Uchiha Sasuke―27 tahun, tampan, pengacara terkenal, temperamen, perfeksionis. Haruno Sakura―17 tahun,kabur dari panti asuhan, polos, spontan, tidak peka. Ada yang bisa membayangkan apa jadinya jika mereka berdua berinteraksi?
.
.
.
.
NAIVE
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, saya cuma minjam tokoh-tokohnya aja
Story by Morena L
Warning: AU, OOC, typo, terinspirasi dari Ingenuo, dldr
.
.
.
.
.
"Karin, sebenarnya ada apa? Kenapa kau sekarang mati-matian menolak menjadikan anak itu sebagai model kita? Kau sendiri kan yang dulu meyakinkan dewan direksi kalau anak itu akan membawa keuntungan besar jika kita menjadikan dia model untuk koleksi kali ini." Kurenai mencoba berbicara dengan Karin. Ia yakin partnernya itu menyembunyikan sesuatu. Karin tidak mungkin mencoba membatalkan rencana yang sudah disusun dengan matang tanpa alasan yang jelas. Siapa tahu dengan berbicara empat mata, ia bisa membantu permasalahan yang sedang dihadapi rekan kerjanya tersebut.
"Tidak apa-apa, Kurenai. Aku hanya ingin membicarakan rencana baru. Nanti akan kubicarakan lagi dengan Suigetsu mengenai syuting iklan. Kau jangan khawatir, biar aku menyelesaikan semuanya."
Mau tak mau, Karin harus memberitahukan pada Suigetsu kalau Sakura adalah anak perempuan. Konsep baru untuk iklan dan promosi memang harus dipikirkan ulang dalam waktu dekat ini. Waktu Karin tak banyak. Peluncuran koleksi baru sudah tak bisa ditunda lagi.
Sesuai dugaan Karin, Suigetsu sama sekali tak kaget waktu ia memberitahu perihal jenis kelamin Sakura yang sesungguhnya—tapi, ia tidak memberitahu kalau Sakura adalah putri kandungnya. Lelaki itu hanya terkekeh ringan. "Nama yang feminim dan wajah semanis itu tak mungkin berjenis kelamin laki-laki," ujar Suigetsu santai. Untung saja fotografer yang satu ini bisa diajak kerja sama. Dalam waktu singkat, ia sudah memberikan rencana yang sangat cerdik untuk Karin. Wanita itu bahkan tak percaya kalau Suigetsu bisa memberikan rencana seperti itu. Satu masalah selesai.
Mereka hanya tak menyadari kalau kemunculan Sakura di iklan nanti hanya akan memancing bahaya yang lain.
oOo
"Sakura ... sayang, kau di mana?" panggil Karin saat mendapati apartemennya dalam keadaan gelap gulita. Ini belum terlalu larut, apa putrinya sudah tidur? Biasanya jam segini Sakura masih mengerjakan tugas sekolahnya sambil menunggu kepulangan Karin. "Sakura," panggilnya sekali lagi.
Karin sedikit panik saat tak menemukan anak itu di kamarnya. Kamar yang didominasi warna merah muda itu kosong melompong. Gadis manis yang menjadi penghuninya sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya. Karin menyalakan lampu kamar, ia bergegas menuju ke dalam kamar mandi, mengecek keberadaan putrinya. Namun, kembali ia tak menemukan hasil apa-apa.
"Anak ini ...," gerutu Karin. Akhirnya ia bisa bernapas lega karena berhasil menemukan Sakura. Putri semata wayangnya itu tertidur nyenyak di dalam kamar Karin. Sudah tak terhitung berapa kali kepanikan luar biasa melandanya karena terlalu khawatir pada Sakura. Hampir saja ibu satu anak ini menelepon kantor polisi karena tak kunjung menemukan sang anak. Dipikir-pikir lagi, anak ini sering sekali menghilang tanpa jejak yang jelas, sudah tentu Karin khawatir kalau-kalau putrinya diculik orang. Apalagi, keadaan sekarang sedang tidak aman.
.
.
.
oOo
.
.
.
Kakashi sedang duduk santai di teras apartemennya, menikmati segelas wine lezat. Tangannya memegang ponsel dan terlihat asik berbicara dengan seseorang. Obrolan santai, akan tetapi sangat serius.
"Kupikir kau akan langsung melahap mangsamu hari ini," ujar Kakashi.
"Tidak seru kalau langsung kuserang," jawab orang sedang terlibat pembicaraan dengan pria berambut perak tersebut.
Kakashi menyeringai tipis. "Kebiasaanmu belum hilang rupanya. Menggemukkan mangsa sebelum menyantapnya."
"Menyerang di saat mangsa lengah jauh lebih menyenangkan, Kakashi."
