BLUSHH!

Seketika itu wajah Naruto langsung diliputi dengan warna merah. Hinata yang berdiri didepannya pun seolah tak mau kalah, wajahnya juga ikut merona kemerahan.

"J-jadi.. Naruto sudah mengetahui semua isinya kan.. t-termasuk.. yang itu.." tanya Hinata.

Naruto menunduk untuk menyembunyikan rona merah diwajahnya. "T-tidak semua sih, t-tapi.. yang itu.."

Hinata mulai memainkan jari jemarinya untuk mengusir rasa gugup yang bersemayam dalam hatinya. "La-lalu.."

"A-aku tidak tahu.. apakah isi buku itu sungguhan atau tidak, jadi.."

"B-bagaimana kalau sungguhan.." potong Hinata.

"Eh.. m-maksudmu?"

"B-bagaimana kalau apa yang tertulis dibuku itu memang benar perasaanku.. ba-bagaimana kalau ternyata.. a-aku memang benar-benar menyukai Naruto.."

"EH! J-jadi.."

Naruto terkejut mendengar pernyataan Hinata tersebut, dengan wajah yang tentunya diliputi warna merah karena malu. Sementara, Hinata hanya sesekali menautkan pandangannya pada Naruto sambil memainkan jari-jarinya dan dengan wajah yang juga semerah Naruto.

"Hinata.. a-aku..."

DEG! DEG! DEG!

". . . . . . . ."

"Oi~ kalian...!" sapa seseorang dari kejauhan.

"Ah!"

_-0-_

All character's created and belong's to Masashi Kishimoto.

Storyline by Aojiru.

Genre's: Romance, Humor and Fantasy.

Warning!: AU, OOC and Sci-fi.

Aturan Baca: Kalau ada kata yang deskripsinya menyebutkan nama Naruto, berarti yang dimaksud adalah Naruto yang berada di dalam tubuh Hinata, jadi pihak ketiga tetap mengira kalau yang berbicara itu adalah Hinata. Sedangkan kalau deskripsinya menyebutkan nama Hinata, berarti yang dimaksud adalah Hinata yang berada di dalam tubuh Naruto, pihak ketiga akan mengira kalau yang berbicara adalah Naruto. Dan kalau yang berbicara hanya mereka berdua saja (tanpa adanya pihak ke-tiga) deskripsi yang digunakan adalah deksripsi biasa atau normal.

Naruto(Hinata) : maksudnya adalah, Tubuh Naruto yang sedang didiami oleh jiwa Hinata. Hinata(Naruto) : Kebalikannya, yaitu tubuh Hinata yang sedang dirasuki oleh jiwa Naruto.

_-0-_

Soul Exchange

O

o

.

Chapter 10

"Oi~" sapa orang itu lagi sambil berjalan mendekat dengan wajah yang terlihat senang. Gerakannya terlihat cukup lincah untuk ukuran seorang dengan rambut yang sudah seputih itu.

"Paman Jiraiya?" seru Naruto dan Hinata dengan sedikit terkejut, mereka berdua sama sekali tidak menduga kalau mereka akan bertermu dengan Jiariya di tempat ini, apalagi dalam kondisi yang sedang mereka hadapi saat ini, lalu mereka sedikit mengambil jarak agar tidak terlalu dicurigai.

Begitu Jiraiya sampai pada tempat Naruto dan Hinata berdiri, wajah senangnya dengan cepat langsung tergantikan dengan raut wajah penasaran. "Lho! Kalian berdua kenapa?" tanyanya ketika melihat wajah Naruto dan Hinata. "Sepertinya wajah kalian berdua terlihat merah!" sambungnya lagi.

"Ah! K-kami tidak apa-apa kok paman.." seru Naruto.

"Tidak mungkin! Wajah kalian saja semerah itu! apa kalian demam?" tanya Jiraiya lagi.

"Tidak kok! Sungguh.." ujar Naruto kembali mencoba meyakinkan.

Seketika itu, Jiraiya lalu mendekatkan wajahnya dan menatap dalam-dalam pada Naruto. "Hmm.. caramu mengatakan hal itu sungguh meragukan! Pasti ada yang kalian sembunyikan dariku!" ujarnya.

