Disclaimer: Masashi Kishimoto
Warning: OOC, alur ngebut, tokoh OC, alur tidak jelas, Dewasa (harusnya ratingnya M) dll
Pertempuran
chapter 10
Normal POV
02.30
Naruto dan Sasuke berada dalam detik terberat dalam misinya ketika mereka harus mati-matian mencari Rin, tak ada kata menyerah bagi mereka, yang ada hanya terus mencari. Di depan mereka telah ada ruangan yang sesuai dengan prediksi mereka, Naruto mencoba mendobrak pintu, namun nihil, ia tidak berhasil. "Mundur Dobe, biar aku yang membukanya," ujar Sasuke yang tengah berancang-ancang untuk melesatkan peluru yang ia punya.
Dor! Dor! Dor!
"SIAL" umpat Sasuke yang merasa kesal karena caranya tetap tak berhasil. Tak lama kemudian dari arah barat muncul sosok pria yang dengan tangkas menghantam Sasuke. Naruto kaget, namun baginya tak ada waktu untuk bermain, kini ia serius, dengan berbekal pedang yang ia rampas dari musuh, ia mengayunkan pedang tersebut ke arah musuh yang menghadangnya.
"Kau orang Jepang, pedangmu berbeda dengan pedang kami!" ujar sang musuh yang terus menghindar dari sentuhan mata pedang yang diayunkan Naruto.
"Mau darimana pun asalnya, pedang tetaplah pedang, akan bermakna bila fungsinya dijalankan." desis Naruto yang kini tengah mengambil napas untuk melancarkan serangan selanjutnya. "Dobe! berikan pedang itu padaku, kau gunakan ini," teriak Sasuke seraya melemparkan dua buah pisto kepada Naruto. Naruto yang mengerti maksud temannya itu pun melemparkan pedang yang ia pegang dan dengan sigap mengambil kedua buah pistol tersebut.
Keahlian Naruto adalah dalam ketepatan sasaran dari tembakannya, sangan tepat bila Naruto menggunakan pistol yang notabene senjata jarak jauh. "Kau ingin menyelamatkan temanmu, bukan? aku membawa kunci ruangan ini, bwahahaha.." tawa sang musuh menggema sampai ke seisi ruangan. Naruto tak menyia-nyiakan waktu, ia melesatkan peluru ke arah musuh.
Namun sayang, hanya menyerempet saja, Sasuke pun menyerang dengan pedang, namun sang musuh menangkisnya menggunakan satu tangan. Sasuke menyerang sang musuh secara bertubi-tubi, musuh pun tak kalah lincahnya menghindari serangan Sasuke. Sampai pada satu titik dimana sang musuh lengah, Sasuke tak tanggung-tanggung menyerang titik rawan musuh. Musuh pun tersungkur, mencoba untuk bangkit, namun Naruto meahan tubuhnya dari belakang, mencoba mengintimidasinya.
"Serahkan kunci itu, jika kau masih sayang nyawamu!" ancam Naruto, matanya mendelik tajam.
"Jika tidak?" sanggah sang musuh dengan seulas senyum menyeramkan.
"Kau akan mati!" ancam Naruto lagi dengan sengit.
Tak lama kemudian sang musuh kembali bangkit, mendorong tubuh Naruto mental hingga menabrak dinding. Pemuda itu pun menahan sakit yang ia rasakan, memegang tengkuknya yang terasa ngilu. Sasuke kembali bertarung dengan sang musuh, dengan tangkas ia memainkan pedangnya, seperti seorang Samurai yang tak kenal takut. Sang musuh pun menendang perut Sasuke hingga ia pun terpental dan pedangnya lepas dari tangan, "kalian berdua menyedihkan." ejek sang musuh seraya berlari ke arah Sasuke dan memukul telak wajahnya berkali-kali.
Tak terima temannya diperlakukan seperti itu, Naruto melesat mencoba menyerang, sambil mengokang pistolnya ia berlari ke arah musuh. Naruto menembakan pistolnya, namun meleset lagi, kembali ia melesatkan peluru-peluru itu dengan membabi-buta. Sang musuh yang sudah diselimuti amarah pun tak tanggung untuk menyerang Naruto, dengan tenaga maksimal ia melompat dan langung menghantam Naruto hanya dengan kakinya. Naruto terjatuh, mulutnya mengeluarkan darah, ia meringis menahan sakit, namun musuh tak peduli, ia menduduki perut Naruto dan memukuli wajahnya sesuka hati.
"Dobeeee!" Sasuke menjerit sejadi-jadinya.
