Author Note:

Halo semuanya, akhirnya Ketika Senja Tiba di update! Setelah menunggu lebih dari 1 bulan lebih akhirnya fic ini bisa di update juga. Mohon maaf kepada reader karena membuat kalian menunggu lama dan minta maaf juga bila fic ini mengalami penurunan kualitas karena sudah lama gak update.

Sekarang seperti biasa, kita memasuki Q&A session! (walau aku yakin yang nanya sedikit soalnya udah lama sih.)

Q: Apa saat nanti Akatsuki menyerang Konoha Naruto datang menolong?

A: Masih belum jelas mengenai hal ini.

Q: Rencana haremnya ada berapa orang?

A: Kurang tahu sih, tapi aku usahakan gak terlalu banyaklah nanti.

Q: Apakah Naruto bisa membuat elemen es?

A: Sayangnya enggak.

Sepertinya itu saja yang bisa aku jawab untuk sementara waktu, lagian kalian pasti udah gak sabar ingin baca ceritanya. Selamat membaca, semoga chapter ini memuaskan.

Disclaimer: Naruto©Masashi Kishimoto


Naruto masih terpaku ditempat.

Bagaimana tidak? Didepannya sekarang ada seseorang yang sangat mirip dengannya, mulai dari badan, struktur wajah, dan warna kulit. Yang membedakan mereka berdua adalah jika Naruto memiliki sepasang bola mata berwarna biru langit dan rambut berwarna kuning, orang didepannya memiliki rambut hitam dan sepasang bola mata berwarna merah berwarna ruby. Selain itu, pakaian mereka juga berbeda. Naruto mengenakan kaos putih tanpa lengan, celana dan sepatu boots hitam. Sedangkan orang didepannya mengenakan baju hitam dilengkapi dengan jaket bulu dengan celana panjang berwarna coklat dihiasi dengan boots hitam.

"Selamat datang di dalam jiwamu, Namikaze Naruto. Aku adalah sisi gelapmu. Panggil saja aku Namikaze Menma." Ujar Menma sambil menyeringai lebar.

Naruto setelah berhasil menenangkan dirinya bertanya kepada Menma.

"Kau... adalah sisi gelapku?"

"Sekali lihat juga sudah tahu kan? Aku adalah sisi gelapmu, hasil akumulasi dari rasa kebencian, ketakutan, kesedihan, dan penderitaanmu yang kau terima di Konoha, Namikaze Naruto." Jawab Menma santai.

"Tapi itu mustahil! Aku tidak pernah merasakan emosi gelap seperti itu sebelumnya di Konoha!"

"Tentu saja tidak, karena aku yang menanggung semua perasaan gelapmu itu, Naruto."

Melihat tatapan bingung dari Naruto, Menma menghela nafas dan mulai menjelaskan situasinya.

"Sepertinya kau kebingungan. Baiklah biar kujelaskan padamu. Naruto ketika di Konoha, ketika kau masih menggunakan topeng idiotmu itu, kau secara tidak sadar mengubur semua rasa benci, kesedihan, amarah, penderitaan di dalam jiwamu. Untuk bisa bertahan dari seluruh perasaan gelap itu, diriku tercipta didalam jiwamu. Jadi bisa dikatakan aku adalah perwujudan dari pertahanan jiwamu, yang menanggung seluruh emosi gelapmu dan menjaga hatimu yang rapuh itu. Dan karena aku menanggung seluruh perasaan gelapmu, aku menjadi sebuah kepribadian yang tidak akan pernah kau inginkan. Dengan kata lain aku adalah sisi gelapmu yang bisa saja terjadi jika kau tetap sendiri, tanpa teman dan orang-orang berhargamu." Menma menjelaskan dengan sinis.

Naruto hanya diam. Pantas saja ketika dia mencoba menggunakan youki-nya, dia merasakan emosi gelap itu. Apakah itu berarti setelah melepas topengnya, perasaan gelap itu akan mulai mempengaruhi jiwanya?

Menma meneruskan ucapannya.

"Awalnya kukira aku harus menunggu lama untuk menunggu kau berada di ambang kematian untuk menemuiku. Tak kusangka kau sendiri yang akan datang ke dalam jiwamu sendiri. Sungguh beruntung aku hari ini."

"Menma...kau bilang kau sudah lama ingin bertemu denganku. Apa alasan kau ingin bertemu denganku?" tanya Naruto.

"Aku hanya ingin berbicara denganmu, itu saja." Jawab Menma santai.

"Apa yang ingin kau bicarakan?"

Mendengar pertanyaan Naruto, Menma memejamkan mata dan menghela nafas. Tak lama kemudian, Menma membuka mata dan terlihat raut muka Menma yang daritadi santai menjadi serius. Naruto langsung menjadi serius ketika melihat perubahan raut muka Menma.

"Namikaze Naruto, apa sebenarnya tujuan hidupmu sekarang?"

Pertanyaan Menma sempat membuat Naruto kaget. Namun setelah itu Naruto menjawab pertanyaan Menma.

"Aku...ingin mencari rumah. Aku ingin mencari tempat dimana tempat itu akan menerimaku apa adanya. Dan aku ingin mencari kebahagiaan. Karena itu aku ingin mengembara, agar aku mencapai tempat yang kutuju, tempat yang bisa kukatakan dengan bangga sebagai rumah. Dan aku ingin menemukan orang-orang yang akan menerimaku apa adanya." Naruto menjawab dengan mantap.

Menma yang mendengar itu hanya menunduk. Sesaat kemudian terdengar suara tertawa kecil dari Menma.