"Ugh.." Naruto terkejut, ia tidak menyangka kalau pria yang sudah beruban seperti Jiraiya itu bisa memiliki feeling yang cukup kuat seperti ini. "T-tidak ada kok!"

Secepat kilat Jiraiya lalu mengalihkan tatapannya pada Hinata, tatapan yang saat itu dirasakan oleh Hinata sebagai tatapan yang penuh dengan intimidasi yang langsung membuatnya merespon dengan menunduk gugup sambil memainkan jari jemarinya.

"Fuh~ ya sudahlah.. tidak apa-apa kalau kalian tidak mau mengatakannya padaku.." ujar Jiraiya tiba-tiba.

"Eh?"

"Lagipula, hal yang kalian sembunyikan itu pasti tidak menarik, paling-paling cuma urusan percintaan anak muda, ya kan?"

BLUSH!

Wajah Naruto dan Hinata kembali diliputi warna merah.

"Hehehe.. sepertinya tebakkanku tepat ya!" ujar Jiraiya sambil tersenyum dengan senyuman yang seolah berkata 'kalian ini masih terlalu cepat 100 tahun untuk bisa mengelabuiku'.

Naruto dan Hinata tidak bisa membalas apa yang dikatakan oleh Jiraiya itu, mereka hanya bisa tertunduk sambil menyembunyikan rona merah diwajahnya.

"Fufufufu.. tenang saja! Aku datang kemari bukan sengaja untuk menggoda kalian kok!" ujar Jiraiya, kali ini dia tersenyum dengan cara biasa. "Aku datang karena ada hal yang ingin kuberitahukan pada kalian.." sambungnya.

Naruto yang terlihat sedikit enggan untuk mendengarnya, hanya menatap Jiraiya tak bersemangat. "Apa?"

". . . Itu..sudah jadi!"

"EH!"

_-0-_

Seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, Naruto dan Hinata hanya diam terpaku tak merespon selain kata 'eh' yang tadi dilontarkannya itu, selebihnya mereka hanya diam.

"Jadi kalian lebih memilih untuk tetap seperti ini ya?" tanya Jiraiya.

"Eh! T-tentu saja tidak!"

"Lalu kenapa kalian diam saja? Setidaknya tunjukanlah wajah gembira ketika kalian mendengarnya!" ujar Jiraiya.

"Kami senang kok, i-iya kan Hinata?" tanya Naruto. Hinata pun mengangguk mengiyakan.

"Apa wajah seperti itu yang kau bilang wajah gembira?" ujar Jiraiya sangsi. "Padahal.. aku berharap kau akan melompat dan memelukku saat kau mendengar kabar ini Naruto!" ujar Jiraiya sedikit kecewa.

BWOSSHH!

Aura yang cukup dahsyat terpancar keluar dari dalam diri Hinata.

"Ekk! M-maaf Hinata.. aku tidak bermaksud mengambil kesempatan dalam kesempitan kok, hehehe.." ujar Jiraiya gugup.

"Hah, dasar kau paman! Niat busukmu itu jelas sekali tau! Sampai kapan kau mau jadi pria mesum seperti itu?" tanya Naruto.

"E-enak saja! Aku tidak mesum kok! Aku cuma sedikit mesum!" bela Jiraiya.

"Sama saja kan!"

"Ugh.. terserah kau sajalah!" ujar Jiraiya lesu. "Daripada itu, apa kalian tidak mau melihat mesin yang telah kuciptakan itu?" tanyanya.

"Eh! Jadi kami boleh melihatnya?" tanya Naruto.

"Hm.. memang masih belum selesai sepenuhnya, tapi, kalau kalian ingin melihatnya, aku akan dengan senang hati menunjukannya," balas Jiraiya.

"Oh! Kalau begitu aku mau!" ujar Naruto exited.

"Hahaha.. bagus!" timpal Jiraiya juga dengan gembira. "Lalu.. bagaimana denganmu Hinata?" sambung Jiraiya.

Hinata hanya diam, ia nampak ragu apakah ia harus ikut atau tidak, namun, karena ia belum mendengar jawaban dari Naruto atas hal yang terjadi sebelumnya, ia memutuskan untuk ikut dan melihat mesin buatan Jiraiya itu, dan bertekad untuk mnyatakan perasaannya langsung kepada Naruto.

