SUNFLOWER

Naruto by Masashi Kishimoto

Chapter 10 : Lebih dari sahabat

Titik-titik Kristal bening itu masih setia membasahi bumi. Dengan tiada henti dan lelah hujan masih saja mengguyur malam. Ditemani oleh hembusan angin kencang, dan sesekali terdengar suara petir yang menyambar.

Dalam cahaya temaram yang ada di dalam kamar Kakashi, yang sesekali diterangi oleh cahaya kilat yang menembus jendela. Jemari mungil itu dengan sangat perlahan mencoba untuk menurunkan masker yang setia menutupi sebagian wajah seorang pria yang kini tertidur nyenyak di dalam pangkuannya.

Gerakannya sangat pelan, pelan sekali. Gadis manis itu merasakan jantungnya berpacu lebih cepat, juga desir darah yang mengalir di tubuhnya serasa berpacu lebih cepat dari biasanya. Jujur ia sangat ingin melihat seraut wajah yang belum pernah dilihatnya itu. Satu bulan lebih ia tinggal bersama pria itu tapi belum sekalipun ia dapat melihat wajahnya.

'Aaa…pelan…pelan…..sedikit lagi…yaa…pelan-pelan saja….harus hati-hati'

Jemari mungil nan lentik itu dengan sangat perlahan sekali menurunkan masker yang ada di wajah copy ninja. Menurunkannya dengan pelan, mili demi mili. Agar tak membuat pria perak tersebut terbangun dari tidurnya. Batang hidung sang legenda sharingan mulai tampak, memperlihatkan betapa mancung dan runcingnya hidung Hatake muda itu.

'Bagussss….sedikit lagi…pelannnn…pelannn…..he..he..he…akhirnya aku akan tahu bagaimana rupamu Kakashi no baka….'

CCCTTTAAAAARRRRRRRRR….. BBBBBLLLAARRRRRRR…..

"Hhhhyyyaaaaaaaaaaaa…"

"A…Aylee…ada apa?"

Kakashi segera terbangun dari tidurnya, terbangun dengan sangat mendadak sekali begitu ia mendengar suara teriakan dari tunangannya. Aylee mendekap dada dengan kedua tangannya, ia sungguh terkejut pada suara petir yang begitu keras dan menyambar dengan tiba-tiba disaat ia sedang berkonsentrasi penuh memanfaatkan keadaan untuk membuka masker copy ninja.

'Sial…..petir itu membuat kaget….ahhh….gagal total semua usahaku…siallllll…'

Gadis manis itu merutuk dalam hati. Yang tadi itu merupakan kesempatan emas baginya. Sebuah kesempatan yang mungkin tak akan pernah didapatnya lagi. Kakashi membenahi posisi duduknya, ia merasakan masker yang tengah dikenakannya turun beberapa sentimeter dari tempatnya semula. Otaknya yang memang super jenius dapat menebak dan memperkirakan apa yang sesungguhnya telah terjadi.

Aylee, tunangannya telah mencoba memanfaatkan keadaan untuk berusaha membuka maskernya. Berusaha untuk melihat wajahnya. Tapi kelihatannya semua usahanya itu gagal. Gagal karena petir yang menyambar dengan begitu keras dan tiba-tiba membuatnya terkejut dan reflex memekik kaget.

Jounin elit itu membetulkan letak maskernya, ekor mata onix-nya masih mengamati seorang gadis yang kini mencoba untuk mengatur kembali nafasnya. Mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri dari rasa terkejut yang teramat sangat.

"Kau tak apa-apa kan Aylee?...ada apa ehh…..?"

Iris kelabu itu menatap sungguh-sungguh pada tubuh mungil di hadapannya. Gadis itu hanya menggeleng perlahan. Tangan kekar Kakashi terulur untuk meraih sebuah bantal putih dengan ukuran yang cukup besar, yang berada di samping kanan tubuh Aylee. Ia membenarkan posisi bantal itu, menepuk-nepuk sebentar sebelum menggunakannya untuk menyangga kepalanya.