"Fu-fufufu...FUHAHAHAHAHA!" Menma tertawa keras mendengar hal itu.

Naruto merasa tersinggung ketika ditertawakan oleh Menma. Tawa Menma yang semula keras tiba-tiba meredup. Seketika itu pula insting Naruto mengatakan kalau dia dalam bahaya.

SYUT!

Dalam waktu 1 detik, Menma sudah ada didepan mata Naruto dengan jarak yang sangat dekat.

"Jangan bercanda."

BUAK!

"GAH!"

Naruto mendadak menerima pukulan ke arah mukanya dan pukulan Menma sangat kuat sampai membuat badan Naruto terhempas jauh ke belakang, berguling-guling di tanah yang tandus tersebut sampai akhirnya Naruto berhenti dan langsung berdiri siaga.

"Apa-apaan kau Menma!" Naruto berteriak penuh amarah.

"Aku tidak bisa menahan diri untuk memukulmu, begitu mendengar alasan bodohmmu itu, Naruto." Menma masih berkata dengan tenang, namun di kedua bola mata merah miliknya tersimpan amarah yang besar.

"Alasan bodoh katamu!? Apa salahnya ingin mencari tempat yang bisa kuanggap rumah!? Apa salahnya mencari orang-orang yag akan menerimaku apa adanya!?"

"Apa kau lupa kalau kau itu jinchuuriki, Naruto!?" Menma bertanya dengan penuh amarah.

Naruto menjadi diam seribu kata. Kata jinchuuriki yang dilontarkan Menma menusuk hatinya.

"Apa kau lupa arti dari jinchuuriki? Jinchuuriki memiliki arti manusia yang dikorbankan. Ketika kita sudah menjadi jinchuuriki, kita telah kehilangan hak kita sebagai manusia. Seumur hidup kita, kita akan selalu menerima tatapan kebencian, ketakutan, kita tidak akan pernah diperlakukan sebagai manusia! Orang-orang seperti kita, tidak punya kedamaian!" Menma berteriak dengan penuh amarah.

"Kau salah Menma! Aku yakin tidak semua orang membenci jinchuuriki, buktinya adalah Yuki, Tayuya, Jiraiya, Tsunade, teman-teman kita yang lain menerima kita, Gaara terpilih sebagai Kazekage oleh desanya, bukankah itu bukti kalau ada sekumpulan manusia yang bisa menerima kita!?"

"Jangan naif, Naruto!"

Menma kembali memotong jarak antara dirinya dan melancarkan pukulan super cepat ke arah Naruto. Naruto tidak tinggal diam, dia pun juga melancarkan pukulan ke arah Menma.

BRUAK!

Tinju Naruto dan Menma bertubrukan secara bersamaan, membuat retakan kecil dibawah kaki mereka.

"Apa orang-orang yang kau sebut teman itu benar-benar temanmu Naruto!? Apakah orang-orang di desa Suna benar-benar menerima Gaara sebagai Kazekage sebagai pemimpin mereka!?" Teriakan dan pertanyaan Menma mulai mengguncang jiwa Naruto.

"Apa maksudmu berkata begitu, Menma!?"

Menma hanya diam dan menarik tangan kanan Naruto,memutarkan badan hingga punggungnya menghadap badan Naruto, lalu melancarkan serangan sikut ke belakang menggunakan tangan kiri ke arah ulu hati Naruto.

"UGH!"

Naruto meringis kesakitan namun penderitaan Naruto belum selesai, setelah badan Naruto menerima serangan Menma, Menma langsung memegang lengan kanan Naruto dengan kedua tangannya dan melemparkan Naruto jauh-jauh kedepan.

WUSH

DUASH!

Melihat badan Naruto yang terlempar di udara, Menma mengejar badan Naruto yang sedang melayang dan mendaratkan sebuah tendangan memutar ke arah perut Naruto.

BRUAK!

"AKH!"

Naruto mengeluarkan teriakan dan memuntahkan darah sebelum akhirnya badannya terbanting ke tanah. Naruto mendarat dengan posisi badan menghadap ke tanah. Naruto kemudian mencoba untuk bangkit. Setiap serangan Menma sungguh berat dan bertenaga, badannya berteriak karena rasa sakit. Nafas Naruto tersengal-sengal namun Naruto mencoba menguatkan diri untuk bisa berdiri. Menma hanya menatap dingin Naruto dan meneruskan ucapannya.

"Sekarang aku tanya padamu, Naruto. Apakah orang-orang yang kau sebut 'teman' itu pernah datang satu kali saja ke apartemen untuk bermain bersamamu!? Apakah mereka pernah menanyakan bagaimana keadaanmu!? Apakah mereka pernah mengajakmu jalan-jalan bersama!? Apakah mereka pernah berada untukmu ketika kau membutuhkan seseorang!? Apakah kau tidak pernah berpikir kalau orang-orang Suna hanya memilih Gaara sebagai Kazekage karena tidak ada lagi yang lebih kuat darinya di desa itu, jawab aku, Namikaze Naruto!"

Suara Menma menggelegar di tempat itu dan setiap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Menma menusuk sampai ke relung-relung jiwa Naruto. Naruto hanyalah anak berumur 13 tahun, wajar kalau dia lepas kendali setelah mendengar perkataan-perkataan Menma.

"D-DIAM KAU MENMA!"

DUASH!

