Warn :

Bahasa makin kasar mampus/Mencret itu masuk kata-kata jorok nggak? kalo iya ati-ati aja deh ntar ilfeel.

Note :

Rambut Yixing masih coklat aja.

Standard Disclaimer Applied

My Fiancé Chapter 9


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Yixing menggerutu. Memukul-mukul kepala menyesali apa yang telah ia perbuat barusan. Menghindari Luhan hanya akan membuat laki-laki itu semakin curiga. Mana pakai acara potong ucapan segala. Kalau ini acara ulang tahun mungkin okeh. Apa, sih? Otak Yixing mulai korslet memikirkannya. Yak, mulai sekarang Yixing harus bersiap diri. Bersiap untuk yang terburuk seperti—Luhan akan terus mengejarnya mungkin?

"Xing, aku akan pulang bersamamu."

Benar, kan? Baru saja Yixing memutar kunci yang terakhir Luhan berkata demikian. Datang tiba-tiba di belakang tanpa Yixing rasakan kehadirannya. Mungkin Luhan makhluk halus.

"Eh? Bukannya rumah gege berbeda arah dengan rumahku?" Sebisa mungkin Yixing menutupi kegugupannya. Berkata dengan nada wajar tanpa kecurigaan yang berarti.

Luhan menyimpan tangan ke dalam saku celana, "Aku harus ke rumah saudara dan UNTUNGNYA rumah dia searah denganmu." Lalu tersenyum manis namun mengerikan dengan penekanan pada kata yang menjadi inti.

Yixing menelan ludah. Matanya bergerak tak nyaman mencoba mencari alasan supaya orang gila yang satu ini enyah darinya.

"Aku akan pulang terlambat, ge."

"Aku akan ikuti."

"Mungkin sampai malam."

"Tidak masalah."

Mampus.

Yixing menggigit bibir, "Aku akan pulang pagi."

"No prob—EEEEH? APAH? APA KAMU MAU PULANG PAGI? KENAPA?"

Mulai sudah tabiat alay Luhan. Dengan erat dia mencengkeram kedua pundak Yixing sambil menggoyang-goyangkannya membuat Yixing pusing seketika.

"Gege! Tak perlu berteriak kenapa, sih?" ujar Yixing sambil menepis tangan kotor Luhan yang belum dicuci padahal baru dari toilet.

"Uhum, maaf. Sudah watak." Luhan berdehem ganteng. Ia melipat lengan. "Tak ada alasan. Mau pulang malam, kek. Pulang pagi, kek. Atau tidak pulang sama sekali, kek. Aku tidak peduli. Aku akan ikut denganmu. Mengerti?"

Yixing diam. Menangis dalam hati.

"Etapi—"

Yixing mengusap air mata keajaiban dalam hatinya, "Tapi apa, ge?"

"Memang kamu ngapain kok pulang pagi, sih?" Luhan mengusap-usap dagu.

Yixing garuk pantat, "Err—ke club malam mungkin."

Luhan mengangguk, "Oh.."

Yixing tetap diam.

"Etapi lagi, kamu ngapain disana?"

"Jadi penari striptease."

"EBUSET KAMU PASTI NGIBUL?! YA AMPUN, XING JADI BENERAN KAMU KERJA BEGITUAN?" Luhan muncrat-muncrat. Yixing memejamkan mata takut mata indahnya terkena muncratan najis Luhan.

"KALAU KAMU BUTUH KERJAAN KENAPA NGGAK BILANG AKU, XING? KENAPA HARUS NGE-PART TIME DI TEMPAT SEPERTI ITU? MANA JADI PENARI STRIPTEASE PULA." Luhan terus menyerocos. Yixing mulai mewek dalam hati. Mengambil sapu tangan dari saku, mengelap wajahnya lalu membuka mata, "Memang gege mau memberiku pekerjaan apa?"

"JADI BUDAK GUEH!" Luhan menyeringai dengan gigi-gigi hiunya. Jangan lupakan mata yang bersudut lancip plus background jilatan api neraka lengkap dengan trisula-trisula di belakangnya. Yixing kicep seketika.


Di gerbang, Junmyeon bersandar di dinding dengan kerennya sementara Tao jongkok sambil mainan tanah. Menggambar menggunakan telunjuk. Dia menggambar benang bol. Merasa bosan, dia mendongak, "Junma."

Yang dipanggil menoleh walau cuma sekilas, "Hn?"

Tao manyun, tapi cuma sebentar. Dia kembali mainan tanah, "Pak Yixing lama sekali. Apa dia tersesat lagi?"

Junmyeon menghela napas lalu menggeleng, "Entah."

Tao menoleh ke Junmyeon sebentar lalu mengalihkan pandangan ke depan.

"Err—Junma. Lihat Pak Yixing datang dengan siapa." katanya sambil berdiri. Menepuk-nepukkan tangan supaya debu pasirnya luruh lalu menyenggol lengan Junmyeon. Berhasil mengalihkan perhatian temannya dari layar smartphone, mata Junmyeon memicing, "Pak Luhan?"

Di kejauhan nampak dua orang berjalan beriringan. Tidak beriringan juga sebenarnya, sih. Yang satu nampak berusaha mempercepat jalannya dan yang satunya lagi berusaha menyamakan langkah sambil menggapai-gapai orang di depannya.

"Seperti ada yang tidak beres dengan dua orang itu, Jun." komentar Tao.

"Kurasa Yixing merasa terganggu."

Tao mengangguk. Ngupil, "Yup."

"Xing, kau harus menerimaku!"

O_O ?

Dua murid itu membeku mendengar pernyataan ambigu Luhan. Junmyeon cengo dalam posisi ganteng dan Tao, kelingking masih nyangkut di lubang hidung.

"Apa, sih, ge? Jangan bicara yang tidak-tidak, please."

"Aku bicara yang iya-iya, Xing, bukan yang tidak-tidak. Aku serius sama kamu!"

Junmyeon dan Tao makin cengo. Kali ini keduanya dalam posisi yang sangat tidak keren sekali mendengar percakapan dua guru mereka yang makin ambigu mampus.

"Serius apaan, ge?"

