Chapter 10
Di sinilah aku saat ini. Sedang terduduk disebuah restoran Cina. Menunggu asisten Jumin, Kang Jaehee. Karena penasaran tentang wanita bernama Rika aku menghubungi nona Kang dan membuat janji dengannya. Semua ini terpaksa dilakukan karena aku benar benar penasaran dengan perempuan itu. aku tidak perduli jika terlalu ikut campur tentang masalah pribadi Jumin, lagian aku hanya ingin kepastian supaya menjadikan hubungan ini lebih jelas dan bisa mengambil keputusan. Sungguh lebih baik berpisah daripada harus digantung. Oke, jangan mengambil suatu kesimpulan yang belum pasti, ingat Sakura, bukankah Jumin sudah menjelaskan jika wanita itu rekan kerjannya? Jadi, berpikirlah positif, jangan gegabah! Kata hati ini selalu meyakini diriku, namun kepercayaan ini sedikit luntur saat mengetahui sikap Jumin padanya. Dan entah kenapa terbesit keyakinan jika mereka berdua mempunyai hubungan dimasa lalu. Mengingat saat Zen menyebut nama wanita itu sikap Jumin terlihat kikuk. Pikiran negatif mulai bermunculan tapi aku tidak mau berspekulasi terlalu jauh sebelum tahu kebenarannya. Katankalah dalam game Rika itu memang wanita yang dicintai Jumin akan tetapi itu kan di dalam Game? Bukankah game dan kehidupan nyata itu berbeda?
Baiklah, sebaiknya berpikir seperti itu? mungkin akan membuat lebih baik. Tarik nafas Sakura, yakinlah pada suamimu sendiri dan ingatlah apa yang diucapkan suamimu tunggu aku Sakura meski aku belum spenuhnya paham maksud perkataanya. Jangan jangan dia menyuruh untuk menunggu memutuskan hubungan? astaga jadi aneh, tidak tenang begini. Arghhhhhhhhhhh! Bingung!
Hembusan nafas keluar begitu saja saat memikirkan semua ini. Sungguh, aku ingin cepat cepat mengakhiri kisah yang tidak jelas ini, berputar seperti lingkaran, sulit untuk menemukan titik tengah. Kamisama masih betah menguji kisah cinta ini. Sudahlah semua pasti akan ada akhirnya, tinggal menunggu waktu saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.10 menit, lewat sepuluh menit dari penepatan janji. Mungkin dia sedang sibuk. Kuraih gelas yang berisi minuman teh cina, meneguk isinya untuk mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang, padahal ini masih sore kenapa mata tidak bisa berkompromi, mungkin faktor capek sangat mempengaruhi. Ku letak gelas kecil berukiran naga terbang ke tempat semula saat mengkandaskan isinya. Ya, lumayan mengobati rasa kantukku. Sesekali arah pandang kualihkan ke arah luar. Kebetulan tempat duduk yang aku pesan terletak di samping jendela. Jadi, bisa leluasa melihat orang-orang yang berlalung di depan restouran Cina ini.
"maaf, aku terlambat Sakura. " sedikit terperanjat ketika sebuah intruksi suara menyapa diriku. karena keasikan melamun tanpa sadar nona Kang sudah tiba di hadapanku. Aku sedikit terperangah melihat penampilan yang berbeda dari biasanya. Dia memakai dress sebatas lutut. Kaca mata yang biasa ia gunakan tak bertengger di hidung mungilnya. Terlihat cantik."ada yang salah dengan penampilanku? " dia menyadari.
Aku menggeleng sembari tersenyum simpul, "anda terlihat berbeda," dia terkekeh sambil menarik kursi di hadapanku kemudian menjatuhkan bokonganya di atas kursi itu. Tas tanganya ia letakkan di atas meja sebelum melihat ke arahku dan sebuah senyum aku balaskan padanya.
"ok, mau pesan apa?" tanyaku sembari meraih buku menu dan melihat beberapa jenis makanan yang tidak membuat kebingungan.
"terserah kau saja," jawabnya santai.
setelah memantapkan pilihan menu, segera kupanggil pelayan dan memesan dua buah cap cay dan jus jeruk.