"Mangsamu memang sedang lengah. Apa lagi yang kautunggu? Bukankah dia sudah sesuai dengan bayanganmu selama ini?"
"Tidak. Aku selalu membidik dengan tepat agar sasaranku tidak lari. Dia terlalu menggiurkan."
"Sesukamu saja. Yang penting aku menerima bayaran yang memuaskan darimu."
Kakashi mematikan sambungan teleponnya setelah beberapa lama berbicara. Ia begitu puas saat memastikan rekeningnya bertambah tadi sore. Jumlah yang sangat fantastis. Demi uang sebanyak itu, ia sanggup mengorbankan apa saja. Lagipula, rekan bisnisnya ini memang bukan orang yang suka bermain-main. Asalkan orang itu mendapatkan apa yang ia mau, maka ia akan membayar dengan jumlah yang sangat memuaskan. Tindakannya pada Karin di masa lalu tak disangka membawanya pada keuntungan seperti ini.
Sakura ... anak itu memang tambang emasnya. Tak peduli nanti Karin akan memakinya dengan segala macam makian paling kasar yang ada di dunia, Kakashi tak akan mundur dari rencananya sekarang. Janjinya pada Karin di masa lalu sudah ia langgar.
Ting tong! Ting tong!
Kakashi mengerutkan kening saat melihat siapa yang bertamu malam-malam begini.
Uchiha Sasuke.
Mau apa dia datang ke sini?
"Aku terkejut, Uchiha. Ada apa kemari?"
"Ada yang ingin kubicarakan."
"Hn. Masuklah."
Kakashi menduga kedatangan lelaki Uchiha ini pasti ada hubungannya dengan Sakura. Sejak awal Kakashi sudah dapat melihat ketertarikan besar di antara kedua makhluk berbeda gender tersebut. Ia yang memang begitu peka melihat keadaan langsung tahu kalau kedua orang itu bagaikan dua kutub magnet yang saling tarik menarik satu sama lain.
"Langsung saja, Uchiha. Ada apa?"
"Aku tak suka berbasa-basi busuk, aku tahu kau orang yang berbahaya. Kuharap kau tidak membuat masalah dengan Sakura."
Benar kan? Kakashi tak pernah salah dengan instingnya.
"Dan kenapa kau berpikir kalau kau berhak memerintahku?" tantang Kakashi.
"Karena aku tak mau terjadi sesuatu yang buruk pada anak itu. Sudah cukup dia membuatku kerepotan."
"Hanya itu?" lelaki itu tersenyum mengejek. Oh, jawaban konyol, Uchiha.
"..."
"Ayolah, Uchiha. Apa ini sebuah lelucon? Sebaiknya kau yang berhenti atau kau hanya akan membuat anak itu tersakiti."
"Apa maksudmu?"
"Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, Uchiha. Keluarlah dari masalah Karin dan Sakura sebelum semuanya terlambat."
Sasuke balas menatap Kakashi dingin. Ia tahu kalau pria yang sedang menjadi lawan bicaranya ini bukan orang sembarangan. Lelaki itu sangat berbahaya. Lebih baik menjauhkan Sakura dari orang ini secepat mungkin sebelum semuanya terlambat.
"Kaupikir karena kau seorang mafia, jadi aku takut padamu?"
Kakashi malah menyeringai. "Aku terkesan. Rupanya kau sudah tahu siapa aku sebenarnya."
"Karena itu, kuperingatkan kau agar tidak muncul di depan mereka lagi. Jika tidak aku akan menjebloskanmu ke dalam penjara."
Tidak diduga, Hatake Kakashi tertawa, cukup keras seolah mengejek Sasuke. "Bagaimana kalau aku bilang bahwa akulah yang memisahkan Karin dari anaknya dulu?"
"Apa?"
"Akulah yang membuat ibu dan anak itu terpisah. Aku yang mengirim Sakura ke panti asuhan. Ah ... tentu kau penasaran kan kenapa dia dibesarkan sebagai anak laki-laki?"
"Kau—"
Seringai Kakashi sudah menjelaskan semuanya. "Pulanglah Uchiha. Kau tidak tahu masalah apa yang sedang kauhadapi. Berhentilah penasaran, usir ketertarikanmu pada anak itu karena sudah ada orang lain yang jauh lebih menginginkannya."
"Apa kau ayah dari anak itu?"
"Itu bukan urusanmu."
"Ayah macam apa kau ini?" Ia sampai harus mengeraskan kepalan tangannya untuk meredam amarahnya. Anehnya lagi, emosinya terus meninggi karena mendengar ada orang lain yang menginginkan Sakura. Siapa? Siapa yang berani ingin merebut anak itu?
"Aku hanya mementingkan uang."
.
.