Kali ini giliran Naruto yang menyerang. Naruto melancarkan pukulan ke arah muka Menma, ketika Menma mundur ke belakang, Naruto mengeluarkan tendangan ke arah rusuk Menma dengan kecepatan seperti merobek angin namun sekali lagi Menma bisa menghindar. Naruto tidak menyerah. Naruto kemudian memutarkan badan mengayunkan lengan kanannya dengan gerakan menebas dan ketika Menma bisa menghindar, Naruto menggunakan tangan kiri, membuat gerakan menusuk ke arah leher. Menma dengan santai merunduk, mengambil lengan kiri Naruto dan membanting badannya ke tanah.

BRAK.

"UKH!"

Naruto hanya meringis kesakitan ketika merasakan rasa sakit yang hebat dipunggungnya. Naruto yang sedang berada ditanah memutar tubuhnya dan melancarkan tendangan dari bawah ke arah dagu Menma. Menma hanya mendongakkan wajahnya ke atas untuk menghindari serangan Naruto. Naruto langsung bangkit dan kembali menyerang.

"Naruto, apa kau tahu kenapa kau dulu menginginkan gelar Hokage setengah mati?" Menma menyamping untuk menghindari tendangan Naruto.

"Karena aku ingin menerima penghargaan dan pengakuan dari penduduk desa!"

Naruto memukul Menma dengan tenaga penuh ke arah paru-paru namun tubuh Menma menghilang. Naruto mendongakkan kepala ke atas dan melihat Menma menyalto melewati tubuhnya dan mendarat di belakang punggungnya. Naruto membalikkan badan tepat waktu untuk menahan pukulan yang mengincar ulu hatinya dengan menyilangkan tangan ke dada.

"Kau salah Naruto!"

Menma kemudian menendang tangan Naruto sampai Naruto terhempas ke belakang.

ZRAK!

Naruto berhasil menstabilkan posisi tubuhnya.

"Itu karena kau iri dengan Sandaime!"

Sekali lagi omongan Menma berhasil membuat Naruto tertegun. Selagi tertegun, Menma melanjutkan serangannya.

BRAK!

Serangan Menma tertahan oleh Naruto. Menma dan Naruto mulai menyerang satu sama lain tanpa ampun.

BRAK!

BRAK !

BRAK !

BRAK !

BRAK!

Mereka saling adu serang. Tinju ditahan dengan tinju, tendangan ditahan dengan tendangan, tebasan dibalas tebasan, bagai dansa kekerasan tanpa akhir.

"Kau iri dengan Sandaime yang terlihat puas dengan pekerjaannya sebagai Hokage, saat itu kau yang tidak punya tujuan hidup apapun saat itu pun terpana dan dari saat itulah kau ingin menjadi Hokage. Kau yang sudah dicuci otaknya dengan idealisme bernama 'Tekad Api' itu hanya menerima hal itu tanpa pikir panjang. Kau tahu apa artinya itu Naruto!? Kau hanyalah orang yang menggunakan impian yang dipinjam! Kau hanya dimanfaatkan untuk dijadikan senjata, tak sadarkah kau dengan hal itu Naruto!?"

Menma mengayunkan kedua lengan dengan cepat membentuk huruf V dari bawah ke atas. Naruto melompat melewati badan Menma, mendarat di belakang badannya dan menendang kepalanya namun Menma masih sempat menahan dengan tangan kanannya.

"Kau salah! Aku hanya mengikuti jalan yang kupilih!"

Menma semain geram, menangkap kaki Naruto dan melemparkannya jauh-jauh. Lalu dengan kecepatan yang luar biasa, Menma mengejar tubuh Naruto yang sedang terlempar, mencengkram lehernya dan membantingkan tubuh Naruto ke tanah.

BRUAK!

"AKH!"

Naruto berteriak kesakitan.

Muncul retakan yang besar ditanah. Naruto mulai sesak nafas karena cengkraman Menma. Naruto memaksakan membuka kedua kelopak matanya dan melihat Menma melototinya dengan penuh amarah.

"Sadarlah Naruto! Untuk apa kau mengincar pengakuan dari desa dan orang-orang jika pada akhirnya kau akan sendiri lagi. Dan jika kau kira orang-orang akan menerimamu sebagai jinchuuriki kau salah besar. Manusia selalu takut apa yang tidak mereka ketahui, dan mencap negatif apa yang mereka anggap negatif tanpa mencoba untuk memahaminya terlebih dahulu. Kau tahu pederitaan seorang jinchuuriki lebih baik, kenapa kau bersikukuh untuk mencari orang yang akan menerimamu jika kau tahu banyak orang yang membencimu. Dan kau kira apa yang akan terjadi dengan Yuki dan Tayuya jika orang-orang tahu kalau kau adalah jinchuuriki!? Yuki dan Tayuya juga akan menjadi korban. Jadi sekarang akan kutanya apa tujuan hidupmu sebenarnya!?"

Naruto hanya diam di tanah. Apa tujuan hidupku sebenarnya? Apakah aku salah jika aku mengembara demi mencari tempat dan orang-orang yang akan menerimaku apa adanya? Apakah sebagai manusia kita tidak bisa saling memahami? Apakah orang-orang sepertiku tidak bisa memohon untuk sedikit kebahagiaan? Apa pola pikirku salah?

Naruto kemudian teringat akan sesuatu. Perkataan Haku, pengakuan Yuki, sikap Tayuya yang menerima dia apa adanya, Jiraiya yang selalu memperhatikanku, dan Tsunade yang selalu sayang padaku. Dan dukungan orang-orang lainnya.

"Menma, aku kasihan padamu."

"Apa katamu?"

