"Jadi … untuk desa selanjutnya, kau akan langsung memperkenalkan diri sebagai Uchiha Sasuke, ya?"
Ino menggumamkan pertanyaan tersebut untuk kesekian kalinya di sore itu. Segera setelah makan siang, kedua shinobi Konoha itu langsung berpamitan pada para penduduk desa Koyubi untuk melanjutkan perjalanan mereka. Alasannya: agar tidak kemalaman sampai di desa selanjutnya. Namun, sudah sepanjang perjalanan ini, Ino malah tampak berlama-lama dan menggumamkan pertanyaan yang berulang-ulang.
Sasuke sendiri tampak tak terlalu ambil pusing. Jika Ino sudah kembali bergumam, ia akan mengalihkan perhatian gadis itu dengan pertanyaan,
"Sekarang kita ke arah mana?"
Ino yang mendengar itu, akan melepaskan pegangan dari dagunya dan menunjuk ke satu arah.
Tujuan mereka selanjutnya adalah desa Hiiru. Desa yang berada di berada di daerah perbukitan dengan kontur daerah yang bukan merupakan tanah melainkan bebatuan keras. Desa tersebut cukup terpencil dan memiliki suhu udara yang sangat dingin. Sebelum ke desa Hiiru, Ino merencanakan perjalanan mereka untuk melewati desa Ochuu dan menetap di sana semalam.
Desa Ochuu berada di lembah. Tempatnya berada tepat di seberang bukit batu yang menjadi dasar atau fondasi desa Hiiru. Keduanya dipisahkan oleh sungai yang berarus deras. Namun, bukan hal sulit bagi para shinobi untuk melintasi sungai tersebut tanpa harus memutar jalan hingga menemukan jembatan penghubung.
Ino sudah memutuskan, untuk mencapai desa Hiiru yang berada di atas, lebih baik perjalanan dilakukan keesokan harinya—tepatnya saat matahari sudah cukup tinggi. Alasannya apalagi kalau bukan karena desa Hiiru terbilang dingin dan jika mereka mau sampai dalam keadaan selamat, ada baiknya mereka membeli jubah terlebih dahulu di desa Ochuu dan berangkat menjelang siang.
Perjalanan sampai desa Ochuu tidak memakan waktu lama dan tidak menemui halangan berarti. Saat sampai di sana, matahari memang sudah tenggelam dan lampu-lampu rumah yang baru terpasang beberapa sudah menggantikan cahaya sang penguasa siang. Desa itu hanyalah desa kecil dan karena mereka hanya singgah di sana satu malam, Ino berpikir bahwa mereka tidak perlu melapor pada kepala desanya dan langsung beranjak ke penginapan terdekat.
Pikiran Ino masih dipenuhi kecemasan mengenai bagaimana cara Sasuke akan memperkenalkan diri di desa Hiiru. Sasuke yang mengetahui hal itu memilih tidak berkata apa-apa pada awalnya. Namun, begitu keduanya akan berpisah untuk masuk ke kamar masing-masing, pemuda berambut gelap itu menepuk kepala Ino dengan lembut sembari berkata,
"Jangan terlalu banyak berpikir."
Hmmm, sudah jelas pikiran Ino akan kembali disibukkan oleh hal lain. Dan mungkin ia akan kesulitan lagi untuk tidur malam ini.
BACK TO THE BEGINNING
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
I write this just for my personal amusement.
Pairing : SasuIno, NaruSaku, and may be some slights or hints
STEP 10. Hand in Hand
Sesuai dugaan, mata Ino terus terjaga sepanjang malam. Ia sudah berputar posisi berkali-kali, tapi tetap saja ia tak dapat terlelap. Ia pun akhirnya menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dan bangkit dalam posisi duduk. Sesaat, ia mengacak-acak rambut pirang panjangnya yang ia biarkan tergerai.
Bibirnya mengerucut tapi Ino tidak punya pilihan lain. Ia memilih untuk berdiri dan meninggalkan futon-nya. Hanya dengan selembar yukata, Ino bisa merasakan dinginnya udara di desa Ochuu. Ia pun menyambar jaket rajutnya dan berjalan ke luar kamar. Pikirnya, dengan berjalan-jalan sebentar, ia bisa menenangkan pikiran dan nanti ia akan lebih mudah tertidur.
Namun, yang ditemuinya di teras penginapan membuat Ino harus mengerjap. Sosok itu tengah terduduk di selasaran pembatas yang terbuat dari kayu. Kepalanya menengadah dan dalam matanya terpantul bayangan bulan. Bulan yang bulat dan berwarna pucat. Ino ikut menoleh—awan hitam sesekali menghalangi bulan itu untuk memamerkan sinarnya.
"Ada apa?" Sosok berambut hitam yang tengah terduduk itulah yang akhirnya pertama membuka suara.
Ino melipat tangannya di depan dada. "Apa aku mengganggu meditasimu?"
