Title: Love U Ma Boy (Sekuel)

Author: Ovieee

Cast: Kim Joonmyeon

Zhang Yi Xing

And Other

Main pair: SuLay

Rated: T

Genre: Family, romance, drama

Warn: BL, Yaoi, Sho-Ai, Mpreg

Disclaimer: Mereka milik diri masing-masing dan nama Ovie Cuma pinjem. Tapi cerita murni dari otak Ovie yang super cerdas ini/?

Summary: Dari mereka yang saling mencintai, kemudian dimunculkan masalah karena dari kelainan anak yang mereka hasilkan. Apakah mereka masih mencintai satu sama lain?

.

Happy Reading.

.

[Baca a/n Ovie dibawah ya]

.

.

"Nah, Yi Joon belajar yang rajin oke? Jika perlu sesuatu Yi Joon bisa bilang sama Luhan ahjumma" Yi Xing berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan Yi Joon yang sudah siap untuk memasuki sekolahnya. Yi Joon berpose hormat pada lelaki yang sudah melahirkannya didepannya ini. Kemudian terkikik saat menyadari tingkah lakunya yang terasa lucu.

"YI JOON!" Kikikan mereka terhenti saat teriakan yang cempreng itu menyapu pendengaran mereka.

GREPP

"Ugh aku rindu Yi Joonie~" Dennis memeluk Yi Joon erat lalu memutar-mutarkan tubuhnya. Ia tersenyum dengan memeluk Yi Joon, tapi yang dipeluk hanya bisa diam dengan kedua pipi yang merona. Dengan alasan yang tidak ia ketahui.

"Hey masih pagi. Dilarang pacaran untuk bocah" Itu suara Chanyeol yang menginterupsi membuat Dennis melepaskan pelukannya pada Yi Joon. Entahlah, biasanya Chanyeol jarang sekali turun dari mobilnya sewaktu mengantar Twin Park ke sekolah. Tapi setelah pengakuan Dennis yang terang-terangan mengatakan kalau Yi Joon istrinya beberapa minggu yang lalu, Chanyeol jadi semakin ketat menjaga anaknya agar tidak melakukan hal diluar batas, mengingat Baekhyun yang kewalahan menjaga mereka berdua.

"Yi Joonie besok datang kerumah ya. Dennis mau ulang tahun!" Pekiknya gembira dengan memegang kedua bahu Yi Joon sembari menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.

"Benarkah Dennis besok ulang tahun?" Itu Joonmyeon yang baru keluar dari mobil, merangkul pinggang Yi Xing dengan mesra. Ia memutuskan untuk bergabung mengingat tidak ada yang perlu dikerjakan pagi ini, mungkin terlambat sedikit tidak apa batin Joonmyeon. Karena ia sedikit tertarik dengan celotehan anak sulung dari keluarga Park itu.

Dennis mengangguk semangat sebagai jawaban Joonmyeon. "Wah berarti tanggal ulang tahun Dennis berdekatan dengan ulang tahunnya Yi Joon" Joonmyeon kemudian berjongkok menyetarakan tinggi badannya dengan dua bocah dihadapannya.

"Ah jinjja!?" Dennis memekik dengan bahagia, entah dia mengerti atau tidak. Yang pasti ia senang sekali kala Joonmyeon mengatakan hal yang berdekatan dengan Yi Joon. Joonmyeon mengangguk diiringi dengan senyuman yang Yi Joon warisi darinya. "Ahh Dennis senang sekalii~" Kemudian ia memeluk Yi Joon kembali. Dan anak itu hanya diam sedari tadi. Tidak terlalu mengerti dengan apa yang mereka bicarakan.

"Nah, sudah ceritanya kan? Ayo masuk, sebentar lagi kelas dimulai" Dennis menatap ayahnya lalu menatap Yi Joon lagi.

"Ayo!" Lalu dengan semangat memegang—menggandeng- tangan Yi Joon untuk berjalan menuju kelasnya yang disyukuri Dennis karena mereka bertiga—termasuk Jesper- belajar dikelas yang sama. Meninggalkan orang tua yang berstatus ayah bertatapan dengan tatapan yang sulit diartikan. Beserta orang tua yang berstatus ibu tersenyum gemas kearah Dennis dan Yi Joon yang tangannya digenggam erat oleh yang tinggi.

