Return Of The Legend

By : Natsu D. Luffy

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Rate : T+ (For now)

Genre : Fantasy, Adventure, Romance

Main Pair : Naruto x Hinata

Warning : (miss) Typos, OOC, GaJe, Abal, SKS (Sistem Kebut Sejam), Overpower!Naruto, Slight Crossover.

.

.

.

.

Youkai Gakuen tengah berada dalam keributan massal. Setelah beredarnya berita mengejutkan tentang adanya hubungan asmara antara ketua Akatsuki, Naruto Uzumaki dan salah satu gadis tercantik di Youkai Gakuen, Hinata Hyuuga, kini Youkai Gakuen kembali digemparkan dengan beredarnya berita mengejutkan lain

Masih di lingkup yang sama, berita kali ini datang dari Sekretaris OSIS, Shion Higurashi. Sumber dari berita ini masih samar-samar, tapi semua orang mempercayainya. Kenapa? Karena buktinya dapat mereka lihat setiap hari pada setiap jam istirahat makan siang.

Bagi kalian yang sudah penasaran, sebenarnya berita ini adalah berita yang cukup wajar di kalangan remaja saat ini. Tapi tentu saja, semua akan menjadi tidak biasa saat kita melibatkan sang ketua Akatsuki yang kontroversial, Naruto Uzumaki.

Setelah beberapa hari beredarnya berita tentang hubungan antara Naruto dan Hinata, kini muncul rumor bahwa Naruto telah menjalin hubungan gelap dengan sekretaris OSIS, Shion. Awalnya para murid yang mengenal sosok Naruto sebagai pribadi yang setia kawan dan bertanggung jawab tidak percaya pada hal ini. Tapi saat istirahat makan siang di hari berikutnya, mereka langsung percaya.

Kenapa kau bertanya? Tentu saja, karena di salah satu meja khusus cafeteria yang biasanya hanya dihuni oleh Naruto dan Hinata, kini juga turut dihuni oleh Shion yang selalu duduk di samping kanan Naruto, sedangkan Hinata di samping kiri Naruto.

'Aku tidak tahu harus merasa bahagia atau menyesal.' Batin Naruto saat dilihatnya samar-samar aliran listrik mengalir dan bertabrakan dari kedua mata Shion dan Hinata.

Mencoba mengabaikan aura negatif yang sangat kuat di samping kanan dan kirinya, Naruto kembali memfokuskan perhatiannya pada makanan suci yang diturunkan dewa kepada para manusia sebagai salah satu keajaiban dunia… makanan bagi para dewa… ramen.

"Ittadakimasu~!"

"Uzumaki Naruto! Kemari kau, brengsek!"

Baru saja akan memasukkan ramen ke dalam mulutnya, tiba-tiba saja sebuah teriakan mengejutkan datang dari arah pintu cafetaria yang pastinya segera menarik perhatian seluruh murid di cafetaria termasuk Naruto sendiri yang hanya menaikkan salah satu alisnya dan melihat ke arah datangnya suara teriakan.

Memutuskan bahwa ramen miliknya lebih penting daripada teriakan bodoh tadi, Naruto berniat akan kembali memasukkan ramennya dengan sumpit ke dalam mulutnya hingga tiba-tiba sebuah tangan asing menahan tangan miliknya.

Menelusuri tangan itu hingga ke pemiliknya, Naruto mengedipkan matanya terkejut saat melihat sosok yang cukup familiar baginya berdiri di hadapannya.

"Nagato?"

Seperti yang diingat Naruto, sosok Nagato versi dunia youkai juga memiliki rambut merah sebahu dengan sebagian rambut depannya menutupi salah satu matanya. Ia memakai seragam layaknya murid Youkai Gakuen pada umumnya, hanya saja di lengan kirinya, ia memakai sebuah armband berwarna merah dengan outline putih yang menandakan posisinya sebagai Student Council di Youkai Gakuen.

Dalam sekejap mata, tiba-tiba saja Nagato dikerubungi oleh segerombolan anggota Akatsuki dengan senjata mereka masing-masing yang diarahkan pada Nagato.

"Lepaskan tanganmu dari Naruto-sama sekarang juga." Ujar salah satu anggota Akatsuki dengan nada datar tapi mengancam.

"Jauhkan senjata kalian dari Nagato-sama sekarang juga." Ujar sebuah suara dari belakang para anggota Akatsuki.

