.
.
Entah kenapa aku seneng banget bikin Seungkwan jadi cabe-cabean/sesepin boncabe/. Masalah Seungkwan terlalu klise, udah ah terserah yang penting daku senang[2]
Bahkan saya pun berharap, semoga ff ini cepat berakhir sebelum hilang feel, kendalanya cuma itu emang.
Dan lagi saya mendapat kritik soal titik koma. bukan saya tidak mau memperbaiki tapi menurut saya sudah benar dan bisa dibaca, tapi nyatanya menurut orang lain beda lagi. mungkin ada yang berbaik hati mau menunjukkan tepatnya yang mana yang salah, terus benernya gimana. ntar biar saya pelajarin sisanya. atau patokannya kudu gimana?. Sama-sama belajar kan enak. dan entah kenapa saya senang ada yang memperhatikan kesalahan saya sampai sekecil itu.. /ilophu sampe tumpeh2/
Besok mau idul fitri, sekalian minta maaf disini, maafkan saya kalau ada salah-salah kata, minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin. ntar booseoksoonjun saya suruh sungkem ama jihoon.
Terima kasih banyak Reviewnya Fav and Follownya, dan Saya tetap butuh banyak kritikan untuk chap ini juga.
Review
Please
.
