Title: KISAH CINTA
Main Casts: Luhan, Sehun, etc
Pairing: Hunhan
Genre: Kingdom AU
Rated: T
Disclaimer: Fiksi ini merupakan karya dari Sherls Astrella dengan judul yang sama.
Di sini saya hanya ingin berbagi cerita dengan maincast member EXO.
Jadi cerita ini MURNI MILIK Sherls Astrella.
Untuk link-nya bisa dilihat di akhir cerita :)
Warning: it's Genderswitch!
Happy reading!
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Ada apa, Luhan?" Sehun terperanjat melihat gadis itu berdiri di depan pintu gerbang Kastil Quadville dengan mata sembab dan koper-kopernya di tanah.
Semenjak kepergian Luhan, Sehun melewati hari-harinya seperti padang pasir.
Belum seminggu Luhan berada di Quadville merawat Duke namun bertahun-tahun rasanya bagi Sehun. Dalam hari-hari belakangan ini sikap Ratu yang dingin sama sekali tidak berubah. Raja yang tidak menutupi kerinduannya pada Luhan pun tidak luput dari mata dinginnya.
Berkali-kali Sehun ingin pergi ke Quadville. Hanya Ratu Taeyeonlah yang membuatnya tidak berani menginjakkan kaki di Quadville. Raja Donghae yang selalu terlihat ingin melesat ke Quadville, juga tidak berani.
Sikapnya itulah yang membuat Sehun semakin menyadari betapa dalamnya ketidaksukaan ibunya pada Luhan. Akhir-akhir ini Sehun merasa sikap ibunya kepada dirinya semakin dingin. Ratu terlihat sangat marah padanya untuk suatu alasan yang Sehun sendiri tidak ketahui hingga tidak mau berbicara dengannya kecuali ia mempunyai keperluan penting.
Sehun hanya dapat memaklumi sikap Ratu ini. Sehun sadar dan tahu Luhan bukan gadis yang dapat dicintainya. Luhan bukan gadis terhormat yang dapat diterima ibunya. Ia juga telah berulang kali memperingati dirinya sendiri. Namun semua itu tetap saja tidak ada gunanya. Ia jatuh cinta pada gadis itu. Sehun merasa kian hari cintanya kepada Luhan kian dalam hingga ia dapat meyakinkan dirinya sendiri tidak ada yang dapat menggantikan posisi Luhan di hatinya.
Di suatu saat ia menyesali dirinya sendiri yang telah mengirim Luhan pergi. Di saat lain ia berharap Duke Leeteuk segera mengenali Luhan sebagai keturunannya dan mengakuinya sehingga gadis itu tidak akan pernah berpikir untuk meninggalkan Helsnivia.
Demi menyingkirkan kerinduannya pada Luhan, ia menyibukkan diri dengan tugas-tugas kerajaan. Demi membunuh waktu, ia berusaha mencari informasi tentang Victoria Elwood, satu-satunya putri Duke Leeteuk. Namun tidak ada dari satu hal itu yang berguna. Hatinya terus merindukan Luhan dan pikirannya semakin tidak lepas dari Luhan.
Setiap ia mencari informasi tentang Victoria Elwood, seluruh jiwanya langsung tertuju pada Luhan. Setiap ia berusaha mengalihkan pikirannya, semakin ingin ia menemukan jejak Victoria Elwood.
Sehun yakin Luhan adalah keturunan Duke Leeteuk namun ia tidak berani mengutarakan pendapatnya ini. Ia tidak bisa bertindak gegabah hingga orang lain mengetahui apa yang sekarang ada dalam pikirannya.
Duke of Vinchard bukan sembarang orang. Ia tidak akan suka bila gosip tiba-tiba beredar di sekitarnya. Bila sampai ada gosip yang menyangkut dirinya, Duke pasti segera menemukan sang sumber gosip dan membuat perhitungan dengannya tak peduli siapa sang sumber gosip itu.
Di atas semua itu, Sehun yakin Ratu Taeyeon, yang sudah tidak suka pada Luhan, akan melakukan segala tindakan yang ia sendiri tidak berani bayangkan namun bisa ia pastikan tidak akan ia sukai.