Uchiha Sasuke melirik Ino dari sudut matanya. Ia kemudian meloncat turun dari selasar pembatas. Tanpa berkata apa-apa, Sasuke kemudian berjalan menjauhi penginapan.
Mata Ino membesar.
"Sasu—"
Lawan bicara Ino mengangkat jari telunjuknya dan menempelkannya di bibir. Seketika, teriakan Ino terhenti. Gadis itu bahkan seolah baru menyadari bahwa hari sudah terlalu larut untuk mendengar teriakannya—sebelah tangannya menutupi mulut. Namun, selanjutnya, Ino dibuat terperangah saat Sasuke dengan wajah datar mengulurkan satu tangan padanya.
Tanpa bisa dicegah, Ino menyunggingkan sebuah seringai lebar yang memperlihatkan gigi. Dengan lincah, gadis Yamanaka itu kemudian bergerak cepat—setengah meloncat dari undakan teras dan lalu menyambut tangan Sasuke. Sesaat, Ino seolah melupakan semua kecemasannya.
Hanya dengan bergandengan tangan seperti ini. Menikmati keheningan—seakan hanya ada mereka di dunia yang luas ini. Hanya ada dirinya dan sosok pemuda yang masih setia menghias mimpi-mimpinya.
Benar, ini bagaikan sebuah mimpi. Bulan di atas bersinar terang—awan hitam menghilang. Rerumputan liar bergoyang perlahan diiringi senandung jangkrik dan deru ringan embusan angin malam. Semua … bagaikan mimpi yang begitu nyata.
"Kau tahu, Sasuke-kun? Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa berdiri berdampingan denganmu seperti ini. Oh ya, aku memang sulit tidur tadinya, makanya kuputuskan untuk berjalan-jalan. Tak kusangka aku akan bertemu denganmu dan bahkan berjalan berdua denganmu. Rasanya bagaikan tengah bermimpi indah—"
"Ino," sela Sasuke yang langsung saja membuat Ino terdiam.
Langkah keduanya terhenti dan Ino hanya bisa menoleh ke arah Sasuke. Sesaat, Ino berpikir, Ah, ini bukan mimpi. Senyum pun tak lepas dari wajah gadis itu.
Ada sesuatu yang membuat Ino merasa lebih senang dari biasanya. Selama misi, ia tak pernah merasa senyaman ini. Mungkin ini hanyalah kesenangan semu, sesaat, sebelum hal besar yang mungkin akan menunggu mereka di depan. Tapi, Ino hidup di 'saat ini', bukan? Ia ingin menikmati detik-detik yang tak pernah ia pikirkan akan menjadi nyata.
"Apa, Sasuke-kun?"
Mata Sasuke menatap Ino sebelum ia melirik ke arah lain. Gerakannya yang mendadak kaku seolah ingin berkata, 'Bagaimana aku bisa mengatakannya, ya?'
Ia sudah pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Ia telah mengatakan 'terima kasih' pada Ino, atas penyertaannya selama ini, atas bantuannya selama misi, atas pengertian dan penghiburan gadis itu padanya. Tapi, sesuatu di dasar hati Sasuke meraung; ingin mengatakan lebih dari sekadar terima kasih. Ia tidak tahu kata apa yang tepat untuk ia berikan pada Ino sementara gadis itu tampak menunggunya.
Perjalanan mereka selama ini memang tidak lama, tapi rasanya bagaikan bertahun-tahun. Seminggu? Ah—ya, delapan hari. Selama itu, cukup banyak yang telah terjadi. Dan selama itu, Ino tetap di sampingnya. Tidak menampiknya. Membelanya. Gadis itu selalu melindungi Sasuke dengan caranya sendiri.
Sebagai ganti kata-kata yang tak juga mau keluar, Sasuke hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya. Berharap dengan ini, Ino bisa mengerti apa yang ia inginkan. Ia yang tak pernah terbiasa memohon, ia yang tak pernah tahu bagaimana cara mengungkapkan ….
Lebih dari terima kasih dan syukur. Ia benar-benar merasa beruntung bahwa saat ini, Ino-lah yang mendampinginya. Ini di luar ekspektasinya, Sasuke tidak menyangka bahwa ia akan merasakan sesuatu yang sangat sentimental seperti ini. Tapi ia tahu jelas, ia ingin Ino tetap bersamanya seperti ini.
Ninjutsu-kah?
Ino merasakan kecanggungan menyelimuti mereka. Namun, gadis bermata biru kehijauan itu tak mau menyerah pada keadaan. Katakanlah, dia adalah salah satu kunoichi yang juga penuh kejutan. Berkebalikan dengan sebelumnya, saat ia malah lebih sering terlihat salah tingkah di depan Sasuke, sekali ini, ia-lah yang memutuskan untuk maju terlebih dahulu.
Terlalu besar—rasa suka ini sudah tak bisa dibendung lagi. Persetan dengan semua rasa malu, ia bisa melakukan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah Yamanaka Ino. Yamanaka Ino tak suka melarikan diri dari perasaannya, ia tidak bisa berlama-lama menyimpan perasaan ini dan bertingkah seolah ia tak lagi sama seperti dulu.