"B-bodoh, T-teme,"
Sasuke menghunuskan pedangnya, ia telah gelap mata, kini tujuannya hanya untuk membunuh sang musuh apapun yang terjadi. Ia berjalan dengan pelan, matanya terus tertuju pada Naruto yang sampai kini masih terus dipukuli, wajahnya telah habis. Sasuke menggeretakkan giginya, ia benar-benar tak suka saat rekannya dihajar habis-habisan.
~oOo~
Normal POV
Shikamaru, Shion, Killer Bee, beserta sang jendral pemberontak telah melangkahkan kakinya di lantai teratas dalam bangunan itu. Shikamaru menerawang jauh, ia berusaha memikirkan strategi, walau otaknya tengah kalut saat ini, namun ia masih tetap tenang, tak ada gelisah yang menyertainya walau sedetik pun. "Ayo kita lakukan operasi pencarian CCTV dan segera kita selesaikan semua ini, ah, dan kau jendral, aku ingin bicara padamu secara empat mata." ujar Shikamaru dengan serius.
Sementara Shion dan Killer Bee sibuk mencari kamera tersembunyi yang tengah merekam mereka, Shikamaru di balik sudut dinding pun mengaak sang Jendral berbicara. "Apa kau yakin anak buahmu sedang menuju kesini?" tanya Shikamaru menunjukan keseriusannya, ia menekan tubuh sang jendral ke dinding. Ada jeda yang panjang sebelum sang Jendral menjawabnya, "ya, tadinya kami berniat mengepung kalian." akunya.
"Lalu, sekarang bisakah kau menetralkan seluruh pasukanmu itu?" pinta Shikamaru.
"Akan kuusahakan nanti, jika mereka belum terpengaruh oleh Hipnos dan Hisminai, kurasa kita masih mempunyai kesempatan." bahkan sang jendral pun masih ragu.
Shion dan Killer Bee datang dengan menenteng beberapa kamera pengawas, "kami mendapatkan masing-masing dua puluh buah kamera pengawas ini." ujar Killer Bee menunjukan apa yang ia bawa. "Bagus, aku yakin sudah tak ada tempat untuk menaruh CCTV lagi di lantai ini, sekarang tugas kita adalah memasuki semua ruangan yang ada di lantai ini, dan serang semua orang yang ingin menyerang kita, hanya itu perintahku." jelas Shikamaru.
Semua menganggukan kepalanya, kemudian mereka semua berpencar ke seluruh penjuru lantai ini, yang luasnya lebih dari bangunan biasa. Di mulai dari Shion yang berlari menuju satu ruangan yang hanya berisi berkas-berkas berisi tulisan Mesir yang tidak diketahuinya, Shion memeriksa selruh berkas, tak ada satu pun huruf yang ia mengerti. Tiba-tiba ada yang memegang pundaknya, tentu saja ia refleks dan langsung menampar pipinya, ternyata hanya Bee.
Bee memegangi pipi yang merah akibat tamparan Shion, "maafkan aku tuan Bee, tadi kukira kau itu musuh yang datang mendekat." ujar Shion yang merasa bersalah karena insiden tadi. Bee hanya mengangguk, kini ia memeriksa sudut-sudut ruangan, mencari hal-hal yang penting walau sekecil apapun. "Ruangan ini sangat berdebu, aku yakin sudah sangat lama tak didatangi orang." ujar Bee yang kini menutup hidungnya karena ia memang tidak tahan oleh debu.
Sementara Shikamaru dan sang jendral berada di depan pintu ruangan yang tertutup rapat, Shikamaru menduga-duga apa yang ada di dalam ruangan ini, namun pemuda itu rasa tidak ada satu pun karena jika memang penting tidak mungkin hanya dikunci seperti ini. "Lihat, ada beberapa buah tongkat besi, kia bisa gunakan untuk mendobrak pintu ini." tunjuk Shikamaru, ia pun segera mengambil dua buah dari tongkat besi itu.
"Ikuti aba-abaku." perintah Shikamaru.
Akhirnya dalam hitungan ketiga, mereka berdua berhasil mendobrak pintu tersebut, tidak terlalu sulit rupanya. Shikamaru tidak kaget melihat isi ruangan tersebut, banyak sekali layar yang berisi rekaman kamera pengintai yang sebagian telah mati karena telah dirusak. "Sudah kuduga, bukan." desis Shikamaru. Namun tanpa diduga oleh mereka, dari belakang sudah muncul seseorang dengan raut wajah yang mengerikan, dengan tongkat besi di sebelah kiri dan pistol di sebelah kanan.
"H-hisminai?"
