Ten Thousand Love
.
Another KyuMin Story with Genderswitch Fanfiction
.
Remake Of The Novel "Selaksa Cinta Manda" By RK. Tirta
.
a.n: seluruh isi cerita berdasarkan novel aslinya, saya hanya mengganti cast-nya saja serta penambahan dan pengurangan untuk menyesuaikan.
.
Sorry for typo(s)
.
.
.
.
Sepanjang pagi hingga siang ini Sungmin gelisah bukan main. Rasanya semua kicauan ilmu yang para Sonsaengnim jelaskan di depan kelas tak sudi singgah sejenak juga ke otak. Ia teramat ingin pergi dari kewajiban belajar yang membosankan ini hanya untuk segera pulang menemani Kyuhyun.
Laki-laki itu saat ini tengah terbujur sakit di rumah dan hanya ditemani Hong Ahjumma. Buruh cuci perumahan yang biasanya datang seminggu sekali untuk mencuci atau menyetrika pakaian keluarga Cho Ahjussi.
Jarang sekali Kyuhyun sakit. Kalau pun iya, itu hanya flu atau sakit kepala yang lebih sering ia abaikan. Sungmin cemas. Takut kalau sakit Kyuhyun bertambah parah. Pagi tadi panasnya tinggi sekali. Kyuhyun sakit typus, tapi menolak untuk dirawat inap di rumah sakit dengan alasan sakitnya tak seberapa, ia meyakinkan ayah dan ibu angkatnya, kalau sebentar lagi ia pasti sembuh.
Dasar keras kepala! Kyuhyun selalu saja seperti itu. Cenderung menyembunyikan apa yang dideritanya dari hadapan orang lain. Menyimpan rapat-rapat sakit, kecewa hanya agar ia terlihat tegar dan bahagia.
Sungmin tahu saat ini pun demikian. Kyuhyun tak ingin keluarga angkatnya susah karenanya, repot karena mengurusi sakitnya.
Ah, Kyuhyun... kenapa harus selalu merasa seperti itu? Kami semua menyayangimu. Sungmin semakin gelisah, namun untungnya mata pelajaran di jam terakhir akan segera berakhir.
.
.
Melepas cepat seragam sekolah High School-nya. Tanpa mengingat lagi nasihat akan kerapian kamar yang biasa diwejangkan ayahnya, Sungmin berlari tergesa menyeberangi jalan depan rumah, melintasi depan rumah Jung Ahjussi, dan masuk ke pekarangan rumah Cho Ahjussi.
Saat ia membuka pintu rumah yang tak terkunci, matanya tertumbuk pada sepasang flatshoes wanita berbahan kulit mahal. Rasa-rasanya ia tak mengenali sepasang sepatu itu. Apakah ada tamu? Pikirnya.
Walau dengan tanda tanya besar di kening nya, Sungmin melangkah perlahan masuk ke bagian dalam rumah. Suara percakapan antara Kyuhyun dan seseorang di dalam kamarnya membuat Sungmin menyurut langkah mundur. Dari pintu yang terbuka ia bisa melihat situasi yang tengah terjadi di dalam kamar Kyuhyun.
Kyuhyun berbaring setengah duduk di tepi ranjang, sementara tamunya, yang jelas-jelas seorang gadis sebaya mereka. Duduk manis di kursi kayu di sisinya. Gadis itu bertutur kata lembut. Wajahnya teduh dan menyiratkan kasih yang dalam saat ia memandang laki-laki di depannya.
Sesekali Kyuhyun memaksakan senyum di bibir pucat nya dalam merespon cerita lucu gadis itu, tentang kejadian konyol di sekolah mereka hari ini. Tak segan-segan pula gadis itu menyentuh kening Kyuhyun untuk memastikan apakah suhu tubuh nya sudah mulai turun atau belum.
SAKIT.
Rasanya sakit sampai ke tulang sumsum. Sungmin ingin membuat matanya buta saja karena harus menyaksikan kemesraan mereka. Detik berikutnya ia memilih berbalik diam-diam keluar rumah. Meninggalkan Kyuhyun yang tengah di manjakan oleh sikap memuja kekasihnya.
Sejak kapan Kyuhyun punya kekasih? Bagaimana bisa Kyuhyun merahasiakan itu darinya. Sebagai perempuan yang mencintai diam-diam, ia cemburu. Dan sebagai sahabat terbaik seperti yang mereka ikrarkan selama ini, ia kecewa. Kecewa karena Kyuhyun tak lagi mau berbagi rahasia.
Satu jam berselang Sungmin hanya terpekur lamunan di serambi, memandang semak bougenville yang merambat rimbun di bagian depan rumahnya. Lalu suara tawa terkikik itu sampai ke telinganya.
Dari seberang rumah Sungmin semua kejadian itu terlihat jelas. Kemunculan Kyuhyun yang setengah menyeret langkah mengantar gadisnya sampai ke depan pintu rumah. Sesaat mereka tampak bercakap, hanya samar, dan tak sampai dengan jelas ke telinga Sungmin. Kejadian berikutnya ia harus menyaksikan bagaimana gadis itu berjinjit untuk mensejajarkan posisi tingginya dengan tubuh Kyuhyun, lalu menyapukan kecupan sekilas di pipi Kyuhyun.
Sungmin tertegun, terkejut, kecewa, sedih, cemburu, juga keinginan untuk berteriak memaki sikap agresif gadis itu menjadi satu. Sayang apa yang ia lakukan saat itu hanya bersembunyi. Bersembunyi dibalik rumpun perdu bougenville. Merunduk, menyembunyikan tubuhnya semakin dalam, apalagi saat ia sadari Kyuhyun melempar pandang ke arahnya.
.
.
.
Sepertinya peristiwa bertahun-tahun yang lalu terulang. Tadi Sungmin justru dengan bodohnya merapatkan diri di antara deret pohon ek peneduh jalan. Sementara di depan sana ia melihat Kyuhyun tengah menepikan mobil nya, kemudian menggunakan ponsel nya.
Detik berikutnya ponsel Sungmin bergetar, mendengung suara panggilan khusus penanda panggilan dari Kyuhyun. Gugup, buru-buru ia merubah setting mode panggilan pada ponsel nya menjadi diam. Benda itu masih terus bergetar di tangannya, tanpa sedikit pun niatan Sungmin untuk menerima.
Ia kalut, bingung dan yang pasti sedih. Kesedihan kali ini lebih bersumber dari pertemuannya dengan Ryeowook. Semua kata-kata Ryeowook terngiang jelas di benaknya, membuyarkan segala angannya akan harapan mendapat balas cinta Kyuhyun. Kemungkinan cinta itu ada di balik tawaran Kyuhyun untuk meminang nya.
Kyuhyun tampak menjauh. Pergi meninggalkan tempatnya bercokol sebelumnya. Sungmin menyusut peluh gentar di kening. Bermenit-menit hanya bersandar pada kasar kulit kayu di punggungnya. Lalu rasa pening itu kembali menghampiri. Buram merangsak menguasai pandangannya, gelembung asam lambung seiring tetes peluh yang mulai membanjiri membuatnya dilanda takut ia akan segera pingsan di tepi jalan sepi ini.
Mengapa hari begitu panasnya? Keluhnya.
Dalam pikirnya ia pasti akan jatuh pingsan tak lama lagi. Dua kakinya sungguh lunglai, seolah kehilangan energi. Apakah sebaiknya ia memanggil Kyuhyun agar datang menjemputnya?
