Katekyo Hitman Reborn selalu milik Akira Amano-sensei, kalo saya yang punya, ceritanya bakal hancur ditengah dan kemunculan Hibari bakal aku banyakin :p
Hak milik saya hanya Aihara Sakura dan ceritanya, itu aja, gak lebih, gak kurang.
Tulisan miring berarti kisah masa lalu/cerita seseorang/mimpi/pikiran seseorang
Read, Enjoy, and Review!
Sakura Addiction
Dibalik semua itu, dia menyembunyikan ratusan kebohongan
Chapter Ten: A Truth and Thousand Lies
Sakura membuka kedua matanya, melihat sebuah pintu sorong ala Jepang yang besar dan mewah, dengan tatapan yang lurus—namun tanpa perasaan apa-apa.
"Aku tidak percaya aku akan kemari lagi," gumam Sakura yang kini memakai kimono yang indah berwarna merah, dengan obi berwarna kuning dan juga motif bunga yang melambangkan namanya—motif bunga Sakura yang berwarna merah muda yang cerah yang sangat indah. "Dan juga mengenakan kimono ini lagi. Merepotkan."
"Sakura-sama, daripada mengoceh seperti itu, apa tidak lebih baik menemui Keichiro-sama sekarang juga?" sahut Hayate yang terkesan buru-buru. "Keichiro-sama sudah…ehm, tidak sabar."
"Heh, benar, Ayah sudah tidak sabar," dengus Sakura kesal.
"Uh, Sakura-sama, saya—"
Sebelum Hayate bisa menyelesaikan pembicaraan itu, seakan-seakan Sakura tidak ingin mendengar apa kelanjutan kata-kata Hayate, dia membuka buka sorong itu, memasuki ruangan besar yang mewah itu dan menutup kembali pintu itu.
"Sakura?" panggil sebuah suara yang berat dari belakang sekat bambu. "Kaukah itu, Sakura?"
Sakura memutar matanya, menghela nafas. "Ya, ini aku Ayah," sahutnya malas. "Aku sudah kembali."
Seorang Murasaki Keichiro berdiri, dan keluar dari sekat bambu itu, memperlihatkan wajahnya. Pria berumur 45 tahun itu memiliki rambut hitam seperti Sakura, dan mata keemasan seperti Kazuki. Pria yang masih terlihat gagah itu memakai yukata berwarna hijau tua yang rapih. "Ah, sudah lama sekali kau tidak pulang, Sakura," sahutnya ramah. "Bagaimana—"
"Kakak. Kakak mana?" potong Sakura dengan wajah lurus, tanpa menunjukan rasa takutnya yang tersembunyi.
Keichiro menunjukan wajah heran. "Bukankah Kazuki sudah meninggal karena peluru nyasar?" tanyanya lembut. Sakura menyeringai.
"Jangan bercanda, Ayah," balas Sakura tajam. "Rasanya aku pernah mendengar skenario 'Kazuki mati' dari mulut seseorang."
"Ah, ternyata kekuatan ingatanmu memang menakutkan," sahut sebuah suara yang familiar dari daun pintu ruang sebelah. Sebuah sosok yang sangat dikenali oleh Sakura, sedang berdiri disitu berpangku tangan, mengenakan tuxedo hitam yang rapih dan terlihat mewah.
Sakura menengok ke arah suara itu, dan melihat Kakaknya berdiri dengan tanpa beban dan memasang senyum khasnya. "Yah, kalau aku buruk dalam menyembunyikan ekspresiku, maka Kakak buruk dalam berakting," sahut Sakura dan tersenyum meremehkan. "Lagipula, kukira sandiwara Kakak mati tidak akan menjadi seperti ini."
Kazuki menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. "Salahkan Hibari itu Sakura, dia mengacaukan segalanya," sahut Kazuki dan duduk di sebelah Sakura. "Jadi, aktingku benar-benar buruk?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu cukup bagus, Kak," puji Sakura.
"Ehm," Keichiro berdehem. "Jadi, bagaimana berkembangannya, Sakura? Ini sudah tenggat waktu misimu."
Senyum Sakura menghilang, wajahnya tenggelam dalam kesedihan. "Tidak. Sepertinya kabar itu salah, Ayah," jawab Sakura dan menutup matanya. "Kabar kalau ada kelompok mafia di SMP Namimori itu sepertinya hanya bohong belaka."
"Kau bohong, Sakura."
Sakura menatap mata Ayahnya mantap. "Tidak, aku tidak berbohong."
"Kau bohong."
"Apa wajahku terlihat seperti seorang pembohong, Ayah?" tanya Sakura dan tersenyum, menggunakan kata-kata yang pernah dipakai oleh Dino.
Keichiro hanya bisa menghela nafas. Dia beranjak berdiri, menghampiri kedua anaknya itu. "Dengar, kalian berdua," sahutnya sambil melihat mereka berdua. "Secara turun-temurun, keluarga Murasaki sudah melayani negeri ini sebagai keluarga penyidik rahasia, dan kabar tentang mafia Vongola di kota ini sudah menyebar—namun kebenarannya masih dipertanyakan."