"Kau tidak mengerti apa-apa. Memang benar manusia selalu takut kepada sesuatu yang tidak mereka mengerti, memang benar kita jinchuuriki akan selalu ditakuti oleh masyarakat. Mungkin bodoh jika aku berharap bisa menemukan tempat dan orang-orang yang menerimaku apa adanya di dunia yang kejam dan penuh dengan orang-orang yang tidak ingin mengerti apa kita sebenarnya..." Naruto berkata pelan.

Menma masih terdiam, menunggu Naruto selesai bicara.

"Tapi kau juga merasakan kan? Bagaimana rasanya tahu ada orang yang menerima kita apa adanya, orang yang peduli dengan kita, bagaimana rasanya punya teman. Senang, gembira, tertawa, menangis, kita telah menerima banyak pelajaran dari hidup kita yang penuh penderitaan. Namun dari hidup kita yang penuh derita ini, kita masih bisa menemukan harapan. Karena itu, selama masih ada harapan untukku untuk menemukan tempat yang kucari, aku tidak akan menyerah! Walau aku tahu hanya penderitaan, kesedihan, dan tragedi yang akan menungguku di akhir jalan ini, aku tidak akan menyesal! Karena inilah jalan yang sudah kupilih. Dan jika kau kira aku akan menyerah karena penderitaan yang akan menghadang, kau salah besar, NAMIKAZE MENMA!"

Naruto meletakkan salah satu telapak tangan ke badan Menma.

"Namikaze Naruto no Ougi: Suimei Zesshou-Hakyaku Seigetsu!"

BLAR!

BRUAK BRUAK!

Tubuh Menma terpental. Naruto mengeluarkan salah satu jurus taijutsu buatan dirinya sendiri. Suimei Zesshou: Hakyaku Seigetsu. Sebuah jurus taijutsu dimana Naruto memusatkan seluruh tenaga ke satu titik dan mengeluarkan tenaga yang dikumpulkan dalam satu hentakan besar menggunakan pukulan atau serangan telapak tangan.

"GUH!"

Menma memuntahkan darah segar dari mulutnya. Tubuh Menma sama tangguhnya dengan Naruto. Dia tidak akan roboh begitu saja. Menma kembali berdiri sambil memegangi dadanya dan menatap ke arah Naruto.

"Naruto, hanya ada satu pertanyaan terakhir yang ingin kutanyakan padamu. Apa itu yang kau anggap kebenaran? Aku sudah memberitahu kebenaran tentang hidup kita yang pedih tentang kenyataan jinchuuriki, kenyataan orang-orang yang kita anggap teman, kenyataan mengapa kau pernah ingin menjadi seorang kage. Jika yang kuberitahu itu bukanlah kebenaran, apa yang kau sebut dengan kebenaran sebenarnya, Naruto?" Menma bertanya dengan lirih.

Naruto hanya menghela nafas panjang. Dan berkata dengan lembut.

"Sejujurnya aku tidak tahu. Tapi aku rasa kita akan menemukan jawabannya dalam perjalanan kita kali ini, Menma."

Menma hanya terdiam sesaat mendengar jawaban Naruto. Setelah beberapa lama, Menma membalikkan badannya dan mulai pergi dari tempat itu.

"Kau tidak akan mencoba menghancurkanku, Menma?"

"Tidak. Aku hanya ingin membuatmu sadar kalau jalan yang kau pilih salah. Aku ingin kita mengembara tanpa membuat hubungan khusus dengan manusia, karena itu hanya akan membawa kepedihan. Aku hanya tidak ingin disakiti lagi. Sudah cukup kita menerima kepedihan dan penderitaan ini. Tapi...aku penasaran dengan jawabanmu mengenai apa itu kebenaran yang sebenarnya.. Karena itu aku akan membiarkanmu hidup untuk sekarang. Tapi jangan salah Naruto. Pada satu titik tertentu, kita akan bertemu lagivsetelah kau menemukan jawabanmu. Ketika saat itu tiba, salah satu dari kita akan menghilang dari tubuh ini. Camkan itu, Naruto."

Menma lalu menghilang. Naruto yang kelelahan merasakan dirinya ditarik sesuatu dan dia kehilangan kesadaran.


Ketika Naruto tersadar, Naruto ternyata masih berada di tempat latihan dan hari sudah sore. Badan Naruto berkeringat, tubuh Naruto merasa kelelahan.

"Sudah berapa lama aku berada disini?" gumam Naruto.

Naruto bangkit dari tempat meditasinya. Baru saja Naruto bangkit, tiba-tiba muncul Temari.

"Oi, Naruto disini kau rupanya." Temari menyapa Naruto.

"Temari? Kenapa kau datang kemari?"

"Aku mencarimu. Gaara memutuskan selama kau tinggal di Suna, kau akan tinggal dirumah kami."

Naruto membelalakan matanya. Naruto dan yang lainnya akan tinggal di rumah keluarga Sabaku?

"Errr... terima kasih atas tawarannya, tapi aku lebih baik memilih untuk tinggal di penginapan saja. Aku tidak ingin membebani kalian." Naruto mencoba untuk menolak tinggal bersama keluarga Sabaku.

"Tidak bisa, ini perintah Kazekage. Perintah Kazekage harus dipatuhi bukan?" jawab Temari sambil mengeluarkan senyum jahil.

Naruto hanya menghela nafas mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu."

Naruto akhirnya sadar dia tidak bisa menolak perintah Gaara dan akhirnya mengangguk tanda setuju. Lagipula dia merasa lelah, dia tidak ingin berdebat dengan Temari.