Sehun sadar walaupun Luhan adalah keturunan Duke Leeteuk, ibunya tidak akan menerimanya. Bagaimanapun juga Luhan adalah putri haram. Ratu Taeyeon yang menjunjung tinggi moral itu tidak akan menerima seorang anak yang lahir di luar pernikahan menjadi menantunya. Sehun paham benar akan hal itu.
Namun sekarang yang menjadi permasalahan terbesar baginya bukanlah Ratu Taeyeon melainkan Victoria Elwood!
Sehun tidak mengerti. Mengapa ia tidak bisa menemukan satu jejak pun dari Victoria Elwood ini. Ia tidak dapat menemukan sebuah informasi pun mengenai wanita ini bahkan jejak kelahirannya. Sehun tidak percaya ia tidak dapat menemukan jejak wanita yang dilahirkan di Helsnivia ini namun itulah kenyataannya.
Ia tidak dapat bertanya pada orang lain mengenai putri Duke Leeteuk karena hal itu akan membocorkan pendapatnya. Ia tidak dapat mengerahkan orang lain untuk mencari jejak Victoria Elwood karena itu akan menimbulkan kecurigaan orang lain. Namun ia juga tidak dapat menemukan sehuruf pun yang menyebutkan Victoria Elwood pernah muncul di dunia ini.
Ada kalanya Sehun berpikir Yifan, sang Kepala Rumah Tangga Quadville berbohong padanya. Ada kalanya pula Sehun berpikir gadis dalam lukisan itu adalah Luhan.
Bila Victoria Elwood pernah muncul di dunia ini, setidaknya ada catatan mengenai kelahiran wanita itu. Bila catatan itu hilang, tentu namanya tertulis dalam silsilah keluarga Elwood. Namun ia tidak menemukan secarik kertas pun yang menyebutkan Victoria Elwood.
Lebih mudah mempercayai Luhan adalah gadis dalam lukisan itu. Duke Yunho tentu bangga mempunyai putri secantik dan sejelita Luhan. Sudah sewajarnya Duke Yunho, sebagai orang tua yang mencintai putrinya, ingin memamerkan kecantikan putrinya pada teman-temannya. Namun, mengetahui Duke Leeteuk telah lama hidup menyendiri, Duke Yunho takut Duke Leeteuk akan tertarik pada putrinya. Karena itulah ia menyuruh sang pelukis memberi goretan yang berbeda pada lukisan itu. Duke Leeteuk yang tidak mengetahui siapa gadis dalam lukisan pemberian Duke Yunho, menamai gadis itu Victoria dan menyebutnya sebagai putrinya.
Cerita kedua ini lebih mudah diterima oleh Sehun daripada pernyataan Yifan.
Pagi ini seorang pelayan Quadville tiba-tiba menemuinya dengan wajah panik dan memintanya segera pergi ke Quadville. "Pangeran, segeralah pergi ke Quadville. Duke... Duke Leeteuk... ia..." katanya dengan nafas terengah-engah.
Perkataan itu membuat Sehun langsung melesat meninggalkan Istana ke Quadville. Dalam perjalanan hanya satu yang ada dalam pikirannya: Duke Leeteuk tidak mungkin meninggal dunia!
Air mata yang membasahi wajah pucat Luhan meruntuhkan segala keyakinannya. Ia begitu kasihan pada gadis itu sehingga tidak tahu apa yang harus diucapkannya. Gadis itu tampak rapuh dan tak berdaya – tepat seperti ketika Duke Yunho meninggal dunia.
Hati Sehun ikut pilu melihat wajah sedih itu. Ia ingin membawa gadis itu ke dalam pelukannya dan membisikkan kata-kata yang menghibur. Mengingat penolakan Luhan di masa lalu, Sehun tidak yakin Luhan akan menyukainya.
"P-Pangeran," bibir bergetar Luhan mendesiskan panggilan itu ketika ia berlari memeluk Sehun.
Sehun terperanjat. Ia tidak pernah membayangkan saat seperti ini terjadi. Luhan memeluknya!
"Oh, Luhan," Sehun mendekap gadis itu erat-erat. Sebuah perasaan yang tidak dapat diungkapkan, memenuhi dadanya. Kehangatan inilah yang ia cari dari wanita-wanita lain. Perasaan inilah yang selalu menghantuinya selama berhari-hari. Sehun sadar ia tidak ingin melepaskan Luhan. Sekarang tidak. Besok juga tidak. Selamanya ia ingin gadis ini di sisinya.