"Aku serius. Makanya dengarkan penjelasanku dulu."

Di hadapan mereka, Yixing sedang menepis tangan Luhan dan Luhan yang terus berusaha menghentikan Yixing yang semakin mempercepat jalannya.

"Tidak ada yang perlu dijelaskan, ge. Yang ada kau hanya akan memaksaku untuk menerimamu."

"Memang itu tujuanku, Xing."

"Terserah!"

Setelah teriakan Yixing tepat di depan wajah Luhan, Tao dan Junmyeon mendadak sadar. Tertarik dari dimensi lain yang sempat memerangkap mereka berdua. Mereka mengerjapkan mata, saling pandang lalu kembali menatap Yixing dan Luhan. Apa yang tadi mereka dengar? Menerima? Serius? Penjelasan? Apa maksudnya? Apa jangan-jangan Luhan, Luhan, Lu—

"Pak Yixing jangan mau terima Pak Luhan!"

Sontak keduanya menoleh ke asal suara yang begitu cempreng dan membahana. Mendapati Tao sedang melambaikan tangan lalu membentuk huruf X di atas kepalanya dan Junmyeon yang menatap mereka dengan datar. Mendapat celah, Yixing segera berlari menghampiri dua muridnya itu namun Luhan segera menyusul begitu menyadari bahwa Yixing berniat meninggalkannya.

Tao merentangkan kedua tangan lebar-lebar berharap sang guru masuk ke pelukannya. Sayangnya langsung ditepis matang-matang oleh yang bersangkutan.

"Pak Yixing tak apa-apa?" Tao nampak care sekali. Bertanya sambil menepuk lembut pundak Yixing tanpa menyadari tatapan menusuk tertuju ke arah tangannya yang menyentuh sang guru.

"Ya.. hosh.. aku hanya lelah.." Yixing mengibas-ngibaskan tangan memberi tanda. "Sudah, ayo cepat pu—"

.

Grep!

.

"Kutangkap kamu. AHAHAHAHAHAHA!"

Tiga orang itu terbelalak. Terdiam atau lebih tepatnya terpesona dengan mulut Luhan yang begitu lebar saat tertawa.

"Sekarang terima aku, Xing."

Apa-apaan guru ini ngomongnya frontal sekali. Alis Junmyeon bertaut, kantung mata Tao makin menghitam, dan lesung pipi Yixing makin dalam dibuatnya.

"Tsk! Apaan, sih, ge? Ngomong itu yang jelas, dong." elak Yixing. Berusaha melepaskan pegangan Luhan. Sakit, man! Namun yang ada malah makin dipererat oleh yang bersangkutan.

Luhan tersenyum licik, "Sudah aku bilang. Kamu hanya tinggal bilang ya lalu beres."

"Pak Yixing jangan mau. Pak Luhan itu makannya banyak pasti nanti Pak Yixing repot kalau jadi pacarnya."

Eh?

Luhan dan Yixing langsung ganti menatap Tao yang berkata barusan.

"Apa maksudmu, Huang?" Luhan bicara dengan nada berwibawa. Masih menggenggam erat pergelangan Yixing tak membiarkan yang bersangkutan melarikan diri.

"Bukannya Pak Luhan nembak Pak Yixing, ya?" Tao garuk-garuk pantat.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Em—

"GUNDULMU!"

Bersamaan Luhan dan Yixing nyembur-nyembur ke wajah Tao.

Merasa mendapatkan kekuatannya kembali, Yixing segera ambil inisiatif melepas tangan Luhan. "Hih, mana mau aku sama dia. Perut gentong!"

"Kurang ajar kamu!" Luhan tidak terima dipanggil perut gentong. "Aku bukan perut gentong, tapi perut lumbung."

Lho? Malah lebih besar.

Dia bersedekap sambil mengangkat dagu. Angkuh sekali lagaknya. "Lagipula mana sudi aku nembak dia, yah meski Yixing okeh juga buat dijadikan calon."

Tanpa Luhan sadari kalimatnya barusan mengundang tatapan maut dari orang yang sedari tadi dilupakan.

"Eh? Kok tiba-tiba panas, ya?" Luhan kipas-kipas.

Tak mau memperpanjang masalah sepele, Yixing menarik lengan Tao dan Junmyeon, "Ayo pulang."

"Tunggu!"

Tiga orang itu berbalik lagi menghadap Luhan yang tak bergeming sama sekali dari tempatnya.

"Apa lagi, ge?"

"Kenapa mereka ikut?" Telunjuk Luhan mengarah pada Tao dan Junmyeon. "Kenapa kamu pegang-pegang tangan mereka segala?"

Yixing menoleh ke bawah melihat kedua tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Tao dan Junmyeon. Buru-buru dia lepas, "Eheheheh. E-etto.."

Mampus dia lupa kalau Junmyeon memang harus pulang bersama dia. Tao, dia bilang mau ke rumah omnya.

"Kalau Tao, sih aku bisa terima kehadirannya, tapi kalau dia—"

Yixing bersumpah melihat tanduk merah perlahan-lahan mulai mencuat di kepala Luhan dengan ekor sebagai pemanisnya.

"—mengundang tanda tanya besar di kepalaku." lanjutnya sembari menyeringai.

Yixing gigit jari melihat Luhan yang berjalan mendekati Junmyeon sementara dirinya ditarik menjauh oleh Tao.

"Katakan padaku, Kim." Luhan mencondongkan tubuh, "Mengapa kau harus pulang bersama Yixing?"

Kini tidak hanya jari yang Yixing gigit, kepala Tao juga dia jadikan korban. Sementara Junmyeon menatap Luhan datar, "Apa urusanmu?"

Bernapas lega Yixing saat mendengar jawaban Junmyeon. Setidaknya anak itu masih bersikap wajar dan tenang. Padahal dia saja yang tidak tahu kalau dalam hati Junmyeon sudah berteriak "TENGGELAMKAN AKOH!"

Luhan menarik tubuhnya menjauh kemudian tersenyum manis, "Hanya penasaran. Kenapa anak sepertimu bisa bersama cihuahua ini." Luhan menunjuk Yixing tepat di kata cihuahua.

"Gege, aku bukan cihuahua!" Yixing tidak terima.