Salahnya sendiri jika memilih bersembunyi, bukankah lebih baik jika tadi keluar? Sesungguhnya bersembunyi pun semua yang terjadi nanti akan tetap terjadi. Mau atau pun tidak, ia harus menghadapinya.
"Aku memang bodoh!" Makinya pada diri sendiri. Usianya tak lagi remaja, tapi sampai kapan ia bisa menendang jauh-jauh sikap tololnya ini? Tak pernah bisa.
.
.
Sudah sepatutnya ia marah, tapi mungkin tidak sekarang. Mungkin nanti, saat perempuan yang katanya telah dewasa, namun labil itu berada di hadapannya. Kyuhyun pastikan ia akan menjewer telinga juga hidung Sungmin sampai merah bahkan mungkin berdarah-darah.
Kenyataannya saat ini Kyuhyun lebih cemas akan keadaan Sungmin. Suara itu terdengar lemah juga terbata saat ia meminta Kyuhyun untuk menjemputnya, Sungmin katakan ia ada di posisi yang sama saat Kyuhyun menghentikan mobil dan menelepon.
Itu bodoh juga gila! artinya Sungmin melihatnya yang tengah kebingungan mencari-cari, dan ia malah bersembunyi.
Lihat saja nanti! apa yang akan ia lakukan untuk menghukum Sungmin karena mempermainkan dirinya.
Kekesalan hatinya menguap begitu saja, kala matanya tertumbuk pada pemandangan itu. Sungmin yang tampak pucat pasi dan menyandar ke batang pohon sebagai penopang nya.
"Ming?" Kyuhyun melangkah lebar untuk mencapai posisi Sungmin.
Gadis itu mendongak lemah, seulas senyum kelegaan terukir di wajahnya melihat kehadiran Kyuhyun. Kemudian bagai lembar daun tua yang rengkut dari pokoknya raga itu ambruk di dalam dekapan Kyuhyun.
"Ming!"
Pekik spontan keterkejutan Kyuhyun menarik perhatian beberapa pengguna jalan, khususnya sepasang suami-istri pengendara bermotor yang tengah melintas santai di jalan itu.
Sedikit jauh di depannya karena menghentikan laju kendaraan tiba-tiba, dua orang itu berseru menanyakan kondisi mereka.
"Temannya kenapa, Tuan?"
"Tidak tahu, Nyonya, tiba-tiba pingsan." Kyuhyun menekuk lutut, memposisikan Sungmin di dalam gendongannya.
Dua orang baik hati itu sekarang menepikan kendaraan roda dua mereka menawarkan bantuan.
"Mau dibantu? Ini saya ada aromatherapi." Tawar perempuan itu. Usianya sekitar awal empat puluh.
"Iya, kita bawa ke mobil saja dulu." Balas Kyuhyun.
Perempuan itu mengekor di belakang Kyuhyun. Membantu Kyuhyun membuka pintu penumpang agar Sungmin dapat dibaringkan.
Kyuhyun cemas bukan kepalang, mengingat ini kedua kali ia menjumpai kondisi kesehatan Sungmin yang sedang bermasalah. Memandang lekat-lekat rona pucat di wajah, sesaat setelah ia balurkan aromatherapi ke beberapa bagian tubuh Sungmin sesuai saran perempuan penolong itu, tapi Sungmin bahkan belum bergerak sedikit pun. Matanya masih saja tertutup rapat.
"Ming!" Tepuk Kyuhyun pelan di kedua pipi Sungmin berulang-ulang.
"Ini tas nya, Tuan. Di cek dulu siapa tahu ada yang jatuh." Pria penolong itu mengangsurkan tas kulit milik Sungmin. Saking panik nya Kyuhyun tak melintas kan sedikit pun tentang benda-benda yang mungkin Sungmin bawa atau kenakan sebelumnya.
"Terimakasih, Tuan. Saya tidak ingat sama sekali." Kyuhyun memfokuskan perhatiannya kembali pada Sungmin. "Rumah sakit mana di dekat sini, Tuan?"
Perempuan itu menggosok lagi aromatherapi di bawah hidung Sungmin seraya memberitahukan letak rumah sakit yang Kyuhyun tanyakan.
"Oh, iya benar. Sebaiknya saya segera bawa ke rumah sakit saja Tuan, Nyonya, takut ada apa-apa." Putus Kyuhyun.
"Istrinya?" tanya perempuan itu, yang langsung ditanggapi sikap protes pasangannya. "Hehehe... Maaf, hanya memastikan, tidak apa-apa kan?"
Kyuhyun mengangguk dan tersenyum. Seolah mendapat angin, karena sikap terbuka Kyuhyun, perempuan itu melontarkan kalimat lain yang seketika membuat Kyuhyun diam. "Apa mungkin Nona cantik ini lemas karena mengidam?"
"Mungkin saja, Nyonya, saya saja yang mungkin belum tahu. Belakangan istri saya sering merajuk." Kyuhyun menggaruk sudut alis nya keki.
Sandiwara nya cukup meyakinkan, selain itu, menyebut Sungmin sebagai istri adalah hal yang membahagiakan. Sebutan baru yang asing, tapi terdengar lucu. Apa lagi membayangkan reaksi Sungmin kalau ia mendengar kicauan Kyuhyun saat ini. Bisa mencak-mencak ia, terutama tuduhan kehamilan yang ia lontar kan. Tanpa sadar Kyuhyun tersenyum, walau cemas masih bertengger di hatinya.
"Pengalaman saya yang anaknya tiga, seperti ini roman nya. Lihat cekungan pipi dan kedut di nadi leher, maaf hanya omongan orang kampung, tidak tahu kalau salah." Perempuan itu memutus lamunan singkat Kyuhyun seraya terkekeh malu, kemudian menepi dari sisi Sungmin.
"Silakan perjalanannya di teruskan kembali, terimakasih sudah berhenti menolong saya, Tuan, Nyonya."
"Sama-sama, Tuan, permisi..."
Kedua baik hati itu pergi meneruskan perjalanannya. Sementara Kyuhyun mempersiapkan Sungmin, kebingungannya adalah ia takut Sungmin jatuh dari posisi berbaring nya yang tak nyaman. Apakah sebaiknya ia menghentikan taksi? Dengan begitu ia bisa menopang tubuh Sungmin di kursi penumpang. Kebetulan beberapa taksi melintas cukup sering di hadapannya.
Di tengah kebingungannya memutuskan, jari-jari Sungmin yang terselip di dalam genggaman nya bergerak. Secepat kilat Kyuhyun mengalihkan pandangnya dari jalan raya pada Sungmin.
"Ming? Kau sudah sadar?" Tanya Kyuhyun berbalas kerjap membuka kelopak mata Sungmin. Mengernyit oleh pening di pelipis.
"Ya Tuhan, akhirnya kau sadar juga!" Seru Kyuhyun lega.
Sungmin memegang kepalanya saat mencoba bangun dari posisi berbaring nya, kemudian menggeram, mengaduh oleh dera sakit kepala yang menyerang.
Buru-buru Kyuhyun membantu, memaksa tubuh jangkung nya masuk ke kabin penumpang yang sempit. Menopang tubuh Sungmin untuk duduk dengan sempurna, menyandarkan diri dengan nyaman, setelah Kyuhyun mengatur ketinggian sandaran kursi nya "Kalau masih pusing tiduran saja."