Isak tangis Luhan membangunkan Sehun dari sensasinya. Tiba-tiba Sehun merasakan sebuah perasaan bersalah. Ia telah berbahagia di atas kesedihan Luhan.
"Jangan menangis, sayang," bisik Sehun, "Kau telah menjaga Duke dengan baik. Jangan bersedih. Duke pasti bahagia di alam sana."
Luhan menggeleng. "Du… Duke… dia… dia… mengusirku."
Sehun terperanjat. Bukankah Duke Leeteuk meninggal dunia?
"D…dia mengatakan Papa adalah gelandangan," Luhan mencoba menjelaskan di antara isak tangisnya.
Sehun merasa ini akan menjadi cerita panjang. "Jelaskan perlahan-lahan padaku di dalam, Luhan," ia berkata lembut sambil mengangkat Luhan. Tanpa membuang waktu, Sehun memerintahkan prajurit yang mengawalnya menaikkan koper-koper Luhan ke dalam kereta dan membopong gadis itu ke dalam kereta.
Luhan pun memulai ceritanya di antara sela-sela tangisnya.
Sehari setelah kedatangannya, keadaan Duke sempat memburuk namun berkat kesigapan dan pengalaman Luhan merawat orang sakit, kesehatan Duke berangsur-angsur membaik. Penyakit Duke bukan hanya demam biasa seperti yang Yifan katakan di hari pertama ia berada di Quadville.
Dari hari ke hari merawat Duke, Luhan sadar sumber penyakitnya ini adalah pikirannya atau lebih tepatnya kerinduannya pada almarhum Duchess of Vinchard, istrinya tercinta, Victoria Elwood.
Luhan sadar ada hal yang bisa ia lakukan untuk Duke dan ada hal yang tidak dapat ia lakukan untuk Duke. Ia dapat merawat Duke dengan baik. Namun ia tidak dapat mempertemukan Duke dengan almarhum Duchess.
Luhan percaya bila Duke bertemu Duchess maka ia akan pulih dalam kejapan mata. Namun tidak seorang pun dapat mempertemukan mereka yang kini telah terpisah dalam dua dunia. Saat ini yang dapat dilakukan Luhan hanyalah berperan sebagai Victoria.
Sering ketika Duke memanggil-manggil Victoria, Luhan berpikir apakah Duke tengah memimpikan Victoria.
Dari hari ke hari Duke semakin sering memanggil-manggil Victoria. Tak jarang ia menggenggam erat tangan Luhan hingga Luhan tidak rela meninggalkan pria tua yang tidak kehilangan wibawanya sekalipun ia terbaring sakit.
Semenjak Luhan berada di Quadville, hanya di malam pertama ia tidur di kamar mewahnya yang dipersiapkan Seohyun. Di hari-hari berikutnya ia melalui malam yang panjang di sisi Duke Leeteuk. Di saat terang hari, ia mengurus Cookelt di sela-sela tugas barunya merawat Duke of Vinchard. Begitu sibuknya ia hingga tidak ada satu waktu luang pun tersedia untuknya memikirkan Sehun. Kesibukannya itu pula yang membuat Seohyun sering marah-marah padanya.
Dalam beberapa hal Seohyun lebih cerewet dari Irene. Ia tidak pernah terlambat memanggil Luhan untuk makan. Ia tidak pernah berhenti menyuruh Luhan beristirahat demi kesehatannya sendiri. Ia tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengurus Luhan. Ia tidak dapat membiarkan satu cacat pun dalam penampilan Luhan.
Sikapnya yang terlalu berlebihan itu sering membuat Luhan berpikir apakah wanita ini sadar tujuannya berada di Quadville?
Sikap Yifan dan para pelayan lainnya di Quadville juga tidak berbeda. Mereka begitu menghormatinya. Satu patah kata darinya, maka para pelayan langsung melakukan segala hal untuk memenuhi keinginannya. Satu perintah darinya maka setiap orang akan melaksanakannya dengan sepenuh hati.
Luhan tidak dapat memahami cara tiap sosok di Quadville memperlakukannya.