Luhan beralih pada Yixing dengan pandangan meremehkan. Men-scan Yixing dari atas sampai bawah, "Kau memang cihuahua. Lihat rambut coklatmu mirip cihuahuanya Jongin."

"Kan hanya rambut, ge!" Yixing tetap tidak terima. Sudah disamakan dengan jemuran kumel, sekarang disamakan dengan anjing pudel. Brengsek memang Luhan ini.

"Ya, ya, tetap saja kau cihuahua." kata Luhan malas sambil mengibaskan tangan. Dia kembali pada objek awal, Junmyeon. Kembali memasang wajah sangar nan garang biar kelihatan angker dan okeh. "Bisa jelaskan alasanmu, Kim?"

"Gege itu bukan hal yang harus kau ketahui. Kan terserah Junmyeon mau pulang sama siapa juga. Mau pulang sama aku kek, Tao kek, pak kebon kek, kakek kek, terserah dia. Itu mah hak dia. Dia juga manusia yang punya hak asasi. Kebebasan memilih."

Tao menepuk-nepuk punggung Yixing yang orangnya sedang ngos-ngosan. "Pak Yixing ngomong apa, sih? Tao bingung, lho."

Lagi, Luhan menoleh ke Yixing yang langsung kicep, "Kau membelanya?"

"Aku membela yang lemah." katanya bangga sambil tepuk dada.

Kening Junmyeon berkerut, tak setuju dengan kalimat Yixing barusan karena secara tak langsung Yixing mendeklarasikan bahwa dia itu lemah. Padahal kan dia macho dan manly sayang saja kurang tinggi.

Iya, begitu.

Luhan facepalm, "Terserahmu."

"Pak, bagaimana ini? Pak Luhan tidak boleh ikut pulang bersama atau dia akan tahu kalau Junma tinggal bersama Pak Yixing." Tao mulai bisik-bisik saat perhatian Luhan sudah kembali ke Junmyeon. Sesekali dia melirik memastikan bahwa Luhan tak melihat aksinya.

"Aku tahu, Huang, tapi bisakah kau menjauh?" Yixing mendorong wajah Tao karena anak itu berbisik terlalu dekat. Geli Yixing dibuatnya.

"Atau Pak Yixing mengaku saja." Dan Tao langsung mendapat kemplangan manis dari Yixing. "Mana bisa begitu? Aku takut."

Sambil mengusap-usap kepala, Tao berbisik lagi, "Pakai cara halus, pak. Pasti berhasil. Meski slengeán, Pak Luhan okeh juga kalau diajak kerja sama."

Yixing menoleh ke Tao dan langsung mendapati wajah freak Tao dengan alisnya yang naik turun. Ditatapnya mata muridnya itu mencoba menemukan kepastian dan bingo—dia menemukan dibalik kornea mata.

"Akan aku coba."

Melangkah pasti setelah baca basmalah dulu bersama Tao. Yixing mendekati Luhan dan Junmyeon yang sekarang malah adu glare.

"Luhan ge, ada yang ingin aku bicarakan padamu dan Junmyeon—" Dia menarik lengan Junmyeon membawanya menjauh, "Kau pulanglah dulu. Ini kunci apartemen."

"Yang mana?" Junmyeon memperhatikan kunci yang diberikan Yixing. Masalahnya bukan hanya satu kunci, tapi ada banyak kunci di gantungan itu. Mulai dari kunci lemari pakaian, jendela, kamar mandi, sampai kunci buku diary juga ada.

"Yang ada gambarnya pororo." Junmyeon mengangguk. "Aku ada urusan dengan Luhan ge."

Sambil memilah kunci, Junmyeon mendongak menatap gurunya, "Kau akan membocorkan rahasia?"

Yixing mengangkat bahu, "Mungkin. Aku tak tahu."

Junmyeon menghela napas, "Terserahmu. Aku tak mau ikut campur." Dia melongok dari balik kepala Yixing, "Tao, ayo pulang."

Tao tolah-toleh, dia menunjuk dirinya sendiri, "Eh? Aku?"

"Cepat."

Mau tak mau Tao menurut. Buru-buru ngacir setelah membungkuk hormat pada kedua gurunya menyusul Junmyeon.

Sepeninggal dua orang murid tampan, dua guru itu menoleh bersamaan.

"Apa lihat-lihat?"

Bahkan berkata seperti itu saja juga bersamaan dengan timing yang tepat. Telepati mereka bagus rupanya.

Sebelum memulai pembicaraan aneh, Yixing segera menarik Luhan, "Gege ikut aku."

Sementara Luhan pasrah. Membiarkan juniornya ini membawanya pergi dari sana.


Keduanya sampai di sebuah taman yang cukup sepi. Yixing melepaskan genggamannya lalu berjalan mendekati bangku tembaga taman. Luhan melihat Yixing mengambil napas cukup lama.

"Aku tak yakin kalau aku mengakui ini kau akan percaya, ge."

Alis Luhan terangkat satu. Tak mengerti, "Maksudmu?"

"Maksudku apa kau tak akan melaporkan ini pada pihak sekolah?"

"Haaaa?" Luhan makin tak mengerti. Dia berjalan mendekati bangku dan duduk disana. "Bicara yang benar, bodoh. Kau bahkan belum mengatakan apa-apa padaku."

Yixing berbalik menghadap Luhan. Ditatapnya mata Luhan dalam-dalam, "Ini tentang aku dan Junmyeon."

"Ohok!" Luhan tersedak ludahnya sendiri. Sambil memukul-mukul dada dia mendongak, "Haaaa?"

"Huh. Melihat reaksimu saja sudah tak meyakinkan, ge." Yixing mencibir. Berjalan mendekati bunga-bunga di depannya.

"Oke oke, aku terlanjur penasaran dengan apa yang akan kau katakan. Sekarang ceritakan padaku." kata Luhan setelah tersedaknya reda. Menyilangkan kaki sambil merentangkan tangan.

"Umm, sebenarnya aku dan Junmyeon itu sudah—"

"APA KAMU DAN JUNMYEON SUDAH PACARAN TERNYATA?"