"apa yang ingin kau bicarakan, Sakura? " nona Kang langsung membuka pertanyaan. Sebelum menjawabnya kutempatkan kembali buku menu di atas meja. Baru saja hendak membuka mulut, dia..."apa kau ingin menanyakan perihal tentang, Rika? "Emerladku langsung terbuka lebar, menatapnya tak percaya. Dia tersenyum miring, "sudah aku duga. "
"ya, begitulah." jawabku gugup. Ambil nafas, " mengenai Rika, siapa dia sebenarnya? " ku buka pertanyaan setelah kami terdiam beberapa menit.
Nona kang mengambil nafas gusar, mata ambernya menatap ragu padaku, "apa kau yakin akan mendengarnya? "
Aku menganggup mantap.
" baiklah, kita mulai dari mana dulu, ya... terdiam sejenak. Duduknya mulai gelisah, bola matanya bergulir seakan -akan mencari sebuah kalimat yang tepat dan aku masih menunggunya dengan sabar, kau ingat waktu mewancarai Jumin dan bertanya tentang Rika padanya? " akhirnya dia menemukan pertanyaan yang dirasa pas.
Dahiku mengeryit mencoba mengingat kejadian beberapa bulan lalu,"ya, namun dia terkesan menghindarinya."
Nona kang menghembuskan nafas, raut wajahnya terlihat berat." Rika adalah wanita yang membuat Jumin terpuruk beberapa tahun lalu. Dia... " Nona Kang menggantungkan kalimatnya saat seorang pelayan mengantarkan pesanan kami.
"sangat mencintainya kan? " lanjutku setelah pelayan itu selesai menata pesanan kami dan berlalu pergi.
Mata amber itu menatapku tanpa berkedip seolah -olah memberitahu bahwa pernyataanku barusan benar adanya. tanpa menjawab dia memasukkan makanan ke dalam mulutnya, selamat makan, ujarnya. Lagi - lagi hembusan nafas keluar begitu saja entah bagaimana lagi aku menanggapi.
Menyadari akan kenyataan yang baru saja aku terima, selera makanku jadi memudar dan hanya memandangi makanan lezat yang tersaji di depan mata. Jika Jumin masih mencintainya, Lalu apa arti dari sikapnya selama ini? Seolah olah sikapnya membuat diriku salah. Oh Tuhan, aku merasa sangat,sangat miris.
"tapi, setelah mengenalmu dia berubah," sedikit terperangah mendengar perkataan Nona Kang, entah kenapa dada ini rasanya lega namun seperkian detik selanjutnya kembali perasaan was was mulai mendera dan berpikir jika wanita ini menghiburku.
Aku tersenyum kecut, "terima kasih nona Kang,"
Nona kang mendesah panjang, pancaran sinar matanya terlihat sendu menatap diriku. " Sakura, aku mohon padamu," nona Kang mengulurkan sebelah tanganya dan meraih tanganku meremas jemari ini erat "tolong jaga Jumin, apapun yang terjadi tetap bersamanya. Hanya kau yang bisa membuatnya bahagia. " pintanya.
Menjaganya? Lalu siapa yang akan menjaga hatiku?
"Aku mencintainya."
Hah?!
Terdiam beberapa detik mencoba untuk tidak melonjak atas apa yang aku dengar barusan. Sekali lagi mencoba untuk mengambil oksigen sebanyak banyaknya supaya tidak pingsan. Astaga, astaga bagaimana bisa? Ku kerjapkan kelopak mataku beberapa kali melihat wanita di hadapanku ini, mencoba membaca pikirannya bahwa semua perkataannya adalah bohong. Namun, tak menemukannya. Oh Tuhan, aku bingung harus menyingkapinya bagaimana. Yang bisa kulakukan hanya menatapnya dengan mulut sedikit terbuka.