Temari tersenyum tanda puas. Dia melangkah dan menggenggam lengan Naruto dan berpindah tempat mengguunakan shunshin.

Ketika sampai, Rahang Naruto jatuh ke tanah(jawdrop). Rumah keluarga Sabaku berbentuk seperti rumah tradisional jepang yang besar dan luas. Sebuah rumah yang pantas untuk keluarga seorang Kage. Temari hanya bisa tertawa melihat reaksi Naruto.

"Kenapa bengong? Ayo masuk."

Naruto hanya mengangguk dan mengikuti Temari yang sudah duluan masuk kedalam. Interior rumah tersebut cukup luas. Lantainya terbuat dari kayu yang berkualitas tinggi, dinding-dindingnya halus. Naruto diajak ke ruang tamu untuk berbincang-bincang. Naruto dan Temari memasuki ruang tamu dan terlihat didalamnya ruangan luas yang beralaskan tatami. Ada sebuah meja kayu besar berwarna coklat yang biasa digunakan untuk berbincang-bincang. Naruto duduk di dekat meja tersebut selagi menunggu Temari yang pergi untuk menyediakan teh. Ketika teh siap disajikan, mereka berdua memulai pembicaraan.

"Jadi? Bagaimana keadaan Tayuya?" Naruto memulai pembicaraan.

"Dia baik-baik saja. Luka di kakinya cukup serius, namun masih dapat disembuhkan. Dokter memperkirakan 2 minggu istirahat total setelah pengobatan agar ia pulih total."

"Syukurlah kalau begitu."

Naruto lega mendengarnya. Dia tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya reaksi Tayuya kalau kakinya tidak bisa disembuhkan.

"Naruto, bagaimana dengan latihanmu, apakah ada kemajuan?"

"Tidak terlalu. Kemampuanku di taijutsu dan kenjutsu masih belum sesuai target. Dan aku masih belum bisa menguasai elemen angin sepenuhnya. Apakah ada instruksi-instruksi mengenai cara pengendalian elemen angin?"

"Ada. Di perpustakaan Suna banyak gulungan jurus/ latihan pengendalian chakra angin. Mau aku untuk membantumu?" Temari menawarkan bantuan.

"Itu akan sangat membantu, Temari."

"Bagus! Akan kulatih kau besok atau lusa depan."

"Terima kasih. Ngomong-ngomong, ada yang ingin kutanyakan padamu." Naruto berkata pada Temari.

"Apa?"

"Bagaimana reaksi dewan dan penduduk Suna begitu mengetahui Gaara akan menjadi Kazekage?"

Temari menghela nafas panjang begitu mendengar pertanyaan Naruto. Temari lalu mulai menjelaskan jawaban dari pertanyaan Naruto.

"Tidak terlalu baik. Penduduk dewan sebenarnya memilih Gaara karena mereka terpaksa karena tidak ada lagi orang yang lebih kuat di desa Suna untuk saat ini. Negara Suna tidak boleh tanpa bimbingan suatu pemimpin karena negara lain bisa saja menyerang kami karena situasi kami sekarang. Karena itu seorang pemimpin yang kuat harus dipilih secepatnya. Reaksi penduduk desa juga awalnya tidak suka mendengar Gaara akan menjadi Kazekage mereka."

Mendengar jawaban Temari, Naruto teringat perkataan Menma yang baru saja terucap siang tadi.

'Apakah kau tidak pernah berpikir kalau orang-orang Suna hanya memilih Gaara sebagai Kazekage karena tidak ada lagi yang lebih kuat darinya di desa itu!? jawab aku Namikaze Naruto!'

Naruto mencoba menghapus pikiran negatif yang terlintas dari pikirannya. Naruto kemudian melanjutkan pertanyaannya.

"Awalnya? Apa maksudmu Temari?"

"Ada suatu kejadian kecil yang sedikit mengubah kesan penduduk desa terhadap Gaara."

Temari kemudian menceritakan satu tindakan kecil namun bermakna yang mengubah kesan penduduk desa.

Flashback On

Saat itu Temari, Gaara, dan Kankuro sedang berjalan-jalan di desa Suna. Seperti biasa, tatapan ketakutan dan kebencian di arahkan ke Gaara. Temari dan Kankuro mengajak Gaara untuk makan siang bersama di desa hari itu. Gaara biasanya tidak suka keramaian di desa karena pasti ornag-orang akan takut padanya. Namun semenjak pertarungannya dengan Uzumaki Naruto, Gaara berubah sifat dan mencoba untuk lebih dekat dengan keluarganya yang tersisa. Saat sedang berjalan, tiba-tiba ada bola berwarna merah yang terlempar ke arah Gaara.

PLAK!

Bola tersebut mengenai kepala Gaara dan jatuh di dekat kaki Gaara. Kankuro dan Temari menatap dengan tatapan horror melihat sebuah bola mengenai kepala Gaara. Sedangkan Gaara kebingungan kenapa perisai pasir otomatisnya tidak berfungsi. Gaara melihat ke arah bola datang dan ternyata bola itu datang dari seorang anak perempuan yang bermain bola bersama temannya. Sepertinya mereka keasikan main sampai bola terlepas dari anak perempuan itu dan mengenai Gaara. Muka sekumpulan anak kecil itu menjadi pucat pasi ketika mengetahui siapa yang terkena bola mereka tersebut.

"Oh tidak, bolanya mengenai Gaara-sama!"

"Bagaimana ini? Siapa yang ingin bertanggung jawab!?"

