Hola, como estas? ?
Terimakasih buat semuanya yang masih menghendaki fic ini berlanjut. Suntikan semangat kalian buat Cygnus mengecap setetes kasih sayang hehe
Maaf banget karena Cygnus menelantarkan fic ini dan hampir aja lupa sama fic ini. Terlalu sibuk dengan tugas (kuingin menikah saja xD) sampai-sampai ga ada waktu dan ga ada ide buat diwujudkan dalam bentuk cerita.
Aku harap kelanjutannya ga mengecewakan kalian karena jujur aku lupa mau nulis apa hehe
Udahlah…let's see what would happen with this story…..happy ending, sad ending atau ancurrrr? Haha
Hope y'all enjoy this story! Check this out!
WARNING : GAJE/ABAL/TYPOS/MEMBINGUNGKAN
Cygnus Jessenia
.
.
.
Mempersembahkan
.
.
.
.
GOLDEN
.
.
.
Bab 10
Suasana di Malfoy Manor mendadak menjadi begitu dingin dan beku. Kesunyian seakan merambat kesetiap sudut ruangan, mengisi setiap celah dinding dan membuatnya sedingin es. Tak tampak aktivitas dari penghuninya kecuali seorang gadis yang memasukkan beberapa bajunya kedalam tas berukuran sedang. Ia melipat pakaiannya dengan hati-hati tanpa menggunakan bantuan sihir. Si gadis terpaku tatkala pintu kamarnya terbuka dan ia tahu siapa orang yang menganggunya, tak lain adalah saudaranya, Draco Malfoy.
"Kau mau kemana?" tanya Draco.
Pemuda itu telah dibebaskan dengan beberapa syarat –tidak mendekati Hermione (membahayakan)- karena dinilai tidak sepenuhnya bersalah. Keputusan juri dalam persidangan mengalahkan prasangka pribadi Cornelius Fudge terhadap Draco. Sayangnya, Lucius Malfoy tidak bisa mangkir dari kesalahannya sehingga kepala keluarga Malfoy tersebut dipenjara di Azkaban atas kejahatan penyerangan terhadap Draco Malfoy.
Keadaan Manor semakin sepi mengingat Narcissa masih dirawat di Rumah Sakit.
"Menemani Mum. Aku akan tidur di Rumah Sakit," kata Hermione sembari menarik resleting tasnya.
Wajah Draco tiba-tiba saja mengeras. Rahangnya bergemeletuk.
"Apa kau perlu membawa baju sebanyak ini? Kau tidak bisa pulang?"
Draco melangkah mendekati Hermione. Pemuda 22 tahun itu membuka kembali tas adiknya dan mengembalikan setengah isi tas ke dalam lemari.
"Aku tidak akan pulang untuk sementara waktu. Aku …akan tinggal di Godric Hollow….bersama pamanku," Hermione tidak mengacuhkan sorot mata Draco yang seakan hendak mengulitinya. Sedangkan kakaknya nyaris beruap mendengar keputusan gadis yang telah menjadi adiknya selama 17 tahun itu.
"You want to leave me?" rasa takut akan kehilangan segera menyergap diri Draco, "Kau meninggalkanku?"
"Pengadilan mengharuskanku tinggal bersama waliku yang sah-" perkataan Hermione terpotong karena Draco menyambar tas Hermione dan membuangnya ke pojok kamar. Yang Hermione ingin tuntaskan dan jelaskan adalah ia diharuskan tinggal bersama Dumbledore dan Aberforth untuk sementara waktu. Prosedur mengharuskannya menghabiskan satu tahun masa pengasuhan bersama walinya yang sah hingga usia dimana Hermione dianggap dewasa dan bisa hidup sendiri yaitu 18 tahun. Bagaimana pun juga hak asuh Hermione berada di tangan Dumbledore, ayah baptisnya yang asli.
"Aku tidak peduli dengan pengadilan. Aku melarangmu pergi!"
"Kau tidak bisa melarangku. Aku bukan adikmu…..Aku memutuskan untuk pergi- aww," Hermione meringis kesakitan tatkala Draco menarik tangannya dengan paksa. Mata Draco berbeda dengan biasanya, kelabunya tak sejernih biasanya. Matanya goyah, air mukanya muram.