"aku tahu kau pasti terkejut mendengarnya, dan tak menyangka sama sekali akan perasaanku. Namun inilah kenyataanya dia tertawa renyah melihat reaksiku." aku sangat mencintainya,tapi jangan kwatir Sakura, aku tidak akan menjadi sainganmu karena Jumin hanya mengagapku sebagai sahabatnya, tidak lebih. Dia menarik nafas panjang, sekejap memejamkan kelopak matanya sebelum melanjutkan ucapannya. "Bayangan masa lalu tentang Rika begitu kuat dalam hati jumin. Bahkan aku sudah berusaha untuk menghiburnya namun, dia tetap tak mau berubah. Sampai suatu saat dia melihat fotomu yang dikirim oleh editor majalah Seoul Times, "
Keningku mengkerut, "tunggu, editorku memgirimkan fotoku padanya? " astaga aku baru tahu tahu jika si ular itu mengirimkan fotoku.
Jaehee mengangguk sembari membetulkan posisi duduknya, "yep, pada saat editormu menghubungi pihak kami untuk meminta izin mewancarainya, Jumin tak serta merta setuju begitu saja. Dia mengajukan syarat, lagi lagi keningku mengerut, ya, dia meminta semua foto jurnalis yang akan mewancarainya. Tahu sendiri dia orangnya sangat merepotkan. " keluh Nona Kang. Aku mengangguk mantap, menyetujui pernyataannya seribu persen. "dan aku terkejut saat dia bersedia di wawancara asalkan kau yang jadi jurnalisnya." Sekali lagi aku terpaku mendengar penjelasan Panjang darinya. Emeraldku sedikit bergetar menatap dirinya tak percaya, "dia memilihmu sejak awal Sakura."
Aku terdiam mendengar penjelasannya. Benarkah dia memilihku? Jika benar begitu tapi...
"sudahlah jangan ragu, yakin dan percaya pada Jumin"
Percaya? Ingin rasanya mempercayainya. Namun, saat Jumin belum sepenuhnya berkata jujur padaku, bagaimana aku bisa meyakinkan hati untuk percaya padanya.
"aku tahu Jumin berbohong mengenai Rika padamu, " dia tertawa renyah sembari melihatku jenaka "dan karena alasan itulah kau mengajakku untuk bertemu di sini. Benar kan?" kepalaku megangguk lemah. Nona Kang menghela nafas, sedikit ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Mata ambernya masih setia menatap tajam padaku, "mungkin ia punya alasan tersendiri berbohong padamu, aku yakin Jumin tak berniat untuk menyakiti dirimu, "
Hembusan nafas keluar, sejenak aku memejamkan kelopak mata meyakinkan diri bahwa apa yang diucapkan Nona Kang adalah benar adanya. Namun entah kenapa aku masih merasa berat untuk menerimanya sebelum Jumin mengatakan alasan dia berbohong padaku, dia tidak jujur.
Bukankan cinta itu berawal dari kejujuran? Jika dia sudah tidak jujur, bagaimana cinta ini akan terus berlanjut?
Entalah memikirkannya aku sangat takut. Takut akan kehilangan dirinya.
.
Sekitar pukul delapan kami mengahiri acara makan malam. Nona Kang mengajak untuk pulang bersama, namun aku menolaknya, beralasan mau mampir ke tempat Ino. Padahal...
Disinilah aku saat ini, terduduk disebuah kedai. Beberapa botol Soju menjadi teman kegaulan. Sesekali aku memeriksa ponsel berharap mendapatkan sebuah panggilan dari suamiku. Namun, dia tidak menghubungiku sama sekali. Apa, sebaiknya mencoba menghubunginya? Baiklah sebaiknya begitu. Baru saja hendak menyentuh namanya ku urungkan niat. Enak saja, kenapa juga harus diriku dulu yang melakukannya, bukankah ini salahnya? Bodoh amatlah sama si maniak kucing itu. mau mati juga aku tidak akan perduli lagian juga dia tidak memperdulikan diriku! Sedikit ku banting ponsel ke atas meja, benda tak bersalah itu menjadi pelampiasan.