Dilepaskannya genggaman tangan Sasuke secara lembut untuk kemudian menempelkan tangan tersebut di pipi sang pemuda. Sasuke sempat terkejut. Pemuda itu pun lebih terkejut saat Ino menempelkan bibirnya ringan ke bibir pemuda itu.
"Daisuki yo—aku sangat menyukaimu," bisik Ino kemudian.
Lalu, dalam keheningan, Ino pun meninggalkan Sasuke yang hanya bisa membatu. Senandung kecil mewarnai perjalanan Ino sampai di kamarnya kembali. Ino tidak peduli, ia baru saja melakukan serangan yang luar biasa. Namun, dalam hati, ia merasakan suatu kelegaan yang tak terkira.
Mungkin setelah ini, aku bisa tidur nyenyak.
Tepat saat Ino akan menutup kembali pintu kamarnya, pintu itu mendadak tertahan dan demikian Ino merasakan pegangan erat di pergelangan tangannya. Ketika ia menoleh ke belakang, ia bisa melihat wajah Sasuke yang tampak … begitu polos dan canggung. Alisnya mengernyit tajam dan mulutnya terkatup rapat. Ia benar-benar menemui kesulitan untuk menyampaikan apa yang ada di pikirannya, apa yang ada di hatinya.
Ino berbalik untuk menghadap Sasuke. Tangan Sasuke yang semula memegang pergelangan tangan Ino, beralih untuk kemudian saling menautkan jemari.
"Aku …."
Mementingkan perasaan pribadi dan personal di atas misi, bukankah ini salah?
"… Sudahlah."
Sesaat, Sasuke tampak kecewa. Entah pada Ino, atau pada dirinya sendiri.
"Jangan katakan apa-apa, Sasuke-kun. Cukup. Peluk aku saja."
Tapi, sekali lagi, mereka hidup di 'masa ini', bukan? Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Meskipun mungkin, ini hanyalah perasaan sesaat yang timbul akibat kebersamaan mereka atau karena sihir satu malam yang tak bisa dijelaskan, Ino ingin percaya—menekankan dirinya agar percaya—bahwa perasaan sesaat ini sama sekali tidak salah.
Lalu, pintu kamarnya pun tertutup sementara tangan keduanya masih erat bergandengan. Bibir kembali bertemu bibir. Mereka tidak pernah menyangka akan merasa senyaman ini satu sama lain.
Dan malam yang dingin di desa Ochuu menjadi sedikit lebih hangat.
o-o-o-o-o
"Naruto!"
Di pagi hari buta, Haruno Sakura sudah tampak terengah. Dengan cekatan, ia menghampiri si pemuda berambut kuning yang kini sudah tampak jauh lebih segar. Pemuda itu bahkan tidak mengacuhkan nasihat Tsunade untuk beristirahat satu-dua hari lagi dan justru berada di tempat tanah padang rumput tempat latihan shinobi. Menurut Naruto, tubuhnya terasa kaku karena sudah lama tak digunakan, karena itulah ia butuh latihan. Entah sekadar melempar shuriken dan kunai, atau latihan menggunakan kage bunshin.
"O-oh! Sa-Sakura-chan!"
Alis Sakura mengernyit. "Kenapa kau tampak ketakutan begitu?"
Naruto menyeringai salah tingkah. Ujung telunjuknya ia gunakan untuk menggaruk pipinya. "Ku-kukira kau mau memarahiku karena aku kabur dari rumah sakit untuk latihan di sini?"
Mata Sakura mengerjap satu-dua kali. Ia kemudian mengibaskan tangannya. "Aku akan memarahimu soal itu nanti. Dengar!"
"Yaa?" Naruto langsung berdiri tegak.
Di detik selanjutnya, Naruto terperangah melihat senyum Sakura yang kian lebar. Bukan senyum yang jelas-jelas menunjukkan bahwa ia bahagia—tapi setidaknya, gadis berambut merah muda itu tampak begitu bersemangat.
"Dengar!" seru Sakura kemudian. "Shizune-senpai, Shino, dan Kiba akhirnya berhasil membujuk Raikage untuk hadir di rapat Kage—setelah menghabiskan beberapa hari di Kumo."
Naruto menggumam, "Huwoo. Tampaknya kakek hitam itu cukup alot untuk diyakinkan, ya?"
Sakura menyeringai. Gadis berambut merah muda itu kemudian melanjutkan, "Dan menurut yang kudengar dari Tsunade-shishou, Raikage mempertimbangkan untuk datang karena tak dapat ditampik bahwa Konoha-lah yang telah banyak berjasa dalam perang ninja ini."
Naruto mengerjapkan matanya—sebuah senyum perlahan terkembang.
"Ya. Dia mau datang karena kau, Naruto!"
"… Begitu-ttebayo? Kalau begitu, aku akan memastikan bahwa dia akan melakukan sesuatu untukku di rapat Kage nanti. Jadi? Kapan kita akan bersenang-senang, Sakura-chan?"
