Chapter 10
Aku menunggu Ino di taman pukul sembilan malam, tentu saja mungkin semua siswa sedang istirahat mengumpulkan tenaga untuk mengikuti MOS hari terakhir besok pagi. Aku masih dapat izin Bu Shizune untuk tidak mengikuti MOS. Lalu, terdengar suara langkah kaki dari koridor di depanku dan kulihat Ino disertai senyumannya ke arahku. Kubalas senyumnya dengan tulus. Ia pun duduk di kursi sebelahku.
"Ada apa, Gaara?", tanyanya padaku. Aku bingung sendiri, kenapa di tempat sepi seperti ini ia masih memanggilku Gaara?
"Ino, kau lupa. Aku Sakura bukan Gaara. Kau tidak lupa, kan?".
Dia melihatku lalu menyengir lebar, "Sakura, aku benar-benar lupa. Kau mirip sekali dengan Gaara, sungguh", ucapnya.
"Jadi, kau kesini ingin memberitahuku soal apa, Sakura?", ucapnya sambil merubah posisi duduk menghadapku dengan kaki sebelah kirinya ditekut ke arah dalam kursi.
"Aku..", wajahku memerah, "Aku..", belum sempat aku berkata hal selain aku ino sudah menyelaku.
"Jangan-jangan kau menyukai seseorang di sekolah ini?", aku menunduk menatap jemariku yang saling bertautan di atas pahaku. Ino sungguh orang yang peka, aku belum bilang dua kata saja ia sudah tahu masalahnya seperti apa.
"Hahaha..", aku menoleh ke arahnya karena dia tertawa lumayan keras, "Siapa? Siapa orang itu? Yang rambutnya merah seperti Gaara kah?", aku menggeleng malu-malu, lalu ia melanjutkan, "Oh.. aku tahu. Lelaki berambut hitam mencuat seperti bokong ayam itu, jangan-jangan?". Hah.. yang dimaksud bokong ayam itu Sasuke bukan?, "Haah.. sepertinya benar, siapa namanya? Daisuke atau Sasuri? Aahh.. siapa namanya?", tanyanya padaku penasaran.
"Sasuke, Ino. Namanya Sasuke, bukan Daisuke maupun Sasuri", ucapku disertai wajah yang memerah, "Lagipula rambutnya tidak seperti bokong ayam kok, rambutnya mencuat saja, bukan bokong ayam", ucapku membela Sasuke.
"Halah.. kau membelanya terus. Jadi bagaimana kau bisa menyukainya?", tanyanya menuntut.
"Hmm.. biar kupikir", lalu kuceritakan dari saat di bus pertama kali aku dan Sasuke bertemu sampai kejadian barusan tadi si atap sekolah.
"Wah, Sakura, lalu bagaimana denganku?", tanyanya sok tanpa dosa.
"Ino, kau kan pacarnya Gaara, bukan pacarku", ucapku.
"Hahaha.. kau segitunya. Tapi ada yang aneh. Berarti di sini Sasuke menyukai Gaara dong, bukan Sakura", aku langsung cemberut saat ia bilang itu, "Kau pasti akan jujur padanya, kan, kalau kau ini perempuan?".
Aku mengangguk sebagai jawaban iya dan menambahkan, "Tapi tidak sekarang Ino. Aku harus tunggu waktu yang tepat".
"Bukannya lebih cepat lebih baik, Sakura. Aku takut dia malah menyukai Gaara bukan Sakura dan saat dia tahu dia malah marah", ucapnya. Benar juga perkataan Ino, tak terpikirkan olehku apabila Sasuke marah.
"Aku tak tahu, Ino. Tapi pasti aku bilang padanya", ucapku meyakinkannya.
"Hm.. ya sudahlah. Itu keputusaanmu dan semoga menjadi yang terbaik, Sakura".