Pikiran benar-benar kacau, ditambah dengan perasaan asisten Jumin. Oh Tuhan, hidupku rasanya benar benar sulit. Namun aku tak habis pikir dan masih tidak percaya jika Nona Kang mencintai Bosnya. Kenapa bisa? Ya tentu saja bisa, cinta itu datang karena terbiasa. Mungkin perasaan cinta Nona kang tumbuh karena sering bersama Jumin bahkan rasa cinta yang dimilikinya sangat besar dibandingkan dengan diriku yang hanya mengenal Jumin hanya dalam hitungan bulan. Contohnya saja dia masih percaya saja pada Jumin.Satu dibanding sepuluh. Bayangkan saja, bertahun-tahun dengan sabar dia menunggu Jumin. Bahkan dia mempunyai kesempatan saat Rika menolak cinta Jumin, namun kenyataan Jumin malah memilih menikah denganku. Astaga aku merasa jahat sekali, jika Jumin tidak bertemu dengan diriku pasti Nona Kang menyatakan perasaanya dan lambat laun Jumin akan sadar tentang cintanya Jaehee, karena Jaehee lah yang selama ini ada di sampingnya, mendukung dia dan memberinya semangat. Kemudian akhirnya mereka menikah. Seperti drama Korea What Wrong Secketary Kim. Astaga pikiran apa ini? Selalu dikaitkan dengan drama Korea. Hidup itu tak seindah drama Korea hiks, benar-benar menyesatkan.
Lagi-lagi aku melirik ke arah ponsel, bermaksud memeriksa kembali dan sayangnya dia belum menghubungi diriku.
Sedang apa mereka? Apa si maniak kucing itu tak mengingat akan statusnya? Giliran aku tidak pulang ke rumah tak henti-hentinya menghubungi diriku. ukhhhhhh!
"Dasar maniak kucing BODOH! "
Glek, glek, glek!
"nona pelan-pelan minumnya, pakai gelas. " intruksi seorang pelanggan yang terduduk di sebelahku mencoba memberi peringatan secara halus. Dan sayangnya aku tak menggubrisnya, membalasnya dengan lirikan tajam sosok bapak -bapak itu.
"Ahjuma, tambah lagi! " perintahku pada bibi pemilik kedai.
"maaf nona anda sudah mabuk, sebaiknya segera pulang. Kau sudah menghabiskan lebih dari lima botol, " ucap bibi penjaga kedai itu terlihat kwatir. wajahnya sedikit buram dan bergerak tak simetris. kepala mulai terasa berat, perut semakin terasa ditekan -tekan.
"aku tidak mabuk, kau tahu Ahjuma aku hanya kesal, Dadaku terasa sesak-" ku letakkan tanganku dia atas dada sembari melihat bibi yang terbengong dengan wajah masih bergerak, "- merasakan ini semua. Huhuhuhuhu, pria yang aku cintai lebih memilih wanita yang dicintainya. Aku selalu menderita karena cinta Ahjuma. Pertama ditinggal begitu saja oleh Sasuke kun, dan sekarang lebih menyakitkan lagi huhuhuhuhuhu aku tidak sanggup Ahjuma hiks!"
"meong, " kualihkan atensinku pada suara yang tak asing. Kucing? Ku kucek mata saat mendapati Eli sedang terduduk di sampingku sembari menikmati sebotol soju. Aneh?
"Eli?" tak ada jawaban, kucing putih itu hanya menatapku dengan pandangan kasihan. Astaga dia semakin mirip majikannya, "kenapa kau menatapku? Apa ada yang aneh?" masih tak ada jawaban. "kau mendengarkanku,kan?! Masih tak ada jawaban dia malah tersenyum miring, mengiatkanku pada majikannya lagi. Jadi semakin kesal, "kau tahu, gara-gara kamu aku menikah dengan majikanmu. Semuanya gara-gara kamu. Kenapa kau tidak kembali saja pada majikanmu yang dulu, kembali sana! Huhuhuhuhuhuhu, kau kejam Eli, kau kejam. Setidaknya biarkan aku bebas dan menikah dengan oppa Song Jong Ki huwaaaaaaaaa! Jong Ki kenapa kau menikah deng Hyo Kyo? Jika kau tidak nikah aku pasti menikahimu dan tidak akan menikah dengan maniak kucing BODOH itu, JUMIN BODOHHHHHHH! " PRANGGGGG!