~oOo~
Normal POV
Rin menatap lesu ke bawah, tangan dan kakinya terikat, mulutnya dibungkam oleh kain, ia benar-benar tak berkutik, menyedihkan. Namun kemudian, secercah harapan datang, sebuah cahaya terlihat, ternyata pintu terbuka, dan datangah dua sosok pria yang penuh luka, namun masih menyempatkan dirinya untuk tersenyum. "Rin, kau tak apa kan?" tanya Naruto yang panik bukan main, dan dijawab anggukan oleh Rin.
Naruto melepaskan kain yang membungkam mulut Rin, wanita itu pun mengambil napas dalam-dalam. "Terimakasih Naruto, dan Sasuke." Rin bersyukur dirinya selamat. Ikatan yang membelenggunya pun telah lepas, hingga ia pun berdiri dan membersihkan pakaiannya dari debu yang berserakan. "Lebih baik kita ke atas, aku merasakan ada firasat yang tak enak terhadap teman-teman kita." ajak Rin yang langung menarik lengan kedua pemuda itu dan membawanya mengikutinya.
Mereka pun keluar dari ruangan yang suram itu, nampak jelas di hadapan mereka, sesosok tubuh lelaki gagah yang kini terkapar di lantai bagai tikus yang kehabisan napas. Mungkin karena dialah mereka berdua lebam seperti ini, batin Rin, mereka terus melanjutkan larinya, tak peduli dengan keadaan sekitar. Dalam remang yang benar-benar penuh keheningan ini, mereka berharap pada waktu agar tak bermain pada mereka.
Mereka pun mencapai lorong yang sebelumnya telah dilewati Naruto, gelap memang, namun mereka tetap memaksakan diri. Namun ada satu hal yang mengalihkan perhatian Rin, sebongkah batu yang menyatu dengan lantai, aneh memang jika ada sebuah batu di bangunan sebesar ini, dan lagi, btu itu memiliki ukiran aneh di setiap sisinya. Seperti prasasti, namun lebih abstrak, sepertinya ini peninggalan Mesir kuno, pikir Rin.
"Tunggu Naruto, Sasuke." pinta Rin pada mereka berdua, yang membuat mereka berdua ikut mengamati batu tersebut. Terlintas sebuah kalimat dari Kakashi yang terlontar sudah amat lama, waktu itu pria bermasker itu sedang membicarkan tentang keabadian, sebuah rahasia keabadian, salah satunya berada di Mesir ini. Namun Rin lupa persisnya kalimat dari sobat karibnya itu, ia menggelengkan kepala dan memilih untuk menandai batu tersebut, lalu kemudian mereka meneruskan perjalanan.
Keluar dari lorong tadi, kemudian mereka menaiki anak tangga untuk ke lantai dasar, dalam keadaan genting seerti ini waktu benar-benar sangat berharga. Namun sial, sudah ada beberapa musuh dengan sebilah pedang tiap orangnya, menghadang mereka tepat di depan tangga, mau tak mau mereka harus siap, Naruto dengan wajah lebamnya maju terlebih dahulu dengan semangat juang yang belum memudar.
"Heeeeaaah!" teriak Naruto seraya menerjang beberapa musuh hingga tersungkur.
Hanya dengan bermodalkan tangan kosong, Naruto membuka jalan bagi Sasuke dan Rin untuk lewat, namun bukan berarti mereka berdua tak membantu. Sasuke dan Rin membantu Naruto menghabisi para musuh, dengan keahlian jujitsu yang ia punya, Rin pun melawan beberapa musuh dengan mudah, ia melakukan bantingan dan kuncian tanpa celah, sementara Sasuke yang mempunyai fisik yang baik, baginya mengalahkan lebih dari dua orang musuh adalah hal yang kecil.
Akhirnya tinggal seorang saja, dengan nekad Naruto membenturkan kepalanya ke musuh tersebut hingga sang musuh pingsan, mereka pun tak membuang waktu, terus melanjutkan perjalanan dengan sisa waktu yang mereka miliki. Kini mereka mulai menaiki tangga kembali, menuju ke lantai-lantai selanjutnya, yang ada di pikiran mereka saat ini adalah bagaimana keadaan rekan-rekan mereka.
Tampak sisa-sisa pertarungan Shikamaru dan yang lainnya terlihat di tempat-tempat yang mereka lewati, membuat mereka khawatir di satu sisi dan senang di sisi lainnya. mereka khawatir karena ada musuh yang menyerang rekan mereka, namun mereka senang karena mengetahui rekannya dapat mengatasi masalah dengan baik, terbukti dari kumpulan kamera pengintai yang berserakan.
~oOo~
Normal POV
"Sedang mencari apa, nona?" ujar seseorang yang datang ke sebuah ruangan.