Pemuda itu menjadi lebih sensitif setelah terkena mantra cruciatus dan melewati persidangan yang sengaja disetting untuk menelanjangi seluruh keluarga Malfoy. Seolah-olah Draco takut jika barang berharganya diambil orang lain. Pemuda berambut pirang platina itu juga tak segan untuk mulai menyakiti gadis yang selama ini ia jaga.
"Atau kau berpikir untuk menjadi pahlawan untukku? Menjauhiku karena aku sekarang terbukti menggunakanmu saat usiamu masih 13 tahun? "
Hermione tak peduli dengan kemarahan Draco. Ia menepis tangan Draco dan mengambil tasnya kembali serta melangkah menuju pintu utama. Tak disangka di lantai bawah telah menunggu Harry Potter dan Ron Weasley bersama Dobby. Peri rumah itu takut setengah mati ketika melihat Draco yang bersungut-sungut mengejar Hermione.
"Mione, are you okay?"
Hermione tak menjawab keingintahuan Harry Potter. Gadis cantik itu justru memeluk pemuda berkacamata itu dengan erat. Ron tampak kebingungan. Hermione menyuruhnya datang bersama Harry untuk alasan yang tidak jelas. Surat dari Hermione lebih kepada berisi ancaman daripada permintaan.
'Datang ke Manor atau kalian akan menyesal'
"Kau ingin aku membayar mahal agar kau tetap disini?" Draco memegang lengan Hermione yang masih memeluk erat Harry.
"Aku hanya ingin mengakhiri semua kemelut ini. Berhenti berkata-kata seolah kau membeliku. Jika kau memang punya uang sebanyak itu pergi dan bersenang-senanglah dengan wanita lain," bentak Hermione di depan muka Draco.
Draco mengenggam leher Hermione karena kata-katanya yang menohok dan melukai harga diri Draco. Pemuda itu mencintai Hermione secara tulus bahkan saat Hermione masih berstatus sebagai adiknya.
Draco merebut Hermione, ia mencium bibir gadisnya dengan brutal sama seperti saat ia pertama kalinya dimana rasa ingin memiliki menguasai Draco muncul dan aliran darahnya begitu cepat karena ia berhasil menghancurkan batas kakak dan adik.
Harry dan Ron dibuat melongo. Mereka berdua merasa menjadi pelaut yang terdampar di tempat dan waktu yang salah.
"Tidak akan ada orang yang mau menerima perempuan sepertimu di luar sana…,"
"Perempuan sepertiku? Anggapan apa yang ada di luar sana? Aku kotor? Seorang adik yang melacurkan diri pada kakaknya? Jalang kecil?"
"Ya."
Hermione balas menampar Draco dengan keras. Nafas gadis itu memburu. Keduanya seperti saling balas, menyakiti satu sama lain.
"Aku melakukannya untukmu, Draco. Aku memilihmu. Aku melepaskan statusku sebagai Malfoy untukmu."
.
.
.
"Aku tidak pernah siap kehilanganmu."
"Aku tahu," Hermione mencium rambut Draco saat pemuda yang 5 tahun lebih tua darinya itu menyembunyikan wajahnya di bahu Hermione. Keduanya berdiri di ambang pintu Manor sedangkan Ron dan Harry telah menunggu di gerbang depan.
Draco dapat menekan amarah dan rasa kecewanya setelah sempat adu mulut dengan Hermione. Pemuda itu memang tak pernah menang berdebat melawan Hermione. Ia tidak akan pernah bisa mencegahnya untuk pergi. Gadis keras kepalanya membuatnya menelan bulat-bulat amarah dan memaksanya untuk bersikap layaknya pria bijak.
"Hanya satu tahun?"
"Hanya satu tahun!"
Hermione kembali mencium Draco sebelum akhirnya pergi bersama Harry Potter dan Ron Weasley. Hermione tahu jika kedua sahabatnya itu tidak datang maka Draco bisa saja melakukan hal gila untuk menahannya pergi.
Mata abu-abu menangkap siluet tubuh Hermione yang menjauh ke arah halaman Manor sebelum pada akhirnya adik angkatnya menghilang di tengah udara kosong.