.
oOo
.
.
.
Hari Minggu seharusnya digunakan untuk bersantai, tapi tidak dengan sepasang ibu dan anak ini. Pagi-pagi buta Karin sudah membangunkan Sakura untuk berdandan karena hari ini adalah hari peluncuran koleksi baru K2. Sakura menyipitkan mata memandang sekotak besar peralatan make up ibunya. Ia sama sekali tidak mengenal benda-benda itu. Hampir saja ia bertengkar dengan ibunya karena tak mau alisnya dicabut.
"Sayang, ini untuk membentuk alismu biar semakin bagus," rayu Karin untuk kesekian kalinya. Putrinya ini memang sangat keras kepala.
"Tidak mau! Pasti sakit."
"Sakura."
"Tidak mau!"
Karena tak mau membuang waktu, Karin pun menuruti keinginan putrinya. Setelah itu, ia memilih baju yang akan dikenakan gadis itu. Sebuah baju terusan selutut berwarna putih dengan pita merah yang melingkar di bagian pinggang. Tak lupa ia mengepang tepian kanan rambut anaknya. Karin tertawa kecil saat gadis kecilnya itu berputar-putar di depan cermin besarnya.
"Kau sudah cantik, sayang."
Sakura tersipu malu. Apa Sasuke juga nanti akan memujinya cantik?
Apa-apaan itu, Sakura?
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Belum tentu juga kan Sasuke datang ke launching K2.
"Sakura, kami sudah memutuskan kalau kau akan menjadi model untuk koleksi pakaian pria dan wanita," seru ibunya dari belakang. "Tenang saja, ibu yang akan mengatur kontrakmu. Ibu jamin anak ibu yang paling manis ini akan mendapat bayaran yang sesuai."
"Apa aku akan memakai baju-baju bagus?"
"Tentu saja," jawab Karin meyakinkan.
Wanita itu hanya tak kalau Sakura punya maksud khusus dari pertanyaannya tersebut. Putri tunggalnya itu hanya ingin terlihat lebih cantik untuk Sasuke. Berharap kalau Sasuke akan memperhatikan perubahan penampilannya saat memakai koleksi K2 untuk wanita. Uuugghhh, lagi-lagi wajahnya bersemu merah hanya karena membayangkan Sasuke.
Rencananya memang begitu, Sakura akan dijadikan model pria sekaligus wanita. Karin berniat menjadikan Sakura sebagai ikon untuk koleksi pakaian remaja putri. Orang-orang tentu tak akan menyangka kalau model untuk kedua koleksi tersebut adalah orang yang sama. Dengan permainan make up, maka semuanya akan menjadi mudah. Untung saja pemotretan koleksi remaja putri dilaksanakan minggu depan sehingga ia bisa membantu Sakura untuk bersiap-siap. K2 memang tidak pernah main-main untuk setiap koleksi mereka. Setiap kategori yaitu wanita dewasa dan remaja dikeluarkan secara bertahap. Tahun ini mereka memutuskan untuk memasuki pasar busana pria, perkembangan yang tentu akan membawa keuntungan.
oOo
Peluncuran koleksi baru berjalan dengan sangat lancar. Sakura duduk dengan tenang saat ibunya menjawab pertanyaan dari beberapa wartawan. Beberapa kali kilatan lampu kamera diarahkan padanya dan beberapa model lain yang juga turut hadir. Hanya ada satu hal yang membuatnya sedikit merasa tak nyaman. Kehadiran Kin Tsuchi.
Reputasi Kin sebagai model kelas wahid tentu membuat K2 tertarik untuk mengontraknya. Kin menjadi ikon untuk pakaian wanita dewasa. Fakta bahwa Sasuke pernah mengencani model cantik tersebut membuat Sakura sedikit gerah. Apalagi, Kin tampil begitu mengagumkan dengan gaun berwarna emas yang menggoda. Gadis itu hanya berharap semoga Sasuke tak ada di pesta yang akan diselenggarakan K2 nanti.
Sayang, harapan hanya tinggal harapan. Pria Uchiha itu muncul di pesta yang diadakan di ballroom sebuah hotel mewah atas undangan dari Kurenai. Rekan Karin itu mengundang Sasuke sebagai ucapan terima kasih karena Sasuke telah membantu mereka dalam kasus plagiat dulu. Berkat bantuan Sasuke, K2 bisa memenangkan gugatan atas produk lain yang mencontek rancangan koleksi mereka.
"Sasuke," sapa Kin sambil mendaratkan ciuman di pipi lelaki itu. Sakura yang melihatnya langsung cemberut. "Aku tahu kau akan datang, bagaimana penampilanku?"
"Lumayan."