"Tidak—"

"KAU SENGAJA MENYEMBUNYIKAN INI DARIKU DENGAN SIKAPMU YANG SOK ACUH PADA PACARMU ITU?"

"Dia bukan—"

"DAN SEKARANG KAU MENCOBA UNTUK TIDAK MENGAKUINYA SEBAGAI PACAMU?"

"KALEM GEGE AKU BELUM SELESAI NGOMONG." Yixing berteriak sambil mengepalkan tangan. Dia ngos-ngosan karena teriak pakai tenaga super, "AKU DAN JUNMYEON TIDAK PACARAN."

"KALAU KALIAN TIDAK PACARAN APA BERARTI KALIAN SUDAH MENIKAH. IYA?" Luhan loncat ke tempat Yixing berdiri. Mencengkeram pundaknya dengan dramatis lalu melepasnya perlahan. Dia menepuk kening lalu berbalik, "Kenapa kau tidak mengundangku? Jadi ini yang kau sembunyikan dari aku selama ini, Xing?"

Yixing tersenyuh melihat wajah sedih Luhan. Dia merasa tidak enak hati telah membentak seniornya ini, tapi di sisi lain dia sedikit tidak rela mengakui.

"Ge, kau salah paham."

Luhan menoleh, "Eh?"

Yixing mengangguk. Berjalan menuju bangku, "Iya, gege salah paham. Misunderstanding.

"Are you serious?"

"Double serius. Aku dan Junmyeon tidak pacaran. Ada satu lagi rahasiaku dan Junmyeon."

Luhan mendekati Yixing dengan langkah cepat. Duduk di samping juniornya dengan mupeng, "Apa itu?"

"Tapi gege berjanji tidak akan hebring?" Yixing mengangkat kelingkingnya.

Luhan mengangguk, "Uhum." Lalu menautkan kelingkingnya pada kelingking Yixing.

Kemudian Yixing berbalik menghadap bunga lagi. Matanya lurus ke depan seakan menerawang membuat Luhan penasaran setengah hidup. Dia mengambil napas dalam.

"Sebenarnya aku dan Junmyeon itu tinggal bersama, ge." Yixing berkata lirih sementara Luhan mulai mangap perlahan.

"Etapi ada alasannya, ge." Buru-buru dia menambahkan sebelum Luhan keburu salah paham lagi.

"Apa?"

"Ini gara-gara mamaku dan mama Junmyeon yang saling kenal." Yixing memulai sesi curhatnya. Luhan mendengarkan dengan saksama.

"Sudah cukup lama. Dihitung sejak hari pertama aku mengajar dulu, ge. Mamaku menelfon dan berkata jika ada anak dari temannya yang harus tinggal bersamaku. Sebenarnya aku menolak dan yang lebih parahnya anak itu Junmyeon. Gege kau tahu pertemuan pertamaku dengan Junmyeon itu, sumpah demi apa itu anak brengsek sekali."

"Kau sudah tahu rupanya."

"Tentu dan begitulah. Kami tinggal bersama. Dan aku merasa harus merahasiakan ini dari pihak sekolah pengecualian untuk Tao. Dia yang pertama kali nge-gap aku dan Junmyeon berangkat sekolah bersama."

"Kau apakan anak itu kok tidak berani bilang-bilang?"

"Aku peras dan ancam, hehe." Yixing tersenyum kucing dan mendapat satu jitakan sayang dari Luhan.

"Lanjutkan." Perintah Luhan. Dia mulai menyamankan diri. Melipat lengan dengan kaki menyilang.

Yixing menunduk, "Sebenarnya ada satu masalah lagi."

"Apa?"

"Junmyeon nembak aku."

"EBUSET JADI BENERAN JUNMYEON NEMBAK KAMU DEMI APA, XING?"

"TUH KAN GEGE HEBRING LAGI."

Luhan berdehem dan segera membetulkan posisi duduk. "Kau itu tidak tahu orang kaget, ya?"

Yixing mengangkat bahu.

"Lalu apa sekarang?" tanya Luhan.

Yixing memainkan ujung lengan kemejanya, "Ya itu, tadi, Junmyeon nembak aku."

"Lah iya memangnya terus kenapa?"

"Aku tidak tahu harus bagaimana, ge. Ini pertama kalinya aku mendapat pernyataan cinta dari seseorang."

"HAAA? KAMU BARU PERTAMA KALI?"

"MEMANGNYA DITEMBAK ANAK TK ITU MASUK HITUNGAN, YA?"

Luhan langsung kicep, "Lanjutkan."

Menengadahkan kepala Yixing menatap langit yang mulai berwarna jingga, "Aku bingung harus menghadapi Junmyeon seperti apa, ge. Aku merasa canggung."

"Tadi kulihat kau baik-baik saja bicara empat mata dengan anak itu."

Yixing menoleh mendapati Luhan yang sedang ngupil, "Gege saja yang tidak tahu padahal kokoro ini sudah dokidoki tak karuan."

"Sejak kapan kau bisa bahasa Jepang?" Luhan menyentil upilnya.

"Apa aku cuma tahu artinya kokoro sama dokidoki doang, ge."

Luhan mengangguk, kali ini mengelap jarinya ke celana, "Sekarang masalahmu yang mana?"

"Dua-duanya."

"Yang lebih spesifik."

"Junmyeon."

"Semua berhubungan dengan Junmyeon, Xing."

"Junmyeon nembak aku."

"Nah, begitu lebih jelas."

Yixing malu. Wajahnya memerah dan Luhan tak tahu.

"Sekarang kau hanya perlu belajar menata hati supaya kau bisa tahu bagaimana seharusnya kau bersikap di depan Junmyeon. Sekalian untuk menutupi kalau kamu itu katrok mampus dalam urusan percintaan. Malu, dong sudah dewasa masa belum tahu rasanya bercinta." Luhan berfatwa dengan Yixing yang sekarang tengah bersimpuh di depannya.

"Menata hati, ya ge?" Luhan mengangguk. Yixing menatapnya seperti anak bayi, polos. "Bagaimana caranya?"

"Mana aku tahu. Deepend on you, Xing."