.
.
"Kau yakin kakakmu…maksudku Draco Malfoy akan baik-baik saja?" tanya Harry Potter pada menit pertama mereka setelah mereka muncul dari udara kosong di depan rumah Aberforth dan Dumbledore di Godric Hollow.
"Dia sedikit aneh….atau mungkin sedikit terganggu," sahut Ron.
"Dia akan baik-baik saja sampai aku kembali.
Dua minggu sejak kepergian Hermione, gadis itu akhirnya kembali ke Hogwarts. Berita tentang dirinya tersebar bagaikan gelombang suara. Setiap murid Hogwarts mengetahui masalahnya setelah wajah gadis itu dimuat menjadi cover pembuka Daily Prophet. Hermione menduga jika Fudge bersekongkol dengan Rita Skeeter atas pemberitaan tentang keluarganya yang tidak masuk diakal.
Rita Skeeter melebih-lebihkan cerita dan menggambarkan Lucius layaknya seorang bandit sedangkan Hermione dan Draco adalah dua anak tak bermoral. Sekarang Hermione harus terbiasa dengan tatapan benci dari setiap gadis terutama para gadis Slytherin.
"Pantas saja dia masuk Gryffindor, dia bahkan terlalu berani menggoda Draco Malfoy," kata salah seorang gadis Slytherin yang duduk menghadap Hermione. Hermione yang tadinya ingin menyuapkan sesendok kentang tumbuk ke mulutnya langsung kehilangan minat.
"Kau kenapa, Mione?" tanya Harry.
"Nothing. Sebenarnya aku tidak terlalu lapar," jawab Hermione.
"Jangan hiraukan mereka, Hermione. Kau tahu…..herekah hanha uri (mereka hanya iri)," ucap Ron Weasley sembari mencoba menelan sebuah bakso utuh.
Sebutan Malfoy palsu terus melekat pada Hermione sampai suatu pagi saat para penguji kementrian menanyakan nama Hermione saat ujian Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.
"Silakan miss Malfoy!"
"Granger. Hermione Granger," jawab Hermione mantap sebelum pada akhirnya menunjukkan skill individunya.
Separuh ruangan terkejut setelah mendengar jawaban singkat Hermione bahkan ketika gadis itu diharuskan untuk berduel dengan murid Ravenclaw, Padma Patil, sama sekali tidak bisa fokus. Karena hal tersebut pula lah, Hermione dengan mudah mengalahkan Padma Patil. Hanya butuh mantra melucuti senjata, beberapa mantra non-verbal dan mantra ikat. Dalam 30 detik Padma Patil terbujur kaku di lantai batu dan Hermione meninggalkan ruangan tanpa senyum sedikitpun.
_GOLDEN_
"Hermione, are you serious? Maksudku te-tentang Granger itu?" Ron Weasley berlari sembari membawa sebuah buku dan bola kaca sihir. Dengan susah payah Ron dan Harry mencari keberadaan sahabat perempuan mereka. Pada akhirnya mereka menemuka Hermione tengah duduk di salah satu kursi di perpustakaan dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Hermione menangis.
Gadis berambut coklat keemasan itu segera menghindar dan memilih melarikan diri namun Ron dan Harry berhasil menyusulnya.
"Yeah, I am Okay. You guys don't have to be worry," ucap Hermione.
"Kenapa tidak memberitahu kami?" tanya Ron dengan nada agak kesal. Pada saat yang sama bola kaca Ron menggelinding kemudian pemuda itu memanggil kembali bolanya secara sihir.
"Couldn't tell you," Hermione mempercepat langkahnya, "no chance."
"No chance?" Ron mendengus pelan. Ia menatap Harry kemudian kembali ke Hermione, "kita hampir selalu bersama dan kau bilang 'no chance'? kau pikir aku percaya dengan itu?"
"Bagaimana bisa kau menyembunyikan hal sepenting ini? Kau sudah tahu segalanya dan menanggungnya sendiri?" tambah Harry.