"Hahaha ... kau memang pelit pujian, ya," seru Kin gemas. Ia langsung menggandeng lengan Sasuke.
Sakura sendiri berpura-pura membuang muka. Ibunya sedang sibuk berbincang dengan rekan-rekan bisnisnya lain. Praktis, Sakura merasa begitu asing sekarang. Sekali lagi ia menatap Sasuke dan Kin dari kejauhan. Kin begitu seksi dan menggoda tak mungkin Sasuke tak tertarik padanya. Gaun emasnya yang sangat pas di badan, belahan yang cukup tinggi sehingga memamerkan kaki mulusnya. Belum lagi model gaun itu yang mengekspos punggung mulus Kin. Seudah lebih dari selusin pria yang mengalihkan perhatian mereka pada model cantik yang satu itu.
oOo
Di tengah keramaian pesta, bagaikan memakai teleskop untuk menemukan rasi bintang incaran, Sasuke langsung menemukan sosok gadis yang selama ini menjadi pusat perhatiannya. Ia mengenakan gaun putih, seperti peri kecil di tengah hutan. Sesekali tanpa diketahui siapapun, ia melirik sebentar ke arah sang gadis.
Sakura terlihat begitu gusar. Gadis itu sepertinya tak begitu menyukai suasana pesta. Ah, dia pasti asing dengan kondisi seperti ini. Pun Karin tak terlihat di samping anak itu. Sialan, Kin terlalu erat menggandeng lengannya, seolah tak ingin Sasuke beranjak dari sisinya. Belum lagi ada beberapa orang mantan klien yang dulu pernah ia bela di persidangan mengajaknya berbincang sebentar.
Baru beberapa menit Sasuke memalingkan muka, gadis kecil itu sudah tak lagi terlihat. Matanya mencari keberadaan Sakura dengan liar. Ke mana perginya anak itu? Apa ia bosan sehingga berjalan-jalan ke luar? Bagaimana kalau ada pria tua hidung belang yang mengincarnya? Wajah Sasuke sedikit mengeras saat menemukan Sakura kini tak lagi sendiri. Ia berada di sisi lain ruangan bersama Hatake Kakashi. Terlebih lagi pria sialan itu mengajak Sakura berdansa!
oOo
Rupanya Sasuke memang tidak memperhatikan keberadaannya di sini. Terbukti daritadi Sasuke sama sekali tak teralihkan dari Kin dan beberapa orang yang berada di dekatnya. Sakura semakin menunduk lesu. Tak artinya ia sengaja berdiri dalam jangakauan pandangan Sasuke karena pria itu sama sekali tidak memedulikan keberadannya.
Ah, ya, tentu saja. Sakura yang bodoh karena berpikir mungkin saja Sasuke akan memperhatikannya. Mana mungkin Sasuke bisa teralihkan kalau di sampingnya ada salah satu model paling terkenal di Jepang? Dalam hati, ia menertawakan dirinya sendiri.
"Aku hendak bertanya, apa yang sedang dilakukan para malaikat sehingga mereka membiarkan gadis manis ini bersedih?"
"Paman Kakashi," sapa Sakura riang.
"Kau pasti haus, ayo, kita carikan minuman ringan untukmu."
Dari tadi memang Sakura menahan diri untuk tidak mengambil minuman. Ia takut salah mengambil minuman yang mengandung alkohol. Tadinya ia ingin menghampiri ibunya dan bertanya minuman mana yang boleh ia ambil. Namun karena takut mengganggu, akhirnya ia memutuskan untuk menahan rasa hausnya.
"Ini sepertinya masih aman untukmu," kata Kakashi sembari menyerahkan gelas berisi cairan berwarna biru.
"Terima kasih, Paman."
"Sebagai ucapan terima kasih, kau harus berdansa satu lagu denganku."
"Tapi, aku tak bisa berdansa."
"Tenang saja, aku akan mengajarimu seperti aku mengajari ibumu."
"Paman yang mengajari ibu berdansa?" tanya Sakura takjub.
Kakashi mengangguk mantap. Ia bercerita tentang Karin yang belajar berdansa dulu. Sakura terus-terusan tersenyum karena mendengar cerita mengenai masa lalu ibunya. Memberanikan diri, Sakura pun menerima ajakan Kakashi untuk berdansa satu lagu dengannya.
oOo
"Kin," panggil Sasuke. Model cantik itu pun menoleh penuh harap padanya. "Mau berdansa?" ajaknya, namun tatapan matanya tidak mengarah pada wanita itu.
"Tentu saja." Karena terlalu senang, Kin menerima tanpa berpikir untuk kedua kalinya. Siapa yang mau menolak ajakan berdansa dari Sasuke? Hanya wanita bodoh yang akan menolak.