.

.

.

"Appa pulang~!" Joonmyeon yang baru memasuki rumahnya seketika mendengar bunyi gedebuk mendekat kearahnya. Sebelum si pelaku muncul, dirinya sudah tersenyum karena dia sudah tahu kalau pelakunya...

"Appa!"

"Ahaha hai jagoan appa" Joonmyeon mengecup pipi gembil Yi Joon setelah menggendongnya.

"Hai appa" Kemudian Yi Joon menggelayuti tubuh ayahnya dengan manja, menyembunyikan wajahnya di potongan leher sang ayah. Joonmyeon hanya tersenyum samar melihat kelakuan anaknya, rasa lelahnya tadi di kantor lenyap seketika digantikan dengan perasaan hangat yang nyaman.

"Mana umma?" Joonmyeon bertanya saat ia dan Yi Joon berada di ruang keluarga, karena disana tidak ada siapa-siapa selain televisi yang dinyalakan dengan volume kecil. Oh bisa saja istrinya—

"Umma lagi macak"–nah, benar tebakannya.

"Yi Joon tunggu disini dulu tunggu umma sampai memanggil. Appa mandi dulu oke?"

"Oke!" Joonmyeon berjalan menuju kamar mandi yang ada dikamarnya, meninggalkan Yi Joon yang sedang asik menonton serial Pokemon.

.

"Mana appa?" Yi Joon menoleh saat mendengar suara yang—sepertinya-bertanya padanya.

"Appa cedang mandi" Sahutnya setelah menoleh.

"Oh, ayo makan malam sudah siap." Yi Joon beranjak dari sofanya lalu berlari-lari kecil kearah dapur setelah ummanya memerintah. Yi Xing melihat itu hanta tersenyum manis melihat tingkah anaknya yang sangat punurut.

"Yi Joon mau yang itu umma!" Dirinya memekik senang sembari menunjuk-nunjuk makanan favoritnya. Telur dadar dengan isi sayuran yang disiram dengan saos asam manis, singkat kata, namanya fu yung hai.

"Baiklah, ini buat jagoan umma yang sudah mendapat nilai sempurna dipelajaran eksak hari ini" Yi Xing menyendokkan sepotong untuk di taruh ke piring Yi Joon. Dirinya memang memasak spesial malam ini karena Yi Joon yang mendapat nilai sempurna dikelasnya. Yi Xing tersenyum mendapati wajah anaknya yang sumringah saat dirinya menaruh potongan telur itu di piringnya. Yi Joon memang berkata padanya kalau ia menyukai makanan Chinna itu beberapa minggu lalu. Sudah bisa ditebak siapa orang yang sudah membuat Yi Joon suka dengan fu yung hai. Luhan, sepupunya. Yah, sepupunya itu ternyata menyuruh Yi Joon untuk keruangannya—setelah Luhan sendiri yang merayu Yi Joon agar ikut- dan menyuruh Yi Joon untuk makan siang—kebetulan juga Luhan membawa banyak- yang tentu saja Yi Joon terima karena yang ia tau Luhan adalah paman-nya. Dan dari situ lah Yi Joon sangat tergila-gila dengan makanan itu.

"Eitss.. Tidak mau nunggu appa?" Yi Xing menahan anaknya yang sudah ingin memasukkan se-sendok fu yung hai kemulut kecilnya. Membuat Yi Joon terdiam sejenak—mencerna kata-kata ibunya- lalu setelahnya menaruh kembali sendoknya di piringnya dengan cengiran khas tetcetak di wajah manisnya.

"Ehehe lupa. Baik, Yi Joon akan nunggu appa" ucapnya seraya bersendekap tangan diatas meja—kebiasaan disekolah.

"Agar tak lama, Yi Joon tunggu dulu sebentar, umma panggilkan appa ya" Yi Joon mengangguk pelan sembari tersenyum kearah ibunya, membiarkan beranjak dari sana untuk memanggil ayahnya.

Sembari menunggu, Yi Joon memandang potongan telurnya, sesekali tangan nakalnya mencomot pinggirannya.

