'Lihat Aku!Ucap Edward. Lihat aku! Harapanmu terwujud. Aku telah belajar tentang Cinta. Dan itu hal yang buruk. Aku hancur. Hatiku hancur. Tolonglah aku. Kembalilah. Perbaiki aku.' -The Miraculous Journey of Edward Tulane
LAST CHAPTER
Luhan termangu disalah satu meja di kafenya. Bertopang dagu sambil sesekali menghela nafas berat. Sudah sejak enam hari yang lalu ia keluar dari rumah sakit namun Si Bedebah-tidak-bertanggung jawab (Panggilan baru Sehun dari Luhan) tidak kunjung datang menemuinya atau sekedar menghubunginya lewat telepon.
"Aish Bocah bedebah!" Umpatnya pelan, "Sudah tidak pernah menjengukku dirumah sakit!Sekarang meninggalkanku begitu saja!" gerutunya sambil cemberut.
"Katanya ingin melindungiku! Pembohong!"
"Hey! Kenapa sih bos cantikku ini merengut terus?!" ledek Jongdae sambil menyiku lengan Luhan.
"Aish Jongdae!" Gerutu Luhan sambil mengelus-elus dadanya karena terkejut dengan kedatangan Jongdae yang tiba-tiba.
Jongdae tersenyum jahil, "Kau kenapa sih bos?" Tanya Jongdae sambil duduk disebelah Luhan.
"Dari kemarin kau terlihat murung terus. Tidak biasanya kau seperti ini. Biasanya kau begitu riang dan ramah terhadap pelanggan," Ujar Jongdae sambil menatap Luhan, "Aku merindukan tawa lebarmu yang membuat rahangmu terlihat seperti akan copot."
Luhan mendecih sebal mendengar kata-kata jahil dari bibir Jongdae.
"Aku sedang sebal," jawab Luhan sambil menopang dagu, "Jadi jangan menambah rasa sebalku!"
"Sebal kepada siapa?" Tanya Jongdae.
"Sehun.."
Luhan mendesah pelan. Mengucapkan namanya saja membuat Luhan merasa sedih dan... Well, sedikit rindu.
"Oh si stalkermu itu?"
Luhan memutar bola mata. Menahan diri untuk tidak mencekik Jongdae. Tidak bisakah Jongdae serius sebentar saja? Luhan heran kenapa ia masih mengandalkan Jongdae untuk menjadi tempatnya mencurahkan hati.
"Jongdae Please, Kau tahu siapa 'Sehun' yang kumaksud," ucap Luhan jengkel, "Aku sering menceritakannya padamu!"
"Iya Luhan,aku tahu siapa Sehun yang kau maksud. Dan Sehun benar-benar stalkermu!"
Luhan mengerutkan dahi.
Memang sih Sehun sempat menjadi 'stalker' Luhan saat masih di sekolah dasar hingga membuat Luhan kesal dan mengadu kepada bibinya. Tapi pada saat itu mereka belum bertemu Jongdae. Jadi kenapa Jongdae bisa tahu?
"Bagaimana kau bisa tahu kalau Sehun stalkerku saat SD dulu?"
Jongdae mengerutkan dahi bingung, "Kau membicarakan apa sih.. Tentu saja aku tahu,aku sering melihatnya mengawasimu dari seberang kafe."
Apa Jongdae serius? Tidak mungkinkan ia menjahili Luhan dikondisi Luhan yang seperti ini? Walaupun Jongdae jahil bukan main, ia tahu kapan ia harus serius menanggapi Luhan. Karena Jongdae teman yang baik,ia selalu menjaga perasaan Luhan.
Sebelum Luhan ingin bertanya lebih jauh,tiba tiba saja seseorang menutup matanya dari belakang.
Jantung Luhan tiba-tiba berdegup cepat. Sebuah harapan bahwa tangan yang menutup matanya adalah tangan Sehun muncul dibenaknya.
"Coba tebak,siapa aku Luhanniee?"
"Baekhyun?" Tanya Luhan saat ia mengenali suara itu. Tanpa ia sadari suara yang keluar dari bibirnya terdengar kecewa.
"Cih! Kenapa jawabanmu terdengar kecewa seperti itu?" Gerutu Baekhyun sambil duduk di samping Luhan. Luhan hanya tersenyum kecil lalu menyapa Kyungsoo yang datang bersama Baekhyun.
"Tentu saja ia kecewa Baekhyun-ssi, yang Luhan harapkan untuk datang itu bukan kau, tapi Sehun.."
Luhan memelototi Jongdae, memperingatkan bahwa perkataan Jongdae sudah tidak masuk akal. Dan Jika Jongdae berani membuka mulut dan mengatakan hal yang tidak-tidak lagi Luhan tidak akan segan-segan memotong gaji Jongdae bulan ini.
"Kau merindukan Sehun?" Tanya Kyungsoo to-the-point-of-Luhan's-heart.
"Tidak!" bantah Luhan cepat, "Aku tidak merindukannya! Untuk apa aku merindukan bedebah yang tidak pernah menghubungiku!"
"Menjenguk dirumah sakit saja tidak." Lanjut Luhan pelan sambil cemberut.
Baekhyun tersenyum penuh arti.
Astaga! Temannya ini begitu Lucu dan benar-benar gampang ditebak. Terus saja ia menyangkal,padahal sudah terlihat jelas bahwa ia merindukan Pemuda berwajah stoic bernama Oh Sehun itu.
"Lu sudahlah,tidak perlu menyangkal," ucap Baekhyun santai, "Kau merindukan sehun kan?" Goda baekhyun sambil menggerak-gerakkan alisnya. Wajah Jahilnya membuat Luhan menyerah dan akhirnya mengangguk pelan..
"Ya Baekhyun,aku merindukannya," aku Luhan, "Ia tidak pernah sekalipun menemuiku atau sekedar menelepon. Dan itu membuatku kesal. Aku tidak mengerti kenapa aku masih saja berharap untuk bertemu dengannya." ucap Luhan lemas sambil merebahkan kepalanya di meja.
"Bukankah itu artinya kau masih mencintainya?" Tanya kyungsoo polos..
"Mungkin.."
Mungkin iya.
Mungkin terlalu besar..
Mungkin terlalu dalam hingga yang bisa Luhan pikirkan hanya Sehun, Sehun dan Sehun..
"Kenapa sih kalian berdua begitu bodoh?Sehun juga masih mencintaimu!tapi kenapa kalian berdua malah saling menjauh?" Gerutu Baekhyun kesal.
Luhan menegakkan kepalanya dan memandang Baekhyun dengan tajam..
"Tidak Baekhyun,ia tidak mencintaiku."
Baekhyun memutar bola matanya jengkel.
"Sehun masih mencintaimu Luhan Babo.. dan akan selalu begitu!"
Luhan mendengus sambil menutup kupingnya.
"Stop! Aku tidak mau mendengarnya! Tolong baekhyun!Ia meninggalkanku! Ia pergi dari kehidupanku! Bagaimana mungkin ia masih mencintaiku?" Ucap Luhan lirih.
Baekhyun dan Kyungsoo saling melempar senyum saat melihat luhan tertunduk lesu dikursinya..
"Kau salah," ucap kyungsoo sambil melepas tangan Luhan dari kupingnya, "Apa kau pikir selama 3 tahun ini ia benar-benar pergi?"
Luhan mengernyitkan dahi, bingung.
"Baekhyun benar,Sehun masih mencintaimu sampai sekarang." ucap kyungsoo sambil tersenyum .
"Jadi kau masih belum sadar juga?" Tanya Kyungsoo sambil tertawa, "Ia selalu ada untukmu,Ia tidak akan bisa pergi darimu.. Ia tetap menjadi pengaruh besar dari hidupmu.."
"Apa yang kau bicarakan kyungsoo-ah?aku tidak mengerti," tanya Luhan. Luhan benar-benar bingung dengan apa yang Kyungsoo katakan. Pengaruh besar katanya? Bagaimana bisa Sehun berpengaruh besar terhadap hidupnya jika selama ini menunjukkan batang hidung saja ia tidak pernah.
Sehun masih mencintainya katanya? Ck terdengar konyol dan mengada-ada. Tapi entah kenapa hati kecil Luhan ingin sekali percaya. Ingin sekali kata-kata Kyungsoo itu memang benar adanya.
"Kaupikir pertemuan kita 3 tahun lalu hanya sebuah kebetulan?"
Luhan menggigit bibir bawahnya sambil menatap Kyungsoo. Ia sepertinya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan ini dan ia tidak menyukainya. Karena bisa saja apa yang diceritakan Kyungsoo akan membuatnya tambah berharap dan menambah raca cintanya pada sosok Sehun. Dan rasa itu akan membuat dadanya bertambah sesak.
"Ya 3 tahun lalu Sehun yang menyuruhku untuk menemuimu..." Kyungsoo menghela napas,"Tapi aku berani bersumpah pertemanan kita selama ini bukan pura-pura.."
Luhan mengangguk. Ia percaya dengan Kyungsoo. Selama ini Kyungsoo selalu menemaninya,dan Luhan bisa merasakan semua yang dilakukan Kyungsoo bukan sebuah paksaan, melainkan ketulusan hati seorang sahabat.
"Well waktu itu,saat kami sedang makan malam untuk merayakan kenaikkan jabatannya menjadi CEO di perusahaan Kakek Lee, Ia memintaku untuk menemuimu dan membantumu.."
"Kenapa ia menyuruhmu?kenapa ia tidak menemuiku sendiri?" Tanya Luhan.
"Aku juga menanyakan hal yang sama," ucap kyungsoo sambil menerawang.
"Tapi,dengan wajah sedih ia menjawab, 'Aku ingin menemuinya. Tapi bagaimana jika ia tidak mau menemuiku kyung?Luhan pasti sudah membenciku' " Jelas Kyungsoo menirukan suara Sehun.
"Jadi akhirnya aku menemuimu.. Menjadi jembatan antara dirimu dan Sehun. Saat itu ia yang menyuruhku untuk menemuimu direstoran dan menawarkanmu sebuah pekerjaan."
"Kau juga tidak habis pikir-kan kenapa Penulis sepertiku ini dengan percaya diri menawarkan gaji yang melimpah padamu?" Tanya Kyungsoo yang diberi anggukan lemah oleh Luhan.