"Oi Emiko, kau minta maaf sana, kan karena kau bolanya terlempar kearahnya!"

"Tapi aku-"

"Sudah cepat ambil!"

Sekumpulan anak itu mendorong seorang gadis kecil bernama Emiko untuk berhadapan langsung dengan Gaara. Gadis kecil itu menjadi ketakutan. Semua orang tahu reputasi Gaara. Jika ada yang membuat dia marah, maka mereka akan mati.

Gaara mengambi bola yang jatuh di dekat kakinya dan mulai mendekati gadis itu. Emiko yang melihat Gaara mendekatinya mulai mengeluarkan air mata sambil berkata dengan lirih.

"Maafkan aku Gaara-sama, maafkan aku Gaara-sama, maafkan aku Gaara-sama!" gadis itu terus berkata sambil menangis.

Gaara yang semakin dekat menyadari semakin dekat dirinya dengan gadis itu, semakin menjauh gadis itu darinya. Gaara menjatuhkan bola ke tanah. Gadis itu menjadi bingung melihat tindakan Gaara.

Bola yang berada ditanah tiba-tiba terangkat dengan pasir lalu pasir itu mendekati Emiko sampai bola berada di jangkauan tangannya. Emiko dengan muka yang masih berlinang air mata melihat ke arah Gaara. Gaara yang juga melihat ke arah Emiko berkata dengan datar namun lembut.

"Lain kali hati-hati jika bermain bola. Nanti bisa terkena orang lain. Kankurou, Temari, ayo kita pergi."

Kata Gaara sambil membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali kepada Kankurou dan Temari. Emiko menunduk pada Gaara.

"Terima kasih Gaara-sama, Terima kasih Gaara-sama!" gadis kecil itu berkata berulang kali.

Gaara hanya terus meneruskan jalannya bersama Kankurou dan Temari. Sebelum dia pergi, Gaara sempat mengeluarkan dua kata dari mulutnya yang terdengar oleh penduduk desa Suna.

"Sama-sama."

Lalu Gaara, Temari, dan Kankurou pergi menuju restoran yang dituju. Perlakuan Gaara yang berubah 180 derajat mengubah kesan sebagian penduduk yang melihat kejadian tersebut.

Flashback End.

"Semenjak kejadian itu, beberapa penduduk sudah mulai bersikap baik dengan Gaara, walaupun sebagian penduduk masih merasa ketakutan dan benci terhadap Gaara. Tapi kurasa itu akan berubah seiring berjalan waktu." Temari terrsenyum.

"Seiring waktu ya..." Naruto bergumam.

Mendengar penjelasan Temari, Naruto tersenyum pahit. Di satu sisi dia senang Gaara mulai diterima oleh masyarakat Suna tapi di sisi lain Naruto merasa iri terhadap Gaara. Gaara mulai diterima oleh penduduk Suna, sedangkan Naruto tetap dibenci oeh penduduk desa.

'Apakah jika aku masih terus berada di Konoha, apakah penduduk desa akan mulai menghargaiku?' pikir Naruto kecut.

Apakah keputusan dia pergi dari Konoha salah?

Apakah dia tidak cukup sabar dalam menghadapi perlakuan penduduk Konoha?

Apakah dia menyesal?

...

...

...

...

...

Tidak.

Bukankah dia sendiri yang memutuskan untuk merubah hidup dengan pergi dari Konoha?

Bukankah dia sendiri yang menginginkan perubahan?

Bukankah dia sendiri yang sudah berkata pada dirinya sendiri kalau dia tidak akan menyesali jalan yang dia pilih?

Aku tidak menyesali jalan yang sudah kupilih dan aku tidak akan menyesalinya sekarang! Inilah pilihanku dan aku akan mengikuti pilihanku sampai akhir!

Naruto menguatkan tekadnya yang semula mulai buyar.

"Naruto? OI NARUTO!" Temari berteriak kepada Naruto.

Naruto menjadi kaget setelah mendengar suara Temari yang cukup keras.

"A-apa? Apa yang barusan kau katakan?"

Naruto sepertinya tenggelam dalam lamunannya sehingga tak mendengar perkataan Temari. Temari yang mendengar reaksi Naruto menggerutu.

"Aku bilang, apakah kau bisa ikut dalam perayaan nanti?" tanya Temari.

"Perayaan? Perayaan apa maksudmu?" Tanya balik Naruto pada Temari.

"Kau benar-benar tidak mendengarkanku ya?"

"Hehehe, maaf." Ujar Naruto sambil mengusap-usap kepalanya.

Temari menghela nafas melihat tingkah Naruto itu.

"Baiklah, akan kukatakan sekali lagi. Sekitar 1 bulan lagi akan ada perayaan tahunan desa Suna. Berhubung kau sedang mengembara, apakah kau bisa ikut perayaan desa Suna nanti bersama Yuki dan Tayuya?"

Naruto memikirkan hal tersebut untuk bebrapa saat. Setelah beberapa lama berpikir, akhirnya Naruto memberikan jawabannya.

"Bisa. Aku, Yuki, dan Tayuya bisa ikut untuk perayaan nanti sekalian menunggu pulihnya Tayuya dan selesainya pembuatan senjata yang kupesan." Jawab Naruto.

"Baguslah kalau begitu! Gaara juga pasti cukup senang!" Temari berkata dengan girang.

"Ngomong-ngomong, apakah kau akan mengundang Shikamaru?" tanya Naruto.

"E-Eh!? Kenapa ka-kau bertanya se-seperti itu Naruto!?" Temari mulai panik.

