Siapapun pasti pernah mendengar-sedikitnya satu kali-jika menyangkut tentang Uzumaki. Ketika nama itu disebut, kebanyakan orang akan menatap prihatin sambil menyatakan duka cita.
'Pengorbanan…', 'Tragedi…', 'Mistery…', dan… 'Musnah.'-Salah satunya pasti terdengar jika membahas tentang Uzumaki. Itu tak mengherankan, mengingat Uzushio, desa tempat mereka tinggal, hancur lebur dalam sebulan.
Saat itu merupakan puncak dari perang perebutan Wilayah. Dan di desa yang mulanya damai itu, secara tiba-tiba terjadi kerusuhan. Pemicunya tak diketahui. Ada yang bilang jika Klan Uzumaki membelot dan bergabung dengan Wilayah lain. Ada pula yang mengatakan tempat itu di serang musuh karena diduga merupakan tempat persembunyian Penguasa Wilayah. Ada lagi yang mengatakan jika desa itu ikut tersulut perang karena berada di perbatasan. Banyak rumor yang berkembang, namun tak satu pun yang tahu kejadian sebenarnya. Satu hal yang pasti , ratusan jiwa telah menjadi korban dari kekacauan yang timbul.
.
.
.
Fanfic ini murni hasil pemikiran penulis seperti yang tercantum di bawah!
DISCLAIMER : Masashi kishimoto – Naruto
Rosarypea– HERO X HEROINE
Rate : T+
Main character (s) : Naruto U. & Hinata H.
Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship
Warning : AU, OOC, typo (s), masih pendek, Flashback, alur kadang cepat-kadang lambat.
Jika tidak suka apa-apa yang berkaitan dengan cerita ini, lebih baik segera tekan tombol back!
.
.
.
Seperti tidak cukup puas dengan berbagai ketidakjelasan, Naruto lagi-lagi membuat Hinata bingung dengan mengajaknya berkunjung ke sebuah mansion mewah yang terletak di daerah terpencil, tepatnya di bagian tenggara yang jauh dari pusat kota.
Hinata mengira Naruto memiliki sesuatu yang perlu di urus lebih dulu, baru kemudian mereka akan kembali ke rumah kecil penuh tanaman itu. Jadi Hinata berinisiatif untuk menunggu di mobil, terlebih ia tidak ingin orang lain menemuinya dalam keadaan bibir bengkak karena digigit orang yang tidak lain adalah Naruto sendiri. Astaga, itu sungguh memalukan.
Sayangnya, anggapan Hinata harus pupus ketika pemuda pirang itu mengajaknya turun. Naruto berubah ke mode super perhatian ketika ia membantu Hinata keluar, kemudian berjalan mengiringinya hingga pintu depan. Laki-laki itu bertingkah seolah beberapa saat lalu mereka tidak sedang bertengkar.
"Sial. Kuncinya ketinggalan." Naruto merutuk pelan ketika sadar benda yang dicarinya ternyata tertinggal. Ia kemudian membunyikan bel dan menggedor pintu, sementara Hinata hanya membatu di belakangnya.
"Aku tahu kau di dalam! Jangan menyalahkanku jika pintu ini kurusak karena kau tak cepat keluar!" teriaknya keras, hampir mirip seperti rentenir yang menagih hutang.
"Berisik! Siapapun disana, sebaiknya berhenti berteriak atau kau akan menyesal!" Si empunya rumah balas mengancam. Langkah kakinya berderap kasar, hampir siap mendamprat siapapun yang berani mengacau di tempatnya sepagi ini.
BRAAKK…
"ADA URUSAN-Ck! Naruto rupanya. Masih hidup, eh?" seorang wanita muda melongok keluar dengan setelan gaun tidur kedodoran. Pandangannya menyiratkan rasa bosan yang teramat kentara. Kerah gaunnya melenceng ke arah kiri, mengekspos sebagian bahu dan leher putihnya yang entah kenapa penuh dengan ruam kemerahan. Naruto sebenarnya tahu itu apa, tapi ia memutuskan untuk tidak peduli.