Kakashi berbaring dengan santainya, sementara Aylee masih duduk di sampingnya. Putra tunggal Shiroi kiba itu tersenyum geli dari balik maskernya. Ia tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, ia tahu apa yang baru saja Aylee lakukan. Tapi entah mengapa, pria yang telah meniru lebih dari seribu jurus lawannya itu memilih untuk berpura-pura tak tahu.

"Kemarilah….berbaringlah di sini."

"A…apa…kau bilang…?"

Aylee entah mengapa tak begitu meyakini apa yang baru saja didengarnya. Ia balik bertanya pada Kakashi. gadis muda itu merasa mungkin saja apa yang baru saja didengarnya itu salah. Mengingat ia baru saja mendengar nyaringnya suara petir yang menyambar, siapa tahu kerasnya suara petir itu membuat pendengarannya bermasalah untuk beberapa saat. Karena terlalu mengerikan baginya jika percaya apa yang baru didengarnya, Kakashi memintanya untuk berbaring di dekatnya.

Jounin berambut perak itu menghela nafas berat. Dia tak tahu mengapa harus selalu mengulangi kata-katanya jika berbicara dengan tunangannya sendiri. Dan seluruh orang tahu jika Kakashi paling tidak suka jika ia harus mengulangi kalimatnya berulang kali. Sekali copy ninja itu berucap, ia ingin kata-katanya didengar dengan baik dan sungguh-sungguh. Tapi nampaknya itu tak berlaku bagi gadis berlesung pipit yang telah dijodohkan dengannya itu.

"Aku bilang berbaringlah di sini Aylee."

"Tidak mau!...siapa yang mau berbaring di dekat orang dengan kadar hentai di atas rata-rata sepertimu."

Aylee menolak perintah dari Kakashi. ia masih cukup waras dalam berpikir. Berbaring di dekat Kakashi sungguh sangat berbeda dengan memangku kepalanya saat ia sedang sakit. Mata Aylee melihat ke arah sebuah lemari besar yang ada di sisi kiri tempat tidur. Lemari besar dengan sebuah rak yang penuh dengan buku-buku milik Kakashi. yang tentu saja didominasi oleh buku kegemarannya. Seri Icha-icha. Mulai dari edisi perdana sampai yang limited edition, semua Kakashi miliki.

Dan hal itu pula yang membuat bungsu dari Fubuki itu membuat batas jarak antara dirinya dengan pria perak yang kini sedang berbaring disampingnya. Tak bisa disangkal, kini ia tinggal berdua saja dengan seorang pria dewasa yang usianya hanya terpaut lima tahun darinya. Seorang pria normal yang suka membaca novel hentai. Aylee masih ingat kejadian minggu lalu saat dengan tiba-tiba Kakashi menindihnya dan membisikkan kata-kata yang membuatnya hampir mati mendadak.

Memang ia yang memulai duluan untuk menjahili copy ninja, tapi sungguh…reaksi dan balasan yang diberikan oleh tunangannya tidak pernah terpikir olehnya. Dan sejak saat itu gadis manis berambut panjang itu menyadari dengan siapa dirinya tinggal sekarang. Apalagi mengingat status hubungan mereka berdua.

"Aylee….ahhh….sudah berkali-kali aku mengatakan padamu aku tak seperti itu. Seharusnya kau lebih percaya kepadaku."

Nada kekecewaan samar terdengar dari suara barithon milik Kakashi yang dalam dan bening. Ia hanya merasa ingin lebih dekat dengan Aylee. Dengan gadis yang rela menerjang hujan berangin demi menolong dirinya. Orang yang sama yang mengatakan padanya untuk tidak menahan rasa sakitnya, yang memintanya untuk jadi diri sendiri jika bersamanya. Dan tak perlu pura-pura untuk menjadi kuat.

Entah mengapa saat itu Kakashi merasakan suatu kehangatan yang belum pernah dirasakannya selama ini. Perasaan tentram dan damai memenuhi rongga dadanya yang telah lama mengering. Semua derita, kesakitan, pedih perih dan juga kesepiannya seolah memudar, menjauh perlahan dari detik hidupnya.

BRUKKK…..