Yesung juga sama sekali tidak membantu. Ia hanya tertawa ketika Luhan mengeluhkan sikap mereka yang menyanjungnya sebagai Ratu itu. Hanya satu komentar yang ia berikan, komentar yang tidak berguna dan sama sekali tidak membantu. "Kau akan terbiasa," katanya.
Seiring dengan membaiknya kondisi Duke, Luhan mulai terbiasa dengan perlakuan tiap orang di Quadville. Pagi ini adalah bukti nyata keadaan Duke Leeteuk yang semakin membaik.
Seperti malam-malam sebelumnya, Luhan duduk di sisi Duke sambil menggenggam tangannya dan memandang wajah tenang Duke. Tidak ada yang ingin dilakukan Luhan selain menatap wajah yang menenangkan pikiran itu hingga kantuk menyerang.
"S-siapa?"
Luhan mendengar seeorang bertanya.
"Siapa kau?"
Luhan terkejut. Matanya membelalak melihat wajah segar Duke. Ia tidak tahu apakah Duke Leeteuk sedang mengingau atau ia sudah benar-benar bangun.
Duke juga kaget melihat Luhan. "Berani-beraninya kau menampakkan mukamu di sini!" ujarnya geram.
Luhan kaget mendengar suara keras Duke.
"Pergi! Di sini bukan tempatmu!" Duke menunjuk pintu.
Wajah Luhan pucat pasi. Duke Leeteuk telah mengenalinya sebagai anak haram almarhum Duke of Cookelt.
"Tidak, kau bukan Victoria," Duke menatap tajam wajah Luhan, "Siapa kau?"
"S-saya…," Luhan bingung. Ia sama sekali tidak dapat memahami situasi ini, "Saya adalah Luhan Yvonne Lloyd."
"Lloyd!?" Duke memekik keras. "Beraninya kau menginjakkan kaki di sini, Lloyd!?"
Sadarlah Luhan Duke tidak sedang mengingau. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan Duke namun ia tahu Lloyd yang dikatakan Duke adalah dirinya.
"Siapa yang memasukkan gelandangan ini ke rumahku!?" Duke membunyikan bel dengan tidak sabar. "Yifan! Di mana dia!? Berani-beraninya mereka memasukkan seorang gelandangan ke rumahku!? Changmin Lloyd seorang sudah cukup! Sekarang masih bertambah seorang gadis gelandangan!"
"P…papa? Anda mengenal Papa?" Luhan terperanjat.
"Mengenal, katamu!?" Duke mendengus, "Melihat mukanya saja aku tidak sudi! Gelandangan seperti dia sama sekali tidak pantas untuk seorang Elwood! Berani-beraninya dia membawa kabur Victoria. Semestinya ia sudah merasa terhormat seorang Duke seperti aku tahu gelandangan macam dia ada di dunia."
"Papa bukan gelandangan," Luhan membantah, "Papa tidak pernah mengemis pada seorang pun." Luhan tidak dapat menerima hinaan Duke. "Walaupun kami tidak punya uang, kami tidak akan mengemis."
"Apa yang kautahu, anak muda? Kau tidak tahu apa yang sudah diperbuat bajingan itu. Ia menculik Victoria dan membunuhnya demi uang."
"Tidak!" Luhan histeris, "Itu tidak benar. Papa tidak akan melakukannya!"
"Dia sudah melakukannya!" suara Duke pun tidak kalah keras. "Kau pikir karena siapa sekarang aku begini? Kau pikir siapa yang telah menghancurkan hidupku?"
"Tidak…" Luhan menggeleng, "Itu tidak benar." Air mata menuruni wajah pucatnya. "Papa tidak mungkin melakukan itu. Papa hanya mencintai Mama seorang. Papa tidak pernah merebut seorang pun. Papa… Papa tidak pernah mengkhianati Mama."
"Omong kosong! Apa kau pikir aku akan percaya pada omongan gelandangan?" nampak jelas Duke tidak suka dibantah, "Yifan! Yifan! Di mana dia? Mengapa dia tidak segera mengusir gelandangan ini!" Duke membunyikan bel dengan tidak sabar. Ia sudah kehilangan batas kesabarannya sehinga ketika Yifan muncul ia langsung menyambar, "Ke mana saja kau? Apa kau tuli?"
"M-mmaafkan kelambatan saya, Yang Mulia."