"Bicara seenakmu saja." Bocah pirang itu mendengus. "Untuk sementara aku akan tinggal disini. Dan aku ingin kau…" Naruto sedikit bergerser, membuat pandangan wanita itu terarah pada Hinata yang berdiri dibelakang, "…mengurusnya."
Hinata mencoba menyapa sebisanya. Ia dalam posisi tidak tahu apa-apa, selain mengikuti arus yang Naruto ciptakan. Dia tidak kenal wanita itu, dan ia tidak mengerti mengapa Naruto memutuskan untuk membawanya tinggal di sini. Apalagi rasanya benar-benar tidak nyaman ketika wanita itu memelototinya dan terlihat hampir kehabisan napas. Namun detik selanjutnya, Hinata nyaris memekik ketika wanita itu menerjang ke arah Naruto hingga keduanya tumbang.
" Brengsek kau, Bocah! Aku tahu kau itu bodoh, tapi aku tidak mengira kau sebodoh ini! Sejak kapan kau berani menghamili anak orang?! Dan sekarang kau memaksanya melakukan Aborsi?! Astaga, gadis yang malang! Apa yang harus kulakukan sekarang? Naruto, aku tidak membesarkanmu untuk jadi seperti ini! Huaa… semua salahku!"
Giliran Naruto yang menatap bosan ke arah wanita yang tampaknya kini sedang memainkan salah satu drama picisan dalam serial tv yang mungkin sering ditontonnya. Sementara Hinata kelihatan begitu terkejut.
'Di-Dia Ibunya?!' batinnya menjerit.
"Berhenti bertingkah seperti kau adalah pengasuhku, Jidat lebar!" Naruto mendorong muka wanita itu, kemudian cepat-cepat bangkit berdiri. Dan sebelum ia mendapat amukan lagi, laki-laki itu segera membawa Hinata kabur ke lantai dua.
"Berhenti kau! Dasar brengsek!" Teriakan wanita itu menggema ke seluruh penjuru rumah.
Naruto segera mengunci pintu kamarnya, kemudian menerjang ranjang empuk yang memang sudah lama tidak ia tempati.
"Kau tidak boleh bersikap seperti itu pada Ibu-mu, Naruto-kun!"
"Dia bukan Ibuku Hinata."
"Tapi tetap saja-"
"Kalau begitu turunlah dan gantikan aku minta maaf."
"Eh? Tapi itu tanggungjawabmu Naru-"
"Pokoknya aku tidak mau!" potongnya keras kepala. Sekarang laki-laki itu malah semakin menyurukkan kepalanya ke tumpukan bantal. Hinata menghela nafas, memilih menyerah dan menggantikannya turun untuk minta maaf. Sebenarnya ia sedikit heran, karena tidak bisanya Naruto merajuk seperti itu.
"Namanya Sakura. Sekalian minta dia untuk memeriksa kondisimu. Dia dokter." Pesan terakhir Naruto sebelum Hinata berlalu.
Sekarang Naruto sendirian, dan rasa kantuk menggelayutinya begitu cepat. Setelah pertarungan panjang di hutan bersama Lee dan Tenten, Naruto hanya sempat bersiap-siap, kemudian langsung menjemput Hinata.
Di saat inilah kelelahannya menumpuk, membuatnya tak berdaya dan tertidur dengan cepat, sekalipun ia tidak senang berada di tempat ini. Tempat yang penuh dengan memori masa lalu. Membawa kembali kenangan suram masa kecilnya.
.
.
.
Sakit. Jari-jari kokoh itu mencengkram pergelangan tangannya seperti ular yang membelit mangsa. Erat dan seakan hendak meremukkan. Naruto tak berkutik, lidahnya serasa kelu ketika menatap sepasang mata jahat yang mampu membuatnya menahan napas. Otak yang harusnya penuh dengan pertanyaan itu kini dipaksa untuk fokus memikirkan cara, agar ia tetap dapat mengimbangi langkah panjang orang tua angkatnya tanpa terjatuh. Itu sudah pasti, karena ia sangat yakin sekalipun ia jatuh, lelaki jahat itu tak akan berhenti dan memilih untuk menyeretnya sepanjang jalan.