"B-baiklah.. a-aku ikut!"

Kesetujuan Hinata untuk ikut melihat mesin itu itu disambut senyuman oleh Jiraiya. Mereka pun segera melangkah pergi meninggalkan tempat itu.

_-0-_

"WAH! Sepertinya ruangan ini jadi tambah keren saja paman!" ujar Naruto yang terkesima melihat ruangan tempat dulu mereka menjajal mesin gagal buatan Jiraiya yang membuat mereka menjadi seperti sekarang ini. Memang telah banyak terjadi perubahan disana, mulai dari besar ruangan yang semakin bertambah besar, juga kelengkapan peralatan-peralatan rumit yang semakin bertambah banyak mengisi tiap-tiap sudut ruangan disana.

"Fufufu.. tunggu sampai kau melihat mesin itu, kau akan lebih terkejut melihatnya!" ujar Jiraiya.

Kemudian ia mendekati sebuah benda yang tertutup oleh sebuah selimut yang berukuran cukup besar, sembari menyapukan tangannya pada permukaan selimut tersebut yang mana terlihat sedikit kotor oleh debu yang menempel disana.

"Ini dia.." ujar Jiraiya sambil sejurus kemudian menarik selimut yang menutupi mesin tersebut.

SRREETT!

"Seele Wechsler type-01!" seru Jiraiya penuh semangat.

Krikk.. krikk.. krikk.. krikk..

". . . . . . . ."

"Apa-apaan kalian ini! Mana tepuk tangannya!" sungut Jiraiya.

"Err.. itu.. apa benar mesin itu bisa bekerja dengan baik?" tanya Naruto dengan nada meragukan.

"I-iya.. se-sepertinya.." ujar Hinata yang juga terlihat ragu.

"Ugh.. k-kalian..." Mendengar keluhan dari mereka berdua itu, Jiraiya langsung jatuh tersungkur dalam keputusasaan.

"P-paman! K-kami tidak bermaksud untuk merendahkan mesin hasil ciptaanmu kok!" Hibur Hinata.

"I-iya.. k-kami hanya ingin memastikan saja.. a-apa mesin itu mampu bekerja dengan baik atau tidak."

"Sama saja kan! itu berarti kalian meragukan mesin ciptaanku ini, iya kan?"

"B-bukan! K-kami hanya..."

"Fufufufu..."

Sebuah tawa kecil memotong ucapan Naruto dan berhasil membuat ketiganya mengalihkan pandangan kepada sosok tersebut.

"Kalian berdua tidak perlu khawatir," ujar sosok tersebut.

"S-siapa?" tanya Naruto penasaran.

Sesosok pria muncul dari balik pintu, dengan rambut lurus hitam yang panjang, serta kulit yang berwarna putih pucat yang terbalut pakaian putih panjang ala seorang profesor, disertai dengan sebuah senyuman yang entah mengapa terlihat menakutkan.

Hinata bergerak mendekat pada Naruto ketika ia melihat sosok itu, nalurinya berkata kalau sosok itu memancarkan aura hitam yang tidak biasa.

"Hng? Ah! Kau sudah kembali rupanya!" ujar Jiraiya yang menyapa akrab sosok tersebut.

"Kau mengenalnya paman?" tanya Naruto.

"Tentu saja aku mengenalnya, bahkan kami sudah berteman sejak jaman sekolah dulu, bukan begitu, Orochi?"

"Fuh, jangan seenaknya memanggilku dengan nama aneh seperti itu Jiraiya, apa kau ingin aku memanggilmu dengan sebutanmu waktu sekolah dulu, hah?"

"Hehehe.. seperti biasa, kau selalu tidak suka kalau aku memanggilmu dengan nama itu, padahal kupikir nama itu terdengar lebih manis untukmu," ujar Jiraiya.

"Aku tidak peduli dengan pendapatmu tentang nama itu, yang jelas, jangan panggil aku dengan nama itu lagi, atau kau akan tahu akibatnya..."

"Iya.. iya.. tak perlu sampai seperti itu 'kan, aku hanya bernostalgia sedikit.."