"Para Kage itu sudah mulai bergerak ke sini sejak kemarin siang. Estimasinya, mereka semua sudah bisa berkumpul sekitar tiga atau empat hari lagi—terutama untuk rombongan Raikage yang berangkat dari Kumo."
"Bagaimana dengan Gaara?"
"Oh, mungkin nanti malam atau besok dia sudah sampai di sini. Rombongan Kazekage langsung berangkat setelah mendapat kabar bahwa Raikage akhirnya setuju."
"Baiklah! Kalau begitu, aku akan mencuci otak Gaara terlebih dahulu-ttebayo."
Kedua shinobi itu kemudian saling melempar cengiran satu sama lain.
o-o-o-o-o
Entah sudah berapa lama, Sasuke merasa tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sekali ini, ia terbangun dengan perasaan yang lebih ringan. Juga, perut yang lapar.
Begitu kedua matanya terbuka, pemuda itu hanya bisa mengernyit. Bersamaan dengan keinginannya untuk mencari makanan, rasa penasarannya tak bisa ia kesampingkan. Seharusnya, di sampingnya ada seseorang yang ia peluk sepanjang malam. Seharusnya, jika orang itu terbangun, Sasuke akan menyadari pergerakannya. Apa ia memang tidur senyenyak itu?
Ia hendak meneriakan nama sosok yang dicarinya itu hanya untuk sekadar memastikan. Tapi, ia mengurungkan niatnya tatkala sekelebat ingatan tentang kegiatan panas kemarin malam memenuhi benaknya. Wajah seorang Uchiha Sasuke memerah dengan hebat. Ia pun menutupi wajah itu dengan kedua tangan.
"Sial," gerutunya.
Sasuke pun menyibakkan selimutnya dan kemudian beranjak ke kamar mandi untuk menjalankan rutinitas pagi-menjelang-siangnya. Setelah mengenakan kembali jubahnya, Sasuke terdiam beberapa saat dengan topeng yang ada di tangan. Jantungnya sekilas berdegup ragu—tapi kemudian ia memasukkan kembali topeng itu ke dalam tasnya.
Tepat saat Sasuke hendak membuka pintu, pintu kamarnya terlebih dahulu bergeser dan menampilkan sosok yang tadi dicarinya begitu ia baru membuka mata. Keduanya berpandangan selama beberapa saat sebelum gadis itu berkata,
"Oh. Sudah bangun." Yamanaka Ino berkata dengan nada yang terbilang dingin. Lebih-lebih, gadis itu justru berbalik dan memunggungi Sasuke lalu melanjutkan dengan datar, "Sarapan sudah disiapkan. Cepatlah."
Sasuke tidak mengerti apa yang terjadi. Ia ingin bertanya, tapi ternyata gerakan tangannya lebih cepat dari suaranya. Tangannya pun menyambar lengan Ino dan memaksa gadis itu untuk berbalik. Di detik itu, Sasuke bisa melihat mata Ino yang terbelalak dan wajahnya yang merah—sangat merah.
"Kau …."
"HAAAH! Jangan bilang! Aku tahu, aku tahu!" ujar Ino cepat sembari melepaskan tangan Sasuke. Kini kedua tangannya ia gunakan untuk merangkum pipinya sendiri. "Aku tidak bisa mencegahnya! Setiap teringat hal itu, pipiku memerah dengan sendirinya!"
Sasuke masih terdiam di depan pintu. Mendadak, Ino memandangnya sengit dan kemudian menunjuk Sasuke bagaikan detektif menunjuk pelaku tindakan kriminal.
"Semua salahmu!" ujarnya dengan nada tak ingin dibantah.
Selama beberapa saat, keduanya kembali terlibat dengan suasana hening. Sasuke memandang Ino dengan tatapan yang seolah menyiratkan, 'Apa otakmu baik-baik saja?' dan dibalas Ino dengan pipi menggembung yang seakan ingin menyampaikan, 'Pokoknya salahmu! Ini salahmu! Salahmu! Salahmu! Mungkin salahku sedikit, tapi sisanya salahmu!'
Menanggapi tuduhan Ino, Sasuke hanya bisa berkata, "Konyol."
Setelahnya, lelaki itu berjalan seakan hendak meninggalkan Ino. Namun, begitu posisi mereka sejajar, tangan Sasuke meraih kepala Ino dan setengah mendorong gadis itu untuk berjalan bersamanya.
"He—"
"Sudahlah," ujar Sasuke kemudian sembari menggenggam tangan Ino. "Aku sudah terlalu lapar untuk bisa menemanimu berdebat."
Ino memutar bola mata dan berjalan dengan pasrah di samping Sasuke. Lorong penginapan kala itu sangat sepi—seakan hanya mereka berdua yang ada di penginapan kecil tersebut. Melihat kesempatan itu, tepat sebelum keduanya tiba di ruang makan, Sasuke menundukkan tubuhnya sedikit untuk meraih bibir Ino.