Kakashi merasakan seseorang menjatuhkan tubuh disampingnya, yang tak lain adalah Aylee. Gadis manis itu membenahi posisinya kemudian meletakkan kepalanya di atas bantal yang sama dengan Kakashi. keduanya kini tengah berbaring bersama, di atas bantal yang sama. Tak hanya itu Aylee perlahan menarik selimut tebal berwarna hijau dengan corak shuriken itu untuk menutupi tubuh mereka berdua.

Gadis manis itu tak tahu apa yang membuatnya mau berbaring di samping Kakashi, tapi begitu mendengar ada sedikit nada kesedihan dari dalam suara Kakashi barusan. Ia jadi tak tega dan tiba-tiba saja tanpa kesadaran yang penuh ia sudah menjatuhkan diri di sisi kanan Kakashi.

"Baiklah…..sekali ini saja. Tapi awas!...kau jangan macam-macam."

"Macam-macam apa yang kau maksud? Hemmm…?"

"Kau pura-pura tak tahu ya?"

"Hahahaha…sudah berkali-kali aku katakan, aku tak seperti yang kau pikirkan. Lagipula kau selalu bilang jangan macam-macam, aku rasa kau yang berpikiran yang tidak-tidak…a..aduhhh…..ittai…..Aylee sakit sekali"

Kakashi meringis kesakitan saat Aylee menyikut rusuknya dengan cukup keras saat mendengar sarkatisme yang baru saja dikatakannya. Tangan kirinya mengelus perlahan rusuk sebelah kanannya yang baru saja terkena pukulan siku gadis yang dijodohkan dengannya.

"Aylee….aku kan sedang terluka?"

"Heehhh…..aku tak peduli."

Jounin elit yang dikenal di lima Negara besar shinobi itu tersenyum dari balik maskernya. Sebuah senyum yang tak diketahui oleh seorang gadis yang kini tengah berbaring di sampingnya. Hujan yang tadi mennguyur bumi dengan kerasnya kini telah mereda. Meninggalkan jejaknya yang berupa gerimis. Hanya alunan merdu gerimis yang menghiasi malam tak berbintang.

Tak ada senandung merdu dari hewan-hewan nocturnal yang biasanya bernyanyi dengan ceria dan menyemarakkan suasana malam. Tak ada suara burung hantu ataupun suara derik jangkerik. Hanya gerimis. Tak ada yang lain.

…..

"Aku rasa kue mochi yang isi kacang lebih enak ….."

"Bunga-bunga di bukit itu akan mekar dengan sangat indahnya…."

"Kenapa terasa sangat dingin? Aahh…..tapi musim dingin di Kirigakure lebih dingin….."

Hatake muda itu hanya tersenyum mendengarkan cerita dan celoteh riang dari gadis yang sedari tadi berbaring di sampingnya. Ia hanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh tunangannya. Sesekali ia hanya menjawab dengan 'hnnn…', 'benarkah?', atau 'yahhh…begitulah'. Ia hanya mendengarkan cerita Aylee, menikmati dan memperhatikan bagaimana cara gadis itu bercerita, bagaimana cara gadis itu merangkai kata-katanya.

Dulu sebelum gadis itu datang di dalam kehidupannya. Disaat ia sedang terluka seperti sekarang ini, ia akan berbaring sendirian di rumah sakit atau di apartementnya. Merasakan luka yang dideritanya seorang diri. Tanpa ada siapapun yang akan menemaninya. Tapi kini ia tak sendiri…..ada Aylee yang kini menemaninya. Dan jujur Kakashi merasa tak ingin moment ini berlalu. Ia ingin terus bersama dengan gadis berlesung pipit itu.

"Aylee….kau…"

"…"

Kakashi tak bisa melanjutkan kata-katanya saat dilihatnya mata indah dari Aylee telah tertutup. Helaan nafasnya terlihat begitu lembut dan tenang. Gadis manis itu telah terlelap ke dalam mimpi. Pria berambut perak itu tersenyum dari balik maskernya. Disingkapnya perlahan helaian rambut Aylee yang jatuh menutupi wajahnya. Kemudian, dengan sangat perlahan jari tangannya yang panjang dan besar membelai lembut pipi Aylee, dan jari telunjuknya mengusap pelan bibir gadis yang tengah menari di dalam alam mimpi indahnya.

