.

.

Out of the Blue

==.==

DISCLAIMER chara NARUTO : Masashi Kishimoto

DISCLAIMER STORY : Spica Zoe

Cover Art : CharaKauffmann

Warning : Affair, OOC, NTR, Sakura Centric,

.

.Cerita mengandung unsur antagonis moral.

.Sebab itu tolong jangan benci chara di dalamnya.


Anggap saja ini edisi Chapter 09,5 atau OVA dari Out of the Blue

Warning : OOC terlalu berlebihan, sebab ini chapter isengan.

.

.


"Hari ini, aku akan meninggalkan Konoha untuk beberapa minggu ke depan."

Kalimat itu masih begitu jelas terngiang di telinga Sakura. Juga, pertengkaran yang cukup besar di antara ia dan suaminya setelahnya.

Kini, dalam hati, Sakura hanya ingin berpasrah diri. Jika kehidupan rumah tangganya masih bisa ia selamatkan, maka ia akan berusaha sekeras apapun untuk mengupayakan segalanya. Tapi, jika semuanya pun harus berakhir tanpa keinginannya, ia juga tak tahu harus berusaha sekeras apa. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Sakura tidak pernah ingin berpisah dari suaminya.

.

Out of the Blue

.

Ini pagi pertama Itachi tak berada di rumah. Berminggu-minggu? Apa Sakura sanggup berdiam diri selama berminggu-minggu hanya berdua dengan Sasuke? Meski ia masih memiliki nenek Sarutobi di sana. Sedang Gaara, pemuda itu ikut serta dengan Itachi. Sebagai orang kepercayaan suaminya, Gaara memang harus menunaikan tugasnya.

Termenung di meja makan di pagi hari. Sakura sedikit mengantisipasi kehadiran Sasuke saat itu. Takut ia harus bersikap bagaimana dengan adik iparnya tersebut. Meski Sarutobi pun masih ada di sekitarnya untuk mengerjakan tugasnya.

"Malam ini, mungkin aku tidak akan pulang, Sarutobi-san." Sakura meneguk air bening dalam gelas di hadapannya. Iya, ini akan jauh lebih baik. Selama Itachi tidak ada di rumah, dia pun harusnya tidak berada di rumah. Bukankah rumah memang bukan tempatnya untuk pulang?

Si tua Sarutobi menghentikan kegiatan beres-beresnya saat sekejap suara sang majikan mengisi pendengarannya. Jujur saja, ia tidak suka jika harus mendengar kenyataan seperti ini dari sang nyonya. Sakura sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri. Sama seperti ia telah mengganggap Gaara sebagai putra kesayangannya. Meski ia dan Gaara tak pernah terikat hubungan darah. Wanita tua itu menyayangi semua orang-orang muda di rumah ini. Sangat menyayangi.

"Apa karena ketidakhadiran tuan Itachi, nyonya?" serunya menerka dengan tepat. Dan jujur saja, Sakura memang tidak pernah bisa menyembunyikan apapun dari wanita tua ini. Berkelit pun percuma.

"Tidak hanya itu. Aku sudah ada janji bertemu dengan kakakku malam ini. Masalah pekerjaan, juga ..." Sakura mengelah napas sejenak. Mengambil waktu untuk berpikir tentang apa yang akan ia ucapkan. "... masalah keluarga." Akhirnya dengan suara pelan.

Si tua Sarutobi tak lagi ingin bersuara. Jika Sakura sudah mengatakannya seperti itu, pilihan paling tepat adalah memercayainya. Diambilnya tindakan akhir untuk segera menjauh dari sana setelah tanpa sengaja pun matanya telah menangkap bayangan Sasuke yang turun dari lantai atas. Memandangnya tanpa Sakura tahu, dan membuat si tua Sarutobi mengambil langkah mundur dan berlalu. Mungkin, membiarkan mereka memiliki waktu untuk berbicara adalah pilihan tepat.

Sasuke melangkah pelan. Tak ingin membiarkan Sakura merasakan keberadaannya. Melihat Sakura hanya diam termenung di meja makan, meski santapannya sudah tak lagi ada yang tersisa. Wanita ini, adalah wanita yang terlalu dicintainya.

"Selamat pagi." Sasuke menarik kursinya pelan, membiarkan suaranya terdengar meski ia tak sambil memandang. Sedang Sakura hanya diam.

"Aku bilang selamat pagi, Sakura-neesan." Ulang Sasuke lagi membuat Sakura memberanikan diri menatap wajah sang adik iparnya. Wajah yang didominasi dengan kedataran, tanpa ekspresi.