"Menurutmu aku harus bagaimana, Harry? Memberitahu semua orang jika ayah kandungku mati dan ibuku bunuh diri? Mereka bahkan tidak menikah," Hermione mendengus, "Mengeluh bahwa aku seorang yatim piatu? atau memproklamirkan diriku sebagai seorang Granger?"
Harry segera memeluk Hermione dan menepuk-nepuk punggung sahabatnay itu perlahan-lahan.
Hermione mengerti kemarahan Harry dan Ron. Meski Dumbledore telah mengungkap jati dirinya di Pengadilan –pengakuan itu disebarluaskan oleh Daily Propher- tapi Kepala Sekolah Hogwarts itu belum menyebut nama ayah Hermione di depan umum.
Hermione melihat mata kedua temannya membesar. Ia mengusap muka dengan sebelah tangannya dan menghela nafas panjang, "I am sorry Harry, I am sorry Ron," ia merangkul tubuh kedua sahabatnya.
"Hey, it's not your doing. You know what? Kami tidak seharusnya memaksamu untuk memberitahu kami…ehhmm..maksudku kau berhak memutuskan apa yang ingi kau lakukan dan tidak kau lakukan. Seharusnya kami memahamimu," kata Harry.
Hermione tersenyum tipis sedangkan Harry dan Ron berjanji tidak akan membiarkan Hermione jatuh berkali-kali.
Ujian N.E.W.T.s telah selesai. Seperti prediksi Ron dan Harry, Hermione menjadi murid dengan nilai terbaik tahun ini. Gadis itu menghabiskan sepanjang waktunya –mungkin juga sepanjang hidupnya- untuk belajar sedangkan mereka dan murid lainnya mungkin hanya mempergunakan 3 bulan sebelum ujian untuk belajar dengan tekun.
Hermione begitu canggung saat Dumbledore memanggilnya ke depan. Nama Hermione Granger bergaung di mana-mana. Ia telah menyepakati akan memakai nama ayah kandungnya meski tidak ada ikatan pernikahan antara Ariana dan Henry Granger. Menyandang nama Granger yang seorang muggle bukan apa-apa dibanding harus menyematkan nama Dumbledore di belakang namanya. Satu nama Dumbledore di belakang namanya berarti satu tebasan bagi kewibawaan Kepala Sekolah Hogwarts. Hermione tidak ingin menghancurkan siapapun lagi.
Pada malam pesta kelulusan, Hermione berdiri di salah satu sudut aula. Ia menyuruh Harry dan Ron untuk pergi berdansa. Kedua temannya itu menawarkan diri untuk menjadi pasangan Hermione namun sang gadis semak menolak mereka dan memilih datang tanpa pasangan. Bukannya tidak ada pemuda yang ingin mengajaknya ke pesta dansa melainkan Hermione sendirilah yang membangun tembok antara dirinya dan dunia laki-laki. Hermione sudah mengulang kata ini untuk yang keseribu kalinya bahwa ia tidak mau mempermalukan siapapun lagi.
Hermione hanya tersenyum tatkala melihat Ron menginjak kaki pasangan dansanya dalam keremangan lampu sihir. Ia juga bisa menangkap tatapan mata nakal dari beberapa murid laki-laki yang saling berbisik maupun tatapan membunuh dari gadis-gadis.
She doesn't give a damn. Hermione tidak peduli. Mencoba untuk tidak peduli.
"Mau berdansa denganku?" bisik seseorang. Aliran ini...deru nafas yang sama yang pernah ia dengar pada malam-malam di musim dingin. Perasaan hangat menjalar di sekujur tubuhnya. Suara ini...suara yang selalu berbisik dalam nada sendu saat jiwanya terbang entah kemana. Mungkinkan?
"No, thank y-" gadis itu berbalik dengan antusias dan terlonjak pada saat yang bersamaan.
"Kau?...b-bagaimana kau bisa ada disini?" Hermione meragukan bahwa ia melihat hal yang nyata. Delusi macam apa ini? Delusi aneh apa yang datang pada malam pesta kelulusan?
"Seekor burung hantu serak datang ke Manor pagi ini dan membawa sebuah undangan. Tertulis jika murid terbaik tahun ini butuh pasangan ke pesta."