Dengan sangat perlahan Kakashi menyusupkan tangan kanannya di tengkuk Aylee, kemudian menariknya perlahan. Hingga gadis itu kini tengah ada di dalam pelukannya. Kini Aylee telah berbantalkan bahu Kakashi yang besar dan kekar.

Setelah itu Kakashi menaruh tangan kanan Aylee di pinggangnya. Kemudian merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Aroma lembut blueberry memenuhi rongga penciumannya yang tajam. Pria itu tak tahu mengapa ia melakukan hal ini. Benar-benar tak tahu mengapa ia diam-diam menarik Aylee dalam pelukannya. Sungguh mati demi Kami-sama ia tak tahu mengapa ia berbuat seperti ini.

"Kalau seperti ini….hangat kan Nona Hatake?"

….

Seberkas sinar keemasan mulai menerpa bumi. Sang surya yang tiada lelah memberi sinar kehidupan bagi segala mahluk hidup di bumi ini telah memperlihatkan wajahnya. Perlahan naik menuju singgasananya. Burung-burung berkicau dengan riangnya, menyambut sang surya yang baru saja terbangun dari masa tidurnya.

Titik-titik air hujan semalam masih membasahi pepohonan dan daun-daun. Genangan-genangan air terlihat di beberapa tempat di sepanjang jalan Konoha. Suasana terlihat sedikit berkabut. Membuat banyak orang enggan untuk lepas dari selimut tebalnya yang nyaman dan hangat. Karena hawa yang begitu dingin menusuk sumsum masih terasa di pagi ini walau matahari telah bersinar.

"KAKASHI….OEEE…KAKASHI BANGUNLAH…INI SUDAH SIANG…MANA SEMANGAT MASA MUDAMU…"

Suara ketukan keras, atau lebih tepatnya gedoran super keras terdengar dari pintu apartement Kakashi. seorang jounin serba hijau menggedor pintu itu dengan semangat yang berlebihan. Entah mengapa semangat masa mudanya tak pernah surut sedikitpun.

'Guy….bukankah dia sedang ada misi di negeri salju selama tiga bulan, kenapa…..?"

Kakashi merutuk dalam hati, tak menyangka bahwa jounin serba hijau itu akan secepat ini menyeleseikan misinya. Maito guy, teman sekaligus orang yang selalu mengganggunya telah kembali dari misi solonya. Bagi Kakashi sendiri sebulan lebih tanpa kehadiran jounin super berisik itu merupakan suatu anugrah tersendiri baginya. Karena hidupnya bisa tenang barang sejenak.

Pria perak itu menatap pada sesosok tubuh yang masih tertidur pulas dalam pelukannya semalam. Dengan gerakan yang sangat lembut dan perlahan ia meletakkan kepala Aylee di atas bantal, lalu menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang menghangatkan tubuh mereka berdua semalam. Tak ada satupun gerakan dari Kakashi yang membuat bungsu Fubuki itu terbangun dari tidur nyenyaknya.

Pria berambut perak itu bangun dengan tidak bersemangat. Luka yang dideritanya sudah jauh terasa lebih baik. Bahkan mungkin Kakashi bisa mengatakan kalau lukanya itu sudah sembuh. Dalam hal ini ia sangat berterima kasih pada sang Godaime hokage, karena kemampuan medisnya yang luar biasa.

"Ahh…hallo Guy…kau sudah menyeleseikan misimu ya?"

Kakashi membuka pintu dan mendapati seorang pria yang menggunakan pakaian serba hijau. Tak ada yang berubah dari penampilannya. Tidak sedikitpun. Sedang Guy menatap lekat-lekat pada rekan yang juga dianggapnya sebagai rival abadinya itu. Kakashi juga sama seperti biasa, kaus hitam ketat tanpa lengan yang menyatu dengan maskernya. Dan celana biru tua di bawah lutut. Tak ada yang berbeda dari penampilan rivalnya.