Tiba-tiba semuanya menggelap, tubuhku rasanya berat. Sebelum kesadaranku hilang samar-samar terdengar orang berteriak mengerubungi diriku dan di antara sekumplan orang-orang ini aku melihat wajah yang tidak asing.
Jumin? Seutas senyum terukir dari sudut bibir. Akhirnya dia menjemputku. Hati ini rasanya menghangat seketika. Air mata mulai merembes dari sudut, aku benar-benar bahagia. Meski terasa berat untuk mengangkat salah satu lenganku, namun aku tetap berusaha untuk mengankat dan menggapai sisi rahang pipinya, membelainya dengan lembut. Aku ingin mengucapkannya, tak perduli dia menerima apa tidak, yang terpenting kata ini harus terucap karena aku sudah tak bisa menahanya. Jumin...
"aku mencintaimu, " dan setelahnya hanya kegelapan yang aku rasa.
.
Jumin Han Pov
Aku merasa sangat bersalah terutama pada Sakura. Bayangkan saja, aku pergi meninggalkanya. Bersama Rika, oh Tuhan aku benar-benar tak punya hati.
Ini semua seperti di luar kendali, tiba-tiba Rika datang ke apartemen tanpa memberitahu terlebih dahulu. Aku seperti membeku melihat kedatanganya, lebih parah daripada saat ketika pertama kali bertemu.
Dan tanpa berpikir panjang aku mengantarkan dia pulang ke apartemennya. Entah apa yang ada dalam pikiran, yang jelas hanya ingin dia secepatnya pergi dari penthouseku. Namun, melihat kesedihan dalam raut wajahnya aku tidak tega meninggalkan ia sendiri. Merasa kasihan, hanya itu. Jika begini apa yang harus aku katakan pada Sakura. Sebelum pergi aku sempat melihat wajahnya yang terlihat kesal dan kecewa padaku. Oh astaga tanpa sadar aku telah menyakiti perasaanya. Bagaimana jika ia membenciku?
Tidak, aku ingin segera pulang dan menghubunginya. Dan sialnya pula, ponsel ketinggalan.
"kau terlihat gusar, apa kau memikirkan istrimu? Jika merasa khawatir pada istrimu sebaiknya pulang saja. " terdengar suara Rika sedikit berat.
Aku melirik wanita yang terduduk di hadapanku sembari menyeruput secangkir kopi. Mata hijaunya menatap ke depan, terlihat sayu.
Setelah tiba di apartemenya kami berdua mengobrol, dia banyak tanya mengenai pernikahanku sampai lupa waktu.
"baiklah, aku pamit. " tanpa banyak bicara aku langsung bangkit berjalan menuju pintu apartemenya.
"Jumin, " panggilnya. Ku hentikan langkah, berbalik badan mengarah padanya, kali ini ia berdiri dengan meremas kedua tanganya yang dikatupkan. Dia terlihat gugup.
"ada apa? " tanyaku dengan mengangkat salah satu alisku.
"semenjak aku datang ke Seoul, sikapmu banyak berubah? "
"maksudmu? "
Dia tersenyum kecut, "kau tidak seperti yang dulu lagi. Apa ini semua karena Sakura?" tanyanya sedikit ragu.
Ke hembuskan nafas lelah, dia menyadarinya, syukurlah. "entahlah, hanya orang yang bisa menilainya, Rika, " ku hendikan bahu sembari tersenyum.
"apa kau mencintainya? "Tatapan mata hijaunya begitu menusuk seolah-olah sangat mengharapkan jawaban dariku.
"ya. Aku sangat mencintainya." tanpa ragu aku mengucapkannya di depan wanita yang dulu pernah menjadi belahan jiwa.
Dia sedikit tersentak, namun setelahnya dia menunjukkan senyum yang sangat terpaksa, "syukurlah, kau bisa bangkit dari masa lalu. "
"ya, berkat masa lalu aku bisa mencintainya." balasku dengan sebuah senyum, sungguh aku benar-benar tanpa beban mengungkapnya. "tapi kau jangan kwatir, aku akan tetap membantu, jika kau butuh bantuan pasti aku bantu."