Lagu When a Man Loves a Women milik Otis Redding mengalun dengan merdu. Kin begitu bahagia bisa berdansa lagi dengan lelaki ini. Terutama lagu yang mengiringi adalah salah satu lagu paling romantis di dunia. Wanita itu menatap wajah Sasuke, berharap Sasuke juga melakukan yang sama sehingga mata mereka bisa saling bertatapan. Sayangnya, Sasuke sama sekali tak melakukan hal yang sama.
Saat tubuh berputar, terjadi pertukaran pasangan dansa. Memanfaatkan kesempatan, Sasuke segera mengambil tangan Sakura, menjadikan gadis itu pasangan dansanya. Lagu pun berpindah ke lagu romantis berikutnya, For The First Time milik Rod Stewart. Musik yang lembut kembali mengalun. Seperti penggambaran lagu, tentang seorang pria yang untuk pertama kalinya menatap mata wanita yang dicintainya, seolah pria itu baru sadar betapa luar biasanya wanita yang sangat dicintainya itu. Keduanya saling terhipnotis pada dalamnya tatapan masing-masing. Hijau jernih dan hitam kelam saling menarik satu-sama lain. Dan saat itu juga, dunia serasa milik berdua. Sasuke yang lebih dahulu tersadar dari jeratan mata indah di hadapannya itu sengaja bergerak mengarahkan mereka menjauhi Kakashi. Saat lagu yang diputar berakhir, Sasuke segera membawa gadis itu ke balkon luar.
"Kenapa kita ke sini, Paman?" jangan bertanya suasana hati Sakura saat ini. Gadis ini sedang sangat senang, sampai-sampai rasanya dadanya ingin meledak saking senangnya.
"Langit cukup indah malam ini."
Sakura memandang angkasa. Bintang-bintang menghiasi gelapnya langit malam. "Hm, tak ada yang bisa mengalahkan keindahan langit musim panas."
"Apa yang kau lakukan dengan Kakashi tadi?"
"Oh, tadi aku hanya kebingunan memilih minuman. Aku takut salah mengambil minuman yang ada alkoholnya."
"Hn."
Sakura ingin bertanya perihal Kin, namun ia mengurungkan niatnya. Gadis itu tak mau merusak suasana baik yang sedang terbangun. Terutama ia sudah jarang bertemu dengan lelaki ini. Pilihan paling tepat tentu saja memanfaatkan kesempatan yang ada, menikmati selama mungkin waktu yang bisa dihabiskan berdua dengan paman tampan yang satu ini.
"Tapi, aku penasaran dengan rasa wine," cicit Sakura pelan. Kalau ini ibunya, sudah pasti ia kena marah. Alasan klasik, umurnya masih kecil sehingga Karin belum mengizinkannya mencicipi minuman beralkohol.
"Untuk merasakan wine dengan cita rasa yang bagus, kau harus pintar memilih."
"Percuma juga aku bisa memilih kalau ibu tidak mengizinkan," gerutu Sakura. Ia sebenarnya sudah sangat penasaran dengan cita rasa wine yang katanya sangat enak itu.
"Kalau sesekali sih tidak masalah." Well, Uchiha Sasuke sepertinya sudah lupa kalau Sakura masih terlalu polos. Gadis itu bukan dirinya. Saat seumuran dengannya dulu, Sasuke sudah menikmati hampir semua jenis minuman beralkohol.
"Paman mau mengajariku memilih wine yang baik?"
"Hn." Pria itu diam beberapa detik sebelum membuka mulutnya dan berucap, "Selamat."
"Untuk?"
"Menjadi model K2."
"Terima kasih, Paman. Kalau begitu, mana hadiahku?" ucap gadis itu sambil membuka kedua tangannya.
"Kau mau apa?"
"Satu kecupan." Dan Sakura ingin merobek-robek mulutnya sendiri karena dua kata yang diucapkannya tadi. Entah dari mana datangnya kata-kata itu. Ia hanya refleks menjawab pertanyaan Sasuke tadi tanpa berpikir lebih dahulu. Oh, ayolah, Sakura, masih banyak hadiah lain yang bisa diminta. Kenapa dengan tololnya ia meminta sebuah kecupan dari Sasuke? Tak mungkin lelaki itu tertarik untuk menciummu.
Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sakura terus memaki dirinya sendiri dalam hati. Arrrggghhh—
—dan satu kecupan kecil di bibir ia dapatkan. Tubuh Sakura seketika membatu. Badannya tak bisa ia gerakkan.
"A-a-ak-ku se-se-b-b-ba-i-k-nya me-men-c-c-ca-ri i-bu di b-b-ba-w-wah," ujar gadis itu gelagapan. Jantungnya sudah memompa tak karuan. Paru-parunya terasa penuh dengan udara sehingga ia kesulitan untuk menghirup udara lebih.