Menengokkan kepala mereka ke belakang, para anggota Akatsuki cukup terkejut saat melihat para anggota Student Council berdiri di belakang mereka dengan senjata mereka masing-masing mengarah ke berbagai organ vital para anggota Akatsuki.

Melihat situasi yang mulai memanas, Naruto memutuskan untuk angkat bicara dan mengurus masalah ini dengan caranya sendiri.

Menghilang dari genggaman Nagato dalam kilatan hitam, Naruto kembali muncul beberapa meter di belakang gerombolan anggota OSIS dan Akatsuki dengan Hinata dan Shion di kedua sisinya.

"Yare, yare… entah kenapa hari ini semua orang sepertinya jadi lebih agresif dari biasanya." Ucap Naruto dengan cukup keras, menarik perhatian seluruh murid ke arahnya.

Melihat Naruto yang dapat lepas dari genggamannya dengan kemampuan anehnya, Nagato langsung membuat sebuah tombak yang terbuat dari cahaya putih di tangannya dan melemparnya ke arah Naruto, melewati seluruh murid tanpa mengenai siapapun.

Saat melihat tombak cahaya mengarah ke arahnya, Naruto secara refleks mengaktifkan EMS miliknya dan membuat dirinya diselubungi tulang rusuk Susanoo.

Bukannya meledak saat bertabrakan dengan tulang rusuk Susanoo milik Naruto, tombak cahaya itu malah pecah menjadi partikel-partikel cahaya yang memencar ke seluruh penjuru ruangan, mengenai hampir seluruh orang yang berada di ruangan itu dengan hanya beberapa pengecualian.

"Ahhh!" melihat ke samping kirinya, mata Naruto langsung membulat kaget saat melihat Hinata terjatuh di lantai dengan luka tancapan yang cukup dalam di paha kirinya. Darah terus mengalir dari paha Hinata, membasahi lantai dan rok sekolahnnya dengan darahnya sendiri.

Naruto yang khawatir akan kondisi Hinata segera duduk di samping Hinata dan mencoba membantu proses regenerasi Hinata dengan sedikit jutsu medis yang ia tahu. Tapi percuma saja, luka di paha Hinata tidak menunjukkan tanda-tanda akan menutup dalam waktu dekat.

'Ada apa ini, Juubi?! Kenapa chakraku tidak bisa membuat luka Hinata-chan menutup?!' teriak Naruto dalam batinnya pada Juubi.

'Serangan tadi, bukan serangan biasa. Cahaya tadi adalah Holy Light yang merupakan kelemahan seluruh youkai. Aku tidak tahu bagaimana bisa bocah itu memiliki kekuatan seperti itu, tapi yang pasti, tidak ada yang bisa kau lakukan untuk sekarang. Kau harus segera menghentikan pendarahan Hinata dan menunggu efek dari Holy Light untuk menghilang dari tubuh Hinata.' Balas Juubi dari dalam mindscape milik Naruto.

Tanpa basa-basi, Naruto segera menyobek sebagian jubah Akatsuki yang ia gunakan dan menggunakannya untuk membalut luka Hinata.

Melihat ke sekitarnya, Naruto menyadari bahwa banyak dari para murid yang juga menderita nasib yang hampir sama seperti Hinata kecuali Shion yang saat ini tengah membalut luka seluruh murid-murid dan Nagato yang tengah menatap tajam padanya.

"Shion, setelah kau selesai mengobati para murid yang lain, tolong segera bawa Hinata-chan ke ruang kesehatan." Ujar Naruto pada Shion yang hanya menganggukkan kepalanya dengan disertai ucapan "Ha'i." darinya.

Membalas tatapan tajam Nagato dengan tatapan tajam miliknya sendiri, Naruto melangkah beberapa langkah ke depan dan kembali melanjutkan kontes saling tatapnya dengan EMS miliknya yang berputar dengan cepat di kedua matanya.

"Mengataiku brengsek, aku bisa menerimanya… mengganggu acara makan siangku, aku bisa menerimanya… bahkan menghalangiku untuk memakan ramen, aku masih bisa menerimanya… tapi tidak ada orang yang akan diam saja saat melihat orang yang mereka sayangi dilukai di depan matanya sendiri!"

Lebih cepat dari waktu yang dibutuhkan oleh Nagato untuk bekedip, Naruto tiba-tiba saja telah berada di depan matanya dengan telapak tangan yang terbuka.

Sebuah ledakan kecil terjadi saat tangan Naruto meremas kepala Nagato dengan kuat dan membawanya bertabrakan dengan dinding tebal Youkai Gakuen.