"Masuk!" Suara berat itu kembali terdengar. Naruto merasa tubuhnya terdorong hingga nyaris terjerembab.
Kyuubi menutup pintu, kemudian merebahkan diri di sofa terdekat. Matanya mengerling ke arah Naruto yang kini sibuk mengamati sekitar. Bocah itu pura-pura kuat meskipun sudut matanya berair, satu tangannya menggosok lengan yang memerah-bekas cengkraman tangan yang tercetak jelas. Tentu Kyuubi menyadarinya, namun ia tidak berkomentar apapun.
"Hei… sekarang apa yang harus kulakukan di sini?" Naruto memberanikan diri bertanya. Semenjak keluar dari panti, Kyuubi tidak menceritakan apapun. Dan ia sendiri juga tidak tahu bagaimana harus menyikapi keluarga barunya. Apa ia harus bersikap seperti anak penurut untuk dapat bermain dengan bebas? Rasanya tidak. Naruto tak berpikir hidupnya akan berjalan semudah itu. Lagipula di sana tidak ada sesuatu yang dapat dimainkan atau diajak bermain.
Kelihatannya Kyuubi juga tinggal sendiri. Dia tampak seperti pria liar yang enggan terikat. Itulah yang membuat Naruto bertanya-tanya mengapa laki-laki itu mau mengasuhnya. Dan satu pertanyaan menggelitik rasa ingin tahunya. Ia mencoba menatap balik laki-laki yang masih diam mengacuhkannya dan bertanya lagi dengan kepolosan seorang anak umur enam tahun.
"Apa aku harus memanggilmu Ayah?"
Tercengang, adalah reaksi yang kelihatannya tak mungkin Kyuubi tunjukkan, namun tidak untuk saat ini. Raut wajahnya terlihat Shock dengan bola mata yang membulat sempurna, sementara mulutnya setengah terbuka. Ia menatap Naruto seolah bocah itu baru saja bicara menggunakan bahasa alien.
Ayah, katanya? Ya ampun, Kyuubi merasa ingin tertawa kencang. Apa bocah itu mau melucu?
"Hmmph…" Pada akhirnya dia mendengus. Sorot mata jahat itu kembali dan seringainya makin melebar.
"Menggelikan." Oloknya, menohok perasaan si bocah polos secara telak. Naruto terhuyung ke belakang. Mata birunya bergetar saat beradu dengan tajamnya mata merah yang seakan membakar habis harapannya.
"Kau bodoh, ya?! Apa kau pikir aku memungutmu untuk memainkan drama keluarga tolol seperti yang kau bayangkan? Jangan bermimpi! Kau datang kesini untuk mati bocah!"
Kyuubi merasa mulutnya tak lagi berada dalam kendalinya. Semua kata-kata kejam itu terus meluncur, mengoyak habis perasaan Naruto hingga tak bersisa. Menekan kesadaran mentalnya hingga ke titik terendah. Air mata dan raut wajah terluka, yang bahkan terpampang jelas itupun masih tak mampu mengghentikan ocehannya.
"Lagipula kau yakin dengan fantasi konyolmu untuk memanggilku Ayah? Memanggil seseorang yang telah membunuh Ayah kandungmu dengan panggilan itu?-"
Seolah tak cukup, Kyuubi membombardir Naruto lagi dengan kenyataan pahit. Dan untuk sekejab, waktu serasa berhenti berdetak. Mereka beradu pandang. Tatapan tajam tanpa ampun melawan sorot terkejut yang penuh dengan rasa tidak percaya.
Apa ini? Naruto tak habis pikir ketika mendengar pengakuan bahwa orang yang bertanggungjawab mengasuhnya, malah terang-terangan mengaku bahwa dirinyalah pelaku pembunuhan orang tuanya.
Jadi begitu? Jadi itu alasannya berada di panti asuhan? Jadi karena orang inilah ia tumbuh sendirian? Lalu bagaimana mungkin dia datang dan kini menjadi mengasuhnya?! Apa ini candaan? Sungguh tidak lucu! Terlalu ironis hingga membuatnya muak.