"Tergantung aku, ya ge?" Luhan mengangguk lagi. Kali ini dia memejamkan mata tak tahan dengan wajah polos Yixing yang minta diinjek.

Yixing beranjak dari posisinya bersimpuh layaknya seorang murid yang sedang menghadap guru di sebuah dōjo. "Baiklah. Aku akan berusaha."

Dan Luhan tak yakin dengan apa yang akan dilakukan oleh Yixing setelah ini. Lihat hasilnya saja lah.


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 09.45 malam. Namun belum ada tanda-tanda dari Yixing bahwa laki-laki itu akan pulang. Junmyeon melirik pintu depan dan ini sudah yang kesekian kali dia melakukan itu. Berharap pintu akan terbuka dan memuntahkan(?) Yixing dari luar. Bukannya Junmyeon peduli, hanya saja dia khawatir pada sang guru. Lalu apa bedanya?

Kemudian Junmyeon mengalihkan pandangan ke buku yang sedari tadi ia baca. Apa? Buku pelajaran? Anda salah. Itu komik shōjo. Sudah lima level yang Junmyeon tebas selama dia menunggu Yixing. Menunggu? Yup, bisa dibilang seperti itu atau lebih baik jika ditambah dengan alasan, dia lapar. Mau membuat makanan di dapur, tapi ada peringatan yang dibuat Yixing dengan cairan darah (tapi bohong).

"KIM JUNMYEON DILARANG MENYENTUH PERALATAN MEMASAK TERUTAMA KOMPOR. SYARAT DAN KETENTUAN BERLAKU!"

Begitu bunyi peringatan yang Yixing tempel di dinding dapur. Terlihat garang bukan karena menggunakan huruf kapital, tapi karena Yixing menggunakan ukuran font 72. Besar. Padahal dia pakai tulisan tangan -_-. Jadilah Junmyeon kelaparan dalam lautan kisah cinta komik shōjo.

.

Ceklek~

.

"AHOY, AKU PULAAAANG!"

Yixing datang dengan cerianya sambil menenteng kantung kresek mencurigakan berwarna hitam. Junmyeon menoleh sekilas lalu segera kembali fokus ke komik shōjonya sebelum ketahuan bahwa dia menaruh harapan besar atas kepulangan Yixing.

Setelah melepas sepatu dan menyimpannya di rak, Yixing masuk ke ruang tengah mendapati Junmyeon duduk manis dengan posisi pahit di sofa. "Kau belum tidur?"

Junmyeon melirik Yixing dari balik komiknya. Mendongak, menutup komik kemudian membetulkan posisi duduknya yang bikin encok. "Kenapa lama?"

Tidak ingin mempermasalahkan pertanyaan yang diabaikan oleh Junmyeon, Yixing segera melenggang cantik ke dapur setelah melempar tas ke sofa di sebelah Junmyeon, "Masih diajak makan malam dengan Luhan ge."

Junmyeon sukses merosot lagi. Yah, namanya juga orang jatuh cinta. Mengetahui orang yang dicintai (apalagi bolot seperti Yixing) sedang bersama orang lain—yang Junmyeon anggap itu kencan—pasti jantung ini berdetak detak detak tak karuan. Namun karena Junmyeon agak tsundere jadi no problem.

"Ah, aku tahu kau lapar jadi aku membelikan ini." Yixing menunjukkan kantung kresek yang tadi dibawanya.

"Apa itu?"

"Bibimbap."

Junmyeon menghela napas, "Apa Luhan yang beli?"

"Bapak, Myeon. Bapak. Dia gurumu." Yixing menggerakkan telunjuk ke kanan-kiri, memperingatkan. "Etapi—memangnya kenapa kalau Luhan ge yang belikan?"

Junmyeon beranjak bangkit dan berjalan menuju dapur. Menarik kursi makan lalu duduk lagi, "Aku tidak mau makan."

"Memang kenapa? Ada bedanya? Kan sama-sama bibimbap."

"Jelas bedalah."

"Apa bedanya?"

"Pikir sendiri."

Setelah mengatakan itu Junmyeon segera memalingkan wajahnya yang mulai memanas. Sial, kenapa Yixing begitu tidak peka. Apakah dia bukan makhluk hidup karena tidak peka terhadap rangsang? Apakah Junmyeon yang kurang merangsang?

Sementara Yixing mengangkat bahu acuh. Memang apa bedanya coba? Mungkin kalau dia yang beli tidak usah pakai sambel dan Luhan pasti akan minta tambah sambel, tapi kan sama-sama bibimbap. Lagipula tadi dia sudah pesan kalau tidak usah pakai sambel. Mana ada label halal pula hasil dari distempel sama bapak-bapak penjualnya. Atau jangan-jangan Junmyeon tahu kalau diam-diam Luhan membubuhkan obat pencuci perut? Yixing menggeleng. Kalau memang Luhan berniat membunuh Junmyeon, pasti dengan cara yang lebih elit. Mencontoh trik membunuh dari film Saw mungkin.

"Aku tidak peduli apa masalahmu dengan bibimbap dari Luhan ge ini, Myeon, tapi kau harus makan."

"Tidak mau."

"Kenapa tidak mau makan?"

"Pokoknya tidak mau."

"Makan."

"Tidak."

"Makan."

"Tidak."

"Makan."

"Makan."

"Tidak."

"Baiklah, aku tidak akan makan itu, Xing."

Dengan cepat Yixing berbalik, "Sial, kau menjebakku lagi." Dan dengan pose keren dia menodongkan garpu yang dipegangnya.

Junmyeon memutar bola mata, "Aku tidak menjebakmu."

"Kau menjebakku."

"Kau saja yang mudah terjebak."

"Aku tidak mudah terjebak!"

"Terserah." Junmyeon memilih mengalah.

Kau memang tidak mudah terjebak, tapi akulah yang mudah terjebak, terjebak dalam pesonamu. Aciat ciat ciat.

Junmyeonpun menjadi anak alay.


"Junmyeon. Kuperingatkan kau sekali lagi. Makan ini atau kuusir?!"