Hermione tertawa kecil dan mengusap pipi pucat Draco Malfoy. Malfoy terlihat kurus seakan-akan semua daging pada tubuhnya menghilang perlahan-lahan. Tulang pipinya yang sebelumnya sempurna agak lebih menonjol. Draco terlihat lelah namun Hermione tidak menampik bahwa mata pemuda yang dicintainya itu sungguh membuatnya lumpuh. Pandangan mata yang mengidamkan sesuatu. Draco memandang Hermione penuh kelembutan dan intens seakan-akan takut jika Hermione menghilang dari pandangannya. Mata kelabu itulah yang selalu menahannya, menjeratnya perlahan-lahan.
"Kau terlihat menyedihkan. Lihat, kau menyisakan 2 cm rongga antara leher dan kerahmu," bisik Hemione. Gadis cantik itu mendekatkan wajahnya pada lekukan leher Draco.
"Kau meninggalkan rindu yang lebih lebar dari 2 cm, Hermione," Draco mengukir senyum tipis,"aku senang kau baik-baik saja. Setelah melihatmu…aku merasa lebih baik….so much better," balas Draco. Bibir pria itu menciumi jari tangan Hermione kemudian beralih pada bibir sang gadis. Draco menyesapnya seperti orang kehausan, menggigitnya perlahan-lahan seperti sedang menghabiskan makanan mahal.
"I missed you," gumam Hermione.
"Aku merindukanmu…setiap hari, well, kau sangat cantik, Hermione," ciuman Draco di bibir Hermione terhenti saat gadis itu memalingkan muka.
"Ada apa?"
"Jangan menciumku di depan orang banyak, Draco," gerutu Hermione.
"Mereka juga akan melakukannya setelah pesta berakhir. Kau pikir apa artinya pesta kelulusan tanpa sebuah ciuman cuma-cuma, hm?" Draco menyeringai.
"Draco," Hermione melotot. Nalurinya sebagai seorang murid teladan tidak pergi begitu saja.
"So, aku pikir kita membutuhkan sedikit privasi, ya kan?" goda Draco. Ia mengusap sudut bibir Hermione dan menekankan ibu jarinya ke dalamnya.
Hermione memejamkan matanya, mencoba merasakan sentuhan jari-jari Draco Malfoy. Rasa nikmat itu datang lagi, rasa nikmat yang pernah Hermione rasakan pada bagian tertentu tubuhnya. Ahh sial
Hermione dan Draco menarik diri dari pesta. Draco menggiring Hermione ke lemari sapu. Pemuda tampan itu mendorong gadisnya ke dalam lemari sapu kemudian menciumnya tanpa ampun.
"Aku pikir kita bisa mencari tempat yang pantas, Mr. Malfoy," Hermione membiarkan Draco mencium lehernya.
"I need my little baby," Draco menyeringai. Ia menekankan kuku-kukunya ke pantat Hermione.
"You hurt me, Draco!"
Gaun putih Hermione tersingkap. Draco menarik turun tersebut dari dada Hermione sehingga payudara Hermione tergantung indah di depan mata Draco. Hermione mengerang ketika Draco menyerangnya dengan beringas.
Pemuda itu kelaparan dan ia ingin memuaskan rasa laparnya malam ini juga
"Hmmm….kau datang hanya untuk ini?"
Jari Draco merayap kemana-mana, membelai perut Hermione, membelai pangkal paha Hermione dan terus bermain di sana.
"Aku datang untuk menyenangkanmu. I know you want it, right?"
Hermione memutar bola matanya sebelum pada akhirnya mendesah pelan tatkala Draco mengecup bagian privat Hermione. Gadis itu melihat gairah yang berkobar di mata Draco. Ia melihat Draco yang berusaha bermain lembut dan mengendalikan diri dengan baik untuk saat ini.
Hermione membalas ciuman Draco. Gadis itu mengecup bibir, leher, dada dan berhenti pada saat mencapai pusar Draco Malfoy.
"I know you want it also, am I right?" Hermione berlutut. Tangan gadis cantik melepas ikat pinggang Draco, membuka resleting prianya perlahan-lahan dan melakukan hal yang bisa membuat seorang laki-laki bisa menghirup hawa surga dalam 5 menit.