Sakura mendecak. "Tapi sepertinya kita tidak harus memakai kedok sebagai 'keluarga yakuza' itu," protesnya. "Dan membual tentang Tragedi Murasaki. 'Tragedi berdarah' itu kan hanya cerita yang berlebihan, keluarga Murasaki tidak pernah membantai dan melukai warga. Pada saat itu kita hanya mengejar geng yakuza yang kebetulan kabur ke Namimori, kan?"
"Dan kuburan 'massal' itu juga hanya kuburan keluarga Murasaki," tambah Kazuki, membela Sakura. "Dan betapa cerdasnya Ayah memberitahu kalau kuburanku itu di kuburan orang lain yang kebetulan memiliki nama yang sama denganku. Hebat sekali!"
Keichiro terkekeh. "Kalian benar anak-anak bebal," sahutnya. "Dan aku suka itu. Nah, Sakura, kalau benar Vongola itu tidak ada di sekolahmu itu, misimu akan dicabut dan kau akan kembali ke sekolahmu yang lama."
"Eh?"
"Ya, kau tak mungkin terus bersekolah di sekolah jelek itu bukan? Dan aku dengar disana kau disiksa oleh Ketua Komite Disiplin sampai tubuhmu jadi bertambah lemah kan?" sahut Keichiro dan mengelus-elus rambut Sakura lembut. "Mungkin minggu depan kau akan kembali ke sekolahmu."
Sakura masih tenggelam dalam keterkejutan dan rasa bersalah. Dia sudah berjanji pada Hibari akan kembali, tapi, untuk saat ini, sepertinya…
-Sakura Addiction-
Hibari dan Kasukabe memasuki kamar dimana Sakura dirawat sampai kemarin. Meski tidak ada lagi sosok gadis yang menyambutnya dengan entah senyuman atau decakan, mereka tetap memasuki ruangan itu seakan-akan aroma gadis itu masih ada di situ.
"Ruangan ini terasa kosong," gumam Kusakabe. "Bukan begitu, Hibari-san?"
Hibari tidak menjawab. Dia hanya melihat sekeliling, dan berjalan ke tempat tidurnya dan duduk disitu. Tak lama, seorang dokter memasuki ruangan itu dengan wajah ketakutan. "Uh—Uhm, apakah…Hibari-san itu…uuh, walinya Murasaki Sakura-san?" tanyanya.
Hibari terdiam dengan wajah dingin. Dokter itu langsung ketakutan. "Maaf! Aku hanya ingin memberikan hasil check-up Murasaki-san saja!" sahutnya ketakutan dan memberikan Hibari sebuah file berwarna biru tua.
"Uuuhm—sepertinya Murasaki-san harus dioperasi secepatnya," sahut Dokter itu, masih ketakutan. "Kalau tidak—"
"Operasi?" potong Hibari.
"Eh? Hibari-san tidak tahu?" tanya Dokter itu terkejut. "Murasaki-san memiliki kelainan jantung. Dan memang dia lahir seperti itu. Saya salah satu dokter yang mengurusnya sejak kecil, dan penyakitnya memang sudah membaik, tapi akhir-akhir ini tubuhnya melemah."
"Melemah? Kenapa?" tanya Kusakabe dengan wajah terkejut. "Padahal, sepertinya dia baik-baik saja…"
Dokter itu menggeleng. "Tidak, dia tidak baik-baik saja," sahutnya. "Sepertinya, dia terlalu memaksakan dirinya untuk melakukan sesuatu, sehingga badannya tidak kuat menahannya."
"Jangan-jangan…ini karena tugas komi—"
"Kusakabe, diam," potong Hibari. Kusakabe melihat ke wajah Hibari, dan melihat perubahan ekspresi pada wajahnya, meski tidak terlihat sangat jelas.
"Ya…kalau Murasaki-san masih ingin hidup, dia harus melaksanakan operasi ini," sahut dokter itu. "Meski persentase berhasil-tidaknya operasi ini kecil…"
"Tapi, bukankah Sakura-san berasal dari keluarga yakuza?" tanya Kusakabe. "Kenapa dia memilih rumah sakit umum seperti ini? Seharusnya dia bisa operasi di luar negeri—"
"Keluarga yakuza? Apa yang kalian maksudkan?"
"Eh? Bukankah keluarga Sakura-san itu keluarga yakuza?"
Dokter itu terkekeh. "Bukan. Keluarga Murasaki itu sebenarnya—"
Mata Hibari terbelak mendengar kebenaran itu. Kebohongan Sakura selama ini terbongkar sudah. Kebenaran sudah terungkap, dan segalanya menjadi masuk akal.
Murasaki Sakura memang seorang pembohong ulung.
To be Continued…
Salahkan saya kenapa chapter ini lebih gaje daripada chapter-chapter sebelumnya. Ya, salahkan saya.
Err, oke, kebenaran Sakura disini hampir semuanya terungakap, dari siapa sebenarnya keluarganya, bagaimana keadaan tubuh Sakura, sama kenyataan kalau sebenarnya Kazuki belum mati. Kebenaran kalau keluarga Sakura itu penyidik negara kebaca yah?
Kenyataan kalau Sakura itu sakit jantung itu didedikasikan untuk adik sepupuku yang dari lahir udah sakit jantung, dan sekarang masih berjuang melawan penyakitnya. Doakan adik sepupuku yaa :)
Oke! Ayo, di-review! Pencet aja tombol imut-imut di bawah ini dan tuliskan keluh-kesah kalian! Yooo~
Thank You~