Sasuke membiarkan gadis itu turun. Ia dapat menangkap guratan merah yang tak sanggup disembunyikan gadis itu.
Bodoh! Sasuke mengutuk tindakannya tadi.
Pria berusia 27 tahun itu mendongakan kepalanya ke atas. "Apa yang kaulakukan, Uchiha Sasuke?" gerutu Sasuke pada dirinya sendiri. "Naruto pasti akan menertawaiku habis-habisan."
oOo
Seorang pria berdiri bersisian dengan Kakashi. Pria yang telah lama menjadi rekannya, pria yang sama dengan pria yang berada di hotel dan berbicara dengannya di telepon. Pria itu memegang gelas minumannya, wajahnya terlihat tidak senang.
"Siapa pria yang membawa Tuan Putriku ke luar tadi, Kakashi?"
"Uchiha Sasuke. Tuan Putrimu sepertinya punya rasa padanya."
"Benarkah?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Ya, dia juga mantan pacar Karin. Tapi, kurasa sekarang ia sudah tak punya perasaan apa pun pada Karin. Pusat perhatiannya sekarang adalah Tuan Putrimu."
Lelaki itu menyeringai sinis. "Coba saja kalau dia berani."
Kakashi tersenyum licik. Permainan ini sepertinya akan berjalan dengan sangat menarik. Lelaki di sebelahnya ini tak kalah berbahaya dengan dirinya. Kalau sudah tak menyukai seseorang, ia akan menghabisi orang itu perlahan-lahan. Begitu tenang sampai tak ada seorang pun yang tahu kalau lawannya telah hilang ditelan bumi. Atau, dia bisa menghancurkan lawannya sampai sang lawan menyesal pernah hidup di dunia ini. Uchiha Sasuke, berhentilah sebelum terlambat.
.
.
.
oOo
.
.
.
Sasuke menghentikan laju mobil. Pemadangan tak biasa ia dapati di depan pintu gerbang rumahnya. Sakura yang sepertinya baru pulang sekolah sudah menunggu. Gadis itu melambaikan tangan padanya yang masih berada di dalam mobil.
"Ada apa ke sini?" tanya Sasuke saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Kan Paman sudah janji mau mengajariku cara memilih wine yang baik."
Ck, apa anak ini tidak tahu kalau ia sedang sibuk? Bukan berarti tadi malam ia berjanji, hari ini Sakura langsung menagih janjinya. "Aku sedang banyak pekerjaan."
"Tapi, Paman kan sudah janji," rengek gadis itu.
Sasuke menarik napas berat. "Kau tunggu di dapur, aku akan mengambil beberapa wine dulu."
Sakura duduk menunggu dengan sabar. Sesekali ia tersenyum kecil, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. Saat mendengar langkah kaki Sasuke yang mendekat, ia kembali duduk dengan tenang.
"Tutup matamu, aku akan mengajarimu memilih wine yang baik." Entah kenapa, Sakura merasa sangat gugup sekarang, wajah Sasuke terlihat sangat serius. "Banyak orang, terutama orang Asia, tidak bisa membedakan mana wine yang enak dan bagus. Wine yang enak adalah wine yang pada saat diminum terasa pas di lidah, tak peduli berapa harga dan asal wine tersebut. Wine yang bagus adalah wine yang bisa disimpan dalam jangka waktu yang lama, punya kompleksitas, balance, dan memiliki after taste yang panjang. Tapi, tidak semua suka dengan wine yang bagus. Paham?"
Sakura mengangguk. "Katanya semakin lama wine disimpan, kualitasnya semakin bagus."
"Hn. Aku akan mengajar dasarnya dulu. Gelas juga berpengaruh dalam meminum wine." Sakura mendengar suara cairan yang dituangkan dalam sebuah gelas. Pria itu memutar tangkai gelas beberapa kali sebelum memberikannya pada Sakura. "Kau paling suka wine yang mana?" tanya Sasuke setelah gadis itu selesai mencicipi beberapa jenis wine yang diberikannya tadi.
Sakura membuka matanya, menatap lurus paman tampannya. "Yang ketiga, tapi yang paling terasa berbeda di lidah itu yang berada di gelas keempat."
"Kau mengerti dengan penjelasanku tadi?"
"Hm." Gadis itu mengangguk mantap. "Gelas ketiga adalah wine yang enak, tapi gelas keempat adalah wine yang bagus."
"Anak pintar, wine dari gelas keempat berasal dari tahun 1980, lebih tua dari tiga wine yang lain. Tapi, jenis wine yang sama akan memberikan aroma dan rasa yang berbeda kalau kau juga menggunakan gelas yang berbeda."