"Itadakimasu."
Setelah itu, Sasuke menggeser pintu ke ruang makan dan membiarkan Ino mematung tepat di ruang makan. Ino sudah hendak berteriak—seandainya ia tidak sadar di mana ia sedang berada sekarang. Gadis itu pun menelan amarahnya dan bersikap (sok) tenang. Lalu ia menyusul Sasuke dan menutup pintu ruang makan dengan setengah membantingnya.
o-o-o-o-o
Meninggalkan penginapan di desa Ochuu, beberapa gadis yang melihat Sasuke sempat terpesona. Sementara beberapa pasang mata yang lain mengamati mereka dengan curiga karena tak seorang pun di antara mereka yang mengenakan hitai-ate sebagai identitas pengenal. Namun, baik Sasuke maupun Ino tak hendak berlama-lama di sana, mereka bisa mengabaikan tatapan curiga akan kedatangan orang dengan wajah yang jarang terlihat di desa itu.
Matahari belum terlalu naik saat Sasuke maupun Ino sudah berada di kaki bukit yang akan menjadi jalan termudah mencapai desa Hiiru. Kedua shinobi itu tidak terlalu banyak bicara kala itu. Namun, Ino merasakan perubahan besar dalam sikap Sasuke padanya. Pemuda itu, sedikit banyak jadi terlalu overprotektif padanya. Belum berjalan beberapa detik, Sasuke akan menoleh ke belakang untuk memastikan Ino tak terlalu jauh darinya. Pemuda itu pun beberapa kali menarik tangan Ino agar sang gadis berjalan lebih cepat—minimal sejajar dengannya.
Ino bukannya tidak suka. Bisa dibilang, ia merasa senang—meskipun sedikit geli. Sasuke kini seolah bergantung padanya. Dan beberapa kali, Ino dibuatnya berdebar kencang sekaligus memutar bola mata. Ia sama sekali tak mengira bahwa hal yang telah mereka lakukan kemarin malam memiliki efek samping yang bertahan lama seperti ini.
"Sasuke-kun, tenanglah! Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Sasuke mengernyitkan alisnya. Setelah itu, ia melepaskan tangan Ino. Ini bukan pertama kalinya kata-kata semacam itu terlontar dari bibir Ino. Namun, tak berapa lama, Sasuke akan mengulanginya lagi. Pada akhirnya, mereka berdua tak terlihat layaknya shinobi yang tengah mengemban misi. Mereka lebih terlihat bagaikan pasangan muda yang sedang mencari tempat untuk berbulan madu.
Ino tidak bisa lagi melarang Sasuke. Biar saja pemuda itu terus menggandeng tangannya—sampai sesekali mereka menemui kesulitan untuk berjalan bergandengan tangan. Setelah sekitar empat puluh menit perjalanan (yang seharusnya bisa ditempuh lebih cepat—tapi karena Sasuke yang mendadak aneh, Ino pun hanya bisa memaklumi) mendaki, akhirnya kedua orang itu pun tiba di gerbang desa Hiiru.
Udara di sana jauh lebih dingin dibanding desa Ochuu. Tentu saja, di ketinggian seperti ini, oksigen jadi terasa lebih tipis. Meskipun udara menyegarkan dan pemandangan yang mereka lihat dari atas sana membuat Ino bisa berseru takjub, tetapi begitu matanya menangkap beberapa pemuda yang seakan tengah menanti mereka di depan gerbang, perasaannya langsung menjadi tidak enak.
Tak ada di antara Sasuke maupun Ino yang memulai pembicaraan dengan para pemuda yang mereka duga adalah penduduk desa Hiiru. Kedua belah pihak tampak sedang menyelidiki satu sama lain. Ino menajamkan penglihatan dan keseluruh indranya. Ia pun berusaha waspada dan meneliti satu demi satu chakra yang dilepaskan oleh beberapa orang yang ada di sana. Namun, Ino hanya bisa menemukan kenyataan bahwa para pemuda yang menghadang mereka adalah penduduk sipil.
Tidak jelas seperti apa rupa para penduduk itu karena mereka semua mengenakan topeng. Baju yang dikenakan pun layaknya biksu—meski mereka semua masih memiliki rambut. Berdiri dalam dua banjar di depan gerbang merah yang dikelilingi pepohonan besar. Dari tempat mereka berdiri sekarang, baik Ino maupun Sasuke tak dapat melihat bagaimana rupa desa Hiiru yang menjadi target mereka.
Mendadak, para pemuda bertopeng itu membuka jalan hingga di hadapan Ino terdapat seorang pria setengah baya bertubuh kekar dengan kepala yang licin. Lelakia bertubuh kekar itu pun mengenakan pakaian layaknya biksu—dengan kalung kayu berbentuk bulatan-bulatan yang besar. Bedanya, jika yang lain mengenakan pakaian dengan motif merah, putih, dan hitam, lekaki kekar yang satu ini mengenakan pakaian dengan motif putih dan kuning-oranye. Ia pun tak mengenakan topeng—menunjukkan dengan jelas wajahnya dengan rahang yang tampak keras dan mata yang kecil.