Kyungsoo tertawa, "Ya semua gajimu adalah pemberian Sehun. Ia bilang kalau ia yang langsung mengirimnya untukmu kau tidak akan menerimanya," Jelas Kyungsoo.
"Ah dan kau tahu siapa yang membelikanmu apartemen?"
Sehun. Tentu dirinya.
"Sehun yang membelikannya. Dengan bersikeras ia memilihkan gedung apartemen yang terbaik untukmu. Dan memilih apartemen yang paling nyaman untukmu dan Ziyu tinggal. Ia juga membelikanmu apartemen di lantai dasar karena ia tahu kau tidak suka ketinggian."
"Apa kau tahu gedung apartemenmu itu dekat dengan kantor Sehun?" Tanya kyungsoo .
Luhan tercengang.
Tidak ,selama ini ia tidak tahu.
"Ia sengaja membelikan apartemen didekat kantornya agar setiap pulang kerja ia bisa mampir dan mengawasimu."
"Kau tahu Luhan?setiap pulang kerja,selama 3 tahun,Sehun akan mengunjungi apartemenmu. Berharap kerinduannya akan terbayarkan hanya dengan menatap jendela apartemenmu. Ia akan berada disana,menjagamu hingga lampu apartemenmu mati ,memastikan kau dan ziyu tidur dengan aman."
Kyungsoo menceritakan hal yang sebenarnya pada Luhan. Setiap malam sehun akan menelepon Kyungsoo,menanyakan keadaan luhan dan kegiatan luhan pada hari itu sambil duduk menyandar dimobilnya yang terparkir didekat gedung apartemen Luhan. Ia duduk sambil memandangi jendela apartemen Luhan yang tertutup Gorden sambil Mendengar penjelasan Kyungsoo dan membayangkan kegiatan apa yang sedang Luhan lakukan didalam. Terkadang Sehun bisa melihat bayang-bayang Luhan atau Ziyu yang terpantul lampu dari balik Gorden. Dan itu cukup membuat Sehun merasa dekat dengan keluarganya.
Luhan hanya tercengang tak percaya. Matanya mengerjap-ngerjap dan bibirnya terbuka lebar .
"Bukan hanya itu saja," ucap kyungsoo, "Iya juga masih mengingat impianmu untuk memiliki sebuah cafe."
"Tidak mungkin," gumam luhan.
"Ya Luhan itu mungkin. Semua hal tentang dirimu ia ingat dengan jelas. Maka dari itu ia yang menginvestasikan uangnya untuk membangun kafemu,bukan aku."
"Wah! Benarkan dugaanku! Aku sudah curiga pasti ada alasan terselubung kenapa Sehun menjadi stalkermu selama ini! Si Sehun itu sering kesini juga ya kan?" Tanya jongdae pada kyungsoo.
Kyungsoo mengangguk, "Ya ia juga sering kesini.."
"Ia begitu memujamu luhan. Ia begitu mencintaimu!" Lanjutnya
"Kau pikir alasannya waktu itu menemuimu hanya untuk mengajak Ziyu menghabiskan libur natal bersama?" Tanya kyungsoo, "Tidak. Ia ingin bertemu denganmu karena Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa rindunya padamu.. Apa kau masih meragukan cintanya?"
Luhan tak bisa berkata apa-apa lagi. Semua kenyataan tentang Sehun yang selama ini tidak ia ketahui membuatnya terkejut.
"Ah kalau masih ragu bagaimana kalau ini," ucap Baekhyun sambil mencondongkan badannya, "Ginjal yang sekarang berada ditubuhmu itu adalah ginjal Sehun."
"Apa?!"
"Alasan ia tidak menjengukmu adalah karena ia juga sedang dalam masa pemulihan paska mendonorkan ginjalnya untukmu."
Luhan memegangi perutnya. Meremas erat kaos yang menutupi tubuhnya.
"A-apa yang harus kulakukan?" Tanya Luhan lemah.
"Bukankah sudah jelas?" Ucap Baekhyun sambil tersenyum, "Yang kau harus lakukan adalah mencintainya. Mengambilnya kembali untuk menjadi milikmu. Kau akan melakukan itu kan Luhan?"
Luhan menatap Baekhyun.
Ya, ia akan melakukan semua hal itu. Jika Sehun tidak kembali padanya, biar ia yang menarik Sehun kembali kepelukannya.
.
.
.
Hari itu setelah Luhan mendengar cerita dari Kyungsoo, kedua sahabatnya,Baekhyun dan Kyungsoo,membujuknya untuk menghubungi Sehun. Awalnya ia menolak. Ia merasa malu kalau sekarang harus menelepon Sehun. Ia juga belum siap mendengar Suara Sehun yang selalu membuat tubuhnya terasa tersengat aliran Listrik. Tapi akhirnya setelah memberanikan diri, Luhan menelepon ponsel Sehun. Berkali-kali Teleponnya tak dijawab namun ia tidak menyerah dan akhirnya Sehun mengangkat telepon darinya.
"Yeoboseyo?"
Dada Luhan berdegup cepat,dan tangannya gemetar ketika mendengar suara sengau Sehun yang mendayu.
"Sehun-ah," panggil Luhan sambil menggigit bibir bawahnya,menahan jerit gembira keluar dari bibirnya.
"Kau dimana?"
"Aku dikantor," Jawab Sehun singkat.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Luhan.
Oh rasanya ia seperti kembali kesaat dimana ia dan Sehun baru pertama kali menjalin kasih. Rasa gugup dan rasa senang yang terasa persis seperti pertama kali ia dan Sehun mengobrol dari telepon setelah resmi menjadi sepasang kekasih.
"Ada apa kau meneleponku Hyung?" Tanya Sehun tanpa menjawab pertanyaan Luhan.
"Ah ti-tidak," ucap Luhan gugup "Aku hanya ingin tahu kabarmu. Setelah kau mengantarkan Ziyu ke apartemen,kau tidak pernah lagi menghubungi kami." Ucap Luhan sedih.
"Oh eh maksudku menghubungi Ziyu. Ya menghubunginya,bukan aku," Ucap Luhan sambil terkekeh gugup. Sementara Kedua sahabatnya hanya bisa menahan tawa mereka,melihat tingkah bodoh temannya yang sedang gugup.
"Ah ya, Maaf aku sedang banyak pekerjaan jadi tidak sempat memberi kabar.."
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Sehun.
"Si-siapa aku?" Tanya Luhan gugup, "A-Aku baik. Kau bagaimana?" Tanya Luhan sambil memilin ujung sweaternya. Oh Ayolah Luhan kau bukan seorang gadis remaja. Kenapa kau bertingkah seperti seorang gadis remaja yang sedang dilanda cinta?
"Apa kau di kafe?" Tanya Sehun,lagi-lagi tanpa menjawab pertanyaan Luhan.
"Ya aku dikafe."
"Aku akan kesana jam 9 malam nanti. Kalau begitu kututup teleponnya ya?"
Tanpa Sempat Luhan menjawab, Sehun sudah memutuskan sambungan teleponnya dan Luhan hanya bisa mengulum senyum.
"Bagaimana? Bagaimana?" Tanya Baekhyun penasaran.
"Ia akan kesini. Menemuiku," Jawab Luhan sambil tersenyum senang.
Luhan duduk dengan tidak nyaman dikursinya. Masih menunduk menghindari tatapan Sehun yang duduk bersilang kaki dihadapannya. Setelah 10 menit Sehun datang mereka tidak berkata apapun. Luhan sibuk mengatur detak jantungnya yang berdegup cepat sementara Sehun yang bersikap dingin memilih diam.
Luhan mengintip sebentar kearah Sehun. Malam ini Sehun terlihat begitu tampan. Walaupun wajahnya terlihat lelah karena sibuk dengan pekerjaannya di kantor, tapi pesonanya tetap tidak berkurang dan tetap membuat Luhan terkagum-kagum. Sehun mengubah gaya rambutnya. Poni warna coklatnya ia jatuhkan kebawah,menutupi dahinya yang mulus. Gaya rambut Sehun yang seperti ini mengingatkannya kepada masa-masa sekolah dulu.
Saat tinggi dan tubuh Sehun tidak seatletis sekarang.
Saat pertama kali Sehun membuat Luhan jatuh cinta kepadanya.
"Luhan.." Luhan tersentak saat mendengar suara Sehun memanggilnya. Rasanya jantungnya ingin meledak saat suara favoritnya itu memanggil namanya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Sehun sambil memberi aba-aba pada anak buahnya untuk membawa orang tersebut.
Luhan membelalak tak percaya ketika Anak buah Sehun menarik sebuah rantai yang tersambung kepada kalung kulit dileher Dahae.
"Dahae?!"
Dahae yang ditarik kasar hanya pasrah saat tubuhnya terseret dilantai kafe Luhan yang dingin.
"Sehun? Ada apa ini? Ke-kenapa Dahae disini?" Tanya Luhan bingung pada Sehun.
"Sudah kubilang ia ingin bertemu denganmumu," jawab Sehun, "Cepat,katakan apa yang ingin kau sampaikan padanya," Perintah Sehun dengan nada mengintimidasi. Bahkan kulit Luhan meremang,mendengar Sehun memerintah Dahae dengan nada seperti itu.
"Luhan., ucap Dahae lemah sambil beringsut mendekati Luhan.
"Tuan Luhan untukmu," Koreksi Sehun sambil menatap Dahae yang terlihat ketakutan. Anak buah Sehun yang mendapat sinyal dari Sehun langsung memencet suatu tombol yang mengalirkan listrik ke kalung kulit yang terikat di leher Dahae erat hingga Dahae menjerit kesakitan.
"Sehun! A-apa yang kau lakukan?!" Tanya Luhan panik.
"Tuan Luhan," Ucap Dahae sambil berlutut dikaki Luhan, "Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah memperlakukanmu dengan tidak baik tuan," ucap Dahae sambil terisak.
"Tolong maafkan aku," ucap Dahae sambil menciumi sepatu Luhan.
"Hentikan Dahae!" perintah Luhan sambil mengangkat tubuh Dahae, "Apa yang terjadi Sehun?!Kenapa kau memperlakukannya seperti ini?" Tanya Luhan menuntut.
"Perempuan ini pantas diperlakukan seperti binatang,karena ia juga memperlakukanmu seperti itu.." Ucap Sehun sambil memandang Dahae dengan penuh kebencian, "Apa kau lupa? Perempuan ini menjualmu pada seseorang bagai sebuah barang!"