Sakura memperhatikan saat Sasuke memperagakan bagaimana cara menuang wine dengan benar. Tiga jari tangan kanan lelaki itu bertumpu pada bagian belakang botol sementara beberapa jari di tangan kirinya memegang leher botol. Tangan Sasuke tidak menutupi leher dan bagian belakang botol secara keseluruhan, menurutnya hal itu sangat mempengaruhi aroma. Ada rongga yang harus diberikan pada botol yang terbuat dari kaca tersebut. Gelas yang digunakan juga gelas yang cembung seperti balon dan memiliki tangkai.
"Jangan langsung diminum, kau harus memutarnya tertebih dahulu seperti ini." Sasuke mencontohkan padanya bagaimana cara memutar gelas wine. Setiap perputaran menghasilkan aroma wine yang berbeda. Memegang gelas pun ada caranya tersendiri. Tiga jari diletakan pada tangkai gelas, dan bagian bawah gelas tidak boleh dipegang langsung dengan tangan agar wine tidak menjadi hangat dan aromanya berubah. Sakura tak pernah tahu kalau meminum wine bisa serumit ini. "Memutar gelas perlu untuk dilakukan, hal ini agar oksigen bisa masuk ke dalam wine yang berada pada gelas. Tutup matamu dan cium aroma dari kedua gelas yang akan kuberikan."
Sakura menurut, lalu segera menutup kedua kelopak matanya sekali lagi. Ia sama sekali tak menyangka kalau hidungnya akan menangkap dua aroma yang berbeda. Padahal jenis wine yang sedang ia hirup aromanya ini adalah wine yang sama. Ia dapat merasakan bibir gelas menyentuh bibirnya sendiri, pelan-pelan cairan berwarna merah pekat itu mengalir ke menyentuh lidahnya. Rasanya benar-benar luar biasa.
"Rasanya enak sekali," kata Sakura setelah mencicipinya.
"Coba lagi yang ini."
Kali ini ia mencium aroma yang jauh lebih menggoda dari yang tadi. Hidungnya mengikuti aroma tersebut. Tapi, sepertinya ia sedang dikerjai Sasuke. Saat ia sudah dekat dengan sumber aroma tadi, Sasuke sengaja menjauhkan, membuat dirinya terus mengejar aroma tadi. Sakura yang sudah kesal membuka matanya untuk protes.
Detik itu juga, ia bukan hanya mendapatkan rasa wine yang menjadi incarannya, tapi juga bibir yang telah menciumnya semalam.
oOo
Semula Sasuke hanya ingin mengerjainya. Ia mengarahkan gelas ke arah yang berlawanan saat bibir Sakura sudah dekat dengan gelas yang dipegangnya. Membuat kepala gadis itu mencari-cari ke mana arah perginya gelas yang menguarkan aroma wine yang sangat nikmat tersebut. Lalu, ia matanya teralihkan pada kilatan sisa wine yang ada di bibir gadis itu. Seperti apa rasanya minuman yang sangat nikmat ini kalau dinikmati dari bibir ranum sang dara?
Bibir gadis itu menjadi sangat menggoda di matanya. Walau hanya beberapa detik, ia masih dapat merasakan betapa lembutnya bibir yang ia sentuh semalam. Bibir yang mungkin saja belum disentuh orang lain selain dirinya—dan ada rasa bangga dalam diri Sasuke karenanya.
Sakura sedikit membuka bibirnya karena dipermainkan oleh Sasuke yang terus membuatnya mencari-cari ke mana arah gelas wine. Bibir ranum itu terlihat sangat merekah, semakin menggoda untuk dicumbu habis-habisan. Kembali kelembutan bibir Sakura menyerbu pikirannya. Damn! Gadis ini harus bertanggung jawab karena libidonya telah naik sekarang. Sasuke lalu meneguk wine, tepat saat gadis itu membuka mata untuk protes, ia telah kembali merasakan bibir yang tadi malam disentuhnya. Bocah sialan, ciuman kali ini tidak akan sama seperti tadi malam. Rasanya Sasuke sudah hampir gila karena meminum wine dengan bantuan bibir Sakura terasa jauh lebih menyenangkan.
Sakura dapat merasakan rasa wine yang ada dari dalam mulut Sasuke. Pria itu menarik pinggangnya, membawa tubuh Sakura semakin ke atas.
Bruukkh!
"Sssssshhh," Sakura sedikit meringis saat pinggangnya menabrak ujung meja makan. Ia tak dapat berbuat apa-apa saat bibir bawahnya digigit pelan. Cairan merah tadi telah habis di dalam mulut masing-masing, namun rasanya masih terasa dengan begitu kuat, mengantarkan sensasi tersendiri bagi keduanya.