"J-jadi, dia adalah temanmu sejak sekolah dulu paman?" tanya Naruto.

"Iya, namanya adalah Orochimaru, dia juga seorang profesor sepertiku, walaupun kami menempuh jalan yang sedikit berbeda," jelas Jiraiya.

Kemudian Orochimaru melangkah mendekat pada Naruto dan Hinata, sembari menatap tajam pada mereka berdua, sebuah seringai kecil kembali menghiasi wajah pucatnya itu.

"Seperti yang si bodoh itu bilang tadi, namaku adalah Orochimaru, senang berkenalan dengan kalian," ujarnya, sambil sedikit menundukkan wajahnya dan meletakkan telapak tangan kanannya di dada.

"A-apa..? si bodoh?" sungut Jiraiya.

"Ah.. i-iya.. sama-sama," ujar Naruto sedikit gugup menanggapi keformalan Orochimaru. Sementara Hinata hanya balas membungkuk kecil sambil tetap bersembunyi dibalik punggung Naruto.

"Oiya, apa kau sudah dapat barangnya?" tanya Jiraiya pada sahabat lamanya itu.

"Huh.. sepertinya kau terlalu meremehkanku, memangnya kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa, hah?" ujar Orochimaru sambil melemparkan sebuah benda kecil pada Jiraiya.

"Hup!" Jiraia menangkap benda kecil yang sempat membentur dadanya sebelum jatuh dalam telapak tangannya yang terbuka lebar. Sekilas, sebuah senyuman kecil terpancar dari wajahnya.

"Mikroprosesor 128-bit pertama ya? Baru pertama kali aku menyentuhnya dengan tanganku sendiri. Fufufu.. benar-benar barang langka yang hebat!" komentar Jiraiya kagum mengenai sepasang benda kecil yang berada ditangannya itu.

"Bahkan untuk ukuran orang sepertiku, mendapatkan benda itu adalah hal yang cukup sulit, semenjak penggunaannya dilarang dan pembuatannya dihentikan oleh pemerintah dunia, benda tersebut menjadi salah satu benda langka yang paling dicari di pasar gelap, untung saja aku memiliki koneksi yang luas, sehingga aku bisa mendapatkan benda itu dengan cukup mudah," tutur Orochimaru.

"Kau memang bisa kuandalkan Orochi," ujar Jiraiya.

"Huhuhu.. begitulah!" ujar Orochimaru. Masih dalam seringainya, Orochimaru sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya dihadapan Naruto dan Hinata, tentu saja hal itu mengundang tanya bagi mereka berdua.

"A-ada apa?"

"Ck.. aku hanya masih belum bisa percaya kalau si bodoh ini bisa benar-benar melakukannya," ujar Orochimaru singkat.

"M-melakukan apa?" tanya Naruto lagi.

"Tentu saja, menukar jiwa kalian."

"M-menukar?" tanya Naruto heran.

"Ya! Hal yang sudah sejak sepuluh tahun ini sama sekali tak bisa kulakukan," ujar Orochimaru dengan sedikit kecewa. "Padahal aku sudah susah payah melakukan berbagai macam penelitian, mengumpulkan berbagai hasil riset dan membuat beberapa mesin dan mencobanya. Tapi, sayangnya tak ada satupun yang berhasil."

"Tapi dia!" ujar Orochimaru sambil berbalik dan mengacungkan telunjuknya pada Jiraiya. Ia mengambil jeda selama beberapa saat sebelum akhirnya meneruskan kalimatnya. "Hanya dalam waktu yang terbilang singkat, dan tanpa persiapan serta peralatan yang memadai, mampu mendahuluiku yang notabenenya adalah profesor yang lebih berbakat daripada siapapun."

"Hari itu, ketika dia menelponku dan bilang kalau dia berhasil menciptakan mesin yang selalu kuidam-idamkan itu, aku benar-benar shock, tak bisa kupercaya kalau si bodoh ini benar-benar bisa melakukannya. Tapi, setelah selama beberapa hari aku terus mengamati gerak-gerik kalian, dari pagi hingga malam, dan mengumpulkan beberapa fakta dan bukti-bukti yang jelas, aku akhirnya percaya, kalau ternyata si bodoh ini memang benar-benar berhasil menciptakannya, walaupun berat sekali bagiku untuk mengakuinya."