"KAKASHI…SUDAH LAMA AKU MENANTIKAN HARI INI …AYOOO KITA BERTANDING….AKU SANGAT BERSEMANGAT HARI INI…..HHUUOOOOOOO!"

"Guy…tolong pelankan suaramu…"

"BICARA APA KAU…INI YANG NAMANYA SEMANGAT MASA MUDA…HHUUOOOO…"

Pria dengan julukan copy ninja itu menghela nafas dalam-dalam. Sepertinya mulai detik ini hidupnya telah kembali seperti dulu. Bukan bermaksud jahat, buruk atau apalah itu, tapi Kakashi lebih senang jika Guy diberi misi solo keluar desa dalam jangka waktu yang lebih lama lagi. Agar jounin yang ahli taijutsu itu tak sering-sering mengganggunya.

"AYO…KITA BERTANDING APA HARI INI? AKU BARU SAJA PULANG DARI MISI DAN….."

"Kakashi…..siapa yang datang pagi-pagi begini…?"

Aylee mengucek matanya dengan punggung tangan kanannya. Sebenarnya ia masih merasa sangat mengantuk. Tapi suara teriakan dari seseorang membuatnya terbangun. Dengan pandangan mata yang masih agak sedikit kabur gadis manis itu melihat seorang pria yang kini tengah berdiri di depan pintu. Pria dengan pakaian paling aneh yang pernah dilihatnya selama ia hidup di dunia ini.

"Aylee…gomennasai, membuatmu terbangun."

"Si..sia..siapa…? dia siapa Kakashi?"

Guy tak mengalihkan pandangannya dari Aylee. Wajahnya menyiratkan keterkejutan yang teramat sangat. Ia tak tahu siapa gadis yang tiba-tiba muncul dari dalam apartement rivalnya itu. Dan lagi melihat Aylee yang hanya mengenakan celana jins hitam pendek dan tank top berwarna merah darah. Satu hal lagi, barusan Kakashi bilang 'maaf membangunkanmu'. Jounin ahli taijutsu itu benar-benar tak dapat berpikir sekarang.

"Hmm….namanya Aylee Guy, Fubuki aylee."

"Kenapa…kenapa…kenapa ia ada disini…disini…?"

"Karena dia tinggal disini. Dia tunanganku Guy!"

"AAAPPAAAAA…TIDAKKKKKK….MMUSSTTAAHHIILLL!"

Entah mengapa tiba-tiba saja Guy merasa tubuhnya dijatuhi batu yang beratnya lebih dari seratus ton. Kedua tangannya memegangi kedua pipinya sendiri. Aliran darahnya serasa berhenti mendadak. Tunangan…..Kakashi telah bertunangan selama ia menjalankan misi solo? Dan ia sama sekali tak tahu tentang hal ini? Guy benar-benar tak bisa mempercayai hal ini. Saat ini ia lebih bisa percaya jika ada seseorang yang mengatakan padanya kalau Lee itu akan tumbuh besar dan jadi lebih tampan dari Sasuke.

"Guy…hei…bisakah kau sedikit lebih tenang?"

Kakashi mengernyit heran melihat tingkah laku rekannya yang satu itu. Dan sesuai perkiraannya, butuh waktu beberapa menit sampai keadaan Guy tenang kembali. Pagi yang benar-banar merepotkan.

"Ti…tidak…mungkin, ini…ini pasti bohong…tunangan?...Kakashi rival sejatiku sudah punya tunangan…? Tiddaakkkkkkkk…..!"

'Siapa orang super aneh ini? Bukan saja penampilan dan wajahnya yang aneh tapi tingkah laku juga aneh. Alis tebal, bibir tebal, hidungnya juga, tak ada yang tipis ya?'

Mata Aylee tak bisa lepas dari sosok Guy, pria itu masih saja tak bisa tenang. Entah mengapa bagi Guy berita ini sungguh tak dapat diterimanya. Saingan terberatnya menang telak dalam hal wanita sungguh membuatnya kalah telak.