Sasuke hampir tak bisa menahan diri, ia mengangkat gadis itu ke atas meja, mengatur posisinya sedemikian rupa sehingga ia berada di antara kedua paha Sakura yang menggantung di pinggiran meja. Jangan salah, Sasuke sama sekali belum melepas cumbuannya. Mereka berdua bergerak melawan gravitasi, memosisikan gadis itu berbaring di atas meja. Kaki Sasuke terus menyangga tubuhnya sementara setengah bagian tubuhnya yang lain sudah menindih gadis itu. Celananya semakin sesak saat secara refleks salah satu kaki Sakura melingkari pinggangnya.
Masih dengan ganas menguasai bibir gadis itu, tangannya mulai beraksi. Ia mulai mengelus paha mulus sang dara. Sasuke sanggup bersumpah ini kulit paling mulus yang pernah disentuh tangannya. Tubuh gadis itu gemetar saat tangan Sasuke bergerak semakin ke atas. Ciumannya semakin ia perdalam. Kemejanya di bagian dada mungkin sudah sangat kusut akibat cengkeraman kedua tangan Sakura. Reaksi gadis itu mengejutkannya. Seperti pujiannya tadi, Sakura memang gadis pintar. Gerakan refleksnya membalas ciuman Sasuke adalah bakat alami yang dimilikinya. Dengan sedikit latihan, gadis ini pasti akan menjadi seseorang yang memiliki teknik ciuman hebat. Tentu saja Sasuke dengan hati bersedia mengajarinya. Ah, tangannya telah mencapai bagian pinggir material berenda yang menutupi bagian paling sensitif dari tubuh sang gadis. Ia mulai menyelipkan salah satu jarinya melalui pinggiran pakaian dalam gadis itu, menyentuh—
—Braaaaghh!
Sasuke jatuh dari atas tempat tidurnya dalam keadaan bersimbah keringat.
Astaga, apa yang baru saja terjadi?
Apa dia baru saja bermimpi mencumbu Sakura?
Bukan hanya itu, kalau mimpinya berlanjut, pasti saat ini ia sudah bercinta dengan gadis itu. Tidak mungkin! Ini tidak mungkin!
Dia memimpikan seorang anak kecil!? Okay, Sasuke adalah pria normal yang sering bermimpi erotis seperti ini. Tapi, tak pernah sekali pun ia mengenali wanita-wanita dalam mimpinya. Semuanya adalah wanita asing yang tak dikenalinya. Lalu, kenapa sekarang Haruno Sakura harus muncul? Karin sebagai wanita yang dulu sangat dicintainya saja tak pernah hadir dalam mimpi-mimpinya yang paling intim. Terus, kenapa sekarang ada seseorang yang akhirnya bisa ia kenali dalam mimpi erotisnya? Dan kenapa orang itu harus Haruno Sakura!? Gadis yang bahkan belum bisa mengenali mana orang jahat dan orang baik. Gadis yang mungkin saja pengalaman paling intimnya adalah satu kecupan kecil di bibir. Gadis yang mungkin saja belum pernah dipeluk erat oleh lelaki lain selain dirinya. Gadis yang sama sekali tak punya pengalaman dengan laki-laki. Gadis yang masih terlalu polos dengan kehidupan liar Sasuke.
Ia bahkan sangat terkejut saat melihat salah satu organ vitalnya yang paling bereaksi akibat mimpinya tadi. Astaga, ini tidak mungkin akibat dari kecupan singkatnya pada gadis itu kan? Itu hanya satu kecupan kecil, bahkan tidak sampai empat detik ia mencium gadis itu. Ia pernah mencium perempuan lain dengan jauh lebih panas, jauh lebih lama, jauh lebih intim, tak dapat dibandingkan dengan ciuman singkatnya pada gadis itu. Lalu, kenapa karena ciuman kecil itu, Haruno Sakura bisa masuk ke dalam mimpinya yang penuh gairah? Mimpi yang membuat tubuhnya begitu panas seperti sedang terbakar. Sepertinya sekarang Sasuke harus segera berendam dalam air dingin untuk menurunkan suhu tubuh dan menenangkan pikirannya!
.
.
.
.
Tbc
A/N:
Saya tahu, semua pasti geregetan dengan mimpi Sasuke wkwk #dichidori
Q: siapa laki-laki misterius itu?
A: chapter depan ketahuan kok dia siapa. Dia salah satu tembok paling tinggi yang harus dilewati Sasuke selain Menma.
Q: kakashi jahat ya?
A: Kakashi cuma peduli sama uang
Q: Kapan Sasuke suka sama Sakura?
A: kayanya udah ada tanda-tanda nih wkwk
Terima kasih semuanya, saya tunggu tanggapannya untuk chapter ini.