Ditempat lain

"Yeobo?"

CKLEK

"Ada apa?" Itu Joonmyeon yang bertanya setelah keluar dari kamar mandi, lalu mencuri sebuah kecupan pada bibir Yi Xing.

"Tidak ada, hanya saja Yi Joon sangat bersemangat ingin makan malam. Dia sudah tidak sabar dengan fu yung hai-nya" Joonmyeon sedikit terkekeh mendengar penuturan istrinya itu sembari mengambil kaosnya didalam lenari. Membayangkan betapa lucu ekspresi anaknya yang memandang makanan kesukaannya.

"Apa dia baik-baik saja didalam sana?" Joonmyeon berjalan mendekat kearah Yi Xing setelah memakai kaosnya. Pertanyaannya keluar dari topik utama.

"Ya, dia baik-baik saja, kecuali satu hal" Joonmyeon memandang istrinya lamat-lamat. "dia membuatku mual, ya seperti Yi Joon dulu" Yi Xing tersenyum geli dengan penuturannya sendiri.

"Ya, itu sudah wajar" Lalu Joonmyeon mengecup kening Yi Xing lama. "Jja! Kita makan, aku tidak bisa membayangkan ekspresi anak itu karena terlalu lama menunggu kita" Joonmyeon kembali dengan senyumnya memandang wajah sang istri yang semakin hari semakin cantik saja akhir-akhir ini. Kemudian mereka meninggalkan kamarnya dengan sejuta rasa hangat yang melingkupi.

.

Joonmyeon beserta Yi Xing memasuki dapur dimana Yi Joon duduk menunggui mereka. Dan keduanya dapat melihat kalau piring Yi Joon sudah kosong dengan mulut yang belepotan saus. Yi Joon menoleh saat merasakan kehadiran lain di sekitarnya, dan saat maniknya bertubrukan dengan manik kedua orang tuanya, ia segera memamerkan senyum malu membuat dua orang dewasa yang berdiri tak jauh darinya tertawa geli.

"Anak appa kelaparan hm?" Joonmyeon bertanya, berjalan mendekati Yi Joon dan duduk disebelahnya. Sedangkan Yi Xing mengambil duduk disebelah Yi Joon pula namun berada disudut lain.

"Hehe.. Yi Joon lapar ppa." Cengirnya kearah sang ayah yang sudah mengacak surainya gemas. "Umma cih cama appa lama banget. Yi Joon jadi tidak tahan" Memajukan bibirnya berapa senti, Yi Xing harus menepuk pelan bibir yang maju itu, wajahnya sangat lucu jika bibirnya dimajukan. Membuat siapa saja tidak tahan melihat kelakuannya yang super imut. "Tapi macakan umma tetap jjang!" Yi Joon memekik lalu merentangkan tangannya kearah sang ibu, membuat Yi Xing harus mendekatkan tubuhnya dan memeluk tubuh mungil tersebut kedalam dekapannya yang hangat.

Cup

"Terima kacih umma" Ucapnya tulus setelah mengecup pipi ibunya.

"Sama-sama sayangku" balas Yi Xing tersenyum.

"Nah, tadi kan Yi Joon makan sendiri. Sekarang ayo kita makan sama-sama" Yi Joon memandang ayahnya dengan tatapan tidak tahu apa-apa. "Tidak usah sok polos anakku. Aku tahu jika kau masih lapar" Joonmyeon yang sedang menyendokkan sepotong fu yung hai untuk Yi Join melirikkan matanya pada anak tunggalnya itu dan mendapati wajah anaknya yang kembali nyengir. Belajar nyengir dari siapa ngomong-ngomong.

.

.

.

"Yi Joon tidak mengantuk?"

"Mmm..." Yi Joon menggeleng dipelukan ibunya setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya. Saat ini mereka sudah menyelesaikan makan malamnya dan tinggal melabuhi alam mimpi saja. Namun dengan Yi Joon yang tak kunjung terlelap sedari tadi membuat mereka hanya mengobrol-ngobrol kecil untuk menjemput kantuk.