Belum apa-apa Sungmin sudah menguji kesabarannya dengan sifatnya yang sulit diatur.
"Ini jam berapa?" tanya Sungmin. Menguap lelah. "Aku pingsan ya?" tanyanya tanpa dosa. "Tas ku?"
Kyuhyun memenuhi permintaannya, meletakkan tas itu di pangkuan Sungmin.
"Tolong Handphone." Minta nya, seenak jidat.
"Mau apa pegang handphone? Lihat jam? Itu di tanganmu kan ada." Kyuhyun menjangkau air mineral di dasbor belakangnya. "Minum dulu. Bibirmu kering begitu. Kita ke rumah sakit sekarang." Kyuhyun turun dari kabin penumpang. "Mau pindah ke depan atau sudah enak di situ?"
"Mau apa ke rumah sakit? Aku baik-baik saja, seharusnya tadi waktu tidak sadar kau bawa aku ke rumah sakit. Kalau sekarang, ku sarankan kau ke bagasi, ambil dongkrak dan pukul aku sampai pingsan, baru kau bisa membawa ku ke sana, oke?" jawab Sungmin kasar. Foxy jernihnya bahkan mendelik dipaksakan saat ia mengatakan hal itu.
Bagaimana Kyuhyun bisa marah mendengar usulan Sungmin yang mengawur itu, karena Kyuhyun sangat tahu tabiat Sungmin yang takut jarum suntik. Takut dokter, takut rumah sakit.
"Ada juga manusia payah sepertimu, banyak sekali phobia-nya? apa yang harus ditakutkan?"
"Ck jangan banyak bicara! itu urusan ku, apa itu membuatmu repot? susah? Sudah jalan saja, pulang, tidak mungkin kembali ke kantor ini sudah jam tiga."
"Tidak di depan saja duduknya?" Kyuhyun membuka pintu penumpang bagian depan.
"Sekali-kali aku jadi nyonya, kau supirnya. Sudah ayo, tolong tutup pintunya, berat." Keluhnya seraya bersandar kembali.
Kyuhyun menggerutu, kalimat makian khas keluar dari bibirnya. Ditutupnya pintu sisi depan yang baru saja ia buka, lalu memutar kembali ke arah posisi Sungmin.
"Jangan mengebut, Ahjussi." Kata Sungmin di antara gumam kantuk matanya yang terpejam santai.
"Ish!" Kyuhyun mencubit hidung Sungmin keras-keras.
"Aduh!" Pekik Sungmin, "Apa?" beliaknya menentang Kyuhyun.
Kyuhyun menangkup kedua sisi kepala Sungmin, mencekal nya, kemudian menekankan bibirnya di atas bibir menggemaskan itu, mengulumnya keras-keras.
"Ummt... ish... Apa-apaan kau? Hurlp... Jauh-jauh ish..." Sungmin megap-megap mendapat serangan Kyuhyun yang tiba-tiba. "Sana!" Sungmin menolak dada bidang itu dengan kedua tangannya, tapi sepertinya Kyuhyun kesetanan.
"Rasakan! Ini hukuman untuk perempuan keras kepala yang katanya punya telinga tapi tidak ada fungsinya." Kyuhyun menghentikan ciuman nya untuk bicara dan memandang burai warna kehidupan menyapu wajah Sungmin. Warnanya benar-benar nyaris pink di kulit bening Sungmin yang sebelumnya seputih kapas. Kyuhyun terpesona. Terpesona dalam pendam alunan puji dan kekaguman.
Sungmin cemberut, menggerak-gerakkan bibirnya salah tingkah. Dag-dig-dug jantungnya bertalu mengumandangkan syair-syair cinta saat kebekuan menghentikan waktu di antara mereka. Kyuhyun untuk pertama kalinya memandang padanya seperti itu. Begitu dalam, begitu sayu, namun sarat makna yang tak terucap.
Sungmin menundukkan mata, memandang jari-jarinya yang masih bertengger di atas permukaan dada Kyuhyun. Dada itu begitu bidangnya, otot-otot keras yang menonjol di bawah kulitnya tak tersembunyikan oleh ketebalan kemeja nya yang kini kusut.
Sungmin mengingat dengan baik gerak lentur otot-otot itu ketika mereka bergerak. Sungmin pernah menyentuh kehalusan kulit itu di antara desah nikmat kebersamaan yang pernah mereka berdua reguk.
Kegilaan itu menghadirkan denyut liar yang meronta di dalam dirinya, Sungmin ingin di sentuh, dibelai dan buai puja-puji surgawi itu. Tanpa sadar Sungmin memejamkan mata, mendesah kan permintaan agar Kyuhyun kembali menciumnya.
Kyuhyun melakukannya, kali ini dengan lembut dan membuai. Menjepit kenyal bibir Sungmin di kelembutan bibirnya, menarik Sungmin lebih rapat ke tubuhnya, membelai sisi dada Sungmin dengan jari-jari panjangnya. Ibu jarinya bergerak merekah, membentang, menggapai bagian bawah lekukan kenyal di dada Sungmin.
Mereka tahu ini pinggir jalan, dan mereka tak boleh berbuat mesum layaknya dua remaja yang tengah mencuri-curi kesempatan. Sebentar lagi mereka akan berhenti. Ya, sebentar lagi. Sebentar yang panjang dan mulai mengarahkan mereka pada letup gairah tak tertahankan.
Sungmin yang pertama menarik diri. Menyeringai canggung menyeka sudut basah di bibirnya. Rasa Kyuhyun masih tertinggal.
"Pulang atau cari tempat?" kedip jahil Kyuhyun menggoda Sungmin. Jarinya terulur merapikan untaian rambut yang melekat di pangkal teggorokan Sungmin.
"Dasar mesum! Ayo pulang. Aku lelah." Ujarnya tak menggubris kata-kata Kyuhyun. Didorong nya pria itu mundur, "awas," tepis nya. Menghela dirinya turun dan berpindah posisi ke kursi penumpang di bagian depan.
"Mampir ke Dokter dulu." Beritahu Kyuhyun, sesaat setelah mobil yang dikemudikannya bergerak meninggalkan tempat tersebut. "Tidak untuk diperdebatkan!" tambah Kyuhyun, menekankan, ketika dilihatnya sikap Sungmin yang seperti bersiap membantah keputusannya.
"Aku bisa saja kabur, atau bilang pada Dokter kalau aku baik-baik saja dan tidak butuh diperiksa. NAah, kalau sudah begitu kau bisa apa?" tantang Sungmin keras kepala.
"Sekali-kali perlu juga kau diseret untuk patuh. Dan kabar baiknya aku cukup punya tenaga untuk melakukan itu."
Kedik acuh bahu Sungmin adalah jawaban yang Kyuhyun terima. Keheningan adalah pengiring perjalanan menuju tujuan. Itu saja yang ia butuhkan, selebihnya ia tak peduli, bahkan jika nanti si pembuat masalah ini berulah lagi.
.
Praktik bersama, Dr. Jang Wooyoung, Dr. Han Hyojoo, Dr. Eun Sikyeong, Dr. Nam Woohyun, dan masih beberapa nama dokter lain lagi dengan embel-embel spesialisasi mereka masing-masing, yang melakukan praktik bersama di klinik tersebut.