"T-tunggu.. a-apa maksudmu memperhatikan gerak-gerik kami? Lagi pula, sebernarnya kami jadi seperti ini itu karena kecela-"

Mulut Naruto langsung terkunci rapat berkat tangan Jiraiya yang segera membungkamnya dan membuatnya berhenti melafalkan kalimat yang hendak diucapkannya itu.

"Fufufufu.. begitulah, aku ini memang tipe yang lebih suka menunjukan bakatku dengan hasil, bukan dengan omong kosong seperti ilmuwan-ilmuwan lain diluar sana. Dan kau akan benar-benar melihat bakatku yang berkilau ini kalau aku sudah bersungguh-sungguh," tutur Jiraiya sombong.

"Fuh, kau memang pantas menyandang gelar sebagai saingan abadiku Jiraiya, hanya kau satu-satunya ilmuwan yang sampai saat ini masih bisa terus menyaingiku selama beberapa tahun terakhir, aku benar-benar salut padamu," ujar Orochimaru.

"Akhirnya kau sadar betapa berbahayanya bakatku ini Orochi, lain kali aku akan membuat mesin yang bahkan kau sendiri tak pernah berpikir untuk bisa membuatnya," sambung Jiraiya.

"Fufu.. aku tak akan kalah darimu," balas Orochimaru sambil memperlihatkan seringai liciknya.

Kemudian Orochimaru mengalihkan pandangannya kepada Naruto dan Hinata, "lalu, bagaimana dengan kalian, setelah kalian meminta Jiraiya untuk menukar jiwa kalian, sekarang kalian minta untuk dikembalikan lagi seperti semula, kalian tahu kan kalau melakukan hal seperti itu tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan!" ujarnya.

Naruto dan Hinata terkejut mendengar apa yang dikatakan Orochimaru itu, yang membuat semua ini seolah terjadi karena keinginan mereka. "Eh? K-kami tidak-"

"Mungkin mereka merasa tidak nyaman dengan tubuh baru mereka, lalu mereka memutuskan untuk kembali seperti semula," ujar Jiraiya lancar, seperti telah merencanakan hal ini sebelumnya.

"Huh! Dasar anak-anak jaman sekarang, selalu tak pernah berpikir dulu sebelum berbuat sesuatu dan suka seenaknya saja," ujar Orochimaru.

"Dasar paman sialan! Seenaknya saja dia membuat kami seolah menjadi pihak yang bersalah, akan kubalas dia nanti!" sungut Naruto dalam hatinya.

"Hahaha.. namanya juga anak-anak, lagipula aku sama sekali tidak merasa keberatan membantu mereka," tutur Jiraiya.

"Hm.. berbakat dan baik hati, kau telah benar-benar menjadi profesor yang diharapkan oleh Sarutobi, Jiraiya," puji Orochimaru. "Dia pasti senang melihatmu dari alam sana."

"Hehehe.. begitulah,"

"Lho! Tunggu dulu..!" ujar Naruto seketika.

"Ada apa?"

"Tadi anda bilang, anda adalah teman sekolah paman Jiraiya, ya kan?" tanya Naruto pada sosok yang baru dikenalnya itu.

"Um.. tentu saja, memangnya kenapa?"

"Hmm.." Naruto memijit-mijit dagunya sambil berpikir. "Kalau begitu, berarti usia anda dengan paman Jiraiya tidak beda jauh kan?"

"Tentu saja, usia kami bahkan sama, hanya terpaut beberapa bulan saja," balas Orochimaru. "Memangnya, kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" kali ini giliran Orochimaru yang balas bertanya.

"Tidak, hanya saja aku merasa ada yang aneh, kenapa anda sama sekali tidak terlihat seperti paman Jiraiya?"

"Tentu saja kami tidak terlihat sama, kami kan memang bukan saudara!" jelas Orochimaru.

"B-bukan begitu maksudku, maksudku adalah kenapa anda sama sekali tidak terlihat uzur seperti paman Jiraiya?"