Rasa sakit dengan cepat segera menyebar dari kepala ke seluruh tubuh Nagato. Tapi tidak, Nagato tidak akan kalah hanya dengan serangan seperti itu. Ia tidak menjadi seorang pemimpin dari Student Council tanpa sebuah alasan.

Hanya dengan insting semata, Naruto segera sedikit memiringkan wajahnya ke samping tepat untuk menghindari sebuah laser Holy Light yang keluar dari mulut Nagato.

"Sejak dulu, aku selalu ingin tahu apa yang terjadi jika aku menggunakan jutsu ini pada jarak point blank." Bisik Naruto pada Nagato sembari mengubah EMSnya menjadi Rinnegan.

"Shinra Tensei."

Hanya dengan dua kata dari Naruto, sebuah ledakan besar terjadi diikuti dengan jebolnya tembok bangunan cafetaria Youkai Gakuen serta sosok Nagato yang melayang ke luar dari bangunan cafetaria dan menghancurkan beberapa pepohonan di lingkungan sekolah sebelum akhirnya berhenti saat menabrak tembok pembatas Youkai Gakuen.

Melihat sosok berdarah dan tak berdaya Nagato, Naruto segera menghilang dalam kilatan hitam dan kembali muncul di samping Nagato.

"Aku tidak peduli apa alasanmu hingga kau mengamuk seperti itu, Nagato. Tapi kau harus tahu bahwa… tidak ada yang bisa melukai Hinata-chan dan pergi dengan selamat." Ucap Naruto pada sosok Nagato yang kini telah tak sadarkan diri dan tergeletak di tanah.

Melihat dari sudut matanya bahwa kini Shion dan Hinata telah tidak ada di tempat, Naruto mengasumsikan bahwa Shion telah membawa Hinata pergi ke ruang kesehatan seperti perintahnya tadi.

Berniat akan melangkah pergi, Naruto tidak terkejut saat tiba-tiba para anggota Student Council muncul mengelilinginya dengan wujud setengah youkai milik mereka.

Menyempatkan diri melihat sekelilingnya, Naruto cukup kagum saat menyadari bahwa sebagian besar anggota dari Student Council ini adalah A-rank monster ke atas.

Tidak berniat untuk bertarung dan ingin segera pergi untuk melihat keadaan Hinata, Naruto tanpa basa-basi langsung memanggil dan mengeluarkan chakra Juubi dalam dosis besar, membuat tubuhnya dan area di sekitarnya terselimuti oleh youki hitam pekat yang mengalir bagai gelombang.

Secara instan, seluruh anggota Student Council langsung jatuh berlutut di tanah dengan menarik napas secara berat seakan tengah tenggelam dalam kegelapan dan dibebani oleh aura sinis dari youki Juubi.

Dengan Rinnegan yang masih aktif dan digunakannya chakra Juubi dalam dosis besar, secara otomatis mata Rinnegan Naruto berubah menjadi warna merah darah disertai dengan munculnya tiga tomoe di tiga lingkaran pertamanya, membuatnya secara total menjadi sembilan tomoe di masing-masing matanya.

Youki hitam kelam yang menghalangi pandangan… tekanan kuat yang tak tertahankan… aura kematian yang begitu pekat… dan… dan sepasang mata merah menyala yang seakan menatap langsung ke jiwa mereka…

Student Council, organisasi pertama dan terbesar di Youkai Gakuen, terdiri dari murid-murid terbaik di bidangnya masing-masing. Organisasi paling berkuasa dalam kelompok organisasi 'cahaya' Youkai Gakuen. Tidak ada murid maupun organisasi lain yang berani mempertanyakan kekuasaan mereka, bahkan tidak Student Police Committee.

Tapi di sinilah mereka, jatuh berlutut secara paksa di hadapan seorang murid yang telah dengan mudah mengalahkan ketua mereka. Bertatapan dengan mata merah itu… seakan bertapan langsung dengan kematian. Terlalu lama menatapnya, dan kau tidak akan bisa kembali lagi.

"Rrrroooaaarrrrggghhh…!"

Dengan raungan keras yang diikuti dengan gelombang kejut, Naruto segera menyingkirkan youki hitam di sekitarnya dan membuat para anggota Student Council terpental cukup jauh sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri saat tubuh mereka tak kuat menerima gelombang kejut dari suara Naruto.

Menekan kembali youki Juubi ke dalam tubuhnya, mata Rinnegan Naruto kembali berubah menjadi Rinnegan normal sebelum akhirnya berubah menjadi mata biru safir normalnya.