"Salam, Utusan Konoha," ujar lelaki setengah baya yang tak mengenakan topeng tersebut.
"Ah," celetuk Ino. Gadis itu segera kembali ke alam nyata setelah pikirannya melintas ke mana-mana. Ia pun merogoh tas kecilnya untuk mengeluarkan surat perintah dari Hokage. "Konoha no Yamanaka Ino to …."
"Uchiha Sasuke, 'kan?"
Ino mengatupkan mulutnya. Diam-diam, gadis itu melirik Sasuke yang tampak tak terpengaruh.
"Betul," jawab Sasuke tenang.
Lelaki tanpa topeng itu tersenyum mendengar pengakuan Sasuke yang terang-terangan. Sesaat, Ino merasa firasat buruknya di awal adalah kesalahan belaka. Ia menghela napas lega dan hendak melangkah maju saat mendadak, lelaki biksu yang tampak bagaikan pimpinan (atau mungkin kepala desa) desa Hiiru itu meletakkan sebelah tangannya di depan dada dan menunduk sopan.
"Terima kasih sudah menyempatkan diri untuk datang. Tapi, maaf, kami tak bisa menerima kalian di sini."
"Apa?" tanya Ino tak percaya.
"Pergilah. Desa suci kami bukanlah desa yang bisa dimasuki oleh pendosa sepertimu."
Kata-kata itu tidak ditujukan pada Ino tentu saja. Mereka semua tahu siapa yang tengah dibicarakan saat ini. Ino sudah hendak berkata-kata saat mendadak saja, kabut tebal turun dan mulai menghalangi pandangan mereka.
"Karma akan mengejarmu. Semoga beruntung, Pendosa."
Setelah itu, yang bisa Ino lihat dari pemandangan yang samar itu hanyalah punggung para pemuda yang sudah berbalik meninggalkan Ino dan Sasuke—meninggalkan dua di antaranya yang memang tampak berbeda dibanding yang lain karena mereka membawa tombak besar dan merupakan penjaga gerbang desa Hiiru.
"Sebentar!"
Sang pimpinan berhenti bergerak. Ino sudah hendak melontarkan keberatannya saat mendadak mulutnya ditutup oleh sebuah tangan. Sasuke.
"Jadi, ini adalah desa suci, heh?" ujar pemuda berambut kelam itu dengan nada suara menantang. "Maksudmu, semua penduduk yang ada di sini adalah mereka yang tak pernah berbuat dosa sama sekali?"
Sang pimpinan berbalik. Ia tidak menampakkan wajah marah sama sekali. Ekspresinya terlihat tenang menghadapi provokasi Sasuke. Ia malah tersenyum.
"Ah, siapalah kami," jawabnya sopan, "di depan penerus Uchiha yang begitu berani. Tapi di depan Karma, kau pun akan tahu posisimu."
Sasuke menurunkan tangannya dari mulut Ino. Wajahnya mengeras.
"Kau—apa maksudmu?" desis Sasuke.
"Tidak ada yang bisa menentang Karma. Ia tak terlihat, ia bergerak cepat." Sang pimpinan memberi jeda untuk bisa tersenyum lebih lebar. "Ia akan menembus hati dan pikiranmu. Menimbang seberapa berat dosamu sebelum menghantamkan palu penghakiman."
"Bahkan pada mereka yang sudah menyesal dan hendak berubah menjadi lebih baik?" Ino berseru lantang.
"Membasuh dosa tak semudah membasuh lumpur di kaki, Nona," jawab si Pimpinan dengan tangan di depan dada. "Ada hal-hal yang harus dibayarkan untuk menghapus dosa—dan Karma yang akan mengambil tagihannya."
"Aku tidak mengerti omong kosong yang sedang kaubicara—"
"Seperti Uchiha Itachi," ujar sang Pimpinan sambil tersenyum. Satu nama itu membuat mata Sasuke membesar. "Kematianlah yang menjadi ganjaran atas tindakannya membantai seluruh keluarga Uchiha. Karma telah bekerja terhadapnya."
Tidak ada yang bicara selama beberapa saat. Selanjutnya, Sasuke tertawa keras-keras. Ia seolah kehilangan akal sehatnya, tapi tidak. Ia tahu pasti apa yang akan dia katakan. Dengan wajah tenang dan senang yang membuat lawan bicaranya menunjukkan raut kebingungan, Sasuke kemudian berkata,
"Kau tidak tahu apa-apa tentang Itachi. Dan Karma yang kaubanggakan itu tidak pernah ada."
"Beraninya kau—" Salah seorang pemuda yang berada di samping Sang Pimpinan sudah hendak menyerang Sasuke saat tangan Sang Pimpinan terangkat.
"Apa kau masih bisa berwajah tenang seperti itu saat Karma nanti menghampirimu?"