"Selamat pagi." Ucap Sakura tegas, sambil bangkit dari tempatnya. Mendorong kursi menjauh dengan kakinya agar ia bisa bangkit dan beranjak pergi dari sana. Namun sebelum tangannya menjauh dari jangkauan Sasuke, pria beranak satu itu pun menarik tangannya cepat. Sakura tersentak. Membuat tatapan mereka saling berbenturan. Dengan luapan perasaan aneh yang tak bisa terjelaskan logika.

"Temani aku makan, nee-san." Sasuke mengarahkan pandangannya pada kursi kosong yang baru saja Sakura tinggalkan. Seakan memberi perintah pada Sakura untuk kembali duduk di tempatnya. "Hanya makan, tidak lebih." Sambungnya sambil mengalihkan pandangnya ke arah lain, sedang tangannya masih bertaut dengan tangan si wanita merah muda.


Sakura meletakkan seluruh berkasnya di atas meja kerjanya. Lembaran-lembaran analisis yang harus diperiksanya lagi. Hari ini mungkin akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan untuknya. Sebelum memasuki ruangan, ia sudah dihadapkan pada satu kenyataan tentang kabar pertemuan antara ia dan ibunya. Tapi, dengan cepat Sakura menolaknya. Ia tahu jika ia sudah ada janji dengan sang kakak malam ini. Jadi, mungkin ia tidak akan bisa membagi waktunya untuk menyempatkan diri menemui ibunya. Membatalkan adalah pilihan terbaik. Daripada ia harus memenuhinya namun ia tak bisa memastikan kebisaannya.

"Pagi Sakura."

Tanpa ijin, Tenten sudah membiarkan tubuhnya memasuki ruangan Sakura. Duduk di depan wanita itu dan tersenyum padanya.

"Pagi, Tenko." Balas Sakura lemah.

"Tsunade-sama sedang berada di rumah sakit ini. Apa kau tidak ingin menemuinya?

Sebenarnya Tenten tahu Sakura tidak pernah bisa akur dengan ibunya. Tapi, sebagai sahabat bukankah ada baiknya jika ia berperan sebagai orang yang tepat di posisinya? Sakura mendengarkan. Namun ia tetap fokus pada tumpukan lembaran putih yang berserak di atas mejanya. Sebelum ia bertemu dengan sang kakak. Semuanya harus segera ia selesaikan.

Tenten menarik napas berat sejenak. Mungkin Sakura memang sedang dalam mood yang tidak baik pagi ini. Tapi bukan Tenten namanya jika harus menyerah begitu saja.

"Dan tadi aku melihat Hatake-san sedang berbincang dengan Sasuke di luar sana."

Dan seketika itu juga, Sakura mengangkat kepalanya. Menghentikan gerak tangannya di antara lembaran-lembaran itu, dan memandang Tenten tajam.

.

.

Sakura memandang wajah Sasuke bengis. Tanpa ucapan dan kata, pria itu sudah mendahului dirinya untuk meraih kunci mobil yang berada di atas meja ruag tamu. Dan sekarang, dengan perasaan yang tidak bersalah, ia sudah duduk di bangku kemudi, tempat seharusnya Sakura berada saat ini.

"Mobilku sedang rusak. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit, lalu nanti akan menjemputmu kembali." Ucapnya dari posisi kemudinya. Sambil menyalahkan mesin, sedang Sakura masih berdiri tegak, melipat kedua tangannya di dada dan memandang Sasuke tidak senang.

"Keluar Sasuke." Perintahnya. Sedang pria itu mengalihkan pandangannya, melakukan gerakan memeriksa keadaan kemudi mobil. Biar bagaimanapun, ia harus menyesuaikan diri mengenal beberapa item di sana, sebab tetap saja kemudi ini berbeda dengan kemudi mobilnya.

"Itachi, menyerahkan penjagaanmu seluruhnya padaku, Sakura-neesan. Seluruh tindak-tandukmu harus selalu berada di dalam pengawasanku."

.

.

"Telpon aku jika kau sudah selesai berkerja. Aku akan menjemputmu." Sasuke menatap datar wajah Sakura yang akan berlalu dari hadapannya. Menutup pintu mobil pelan, dan membiarkan pandangan mereka bertemu sesaat. Meski wajahnya terlihat datar, tapi ucapannya terasa hangat dalam pendengaran Sakura. Ia rindu Itachi saat mengatakan itu beberapa tahun lalu. membuat wajahnya ingin menuai senyuum, tapi ia urungkan.