Kenapa… ini harus terjadi padanya? Ini bukan lelucon kan?
Bocah itu terisak keras. Meremas kepalanya yang seakan hendak pecah.
"Kau mau memanggilku Ayah? meskipun aku juga yang menghabisi Ibumu?-"
"Di-Diamlah-" Naruto memohon dengan suara parau. Dia kesal! Dia marah! Pria ini yang bersalah! Kenapa tega membuat hidupnya sengsara seperti ini? Ia tidak mengerti. Ia tidak mau dengar apa-apa lagi! Tapi Kyuubi masih tidak mau diam.
"Kau masih mau memanggilku Ayah sekalipun aku menghabisi keluargamu?"
"BERISIK!" Naruto meraung hingga terbatuk, tersedak karena tangisan dan nafasnya berbenturan. Terengah-engah!
"KAU MAU MEMANGGILKU AYAH PADAHAL AKULAH YANG MEMUSNAHKAN SELURUH KLAN-MU?! HAHAHA… TOLOL! KAU BENAR-BENAR BOCAH TOLOL!" Namun Kyuubi malah tertawa keras, kewarasannya seolah menghilang. Ia berubah menjadi sosok gila. Mentertawai kondisi mengenaskan si bocah yang kini mencengkram kuat dada kecilnya. Membuat pakaian lusuhnya bertambah kusut. Sorot mata si bocah polos berganti dengan tatapan tajam penuh kebencian.
Orang ini yang bersalah! Dialah yang menghabisi keluarganya. Apapun alasannya, lelaki ini telah menghancurkan hidupnya. Tak bisa dimaafkan! Sampai mati pun tak akan termaafkan! Tidak akan bisa dimaafkan!
"SIAL! AKAN KUBUNUH! AKU PASTI AKAN MEMBUNUHMU! AKAN KUBUNUH KAU!" geramnya dengan rahang terkatup.
Kyuubi tersenyum, tatapannya berubah datar.
"Tentu. Kau dapat membunuhku, kapanpun! Tapi ingat… itu hanya akan terjadi jika kau tidak mati lebih dulu!" katanya, kemudian ia mendekatkan wajah, mengunci pandangan Naruto agar menatap matanya.
"Mari buat kesepakatan, bocah! Aku tak akan membunuhmu asal kau mau menuruti perintahku. Dan tentu saja kau tetap boleh mencoba membunuhku kapanpun kau mau. Bagaimana?"
Naruto tak dapat menyahut, tekanan yang diberikan Kyuubi tak mampu ia lawan. Naruto benci kondisi ini. Dia benci saat melihat makhluk biadap itu menang. Dan rasa marah serta kebenciannya tersalurkan dengan baik lewat tatapan matanya.
"Baiklah bocah, kuanggap kau setuju! Besok kita akan mulai latihannya, kau akan jadi mesin pembunuh yang menakjubkan! Dan jangan mati dulu sebelum kau bisa membunuhku! Kau mengerti, bocah?!"
GREEP… Naruto berhasil mencengkram kerah baju Kyuubi, masih dengan keringat dingin yang mengucur deras, ia mulai bersuara.
"Jangan panggil aku bocah, sialan! Namaku Naruto! Uzumaki Naruto!"
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Special Thanks to :
Byakugou no Hime, Byakugan no Hime, Kurotsuhi Mangetsu, KillYouLove, Rhein 98, bebek kuning, Anitaa Hyuuga, anita indah 777, yusufnur 321, uchiha emo 10, kaila wu, Setya 566, Betelgeuse Bellatrix, Ikha Hime, andypraze, Tsukikohimechan, IndigoRasengan 23, Winda 289, luchaai, Onpu 885, nuun, chanshasa, Guest, uchiha della, kensuchan, Chimunk-NHL, Guest (2), Nacs uzumaki, risa chan. Dan bagi kalian yang udah baca, fav atau follow.
Bagi Author manapun, apresiasi pembaca selalu jadi semangat. So,
Mind to Review?