"Baiklah…..kalau kau sudah punya tunangan, aku juga tak mau kalah! Aku pasti juga akan mendapatkannya dan kita imbang. Aku akan mencarinya sekarang….jaa Kakashi!"

Pria hijau itu pergi secepat kilat. Meninggalkan Kakashi yang hanya bisa menggeleng tak percaya. Bahkan dalam hal ini ia masih menganggap itu sebuah pertaruhan dan pertandingan. Benar-banar tak bisa dipercaya.

"Pria aneh!"

"Yaahhh….begitulah Guy. Oh iya Aylee, aku akan keluar sebentar."

"Keluar? Kau kan sedang terluka baka?"

"Lukaku sudah sembuh kok, tak perlu khawatir."

"Tapi kan…."

Kakashi mendekat kepada Aylee, pandangan mata mereka bertemu. Tanpa kata pria perak itu mengacak lembut rambut gadis yang ada di hadapannya. Mengacak pelan dan penuh arti. Copy ninja dapat merasakan betapa halus helaian rambut yang kini ada di telapak tangannya. Membuatnya sedikit berdebar.

"Aku akan baik-baik saja."

"Terserah kau saja."

…..

…..

Tempat itu masih sama. Suasananya, pepohonannya, juga semua yang ada di sana masih tetap sama tak ada sedikitpun yang berubah. Bahkan rerumputan hijau yang menghiasi tempat itu juga sama. Segarnya udara yang ada di tempat itu juga sama.

Seorang pria gagah berdiri di tempat itu. Tempatnya berdiri dan menghabiskan waktu selama bertahun-tahun. Di tempat ini, ia bebas untuk mengutuki dan mencemooh dirinya sendiri. Menyesali selalu kebodohannya. Menyesap rasa sesal yang selalu menggerogoti hidupnya. Mengulang kepahitan di masa lalunya yang begitu kejam dan kelam. Tempat itu membuatnya sesak tak berdaya. Tapi entah mengapa justru ia selalu mendatangi dan menghabiskan waktu di tempat yang malah membuatnya merasa pilu, sakit, pedih dan sesak.

Hembusan lembut sang bayu menyapu rambut peraknya. Warna rambut yang diwarisinya dari sang ayah, Hatake sakumo. Warna rambut yang hanya dimiliki olehnya dan sang ayah. Rambut perak yang dimiliki oleh pria-pria yang hebat dengan otak yang jenius.

"Obito…."

Desah pelan terdengar dari bibirnya. Suaranya bergetar menyebut satu nama. Nama yang begitu berarti baginya. Satu nama yang sampai saat ini masih tersemat rapi dalam hati dan hidupnya. Nama dari orang yang sudah memberinya kesempatan untuk hidup sampai saat ini, yang memberikannya kehebatan sampai ia mendapatkan julukan sebagai copy ninja.

"Kakashi-nii…"

Sebuah suara membuyarkan lamunan Kakashi akan sahabat terbaiknya. Ia terpaku sejenak sebelum menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Senyum tipis mengembang di bibirnya saat tahu siapa yang datang.

"Yugao…kau datang kemari juga ehh? Untuk Hayate kan?"

Anbu berambut violet itu menunduk sebentar, sebelum mengangkat lagi wajahnya, dan berjalan ke arah pria bermasker di depannya. ia memberikan senyum penuh arti bagi Kakashi. dalam hatinya ia senang bisa bertemu dengan pria yang telah mencuri hatinya, mencuri cintanya.

"Tidak. Aku kesini untuk mencarimu."

"Ehh? Ada apa kau mencariku?"

Gadis itu terdiam. Haruskah ia mengatakan bahwa ia selalu mencarinya? Bahwa ia selalu merindukan dan terus berharap agar ia bisa selalu bersamanya? Itu tidaklah mungkin, tapi ia sendiri juga tak ingin menutupi perasaannya terus-terusan. Ia sudah tak dapat menahan hatinya lagi. Menahan perasaannya lagi. Menahan lebih lama lagi.

Gadis itu langsung melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kakashi. membuat copy ninja no Kakashi terkejut. Ia memeluk pria itu dengan erat dan kencang. Perasaannya tak bisa tertahankan lagi. Terkadang cinta memang terasa tak tertahankan. Serasa lebih mudah menahan dan menghalau angin topan daripada rasa cinta di hati.