"Tidak usah menjemputku. Aku tidak akan pulang." Sakura mengeratkan genggamannya pada tas jinjing dalam tangannya. Ya, ia tidak akan pulang.

"Tidak apa, jika kau tidak pulang. Aku hanya perlu menemanimu di rumah sakit malam ini." Sasuke melangkahkan kakinya memutari mobil dan meraih pintu kemudinya. Namun, sebelum ia berhasil masuk ke dalam, suara Sakura menghentikan gerakannya.

"Jangan bersikap seperti ini Sasuke. Aku istri kakakmu."

Mengucapkan kalimat itu saja butuh keberanian yang tidak main-main bagi Sakura. Mengapa sekarang terkesan begitu sulit, padahal sejak dulu, ia sudah ribuan kali mengtakannya.

"Ya, aku tahu," Sasuke membalas ucapan Sakura dengan sebingkai senyuman kecil yang menyedihkan. Membuat Sakura, tanpa sadar memandang jauh ke dalam mata pria itu. Dan senyuman itu membuat jiwanya terhempas jauh entah kemana.

"Aku tahu, nee-san, kau adalah istri kakakku. Tapi, bukan berarti aku tak bisa mencintaimu."

"Cukup Sasuke!" Sakura menahan amarahnya. Ini tempat umum, jangan pernah membuat kesalahan meskipun ini adalah rumah sakit milik ibumu sendiri, bukan begitu?

"Hentikan bualanmu tentang cinta di depanku." Wanita itu melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Sasuke berdiri. Mengancamnya dengan pandangan mematikan yang sekalipun tak pernah membuat Sasuke harus menundukkan wajahnya dan menyesali perbuatannya.

"Ini bukan bualan, Haruno Sakura." Sasuke mengalihkan pandangannya, mengabaikan Sakura dan memasuki kemudi seperti tak pernah terjadi apa-apa, sedang Sakura hanya menahan amarahnya sambil melihat Sasuke menyalahkan mesin mobilnya.

"Malam ini, aku akan datang menjemputmu. Kau harus pulang, karena untuk itulah kau dinikahi."

Dan setelahnya, Sasuke berlalu dari hadapan Sakura yang kesalnya bukan main.

.

.

"Ada apa Sakura?" Tenten memandang wajah Sakura yang seakan tak berjiwa. Bukankah tadi, Sasuke telah pergi? Bagaimana ia bisa bertemu Kakashi di rumah sakit ini?

"Aku dengar dari beberapa suster, Sasuke mengantarmu tadi, benar begitu Sakura? Apa kalian sudah baikkan?" lagi-lagi, Tenten mengambil ahli pendengaran Sakura. Seakan tidak begitu peduli jika Sakura benar-benar muak mendengar apapun tentang Sasuke hari ini.

Wajah Tenten bersinar cerah, menunggu jawaban Sakura yang entah kapan didapatnya. Menggoda Sakura memang bukanlah hal yang menguntungkan, tapi bagi Tenten ini adalah kegiatan menarik.

"Itachi pergi, dan menitipkanku padanya." Ucap Sakura mengabaikan cengiran menyebalkan Tenten padanya. Hal yang tak ia pikirkan dari Tenten adalah, gadis itu memberikannya selamat. Menggenggam tangannya erat dan tersenyum luar biasa bahagia. Sakura mengernyitkan alisnya.

"Bukankah itu menakjubkan Sakura? Itachi menitipkan istrinya pada adik kandungnya. Bisa jadi, secara tidak langsung, dia memerintahkan Sasuke untuk menitipkan benihnya padamu." ucapnya riang.

"Hentikan omong kosongmu, Tenten!" Sakura menepis tangan Tenten dari tangannya. Mendesah kesal untuk menunjukkan seberapa tidak sukanya ia dengan ucapan sahabatnya.

"Panggil aku Tenko, Sakura. Mendengarmu memanggil namaku begitu menjelaskan ketidaksukaanmu padaku." Tenten memandang Sakura dengan pandangan menggoda. Hanya ia yang paling tahu, Sakura yang bagaimana.

"Tapi tidak ada salahnya kan jika kau dan Sasuke bercinta saat Itachi tak ada di rumah?" Tenten bangkit dari posisi duduknya, mengantisipasi tatapan Sakura yang sudah begitu tajam memandangnya. "Sejak pacaran, kalian pun tak pernah melakukannya. Apa kau tidak penasaran dengan kehebatan Sasuke di ranjang Sakura? Kau lihat saja. Dia bisa menghasilkan putri secantik Sarada bukan?" Tenten meraih kenop pintu dan tersenyum memandang Sakura yang tak lagi memandangnya. Percuma menggoda Sakura seperti itu, tidak akan ada artinya.