Tak seperti kebingungan Kyuhyun menjawab tanya para petugas pendaftaran, saat bertanya dokter mana yang ia ingin temui. Sungmin hanya melirik ulang papan jadwal praktik dokter di dinding kemudian menyebutkan salah satu nama dokter yang ia ingin temui.
Sungmin mendekat ke arahnya setelah selesai mendaftarkan diri. Sementara Kyuhyun menepi untuk menelepon kepala divisi nya agar segera menghubungi nya jika ada sesuatu yang penting. Sampai saat ini suasana kantor memang masih aman-aman saja. Kelihatannya, namun sesungguhnya mereka mungkin tengah menjadikannya sorotan dan gosip miring di belakang punggungnya.
Masa bodoh! Ia telah bekerja sistematis, tepat guna tak ubahnya robot selama dua belas tahun. Sepenuh hati mengabdi, dengan seminimal mungkin membuat kesalahan. Dan jika akhirnya posisi incaran itu tak dapat ia gapai dalam waktu dekat ini, sedikit pun Kyuhyun tak akan menyesalinya. Sekarang ia tengah memperjuangkan kehidupannya yang pastinya jauh lebih penting dari pada karier. Kepercayaan dirinya cukup, bahwa ia layak diperhitungkan, ia cakap dan juga berpengalaman. ELF Corp tak akan segegabah itu menyingkirkannya hanya karena ia terbukti memiliki hubungan dengan bawahannya. Ini urusan pribadi.
"Satu jam lagi dokter nya baru akan datang, ku bilang juga apa, nanti malam saja kan enak tidak usah menunggu lama-lama." Keluh Sungmin, merengut.
"Di mana-mana pergi ke dokter itu mengantre. Apalagi kalau malam, makin panjang antrean nya. Kau kan tidak pernah ke dokter, dasar sok tahu!"
Cibir Kyuhyun. Iseng dilayangkannya cubitan kecil ke ujung dagu Sungmin, tak tersulut emosi oleh kekesalan yang mendekam di wajah Sungmin.
"Uring-uringan terus." Ejeknya.
"Terserah," Sungmin mendengus, sebal.
"Dingin kan pikiranmu, aku tahu kau hanya tegang, kan?" hibur Kyuhyun, menggenggam dan membelai jari-jari Sungmin dengan sayang.
Sungmin terdiam. Luluh. Membenarkan kata-kata Kyuhyun. Sepertinya ia sudah bersikap keterlaluan sepanjang hari ini, bahkan beberapa minggu belakangan.
"Mian," bisik nya, menunduk bersalah.
Kyuhyun tersenyum simpul seraya berucap perlahan, "Aku malah berpikir jangan-jangan benar kau hamil."
Swiiinggg..!
Rasanya ada UFO yang kebetulan sedang melintas terlalu dekat di atas kepala Sungmin. Dengung gemuruh nya nyaris tak terdengar, namun efek nya bisa membuat Sungmin stroke.
Saat ini pun ia masih diam. Seperti ayam sakit karena tersedak pakan. Mulutnya bahkan setengah ternganga. Sungmin hilang orientasi dalam mendengar kata-kata Kyuhyun. Begitu ringan, tanpa beban. Seolah itu bukan sesuatu yang menakutkan mereka.
Bagaimana jika itu benar? Karena jujur ia sedikit bingung dengan siklus bulanan nya. Rasanya bulan kemarin masih datang, tapi hanya sedikit. Bagaimana dengan bulan sebelumnya? Ada, walau hanya dua hari dan cenderung kecokelatan.
Ahh... Bodohnya Sungmin, karena kebiasaan malasnya, ia tak pernah mau bersusah payah menghitung waktu menstruasi nya. Seperti orang kurang kerjaan pikirnya. Tapi sekarang ia jadi kelihatan dungu mendengar lontaran kalimat asal Kyuhyun.
.
Satu jam dua puluh menit kemudian.
"Bagaimana hasilnya?" Kyuhyun yang tengah asyik memainkan smartphone-nya segera berdiri menyambut Sungmin keluar dari ruang periksa. Antusias nya berbuah senyum geli beberapa wajah yang juga berada di ruang tunggu yang sama dengannya. Kyuhyun mengangguk kikuk sebagai bentuk permintaan maaf nya karena membuat sedikit kegaduhan.
Perempuan yang diperhatikan malah pergi begitu saja melewatinya, wajahnya muram dengan mendung tebal yang menggantung nyaris menjatuhkan hujan.
"Kenapa?" bisik Kyuhyun lirih, mensejajari langkah Sungmin, membuka pintu kaca yang lumayan berat untuk Sungmin.
Di luar ruangan sikapnya tak menjadi semakin baik. Dari berjalan cepat, Sungmin malah berlari kecil menuju arah pinggir jalan, bukan ke arah parkiran, tempat Kyuhyun memarkir mobil nya.
Kyuhyun mengejar sedikit, mendapatkan bahu Sungmin untuk ia putar menghadap ke arahnya. "Berhenti bersikap kekanakan Ming, ada apa?" guncang Kyuhyun mencengkeram bahunya. Salahnya tadi ia menyetujui permintaan Sungmin untuk menunggu di luar saja. Kalau tidak, kan tak perlu ada kejadian tanya-tanya dan tak tahu apa-apa seperti ini.
"Kau hamil?" tebak nya.
Aneh kata-kata perempuan yang menolong Sungmin saat pingsan tadi, terus melekat di benaknya. Menjadi semacam sugesti yang ia percayai. Sebenarnya yang perempuan itu ucapkan hanya serupa mitos, kepercayaan masyarakat daerah yang mungkin sudah teramat sering mendekati kebenaran.
Sungmin mengangguk bingung, lebih tepatnya frustrasi. Ragu-ragu dipandangnya Kyuhyun, mencari rona shock atau kecemasan di wajah itu. Ia harus kecewa.
Tidak! Seharusnya ia bahagia, karena Kyuhyun malah tersenyum bangga menyambut kabar yang sesaat lalu meruntuhkan dunianya.
"Kenapa kau malah senang?" Sungmin membersit air mata dengan punggung tangannya. Heran akan reaksi Kyuhyun.
"Tentu aku senang, ia adik Yoobi, anak kita. Bagiamana pun kita harus bahagia menyambut kehadirannya. Haeba." Kyuhyun merentang lengan, meminta Sungmin memeluknya sebagai ungkapan selamat.
Tak ada tempat yang lebih nyaman dari rengkuhan hangat dada Kyuhyun, Sungmin menyembunyikan tangis bahagia sekaligus cemas nya di sana.
"Tapi, Kyu..."
"Ia akan lahir di dalam pernikahan kita, berdoa saja semoga segalanya lancar." Hibur Kyuhyun mengusap-usap punggung Sungmin.
"Tapi, Ryeowook eonni? Ia tadi..." Selalu saja Kyuhyun memutus kalimatnya.
"Memintamu mundur? Itu hanya taktik nya. Kami sudah bersepakat."
Kyuhyun menuturkan pembicaraan nya dengan Ryeowook. Meminta Sungmin bersabar dan juga mendoakan kelancaran proses perceraian dirinya dan Ryeowook.
"Masih ada PR-kita untuk memberi pemahaman pada Yoobi, semoga saja ia juga menyambut gembira pernikahan kita nantinya." Kata Kyuhyun, nyaris puas, "ia pasti senang punya adik, tapi kita tunda sampai kita resmi menikah."