Kali ini Yixing sedang berada di posisi menyerang dengan tangan kiri memegang piring berisi bibimbap dan tangan kanan memegang senjata utama yaitu sekop—maaf, sendok. Siap kapan saja menyuapkan itu ke mulut Junmyeon. Jika Yixing berada di posisi penyerang maka Junmyeon berada di posisi terserang. Dia berlindung di belakang kursi makan yang tadi dia duduki sebagai tameng. Matanya lurus menatap Yixing dengan waspada takut orang itu menyerangnya tiba-tiba. Mereka hanya dipisahkan meja makan yang tak tahu apa-apa.

"Kenapa kau begitu memaksaku makan itu, Xing?" Junmyeon berujar lirih. Terus mengawasi pergerakan Yixing secara saksama.

"Karena hanya ini makanan yang kita punya, Myeon." Yixing menjawab tak kalah lirih namun berbahaya. Dia melakukan pergerakan halus namun setiap langkahnya Junmyeon selalu melihat.

"Bukankah kau bisa memasak untukku?"

"Ceh, memangnya kau siapa? Suamiku?"

"Setidaknya di masa depan, Xing."

"KIM JUNMYEOOOOOOOON!"

Yixing memulai penyerangan dan dengan sigap pula Junmyeon menghindar. Dengan lihai dia berpindah dari satu tempat ke tempat lain menggunakan 3D Manuver Gear kemanapun itu yang penting menunaikan misinya kali ini, menjauhi Yixing dan bibimbap Luhan.

"Kemari kau Junmyeon. Jangan menghindar."

"Jangan menghindar dan aku kalah telak darimu?"

"Mengalahlah untukku."

"Mana sudi."

"Haiyaaaaat!" Yixing naik meja makan. Melakukan serangan udara terhadap Junmyeon yang lemah perlindungan di atas.

.

Tap!

.

"Heh! Kau tak bisa lari dariku, Myeon." Yixing mendarat dengan kerennya. Bersimpuh dengan satu tangan sebagai tumpuan. "Jujur saja aku masih tak mengerti kenapa kau menghindari bibimbap yang Luhan ge belikan ini. Kurasa ini enak, tapi kenapa? Kau pikir ini beracun? Heh, Junmyeon kau seperti bo—"

Yixing tak menyelesaikan kalimatnya saat tak melihat Junmyeon dimanapun. Kini dia sibuk celingukan mencari keberadaan Junmyeon yang tiba-tiba menghilang seperti terbawa angin. Begitu lembut kepergiannya. Apa ini salah Yixing yang berbicara dengan mata terpejam tadi? Atau jangan-jangan Junmyeon tertular phantom kage dari fandom anime sebelah? Halah ngaco.

"Myeon, tak perlu bersembunyi. Hadapi aku dengan manly kalau kau memang laki bukan rasa-rasa." Yixing berbicara pada angin. Dia menyendok bibimbap lagi. Menyiapkan amunisi.

"Aku berani jamin, sebentar lagi kau akan tidur di luar—"

"Apa?"

.

Deg!

.

Dengan gerakan patah Yixing menoleh ke belakang mendapati Junmyeon tersenyum kucing kepadanya.

"MUGYAAAAAA!"

Teriakan menggelegar nan memilukan memenuhi apartemen.

"K-k-kau d-d-d-dari ma-ma-mana?" Mendadak Yixing gagap.

Junmyeon memiringkan kepalanya. Masih dengan tersenyum, perlahan dia menangkap tangan Yixing yang memegang seko—maaf, sendok. "Aku? Daritadi aku disini."

Yixing menelan ludah. Demi apa senyuman Junmyeon terlihat mengerikan di matanya. "B-bohong. A-aku t-tidak melihatmu t-tadi."

"Benarkah?" Desisan Junmyeon membuat Yixing geli. Memanfaatkan itu, Junmyeon semakin mengeratkan genggamannya.

"B-benar. Aku tidak melihatmu d-dimana-mana—HEY! LEPASKAN TANGANKU!"

Senyum—seringai—makin mengembang dibibir Junmyeon. Kali ini keadaan berbalik. Junmyeon di posisi penyerang dan Yixing terserang. Begini lebih baik dan benar.

"Lepaskan? Dan kau menyuapkan ini ke mulutku?"

Berusaha berontak, Yixing mengerahkan seluruh tenaga. Meski pendek, kekuatan Junmyeon setara dengan Armor Titan. Apa dia masuk zone?

"Tujuanku memang itu, bodoh."

"Hmm."

"Myeon!"

"No."

"Kim!"

"Haaa?"

"Ya! Junmyeon lepa—MPHH!"

Timing yang tepat. Junmyeon segera mengarahkan tangan yang ia pegang ke mulut Yixing.

"Makan itu bibimbap Luhan." Perlahan melepaskan cengkeramannya dan mundur teratur.

Mau tak mau Yixing mengunyah apa yang ada di dalam mulutnya. Masa iya dia main langsung telan. "Hah! Sialan kau, Myeon. Mencari kesempatan yang—MPHH!"

Merasa ada yang tidak beres buru-buru Yixing menutup mulutnya dengan tangan.

Junmyeon diam memperhatikan.

"Huaaaaah! Kenapa tidak bilang kalau ini pedaaaaas!" Yixing sibuk mengipasi mulutnya. "Air, Myeon. Ambilkan aiiiiiirrrr!"

Junmyeon berdecak saat punggungnya didorong-dorong oleh Yixing, "Sabar kenapa, sih?" Dia mendorong Yixing mundur. Berjalan ke dispenser setelah mengambil gelas di rak.

"Itu alasan kenapa aku tidak mau makan makanan dari Luhan." katanya saat air mulai keluar dari galon. Matanya melirik Yixing yang tengah sibuk sendiri di meja makan.

"Ini." Gelas di tangan Junmyeon segera lenyap disambar oleh Yixing dengan ganas. Junmyeon diam lagi.

Satu.

Dua.

Ti—

"PUAAAAH! APA INI KENAPA KAMU NGASIH AKU AIR PANAS?"

Bibir Junmyeon berkedut menahan tawa. Dengan ganteng dia berdehem lalu duduk di seberang Yixing. "Kata mama kalau kepedasan, minum air hangat."

"IYA ITU AIR HANGAT, BUKAN AIR PANAS SEPERTI INI JUNMYEON PEÁ!"