"Aku dengar kau sempat menyelamatkan Shikamaru saat misi dan menghiburnya ketika anggota tim kami luka parah. Jadi aku penasaran apakah kau akan mengundang Shikamaru datang ke Suna?"

"Bu-buat apa aku mengundang ke-kepala nanas itu!? lagipula aku menyelamatkannya Cuma karena misi! Dan aku menghiburnya karena aku benci pria cengeng tau!"

Meskipun berkata begitu, dapat terlihat jelas kalau muka Temari mulai memerah. Naruto yang menyadari hal itu akhirnya sadar akan sesuatu.

Tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi bukan!?

"Oi, Temari...Jangan-jangan kau suka Shikamaru ya!?"

BOOF!

Muka Temari sukses berubah seperti tomat.

"H-HAH!? JANGAN BERCANDA! MANA MUNGKIN AKU SUKA SAMA SI KEPALA NANAS!?" Temari mulai mengamuk. Namun mukanya menunjukkan rasa malu.

'Baiklah, ini sudah jelas. Temari suka pada Shikamaru. Apakah pria klan Nara akan selalu mendapatkan istri yang galak seperti Temari ya? sial sekali nasibmu Shika...'

Naruto bersimpati pada Shikamaru. Jika prediksinya mengenai klan Nara benar, maka seluruh laki-laki keturunan klan Nara akan mendapatkan istri segalak Temari sama seperti Shikaku dan Yoshino.

Tanpa sadar, Naruto tersenyum geli memikirkannya. Dan hal itu tidak luput dari pandangan Temari.

"KENAPA KAU TERSENYUM NARUTO!?"

"Tidak, tidak ada apa-apa." Jawab Naruto santai.

"JANGAN BERBOHONG PADAKU NARUTO!" Temari mulai meenyiapkan kipas besi miliknya.

"O-Oi, jangan menggunakan kekerasan! Shikamaru tidak suka cewek yang kasar tahu!" Naruto yang panik mencoba menenangkan Temari.

"AKU TIDAK PEDULI, PERSIAPKAN DIRIMU NARUTO!"

"GYYAAAA!"

Suara teriakan Naruto terdengar sampai ke desa Suna.


Hari sudah malam.

Gaara, Kankurou dan Yuki baru selesai dengan urusan masing-masing. Setelah berjalan-jalan sebentar dengan Temari, Yuki bertemu dengan Kankurou yang sedang berjalan menuju pameran kugutsu. Kankurou dengan antusias mengajak Yuki untuk ikut melihat pameran tersebut. Sedangkan Gaara baru selesai dengan dokumen-dokumen yang diberikan oleh dewan. Tayuya tidak bisa ikut karena masih harus dirawat oleh tim medis Suna. Ketika mereka bertiga sudah sampai didepan mansion, mereka mencium bau aroma makanan yang mengundang selera makan mereka. Sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya.

Ketika mereka menuju ruang meja makan, makanan sudah tersedia. Dan yang menyiapkan makanan tersebut tidak lain adalah Temari dan Naruto.

"UWOOH! Makanan hari ini kelihatan enak, siapa yang memasaknya!?" Kankurou terlihat bersemangat melihat makanan diatas meja.

"Benar kata Kankurou. Makanan hari ini tidak seperti yang biasa kumakan." Kata Gaara.

"Makanan itu kubuat bersama Temari." Jawab Naruto.

Gaara dan Kankurou melihat satu sama lain untuk beberapa saat lalu memandang ke arah Temari dan Naruto.

"Tidak mungkin." Jawab mereka berdua bersamaan.

KREK.

PLETAK!

"Ugh!"

"AAWW!"

Kankurou dan Gaara mendapat pukulan di belakang kepala oleh Temari.

"Apa maksud kalian berkata begitu!? Aku ini bisa memasak makanan enak jika sedang serius tahu!" Temari berkata dengan kesal.

"Aku meragukan hal itu, Nee-chan."

PLETAK!

"AW! HENTIKAN NEE-CHAN! KAU INGIN AKU MENJADI ORANG BODOH DENGAN MEMUKUL KEPALAKU TERUS MENERUS!?"

"KAU SUDAH BODOH DARI AWAL, TIDAK ADA MASALAH BAGIKU JIKA TERUS MEMUKULMU BODOH!"

"DASAR GADIS BAR-BAR!"

"DASAR OTAK UDANG!"

Selagi Temari dan Kankurou bertengkar, Naruto, Gaara, dan Yuki sudah duduk di dekat meja makan untuk memulai makanan. Mereka berbincang-bincang mengenai apa saja yang mereka lakukan hari ini. Temari dan Kankurou yang sudah berhenti bertengkar ikut bergabung ke meja makan. Gaara cukup senang begitu mengetahui kalau Naruto akan berada di Suna ketika acara perayaan desa Suna dimulai. Setelah makan malam selesai, mereka memutuskan kalau sudah saatnya mereka untuk tidur.

"Baiklah, sekarang jam 10 malam. Sudah saatnya kita tidur. Naruto, Yuki-chan, kamar kalian berada di ruang timur. Ada dua kamar kosong yang sudah disediakan. Beritahu kami jika butuh sesuatu."

"Terima kasih sudah menyediakan kamar untuk kami. akan aku beritahu jika kami membutuhkan sesuatu. Ayo Yuki, kita pergi menuju kamar kita."

"Hai, Onii-chan!"

Setelah mengucapkan selamat malam pada Gaara, Kankurou, dan Temari, Naruto dan Yuki pergi menuju kamar masing-masing.