"Mengapa seorang Lloyd bisa di sini? Jelaskan mengapa seorang gelandangan bisa memasuki rumahku!"
"S-saya…" Yifan melihat Luhan lalu berpaling pada Duke dengan ketakutan.
"Usir dia! Keluarkan dia dari sini! Tidak seorang Lloyd pun boleh menginjakkan kaki di sini!"
Atas perintah itulah sekarang Luhan menangis dalam pelukan Sehun.
Sehun tertegun. Ia hanya berpikir Duke pasti gembira dapat berkumpul lagi dengan cucunya. Tidak sedikitpun ia berpikir mengapa ia tidak dapat menemukan secarik kertas pun tentang Victoria Elwood. Duke Leeteuk yang kolot itu tentunya sangat menentang hubungan putrinya dan almarhum Duke Yunho. Namun Victoria Elwood bersikukuh pada cintanya sehingga Duke mengusirnya. Karena kemarahannya pula Duke dengan segala kekuasaannya, menghilangkan semua bukti keberadaan Victoria Elwood. Itu pula penyebab Luhan tidak pernah tahu ia masih mempunyai keluarga di Helsnivia.
Penjelasan ini lebih masuk akal dari semua penjelasan yang pernah dipikirkannya.
"I-itu tidak mungkin," isak Luhan. "Papa tidak mungkin melakukannya. Papa tidak pernah merebut Duchess."
Sehun ikut bersedih. Ia memeluk Luhan erat-erat dan membiarkan Luhan meluapkan segala kesedihan dan amarahnya.
"Duke pembohong! Ia tidak mengenal Papa!" Luhan menjatuhkan tinjunya di dada Sehun, "Dia tidak tahu siapa Papa. Bagaimana dia bisa mengatakan Papa seperti itu!?"
Sehun membelai Luhan dengan lembut. Sekarang hanya dia seorang yang bisa melindungi Luhan. Hanya dia yang bisa memberi Luhan tempat berlindung.
Kereta melewati pintu gerbang Istana. Sehun mengetuk jendela kecil yang memungkinkan ia berbicara dengan kusir kuda. "Suruh prajurit memberitahu Kyungsoo hari ini aku tidak bisa melaksanakan tugasku. Aku punya urusan penting."
"Saya mengerti, Yang Mulia."
Panggilan itu langsung menyadarkan Luhan. Luhan menenangkan diri dan mengatur jalan pikirannya.
Changmin Lloyd yang disebut Duke of Vinchard pasti bukan ayahnya. Ayahnya hanyalah seorang pengelana miskin yang tidak mungkin mengenal seorang Duke. Ayahnya juga tidak pernah mencintai wanita lain selain ibunya apalagi membawa kabur seorang Duchess. Ayahnya juga bukan seorang perusak rumah tangga orang lain. Ketika mengembara bersama ayahnya, Luhan sering menjumpai orang yang bernama keluarga Lloyd. Tidak mungkin tidak ada seorang dari sekian banyak Lloyd yang bernama sama dengan ayahnya. Changmin Lloyd yang dikenal Duke Leeteuk pasti bukan Changmin Lloyd yang ia kenal!
Mengapa ia harus bersedih? Ia tidak berencana tinggal di Quadville. Ia hanyalah seorang perawat yang diutus Pangeran Sehun untuk merawat Duke. Ia boleh meninggalkan Quadville ketika Duke sehat. Sekarang Duke sudah sadar. Dengan kemarahannya yang meluap-luap pagi ini, Luhan dapat meyakinkan diri ia sudah tidak diperlukan di Quadville. Sekarang ia bisa meninggalkan Quadville dan Helsnivia, seperti rencananya di awal ia menginjakkan kaki di Quadville.
Luhan sudah benar-benar tenang ketika Sehun selesai berbicara dengan pengawal-pengawalnya. Ia meletakkan tangan di dada Sehun dan menjauhkan diri.
Sehun tidak menutupi kekecewaannya. Inilah Luhan, si gadis yang ia cintai. Di suatu saat ia begitu terbuka dan pada detik kemudian tertutup. Inilah gadis yang berhasil menjerat cintanya. Di detik ini ia memberinya kesempatan dan di detik kemudian ia menutupnya rapat-rapat.