Amarah Sehun bergejolak lagi,namun ia menahannya.
Demi Luhan,ia menahannya.
"Nyonya Gong dan Pria busuk yang memperkosamu juga sudah menerima ganjarannya," lanjut Sehun.
"Kenapa kau melakukan semua itu Sehun-ah?" ucap Luhan pelan, "Kau bukan seseorang yang dengan tega menyiksa orang lain."
"Karena mereka menyiksamu Luhan!" teriak Sehun sambil berdiri dari kursinya, "Membayangkanmu menderita,membuat hatiku tersiksa.."
"Aku akan melakukan apapun. Menjadi siapapun. Bahkan menjadi pria kejam yang selama ini tak akan pernah menjadi bagian diriku. Demi dirimu. Demi membalas penderitaan yang selama ini kau terima," lanjut Sehun.
"Kalau begitu lepaskan Dahae."
"Apa?" Tanya Sehun tak percaya.
"Jika kau akan melakukan apapun untukku,tolong lepaskan Dahae," ucap Luhan memohon, "Aku sudah memaafkannya.."
Sehun mendengus dan membuang muka.
"Sehun-ah," panggil Luhan lembut, "Lepaskan Dahae. Kumohon.."
Sehun menghela nafas dan menyerah.
Ia tidak akan pernah menang melawan permintaan Luhan.
Wow,Kau kalah dari Luhan lagi, Sehun.
"Lepaskan perempuan itu," perintah Sehun pada anak buahnya.
"Sekarang Pergi dari hadapan kami dan jangan pernah menampakkan wajahmu dihadapanku," Perintah Sehun pada Dahae, "Karena jika aku melihat wajahmu lagi. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu."
Dahae mengangguk takut lalu menghadap kearah Luhan dengan senyum penuh syukur.
"Terima kasih Tuan. Terima kasih," Ucapnya sebelum lari meninggalkan kafe Luhan.
"Aku pulang," ucap Sehun lalu berjalan meninggalkan Luhan.
"Ah tunggu Sehun!" panggil Luhan sambil menangkap tangan Sehun.
"Bisakah kau memberikan aku tumpangan?" Tanya Luhan, "Aku tidak membawa mobil."
Sehun memandang Luhan aneh. Perasaan ia tadi melihat mobil Luhan terparkir diluar.
Sehun hanya menghela nafas. Tidak ada jalan untuknya menolak Luhan apalagi dengan puppy eyes yang sekarang tengah memandanginya.
"Baiklah."
.
.
.
Diperjalanan Luhan duduk sambil tersenyum-senyum disebelah Sehun yang sedang termenung menopang dagu. Pandangan Sehun tak pernah lepas dari jalanan yang mobilnya lalui.
"Oh ya Sehun! Besok Baekhyun mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan kesembuhanku. Kau bisa datang?" Tanya Luhan riang.
"Tidak bisa. Aku sibuk," jawab Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.
Luhan cemberut.
'Apa jalanan Seoul lebih menarik ketimbang diriku Oh Sehun?' gerutu Luhan dalam hati.
"Sayang sekali. Ah kalau begitu maukah kau menemaniku,Haowen dan Ziyu ke taman bermain dihari minggu?" Tanya Luhan lagi, "Bukankah kita tidak pernah pergi ketaman bermain bersama anak-anak? Pasti sangat menyenangkan! Ah kalau kau mau aku akan-"
"Luhan" panggil Sehun memotong pembicaraan Luhan, "Hentikan."
"Hentikan? Apa maksudmu? Apa yang haru kuhentikan?" tanya Luhan bingung
"Semua ini," jawab Sehun, "Hentikan jebal."
Sehun memejamkan matanya. Dada Sehun terasa sesak,namun ia tidak ingin Luhan bersikap seperti ini terus ke padanya. Bisa-bisa pertahanannya hancur dan ia kembali mengalah kepada pesona Luhan.
"Hubungan kita sudah berakhir. Bisakah kau berhenti bersikap seolah kita masih bersama?" Tanya Sehun, "Hentikan ini semua Luhan. Aku tidak mau kau tersakiti lagi. Dan aku tidak mau menyakiti dirimu lagi."
"Kau tidak pernah menyakitiku Sehun," ucap Luhan sambil memainkan jemarinya.
"Luhan-"
"Aku mencintaimu. Kalaupun aku tersakiti olehmu aku tidak apa-apa. Karena aku mencintaimu."
Sehun menghela nafas, "Luhan,yang kau rasakan saat ini bukan Cinta.."
"Lalu apa?" Tanya Luhan sambil mendongak menatap Sehun, "Menurutmu apa Sehun?"
Entahlah.
Dibenak Sehun tidak ada satupun jawaban terlintas kecuali Cinta.
Luhan Mencintaimu Sehun. Kenapa kau masih ragu?
"Tuan Luhan,kita sudah sampai," Ucap sopir Sehun sambil menurunkan kaca yang membatasi kursi pengemudi dan kursi penumpang dibelakang.
"Masuklah han. Sudah larut malam,anak-anak pasti menunggumu," Ucap Sehun sambil membuang muka.
Luhan hanya tersenyum, "Baiklah selamat malam Sehun," ucapnya sambil keluar dari mobil limo Sehun.
Sehun menoleh,lalu memperhatikan sosok Luhan yang akhirnya menghilang dibalik pintu gedung apartemennya.
Selamat malam juga,Luhan.
.
.
.
Sehun kembali keperusahaan-nya. Gedung itu sudah terlihat sepi karena para pegawai sudah pulang beberapa jam yang lalu. Keamanan yang bertugas menjaga gedung itu membukakan pintu untuk Sehun dan menyapanya dengan sopan dan Sehun membalasnya.
Sehun masuk keruang kerjanya,dan menghempaskan tubuhnya kekursi empuk kerjanya.
Sehun menghela nafas lagi.
Ia menyelamati dirinya sendiri karena sudah berhasil mengontrol perasaannya didepan Luhan.
Jika saja ia tidak bisa mengontrolnya, ia pasti sudah memeluk Luhan saat pertama kali ia melihat Luhan duduk sendirian menunggunya di salah satu meja kafe. Jika saja ia tidak mengontrolnya ia mungkin sudah membawa Luhan Pulang ,menciuminya, dan mengucapkan rindu berjuta-juta kali hingga Luhan bosan.
"Aku mencintaimu. Kalaupun aku tersakiti olehmu aku tidak apa-apa. Karena aku mencintaimu.."
Kata-kata Luhan berputar diotaknya. Wajah Luhan dan Matanya yang berbinar saat ia mengatakan kalimat itu masih terbayang jelas dibenak Sehun.
"Apa kau benar-benar masih mencintaiku?" gumamnya.
Sehun semakin frustasi memikirkannya. Ia merasa begitu sesak harus terhimpit diantara pilihan percaya pada Luhan atau tidak. Kembali kepada Luhan atau terus pergi menjauh darinya.
Ia akhirnya memilih menelepon sahabatnya,Baekhyun. Mungkin sahabatnya itu bisa membantunya memutuskan langkah apa yang harus ia ambil.
"Halo Baekhyun?"
"Hai tampan~ Bagaimana kencannya?" goda Baekhyun dari balik telepon.
"Kencan?Kencan apa?" Tanya Sehun bingung.
Baekhyun memutar bola mata, "Kencanmu dengan Luhan bodoh! Kau pikir apa lagi?"
"Kami tidak berkencan," Ucap Sehun, "Kami hanya bertemu untuk membahas sesuatu. Tidak lebih."
"Jangan bilang Luhan hanya menraktirmu secangkir kopi untuk berterima kasih karena kau telah mendonorkan ginjal padanya?"
Sehun membelalak kaget.
"Huh?Memangnya ia tahu aku yang mendonorkan ginjalnya?" Tanya Sehun.
"Ya ia tahu. Aku yang memberitahunya tadi siang."
Sehun mengurut-urut dahinya yang mengkerut.
"Byun Baekhyun," panggil Sehun, "Bagian mana dari 'Luhan tidak boleh tahu masalah donor ginjalku untuknya' yang tak kau mengerti?!"
Baekhyun terkekeh.
"Ups! Mianhae," ucap Baekhyun, "Lagipula aku memberitahunya demi hubungan kalian.."
Sehun tertawa sinis, "Ya ya demi hubungan kami. Thanks Baekhyun! Kau memang teman yang baik."
Sehun menutup teleponnya dan melemparkan ponselnya ke meja dengan kesal.
Sehun tertawa pahit.
Sekarang ia tahu kenapa Luhan tiba-tiba bersikap seperti itu padanya dan kenapa tiba-tiba Luhan menyatakan cinta padanya.
Luhan hanya sekedar merasa tidak enak karena Sehun sudah mendonorkan ginjal padanya.
Ini cara Luhan untuk membalas budi kepadanya.
Bukankah begitu?
Sehun sudah menduganya bahwa itu bukan cinta.
Tapi kenapa hati Sehun masih mengharapkan bahwa Cinta di hati Luhan memang benar adanya?
Esoknya Sehun mengadakan sebuah rapat besar di aula perusahannya. Ia berdiri tegak diatas podium. Terlihat tampan dengan kemeja putih dan celana berbahan katun yang pas dikaki jenjangnya.
"Selamat pagi tuan dan nyonya sekalian," Sapanya Dengan Senyum yang menawan.
"Pagi ini aku mengundang kalian berkumpul,untuk mengumumkan suatu hal yang penting."
"Jabatanku diperusahaan ini hanya sementara," Ucap Sehun, "Tuan Lee memerintahkanku untuk memimpin perusahaan hingga cucu perempuannya,Hyemi, siap memimpin perusahaan ini."
Sehun melirik Hyemi, yang duduk di barisan paling depan dan memberikannya senyuman.
"Dan kupikir, Sekaranglah saatnya. Nona Hyemi sudah siap memimpin perusahaan ini."
Semua orang terkejut mendengarnya,bisik-bisik terdengar menggema diaula.
"Maka dari itu,Aku Oh Sehun mengundurkan diri dari jabatanku dan menyerahkan jabatan yang sudah seharusnya aku berikan kepada tunanganku, Lee Hyemi."