Kamar mereka tidak jauh dari ruang makan. Hanya membutuhkan 10 menit untuk sampai di kamar mereka. Akhirnya mereka sampai. Ada dua kamar yang tersedia untuk mereka.

"Baiklah Yuki, aku akan ambil kamar yang di kanan, kau ambil yang di kiri. Hanya itu saja yang ingin kukatakan, selamat tidur."

Ketika Naruto ingin memasuki kamarnya, Naruto berhenti sesaat ketika menyadari lengan bajunya sedang dipegang oleh Yuki.

"Ada apa Yuki?" tanya Naruto.

"Eto...Onii-chan...Biarkan aku tidur bersamamu!"

"EH!? Tapi kenapa Yuki? Bukankah kau sudah punya kamar sendiri?" tanya Naruto kebingungan.

"Tapi aku takut sendirian" kata Yuki memelas.

"Tapi anak laki-laki tidak boleh sekamar dengan anak perempuan Yuki."

Yuki yang mendengar jawaban Naruto menatap mata Naruto dengan mata yang melebar, berkaca-kaca, dan sedikit air mata diselingi dengan tatapan penuh harapan.

Naruto yang menerima tatapan itu menjadi bimbang.

'Ayolah Naruto! jangan tatap matanya, bagaimanapun juga laki-laki tidak boleh sekamar dengan perempuan. Kumohon jangan memandangku seperti itu Yuki...ah sial! Aku tidak bisa melawan pandangannya ini!'

Naruto akhirnya menghela nafas panjang.

"Baiklah, kau boleh tidur di kamarku untuk kali ini." Naruto akhirnya menyerah.

"Asik!"

Yuki berjingkrak-jingkrak mendengar Naruto setuju untuk tidur bersamanya malam ini.

Naruto dan Yuki masuk kedalam kamar dan menyiapkan futon. Naruto dan Yuki masuk kedalam, membuat sedikit jarak dan mulai tidur. Naruto sudah akan mulai tertidur. Namun dia dikagetkan dengan sepasang tangan memeluk dadanya. Kepala Yuki disandarkan di dadanya.

"Oi, Yuki, apa yang lakukan?"

"Memelukmu Onii-chan."

"Aku tahu, tapi bukankah posisi kita terlalu dekat?"

Naruto merasa gugup sekarang. Jantungnya berdetak kencang. Aroma badan Yuki, kelembutan tubuhnya membuat Naruto gugup terhadap Yuki. Dia tidak cukup berpengalaman dalam menghadapi wanita. Punya pacar saja tidak pernah. Jadi sekarang dia kebingungan harus melakukan apa.

"Apakah aku tidak boleh memelukmu, Onii-chan?" tanya Yuki dengan pelan.

"Bukan begitu maksudku. Lagipula, kenapa kau ingin memelukku Yuki?" tanya Naruto.

"Karena kau hangat."

Jawaban Yuki membuat Naruto terkejut.

"Apa maksudmu?"

"Dulu ketika orangtuaku masih ada, kami sering tidur bersama, merasakan kehangatan masing-masing terutama saat malam hari. Hal itu membuatku merasa nyaman dan merasa aman. Ketika orangtuaku meninggal aku ketakutan, aku merasa sendirian. Tapi saat itu jugalah aku bertemu denganmu. Awalnya aku takut ketika bertemu denganmu Onii-chan, takut kalau kau akan memburuku atau takut denganku. Tapi kau menerimaku apa adanya walaupun kau tahu kalau aku bukan manusia, walaupun aku adalah kitsune."

Tiba-tiba Yuki mengenggam erat baju Naruto.

"Karena itulah Onii-chan...biarkan aku memelukmu, aku takut jika tidak dekat denganmu, aku akan kehilangan dirimu, sama seperti aku kehilangan orangtuaku. Kau adalah tumpuan hidupku sekarang...Kalau aku sampai aku kehilanganmu, aku...aku..." Suara Yuki mulai serak dan air mata mulai meleleh dimatanya.

Yuki membelalakkan matanya ketika merasakan tangan Naruto memeluk kembali tubuh Yuki yang lembut dan ramping itu. Tubuh Yuki terasa lembut dan rapuh.

"Tidurlah Yuki. Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan disini melindunginmu, jadi tidurlah dengan tenang. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian." Naruto mencoba menghibur dan menenangkan Yuki.

Mendengar jawaban Naruto, Yuki mulai menangis terisak-isak.

"Arigato Onii-chan, Arigato..."

Yuki terus menangis sampai akhirnya dia tidur terlelap karena kelelahan.

'Aku sudah lupa...Kalau aku tidak sendirian lagi. Dan aku lupa kalau Yuki dan Tayuya sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Aku harus menjadi kuat, agar aku bisa tetap berada disisi mereka dan melindungi mereka. Aku harus menjadi kuat!'

Inilah pikiran terakhir Naruto sebelum akhirnya tertidur dalam kegelapan.


Akhirnya chapter 10 selesai! Maaf kepada readers yang sudah menunggu. Aku sudah lama tidak mengupdate fic ini jadi aku minta maaf jika ada penurunan kualitas. Mengenai update fic, waktu updateku akan menjadi tidak jelas berhubung aku sedang sibuk mengurus universitas dll dan itu berarti kalian harus menunggu lama. Lagi. Jadi sebelumnya aku minta maaf bila nanti waktu updatenya menjadi semakin lama. dan semoga chapter yang satu ini memuaskan kalian yang sudah lama menunggu.

Kazehaya Arashi.