"Aku tidak peá, Xing."

"BLOÓN."

"Bukan."

"PANAS, MYEON. PANAAAASSS!"

"Kan cepat hilang?"

"APANYA? MULUTKU RASANYA TERBAKAR."

"Benarkah?"

"GROAAAAR!"

.

.

.

HEADLINE NEWS : SEBUAH KAMAR APARTEMEN DI DAERAH KAMPUNG LEDOK, TERBAKAR. DITEMUKAN DUA MAYAT YANG IKUT HANGUS DI DALAMNYA. MENURUT KESAKSIAN PARA TETANGGA, APARAT DAN TIM FORENSIK MENYIMPULKAN BAHWA PEMICU TERJADINYA KEBAKARAN ADALAH PERCIKAN API YANG MUNCUL DARI SALAH SATU DARI DUA KORBAN.


Tok tok tok..

.

"Xing?"

Kejadian itu terulang lagi. Junmyeon yang mengetuk pintu kamar Yixing berulang kali namun tak ada sahutan yang berarti dari dalam.

"Xing, aku bawa obatnya."

.

Tok tok tok..

.

Masih tak ada sahutan. Junmyeon mulai menyerah. Itu sudah yang kesekian kali tak terhitung jumlah sampai jari-jarinya memerah, lho. Padahal kan niatnya mulia sekali memberikan obat mencret kepada Yixing, namun apa? Kebaikan selalu saja belum tentu dibalas dengan keindahan.

Junmyeon positif menyerah. Ia berbalik badan hendak pergi dari sana sebelum suara gaduh berasal dari dalam kamar menghentikan langkahnya dan membuat Junmyeon membalikkan badan. Setitik cahaya harapan terpancar di wajahnya.

"Xing, ini aku bawa—"

"MINGGIR! JANGAN HALANGI AKU!"

Dengan kasar Junmyeon terhempas ke dinding sebelah pintu. Kekuatan Yixing tiba-tiba kembali dan itu lebih mengerikan dibanding melawan cacing besar Alaska meski sudah dibantu Sandy. Dia hanya bisa menatap punggung Yixing yang makin menjauh. Sembari menghela napas, Junmyeon menggelengkan kepala. Dia memilih untuk masuk kamar Yixing. Meletakkan obat di meja nakas setelah sebelumnya pergi ke dapur untuk mengambil segelas air—kali ini tidak panas, tidak dingin—dan roti isi yang tadi ia beli di warung bersamaan dengan obat mencretnya.

"Xing, aku sudah meletakkan obatnya di meja sebelah ranjang. Setelah ini segera makan roti dan obat." Junmyeon mengetuk pintu toilet. Sekelebat memori melintas di otak Junmyeon dimana waktu saat adegan "menyalurkan obat" dengan Yixing membuatnya tersenyum tanpa sadar. Dalam hati dia berharap Yixing akan menjawab sama seperti waktu itu, "Tidak. Aku tidak mau makan obat. Pahit." dan Junmyeon akan dengan senang hati mempraktekkan hal yang sama. Namun sayang seribu sayang jawaban dari Yixing tidak sesuai harapan.

"DIAM! JANGAN MENGGANGGU. AKU SEDANG KONSENTRASI, MYEO—UGH—KETATH~!"

Junmyeonpun memilih pergi dari tempat itu daripada mendengarkan kalimat-kalimat ambigu dan menjijikkan dari Yixing.

Tiga hari kemudian.

"YOLO! Xing, kau kemana saja tiga hari kemarin aku tak lihat. Apa sudah mendapat perkembangan yang signifikan atas hubunganmu dengan Junmyeon? Oh, oh, jangan lupa ceritakan padaku. Aku ini berperan dalam kesuksesan hubunganmu, ya."

Yixing menahan kesal saat Luhan sudah menyambutnya dengan kelewat riang gembira. Pagi-pagi telinganya sudah panas saja. Memangnya dia ini mesin yang harus dipanasi setiap pagi supaya tidak ngadat accu-nya? Kalau sudah ngadat repot. Distater atas tidak bisa, distater bawah sulit. Btw apanya dari Yixing yang harus distater?

"Ge, ini masih pagi, lho."

"Siapa bilang ini sudah malam? Kau mulai rabun, ya?" Hampir saja Yixing mengemplang kepala Luhan kalau dia tidak ingat bahwa Luhan itu seniornya yang harus dihormat. Bah! Orang seperti ini dihormati?

"Maksudku jangan membuat ulah."

"Aku tidak membuat ulah, Xing." Luhan merangkul pundak Yixing dengan akrabnya. Namun yang bersangkutan cenderung meringis risih.

"Ceritakan padaku." Alis Luhan naik turun.

Buru-buru Yixing melepaskan diri dari rangkulan SKSD Luhan, "Apanya yang perlu aku ceritakan? Tidak ada yang perlu diceritakan, ge. Tidak ada yang spesial." Lalu berjalan meninggalkan Luhan.

Namun saat itulah masalah baru dimulai. Luhan melihat sesuatu yang janggal dari Yixing. Dengan cepat Luhan segera menyusul. Kembali merangkulkan lengan ke pundak laki-laki yang lebih muda darinya.

"Nah, aku tahu sesuatu telah terjadi padamu." Luhan berbisik rendah di telinga membuat Yixing merinding seketika. "Kau sudah melakukan itu dengan Junmyeon, kan?"

.

Whut O_O?

.

Yixing melepaskan diri lagi. Berbalik menghadap Luhan dengan tatapan tak mengerti, "Haaaa?"

Senyum menyebalkan terpatri si wajah Luhan, "Aaaa jangan mengelak. Aku tahu." Dia colak-colek dagu Yixing. Sontak Yixing mundur. Wajah Luhan terlalu dekat.

"Haaaa?"

"Jangan pura-pura bodoh, Xing. Aku tahu kau bodoh jadi jangan ditambah-tambahi lagi, okeh?"

.

Twitch!

.

"SIAPA YANG KAU MAKSUD BODOH, GE?!"

"Wohooo~" Luhan mundur menghindari semburan Yixing. Dia menggerakkan kedua tangannya bermaksud membuat Yixing tenang, "Kalem, man."