"Aku akan menyelesaikan proyek-proyekku dan dengan resmi mengundurkan diri sampai semua pekerjaanku selesai di akhir bulan ini. Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan pada pagi hari ini. Terima kasih."
Sehun turun dari podium dan Hyemi langsung berlari mendekatinya.
"Apa yang kau lakukan?Kenapa tiba-tiba kau mengundurkan diri?" Tanya Hyemi sambil mengikuti langkah cepat Sehun.
"Karena yang berhak menjadi pemimpin perusahaan ini bukan aku. Tapi dirimu," jawab Sehun sambil masuk keruang rapat diikuti oleh sekretaris dan beberapa pegawainya.
Hyemi menghela nafas. Di surat wasiat kakek Lee memang tertulis ia mewariskan semua perusahaannya untuk Hyemi. Dengan catatan jika Hyemi sudah siap. Jika belum, Wakil yang ditunjuk Hyemi-lah yang akan menjadi pemimpin perusahaan. Maka dari itu Hyemi menunjuk Sehun. Alasannya adalah karena Hyemi jatuh cinta kepada Sehun,Pria yang selalu ia temui dirumah kakeknya itu. Hyemi juga berpikir,jika ia menunjuk Sehun, Sehun tidak akan pernah lepas dari dirinya.
.
.
.
Diruang rapat,Sehun sedang mendengarkan presentasi dari pegawainya ketika ia merasakan ponselnya bergetar di meja rapat.
Sehun mengambil ponselnya,lalu membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya.
From: Luhan
Selamat pagi Sehun
Bagaimana pekerjaanmu?
Oh iya apa kau bisa datang ke kafeku siang ini?
Aku membuat kue coklat!
Kau suka kue coklat kan?
Sehun mengabaikan pesan itu dan kembali memperhatikan presentasi dari pegawainya. Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya.
From:Luhan
Hun-ah,
Kenapa tidak membalas?
Apa kau sibuk?
Sehun lagi-lagi mengabaikannya berharap Luhan tidak lagi mengirimkan pesan kepada dirinya. Namun ia salah, beberapa menit setelah itu Sehun berkali-kali menerima pesan dari Luhan. Dan getaran ponselnya mengusik rapat yang sedang berlangsung. Para pegawai menatapnya tajam dan akhirnya dengan cepat Sehun membalas pesan Luhan dengan singkat, "Aku Tidak bisa datang."
Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya. Ia membuka pesan itu dengan malas. Saat ia membaca pesan itu tiba-tiba saja jantungnya berdegup cepat dan wajahnya terasa panas.
From: Luhan
Kalau begitu,
Bolehkah aku menemuimu dikantor?
Aku merindukanmu….
Sore itu sesudah perayaan kecil-kecilan yang direncanakan oleh Baekhyun untuknya,Luhan duduk disalah satu meja kafe sambil berbincang-bincang dengan Minseok. Atau bisa dibilang duduk sambil mengacuhkan Minseok yang sedang berbicara. Luhan diam sambil menopang dagu. Jarinya Mengetuk-ngetuk meja dengan cemas. Ia terus memperhatikan ponsel yang terletak dimeja,menunggu pesan balasan dari Sehun.
"Oh Iya Lu. Ada yang ingin kubica-"
Perkataan Minseok terhenti,saat ia melihat Luhan yang duduk dihadapannya tidak lagi memperhatikan pembicaraannya.
Minseok tersenyum,"Lu.."
Luhan tidak mendengar.
"Luhan," panggil Minseok lagi.
Luhan akhirnya mengalihkan pandangan dari ponselnya yang berada di meja, "Apa?"
"Maukah kau menikah denganku?"
"Apa?!" Tanya Luhan tak percaya.
Minseok tersenyum, "Menikahlah denganku.."
Luhan masih tercengang sambil menatap Minseok tak percaya.
"Minseok, Aku-"
"Menikahlah denganku. Itu kata-kata yang ingin aku katakan padamu tadi," Ucap Minseok, "Sebelum aku menyadari bahwa aku tidak bisa."
"Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku karena kau akan tetap mencintai Sehun," lanjut Minseok.
Luhan menghela nafas,lalu memandang Minseok dengan tatapan bersalah.
"Maafkan aku Minseok," ucapnya menyesal, "Aku bisa saja berkata Ya jika kau menanyakannya. Tapi aku akan menyesal,karena kata 'ya' dariku pasti akan menyakitimu."
"Terima kasih karena kau sudah mengerti Minseok-ah."
Minseok tersenyum walau hatinya terasa sakit. Ia tidak bisa memaksakan kehendak. Bagaimana bisa ia memiliki sesuatu yang bukan miliknya? Ia bukan pencuri.
Luhan hanya milik Sehun.
"Kau tahu Luhan? Saat masih dirumah sakit,Sehun menghampiriku dan memintaku untuk membahagiakanmu.."
"Jinjja?"
"Ya,ia pikir ia tidak bisa membuatmu bahagia. Ia pikir ia akan menyakitimu," ucap Minseok sambil tertawa, "Bukankah ia bodoh? Jika saja ia tidak sibuk merasa takut untuk menyakitimu ia pasti sadar hanya ialah yang bisa mencintaimu seperti itu."
Luhan tersenyum. Merasa begitu beruntung mempunyai Minseok disisinya. Minseok begitu baik dan pengertian. Ia tidak menuntut untuk Luhan membalas cintanya. Karena Minseok sendiri sadar,cintanya tidak harus memiliki.
Keheningan disekitar Minseok dan Luhan terpecah saat Ponsel Luhan berdering.
From: Sehun
Ya,
Kau boleh kesini.
Luhan menutup bibirnya,menahan teriak girang yang hampir keluar dari bibirnya.
"Kenapa?" Tanya Minseok.
"Ah Sehun mengizinkanku untuk menemuinya malam ini," ucap Luhan sambil tersenyum.
"Kalau begitu tunggu apa lagi?" Tanya Minseok, "Ayo cepat temui Sehunmu itu."
Dan tanpa mengatakan apa-apa lagi Luhan pergi meninggalkan Minseok sambil membawa sekotak kue Coklat yang ia sisakan untuk Sehun.
Minseok tertawa getir sambil memerhatikan Luhan yang dengan semangat berlari menuju mobilnya.
'Ini yang terbaik Kim Minseok. Kau melakukan hal yang benar. Kau tidak akan menyesalinya,' pikirnya dalam hati.
Minseok tersentak kaget saat seseorang meletakkan secangkir kopi hitam didepannya.
"Sepertinya kau membutuhkan ini," ucap Jongdae sambil tersenyum.
Minseok tertawa, "Thanks.." ucapnya sambil menyesap Kopi yang diberikan Jongdae.
"Wow! Kopi ini sangat nikmat! Sesuai dengan kopi seleraku."
Jongdae terkekeh lalu menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
"Dan kau juga tidak menambahkan banyak gula," selidik Minseok, "Kenapa kau bisa tahu kopi favoritku?"
Semburat merah terlihat dipipi Jongdae.
Tentu ia tahu.
Jongdae selalu memperhatikan Minseok jika ia disini. Untuk itu Jongdae tahu kopi seperti apa yang Minseok suka.
Jongdae akan tersenyum senang jika ia melihat Minseok menyesap kopi buatannya dengan nikmat.
"Ah aku benar-benar kagum melihat barista hebat sepertimu.."
Jongdae tak henti-hentinya tersipu malu. Ini bukan mimpi kan? Ini bukan khayalan siang bolong yang selalu ia pikirkan kan?
"Jongdae-ssi," Panggil Minseok, "Namamu Jongdae kan?"
Jongdae mengangguk.
"Maukah kau mengajariku cara membuat kopi senikmat ini?"
Jongdae tersenyum malu-malu dan mengangguk.
"Ya,tentu saja."
"Masuk.." ucap Sehun saat mendengar ketukkan pelan di pintu ruang kerjanya. Luhan masuk,lalu menutup ruang kerja Sehun perlahan.
"Sehun-ah."
Sehun mendongak ,berhenti berkutat dengan pekerjaannya, "Hi Hyung. Ada apa kau kemari?"
Luhan mendekati Sehun lalu meletakkan kotak kue di meja kerja Sehun.
"Ini aku bawakan Kue coklat favoritmu," jawab Luhan sambil tersenyum.
"Thanks," ucap Sehun singkat. Luhan mengangguk, lalu mengintip laporan yang sedang ditanda tangani Sehun.
"Kau pasti lelah harus kerja lembur seperti ini," ucap Luhan khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kau pulang sekarang kasihan Haowen dan Ziyu."
"Kenapa kau selalu berusaha untuk mengusirku?" Tanya Luhan akhirnya.
Sehun menghela napas berat sambil meletakkan bolpoinnya, "Hyung-"
"Kenapa sekarang kau menyerah? Kau bilang kau ingin mengawalinya kembali denganku. Tapi kenapa sekarang kau malah mengusirku? Kita saling mencintai,lalu apa yang salah dari itu?"
"Karena yang kau rasakan bukan cinta Luhan!" teriak Sehun akhirnya, "Kau tidak kembali mencintaiku Luhan. Kau hanya merasa kasihan."
"Aku mendonorkan ginjalku bukan untuk mendapat balasan darimu Luhan. Kau tidak perlu melakukan ini semua," lirih Sehun.
"Ya aku memang berterima kasih karena kau telah mendonorkan ginjalmu padaku." Luhan tersenyum kecil, "Aku bahagia karena bagian dari dirimu ada dalam diriku."
"Untuk apa aku kembali mencintaimu jika cinta itu memang tidak pernah pergi?" Tanya Luhan sambil memandang Sehun.
Sehun kehabisan kata-kata dan tidak menjawab. Ia hanya menghela nafas lalu kembali berkutat dengan laporan-laporan di meja kerjanya.
"Sudahlah Hyung," ucapnya, "Sebaiknya kau pulang. Aku juga sudah mengirimkan surat cerai kita ke apartemenmu."
Luhan tertawa getir. Hatinya begitu sakit dan air mata mengancam untuk keluar dari pelupuk matanya.
"Baiklah aku akan pergi," ucap Luhan.
"Tapi aku akan menunggumu di kafe hingga jam 11 malam nanti. Jika kau tidak datang,aku akan menandatangani surat cerai itu dan berhenti mengusikmu.."