"Hey, hati-hati dengan kakimu perut umma bisa sakit" Yi Joon melepaskan dekapannya dan memandang kakinya yang berada di atas perut ibunya. Bukannya menjauhkan kakinya tersebut, Yi Joon malah semakin merapatkan tubuhnya pada dekapan Yi Xing yang otomatis kakinya memeluk erat perut ibunya itu.

"Ya! Ditegur malah tidak mau mendengarkan"

"Sudahlah, lagipula aku tidak apa-apa"

"Tapi kan—"

"Joonmyeon"

"Baiklah" Yi Xing tersenyum kearah suaminya setelahnya. Sedangkan Joonmyeon sendiri hanya menghembuskan napasnya, ia kan hanya mengkhawatirkan istrinya saja. Jika kenapa-kenapa kan ia juga yang repot. Lalu Yi Xing beralih menatap anaknya yang menyembunyikan wajahnya di dada Yi Xing. Belum tidur, anak itu malah bermanja-manja didekapannya sembari bersenandung entah lagu apa.

"Hey, kenapa belum tidur?" Yi Xing memiringkan tubuhnya tanpa mengalihkan letak kaki Yi Joon membuat Joonmyeon harus menahan gemas untuk tidak mencubiti anaknya yang tidak menurut itu.

"Yi Joon belum mengantuk ma" Jawabnya, Yi Xing hanya mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mengenyampingkan helaian rambut Yi Joon kebelakang telinganya.

"Mau menelepon Dennis?" Yi Xing dapat merasakan tubuh Yi Joon yang sedikit menegang, dan juga detak jantung Yi Joon yang sedikit bertambah cepat degupannya. Joonmyeon yang mendapat tatapan berarti dari Yi Xing hanya memperhatikan ditempatnya.

"Buat apa umma?"

"Umm.. Mungkin untuk pengantar tidur?" Terjadi hening sebentar, Yi Xing kira anaknya sudah jatuh terlelap jika tidak mendengar lirihan yang sukses membuat dirinya memekik tertahan. Tunggu, kenapa malah dirinya yang terlihat bersemangat.

"Umm.. Yi Joon ingin menelepon Dennis" Yi Xing dengan segera menatap suaminya berharap paham dengan tatapan matanya. Joonmyeon yang mengerti segera men dial nomor ekhemcalonbesanekhem dan Yi Xing bersyukur akan itu.

Joonmyeon menempelkan ponselnya ketelinga dan tak lama sambungan terhubung karena orang diseberang sana menjawabnya, berbincang sebentar sampai ia memberikan ponselnya ketelinga Yi Joon. Yi Joon sedikit terperanjat sampai ia mendengar suara cempreng milik Dennis.

"Siapa appa!?" Yi Joon mendengar anak itu yang berteriak yang ia yakini ayahnya.

"Eumm.. Dennis?" Yi Joon menyapa dengan ragu, Yi Xing serta Joonmyeon hanya melihatnya sembari tersenyum. Tidak tahu apa yang akan bocah tujuh bicarakan melalui telepon pintar.

"Eoh?" jeda sebentar sampai ia memekik, "Yi Joonie!" Yi Joon tidak menjawab sampai ia mendengar lagi suara Dennis, "Yi Joon! AAAAAAAA~!" Entahlah, Yi Xing mengernyit saat ini, samar-samar mendengar Dennis yang berteriak. Sedangkan Yi Joon hanya membelalakkan matanya tidak mengerti. Tidak mengetahui kalau bocah yang ditelponnya sedang klepek-klepek diseberang sana karena ditelepon oleh sang pujaan hati.

Haha bocah.

.

.

.

Dennis's Birthday.

"Nah anak umma sudah tampan"

"Cantik"

"Tampan, ia laki-laki yeobo"

"Ya, tidak ada salahnya kan laki-laki juga cantik. Lagipula ia akan jadi istrinya Dennis"

BLUSH

Untuk alasan yang ini Yi Joon tahu kenapa pipinya terasa memanas. Ayahnya mengatakan 'istri' dan 'Dennis' lalu kata-kata itu ditunjukkan untuknya. Tentu saja dirinya merasa malu. Entah apa pipinya yang terasa panas ini memberikan efek berarti, semoga saja ti—

"Aww! Pipinya memerah!" —dak. Tidak, apa kalau pipi terasa panas itu membuatnya terlihat seperti kepiting rebus? Oh tidak, Yi Joon tidak mau.