"Kudengar kau terluka, aku…aku benar-benar mencemaskanmu."

Kakashi menautkan kedua alisnya, ini bukan pertama kali baginya terluka dalam misi. Dan Yugao, sebagai sesama shinobi tahu akan hal itu. Tapi entah mengapa sekarang gadis itu seolah memiliki ketakutan tersendiri yang tak bisa dijelaskan.

Aroma citrus dan mint menebar dari tubuh Kakashi, dan gadis anbu berambut panjang itu dapat mencium aroma itu dengan jelas. Ia menyukai…sangat menyukai aroma tubuh dari Kakashi. dia tak ingin kehilangan lagi cintanya. Kali ini Yugao benar-benar tak mempedulikan apapun. Ia hanya ingin Kakashi tahu bahwa ia sangat berarti untuknya.

"Ahhh…aku sudah baik-baik saja Yugao. Kau….tak perlu khawatir begitu."

"Kakashi…kau…kau tahu, kau itu lebih dari sekedar sahabat untukku. Kau sangat berarti bagiku."

"Yu….yugao….."

"Aku…aku tak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Seperti….seperti Hayate…."

Kini Kakashi mengerti kenapa tiba-tiba saja Yugao bertindak aneh padanya. ia telah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya, seseorang yang paling berarti dalam hidupnya. Mungkin saja gadis itu masih merasakan sedikit trauma akan kehilangan orang yang sangat dicintainya di setiap detik hidupnya. Dan karena hanya dirinyalah orang terdekat Yugao saat ini, maka wajar jika gadis itu sangat khawatir dan cemas.

"Aku baik-baik saja Yugao…..kau tak perlu cemas lagi."

Kakashi melihat binar dari rasa khawatir di mata Yugao. Ia balas memeluk gadis cantik tersebut. Membuat jantung dan desir darah anbu cantik itu berpacu lebih cepat. Ia tak tahu apa perasaannya akan berbalas atau tidak, yang terpenting buatnya sekarang adalah ia sudah mengatakan apa yang sedang dirasakannya. Walau itu bukan kata cinta.

Kakashi memeluk gadis itu. Dia merasa ada banyak kesamaan antara mereka berdua. Nama orang yang mereka kasihi dan berarti sama-sama terukir di atas batu yang ada di depan mereka. Sebuah batu lambang penghormatan kepada para shinobi yang berjasa bagi desa. Sama-sama merasakan kesakitan dan derita pahit dalam hidup. Tak memiliki satupun keluarga yang tersisa.

"Kau juga lebih dari sahabat untukku Yugao."

Mereka berpelukan. Hanya sebuah batu tempat nama pahlawan di ukir yang menjadi saksi bisu. Hanya sepoi wangi angin yang menemani mereka. Juga suara aliran sungai yang tiada henti mengalirkan deras airnya.

Yugao merasa bahagia ketika mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kakashi. bahwa ia lebih dari sekedar sahabat dalam kehidupan copy ninja. Memang bukan kata cinta yang terucap tapi itu sudah cukup untuknya. Bahwa dalam kehidupan Kakashi ia memiliki arti yang lebih.

Tanpa mereka berdua sadari, bahwa cinta telah mengintai mereka. Cinta yang akan membuat hidup mereka bahagia juga cinta itu pula yang akan mencabik-cabik hati mereka. Menghempaskan mereka dalam lubang kesedihan tanpa dasar.

TBC

Hhyaaaaa….apa2an nih fic gaje hancur dan jelek banget. Maaf ya reader…maaf sebanyak2nya. Nih chapter jelek en gaje banget.

Tapi aku janji chapter depan akan lebih baik dari ini. Karena ehehehehe….si miss judes aylee bakalan tepar ma kakashi wkwkwkkkkkkk

Terima kasih pada semua yang udah review terima kasih sebanyak2nya…..m(_ _)m

Dan untuk semangat review yang banyak yaaaaaaaaaa…^^v