"Luhan-"
"Bukankah kau menyuruhku untuk menunggu?" potong Luhan, "Maka aku akan menunggumu Sehun." Luhan berbalik hendak pergi namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Ah dan satu hal lagi. Apa- Apa kau masih ingat alasanmu mencintaiku?" Tanya Luhan.
Tanpa berpikir panjang Sehun menjawab , "Tidak." dengan ekspresi wajahnya yang datar.
Luhan hanya tersenyum kecil lalu berbalik dan akhirnya meninggalkan ruangan kerja Sehun.
Sehun menatap pintu kantornya yang ditutup pelan oleh Luhan lalu berganti menatap sekotak kue coklat yang Luhan bawa.
Sehun menghela nafas.
Ya. Tentu saja Sehun masih ingat jelas alasan ia mencintai Luhan.
Sehun mengambil kotak Kue dari Luhan dan membukanya. Sebuah tart Coklat berbentuk hati berada didalamnya dengan tulisan 'Sehun-ah! Hwaiting' yang ditulis dengan krim vanilla.
Sehun tersenyum melihatnya. Hal-hal kecil yang dilakukan oleh Luhan tidak pernah gagal untuk membuatnya tersenyum.
Sehun terkejut ketika ia mendengar pintu ruang kerjanya dibuka dengan kasar dan keras. Hyemi masuk dan berjalan cepat kearahnya. Hyemi terlihat kesal dan tanpa Sehun sadari tamparan keras sudah melayang ke pipi mulusnya.
"Apa yang kau lakukan Oh Sehun?!" Teriak Hyemi. Air mata sudah membasahi pipinya.
Sehun masih tercengang sambil mengusap pipinya yang terasa perih dan panas.
"Kenapa kau masih disini?!" Tanya Hyemi lagi.
"Apa yang kau bicarakan hyemi?"
Hyemi mendecih sebal.
"Jangan bertingkah bodoh!" Teriak hyemi, "Jawab dengan jujur,apa kau masih mencintai Luhan?"
Sehun mendesah pelan dan tidak menjawab. Tapi Hyemi bisa menebak jawabannya saat melihat kotak kue yang digenggam erat oleh Sehun.
"Apa itu kue dari Luhan?" Tanya Hyemi pelan. Sehun melihat kotak kue yang berada ditangannya dan baru menyadari bahwa ia masih memegang kotak itu erat.
"Ya,ia tadi kesini," jawab sehun seadanya.
"Dan kau membiarkannya pergi?" Tanya Hyemi lagi.
Sehun mendesah dan mengangguk.
"Kenapa kau membiarkannya pergi?!" Nada hyemi meninggi. Ia jengkel melihat sikap Sehun yang masih bisa bersikap tenang seperti ini.
"Sebenarnya ada apa?kenapa kau mempermasalahkan ini semua?" Tanya Sehun sambil mengurut dahinya, "Kau tidak usah khawatir. Aku akan menceraikannya.."
Hyemi melihat surat cerai Sehun dan Luhan diatas meja dan merebutnya kasar.
"Kau mau menceraikannya?" Tanya Hyemi sarkastik "Lalu kenapa kau tidak pernah menanda tangani surat ini selama 3 tahun?!" Hyemi tertawa sinis lalu merobek surat cerai itu dengan kasar hingga menjadi keping-keping kecil.
"Kau pikir aku bodoh?! Kau masih mencintainya Oh Sehun!" Teriak Hyemi sambil terisak.
"Kalau kau masih mencintainya kejar dia sekarang! Jangan mempermainkan hatinya Sehun!" Hyemi mengusap air matanya kasar, "Jangan mempermainkan hatiku.."
"Aku mencintaimu Sehun. Tapi jika bersama diriku kau hanya menuai Luka. Untuk apa kita bersama?" Lirih Hyemi.
Sehun berdiri dari duduknya dan hyemi dengan otomatis melangkah menjauh.
"Hyemi ak-"
"Stop.. Jangan mendekat," potong Hyemi, "Aku hanya ingin kau bahagia.."
"Dan aku sadar,kebahagiaanmu hanya Luhan," lirih Hyemi sambil tersenyum, "Kejarlah kebahagiaanmu Sehun. Please. Jangan membuat rasa bersalahku bertambah dengan menahanmu kembali pada Luhan."
Sehun mengepalkan tangannya erat, "Maafkan aku Hyemi. Maaf."
"Jangan," ucap Hyemi sambil menggeleng, "Jangan berkata maaf. Kalau kau meminta maaf,itu tandanya kau melakukan kesalahan.."
"Dan rasa cintamu untuk Luhan sama sekali bukan sebuah kesalahan," Lanjut Hyemi.
"Cepat kejar dia bodoh!" sentak Hyemi akhirnya.
Sehun menatap Hyemi dengan perasaan bersalah dan dengan cepat ia berlari keluar untuk mengejar Luhan.
Hyemi tersungkur kelantai dan menangis lebih keras.
'Kau hebat Hyemi. Kau hebat..' ucapnya dalam hati.
Melepas Sehun adalah keputusan yang benar.
Jika saja ia tidak bertemu Luhan di Lift tadi,ia mungkin tidak akan pernah sadar,
Bahwa Sehun memang bukan untuknya.
Saat itu Hyemi sedang berada di lift untuk mengunjungi kantor Sehun ketika ia bertemu Luhan yang hendak masuk ke lift yang dinaikinya.
Luhan tersentak kaget lalu tersenyum kepada Hyemi .
"Annyeonghaseyo Hyemi-ssi," sapa Luhan.
"Sedang apa kau disini?" Tanya Hyemi.
"Ah aku baru saja menemui Sehun," jawab Luhan.
"Kau menuju lantai berapa Hyemi-ssi?" Tanya Luhan saat ia masuk kedalam lift.
"Ke lantai yang sama denganmu," jawab Hyemi. Tanpa curiga,Luhan menekan tombol lantai tujuannya.
"Kenapa kau masih menemui Sehun?" Tanya Hyemi akhirnya, "Sehun adalah tunanganku.."
Luhan menatap Hyemi lalu tersenyum "Ia juga masih suamiku. Jadi tidak ada salahnya kan kalau aku menemuinya," jawab Luhan.
"Tapi kalian akan bercerai. Apa kau tidak membencinya?" Tanya Hyemi sambil melipat tangan didadanya.
"Tidak. Aku mencintainya sama sepertimu."
Hyemi mendesah lalu menghadap kearah Luhan, "Bagaimana kalau kita bertaruh?jika ia memilihmu aku akan melepaskannya. Dan jika dia memilihku kau harus melepaskannya dan berhenti mengganggunya.. Bagaimana?"
Luhan tertawa kecil lalu menatap Hyemi, "Maaf aku menolak. Sehun bukan seseorang yang bisa dipertaruhkan. Ia lebih berharga daripada itu."
"Aku akan menyerahkan semua keputusan padanya. Jika ia memang memilihmu dan ia bahagia karenanya,tentu aku akan melepaskannya. Untukku,kebahagiaannya lebih penting daripada kebahagiaanku."
Lift berdenting saat Luhan menyelesaikan ucapannya.
"Kalau begitu aku permisi dulu Hyemi-ssi," pamit Luhan sambil keluar dari lift,meninggalkan Hyemi yang masih terpaku.
Luhan salah.
Rasa cintanya tidak sama dengan Hyemi.
Rasa cintanya lebih besar,lebih berharga. Dan Hyemi sadar cintanya sudah kalah jauh dari cinta Luhan untuk Sehun.
Sehun mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan resah kesetir mobil. Deretan mobil didepannya masih diam terjebak dalam kemacetan.
Sehun menghela nafas frustasi ketika melihat arlojinya sudah menunjuk jam setengah sebelas malam. Jika ia tidak keapartemen Luhan dulu tadi untuk menjemput Haowen dan Ziyu lalu ke apartemen Kyungsoo untuk menitipkan mereka berdua, Sehun pasti datang sampai lebih awal ke kafe Luhan. Lagipula Kemana semua orang-orang dalam mobil yang ada didepannya akan pergi malam-malam seperti ini?! Kenapa kemacetan di Kota Seoul terjadi disaat yang tidak tepat?!
Ponselnya berdering dan dengan cekatan Sehun memencet tombol 'answer' di headset wirelessnya untuk mengangkat telepon.
"Yeoboseyo?"
"Sehun!ini aku Baekhyun!"
Sehun meringis ketika teriakkan antusias Baekhyun memekakkan telinganya.
"Ya Baek aku mengenalmu."
Siapa lagi yang bisa berteriak sekencang itu selain sang diva Byun Baekhyun?
"Hey! Apa Luhan menemuimu?"
"Ya ia menemuiku," jawab Sehun sambil mendecak sebal karena mobilnya hanya bisa maju sedikit dan kembali terjebak kemacetan.
"Lalu bagaimana?" Tanya baekhyun terlalu antusias.
"Bagaimana apanya?" Tanya Sehun balik, "Ia hanya memberikanku kue dan pulang."
"Hanya itu saja?" Tanya baekhyun tak percaya.
"Ya hanya itu," Sehun menjawab, "Tapi aku dalam perjalanan untuk menemuinya di kafe."
"Benarkah?ah syukurlah!" Seru baekhyun.
"Memangnya kenapa sih?" Tanya Sehun curiga.
"Ah tidak! Aku hanya takut kau terlambat," jawab Baekhyun, "Apa kau tahu? Minseok melamar Luhan."
"A-Apa?!" Tanya Sehun sambil berteriak. Dan giliran Baekhyun yang menjauhkan ponsel dari kupingnya yang berdengung setelah mendengar teriakkan Sehun.
"Iya dan rencananya Luhan akan menjawabnya jam 11 malam ini.."
Sehun menengok arlojinya.
"Fuck! 10 menit lagi sudah jam 11!" Umpat Sehun, "Kafe Luhan dua blok lagi dan aku masih terjebak macet!"
Baekhyun menahan tawanya lalu berdeham , "Ya kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada cintamu, Luhan."
"Aish!Jangan berkata seperti itu!" Ucap Sehun panik, "Hey lampunya sudah hijau! Maju lebih cepat keparat!" Umpat Sehun sambil menekan klaksonnya beberapa kali. Sementara Baekhyun masih mati-matian menahan tawanya.