Sesaat kita terdiam, lalu ia melihat jam tangan yang berada di pergelangan tangan kirinya, "Sakura, ini sudah jam sepuluh, kalau tidak segera masuk bisa dihukum kita", ucapnya sambil berdiri dan menyeret pergelangan tanganku .
Aku kembali ke kamarku setelah berpisah jalan dengan Ino tadi. Kulihat Sasuke dan Sasori sudah terlelap di tempat tidur mereka. Aku pun mengikuti mereka dan tertidur dengan lelap.
.
.
.
Paginya aku ak bisa tak tersenyum saat orang tuaku datang menjengukku. Ibu berulang kali memintaku agar hati-hati dan Ayah juga membawakanku bungkusan yang aku yakin adalah obatku untuk sebulan. Aku ingin bertanya sebenarnya obat apa yang selalu aku konsumsi tapi aku urungkan karena takut Ayah tak menjawab seperti dulu-dulu.
Saat kudengar seseorang memanggil ibuku dengan sebutan tante, aku kaget sekali karena yang datang adalah Ino. Sepertinya Ino dan Ibu sangat akrab karena mereka terlihat mengobrol sesuatu yang seru.
"Ibu, kenapa tidak bilang Ibu kenal Ino?", tiba-tiba Ibu menyekap mulutku dan bilang agar aku diam saja karena Gaara yang mengenalkan Ino kepada Ibu. Lalu kukibaskan tanganku di depan Ibu dan bilang, "Tenang saja, Bu. Ino sudah tahu kalau aku ini... yah begitu hehe".
"Hah, Ino, kau sudah tahu? Masa sih? Jaga dia, ya, Nak! Anaknya gegabah, entar malah ketahuan", ucap Ibuku tanpa rasa bersalah sedikit pun dan hanya kupelototi dengan kedua mataku. Ibu dan Ino hanya tertawa.
Saat orang tuaku hendak pulang, Sasuke datang mendekat ke arah kami. Kalau sudah ke sini mau tak mau Sasuke harus berkenalan dengan orang tuaku kan. Tapi yang aku duga salah..
"Hai, Nak Sasuke. Ternyata kau sekolah di sini, ya?", ucap Ibuku dengan senyum yang tak luntur-luntur dari bibirnya. Aku melongo, jadi orang tuaku sudah kenal dengan Sasuke sebelumnya.
"Ibu, Ibu juga kenal dengan Sasuke?", tanyaku pada Ibuku.
"Tentu saja, Sa..", terdapat jeda di kalimat Ibuku, "Gaara, tentu saja", keringat dingin tadinya mengalir di pelipisku saat Ibu hampir saja memanggilku Sakura. Kulihat Sasuke mengernyit heran, lalu ia mulai tak acuh dengan apa yang dikatakan Ibuku. Aku sungguh bisa bernapas lega.
Setelah Ibuku dan Ayahku pamit dan Sasuke menjabat tangan mereka, begitu juga Ino, Sasuke melihat ke arahku lalu ke Ino. Dia mendengus kecil, yang masih bisa kudengar, lalu meninggalkanku dan Ino.
"Tuh, pacarnya ngambek, samperin gih", ucap Ino padaku dan aku mohon diri padanya. Kususul Sasuke yang entah kemana. Kucari di semua tempat tidak ada, bahkan di atap pun tak ada. Hah... tak usah susah-susah mencari, toh ia akan kembali ke kamar nantinya.
Aku kembali ke kamar setelah membeli makanan dari kantin dan saat itulah aku bertemu Sasuke. Sepertinya ia sudah kembali 'normal' lagi, karena ia mengajakku bicara.
"Kau tidak marah, kan?", tanyaku padanya.
"Tidak. Kalau kau mau bilang soal gadis itu aku tak peduli", ucapnya.
"Kau marah, kan, Sasuke? Iya, kan?", ucapku menyudutkannya.