Naruto menyempatkan diri melihat kerusakan yang telah ia buat di daerah sekitar sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya dan segera menghilangan dalam kilatan cahaya hitam.

Bagi seluruh anggota Akatsuki yang masih sadar sampai titik ini dan melihat pertunjukkan kekuatan dari Naruto, mereka kembali diingatkan kenapa Uzumaki Naruto bisa menjadi pemimpin mereka dan melesat naik ke puncak Youkai Gakuen dengan mudah.

Sedangkan bagi para murid yang telah sadar dan sempat melihat secuil dari kekuatan Naruto… mari katakan mereka tidak akan pernah berani macam-macam dengan Naruto ataupun orang-orang dekatnya.

Satu hal yang tidak seorangpun sadari, adalah seekor naga kecil yang terbuat dari bayangan telah melihat seluruh kejadian di hadapannya dari atas bangunan cafetaria.

'Jadi itu anak yang dirumorkan sebagai penerus Juubi… cukup mengagumkan, tapi tidak untuk waktu yang lama.' Dan dengan satu kepakan sayapnya, naga kecil itu segera menghilang menjadi asap kehitaman yang terbawa angina kemanapun perginya.

.

.

.

Youkai Gakuen's Infirmary Room…

Di salah satu ranjang di ruang kesehatan Youkai Gakuen, terlihat sosok pucat Hinata terbaring lemas dengan napas yang tidak beraturan dan suhu badan yang terlampau rendah dengan sosok Shion yang berdiri di samping kanan ranjangnya.

"Bertahanlah, Hinata-san… aku telah memanggil dokter sekolah, sebentar lagi dia pasti akan datang…" ucap Shion dengan lembut pada sosok kesakitan Hinata.

Sambil memejamkan matanya dalam kesakitan, Hinata secara berulang-ulang terus saja mengucapkan 'Naruto-kun… Naruto-kun…' seakan-akan itu adalah mantra yang bisa mengurangi rasa sakitnya dengan cepat.

Seakan mendengar doa dari Hinata, sebuah kilatan hitam tiba-tiba saja muncul di samping kiri ranjang Hinata diikuti dengan sosok khawatir Naruto yang segera menggenggam tangan kanan Hinata di kedua tangannya.

Mencoba untuk menganalisa keadaan tubuh Hinata, kekhawatiran Naruto kembali meningkat saat dirasakannya suhu tubuh Hinata terus menurun secara perlahan tapi pasti, serta detak jantung Hinata yang mulai melemah.

"Shion! Kenapa Hinata bisa sampai separah ini?!" seru Naruto pada Shion, khawatir dan cemas sangat terlihat di wajahnya.

"A-Aku tidak yakin, Naruto-kun… tapi sepertinya Hinata-san terinfeksi oleh Holy Light dari Nagato-san. Kalau tidak salah, Hinata-san adalah vampire, bukan?"

Menganggukkan kepalanya sekali, Naruto kembali memberi isyarat pada Shion untuk meneruskan penjelasannya.

"Vampire, walaupun terkenal dengan kekuatan fisik luar biasa dan youki yang sangat kuat dibandingkan dengan youkai lain, merupakan satu-satunya youkai yang bisa menderita infeksi jangka panjang dari sebuah Holy Object bahkan setelah Holy Object itu menghilang dari tubuh mereka. Jika dibiarkan terus, maka Hinata-san akan semakin banyak kehilangan youki miliknya, dan kehilangan youki bagi vampire sama saja dengan kehilangan darah. Mereka akan mati tanpanya." Jelas Shion pada Naruto yang kini terlihat shock.

"Ap-Apa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegah hal ini terus berlanjut, Shion-san?" Tanya Naruto penuh harap pada Shion yang sayangnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menyesal.

"Sayangnya tidak, Naruto-kun. Satu-satunya yang bisa kita lakukan saat ini adalah menunggu dokter datang dan menemani Hinata-san di sini." Lirih Shion tanpa melepas pandangannya dengan Naruto.

Masih dengan wajah shock, Naruto mengalihkan pandangannya dari Shion ke wajah Hinata hanya untuk sekali lagi dikagetkan saat mendapati Hinata tersenyum lembut kepadanya walau dengan ekspresi menahan sakit di wajahnya.

"H-Hi-Hinata-chan?" bisik Naruto sambil merendahkan dirinya yang kini dalam posisi setengah jongkok sehingga kepalanya berada tepat di samping ranjang kepala Hinata berada.