Sehun akhirnya menepikan mobilnya didepan sebuah gedung dan memarkirkannya disana.
"Shit aku akan berlari ke kafe Luhan! Thanks Baek!" Sehun menutup teleponnya lalu berlari secepat kilat menuju kafe Luhan.
Sementara Baekhyun sudah tertawa terpingkal-pingkal disofa apartemennya.
"Babe,kau kenapa?" Tanya Chanyeol bingung sambil memakan popcornnya.
"Ah aku tadi membohongi sepupu bodohmu kalau Luhan sedang dilamar Minseok dan sekarang ia sedang lari terbirit-birit menuju kafe Luhan," jawab Baekhyun masih sambil tertawa.
"Sehun?" Tanya Chanyeol.
"Iya. Dia percaya begitu saja dengan apa yang kubilang. Sepertinya dia percaya saja apapun yang kukatakan tentang Luhan," jawab baekhyun sambil mengusap airmatanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.
Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya karena tingkah jahil kekasihnya.
"Sehun pasti akan kesal dan memberikanmu pelajaran," ucap Chanyeol sambil kembali menonton TV. Baekhyun menjulurkan lidahnya lalu meringkuk lebih dekat kedekapan kekasihnya..
"Angdwaeyooo~" ujarnya manja, "Sebaliknya ia akan berterima kasih padakuu!" serunya sambil memeluk Chanyeol dan kembali menonton film yang diputar di televisinya.
.
.
.
Luhan duduk dimeja panjang kafe yang menghadap jendela. Malam itu kafe sepi karena sudah tutup. Luhan juga sudah menyuruh Jongdae untuk pulang mendahuluinya.
Luhan menatap jam yang berdetak didinding. Hampir Pukul 11 malam. Dan Sehun belum datang juga.
'Apa Sehun benar-benar tidak ingin kembali padaku?' tanyanya dalam hati.
Pertanyaan Luhan terjawab saat ponselnya berdering. Nama Sehun tertera disana. Dan dengan jantung yang berdegup cepat dan senyum yang ia kulum,Luhanpun mengangkat teleponnya.
"Yeoboseyo?" Ucapnya. Sehun tidak menjawab,hanya terdengar suara nafas Sehun yang terengah-engah.
"Sehun?" panggil Luhan lagi. Ia khawatir karena Sehun masih terengah-engah. Sehun kenapa? Apa dia habis berlari maraton?
"Katakan padaku. Apa selama 3 tahun ini kau selalu menungguku seperti itu?" Tanya Sehun akhirnya, "Duduk sendirian di kafe yang gelap dan sepi."
Sehun masih mencoba mengatur napasnya sambil memandang Luhan yang tengah menengok ke kanan dan kekiri mencari dirinya.
"Kau dimana?" Tanya Luhan sambil mencari sosok Sehun.
Sehun tertawa kecil melihat Luhan yang sedang mencarinya. Dengan cepat ia menengok kekanan dan kekiri,matanya mengerjap-ngerjap lucu seperti anak kecil. Persis sama dengan Ziyu.
"Aku ada diseberang kafe. Ditempat yang selama 3 tahun ini kugunakan untuk mengawasimu setiap harinya.."
Luhan mencari sosok Sehun di seberang jalan dan ia menemukannya.
Cintanya. Belahan jiwanya.
Sedang berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel dikupingnya. Sehun sudah tidak lagi memakai jasnya. Sehun hanya memakai kemeja putih yang kusut dan dengan lengan kemejanya yang ia gulung . Kancing atasnya tebuka memperlihatkan Dadanya yang naik turun,berusaha mengatur nafas. Ujung Poninya dibasahi keringat yang mengalir turun ke pahatan indah struktur wajahnya.
"Sehun," gumam Luhan pelan sambil beranjak dari kursinya.
"Tunggu disitu. Aku yang akan kesana," Ucap Sehun, "Aku yang akan kembali padamu.."
Sehun menutup teleponnya lalu berlari menyeberangi jalan. Dengan keras ia mendorong pintu kaca kafe Luhan dan menghampiri Luhan yang masih berdiri kaku ditempatnya. Dengan cepat Sehun menarik Luhan kedalam dekapannya dan mencium bibir merah Luhan.
"Kau bertanya apakah aku masih mengingat alasanku mencintaimu," ucap Sehun sambil menyatukan dahi mereka dan mengelus pipi Luhan, "Tentu,aku selalu mengingatnya."
"Aku mencintaimu karena untukku kau manusia terindah. Bahkan lebih indah dari bidadari. Bukankah aku pernah mengatakannya?" Sehun tertawa melihat Luhan merona malu. Ya Luhan ingat Sehun pernah mengatakannya saat Sehun menyatakan Cinta untuk Luhan.
"Dan aku mencintaimu karena kau adalah satu-satunya orang yang paling berharga untukku," ucap Sehun sambil mengecup dahi Luhan.
"Well sekarang tidak lagi," Ucap Sehun sambil mengecup pipi Luhan, "Karena sudah ada ziyu dan Haowen. Kau bukan satu-satunya lagi. Maaf."
Luhan tertawa sambil memejamkan mata ,menikmati kecupan-kecupan kecil yang diberikan Sehun untuknya.
"Dengar,Maafkan aku karena sudah egois dan meninggalkanmu," ucap sehun sambil menatap mata Luhan yang berkilau penuh cinta, "Tapi kau harus tahu. Aku masih mencintaimu. Sangat mencintaimu. Akan kulakukan apapun. Apapun Luhan,demi kebahagiaanmu."
"Sehun..."
Sehun menyatukan dahi mereka lagi. Menangkup pipi Luhan dengan kedua tangannya.
"Kumohon. Kembalilah padaku. Ja-jangan terima lamaran Minseok. Kumohon," lirih Sehun.
Luhan tercengang. Kenapa Sehun bisa tahu?
Oh, Baekhyun..
Luhan hanya menceritakan hal itu pada Baekhyun. Tentu saja Baekhyun yang menceritakannya lagi pada Sehun.
Dasar cerewet.
"Sehun.."
"Tidak tidak," potong Sehun, "Jangan mengatakan apapun luhan.."
Sehun menggeleng dan mengaitkan jemarinya dengan jemari Luhan. Saat ia menggengam tangan Luhan, Sehun merasa sedang menggenggam hidupnya,dunianya.
"Aku akan memperbaiki semuanya. Kita awali cerita kita yang baru. Aku hanya ingin dirimu. Aku ingin semua darimu. Selamanya,setiap harinya. Antara kau dan aku. Kita mulai Cerita kita bersama dengan akhir yang bahagia."
Luhan terdiam. Membiarkan saja suaminya mengatakan kata-kata gombal dan manis kepada dirinya. Toh ia menyukainya dan memanfaatkan dengan baik saat-saat seperti ini.
"Sehun-ah.."
"Luhan, aku ti-" perkataan Sehun terpotong saat Luhan menciumnya. Sehun terbelalak dan diam saja membiarkan Luhan melumat bibirnya.
"Akhirnya kau diam juga," ucap luhan sambil tertawa, "Sekarang biarkan aku yang berbicara."
Sehun dengan patuh mengangguk.
"Minseok memang bermaksud melamarku tapi ia tidak melakukannya," jelas Luhan, "Karena ia tahu aku hanya mencintaimu.." Ucap Luhan sambil tersenyum lembut.
"Aku memaafkanmu. Aku akan selalu memaafkanmu." Luhan mengusap lembut pipi Sehun dan Sehun meleleh kedalam sentuhan Luhan, "Aku tidak pernah membencimu. Bagaimana bisa aku membenci pria yang kucintai?"
"Sehun-ah. Aku ingin hidup denganmu. Bahagia. Selamanya,setiap harinya. Membuat cerita baru seperti yang kau bilang," ucap Luhan sambil mencium pucuk hidung mancung Sehun, "Ya. Aku mau."
Sehun tersenyum lalu mencium bibir Luhan lagi. Ciuman Sehun lebih ganas dan bergairah dari sebelumnya. Ciuman itu begitu panas,mengalirkan kerinduan yang selama 3 tahun Sehun pendam. Sehun mendorong Luhan mundur hingga tubuhnya membentur meja. Tangan Sehun masuk,menelusup kekaos biru Luhan. Bibir Sehun berpindah kerahang Luhan,menggigit kecil rahang Luhan hingga Luhan melenguh.
"Se-Sehun jangan," ucap Luhan susah payah sambil mendorong-dorong kecil tubuh Sehun.
"Maaf. Aku tidak bisa menunggu lagi Luhan," ucap Sehun dengan suara yang rendah dan dalam hingga membuat kulit Luhan meremang. Luhan menatap sayu mata Sehun yang tajam dan berkilat penuh gairah.
"Aku sudah tidak bisa menahannya lagi.." Sehun kembali mencium Luhan . Luhan sudah pasrah dan membiarkan saja lidah sehun masuk dan menyapu rongga mulutnya.
Sehun melepas ciumannya sebentar lalu mengangkat Luhan,mendudukannya di meja. Sehun dengan tidak sabaran menarik kaos Luhan dan melemparnya asal. Sehun melihat badan Luhan dengan takjub. Dulu Luhannya begitu kurus kering. Tapi sekarang tubuh Luhan kembali terisi. Masih seramping dulu namun Sehun bisa melihat dada Luhan yang bidang dan otot kecil diperutnya yang rata.
"Wow," gumam Sehun takjub, "Kau luar biasa.."
Luhan merasa malu diperhatikan seperti itu oleh Sehun . Dan dengan inisiatifnya ,tangan lentiknya menarik kemeja Sehun sehingga Sehun berdiri lebih dekat,disela kedua kakinya.
"Jangan membuang waktu," ucapnya malu-malu., "Aku juga tidak bisa menahannya lagi.."
Sehun terkekeh dan membiarkan saja Luhan melepas kancing kemejanya satu persatu. Luhan lalu melepas kemeja itu dari tubuh atletis Sehun dan menjatuhkannya pelan kelantai.
"Di lantai. Aku tidak mau Jongdae mengomel karena meja yang rusak akibat perbuatan kita."
Sehun tertawa, "Oh sial kenapa kau begitu Lucu hmm?" ucapnya sambil mengangkat Luhan.
Sehun dengan hati-hati merebahkan Luhan dilantai. Luhan bergidik kedinginan saat tubuh telanjangnya menyentuh lantai.