"Anak umma malu eoh?" Yi Joon memandang ibunya yang berada dihadapannya—karena memakaikannya pakaian untuknya tadi- tersenyum menggoda membuat wajahnya semakin terasa panas. "Gyaaa... Yi Joon manis sekalii.." Ibunya berteriak histeris sambil memeluk dirinya. Yi Joon hanya dia tak mampu berbuat apa-apa dengam wajah yang memerah sempurnya.

"Ini sudah jam lima, sebaiknya kita bergegas sebelum Dennis mengamuk di pestanya karena dirimu nak" Joonmyeon memperingati setelah ia membaca pesan dari Chanyeol yang mengatakan Dennis tidak mau keluar kamar kalau Yi Joon tidak ada padahal sudah banyak teman-teman Dennis beserta anak rekan Chanyeol yang diundangnya datang. Joonmyeon memarkirkan mobilnya didepan rumah Chanyeol yang terlihat ramai dengan dekorasi ulang tahun khas anak lelaki.

"Woaw Yi Xing!" Joonmyeon ikut menoleh saat seseorang memanggil nama istrinya.

"Eo Luhan ge" Dan itu sepupu Yi Xing yang cerewet ternyata, oh iya Luhan kan bertetangga dengan Baekhyun. Baekhyun bercerita sebelumnya kan.

"Kau diundang juga ternyata, ayo masuk" Luhan tersenyum pada Yi Xing yang menggandeng tangan kecil Yi Joon. Berjalan mendahului Yi Xing dengan Ziyu digendongannya-yang tertidur dengan lelap- lalu disebelahnya Sehun menggandeng tangan Sehan yang terlihat cantik dengan gaun Pink Soft-nya yang sangat memanjakan mata karena Sehan terlihat seperti putri negeri dongeng.

"Dennis! Yi Joon sudah datang!" Yi Joon mengalihkan pandangannya keatas, melihat Chanyeol yang berteriak didepan kamar yang bertempelkan sticker berbagai macam tokoh favorite-nya. Dan tak lama Yi Joon melihat Dennis yang keluar dari kamarnya dengan pandangan lesu, namun tak berapa lama pandangannya jadi bersemangat setelah irisnya bertabrakan dengan iris sang pujaan hati. Lantas berlari dengan cepat menuruni tangga, mengabaikan peringatan ayahnya yang mengatakan hati-hati. Lalu memeluk Yi Joon dengan erat, Luhan yang kebetulan melihat itu sedikit terkejut, ingat sedikit karena ia tengah menggendong Ziyu saat ini, kalau tidak sudah bisa dipastikan dirinya lah yang paling histeris melihat adegan didepannya.

"Uh, akhirnya Yi Joonie datang!" Pekiknya senang.

Ting.. Ting.. Ting..

Semua orang mengalihkan pandangannya kearah asal suara. Menampilkan kepala keluarga dirumah itu yang membenturkan sendok kecil di gelas yang dipegangnya. Dennia beserta Yi Joon menatapnya, dengan tangan Dennis menggenggam tangan Yi Joon—yang tidak sadar.

"Baik, semua orang sudah berkumpul kan?" Jeda sebentar, Baekhyun datang berdiri disebelahnya yang langsung di rangkul pinggangnya. "Jadi, sebenarnya ini sudah kuputuskan bulat-bulat, tapi jika keluarga yang bersangkutan setuju. Kalau tidak setuju ya tidak apa" Jeda lagi, menghasilkan beberapa pandangan kebingungan dari tamu-tamunya karena ucapan tidak jelas Chanyeol, termasuk keluarga Kim yang sekarang memandangnya dengan kening berkerut.

"Aku ingin mengumumkan sesuatu yang penting untuk anakku. Termasuk keluarga Kim" Chanyeol dan Baekhyun menatap Joonmyeon dan Yi Xing, membuat keduanya salah tingkah.

"Errr.. Kenapa?" Yi Xing berucap ragu saat seluruh mata memandangnya, Chanyeol tersenyum.