"A-apa? uzur? Apa aku sudah terlihat seperti itu?" tanya Jiraiya sedikit drop.

"Apa kau tidak pernah bercermin paman?" tanya Naruto lagi.

"Ugh.."

"Fufufufu... ini semua adalah berkat ilmu pengetahuan!" ujar Orochimaru.

"I-ilmu pengetahuan? Aku tidak mengerti?"

"Hm.. lebih tepatnya, aku menemukan serum yang bisa digunakan untuk memperlambat proses penuaan dalam sel manusia menjadi 20 persen lebih lambat dari keadaan normal, dan aku menggunakannya untuk diriku sendiri."

"Eh? Apa tidak berbahaya?"

"Sejauh ini semuanya baik-baik saja dan tidak terlihat adanya efek samping yang berarti, jadi tidak ada salahnya kalau aku terus memakainya."

"Em.. tapi, kenapa anda melakukan itu?"

"Fufufu.. semuanya adalah lagi-lagi karena ilmu pengetahuan!" ujar Orochimaru antusias. "Kau tahu bocah, saat seseorang mati, hanya sedikit dari ingatan yang dimiliknya yang terekam didunia ini, baik yang tertulis maupun yang hanya diingat oleh orang-orang disekitarnya, lalu kemana yang lainnya? Semua ingatan lain yang dimilikinya akan ikut terkubur bersamaan dengan jasadnya didalam tanah. Dengan begitu, potongan-potongan ingatan penting tentang segala sesuatu didunia ini pun akan berkurang."

"Dan bagaimana bila hal itu terjadi pada seorang profesor, ilmuwan ataupun orang-orang yang memiliki peran penting dalam kemajuan jaman ini? tentunya dunia akan menderita kerugian yang sangat besar, sekali lagi kemajuan jaman ini akan semakin tertunda karena hal itu, karena ada begitu banyak eksperimen-eksperimen yang tidak bisa diselesaikan kalau hanya mengandalkan umur manusia yang hanya berkisar 60 sampai 80 tahun saja"

"Sebagai seorang profesor, mana bisa aku hanya diam saja menerima hal seperti itu, karena itulah, selama sepuluh tahun ini aku terus meneliti tentang bagaimana caranya agar hal itu bisa dihindari, kudedikasikan seluruh tenaga dan pikiranku untuk menciptakan mesin yang dapat menambahkan ingatan dan pikiran sesorang pada orang lain, dan dengan begitu, tidak akan ada lagi ingatan yang akan terbuang sia-sia hanya karena sesuatu yang bernama kematian itu. Huhuhu.."

"L-lalu.. bagaimana dengan orang pikirannya dimasukan ingatan orang lain itu?"

"Hng? Tentu saja, ingatannya yang lama akan ditekan sampai akhirnya hilang tak berbekas, dengan kata lain, orang itu hanya akan menjadi wadah bagi orang yang ingatannya dipindahkan pada dirinya."

"T-tapi.. bukankah hal seperti itu tidak boleh dilakukan?" ujar Hinata yang mulai angkat bicara.

"Hahahaha.. bicara apa kau? Tidak ada yang tidak boleh dilakukan kalau sudah menyangkut ilmu pengethuan. Lagipula, kami hanya akan menggunakan 'wadah' dari orang-orang yang memang pantas menerima hal itu, seperti tahanan-tahanan di penjara yang divonis hukuman mati atau seumur hidup, kalau menggunakan orang-orang yang seperti itu sebagai 'wadah' pasti tidak apa-apa kan, toh hidup mereka pun sudah tidak ada artinya lagi di dunia ini, mereka hanya sampah bagi dunia, dan kalau tubuh mereka digunakan sebagai wadah pun, pasti mereka akan senang karena setidaknya mereka telah membantu memajukan kesejahteraan dunia, fufufu..."

"Tetap saja, hal itu merampas hak-hak mereka sebagai manusia, walaupun mereka cuma seorang tahanan, mereka tetap layak diperlakukan seperti manusia lainnya.." seru Hinata.

"Benar, mereka kan juga manusia, sama seperti kita.." sambung Naruto.