"Iya, aku marah. Aku benar-benar tidak suka jika kau dekat dengan orang lain", ucapnya terkesan sedikit emosi, sebelum aku sempat membalasnya ia berkata lagi, "Tapi aku tak benar-benar bisa marah padamu, ya aku marah tapi bukan padamu tapi gadis itu".
"Sasuke, Aku dan Ino sudah tidak ada apa-apa lagi. Aku sudah bilang padanya", ucapku pelan.
Kulihat wajah Sasuke langsung cerah, "Benarkah?". Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Lalu ia pun mengantarku sampai kamar sebelum keluar lagi mengikuti upacara penutupan MOS.
Aku memakan makanan yang aku bawa dari kantin saat terdengar ketukan pelan di pintu kamarku. Siapa yang mengetuk pintu di jam ini? Harusnya kan pada upacara? Apa guru?
Kubuka pintu kamar dan kudapati Hinata di depan pintu kamarku. Aku menyapanya tapi tak ia gubris. Aku bingung dengan anak ini. Apa maunya? Disapa tidak dijawab? Terus aku harus bagaimana?
"Hinata, ada a..", aku terkejut bukan main ketika dia menciumku dengan cepat sekali di bibir dan ia lari meninggalkan aku yang sedang mencerna apa yang sedang terjadi.
Aku masuk ke kamar dan teriak sejadi-jadinya.
"Aku tak pernah berciuman dengan seorang perempuan sebelumnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa..."
.
.
.
Hari jumat datang dengan cepatnya. Pelajaran dimulai hari Kamis dengan perkenalan-perkenalan mata pelajaran dan materi-materi awal pelajaran. Aku menikmati pelajaran yang diberikan guru-guru SMA Konoha, pantas saja sekolah ini benar-benar terkenal, cara mengajarnya yang serius tapi santai, tidak tegang atau sepaning. Benar-benar menyenangkan..
Kakak Sasuke, akan ke sini untuk menjenguk Sasuke. Aku tidak sabar melihat seperti apa kakak Sasuke. Kata Sasuke kakaknya bernama Uchiha Itachi, mirip dia tapi rambutnya panjang dan ada garis wajah di sekitar pipirnya.
Tak terasa sore sudah datang. Sasuke mengajakku ke kantin untuk menemui kakaknya. Aku hanya mengikutinya saja. Tak lupa aku mengajak Sasori dengan terlebih dahulu minta izin Sasuke.
Dan di sinilah aku berada, di kantin dengan tiga pria di dekatku. Aku duduk di sebelah Sasuke sedangkan Sasori duduk di sebelah Itachi. Itachi memperkenalkan diri, dan aku menyimpulkan bahwa Itachi adalah lelaki yang lucu dan humoris bahkan Itachi tak henti-hentinya menggoda Sasuke.
Lalu, Sasori bilang ingin kembali ke kamar karena ia akan pergi dengan adiknya. Kami bertiga dan juga Itachi kembali ke kamar kami. Seteah sampai, Sasori langsung mengganti pakaian dan mohon diri. Tetapi sebelum pergi ia berkata, "Jika Kak Itachi ingin menginap tidak apa-apa, karena aku dan adikku akan menginap di luar".
Dan benar saja Itachi akan menginap malam ini, aku sih tidak apa-apa, karena Itachi orangnya supel dan enak diajak bicara.
"Sasuke, bagaimana kalau kau tunjukkanku sekolahmu ini?", tanyanya tiba-tiba kepada Sasuke.
"Tak perlu, kau kan tidak sekolah di sini", ucapnya enteng dan hanya dibalas kekehan Itachi. Aku tersenyum melihat interaksi kakak beradik di depanku ini. Tetapi setelah memaksa Sasuke-disertai godaan- akhirnya pun Sasuke mau. Setelah mereka berdua menghilang di balik batu, aku memutuskan untuk mandi.
.
.
.