Sontak membuat Shion dan Killer Bee terkejut, "Ah, ada pria juga, tidak seru." keluh orang misterius yang bersifat kekanakan tidak pada tempatnya. Shion mundur beberapa langkah, sementara Bee tetap bediri tegak dengan pistolnya, ia nampak tidak takut, karena begitulah seorang agen, sudah siap dengan hal yang berbahaya seperti ini.
"Apa kau Hipnos atau Hisminai?" tanya Killer Bee dengan lantang.
"Aku adalah Hipnos yang akan mengambil nyawa kalian, jadi bersiaplah!" jawabnya seraya berlari ke arah Bee dan langsung menyerangnya dengan tangan kosong, yang langsung ditangkis Bee, ia pun mengeluarkan pistolnya.
"Hei bung, kita sesama lelaki pasti punya prinsip dalam berkelahi, aku yakin itu, dan prinsipku adalah berkelahi tanpa menggunakan senjata api, karena akan terasa lebih mendebarkan, jadi hargailah prinsipku!" pinta Hipnos dengan sopan.
Killer Bee mengerti, ia membuang pistolnya, dengan tersenyum dan tanpa omongan apapun, ia berlari pula ke arah Hipnos dan langsung menyerangnya tanpa ampun. Ini seperti perkelahian jalanan, tanpa teknik, hanya peduli pada pukulan masing-masing, mereka berdua berbalas pukulan dan tendangan dengan sengit. Bee pun membanting tubuh Hipnos, lalu membenturkan kepalanya ke dinding, cukup membuat Hipnos meringis.
Beralih ke Shikamaru dan sang jendral yang kini sedang berbincang dengan Hisminai sebelum memulai perkelahian, mereka cukup serius dalam obrolan singkat itu. "Jadi kau berkhianat, Jendral?" tanya Hisminai dengan sebelah alisnya terangkat, sepertinya ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. "Aku tak pernah berkhianat, kau sendiri yang ternyata menipuku, sialan!" ujar sang Jendral yang panas.
"Aku tidak menipumu, aku hanya memanfaatkan kebaikanmu, kau saja yang begitu naif mengira aku bersekutu denganmu." jelas Hisminai, tanpa mempedulikan amarah sang jendral pasukan pemberontak. Tak ayal membuat sang Jendral mengacungkan senjatanya ke arah Hisminai, "terkutuk kau Hisminai!" teriaknya seraya maju dan berusaha menebas kepala Hisminai.
"Tunggu Jendral!" Shikamaru memperingatkan, namun percuma, kepala sang Jendral telah dikuasai oleh amarah dan kebencian, sang jendral telah gelap mata. Hisminai menempelkan pistolnya tepat di depan kening sang Jendral, membuat sang Jendral tak dapat berkutik. Lantas, Shikamaru berlari berusaha membantu, namun Hisminai menendang perutnya, membuat pemuda Nara ini meringis kesakitan.
"Hahaha, menyerahlah, nyawa kalian berdua ada di tanganku." tawa Hismina penuh kemenangan.
Shikamaru dan sang jendral berada dalam posisi yang menyedihkan, benar-benar tak dapat bergerak sedikitpun, karena bergerak berarti mati. "Aku mengira akan terjadi hal yang mendebarkan dengan kedatangan kalian, ternyata sama saja, kalian terlalu mudah untuk dihadapi, dan kalian dengan sombongnya berkata akan menghancurkan Akatsuki? beginikah ANBU itu?" ejek Hismina secara panjang lebar, bibir pucatnya menyunggingkan senyum dengan bangga.
~oOo~
Normal POV
Tanpa mereka sadari, di sisi luar bangunan telah ramai, para tentara pemberontak telah berkumpul di luar bangunan. Beberapa dari mereka telah mempersiapkan senapan, ada yang sedang berbicang, adapula yang berdiri sambil menghisap rokok. Mereka menunggu perintah dari sang jendral yang sedari tadi belum menghubungi mereka.
Dari kejauhan tampak ada seseorang yang mengintai, dengan pandangan mata setajam elang ia terus menatap dengan bersedekap tangan. Surai kuningnya berkibar tertiup angin malam, ia hanya tersenyum dingin, perlahan ia berjalan mendekat, mencoba mendekati para pasukan pemberontak itu. Namun beberapa langkah ia berjalan, sudah ada seseorang yang memanggilnya dari belakang.
"Mencoba membantu sekutumu, Astaroth?"
"Hnn, agen ANBU, kau pun sama, bukan?" Astaroth membalikan pertanyaan.