"Huh! Kalian yang kerjanya hanya bisa menikmati apa yang sudah ada, dan tak pernah berpikir tentang bagaimana sulitnya menciptakan semua itu sampai akhirnya manusia bisa hidup dengan kemudahan seperti sekarang ini, tahu apa kalian tentang hak-hak manusia? Apa kalian pernah merasakan betapa sulitnya hidup tanpa ilmu pengetahuan?"

"T-tapi.."

"Sudahlah! Kalian tinggal diam dan tunggu saja, setelah aku selesai membantu Jiraiya, aku akan mendapat Blueprint rancangan mesin penukar jiwa itu, dan setelah aku menyempurnakannya, aku akan membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih mudah untuk ditinggali, dan saat itu, kalian pasti akan berterima kasih padaku dan dengan cepat melupakan pengorbana tiap-tiap orang-orang yang dikorbankan demi terciptanya hal itu, karena memang seperti itulah sifat dasar manusia." Ujar Orochimaru.

"A-aku tidak.."

"Naruto, sudahlah!" ujar Jiraiya.

"T-tapi paman.."

"Ini adalah bagian yang memang diperlukan sebagai ganti dari mendapatkan ilmu pengetahuan yang lebih banyak, kapanpun dan dimanapun bahkan dalam hal apapun, pengorbanan memang selalu dibutuhkan, mau tidak mau kita harus menerima kenyataan itu," ujar Jiraiya menjelaskan.

"J-jangan bilang, kalau paman juga menyetujui apa yang teman paman itu katakan?" tanya Naruto.

"Sudahlah, lebih baik kalian segera pulang, kami akan segera mulai bekerja untuk menyelesaikan pembuatan mesin ini dan mengembalikan kalian seperti semula. Datanglah kemari seminggu lagi, semuanya akan siap saat itu," kemudian Jiraiya membukakan pintu ruangan tersebut. "Kalian tahu jalan keluanya kan?" sambungnya, seolah memaksa mereka untuk segera pergi meninggalkan tempat itu.

"Cih!" sungut Naruto kesal sambil melangkah keluar. Sementara Hinata yang berdiri dibelakangnya, terhenti sejenak sesaat sebelum Jiraiya hendak menutup pintu itu, ia menatap Jiraiya dengan tatapan yang seolah tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Jiraiya tadi. Melihat hal itu, Jiraiya kembali melebarkan daun pintu yang tadi hendak ditutupnya dan kemudian mengangkat tangan kanannya untuk mengusap rambut Hinata halus.

"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja!" ujar Jiraiya sambil memasang sebuah senyuman diwajahnya.

Hinata yang melihat hal itu akhirnya merasa lega dan ikut tersenyum, kemudian ia pun berlari menyusul Naruto yang sudah lebih dahulu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Namun, ketika mereka berdua sudah sampai di pintu utama kediaman tersebut, sebuah suara menghentikan langkah mereka yang memang sudah berniat untuk pergi dari tempat itu.

"Naruto! Hinata! tunggu sebentar!"

Mereka berdua pun berbalik kearah suara yang memanggilnya tersebut.

"Huh! Ada apa lagi?" ujar Naruto yang sedikit kesal atas perlakuan Jiraiya tadi. "Bukankah tadi kau menyuruh kami untuk segera meninggalkan tempat ini?" sambungnya ketus.

"Ada yang ingin kubicarakan dengan kalian!" ujar Jiraiya.

"Apa?"

"Tidak enak kalau membicarakannya disini, ikut aku.." ajak Jiraiya.

Jiraiya pun melangkah menuntun mereka menuju satu ruangan. Ruangan yang penuh dengan buku-buku dan sofa yang tanpa dijelaskanpun sudah dapat diketahui kalau ruangan itu adalah ruangan tempat Jiraiya bersantai dan menghabiskan waktunya dengan membaca.

"Nah, duduklah.." ujar Jiraiya mempersilahkan.

Naruto dan Hinata pun segera duduk mengikuti apa yang Jiraiya katakan. Lalu mereka terdiam menunggu Jiraiya menyampaikan maksud yang ingin dibicarakannya tadi.

"Hah~ aku tak tau harus mulai dari mana.." ujar Jiraiya membuka percakapan.

"Sudahlah paman, jangan bertele-tele seperti itu!" ujar Naruto yang kelihatannya masih kesal.