Sasuke menggeleng dan berkacak pinggang sebelah. Ia kemudian tersenyum.
"Aku tidak pernah takut pada kematian. Itu adalah takdir yang akan kita jumpai pada akhirnya. Hanya kapan, di mana, bagaimana kita menjumpainya yang membedakan. Sebagai shinobi, risiko kematian itu sudah berkali-kali kujumpai." Sasuke menghela napas. Tatapannya menerawang. "Tapi, aku masih diizinkan hidup, bukankah itu berarti, aku masih memiliki suatu tugas di bumi ini?"
Ino tidak bisa berkata apa-apa. Segala kata-katanya seakan tersangkut di tenggorokan.
"Jika memang Karma-lah yang telah merenggut nyawa Itachi, berarti Karma-mu sama sekali tidak menakutkan. Karena pada akhirnya, Itachi tewas dengan senyum di wajahnya."
Ino tersentak. Matanya mengerjap beberapa kali. Ia kemudian berkata lirih, "Sasuke-kun, ingatanmu …."
Sasuke tidak menjawab gumaman Ino yang sebenarnya begitu jelas di telinganya. Ia masih menukar tatapan penuh arti dengan sosok sang Pimpinan yang layaknya biksu tersebut.
Mendengar bantahan demi bantahan yang dilontarkan Sasuke, sang Pimpinan desa Hiiru itu tetap tenang. Ia kemudian menggeleng dan menggumamkan sesuatu dengan sebelah tangan terangkat ke dadanya.
"Karma adalah pimpinan dan kepercayaan kami. Dia bisa bekerja dalam wujud apa pun. Yang bisa kami lakukan hanyalah tunduk padanya." Ia kembali membungkuk. "Aku menikmati percakapan denganmu, Uchiha Sasuke. Tapi maaf, kami tetap tidak bisa membiarkanmu menginjakkan kaki di desa kami. Kami akan baik-baik saja tanpa bantuanmu. Nanti aku akan menuliskan permohonan maafku ini pada Hokage-sama yang telah bermurah hati mengirimkan pembunuh andalannya pada kami."
Tidak ada yang bersuara lagi pada akhirnya. Baik Sasuke maupun Ino hanya bisa bertukar pandang dan kemudian mengamati para penduduk desa dengan kepercayaan aneh itu menjauh—meninggalkan dua di antaranya yang berdiam di depan gerbang dengan tatapan sinis dan mengusir pada Sasuke dan Ino.
Sasuke menghela napas panjang sembari menyentuh tengkuknya. "Jadi begini, ya, rasanya ditolak?"
Ino menepuk pundak Sasuke. Ia menyeringai lebar. "Sudahlah, ambil sisi baiknya. Mungkin kita bisa pulang lebih cepat ke Konoha. Bagaimana menu—AWAAAS!"
Sebuah panah melesat dan langsung menghujam dada kanan Ino. Ketidakwaspadaan keduanya berakibat fatal. Padahal, sudah seharusnya para shinobi ini selalu mengawasi sekitar dan tidak terlena oleh keadaan. Tapi, keberadaan sang pelaku sesaat memang begitu samar hingga tak seorang pun menyadarinya, bahkan kedua penjaga gerbang desa Hiiru.
"INOOOO!"
"Cih! Meleset!"
Samar-samar, Sasuke bisa mendengar suara seseorang menggerutu. Dari balik pohon yang berada di dekat gerbang desa Hiiru, Sasuke akhirnya bisa melihat sekilas sesosok manusia berjubah hitam yang meloncat turun dan kabur ke dalam desa Hiiru—meninggalkan Sasuke yang tak bisa mengejarnya karena mencemaskan keadaan Ino. Lagi pula, pemanah barusan, bukan orang biasa.
"BERHENTI!" teriak kedua pengawal gerbang desa.
Keduanya saling bertatapan sesaat sebelum salah satunya segera berlari mengejar dan yang lain melihat ke arah Sasuke dan Ino. Sosok itu mengernyit dan memandang jijik ke arah Sasuke, tapi ia berkata,
"Tunggu di sini dan usahakan untuk menghentikan pendarahannya. Aku akan melaporkannya terlebih dahulu pada Kepala Desa."
"Tidak! Sebentar! Kalau aku memang tidak boleh masuk, setidaknya … tolong bawa dia dan obati lukanya segera. Atau, kalau ada ninja medis …."
Sang penjaga gerbang mendengus sembari mengibaskan tangannya. "Cih! Aku tidak bisa bertindak seenaknya! Tunggu di sana dan bersabarlah!"
Sasuke hanya bisa menggeram kesal sembari berusaha menghentikan pendarahan dari dada Ino. Ia tidak ingin gegabah mencabut panah yang menancap begitu dalam—dia bukan ninja medis. Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Menunggu? Heh!
"Sasu … ke-kun …." Ino mengernyit. Mati-matian berusaha mengatur napasnya. Tangannya yang gemetar mencoba bergerak menyentuh panah yang menembus dada kanannya.