Bibir Sehun langsung meraup bibir Luhan lagi dan mereka saling berpagut,berciuman dengan panas.
"Ahh!" Desah Luhan saat tidak sengaja kejantanannya bergesekkan dengan kejantanan Sehun yang masih tertutup celana.
"Damn!" umpat Sehun.
"Kenap tubuhku selalu bereaksi terhadap apapun yang kau lakukan Luhan?" tanyanya sambil membuka kancing celananya dengan terburu-buru, "Apa yang kau lakukan padaku?"
Luhan tidak menjawab ia masih sibuk mengatur nafasnya.
"Aku menunggu selama 3 tahun untuk melakukan ini denganmu. Jadi jangan harap aku akan melakukannya dengan sabar dan perlahan.."
Luhan meneguk salivanya saat melihat full-naked Sehun menyeringai kearahnya.
Oh tuhan,tolong kuatkan Luhan.
.
.
"Ah! Se-Sehun pelan-pelan," ringis Luhan sambil mencengkeram keras lengan berotot Sehun. Sehun meringis saat lubang Luhan menghimpit keras kejantanannya.
"Tahan sebentar Lu.. Ughhhh.."
Akhirnya Kejantanan Sehun masuk dengan sempurna dilubang Luhan yang berkedut kesakitan. Luhan menangis menahan perih. Giginya menggigit bibir bawahnya keras. Luhan tidak pernah mengingat bahwa Sehun terasa sebesar ini dilubangnya.
Sehun dengan pelan bergerak,menggenjot kejantanannya kedalam lubang Luhan.
Kecepatannya bertambah dan ia menggenjot Luhan dengan lebih keras dan cepat.
Luhan menggelinjang,merasakan sweet spotnya ditumbuk keras oleh kejantanan Sehun.
"Babe,apakah disini?" Tanya Sehun sambil mencium leher dan rahang Luhan.
"Ya- akhhh- ya ya disitu oohhh Sehunn.." Luhan terpejam,merasakan sakit sekaligus nikmat yang menjalar didalam tubuhnya.
"Apa si Asami sialan itu melayanimu seperti ini?" ucap Sehun sambil menhujamkan kejantanannya lebih keras.
"Apa ia membuatmu mendesah kenikmatan seperti ini Luhan?" Tanya Sehun . Luhan memekik dan menggeleng keras.
Luhan mengalirkan air matanya. Kenikmatan sudah mengambil alih tubuhnya hingga ia menyongsong pergerakkan Sehun.
"Ti-tidak.. Ahhhh… Hanya kau Sehun—Hanya kau yang akkhh bisa membuatku seperti i-ini.."
"Le-lebih cepat Sehun-ahhh.."
Sehun tersenyum puas. Dan ia bergerak lebih cepat. Tangan kirinya memijat-mijat bokong Luhan sementara tangan kanannya bergerak menuju kejantanan Luhan yang terhimpit dan bergesekkan dengan tubuhnya dan juga tubuh Luhan.
"O-ooohh.. Se-sehun Aku.. Se-sebentar lagi ahhh.."
Luhan mendongak,air matanya terus mengalir. Tidak bisa lagi menahan kenikmatan yang diberikan Sehun.
"Ya Sayang,aku tahu," Sehun mengecup pipi Luhan. Meciumi air mata yang mengalir dipipi mulusnya.
"Argghhh!" teriak Sehun ketika klimaksnya datang. Cairannya menyembur,memenuhi Lubang Luhan. Luhan yang mengalami klimaks diwaktu yang sama menyemburkan cairannya diantara tubuhnya dan tubuh Sehun.
Sehun ambruk diatas tubuh Luhan. Tubuhnya terasa lelah. Dan ia menenggelamkan wajahnya didada Luhan yang naik turun,mengatur napasnya. Sehun bisa mendengar detak jantung Luhan yang berdetak cepat. Dan Sehun tersenyum senang. Karena detak jantung itu, berdetak dengan cepat, karena dirinya.
Sehun bangun,menopang berat tubuhnya pada lengan yang memerangkap luhan dibawahnya. Sehun tersenyum sambil mengelus pipi Luhan lembut. Luhan membalas senyuman itu,dengan tangannya yang masih melingkar dileher Sehun.
Sehun memperhatikan wajah Luhan,mengusap keringat dari kening Luhan dengan lembut.
"Kau Cantik," Ucap Sehun.
"Cantik seperti wanita?!" Tanya Luhan sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
Sehun tertawa, " Tidak.." tangannya menangkup pipi Luhan, "Cantik seperti Luhan. Beautiful Luhan."
Sehun mencium bibir yang sedang mengerucut itu dan Luhan tersenyum karenanya.
Sehun melepas ciuman itu dan mengernyit ketika menyadari bekas luka dibibir bawah Luhan.
"Lu,Luka apa ini?" tanyanya sambil mengelus lembut bibir bawah Luhan.
Luhan tidak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menatap Sehun dengan takut.
"Sayang,jujurlah padaku," ucap Sehun sambil mengelus pipi Luhan.
Luhan memejamkan matanya dan menjawab dengan cepat, "Luka ini aku dapatkan saat pria itu memaksa untuk menciumku."
Luhan masih memejamkan matanya,menunggu respon dari Sehun. Tapi ia tidak mendengar apapun dan memutuskan untuk membuka matanya perlahan.
Luhan terhenyak ketika Sehun menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sehun," lirihnya.
"Tunjukan padaku Luka-lukamu," Ucap Sehun.
"Kenapa?Tapi aku tidak mempunyai Luka la-"
"Aku ingin melihat berapa kali kau terluka, beberapa kali kau membutuhkanku dan aku tidak ada disana," lirih Sehun. Air mata mengalir jatuh ke pipinya.
"Maafkan aku Luhan. Maafkan aku." Sehun terisak dan menenggelamkan wajahnya lagi didada Luhan.
"Sehun-ah," panggil Luhan sambil mengelus kepala Sehun. Mencium pucuk kepala Sehun yang masih terisak.
"Aku baik-baik saja," ucap Luhan, "Tidak ada Luka lain ditubuhku. Jangan pernah menyalahkan dirimu. Kau sudah memperlakukanku dengan baik. Kau mencintaiku dengan benar. Tidak ada lagi yang perlu kau cemaskan."
Sehun mendongak, "Aku akan selalu mencemaskanmu. Bahkan ketika kita tidak bersama,ketika kita jauh, jauh dari satu sama lain. Aku tidak bisa berhenti mencemaskanmu."
Luhan tersenyum menenangkan Sehun sambil membelai pipinya, "Tapi sekarang kau disini. Kau dekat denganku. Aku tidak akan pernah terluka,karena aku akan selau kau lindungi."
"Ya aku aku pasti akan melindungimu dari orang lain," ucap Sehun. "Tapi bagaimana jika aku yang melukaimu?Bagaimana caraku menjagamu dari diriku sendiri?"
"Kau tidak akan pernah melukaiku Sehun. Walaupun nantinya kau melukaiku aku tidak akan apa-apa. Hanya kau,Sehun, yang kubiarkan untuk melukaiku. Karena aku mencintaimu," jawab Luhan sambil menghapus air mata dipipi Sehun.
Tidak.
Sehun juga tidak akan pernah melukai Luhan. Karena ia juga mencintai Luhan sepenuh hatinya.
Ia pernah melukai hati Luhan dan ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Ia lebih baik mati daripada harus melukai Luhan sekali lagi.
"Saranghae Sehun-ah," ucap Luhan lembut. Sehun tersenyum dan mengecup hidung bangir Luhan.
Sehun lalu menjawab dengan sepenuh hati,
"Nado Saranghae Luhan.."
Ya,ini benar.
Memang seharusnya cerita mereka berjalan seperti ini.
.
.
.
Beberapa jam setelah berciuman dan bermesraan dilantai kafe dan mengepel lantainya sedikit, akhirnya mereka memakai pakaian mereka dan keluar dari Kafe. Sehun dan Luhan berjalan berdampingan menuju Mobil Sehun yang terpakir jauh dari Kafe Luhan.
"Dingin?" Tanya Sehun sambil mengaitkan jemarinya dengan jemari Luhan.
Luhan merona,lalu mengangguk pelan.
"Sebentar lagi kita sampai. Tahan sebentar ya?" ucap Sehun sambil memasukkan tangan mereka yang terkait ke saku celananya. Luhan berjalan lebih dekat dan dengan pelan ia menyandarkan kepalanya dibahu lebar Sehun.
Akhirnya mereka sampai didepan gedung tempat mobil Sehun terparkir. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel terdekat yang juga akan menjadi tempat Sehun menginap sampai pekerjaannya diperusahaan kakek Lee selesai.
Luhan sedang memasukkan kemeja dan celana Sehun ke keranjang cuci ketika Sehun keluar dari kamar mandi. Sehun melilitkan handuk dipinggangnya sementara dadanya yang basah ia biarkan telanjang. Sehun mengacak-acak rambutnya yang basah. Dan Luhan memandanginya dengan takjub.
"Kenapa sayang?" Tanya Sehun jahil, "Apa kau kecewa aku menutupi bagian bawah tubuhku?"
Luhan yang tersadar mulai salah tingkah. Ia lalu melemparkan kaos putih polos yang sempat mereka beli disupermarket kearah Sehun.
"Ck! Dasar Mesum! Cepat pakai kaosmu!"
Sehun tertawa puas. Bukannya mengindahkan perintah Luhan,ia malah mendekati sang suami dengan seduktif. Luhan kembali salah tingkah,dengan gelagapan ia melipat lipat bajunya dan berdiri cepat menghindari Sehun. Tapi dengan cekatan Sehun menangkapnya,dan memerangkap Luhan didalam dekapannya.
"Kau mau kemana hmm?" Tanya Sehun sambil mengecup dan meniup kuping Luhan. Luhan menggeliat kegelian.
"Uh lepaskan aku! Aku ma-mau mandi."
"Mandi? Apa perlu kutemani?" goda Sehun.
"Ya!" Luhan mendorong Sehun kuat, "Jangan main-main! Aku harus mandi ,tubuhku bau keringat!"
"Kau tidak bau. Kau harum," Ucap Sehun sambil menciumi leher Luhan. "Uh Aku tidak akan bosan untuk menciumi tubuhmu Luhan."