"Hm.. aku tahu kau tidak suka dengan apa yang kukatakan sebelumnya Naruto, tapi itu semua kulakukan ada alasannya!" tutur Jiraiya menjelaskan.

"Alasan apa?"

"Dengarkan dengan tenang, karena semua ini juga ada sangkut pautnya dengan kalian berdua!"

Naruto dan Hinata terdiam sekaligus heran mendengar apa yang dikatakan Jiraiya itu.

"Kalian dengar 'kan, saat Orochimaru bilang bahwa dia sempat memperhatikan gerak-gerik kalian selama beberapa hari dan mengumpulkan data-data mengenai kalian?"

"Tentu saja kami dengar, dia mengatakannya dengan jelas sekali!" ujar Naruto.

"Nah, dari pengumpulan data-data itu, setiap harinya selama seminggu, dia mengambil sampel rambut kalian yang tertinggal di bantal saat kalian tertidur.."

"Wah! Memangnya dia itu stalker ya sampai berbuat seperti itu.."

"Jangan bercanda Naruto, akus edang serius!" seru Jiraiya yang memang sedang menampakkan wajah seriusnya.

GASP!

Naruto pun terdiam.

"Dari sampel rambut kalian yang dia ambil, dia meneliti dan berhasil menemukan ada beberapa perubahan dari DNA yang terdapat pada rambut kalian..."

"DNA? Bukankah DNA tiap orang itu berbeda dan tidak bisa berubah?" tanya Hinata.

"Benar! Dalam kasus biasa, DNA masing-masing orang itu berbeda, dan sejak lahir sampai mereka mati nanti, DNA itu akan tetap sama dan tidak akan bisa berubah.."

"Lalu..?"

"Nah, di kasus kalian ini, telah terjadi perubahan pada masing-masing DNA kalian, yang mungkin diakibatkan oleh radiasi mesin game yang kalian pakai saat itu, dan hasil yang lebih mengejutkan dari penelitian yang dilakukan oleh Orochimaru itu adalah...:"

". . . . ."

"DNA kalian mulai bertransformasi, mengikuti DNA asli kalian masing-masing. DNA yang terdapat pada rambut Naruto, mulai mengikuti bentuk dari DNA Hinata dan sebaliknya, DNA yang terdapat pada sampel rambut di tubuh Hinata mulai berubah mengikuti bentuk dari DNA yang terdapat pada tubuh Naruto."

"J-jadi...?"

"Ya! Saat ini, DNA yang terdapat pada tubuh yang sedang kalian diami itu sedang bertransformasi mengikuti bentuk DNA asli kalian saat kalian masih berada ditubuh kalian masing-masing."

"Bagaimana dengan efek dari perubahan itu..?"

"Itulah yang menjadi pokok permasalahannya.."

"...?"

"Kalau hal ini dibiarkan terus menerus, kemungkinan besar DNA kalian akan berubah sepenuhnya menjadi DNA asli kalian.. dan kalau hal itu sudah terjadi, mustahil bila kita ingin mengembalikan kalian ke tubuh kalian seperti semula. Dengan kata lain.."

"Kalian tidak akan pernah bisa kembali ke tubuh asal kalian lagi!"

"Apa?"

_-0-_

T.B.C

_-0-_

A.N

Ohoi! Chapter 10 beres!

Jiahahaha..

Maaf sudah menunggu lama, berhubung sibuk dengan urusan kantor *Kuli aja bilang kantor segala =_='* jadi nggak sempet mulu mau lanjutin chapter ini.

Tapi Alhamdulillah, akhirnya bisa di apdet juga.. walaupun mungkin ceritanya pas-pasan banget.

Semoga masih pada terhibur ya dengan cerita ini^^

Sebagai penutup, Ao ucapkan terima kasih karena sudah membaca fict ini^^

Juga jangan lupa reviewnya, karena review itu mencerminkan kepribadian seseorang^^ #Plakk!

Okeh, kalau begitu, Ao undur diri dulu

Sekali lagi terima kasih atas review-review yang telah diberikan sebelumnya..

Sampai jumpa di chapter berikutnya

Long Live NaruHina

ciao