"Bagaimana bisa kalem kalau gege ngomongnya menyebalkan terus? Lagipula darimana gege mendapatkan kesimpulan konyol seperti itu?"

Luhan menjentikkan jari, "Mudah saja. Dilihat dari cara berjalanmu. Apa itu kurang cukup?"

Cara berjalan? Apa ada yang salah dari caranya berjalan? Dia kan hanya—TERSEOK! Mampus Luhan salah paham lagi.

"Ge. Kurasa kau salah paham." Yixing berusaha menepuk pundak Luhan namun ditangkis oleh yang bersangkutan.

"Ow, ow, kau tak bisa menghindariku lagi."

Yixing mengepalkan tangan, "Ge, aku mencoba bersabar."

"Coba saja kalau bisa. Aku tahu apa yang kau tak tahu, Xing."

"ITU NAMANYA SOTOY. GEGE MEMANG SOTOY DAN DENGARKAN AKU DULU!"

Sayang sekali Luhan tak sempat menghindar. Dia terkena muncratan Yixing. Sambil mengelap wajah dia menatap Yixing yang ngos-ngosan, "Oke."

"Ini. Semua. Gara. Gara. Gege." kata Yixing penuh penekanan di setiap katanya. Masih memejamkan mata takut emosinya meledak lagi.

Luhan cengo. Menunjuk dirinya sendiri, "Aku?

"Ya. Itu karena gege. Gege yang minta tambah sambel ke bibimbap yang waktu itu kita beli, kan? Padahal aku sudah bilang tidak usah pakai sambel dan gara-gara itu aku mencret. Bokongku sakit gara-gara itu."

"Haaa? Bibimbap? Kamu? Sambel? Mencret?"

"IYA. IYA. IYA. IYA." Yixing mencak-mencak. Untung koridor sedang sepi.

Luhan menggaruk belakang kepala, "Bukannya itu bibimbap untuk Junmyeon? Kok kamu yang makan? Kamu main monopoli, ya?"

"Tidak, ge. Aku tidak main monopoli. Aku tidak suka, sering kalah, banyak hutang."

Luhan menepuk kening, "Bukan itu maksudku."

"Iya, iya aku tahu, tadi cuma curhat." Yixing mengibaskan tangan.

"Lalu?"

"Aku sudah menyuruh Junmyeon untuk makan bibimbap beracun itu—"

"KURANG AJAR KAMU BILANG BIBIMBAPKU BERACUN."

"—tapi dia tidak mau. Aku terus memaksanya dan aku kalah pertempuran. Walhasil aku memakan satu sendok bibimbap itu. Padahal cuma satu sendok, tapi karena perutku belum siap menerima keadaan yang cukup ekstrim jadinya dia ngambek, mencret deh." Yixing lanjut mengabaikan protesan Luhan. Sementara Luhan makin cengo. Pakai bertempur segala?


Mungkin benar juga apa yang Luhan katakan tadi. Hubungan Yixing dan Junmyeon ada kemajuan. Entah Luhan tak berpikir tentang apa yang Yixing lakukan namun yang jelas ini semua berawal sejak kejadian mencret itu. Selama tiga hari Yixing absen mengajar dan selama itu pula dia mendapat hikmah dan hidayah dari Yang Maha Kuasa berupa kepekaan terhadap segala perhatian Junmyeon. Sampai mengorbankan diri tidak masuk sekolah—padahal dia punya hutang capcin sama Kyungsoo—dan menjadi babu Yixing yang tidak bisa jauh-jauh dari toilet.

("Ugh, Myeon, bokongku panas."

"Tunggu sini."

"Mau kemana?"

"Mau ke warung beli es batu. Nanti kamu kompres sama itu."

"JUNMYEON BLOÓN!")

Bahkan Tao pun ikut senang melihat Yixing—yang di matanya—berusaha menghindari Junmyeon tiap kali mereka berpapasan akhir-akhir ini. Jujur saja mungkin karena intensitas waktu bertemu dan seringnya dia berangkat bersama Junmyeon dan Yixing, melihat dua orang itu tidak akrab (padahal aslinya tidak akrab) dia merasa brokoro sendiri. Mungkin Tao sudah menjadi Sulay shipper.

Seperti saat ini. Sekarang dia sedang duduk di bangku semen depan kelas bersama Jongin yang sibuk main Flappy Birds. Itu anak sedang ketagihan karena berhasil main sampai level dua. Padahal sebelumnya dapat satu skor saja susahnya minta mampus. Sedangkan Tao sendiri ngemil pocky. Dia sudah habis tiga pak berhubung pocky sedang ada promo berhadiah samsul galaxy five plus garskin pocky.

Tak sengaja mata berkantungnya bersirobok dengan dua orang yang sangat tidak asing baginya. Dari kejauhan yang satu nampak mengomel dan yang satunya lagi stay cool.

"Kau itu kalau ada guru menerangkan di depan didengarkan, dong."

"Hn."

"Jangan mentang-mentang pintar kau meremehkan seorang guru."

"Hn."

"Nilai sikapmu bisa mendapat D, lho."

"Hn."

"Dan aku mulai sangsi apakah kau benar-benar pintar karena daritadi tanggapanmu han hen han hen saja."

"Inggih, ndoro."

"Begitu lebih baik."

Tanpa sadar bibir Tao tersenyum, berbanding terbalik dengan ekspresi yang ditunjukkan dari siswa-siswi lainnya yang melihat interaksi antara guru dan siswa itu.

"Apa, sih Tao daritadi cengengesan terus. Bikin bingung saja." Jongin protes namun matanya tak lepas dari layar tab.

"Tidak ada apa-apa, tem."

"Jangan panggil gue item! Gue sudah putih."

"Apanya?"

"Gigi gueh."

Taopun segera pergi dari sana. Malu punya teman seperti itu.

.

.

.

To Be Continue


Setelah Dae review, ada banyak typo. Jadi Dae perbaiki lagi dan ada beberapa tambahan sedikit. Kalau masih ada typo, asli itu hanyalah kesalahan mata Dae yang slehor.

RnR nanodayo *cling*

SHARARA GOES ON!