Sungmin hanya membisu, tak tahu apa yang tengah ia rasa saat ini. Apakah mendung yang membayangi masa depannya dengan suram. Ataukah pelangi harap akan hadirnya bayi lucu yang kini masih berupa benih di rahimnya. Keturunannya, darah daging Kyuhyun, pria yang sangat ia cintai, walau masih buram perasaan Kyuhyun kepadanya.
Sungmin cukup senang karena Kyuhyun menyambut kehamilannya dengan lapang dada. Bukan kepanikan, seperti apa yang ia takut kan sebelumnya.
.
.
.
.
.
Sepertinya Ryeowook menepati janjinya. Wanita itu bermalam di rumah ayahnya yang kini tinggal bersama kakak kandung Ryeowook. Ibu Ryeowook sudah meninggal di tahun pertama Ryeowook melahirkan Yoobi. Sepertinya wanita itu butuh dukungan keluarganya untuk menenangkan diri. Dua hari kemudian Pengacara Ryeowook benar-benar menghubungi Pengacara Kyuhyun untuk membicarakan proses perceraian kedua klien mereka.
Kyuhyun sedikit banyak merasa lega akan hal itu. Kyuhyun berencana bertemu Ryeowook untuk mengucap permintaan maaf dan kata selamat jalan sepantasnya sebelum wanita itu kembali ke Busan. Dan lagi ia perlu mengingatkan Ryeowook tentang janjinya untuk memberikan informasi tentang oknum licik pesaing nya itu.
.
.
Kegiatan Kyuhyun dua hari terakhir adalah mengantar jemput Sungmin dari rumah ke kantor. Semua itu dilakukannya dengan ikhlas karena kekhawatirannya akan keadaan Sungmin yang tengah hamil muda.
Desas-desus tentang hubungan mereka semakin berhembus kencang. Beberapa staf nyinyir mulai berani melontarkan candaan bernada menyindir pada Sungmin-sesuatu yang tertangkap tanpa sengaja oleh telinga Kyuhyun.
Kyuhyun sudah membahas kemungkinan ia meminta Sungmin mundur dari perusahaan. Menanggung semua kebutuhannya jika problem keuangan lah yang wanita itu cemaskan. Dan sampai detik ini pun, Sungmin masih juga belum menjawab permintaannya. Sungmin semakin meyakinkan Kyuhyun, bahwa ia cukup tebal telinga menghadapi sindiran-sindiran itu. Lain cerita dengan kondisi fisik Sungmin yang pastinya tak akan lagi dapat ia tutupi. Kyuhyun benar-benar berharap urusan perceraian nya dengan Ryeowook selesai lebih cepat. Dan sesegera mungkin bisa menikahi Sungmin. Beban moral dan dosa adalah dua hal terbesar yang sama-sama menjadi kegelisahan mereka saat ini.
.
.
"Hari Rabu, jadwal kelas ballet Yoobi." Kyuhyun bergumam samar, seperti bicara pada dirinya sendiri.
Sungmin yang asyik dengan smartphone-nya menoleh. "Di mana? Angel dance?"
Kyuhyun mengangkat alis mengiyakan. Matanya kembali ke arah jalan.
Sungmin merengut melihat respons lelah Kyuhyun. Namun diam-diam menikmati dengan bebas wajah pria itu di antara kebisuan mereka.
Rasanya dengan wajah sedikit berminyak sepulang kerja, rambut tak serapi saat pergi, dasi longgar, begitu pula manset kemeja nya yang tergulung asal, semua itu membuat Kyuhyun lebih terlihat manusiawi. Tampan dan jauh lebih hangat. Rasanya memang itulah Kyuhyun yang ia kenal. Seorang pria pekerja keras, seorang ayah dan yang pasti pribadi yang pantas untuk Sungmin nanti selama ini. Tanpa sadar Sungmin tersenyum dengan burai bahagia di wajahnya.
Bersama dengan itu Kyuhyun menoleh dan menangkap tatapan Sungmin yang berpijar aneh. Kyuhyun mengerut kening tanda tanya, satu tangannya yang bertelekan jendela berpindah menggantikan yang lain menahan keseimbangan roda kemudi.
"Ada apa dengan senyummu?" celetuk Kyuhyun penasaran.
Sungmin terbahak, namun tak menjawab.
"Eh... malah tertawa, ada apa?"
"Eopseo." Jawab Sungmin.
"Tidak mungkin. "
"Ya sudah kalau tidak percaya." Sungmin acuh.
"Sedang 'ingin' ya?" olok Kyuhyun, menjawil dagu Sungmin.
"Eh, tangan! Lupa janji?"
Kyuhyun terkekeh, "Mian. Tidak tahan kalau dekat-dekat denganmu." Kyuhyun menjulur-julur lidah konyol.
"Bulshit. Yang ada malah jijik. Fokus ke jalan." Sungmin jadi salah tingkah sendiri melihat tatapan intens Kyuhyun. Kali ini ganti Kyuhyun yang terbahak melihat pipi Sungmin yang mulai merah merona.
Udara panas berhembus menerpa wajah mereka saat mereka berhenti di perempatan lampu merah. Kedua sisi jendela memang sengaja dibiarkan terbuka. Seharian di dalam ruang kantor ber-AC, Sungmin selalu mengeluh merasa mual, terlebih jika harus menghirup udara ber-AC di dalam mobil. Tanpa berdebat Kyuhyun melakukan hal yang Sungmin minta untuk selalu membuka jendela, jika sedang berkendara bersama Sungmin.
Dalam hati Sungmin menyesal karena udara panas akan membuat kulit menjadi semakin kusam. Sayangnya ia juga tak mau membuat Kyuhyun susah dengan keluhan-keluhan trisemester pertamanya.
"Bagaimana kalau kita menjemput Yoobi, aku merindukannya." Pinta Sungmin.
Kyuhyun menoleh sepintas, menimbang. "Geurae, kkaja..." jawabnya akhirnya.
.
.
"Lima belas menit lagi selesai, Tuan." Beritahu Ahn Ahjumma yang tadi sempat terlihat terkantuk-kantuk menunggu Yoobi di loby tempat kursus bersama beberapa orang yang duduk di sana.
Kyuhyun meminta Ahn Ahjumma untuk pulang saja, kemudian menyelipkan ongkos tambahan untuk asisten rumahtangga nya itu dan berpesan untuk menghubungi nya jika Ryeowook terlihat kembali ke rumah.
"Nyonya sudah kembali ke Busan, Tuan. Beliau sempat pamit pada Nona Yoobi tadi."
Kyuhyun terdiam, batal rencananya untuk membicarakan urusannya dengan Ryeowook. "Ya, sudah, Ahjumma pulang saja. Yoobi aku yang urus. Ia sudah mandi, kan?" Tanya Kyuhyun memastikan.
"Sudah sebelum berangkat, tapi biasanya saya mandikan lagi sepulang latihan. Tapi kadang-kadang juga tidak mau." Kata Ahn Ahjumma. Lalu meminta izin untuk meninggalkan Kyuhyun dan teman wanitanya. Wanita cantik berkulit putih yang rasanya tak asing baginya. Walau kenyataannya ia tak mengenal siapa wanita itu.