"Terima kasih, Pangeran," Luhan berkata tulus. "Saya sudah tidak apa-apa. Saya―"
"Aku akan membawamu ke sebuah tempat," Sehun memotong. "Aku tidak pernah membawamu berkeliling Helsnivia. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk menepati janjiku."
"Janji?" Luhan bertanya-tanya. "Anda tidak pernah menjanjikan apa-apa pada saya."
"Engkau pasti sudah tidak ingat," Sehun berkelat. Di saat Luhan berterima kasih padanya, ia tahu gadis itu akan meninggalkannya. Itulah yang selalu dilakukan Luhan. Memberinya kesempatan dengan tangan terbuka kemudian menutup diri rapat-rapat dan menjauhinya.
Tidak peduli gadis itu suka atau tidak, ia tidak akan membiarkan Luhan pergi dari sisinya. Penyiksaaan dalam seminggu ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan ketergantungannya pada Luhan.
Sehun sudah memutuskan ia akan melindungi Luhan dan dan tidak membiarkan seorangpun mengambil Luhan dari sisinya. Ia juga tidak akan pernah membiarkan Luhan meninggalkan sisinya. Sehun juga telah memutuskan akan membawa Luhan pulang ke Ririvia tanpa peduli penolakan ibunya. Ratu Taeyeon harus memilih membiarkan Luhan tinggal atau ia ia pergi bersama Luhan.
Melihat wajah tanpa dosa Luhan, Sehun sadar. Halangan terbesarnya bukan ibunya melainkan Luhan sendiri.
Sebelum ia dapat mencegah orang lain mengambil Luhan dari sisinya, ia harus memastikan pikiran pergi meninggalkan Helsnivia pergi dari kepala Luhan untuk selama-lamanya.
Untuk itu Sehun bersumpah. Bila ia tidak bisa membuat Luhan jatuh cinta padanya maka hari ini ia akan melakukan segala hal untuk membuat Luhan jatuh cinta pada Helsnivia. Ia akan membuat Luhan tidak sanggup meninggalkan Helsnivia selama-lamanya. Hanya bila Luhan sudah jatuh cinta pada Helsnivia, ia mempunyai kesempatan untuk membuat Luhan jatuh cinta padanya.
.
.
.
Sehun yakin ia berhasil ketika sepanjang hari itu senyum gembira Luhan selalu mengembang. Dalam hati ia bersuka cita ketika Luhan mendesah penuh ketakjuban. Ia menyembunyikan kepuasannya ketika mata gadis itu bersinar-sinar melihat pemandangan yang ditunjukkannya.
Pada saat yang bersamaan, Sehun berharap gadis itu bisa tersenyum bahagia kepadanya. Luhan bisa melihatnya dengan mata yang berbinar-binar dan Luhan tanpa henti-hentinya memujinya. Namun untuk saat ini ia sudah harus berpuas diri dengan kondisi ini.
"Pangeran," Luhan memutuskan ia harus mengatakan keputusannya sebelum mereka tiba di Ririvia, "Saya benar-benar berterima kasih pada kepedulian Anda. Sekarang Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya sudah jauh lebih tenang. Anda bisa menurunkan saya di Travlienne."
Mengapa gadis ini selalu ingin meninggalkannya? Sehun melihat Luhan dengan sakit hati. "Tidak, Luhan. Kau akan pulang bersamaku."
"Saya tidak dapat, Yang Mulia," Luhan menolak halus, "Saya tidak dapat pulang bersama Anda."
"Ke mana kau akan pergi, Luhan?" Mengapa Luhan tidak pernah mau tinggal di sisinya? "Kau tidak punya tempat tinggal. Kau tidak punya tujuan."
"Benar," Luhan mengakui, "Namun itu tidak berarti saya tidak bisa menemukan tempat tinggal."
"Ke mana kau akan pergi?"
"Malam ini saya akan menemukan tempat menginap di Travlienne kemudian besok saya akan meninggalkan Helsnivia. Ketika Yunho meninggal dunia, saya sudah memutuskan untuk berpetualang seperti ayah saya."
Sehun membelalak. Inikah alasan Luhan tidak mau tinggal di sisinya? Inikah sebab Luhan mempermainkannya? Karena Luhan ingin berpetualangan dengan cinta seperti Duke Yunho!