Di Taman SMA Konoha
Terlihat dua orang sedang terlibat pembicaraan penting, dilihat dari tampang serius yang ditujukan salah satu dari mereka.
"Kak, aku ingin bicara sesuatu denganmu", ucap Sasuke kepada kakaknya.
"Bicara saja", balas kakaknya.
"Lelaki yang bernama Gaara tadi..", terdapat jeda saat Sasuke mengatakannya, "Aku menyukainya".
Itachi menoleh ke arah Sasuke, tak ada ekspresi yang terpancar dari wajahnya. Hening melanda di antara keduanya sampai Itachi berucap, "Sasuke, apapun pilihanmu aku tak kan mengubahnya, semoga itu keputusan yang terbaik".
Terlihat Sasuke berdiri. Itachi mengernyit heran dan bertanya, "Mau kemana?".
"Mau ke kantin, beli soda. Kau ikut tidak?", tanya Sasuke.
Itachi menggeleng dan berkata, "Aku akan kembali ke kamar. Kutunggu kau di sana", Sasuke mengangguk dan meninggakan Itachi. Setelah Sasuke pergi Itachi kembali ke kamar 123.
.
.
.
Di kamar Asrama 123
Air segar menerpa badanku yang lengket karena keringat ini. Aaah... benar-benar segar. Tak ada kegiatan yang lebih mengasyikkan dibanding mandi. Kugunakan sabun dan shampoo secukupnya. Aku membilas badanku ketika aku mendengar seseorang membisikkan sesuatu tapi aku dapat mendengarnya dengan jelas..
"Kau perempuan..", aku menoleh dan kulihat Itachi menatapku dengan kedua matanya membelalak kaget. Aku baru sadar bahwa aku tak memakai sehelai benang pun. Segera kusambar handuk yang ada di dekatku. Aku kaget, benar-benar kaget. Itachi melihatku mandi dan ia tahu kalau aku adalah perempuan.
"I-i-ta-chi-chi", ucapku tergagap..
Tuhan, inikah akhir kisahku di sekolah ini...?
TBC
Akhirnya..
Buat:
saitou-senichi : gapapa kok dipanggil wiwid, kalo di sekolah aku malah dipanggil war atau was, kadang aja wa' hmm.. aneh2 temenku tu.. makasih hlo.. oke nanti ada bagiannya saso saku kok
sofi asat : ya iya sih, tapi gapapa aku suka yang kayak gitu #plaak.. penasaran ya? tetep dibaca ya.. jangan lupa review.. oke update kilaaat
Haru CherryRaven : hahaha... aku juga suka #tos.. oke bakal dilanjut..
leota pinkyce : hahaha.. makasih.. doain bisa update kilat terus yaaah..
febri feven : ketahuannya bentar lagi kok.. baca terus yaaa.. bener, gaaranya jadi kayak gitu heheh
Eysha 'CherryBlossom : makasih hlo.. bakal ketahuan kok bentar lagi, baca terus yaa..
deshitiachan : hehehe.. gapapa ya jadi yaoi, aku suka o.. heheh.. oke bakal dilanjut
Chitanda Chi-chan : tenang aja, sasuke tu suka ama sakura yang jadi gaara, entar pas ketemu gaara yang asli sasukenya biasa aja.. tenang tenang.. bakal dilanjut okee..
: tenang aja, sasuke ga sepenuhnya gay kok.. entar pas ketemu gaara yang asli dia biasa aja.. mungkin karena aura yang dikeluarkan sakura itu cewek jadi sasuke suka ama sakura.. hehehe.. bakal dilanjut kok
Lukireichan : iya udah aku tambah ni wordnya, cuman dikit sih, tapi mendinglah.. ikuti aja terus ya, jangan lupa review :D
Guest : geretetan jadinya geregetan, mungkinkah aku jatuh cinta? #apaan? Hehehe.. bentar lagi kok, tenang aja.. baca terus yaa :D