Dalam perjalanan pulang, wanita paruh baya pengurus rumahtangga itu terus memikirkan seraut wajah itu, sampai benaknya menangkap ingatan pada begitu banyak foto wanita di dalam album lama yang belakangan ini sering kali menampakkan diri di permukaan meja Sang Majikan.
.
.
"Yang ini namanya siapa?" tanya Sungmin.
"Ini Sofia," jawab Yoobi singkat. Melirik sepintas pada boneka cantik bergaun ungu di pangkuan Sungmin.
"Kalau yang itu?" tanya Sungmin lagi.
"Putri Amber." Jawab Yoobi, masih singkat.
"Cantik-cantik ya, Yoobi suka yang mana?" pancing Sungmin tak puas.
Sejak bertemu dengannya beberapa menit yang lalu Yoobi tampak lebih pendiam dari biasanya. Sesekali mencuri pandang malu, mengamati Sungmin dengan saksama, itu pun ketika Sungmin tengah melihat ke depan atau berbicara dengan ayahnya.
Kyuhyun mengemudi sedang Sungmin menemani Yoobi di kursi belakang. Walau dengan berat hati, Kyuhyun mau saja menjadi sopir bagi kedua wanita istimewa itu.
Yoobi menunjuk boneka bergaun hijau pupus di pangkuannya.
"Oh, Putri Amber?" Sungmin mengingat-ingat, dan berharap ia tak salah sebut. Itulah kuncinya dalam mendekati Yoobi selama ini. Bahkan mungkin itu kunci keberhasilan orang dewasa dalam mendekati anak- anak. Anak-anak akan terkesan, jika perkataan mereka di dengar, diingat dan direspon sesuai harapan mereka, oleh orang dewasa.
Yoobi mengangguk malu-malu.
"Kenapa suka putri Amber?"
"Cantik." Jawab gadis kecil itu seraya tersipu. Lagi-lagi menunduk dan terlihat lebih senang mengemas lipat gaun bonekanya.
"Cantik mana, Yoobi atau putri Amber?" goda Sungmin. Menyentuh ujung hidung Yoobi, gemas.
Yoobi menunjuk boneka di pangkuannya. Gadis kecil ini benar-benar jadi irit bicara. Batin Sungmin heran. Padahal mereka masih bertemu sekitar dua bulan lalu, walaupun Yoobi sedang sakit saat itu. Sungmin terdiam, seolah berpikir serius. "Menurut Ahjumma lebih cantik Yoobi," pancing Sungmin untuk mendapatkan respons lebih banyak dari Yoobi.
Lagi-lagi Yoobi menggeleng malu, kemudian tersipu.
Diam-diam Sungmin dan Kyuhyun saling melempar tatap melalui spion di atas kepala Kyuhyun. Dari arah belakang Sungmin melihat kedik bahu ketidaktahuan Kyuhyun sebagai jawaban. Appa sang bocah pun tak mengerti akan perubahan sikap putrinya. "Menurut Ahjumma lebih cantik Yoobi karena..." Sengaja ia gantungkan kalimatnya di udara. Menunggu respons Yoobi yang memang nyata tertarik.
"Tapi Yoobi bukan putri, Yoobi orang biasa, kata Hana begitu." Balas Yoobi setengah terbawa kekesalannya pada salah satu temannya.
Sungmin menyeringai senyum senang. "Oh... kata Hana? Emm... Hana benar juga, Yoobi memang bukan putri raja seperti di cerita-cerita dongeng itu. Tapi... bukan berarti bukan putri raja lalu tidak bisa cantik dan istimewa, contohnya Princess Mulan." Sungmin semakin memiringkan posisi duduknya agar dapat berpandangan dengan Yoobi. Menyentuh rambutnya yang panjang lalu menyelipkannya ke belakang telinga dengan sayang.
"Lihat, senyum Yoobi manis, apalagi kalau sering-sering tersenyum. Memberi salam pada orang tua sambil tersenyum, nanti semakin bertambah cantik nya. Saat berterimakasih lalu tersenyum, semakiiiinnn cantik pastinya. Percayalah. Coba tanya Appa, kalau tidak percaya, benar, kan, Appa?" Sungmin meminta dukungan Kyuhyun.
Kyuhyun yang sedang mengemudi, seketika gelagapan. Tak menyangka jika tiba-tiba Sungmin menariknya untuk ambil bagian dalam interaksi kedua wanita beda usia itu. Sejak tadi ia memang memilih menjadi pendengar saja. Rasanya asyik menyimak interaksi antara mereka berdua. Benaknya berkecamuk tentang berbagai hal juga fakta yang terasa asing, namun kian menghangati hatinya. Sebuah kesadaran baru yang ia rasa semakin membuka mata juga hatinya, bahwa ia telah jatuh cinta.
Jatuh cinta pada kepribadian penuh kasih seorang Lee Sungmin. Segala hal yang menyertai di setiap inci diri wanita itu. Bahkan setiap sisi buruk yang menjadi sifat Sungmin yang selalu mewarnai harinya selama ini. Manjanya, kolokan, songong, sok tahu, naif, merajuk. Dan semuanya. Apakah memang jauh sebelum ini diam-diam ia bahkan telah jatuh cinta pada sahabatnya ini? Semua rasa kehilangan saat Sungmin menjauh di awal pernikahannya dengan Ryeowook. Ketimpangan hidupnya tanpa Sungmin, ketergantungan nya, bahkan cemburu yang belakangan kian akrab. Dulu ia sering memendam kesal karena Sungmin dekat dengan pemuda lain. Ia kira itu rasa takutnya akan kehilangan perhatian sahabatnya. Tapi, jika ia pikir-pikir lagi, apakah mungkin perasaan itu telah tumbuh sebagai cendawan kecil di sanubari nya sejak lama? Cendawan cinta yang sekarang kuncup di hatinya.
"Appa!" Suara keras Yoobi memekakkan telinga. Menariknya paksa dari kecamuk gelisah berpikir tentang cinta.
"Eh... Eoh, waeyo?" balasnya geragap. Kembali memusatkan perhatian pada jalan juga telinga untuk dua wanita di belakangnya. Ia semakin tua dan semakin konyol. Cinta? Pantas kah ia mengemukakan rasa itu di usianya saat ini? Yang ia inginkan hanya hidup tenang dan bahagia, terlepas adakah cinta atau tidak di dalamnya, itu sama sekali tak terlalu memberati.
Pendar gelisah nya tertangkap mata Sungmin. Kyuhyun berusaha menyembunyikan bentrok rasa hati yang jelas terekam melalui pertukaran pandang mereka di kaca di atasnya. Tatapan keingintahuan Sungmin membuatnya semakin gundah.
Sungmin terkikik geli, kemudian kembali memusatkan perhatiannya pada Yoobi.
"Umm... Jadi sekarang Yoobi maunya di panggil siapa? Masih Princess Ariel? Atau Putri Amber? Huhuhuhu... kalau Yoobi mengganti gelar, Ahjumma juga harus mengganti nama. Ahjumma bingung, masih Princess Mulan atau Putri Sofia." Rengek Sungmin. Selanjutnya memasang mimik sedih.
Yoobi tersenyum malu dan menggeleng. "Eh... ti... ti-tidak!" Jawab Yoobi menggeleng berulang-ulang.
"Tidak? Tidak apa? Tidak kebagian nama begitu?"