"Kau berada dalam jarak tembakku, mau bagaimanapun, kau harus menghadapiku terlebih dahulu." ujar agen ANBU itu.
DOR!
Tembakan pertama dilesatkan agen Akatsuki, dengan secepat kilat Astaroth menghindarinya, ia tersenyum, tubuhnya dipenuhi adrenalin. "Sebaiknya jangan disini, akan sangat menarik perhatian mereka, bukan?" tahan Astaroth setenang mungkin. Kini mereka berdua berlari mencari tempat lapang untuk bertarung, dengan tujuan yang sama, untuk membatu rekannya.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu? kita akan bertarung, setidaknya kau harus memperkenalkan dirimu." tegur Astaroth. Sang agen hanya memandang datar Astaroth, kini ia mempersiapkan senjatanya, melakukan beberapa pemanasan, aneh, iabisa melakukan hal tersebut dengan tenang, seolah tak ada masalah. "Panggil aku Genma, hanya itu yang dapat kuberi tahu padamu," ujar sang agen, masih tetap datar.
DOR! DOR! DOR!
Tanpa basa-basi lagi, sang agen langsung melesatkan pelurunya secara beruntun dari pistol laras ganda miliknya ke Astaroth yang masih saja bertahan, tak mencoba melawan. "Curang, ANBU selalu dipenuhi orang-orang yang mengejutkan." celotehnya sembari mengeluarkan sebuah revolver yang terselip di pinggangnya. Astaroth mencari waktu yang tepat untuk membalas, namun serangan secara beruntun itu sangat sulit dihindari, bahkan untuk ukuran orang-orang sekelas Astaroth yang telah mendapatkan pelatihan tingkat tinggi.
DOR!
Balasan dari Astroth hampir saja mengenai Genma, sang agen ANBU, namun karena indra penglihatannya yang kuat, ia berhasil selamat dan kini bersembunyi di balik pohon zaitun yang tumbuh liar di tanah tersebut. Satu lagi peluru melesat melewati pohon tersebut, hampir mengeni kepala Genma kalau saja ia tak cepat menghindar. Genma sungguh tak diberi waktu untuk membalas serangan Astaroth, napasnya terbuang hanya untuk berlari menghindar dan menghindar lagi. Tubuhnya diliputi debu, Genma kian terdesak dari serangan balasan musuhnya, namun ia tak menyerah, berusaha mencari celah dari kelengahan Astaroth, ia berlari memutari Astaroth untuk membuat ia lengah.
Dari samping Genma kembali menembakan pistol laras gandanya, Astaroth pun menghindarinya walau harus dengan jungkir balik, ia menghela napas panjang. "Haaaah, hahahaha, sangat menyenangkan, bisakah kau berbuat yang lebih baik lagi?" bujuk Astaroth, ia mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, akhirnya ia pun berlari mengejar Genma dan berniat menembaknya.
"Lebih baik kau urungkan saja niatmu untuk membantu sekutumu itu, tidak ada gunanya." Genma yang walau berlari masih sempat menasehati musuhnya itu.
"Kau mencoba menasehatiku, haaah? mencoba memberiku wejangan? jangan harap." ujar Astaroth kasar.
"Bagaimana aku bisa menuruti nasehatmu itu, kalau bahkan Tuan Lucifer sudah memberiku titah?" ujarnya telak
Bersambung...
oke, bales review itu penting loh...
Lamia: makasih banget udah dibilang keren hehehe, ini udah aku lanjutin loh, baca ya..
Edge: iya, ini udah dilanjutin loh hehehe
Wsa Krisna: iya makasih ya udah review, gapapa kok telat juga hehehe
Author Note
Alhamdulillah, aku udah update lagi ditengah banyaknya cobaan di bulan puasa ini, makasih banyak buat reader dan buat reviewers, sebenernya apa sih yang aku dapet dari banyaknya review, gak adakah? menurutku review itu adalah rasa apresiasi dari para pembaca terhadap fanfic yang dibacanya, kalo menurut dia fanficnya bagus ya kasih review yang bagus, klo kurang, maka kasih review yang membangun, gitu deh sepengetahuanku sih hehehe..
Tahun ini menjadi tahun yang fresh buatku, kenapa? karena ditahun ini aku banyak mendapat ide buat fanfic2 baru, mungkin karena aku kebanyakan nontn anime, dan dorama jepang kali yah? tapi kebanyakan nonton genre romance kayaknya nih aku hehehe, tapi kayaknya inspirasi bisa muncul dari hal2 yg gak terduga kayak contohnya khayalan ebelum tidur hehehe.
oke sekian dan terimakasih, tunggu ficku berikutnya yaa! see you later