"terima kasih Jumin, kau memang dari dulu tidak berubah selalu perduli padaku, " suaranya terdengar sedikit gemetar.
"ya begitulah, hanya sekedar itu, tidak lebih. Aku pergi. " tanpa menunggu balasannya kuraih handel pintu dan membukanya dan selanjutnya pergi begitu saja meninggalkannya.
Sejenak aku pejamkan kelopak mataku sebelum benar-benar pergi dari apartemen Rika. Mengambil nafas panjang dan memghembuskan perlahan. Rasa sesak yang selama ini aku tanggung bertahun -tahun akhirnya menghilang. Bagiku sekarang Rika cuma bagian masa lalu. Tidak lebih. Jika Jaehee mendengar ucapanku barusan dia pasti memuji diriku, sayangnya dia tidak ada di sini. Ya, aku tidak menyangka akan berkata seperti itu. Sungguh sangat tak kuduga.
Baiklah, masalah dengan Rika sudah beres tingal satu masalah lagi, Sakura. Aku ingin segera bertemu dengannya, meminta maaf dan menjelaskan semuanya supaya dia tidak salah paham. Namun sayangnya saat sampai di penthouse dia tidak ada.
Sepi.
Kulirik waktu yang menunjukkan hampir pukul sepuluh malam. mungkin dia sudah tidur?
Tidak ada?
Sakura tidak ada di manapun, semua ruangan telah aku periksa dan sosoknya tak diketemukan. Pergi ke mana dia jam segini?
Ku ambil ponsel yang tertinggal di atas meja nakas, bermaksud memeriksa siapa tahu ada panggilan. Dari sepuluh panggilan tak mendapati nama istriku. Astaga dia tega sekali, setidaknya dia menghubungi diriku. benar benar keterlaluan. Karena merasa khawatir segera kuhubungi dia, namun saat hendak menyentuh nama istriku, tertera nama my wife calling. Panjang umur.
Ku sentuh icon dial berwarna hijau, "kemana saja kau, ini sudah pukul sepuluh malam, cepat pulang! " begitu ponsel menempel di telinga, langsung saja mengintruksinya. Khawatir, marah, bingung semuanya tertumpuk dalam dada.
"maaf, Tn Han. " dahiku mengeryit tak kala mendapati suara bariton menyapa dari sebrang telephon. Sepertinya aku mengenal suara ini, namun aku tidak mau menebak asal, takutnya salah.
""ya benar, siapa anda. Kenapa ponsel istri saya ada pada anda? Apa terjadi sesuatu pada istri saya?" beberapa rentetan pertanyaan mulai keluar tanpa berpikir terlebih dahulu.
"ah, Tn Han, ini saya Uchiha Sasuke. "
Apa? Dia lagi? Kenapa selalu dia yang muncul dan juga ponsel Sakura ada pada pria brengsek ini!
"mana Sakura?! Apa yang kau lakukan pada istriku!"tanganku terkepal erat menahan emosi.
"tenang Tn, Han. Sakura baik-baik saja, dia ada bersamaku. Datanglah ke hotel Grand Hyatt. Aku akan menunggumu,"jeda sejenak, " dan Juga istrimu."
Tenang Jumin, jangan emosi. Kau jangan berpikiran macam-macam hanya mendengar kata 'Hotel' Siapa tahu mereka berdua hanya kebetulan bertemu membicarakan masa lalu sampai lupa waktu terus Sakura ketiduran. Oke, sebaiknya berpikir seperti itu, jangan yang lain. Kata orang, apa yang ada dalam pikiran kita itulah yang terjadi.
Berpikir positif,
Berpikir positif.
Ambil nafas dan tenang.
"aku akan ke sana, Uchiha! "
Bersamaan dengan itu langsung kuputus sambungan telephon. Bergegas pergi ke hotel Grand Hyatt dengan naik taksi.