Luhan yang jengkel Karena Sehun menggodanya terus mencubit pipi Sehun hingga Sehun meringis kesakitan.
"Lepaskan aku Oh Sehun atau aku tidak akan tidur bersamamu!" ancam Luhan.
"Aw! Baiklah!" Sehun akhirnya menyerah dan melepaskan Luhan.
"Huu Sakit," keluh Sehun (sok) manja, "Mandinya cepat ya?Sehabis itu kita tidur sambil berpelukkan dikasur.."
Sehun tersenyum dengan polosnya.
"Tidak! Tidur sambil Berpelukkan membuatku gerah!" teriak Luhan sambil menjulurkan lidah dan segera berlari ke kamar mandi sebelum Sehun sempat menangkapnya.
Setelah memakan waktu yang lama untuk berendam di bath tub,Luhan akhirnya selesai mandi. Ia keluar dengan baju yang sudah lengkap (mengantisipasi kalau-kalau Sehun yang mesum menerkamnya). Saat ia membuka pintu, lampu kamar sudah mati dan terlihat siluet Sehun sedang tertidur membelakanginya. Luhan berjalan pelan untuk melihat wajah Sehun. Lampu dari balkon yang masuk dari sela gorden menyinari wajah Sehun yang tampan.
Luhan tidak akan pernah bosan terpesona dengan wajah Sehun yang berstruktur tegas itu.
Dengan perlahan Luhan naik kekasur dan menyelimuti Sehun dan juga tubuhnya sendiri. Ia mengecup pipi Sehun dan membisikkan 'Mimpi indah Sehun-ah' sebelum ia memeluk Sehun dari belakang dan terlelap dengan kepalanya menempel dipunggung Sehun.
Sehun membuka matanya perlahan dan tersenyum.
Ya, Aku bermimpi indah. Kau,mimpi indahku, Luhan.
Sebulan setelah itu Sehun resmi mengundurkan diri dari perusahaan kakek Lee dan pindah ke Apartemen Luhan. Haowen dan Ziyu menyambutnya dengan riang dan mereka membantu Appa mereka membereskan barang-barangnya.
Malam itu Sehun duduk menyandar di tempat tidur Haowen. Ziyu duduk dipahanya sementara Haowen duduk disampingnya sambil menyandarkan kepalanya di tangan Sehun.
"Edward Tulane menunggu.
Musim berganti tahun.
Edward Tulane menunggu." Ucap Sehun menceritakan buku 'The Miraculous journey of Edward Tulane' digenggamannya.
"Edward mengulang kata-kata si boneka tua berulang kali sampai terukir menjadi harapan dalam benaknya: Akan ada yang datang akan ada yang menjemputmu.
Dan boneka tua itu benar. Memang ada yang datang…"
Ziyu melompat-lompat kegirangan saat ayahnya bercerita,Ziyu senang karena akhirnya ada yang datang untuk Edward,si boneka kelinci.
"…. 'Edward?' panggil Abilene.
Ya,Kata Edward..
'Edward,' Abilene berkata lagi,kali ini dengan yakin.
Ya,Sahut Edward, ya,ya,ya.
Ini Aku.
Selesai."
Sehun menutup bukunya lalu mencium pucuk kepala Ziyu.
"Selesai?" Tanya Ziyu.
"Ya selesai." Jawab Sehun.
"Apakah akhirnya Edward hidup dengan bahagia Appa?" pertanyaan itu keluar dari bibir Haowen yang mendongak,menatap Sehun. Sehun tersenyum lalu mengusap lembut kepala anak tertuanya.
"Tentu saja.." jawab Sehun, "Tentu Edward Bahagia karena ia bertemu lagi dengan Cinta dan pemilik pertamanya,Abilene.."
Haowen mengangguk mengerti.
"Baiklah! Saatnya para Jagoan Appa tidur!" Ucap Sehun sambil menggendong Ziyu ketempat tidurnya sendiri yang hanya dipisahkan meja kecil dari tempat tidur Haowen.
"Selamat malam Ziyu," Ucapnya sambil mengecup kening anaknya.
"Selamat malam Appa," balas Ziyu sambil memejamkan matanya.
Sehun berpindah kedekat tempat tidur Haowen dan menyelimuti anak tertuanya.
"Selamat malam Haowen," ucap Sehun sambil mengecup dahi Haowen.
"Appa." Panggil Haowen sambil menarik lengan piyama Sehun.
"Ya sayang?"
Haowen sempat ragu namun akhirnya ia bertanya, "Kau akan tetap tinggal disini kan bersama kami?"
Sehun tersenyum lalu mengusap kepala Haowen.
"Aku akan tetap disini. Bersama kalian,bersama keluargaku. Aku akan tetap disini melihatmu dan Ziyu tumbuh besar. Jadi anak yang baik dan pintar. Buat diriku dan Baba bangga ya?"
Haowen tersenyum kecil dan mengangguk.
Sehun dengan pelan menutup pintu kamar anaknya dan pergi menuju kamar dirinya bersama Luhan. Saat ia masuk,ia melihat Luhan masih bercermin,mengoleskan Krim wajah ke wajahnya yang mulus.
Sehun menghampiri Luhan lalu memeluk Luhan dari belakang.
"Tidak heran kenapa kau masih terlihat Cantik sama seperti masa sekolah dulu.."
Luhan tertawa, "Jangan menggombal Sehun. Aku tahu ini caramu untuk merayuku agar kita melakukan 'itu' malam ini."
Giliran Sehun yang tertawa sambil memeluk pinggang Luhan dengan gemas.
"100% tepat sekali Luhan!" Ucapnya jahil sambil menciumi Leher Luhan.
Luhan menatap bayangan Sehun dari cermin.
Waktu itu saat Sehun tidak ada, ia akan berdiri sendiri didepan cermin ini. Membersihkan wajahnya dan setelah itu tidur sendiri disebelah kanan ranjang besarnya. Tapi sekarang berbeda,ada Sehun yang sedang memeluk pinggangnya. Ada Sehun yang akan selalu menggodanya dengan kata-kata mesum sebelum tidur. Dan ada Sehun yang akan tidur menemaninya,melengkapi dirinya, disebelah kiri ranjangnya.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sehun sambil memandang Luhan yang sedang melamun di cermin.
Luhan tersenyum lalu berbalik dan memeluk Sehun dengan erat.
"Tidak. Hanya saja aku bersyukur karena sekarang kau disini.." Luhan mendongak lalu mencium bibir Sehun, "Terima kasih karena kau sudah kembali Sehun-ah.."
Sehun mengusap kepala Luhan lalu turun kepipi Luhan.
"Aku juga bersyukur karena sekarang aku ada disini," ucap Sehun sambil tersenyum lembut, "Terima kasih sudah menunggu.."
Mereka lalu berciuman. Mengalirkan rasa cinta masing-masing disetiap pagutan bibir mereka. Akhirnya setelah beberapa menit,Mereka melepas ciuman mereka dan tertawa bersama.
"Oh ya hari minggu ini sebaiknya kau dan anak-anak bersiap-siap. Kita akan pergi ke pesta," Ucap Sehun sambil menarik tangan Luhan menuju ranjang. Sehun duduk ditepi ranjang sementara Luhan duduk dipangkuannya.
"Pesta apa?" Tanya Luhan.
Sehun lalu mengeluarkan satu surat undangan dari saku celana tidurnya.
"Pesta pembukaan Hotelku. Ah tidak,hotel kita."
Luhan membaca undangan tersebut dan membelalak kaget saat alamat hotel bernama 'Selusion' itu sama dengan alamat Apartemen lamanya bersama Sehun.
"Kau kaget?" Tanya Sehun sambil tersenyum senang, "Aku membeli gedung apartemen itu dengan uang tabungan serta sedikit pinjaman dari Chanyeol dan mengubahnya menjadi hotel yang mewah, " jelasnya.
"Kau menyukai pemandangan dari gedung itu. Maka aku sengaja membelinya untukmu. Dan kamar apartemen kita dulu sengaja kubuat sebagai kamar khusus untuk keluarga kita jika berkunjung."
Luhan menatap Sehun. Ia senang bukan main. Ia tidak bisa mengungkapkan betapa berterima kasihnya ia kepada pengorbanan suaminya ini untuk dirinya.
"Sehun terima kasih." Luhan terisak saat air mata harunya memaksa untuk keluar.
Sehun terkekeh sambil mengigit gemas hidung Luhan.
"Yaa ya Terima kasih juga untukmu,sayang."
"Saranghae Sehun-ah.," ucap Luhan sambil mencium dahi Sehun.
"Nado Saranghae Luhan.."
.
.
Suatu hari, Sehun pergi meninggalkan Luhan,belahan hatinya. Ia menjadi seorang trainee disebuah manajemen artis terkenal.
Suatu hari Sehun kembali dan melihat cintanya direbut paksa oleh orang lain. Dan saat itu Sehun bersumpah takkan melakukan kesalahan dengan menyayangi lagi.
Suatu hari Mimpi Sehun menjadi seorang penari hancur ,ia memutuskan untuk pergi meninggalkan mimpinya. Karena tanpa cinta mimpinya bukan apa-apa.
Lama ia tinggal dilorong kereta bawah tanah, berdansa untuk membeli sebungkus makanan untuknya bertahan.
Suatu hari, seorang kakek membawanya ke kehidupan bergelimangan harta. Derajat Sehun naik,ia menjadi pemuda kaya namun hatinya tetap miskin.
Sehun bertemu dengan cintanya yang lain. Namun ia sadar. Cintanya untuk Luhan masih unggul dan menang.
Suatu Hari, Sehun kembali membuka hatinya dan menyayangi Luhan lagi.
Dan seperti si kelinci porselen di buku dongeng milik Ziyu,Edward Tulane, Sehun akhirnya menemukan jalan pulang menuju Luhan,Belahan hatinya.
END
YEHET AKHIRNYA SELESAI JUGA HAHAHAHA
Bagaimana readers?Puas?
Semoga puas deh :')
Maaf kalo banyak kesalahan penulisan di FF ini hiks
Ada yang sedih gak sih metanoia udahan? /dih pd amat/
JANGAN KHAWATIR!
Masih ada projek Metanoia yang baka laku post secepatnya :D
tunggu aja yaa!
anyway thanks udh baca!
Ditunggu reviewnya!
kisseu/chuu/