"Aku meminta restumu jika aku ingin menyatujan Dennis dan Yi Joon di masa depan"

Hening...

Hening sampai-sampai hanya jam besar di kediaman keluarga Park itu yang terdengar. Lalu diikuti Joonmyeon yang tertawa dipaksakan.

"I-ini bercanda 'kan? Hey Chanyeol, ini pesta anakmu sebaiknya lekas mulai" Jujur, sebenarnya Joonmyeon hanya bercanda dengan ucapannya yang mengatakan kalau Yi Joon akan menjadi istrinya Dennis. Ia hanya menggoda anaknya, senang melihat wajah malu-malunya. Itu saja, tapi sekarang, hey seseorang, tampar ia sekarang juga.

"Tidak Joonmyeon, aku sungguh-sungguh. Kupikir ini waktu yang tepat untuk mengatakannya didepan rekan-rekan kerjaku" Jeda lagi, Chanyeol tersenyum dewasa, ia paham, mungkin Joonmyeon tidak mau. "Tapi, jika kau tidak mau, tidak a—"

"Tidak! Tidak bukan begitu. Aku hanya terkejut. Tapi, apakah ini sebuah lamaran?" Mereka saling pandang sampai Chanyeol kembali tersenyum.

"Ya, ini sebuah lamaran. Maaf membuatmu terkejut dan ini terlalu mendadak bahkan terkesan terburu-buru. Aku berpikir dengan menyatukan mereka adalah yang terbaik, melihat Dennis yang bagaimana ia sangat menyukai anakmu, dan juga melihat anakmu yang malu-malu kupikir mereka menyukai satu sama lain. Maaf itu hanya pendapatku" Chanyeol terkekeh, "Jadi, bagaimana?"

Joonmyeon tersenyum penuh makna disamping Yi Xing yang masih mencerna semua ini dengan seksama, anaknya dilamar? Ya Tuhan, apa tidak berlebihan melamar anaknya di usia mereka baru tujuh tahun?

"Kau tanyakan saja langsung pada Yi Joon. Aku menyetujuinya" Joonmyeon menjawab dengan menggerlingkan matanya pada Yi Joon yang menatap mereka dengan pandangan bingung. Oh jangan lupakan genggaman tangan mereka berdua—Dennis dan Yi Joon. Yang membuat siapa saja memekik gemas melihatnya.

Baekhyun dengan senang mendekati dua sejoli itu, berjongkok untuk menyamai tingginya. "Hai Yi Joon, jadi maukah kau kelak menjadi istrinya Dennis?" Dennis yang sebenarnya tidak mengerti sedari tadi jadi membulatkan matanya setelah mendengar ucapan ibunya sendiri.

"Yi Joon jadi istri Dennis!?" Bukannya Yi Joon, malah Dennis yang berteriak heboh. Baekhyun mengangguk kearah anaknya, Dennis senang, maka dengan bahagianya, ia memeluk Yi Join dengan erat. "Yi Joon jadi istri Dennis ya.. Ya? Ya? Ya?" Yi Joon yang melihat wajah Dennis sangat dekat dengannya hanya bisa mengangguk kaku dengan wajah memerah sempurna. Padahal ia tidak mengerti apa-apa dengan apa yang dibicarakan. "Yaayy! Yi Joon istriku!"

Cup!

Bersamaan dengan itu, Joonmyeon memekik kaget karena istrinya pingsan, dan Dennis tidak memperhatikan sekitarnya, hanya memeluk Yi Joon sambil mengucapkan kata-kata yang seharusnya belum digunakan untuk anak seusianya.

"Ehehe. Saranghae Yi Joonie"

Dan bersamaan itu pula Chanyeol menyuruh tamu-tamunya untuk menikmati pesta dengan menyantap hidangan yang disediakan lalu membantu Joonmyeon yang membawa istrinya kedalam kamar yang sudah diarahkan oleh Baekhyun.

.

.

"Unghh.."

"Sayang, hey hati-hati" Yi Xing mendengar suara suaminya yang dengan sigap membantunya untuk menyender pada kepala ranjang.

"Apa yang terjadi?" Yi Xing memegang kepalanya yang berdenyut.