Tiga puluh menit lewat sedikit aku tiba di depan pintu bertuliskan angka 4441. Uchiha brengsek itu memberitahu lewat Line milik Sakura. Sialan berani sekali dia membuka Line istriku. Apa-apaan ini? Kemana Sakura? Dia sungguh sangat keterlaluan menyuruh Uchiha menghubungi diriku, apa sebegitunya dia marah padaku? aku memang sudah keterlaluan tadi, tidak begitu juga dia membalasnya. Sialan!
Ku ketok pintu kamar dengan rasa tak sabar, ini gila. Aku seperti seorang rentenir.
"masuklah, " sosok itu muncul dari balik pintu dengan memakai jubah tidur dengan sedikit memperlihatkan bagian dada. Senyum khas lelaki bad boy tercetak dari sudut bibirnya. Cih, dia pikir terlihat tampan?
"mana Sakura, suruh dia keluar! "
"masuklah, dan jangan berteriak, ini bukan lapangan, " peringatnya. Oh, bagus berani sekali dia membentakku. Tanpa memperdulikannya segera melangkahkan kaki masuk kedalam kamar hotel tempat dia menginap. Tak usak aku ceritakan secara detail interior dalam kamar ini. Karena bagiku sudah tak ada istemewanya walaupun Hotel ini untuk kalangan atas. Tujuanku satu mencari keberadaan istriku.
Mata greyku seketika melotot sempurna, saat sosok yang aku cari sedang tertidur damai di atas tempat tidur. Tubuhnya tertutup selimut sampai dada, aliran darahku mulai naik ke ubun-ubun. Marah? Ya tentu saja aku marah, meskipun pernikahan yang awalnya tidak didasari cinta, setidaknya ia menjaga kesetiannya sampai kita berpisah. Tidak, jangan berpisah. Aku tidak ingin berpisah denganya.
Kulangkahkan kaki menuju ke tempatnya, Uchiha juga mengikuti.
Sesampainya di sisi ranjang, kusibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan kasar, hah?
"jangan khawatir kami tidak melakukannya, meskipun dia menggodaku. " sahut suara dari arah samping, dia tahu apa yang ada dalam pikiranku, "aku bukan pria brengsek Tn Han, " tambahnya.
Kuputar tubuh mengarah padanya. Mata kami saling bertemu pandang, dan sama - sama menatap tajam.
"menggodamu?"
Dia terkekeh. "bukan hanya aku yang digoda, tapi semua pria yang ditemuinya. Ternyata kebiasaan mabuk Sakura dari dulu masih sama, tak berubah. "
Mabuk? Sakura mabuk?
"dan anda tahu, berkat ulahnya aku mengeluarkan dua juta won. Dia hampir menghancurkan kedai di pinggir jalan."
"oke, aku akan menstrasfer ke no rekening perusahanmu, sekarang juga." aku tidak mau berhutang budi padanya. Ku raih ponsel di balik jaket, mengetik nominal yang ia sebutkan.
"tidak perlu Tn Han, aku tahu uang segitu tidak ada artinya bagimu dan bagiku juga. Anggap saja itu hadiah yang aku berikan pada Sakura atas pernikahannya." balasnya santai, wajahnya terlihat datar.
Oh dia menghinaku,
"sama saja dengan anda Tn Han. " oke, sekarang dia jadi paranormal ternyata.
"wow saya terkesan dengan anda, bisa membaca apa yang saya pikirkan."
"tertera jelas di wajah anda, " dia menyeringai.
"baguslah kalau anda mengerti tanpa mengucapkan, anda pasti mengetahui apa yang ada dalam pikiran saya mengenai...Sakura. "
Dia terdiam sembari memperhatikan diriku, oke aku tidak takut. Dia menyeringai, "tanpa membaca pikiran anda semua pasti tahu jika Sakura adalah istri sah anda."
"oh baguslah kalau anda tahu, dengan begitu anda harus menjauh dari nya dan jangan mendekati istri orang. Dia milikku, Uchiha! "
Uchiha mengaguk -angguk, sebelah tanganya ia letakkan di bawah dagunya. Terlihat angkuh.