"Sssh! Ino!" Sasuke langsung menggenggam tangan Ino dan meremasnya dengan perasaan kalut.
Lelaki Uchiha tersebut kemudian menoleh ke belakang—ke arah gerbang yang tak ada penjaganya lagi; ke pintu masuk menuju desa dengan kepercayaan yang aneh.
Kabut di sekitar mereka semakin tebal.
***つづく***
Akhirnya, setelah ... berapa lama nggak lanjut, ya? Hahahhaha. Ini chapter 10-nya. Hubungan SasuIno-nya akhirnya ada perkembangan! YAAAY! Nggak terlalu maksa, 'kan? Mudah-mudahan. XD
Chapter ini un-beta-ed, jadi kalau menemukan misstype atau bahasa yang aneh (?), kasih tahu aja, yak. Ntar aku edit :")
Btw, ini ada sedikit 'hadiah' (?)
POJOK (SOK) GAHOEL!
"Jadi, ini adalah desa suci, heh?" ujar pemuda berambut kelam itu dengan nada suara menantang. "Maksudmu, semua penduduk yang ada di sini adalah mereka yang tak pernah berbuat dosa sama sekali?"
Sang pimpinan berbalik. Ia tidak menampakkan wajah marah sama sekali. Ekspresinya terlihat tenang menghadapi provokasi Sasuke. Ia malah tersenyum.
"Ah, siapalah kami," jawabnya sopan, "di depan penerus Uchiha yang begitu berani. Tapi di depan Karma, kau pun akan tahu posisimu."
Sasuke menurunkan tangannya dari mulut Ino. Wajahnya mengeras.
"Kau—MULYONOOO! BANGSYAAT! KENAPA KAU SAMPAI MENGINVASI KE CERITA GUE, HEH? JANGAN SOK SUCI DEH LOE!"
"A-a-aku ketahuan?"
"Ke-ketua ini … Mulyono? Serius? Yang membunuh Laksmi itu, kan?! Ka-ka-kalau begituuu …."
"PENDOSAAA! KELUAR DARI DESA INIII!"
"HUWEEEE! AKU KAN UDAH BERTOBAT SETELAH DIBACAIN DOA-DOA! AMPUUUNNN!"
Ino kemudian hanya bisa memasang wajah datar saat melihat sang pimpinan bernama Mulyono itu ditendangi penduduk yang sebelumnya memujanya. Lebih datar lagi saat melihat Sasuke tertawa terbahak-bahak dengan hidung yang memanjang karena ia berhasil melucuti penyamaran sang Pimpinan.
THE END
Btw, Mulyono dan Laksmi © Fajar Sahrul. Maaf, saya nggak bisa menahan diri untuk nggak nyempilin parodi Mulyono di fict ini. Buat yang nggak tahu, mungkin bisa googling siapa itu Mulyono dan Laksmi buatan Mas Fajar Sahrul X"D
Semoga terhibur~! XD
Btw, saya balesin dulu yak review non-login yang sudah masuk. Yang review login boleh cek PM kalian :D
Kuroba: aah, saya juga makasih yah karena kamu udah mau nyempetin rnr ff saya ini. Syukurlah kalau suka. Moga-moga kelanjutannya juga kamu suka XD
Amay: wkwkkw, asyik, bisa bikin yang greget. Silakan chapter selanjutnya XD
Guest1: hahahhaa, di sini ino-nya malah yang mancing-mancing XDDD /dor/ iya, karena main focus-nya kan di SasuIno, NS slight, jadi porsinya memang nggak banyak. Tapi di sini mereka muncul kok selewat. Hahaha.
Ai: okay, thank you atas perhatiannya ya
Sayumi Takahashi: bi-bisa. Mudah-mudahan. Di chapter ini gimana feel romance-nya? X""D
JelLyFisH: tahu, mungkin (?) XD yang ada aku bikin adegan yang bikin mereka malah tidur nyenyak~ bahhahaha XDD
Xoxo: nggak tahu deh, dia gak jelas siiih~ /digampar Sasuke/ XD nyahhahaa, ketahuan deh, cenayang yah kamu? ;))
Feri: silakan chapter 10-nya XD7
Xi Miey Chan: roger 8D
minami22: huhuhuhu, nggak nyangka pada doyan(?) sifat Sasuke macam ini, yak? XD Yosh, silakan chapter 10! :*
uchiha ulin: amin! Moga-moga mereka tambah romantis~ X"""D
Hana: thank you! XD
Amay: sorry nunggu kelamaan ya? Ehhhee 8")))
Yap. Sekian balesan ripiu-nya. Seperti biasa juga, buat yang silent reader (kalau ada), buat yang udah nge-fave dan nge-alert juga, terima kasih yang sebesar-besarnya yaaa! *hug you all*
Last but not least, jangan lupa beritahukan pendapat, pesan, kesan, kritik minna-san tentang chapter ini via review. Okay, okay? XD
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie.
~Thanks for reading~