Draco mendesah pelan, "katakan padaku, siapa yang mengajarimu menjadi ahli dalam hal ini?"kata Draco sembari memegangi kepala Hermione, "Oh shit..."
Setelah gelombang kepuasaannya datang, Draco sama sekali tak bisa melarikan diri. Ia menyuruh Hermione berdiri dan berbalik membelakanginya.
"I want you! I want to fuck you hard, Hermione!" kata Draco dalam geraman.
Hermione dan Draco jatuh kedalam kenikmatan, memuaskan rasa rindu dengan sentuhan fisik yang memabukkan. Terus menerus memacu gairah dalam persegi panjang sempit, berdebu, berbau apek, dan pengap.
Hermione merasakan kalau tak lagi menapak lantai, tubuhnya tak berdaya, dikendalikan bagai boneka tali oleh tuannya.
"Draco…Draco…," erangan Hermione tertahan tatkala Draco menggunakan sebelah tangannya untuk membungkam mulut Hermione.
Gadis bermata hazel itu menggigit jari tengah Draco untuk membendung desahannya.
"Draco…..aku tidak…tidak bisa lagi-," kalimat Hermione terpenggal karena Draco mencengkeram rahang Hermione dan mencium gadisnya itu dengan membabi buta.
"Fuck! Aku belum selesai," Draco memerangkap kedua tangan Hermione, menempatkannya di belakang punggung gadis itu sementara ia sendiri mempercepat gerakannya, "Kita akan seperti ini sepanjang malam."
Draco menyeringai sementara Hermione merintih karena Draco benar-benar ingin melewatkan malam dengan aktivitas bercinta yang tidak biasa.
"Aku tidak akan bisa berjalan besok, Draco,"
"Memang itulah tujuanku, Love."
Draco ingin menuntaskan gairahnya malam ini, menguras rasa rindunya sampai ke dasar hati dan menggantinya dengan candu abadinya, Hermione. Luapan gairah, nafsu dan cinta yang tak bisa dibendung menenggelamkan mereka dalam usaha untuk mencari kepuasan serta mengabaikan suara dunia yang penuh sarkas dan caci maki.
Hermione menggigit bibir bawahnya ketika ia merasakan gelombang hebat di perutnya. Tangan lentiknya meraba perut Draco dan berusaha mendorong tubuh pemuda 22 tahun itu. Hermione merasakan Draco meledak di dalam dirinya….membuatnya ingin pingsan seketika.
"Draco…no…," Hermione berbalik dan mendorong bahu Draco saat kepala kejantanan pemuda itu menyentuh tepian vaginanya kembali.
"Kau mengatakan sesuatu, Hermione?" Draco tidak mempedulikan complain Hermione.
Nafsu dan rindu pria berambut pirang itu membakar dirinya dan Hermione dengan hebat. Aksinya baru berhenti setelah ia merasakan gigi Hermione bergemeletuk di pundaknya. Tubuh gadisnya lunglai, matanya terpejam, raungan mengalun cukup keras dari mulut Hermione.
Draco tahu benar jika dirinya menghancurkan Hermione namun hasratnya tidak mampu lagi dikendalikan. Hermione dan tubuhnya adalah oase. She belong to him. Ini bukan hal yang salah, dia hanya mengambil apa yang menjadi miliknya.
"Stop! Draco…please …..," erang Hermione. Tangan rampingnya berusaha mendorong pinggul Draco.
Draco benar-benar berhenti. Namun tangannya naik ke leher Hermione. Kabut di mata Draco masih sama seperti sebelumnya. Kabut-kabut itu masih menggambang, menyebar, menyatu, dan berputar-putar.
"Kau tahu, kata-kata itu tidak pernah berhasil terhadapku," Draco mengecup bibir merah Hermione.
Satu sentakan keras mengawali permainan Draco lagi. Pria itu mengenggam leher Hermione seolah-olah ia akan membiarkan gadisnya mati kehabisan nafas. Pemuda itu menahan tubuh Hermione yang kelelahan, mencium bibir gadisnya yang membuka tutup.