"Naruto-kun… aku senang melihat kau di sini…" lirih Hinata yang hampir terdengar seperti bisikan di telinga Naruto.

"Y-Ya, aku juga senang melihatmu Hinata-chan, tapi tidak dalam keadaan… keadan seperti ini…" bisik Naruto lembut pada Hinata. Genangan air mata kini mulai terlihat di mata Naruto saat ia melihat ke arah Hinata.

"Ssshhh… jangan menangis, Naruto-kun… aku benci saat melihat Naruto-kun menangis…" menggenggam sedikit lebih kuat tangan Hinata, Naruto memaksakan dirinya tersenyum walau hanya sedikit.

"Ya, itulah Naruto-kun yang aku kenal dan aku sukai… paling tidak, aku bisa melihat wajah Naruto-kun untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi…"

"Ap-!" menghentikan dirinya yang hampir berteriak, Naruto hanya bisa membuka mulutnya dalam shock dan melebarkan matanya selebar mungkin.

"Ap-apa yang kau bicarakan, Hinata-chan?! Ka-kau… memangnya kau mau pergi kemana? O-Oh, aku tahu, kau ingin ke cafetaria untuk menyelesaikan makananmu yang belum kau habiskan, bukan? Atau… atau kau mau pergi ke perpustakaan untuk membaca buku yang tempo hari belum selesai kau baca? Atau kau akan pergi ke-" belum sempat menyelesaikan ucapannya, Naruto terpaksa menutup mulutnya saat jari telunjuk tangan kiri Hinata menempel di mulutnya, mengisyaratkannya untuk berhenti bicara.

"Tidak, Naruto-kun. Aku bisa merasakan tubuhku semakin lemah dan kaku setiap detiknya… aku… waktuku sepertinya tidak lama lagi. Paling tidak, aku bisa kembali bertemu denganmu dan menghabiskan waktu denganmu seperti dulu, Naruto-kun…" lirih Hinata dengan air mata yang kini mengalir membasahi pipinya.

Melihat Hinata yang menangis, Naruto tidak dapat lagi menahan air matanya dan membiarkan air matanya ikut mengalir membasahi pipinya.

"Hi-Hinata-chan… *hiks* Ak-aku mohon… jangan tinggalkan aku sendirian…" isak Naruto lirih.

Hinata yang melihat keadaan Naruto saat ini hanya bisa menangis tanpa suara sambil menggunakan tangan kirinya untuk mengelus kepala Naruto.

"A-Aku juga ingin bersama denganmu lebih lama lagi, Naruto-kun, tapi sepertinya takdir berkata lain…"

Naruto yang mendengar kata-kata Hinata kini telah menangis secara terbuka di hadapan Hinata dan Shion yang hanya bisa melihat pasangan di hadapannya dengan rasa simpati.

"T-Tapi kita baru saja bertemu kembali, Hinata-chan…" tangis Naruto pelan.

"Ssshhh… cup cup cup… tidak apa-apa, Naruto-kun. Selama kau masih mengingatku, aku akan selalu ada di sampingmu…" lirih Hinata sambil terus mengelus-elus rambut Naruto.

Hening berlalu untuk beberapa saat sebelum tiba-tiba Naruto merasakan tangan Hinata berhenti mengelus kepalanya dan suhu tubuh Hinata bertambah dingin secara drastis.

"Hi-Hinata-chan?!"

"Na-Naruto-kun… t-tolong… tersenyumlah untukku untuk terakhir kalinya…"

Mengabaikan air mata yang semakin deras membanjiri pipinya, Naruto memaksakan sekuat tenaganya untuk mengangkan sudut bibirnya ke atas, untuk membuat sebuah senyuman demi Hinata. Tapi tidak bisa! Ia tidak akan bisa tersenyum saat melihat orang tersayangnya terbaring menunggu ajal seperti ini!

'J-Juubi! Apa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menolongnya?!' teriak Naruto dalam batinnya.

'Sayangnya tidak, Naruto. Youki milikku ada hanya untuk menghancurkan, bukan untuk menyembuhkan. Walaupun kau paksakan youki milikku ke dalam tubuhnya dengan harapan kemampuan regenerasiku akan membantunya, itu tidak akan berhasil. Youki milikku malah akan mempercepat kematiannya.' Balas Juubi dengan suara datar.

"Hi-Hinata-chan!" teriak Naruto sambil memeluk sosok tak berdaya Hinata dan meneggelamkan wajahnya di lekukan leher Hinata.