"Tidak!" Sehun berkata tegas, "Kau tidak akan pergi ke mana-mana!" Ia sudah memutuskan tidak akan membiarkan pria lain mendapatkan Luhan. "Kau akan tinggal di Ririvia." Ia tidak akan membiarkan Luhan melakukan petualangannya. Ia akan melakukan segala cara untuk mencegah Luhan menemui pria lain.
"Saya sangat berterima kasih pada semua yang telah Anda lakukan untuk saya. Namun Anda tidak mempunyai hak untuk mengatur saya," Luhan mengingatkan kenyataan yang Sehun sendiri pun tahu, "Saya setuju pulang bersama Anda ke Helsnivia murni karena saya ingin menjauhi keluarga Riddick. Saya sangat berterima kasih atas pertolongan Anda dan kepedulian Anda sehingga saya masih tetap bisa melaksanakan tugas yang dipercayakan Yunho tanpa berada di sekitar keluarga Riddick. Saya juga berterima kasih atas segala usaha Anda untuk menjauhkan Jongin dari saya. Tidak satu pun satu tindakan Anda yang tidak saya hargai. Namun semua ini sudah cukup. Saya tidak bisa terus merepotkan Anda. Anda masih mempunyai banyak hal yang perlu Anda perhatikan. Saya juga tidak bisa terus menggantungkan diri pada kebaikan Anda. Anda tidak perlu mengkhawatirkan saya lagi. Saya bukan anak kecil. Saya telah terbiasa hidup berpetualang. Saya bisa menjaga diri."
"Mengapa kau tidak pernah mau menetap di Istana?" akhirnya Sehun mengutarakan pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
"Anda tahu mengapa," jawab Luhan tenang. Ketika berada di Ririvia, Luhan tidak pernah merepotkan diri mengikuti perkembangan sekitarnya. Ia tidak pernah mengikuti gosip yang berputar sekitar Istana. Namun ketika ia berada di Quadville, Luhan mulai menyadari gosip yang berputar di sekitar dirinya dan sang Pangeran.
Selama ia berada di Quadville, Seohyun hampir tidak pernah absen dari sisinya. Ketika ia sibuk mengurus Cookelt, Seohyun akan selalu siap melayaninya dan mengingatkan waktu. Ketika ia menjaga Duke Leeteuk, Seohyun akan selalu menemaninya.
Dari wanita itulah Luhan menyadari gosip yang terus berkembang dengan kemunculannya di Ririvia. Dari wanita itu pula ia tahu Sehun tidak berbohong. Ia adalah wanita pertama yang dibawa Sehun pulang.
Sayangnya itu bukanlah sesuatu yang membuatnya bangga. Semakin Seohyun bercerita tentang gosip tentangnya, semakin Luhan menyadari jurang di antara mereka. Sekarang seisi Helsnivia sudah tahu Pangeran mereka yang suka bermain wanita membawa pulang seorang anak haram. Semua orang tahu Pangeran yang mereka cintai memamerkan sang anak haram di pesta Viscount Kyuhyun. Tidak seorang pun di Helsnivia yang tidak tahu siapa Luhan Yvonne Lloyd, sang anak haram almarhum Duke of Cookelt.
"Saya dan Anda tidak berasal dari dunia yang sama. Saya tidak pantas menginjakkan kaki di Istana. Saya tidak cocok tinggal di Istana yang megah."
"Siapa yang mengatakannya? Siapa!?" sahut Sehun, "Tidak seorang pun melarang kau tinggal di Istana. tidak seorangpun melarangmu tinggal bersamaku. Hanya kau seoranglah yang tidak menyukainya. Hanya kau yang melarang dirimu sendiri."
"Anda benar," Luhan tidak menyangkal, "Saya melarang diri saya memasuki Istana karena saya tidak bisa mencemarkan nama Anda."
"Omong kosong!"
Kereta berhenti. "Kita sudah tiba di Istana, Pangeran," seseorang mengumumkan.
"Tanpa seijinku, kau tidak akan meninggalkan Istana!" Sehun menegaskan dan ia melesat dari kereta.
Luhan melihat kepergian Sehun dengan pasrah. Ia tidak mengerti mengapa pemuda ini tidak mau melepaskannya.