Yoobi tertawa menyaksikan wajah cemberut Sungmin. "Ahjumma saja,"
"Ahjumma saja? Sungmin Ahjumma. Kenapa, lupa ya...?" Sungmin masih menggoda Yoobi.
"Bu...ka...n." Yoobi menggelengkan kepalanya kuat-kuat berulang-ulang. Kekeh nya mulai terdengar. Gemas ia akhirnya menyuruk kepalanya di bahu Sungmin. Dan Sungmin terkikik geli mengusap kepala Yoobi dengan sayang.
"Sepertinya ia sudah mulai malu, pakai nama-nama princess-nya." Sela Kyuhyun memberi tahu Sungmin.
Sungmin tersenyum maklum. "Ada yang semakin besar dan bertambah pintar sepertinya, Appa? Ahjumma mau memberi selamat dan hadiah, tapi... tunggu tanggal muda ya... kalau sekarang, Hiks... Ahjumma masih belum gajihan," Sungmin pura-pura sedih. Kemudian ia membisik di telinga Yoobi, "hadiah nya minta Appa saja." Bisik nya cukup keras agar Kyuhyun juga mendengarnya.
"Memang dasar pelit." Kyuhyun menggumam cemoohan bernada canda pada Sungmin. "Yoobi mau hadiah apa sebenarnya? Appa masih ingat, ada yang janji mau berhemat tidak minta apa-apa lagi, lalu menabung lebih banyak karena ingin liburan ke Disney." Sindir Kyuhyun pada putrinya.
"Kapan-kapan saja ke Disney-nya. Hana juga tidak jadi pergi. Eomma Hana baru saja operasi, itu yang di buka perutnya lalu dikeluarkan adik bayinya."
Ck... Hana lagi. Suara batin Kyuhyun. Jung Hana adalah teman karib Yoobi di sekolah bermain nya. Menurut Kyuhyun, sebelas dua belas si Hana ini dengan putrinya. Dari segi kritis dan penampakan nya. Sejak setengah tahun lalu, sebagian besar obsesi Yoobi mulai banyak dipengaruhi oleh Hana. Dan sepertinya Ibu Hana baru saja melahirkan.
Tapi kenapa juga orang tua itu bocah harus bererita bagaimana proses keluarnya bayi melalui operasi caesar. Dan kenapa juga si payah itu ikut-ikutan berkerut ngeri, nyaris shock mendengar cerita Yoobi?
Dasar perempuan-perempuan berlebihan. Makinya dalam hati. Senyum bahagia mencerahkan raut wajah Kyuhyun.
"Syukur lah kalau tidak jadi pergi ke Disney-nya. Aman kantong Appa..."
"Tapi aku mau hadiah yang lain." Penggal Yoobi sebelum ayahnya menyelesaikan kalimatnya.
Sungmin ikut-ikutan geli melihat ekspresi tak bersemangat Kyuhyun setelah sesaat lalu terlihat senang menepuk-nepuk saku di bagian dada kirinya.
"Aku mau punya adik bayi seperti Hana juga."
WHAT?
Seketika Kyuhyun dan Sungmin melongo berpandangan. Benar-benar berpandangan karena Kyuhyun merasa perlu berpaling ke bagian belakang punggungnya untuk memastikan keseriusan ucapan putrinya.
Merasa mendapat perhatian, Yoobi melanjutkan ucapannya dengan bersemangat. "Eomma tidak mau punya adik lagi, Eomma bilang ia sibuk."
"Memangnya Yoobi sudah tanya pada Eomma?" Keingintahuan membawa Sungmin mengucap kalimat tanya itu.
Yoobi mengangguk sebagai balasan. "Tadi, waktu Eomma mau pergi bekerja."
Maksud Yoobi dengan pergi kerja adalah, Ryeowook kembali ke Busan. Sejak kecil itulah kata yang ia pahami akan ketiadaan ibunya di sisinya.
"Kata Eomma, aku meminta adik pada Appa saja,"
Suasana di dalam mobil sesaat hening. Kemudian Kyuhyun berdeham sok wibawa. Sampai-sampai Sungmin geli sekaligus ingin sekali menjitak kepala Kyuhyun.
"Tapi Yoobi tahu tidak bagaimana caranya Appa bisa membuatkan adik untuk Yoobi?" tanya Kyuhyun serius.
Haduuuh... apa-apaan si Evil ini. Kenapa otak mesum nya ia bawa-bawa dalam percakapan nya dengan putrinya yang masih di bawah umur? Sungmin menggerutu dalam hati, ketar-ketir pada arah pembicaraan tak sehat ayah dan anak itu.
Dengan penuh percaya diri Yoobi menjawab. "Aku tahu."
Hah! Suara hati Sungmin yang terkejut semakin khawatir.
"Kata Hana adik bayi harus ada ibunya,"
Syukurlah, bukan ungkapan yang menjurus.
"Betul sekali." Jawab sang ayah dengan lagak dua orang dewasa menyelesaikan urusan dagangannya.
"Kan, ada Sungmin Ahjumma." Tunjuk Yoobi polos. Benar-benar tanpa dosa.
.
.
.
Yoobi meminta berhenti di toko alatan tulis kantor yang kebetulan mereka lewati. Ayahnya terpaksa mencari jalan memutar untuk berbelok, mereka berhenti terlalu jauh, sedangkan jalan tersebut hanya satu arah. Dan Yoobi mewarisi sedikitnya sebagian watak keras Ryeowook. Tekadnya tak pernah surut sebelum ia mendapat apa yang ia mau. Seperti halnya dua boneka Sofia dan Amber yang terpaksa harus Ayahnya beli.
Yoobi mengamit tangan Ayahnya dan juga Sungmin dengan gembira. Sepuluh menit terakhir setelah mengatakan kegelisahan hatinya tentang—adik bayi yang juga pemicu sikap malu-malu nya kepada Sungmin langsung sirna.
Tampaknya penyebab sikap canggung itu hanya karena beban pikiran bocah nya yang terus menimbang keberanian menyampaikan permintaan itu kepada ayahnya dan juga Sungmin. Setelahnya Yoobi sudah kembali dengan keceriaan nya seperti sediakala.
"Ia mengerti sungkan dan malu juga." Ucap Kyuhyun di sela langkah kaki mereka menaiki undakan menuju toko. "Semakin besar ia mulai menampakkan sifat-sifat dominan nya." Imbuh Kyuhyun, dalam nada rendah.
"Sepertinya Yoobi mewarisi sifat pejuang Eommanya," Kyuhyun mengangguk mengiyakan.
"Juga sifat pemalu seseorang." Singgung Sungmin, tanpa menoleh. "pSungguh perpaduan yang kompleks."
"PR." Balas Kyuhyun, juga tanpa menoleh.
"PR?" Sungmin membeo, tak mengerti.
"PR buatmu, dan juga aku pastinya. Aku berharap sisi lembut cenderung sensitifmu, sedikit menular padanya, aku benar-benar berharap putriku dapat tumbuh menjadi gadis berkepribadian baik, dan juga peka terhadap sekelilingnya."
Sungmin terdiam tanpa jawaban, haru mendengar keseriusan Kyuhyun dalam menyampaikan keinginannya.
Kyuhyun menganggapnya lembut, benarkah seperti itu? Tapi mampukah ia mengemban amanah itu nantinya? menjadi ibu tiri yang adil bagi kedua anak mereka.
"Aku yakin kau mampu menjadi neraca yang adil untuk kedua anak kita," ucap Kyuhyun menebak pikirannya dengan tepat.