"Aku mohon, jangan tinggalkan aku Hinata-chan!" bisik Naruto sambil menangis pada Hinata yang hanya bisa tersenyum sedih sambil membiarkan air matanya yang juga terus mengalir membasahi pipinya.

"A-Aku ingin mendengar cerita darimu saat kau menjadi patung batu itu, Naruto-kun…" lirih Hinata tiba-tiba.

"T-Tapi Hinata-chan-"

"Aku mohon, Naruto-kun."

Dengan berat hati dan suara yang terisak-isak, Naruto mulai menceritakan kisahnya saat dirinya menjadi patung batu. Mulai dari melihat memori-memori milik Madara dan para Bijuu lainnya sampai latihan-latihan dasar yang ia terima dari Juubi saat ia telah terbentuk sepenuhnya.

"D-Dan sejak saat itu, aku…-"

"S-Sepertinya aku sudah me-mengantuk, Naruto-kun… k-kurasa aku akan tidur s-sekarang…"

Membulatkan matanya dan memfokuskan kelima inderanya, Naruto langsung masuk dalam tahap shock saat disadarinya napas Hinata telah berhenti dan… dan… detak jantungnya telah menghilang!

Mendongakkan wajahnya, Naruto hanya bisa melihat tak berdaya saat wajah penuh air mata Hinata yang membeku dalam senyuman abadi yang perlahan mulai memucat dan memudar…

Tidak… tidak… ini tidak mungkin terjadi…

Setelah semua yang kulakukan selama ini… inikah balasan yang setimpal?

Semua orang-orang berhargaku direnggut dariku satu per satu…

Tidak! Aku tidak akan membiarkan ini terjadi!

Dengan pandangan yang tiba-tiba berubah dari shock, ke sedih, dan ke marah, Naruto tiba-tiba saja berdiri dari posisinya semula dan memfokuskan pandangannya pada sosok kaku Hinata. Di titik ini, akal sehat Naruto telah termakan oleh emosi yang perlahan menggerogoti hatinya.

'Siapa?! Siapa yang berani mengambil Hinata-chan dariku?! Inikah perbuatan para dewa?! Aku tidak akan membiarkan ini! Jika perlu, aku akan datang dan membunuh para dewa satu per satu sebelum akhirnya mengambil kembali Hinata dari mereka!' batin Naruto penuh amarah.

Melihat ke langit di luar jendela yang tiba-tiba berubah menjadi mendung, Naruto tiba-tiba teringat hal yang dulu sering diucapkan Nagato di dunianya.

'Ya, itu benar. Jika para dewa memutuskan untuk mengabaikan permohonanku, akulah yang akan menjadi dewa yang baru! Aku memiliki kekuatan Rinnegan dan Juubi di tanganku, aku adalah dewa! Ya, itu benar! Dengan kekuatan Rinnegan yang melebihi batas kehidupan dan kematian, aku bisa menghidupkan kembali Hinata-chan!' batin Naruto.

'Ya, itu benar, Naruto… lewatilah batasan dunia ini dan langkahilah wilayah kekuasaan dewa… hidupkan kembali Hinatamu! Jangan biarkan para dewa mengambilnya darimu! Kau bisa dan kau mempunyai kekuatan untuk itu! Lakukanlah!' bisik sebuah suara asing dari dalam kepala Naruto yang dengan senang hati diikuti oleh Naruto.

'Sekarang ikuti petunjukku…'

Menepukkan kedua tangannya seperti posisi orang yang tengah berdoa, Naruto memfokuskan kekuatannya di matanya yang kini berubah menjadi Rinnegan.

'Lawanlah takdirmu, taklukanlah dunia, membangkanglah pada para dewa!'

"Gedo : Rinne Tensei no Jutsu! (Samsara of Heavenly Life Technique)"

.

.

.

.

To Be Continued…

.

.

.

.

A/N : Phew, what a rush. Well, mungkin masih banyak dari reader yang bertanya-tanya "Kenapa tuh si Nagato-teme ngamuk-ngamuk gaje gitu?" atau sesuatu seperti itu, tapi tenang saja, itu akan dijelaskan di chapter selanjutnya. Jujur aja, saya gak pinter buat scene romance, jadi tolong maklumi kalau agak gaje. Dan terima kasih banyak buat para reviewer yang sudah mendukung saya selama ini, YOU'RE MY MOTIVATION!

OK, tanpa basa-basi, sampai di sini aja dulu, See ya!

Now, if you don't mind… riview please~!

Natsu D. Luffy