"Kau pingsan setelah Yi Joon menyetujui acara lamarannya" Yi Xing mematung, oh karena itu.. Ia hanya terlalu kaget melihat Dennis yang mencium pipi anaknya, eumm seluruhnya sebenarnya.

"Maaf mengganggu pestanya" Joonmyeon tersenyum,

"Tidak, pestanya berjalan lancar" Joonmyeon memegang perut Yi Xing. "Bukan dia yang menyebabkanmu pingsan kan?" Yi Xing sontak menggeleng, paham dengan ucapan Joonmyeon.

"Tidak, dia tidak melakukan apapun. Hanya aku saja yang terlalu terkejut dengan kejadian tadi"

"Yeah aku paham, mau keluar? Pestanya sudah selesai" Yi Xing mengernyit.

"Berapa lama aku pingsan?"

"Entahlah, tiga jam mungkin"

"Selama itu?" Pekiknya. Joonmyeon terkekeh, lalu mengusap kepala Yi Xing dengan sayang.

"Ya, tapi itu tak apa. Sekarang semuanya menunggu diluar untuk makan malam"

"Semua?"

"Chanyeol turut mengundang keluarga Oh, Baekhyun mengatakan kalau kau dan Luhan bersepupu" Yi Xing hanya membulatkan mulutnya lalu mencoba berdiri yang langsung ditangkap Joonmyeon dengan merangkul pinggangnya. Lantas keluar kamar menuju ruang makan dimana semuanya sudah menunggu.

"Umma!" Yi Joon memekik girang melihat ibunya berjalan kearahnya, ia sempat menjenguk ibunya yang masih pingsan tadi dan dirinya hampir menangis kalau saja Baekhyun tidak mengajaknya keluar untuk makan kue.

"Hey sayang. Pestanya seru?" Yi Joon mengangguk semangat, membuat Dennis yang duduk agak jauh darinya harus menahan hasratnya yang hendak mencubiti seluruh wajah Yi Joon.

"Hai tuan putri, cantik sekali hm?"

"Terima kasih ahjussi" Sehan menjawab malu-malu mendengar pujian Yi Xing.

"Baik, aku akan pimpin doa" Semuanya hening saat Chanyeol memimpin doa lalu mereka semua makan dengan hikmat tak terkecuali seluruh bocah yang ada disana. Luhan tidak menggendong Ziyu, ia meletakkan Ziyu di kereta bayi yang di taruh disebelahnya.

Setelah selesai, Joonmyeon mencoba menarik perhatian, ingin berbicara sesuatu yang penting.

"Aku boleh berbicara kan" Katanya berbasa-basi yang disambut kekehan oleh semua orang.

"Umm jadi.. Ini sebenarnya hanya untuk Yi Joon, tapi aku juga ingin memesankan sesuatu untuk Dennis." Jeda, ia berdeham lagi, "Yi Joon, apa harap kau mengerti dengan ucapan appa" Yi Joon menatap ayahnya dalam.

"Yi Joon menginginkan adik kan? Maaf karena sudah membuatmu menunggu sayangku, tapi appa sekarang sudah bisa bernapas lega karena—" Yi Joon mengerutkan keningnya, menunggu kelanjutan ayahnya. "Karena didalam perut umma sedang ada adik bayi" Lanjutnya kemudian tersenyum. Yi Joon masih diam, mencerna. Sampai matanya membola,

"A-adik bayi?" Ia melihat ibunya yang berada disampingnya mengangguk. Lalu air mata satu per-satu jatuh menuruni pipi gembil Yi Joon.

"Yi Joonie?" Dennis memanggil Yi Joon, tidak tega pujaan hatinya menangis, namun lengannya ditahan ayahnya untuk tidak melakukan banyak hal dan ia menurut.

"U-umma?"

"Ya sayang, disini ada adik Yi Joon" Yi Xing menaruh tangan anaknya pada perutnya yang masih rata. Dan setelahnya Yi Joon menubruk tubuh ibunya untuk dipeluk. Ia senang, sangat.