Erangan cukup keras lolos dari mulut Draco tatkala ia meledak kembali, mengisi tubuh Hermione dengan bagian dirinya yang lain.
"I'll give you the new life….better life, Hermione…so much better."
Hermione terkejut saat mendapati ibunya duduk di atas ranjang sembari menatap baju-baju bayi yang Hermione ketahui adalah miliknya.
"Mum," panggil Hermione. Gadis itu masuk perlahan-lahan sembari membawa sebuket bunga daisy.
Narcissi terlihat lebih tua dari yang Hermione ingat. Mungkin 5 tahun lebih tua. Hanya sisa keningratannya saja yang mengesankan bahwa Narcissa pernah hidup makmur dan waras.
"Mum, ini aku..Hermione!" bisik Hermione.
Narcissa mengalihkan pandangannya dari tumpukan baju ke wajah Hermione.
"I know it's been a long time since we met. Mum pantas marah padaku karena tidak bisa menemanimu beberapa bulan ini."
Narcissa terdiam. Mata kelabunya bergerak gelisah lalu kembali menatap tumpukan baju kemudian wanita separu baya itu terlihat mencari-cari sesuatu. Seorang healer mengatakan jika Draco membawa baju-baju bayi itu 4 bulan yang lalu. 37 hari setelah Narcissa masuk ke Saint Mungo. Narcissa terus meminta Hermione dan Draco tahu benar bahwa ia tidak bisa mengabulkannya.
"A-aku sudah menyelesaikan tahun ketujuhku dengan baik. Tapi aku melewatkan banyak hal….keadaanmu, Dad, dan Draco. Mum tahu, Draco menjadi semakin kurus…k-kurasa nomer celanannya turun satu tingkat," Hermione berusaha tertawa, ia menyeka helaian rambut yang jatuh ke keningnya. Hermione seolah-olah bicara paa dirinya sendiri.
Hermione meletakkan kepalanya pada salah satu paha Narcissa. Ia ingin merasakan kehangatan pangkuan ibunya. Ia pernah duduk di atas pangkuan itu bertahun-tahun yang lalu kemudian Hermione dipaksa mengakui jika pangkuan itu bukan miliknya.
Sihir seakan bekerja saat tiba-tiba Narcissa menyentuh kepala Hermione, perempuan setengah baya itu mengelus puncak kepala Hermione perlahan-lahan. Meski begitu ekspresi wajahnya tetap datar. Tak nampak perubahan mimik yang signifikan.
"Cepat kembalilah," gumam Narcissa.
"Mum? Apa maksudmu?" Hermione bangkit dan menatap wajah perempuan yang telah membesarkannya itu.
"D-Dracoku sangat mencintaimu," sudut mata Narcissa mulai berair. Jadi selama ini wanita itu sudah cukup waras dan mengerti segala yang terjadi hanya saja terkadang ia memilih untuk menutup mata dan menulikan dirinya sendiri.
Penjelasan Draco dari waktu ke waktu membuat Narcissa sadar bahwa putranya memang dibutakan oleh cinta. Putra semata wayangnya bahagia sekaligus tersakiti oleh cintanya sendiri. Narcissa selalu menyadari ekspresi kesakitan macam apa yang ada di mata Draco setiap pemuda mengunjunginya dan kini ia melihatya di mata Hermione. Apa lagi yang bisa lebih menyiksanya daripada mengertahui bahwa dua orang terpenting dalam hidupnya merasa tersiksa?
Draco adalah alasannya untuk hidup sedangkan Hermione adalah alasannya untuk selalu bahagia.
"Kau pergi…maka kembalilah. K-kembali menjadi putriku. Kembalilah sesegera mungkin. Putraku membutuhkanmu. Kumohon kembalilah untuknya."
Mum….
.
.
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUED…..
Satu lagi pemirsa Xd
Tiba-tiba aku merasa baru aja nulis tentang adegan gitu-gitu yang berlebihan bahahaha.. maafkan Cygnus xD
Kuharap kalian ga bosen-bosen nunggu fanfic ga jelas ini dan semoga ku bisa menamatkannya dengan baik ^^
Well, kritik dan saran sangat dianjurkan dan dibutuhkan. So see ya next time! Bye