"Dari pada kau melakukannya dengan pria-pria lain di luar sana, aku rasa adik ipar sendiri tidak ada salahnya."

"Tenten!"

Tenten menahan tawanya, melihat Sakura yang sudah bangkit dari kursinya. Menatapnya dengan tatapan maut sebelum ia menghilang dari balik pintu ruangan Sakura, meninggalkan si wanita merah muda yang kini terbayang setiap perkataan jorok sahabatnya.

Jorok? Sakura membatin saat emosinya telah mereda, dihempasnya tubuhnya ringan ke atas kursi kerjanya. Memikirkan satu kata yang mewakili dirinya. Menutup mata cukup lama, sambil membayangkan apa yang pernah terjadi antara dirinya dengan pria-pria yang pernah menyentuhnya selain Itachi. Kecupan, pelukan, rabaan, remasan, semua hal yang membuatnya kembali membuka matanya panik. Ya, jorok. Bukankah itulah sesungguhnya dirinya?

"Kau jalang Sakura." Bisiknya untuk dirinya sendiri.


Pertemuan dengan sang kakak tidak sempat terjadi. Sakura menutup matanya menahan sakit di kepalanya yang entah sejak kapan sudah menyerangnya. Malam ini, ia harus kembali berurusan dengan Sasuke. Di dalam mobil, hanya ada ia dan Sasuke. Menembus kesunyian malam, di antara kelap-kelip lampu kota. Hanya ada ia dan setumpuk perasaan bersalah dari tahun-tahun lalu yang mungkin tak pernah bisa ia ungkapkan pada mantan kekasihnya. Alasan kenapa ia memilih menikahi pria lain, saat kekasih sebenarnya sudah datang dengan persiapan pernikahaannya.

Mereka hanya diam, dengan sejuta kebisuan hati. Sasuke terlihat tak begitu peduli dengan keberadaan Sakura di sisinya, yang jelas-jelas merupakan wanita yang sangat dicintainya.

Nuansa hening seperti ini, membuat Sakura sakit kepala.

Diarahkannya tangannya untuk meraih panel musik. Setidaknya, musik akan membunuh kesunyian di dalam sana. Namun, sebelum ia berhasil meraihnya. Sasuke menarik tangannya. Mereka tak bertatapan, sebab Sasuke sedang fokus pada jalanan. Tapi... bibirnya mulai menyuarakan sesuatu.

"Jangan mendengarkan musik. Aku tidak suka musik."

Sakura menurut. Dialihkannya kembali pandangannya kearah jendela mobil. Meninggalkan Sasuke yang ternyata memilih untuk mencuri pandang kearahnya, menikmati wajah teduhnya, menikmati gerakan napasnya. Sasuke sangat mencintainya.

"Sakura."

"Hnn," Sakura tak menolehkan wajahnya. Sambutan manis dan lembut yang spontan keluar dari mulut Sakura membuat hati Sasuke melembut.

"Malam ini, tidurlah denganku."

.

.

Sasuke mengelah napasnya panjang. Satu tamparan keras dari Sakura membuatnya tersenyum lembut. Disentuhnya pipinya lembut, meski perih namun membuat hatinya hangat.

Sakura meninggalkannya berdiri sendiri di tengah kota, sedang sang wanita pergi dengan mobilnya. Sasuke tidak menyesal telah mengucapkan kalimat itu beberapa menit tadi. Rasanya, melihat Sakura semarah itu adalah sebuah berkah. Masa-masa saat mereka pacaran dulu seakan terulang kembali. "Itachi, jangan pulang lagi. Istrimu pasti bahagia bersamaku." Ucapnya sambil melangkahkan kaki menuju ke rumah. Tempat dimana dia harus kembali.

Satu hal yang Sasuke sadar, Sakura membuatnya tak bisa lagi menjadi dirinya yang dulu. Sasuke telah berubah. Berubah menjadi teramat mencintai Sakura.

.

.

.


AN : Hanya tulisan iseng. Maaf kalau OOC nya terlalu berlebihan. Sekali-kali saya ingin lihat mereka dengan tipe begini.

Ini chapter yang tidak terlalu penting,sebenarnya tidak terlalu efek pada plot, mau dibuat pun gak apa, dihilangkan pun gak akan mengurangi konflik cerita. Jadi anggap aja ini emang gak ada.