"Yang Mulia Paduka Raja dan Ratu menanti Anda dan Lady Luhan di Ruang Baca," seorang pelayan menyambut kedatangan Sehun.
Luhan dapat menebak hal ini akan terjadi. Ia telah membuat sang Pangeran meninggalkan tugas-tugasnya. Apa ia mengharapkan sambutan hangat sang Ratu yang tidak pernah menyukainya?
Sehun tidak membuang waktu. Ia harus menegaskan pada orang tuanya bahwa Luhan tidak akan meninggalkan Istana. Luhan akan tinggal di sisinya dengan atau tanpa persetujuan orang tuanya.
"Ke mana saja kau!?" sambut Ratu tidak senang.
Luhan hanya berdiam diri di belakang Pangeran.
"Luhan tidak akan meninggalkan tempat ini! Ia…" Sehun terkejut melihat Duke of Vinchard duduk di depan ibunya. Mengapa Duke ada di sini?
Luhan juga menyadari keberadaan Duke ketika Duke berdiri dari kursinya yang memunggungi pintu. Tanpa ia sadari, ia bersembunyi di belakang Sehun.
Sesuatu membuat Sehun merasa ia harus melindungi Luhan. Ia melingkarkan tangan di pundak Luhan dan mendekapnya erat.
"Luhan akan pulang bersama Duke Leeteuk ke Quadville." Ratu berkata dengan suara tegasnya.
Baik Luhan maupun Sehun terperanjat. Luhan mencengkeram kemeja Sehun erat-erat sementara Sehun mempererat pelukannya.
Duke of Vinchard tidak melepaskan pandangannya dari Luhan. Sinar kemurkaan yang ditunjukkannya pagi ini sudah hilang dari matanya. Sebaliknya, sebuah sinar yang tak terbaca terlihat di sana.
"Luhan, kau tidak sebatang kara," Raja membuka suara. "Duke of Vinchard adalah kakekmu."
"Ka…kek…?" Luhan melihat Raja kemudian pada Duke.
Sehun sudah mencurigai hal ini. Namun ia tetap terkejut mendengar pernyataan ayahnya.
"Kau adalah satu-satunya keturunan Duke Leeteuk," Raja Donghae melanjutkan dengan suaranya yang lembut, "Ibumu, Victoria Elwood adalah putri Duke of Vinchard."
"Victoria… Elwood…," Luhan mengulangi dengan suara lirihnya.
"Mungkin ini terlalu mendadak bagimu. Percayalah, kami tidak membohongimu. Kami juga mengerti engkau tidak pernah mengetahui siapa ibumu."
"Cukup." Ratu memotong, "Hari sudah malam. Duke Leeteuk baru sembuh. Ia membutuhkan istirahat. Sehun, antar Duke pulang."
"Tidak perlu, Taeyeon," untuk pertama kalinya Duke membuka suara. "Selamat malam," Duke berpamitan dan ia meninggalkan ruangan itu.
Luhan melihat pada Duke yang terus melangkah pergi kemudian pada Raja dan Ratu.
"Pulanglah bersama Duke, Luhan," Raja tersenyum.
Luhan tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Otaknya masih belum sepenuhnya mencerna fakta yang baru saja didengarnya. Namun ia tahu saat ini ia hanya dapat mengikuti anjuran itu.
Semenjak menemui ibu Luhan, Sehun selalu menginginkan gadis itu pulang ke pelukan keluarganya. Namun sekarang ia tidak sanggup ditinggalkan gadis itu lagi. Dengan berat hati, ia melepaskan Luhan. Sinar sedih dan patah hati matanya mengikuti punggung gadis itu.
"Sekarang," suara geram Ratu menarik perhatian Sehun, "Apa yang harus kulakukan denganmu?"
"Aku ingin beristirahat, Mama," Sehun tidak menunggu reaksi ibunya. Saat ini ia hanya ingin menyendiri. Ia butuh waktu untuk menyembuhkan patah hatinya.
.
.
.
TBC
Emm mungkin ini tinggal 4 atau 5 chapter lagi /yay/ atau mungkin 3 chapter lagi. Apa aku update sehari sekali ya biar cepet kelar? XD
Untuk yang ingin melihat cerita aslinya, bisa berkunjung ke imaginativewonderlanddotblogspotdotcodotid
Dot nya ganti titik ya~