"Dan untuk Dennis," Yi Joon masih memeluk erat ibunya. "Aku hanya minta, kau jaga Yi Joon baik-baik kelak. Aku tidak tahu apa kau dapat menangkap yang kubicarakan. Semoga saja" Lalu semuanya tertawa. Merasa keadaan inilah yang paling ditunggu-tunggu. Walaupun bukan keluarga, tapi mereka sudah merasa seperti keluarga yang paling bahagia di dunia ini.

Dan tidak semua cerita berakhir sedih, apapun yang terjadi diantara kita maka hadapilah. Jangan merasa takut dan jangan pernah berpikiran untuk mundur. Jika kita bisa melakukan sesuatu yang lebih baik, maka lakukan yang terbaik.

Mempunyai anak yang memiliki keterbelakangan metal-dulu- tidak membuat Joonmyeon dan Yi Xing menyerah untuk membuat anaknya menjadi lebih baik. Dan mereka berhasil, mereka berhasil membuat anaknya menjadi yang terbaik di keluarga kecilnya.

"Appa dan umma menyayangi mu"

"Yi Joon juga menyayangi kalian"

.

END

.

Epilog.

Toktoktok!

Joonmyeon yang sedang menonton berita dipagi hari mengernyit saat mendengar ketukan pintu yang terdengar brutal. Dengan segera ia membuka pintunya.

BRAKK

"HYUNG!" Joonmyeon terperanjat saat mendapati Kyungsoo yang masih dengan piyama-nya menerobos masuk.

"Dimana Yi Xing!" Kyungsoo mengguncang tubuh Joonmyeon dengan mata yang sperti ingin keluar dari tempatnya. Ia meringis namun terkekeh setelahnya.

"Didapur" Lalu Kyungsoo berlari kearah dapur, memanggil-manggil Yi Xing, ia hampir menutup pintu jika tidak mendengar suara tangis bayi yang dikenalnya, dan juga teriakan yang memerintahnya untuk tetap membuka pintu.

"Jongin?" Yep, itu Jongin yang seperti makhluk kekurangan oksigen berjalan kearahnya sambil menggendong Sooin yang menangis keras. "Astaga Jongin kenapa kau membiarkan Sooin menangis seperti ini eoh?" Joonmyein segera mengambil Sooin dari gendongan Jongin dan menggoyang-goyangkan tubuh Sooin agar tenang, dan benar saja, bayi perempuan itu sedikit berhenti dengan tangis kencangnya.

"Apa yang terjadi?" Joonmyeon menggiring Jongin menuju sofa, bersamaan dengan Yi Joon yang keluar kamar lalu berbinar setelah melihat Sooin kerumahnya pagi-pagi. Dan langsung diam saat ayahnya menyuruhnya untuk diam dan memutuskan untuk menatap Sooin dalam diam.

Jongin menghela napas, "Kau kemarin kerumah sakit dan mengatakan padaku kalau Yi Xing Hyung melakukan USG kan?" Joonmyeon mengangguk, memang benar, ia bertemu dengan Jongin kemarin di rumah sakit dan mengatakan padanya kalau Yi Xing melakukan USG. "Dan mengatakan padaku kalau Yi Xibg hyung hamil, benarkan?" Dan Joonmyeon lagi-lagi memgangguk.

"Dan aku menceritakannya pagi ini, tapi reaksinya diluar ekspektasiku, ia langsung bangun dari tidurnya dan membuka pintu kamar dengan tidak sabaran, membuat bunyi yang nyaring sampai Sooin menangis dan.. Yeah, setelahnya kau tahu sendiri" Jongin menceritakan dengan satu tarikan napas, membuat Joonmyeon hanya diam, tidak tahu harus bereaksi apa sampai—

"OH YA TUHAN HYUNG SELAMAT! AKHIRNYA KAU HAMIL LAGI!" Suara yang menggelegar kembali terdengar membuat Sooin kembali menangis dan Jongin yang memijit pelipisnya.

.

.

END BENERAN

.

Huaahh.. Maapkan Ovie yang semakin ngaret buat ngelanjutin ff ini T.T

Ovie lupa kalau ff ini udah selese dan baru aja Ovie edit.. Maafkan updatenya yang lama banget..

FF nya langsung ke sekuel aja ya, biar gak ngaret lagi dan mereka semua bahagia wkwk.

EXO-L Jjang!