Bully saya karena chapter ini penuh dengan hal yang tidak penting. Itung-itung pemanasan sebab chapter depan konfliknya bakal berat. Beratla pokoknya.

Balasan review :

Frizca A :Gak semua orang kadang sepikiran denganmu Kak. Setiap orang emang punya pemikiran sendiri sih. Dan terimakasih ya sudah baca cerita ini. Ini dilanjut! Meski bukan inti ceritanya.

Aegyo Yeodongsaeng : Panjang sis! Puaaaanjaaang! Tapi aku suka bacanya . mau bales satu-satu gak sanggup bolak-balik tab. IYA! AKU JUGA SUKA SEMANGKA! buah kedua yang aku suka setelah Durian / yang ketiga Kelengkeng *jadi curhat*

Dan Aku rasa yang baca cerita ini butuh kosentrasi yang tinggi kak. Soalnya aku aja nulisnya mumet.

August Atcherryd : Saya jadi merasa bersalah mengacak-acak perasaan para reader karena cerita ini. sesungguhnya saya emang pengen buat cerita yang alurnya lembut, baik-baik dan bermoral. Tapi apa daya, saya lebih suka cerita yg bertema berat. Makasih ya kak sudah baca. Semoga saya semangat ngelanjutinnya.

CherryHyuga1 : Bener kak! Saya juga jijik jika nemu cewek begituan di dunia nyata. serius. Tapi tetep aja, kita harus paham semua hal yang terjadi dari sisi kehidupan manusia. Jangan menilai hanya karena sekali pandang. Matematika dan fisika aja, ribuan kali dipandang, ribuan kali di telaah tetap susah dimengerti. Apalagi manusia, apalagi wanita. Jadi, selagi saya masih lanjut nulisnya. berarti konflik belum selesai, berarti penjelasan belum berakhir. Nilai sebuah lagu sampai selesai liriknya terucap, jadi samakan dengan menilai cerita ini. Tapi saya ucapkan terimakasih untuk kakak yang sudah mau baca, kalau review kakak seperti itu, kakak berarti emang baca dari awal. Makasih ya kak!

Jamurlumutan462 : Makasih ya, ini ada chap gagal, mungkin enggak terlalu penting, tapi saya baru bisa publish ini dulu. Thanks.

Kirara967 : ditunggu kelanjutannya ya kak, semoga diantara abang-abang itu ada yg khilaf. semoga juga ada penjelasan yang menarik di next chapet *selain chapter ini*

SaSaSarada-chan : Jangan minta maaf. saya merasa hina. Semoga semua orang sepikiran denganmu kak. Chap kemaren emang singkat banget ya, sorry kak. next chapter bakal saya banyakin. Makasih sudah baca, apalagi ripiu :D

wowwoh geegee : amin.. semoga sakura dan kamu bahagia!

Bang Kise Ganteng : Saya gak nyangka yg ini ikutan review :D iya, kayaknya review pertamamu, tanya aja bang. tanya! Itachi CINTA binggo kok sama Sakura. Sudah dijelaskan sejak chap awal. Sasuke juga cinta sangat ke sakura. Hanya saja masalahnya di sakura dan masalalunya. tapi tungguin aja chapter chapter selanjutnya *jangan harap di chap ini ada peningkatan* saya usahakan terbaik untuk mereka. Gaara cakep ya?

Minji-blackjack : untuk itu saya peringatin kak, biar saya gak di maki dikemudian hari, lagi. sesuai keinginan para pembaca yang berharap penjelasan, pokoknya setiap chapter saya akan bikin penjelasan kenapa Sakura jalang, kenapa itachi dingin, dan kenapa Sasuke ... begitulah. sejak awal juga perlahan saya jelasin kan, dari awal penasaran ibunya sarada siapa dll. ya, semoga reader lain sama sabarnya dengan kakak menunggu penjelasan. dan tentang kurenai, mungkin bakal saya jelaskan di chap depan. saya gak ingin nyia-nyiakan waktu kalian membaca dengan rasa penasaran yang tinggi, tapi saya gak ngasih apa-apa. tungguin ya! dan terimakasih kakak!

Megu Saki : sarada di ajarin bejat sama pengalaman beb *plak. jangan spoler lah. ih.. jahat!

Terimakasih untuk yang sudah buang-buang waktu buat baca. chap ini gak terlalu penting, tapi saya iseng aja nulis. semoga chap depan kalian berada dalam kondisi yang baik saat membacanya. karena... kuota itu mahal!

makasih yang sudah fav dan follow! semoga kalian di kasih jodoh yang baiklah pokoknya.

shallam, zoe.