Sungmin terlalu takut untuk mengangguk cepat mengiyakan. Rasanya mendengar semua kalimat penuh keyakinan Kyuhyun, kepercayaan pria itu padanya, sikap optimis Kyuhyun pada keberhasilan rumahtangga mereka kelak, akan mampu mengantar nya pada pulas dan mimpi akan hadirnya pelangi cinta mereka nanti malam.
"Lee Sungmin?"
Suara sapaan itu terasa akrab. Caranya menyebut nama Sungmin, yang kadang-kadang menyertakan marganya, juga dialek kental western itu. Seketika ia kenali.
"Siwon? Hai... dengan siapa?" Sungmin sedikit terkejut pada kemunculan Siwon yang tiba-tiba. Heran, sedang apa pria itu di sini?
Tentu saja membeli keperluan kantor, bodoh! Atau buku. Siwon memang cenderung memiliki hobi mengoleksi buku, walaupun sering kali tak semua sempat dibacanya. Itu pengakuan Siwon pada Sungmin beberapa waktu lalu.
"Kyuhyun-ssi, selamat sore." Tak sempat menjawab tanya Sungmin, Siwon segera mengalih kan perhatiannya pada Kyuhyun yang tampak mendekat. Pria itu terkesan berusaha menjadi dinding bertelinga pada pertemuan tak terduga antara Siwon dan Sungmin.
"Selamat sore, Siwon-ssi. Woah belanja peralatan kantor sendiri?" canda Kyuhyun membuka percakapan bersimpul kecanggungan di antara ketiganya itu.
"Owner miskin. Yah beginilah, semua dikerjakan sendiri." Siwon terkekeh, seraya mengangkat tas belanja jinjing berlogo toko tersebut di tangannya. Ada snelhecter, rolodex bahkan paper clip di dalam tas belanja nya. "Untuk kepentingan di rumah." Tambahnya.
"Woah ini yang agak langka," tunjuk Kyuhyun pada alat pengelola berkas berbentuk besi dan dapat di putar, rolodex.
"Saya juga baru menemukannya, susah cari model ini, ini praktis." Jawab Siwon diplomatis.
"Iya, saya setuju, kebetulan dulu pernah punya, dan sudah rusak. Saya mau ambil juga kalau masih ada stoknya."
"Ada, masih ada, naik saja ke lantai dua. Saya menemukannya di sana tadi." Beri tahu Siwon ramah. Tata bahasanya kadang masih membuat orang lain mengerutkan kening, tapi sudah semakin baik belakangan ini.
"Appa, aku mau yang besar ini crayon nya, boleh?"
Ketiganya seketika mengalihkan perhatian pada gadis kecil berambut panjang yang tengah mengangkat satu set crayon seukuran tas kerja ayahnya di atas kepala.
"Boleh." Jawab Sang Appa, seraya tersenyum dan mengayun jempol.
"Buku gambarnya juga besar?" tanya Yoobi lagi.
"Ozkay." Kyuhyun mengiyakan permintaan putrinya.
Yoobi melonjak senang dan berbalik cepat ke tempat ia mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Jangan jauh-jauh." Sungmin menambahkan. Refleks saja mengucap pesan nasihat seperti itu, ia hanya tak ingin mereka kehilangan Yoobi di keramaian.
Dua pasang mata memandang penuh arti padanya dengan cara berbeda. Keduanya sama-sama tersenyum dengan makna yang bertolak belakang.
Kyuhyun tersenyum bahagia sekaligus terima kasih untuk perhatian Sungmin pada putrinya. Sedangkan Siwon menyirat senyum yang seolah bermakna kata, "Selamat untuk langkah barumu, Lee Sungmin, aku mundur dan semoga kau bahagia". Sungmin merasa keji, kecewa pada diri sendiri karena telah mengecewakan pria sebaik Siwon. Seandainya saja tak ada ukir indah nama Kyuhyun di dalam hatinya, cita cinta seorang Choi Siwon adalah satu hal yang akan sangat ia pertimbangkan.
Siwon dengan cepat mengatasi kabut di hatinya. Dengan tulus ia memuji putri Kyuhyun yang menurutnya cantik juga lincah. Kyuhyun membalas pujian itu dengan ucapan terima kasih sewajarnya. Berikutnya obrolan singkat dan saling sapa itu berakhir dengan permohonan Siwon untuk pergi terlebih dahulu karena ia telah mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Mereka bertiga tahu Siwon memendam kecewa, walau sangat tipis untuk nampak ke permukaan. Mungkin memang seperti itu cara mereka -orang-orang western- dalam menyikapi keretakan hati.
Mereka cenderung tak menggali emosi terlalu dalam. Seperti sebait kalimat sederhana, "ya... sudahlah" -dan selesai.
Untunglah Siwon tak secara terbuka mengatakan isi hatinya. Hanya berusaha menyentuh sisi rawan hati Sungmin yang sayangnya sudah beku untuk lambai cinta pria lain selain Cho Kyuhyun.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
Hai~ terimakasih untuk yg selalu menunggu dan mengikuti ff ini, yg sekaligus memotivasi saya untuk melanjutkan karya remake-an ini..sekali lagi saya tekankan ini hanya remake ya~ saya hanya mengganti cast-nya saja dan menambahkan yg saya rasa kurang serta mengurangi apa yg saya rasa terlalu berlebihan..juga mengubah 'sedikit' agar sesuai dengan couple kesayangan kita..kadang saya merasa geli kalau di review ada yg bilang ini ff saya :D
oya, saya ngga ngeuh(?) kalau ada yg keberatan saya pake Wookie sbg orang ketiga..jujur ya~ sbg seorang JOYer yg udah lama jadi reader malah saya lebih nyaman pakai para uke dibanding OC atau GB member, gatau alesannya saya juga ngga ngerti, karna feel-nya dapet? mungkin~..kalau misalkan itu mempengaruhi ketidak-seimbangan viewer sama reviewer saya ngga terlalu memusingkan itu, toh saya ngga terlalu berharap banyak, ada yg mau baca saja saya udah bersyukur...klise? terserah lah~ =D
iya, saya author baru meski udah pernah publish beberapa ff buatan saya sendiri, dan malaj ada satu ff yg saya buat peran Wookie lebih ekstrem dari ini (anak Lee Sungmin), tapi alhamdulillah reader saya(?) bisa menerimanya :D..dan yg saya tau para author senior malah kebanyakan pake GB member (khususnya seohyun) buat jadi orang ketiga, itu yg saya tau ya gatau deh bener ngga-nya~ :p
Sekali lagi terimakasih untuk kritik&sarannya, mudah2an kedepannya saya bisa mempersembahkan(?) karya yg lebih baik dan diterima dgn baik pula, baik itu remake maupun buatan saya sendiri :)
.
.
Special Thanks
.
asdfghjkyu; Qnie ; chaerashin ; pinzame ; Kim Jihae ; Adekyumin joyer ; abilhikmah ; PumpkinEvil137 ; TiffyTiffanyLee ; orange girls ; Hanna Kimi137 ; Cho MeiHwa ; SecretVin137 ; Alfiani Vinc ; Cha Eun Sun ; sandrimayy88 ; Baby niz 137 ; rahmaotter ; PaboGirl ; dewi. k. tubagus ; wullancholee ; dan 2GUEST.