"milikku?" dia terkekeh seolah-olah ucapanku barusan adalah lelucon. "dia memang milik anda,lalu bagaimana dengan hatinya? "
Sedikit terhenyak mendengar balasan darinya. Namun aku harus tetap tenang, jangan terlihat gugup di hadapannya.
"apa anda pernah mendengar pepatah cinta, Uchiha san?" alisnya menukik ke atas, sekarang dia penasaran dengan maksud kata-kataku. Seringai mulai terukir di sudut bibir, "bahwa yang selalu ada mengalahkan yang istemewa, anda mengerti kan maksud dari pepatah itu?" ku abaikan onix yang bergetar itu, memutar tubuh untuk menghadap Sakura, mengulurkan kedua lengan menyelipkan di balik pinggangnya,meraih tubuhnya dan menggendong ala briday style. Berlalu begitu saja, dan mengabaikan keberadaan Uchiha Sasuke.
"apa anda yakin? " dia tetap tak mau kalah, aku ladeni. Ku putar arah kepalaku sedikit miring ke kanan, ekor mata melirik ke arah Uchiha. Sambil menampilakan senyum miring,
"sangat yakin, karena aku pun mengalaminya." jawabku penuh percaya diri.
Dia terkekeh, "baiklah kita lihat saja, apa pepatah yang anda ucapkan itu benar atau hanya sebuan omong kosong belaka."
Tanpa membalasnya aku pergi meninggalkan kamar hotelnya.
Jangan harap kau merebut Sakura dariku, langkahi dulu mayatku, Uchiha!
.
.
Sakura sedikit mengelitat saat aku melucuti pakaian yang melekat pada tubuhnya. Bau alkohol begitu menyengat hidung, sedikit aku mengheryit. Dia minum berapa botol? Kenapa dia jadi begini? Selama menikah, Sakura tak pernah sekalipun minum.
Sedikit menahan nafas ketika melihat tubuh telanjangnya. Walaupun ini sudah kesekian kalinya namun jantung ini rasanya bergejelok hebat dan rasa panas mulai menjalar Baikalah jika begini, pejamkan kelopak mata, hirup nafas dalam dalam untuk bisa tetap tenang.
Sepuluh menit kemudian, oke beres. Aku bernafas lega. Ku pandangi wajah cantiknya, dia terlihat damai saat tidur.
"Jumin jangan pergi, " dia mengigau. Aku tersenyum, ku ulurkan sebelah tanganku untuk menyentuh wajahnya, menyingkirkan beberapa helai surai pink yang menutupi wajah cantiknya. Jemariku perlahan bergerak, mengabsen satu - persatu semua yang melekat pada wajah cantik ini, membelai dengan lembut. Jemariku berhenti tepat di sudut bibirnya, mengusapnya beberapa kali. Bibir ini yang membuatku candu untuk selalu mengecup dan menciumanya bahkan aku mencuri ciuman untuk pertama kali. Dan sekarang aku melakukanya lagi, kembali aku mengulangi adegan yang sama, mengabaikan rasa soju yang masih melekat pada bibirnya. Terasa manis.
"aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sakura. " ucapku dengan tersenyum sembari membelai sudut bibirnya sebelum bangkit menuju kamar mandi.
Malam semakin larut, bulan terakhir di musim semi menunjukkan keindahannya. Sebentar lagi musim akan berganti. sakura mulai berguguran, meski begitu tak akan membuatnya mati. sakura akan tumbuh kembali, sekarang waktunya untuk istirahat menyiapkan diri untuk berbunga di musim yang akan, bermekaran lagi dengan indah. Selamanya akan seperti itu. Keindahannya tak akan lekang oleh waktu.
.
.
Brukkkkk! aku terbangung seketika saat mendengar suara benda berat jatuh ke lantai. Ku tegakkan badan dengan setengah duduk, memaksa mata yang masih mengantuk untuk mengobservasi sekitar, melihat gerangan apa yang sebenarnya terjadi. Aku mengeryit heran saat tak mendapati tubuh sakura kini tak lagi tidur di sampingku. Kemana dia? Apa pergi ke kamar mandi?
"aduhhhhhhh... ita i (sakit)" terdengar suara rintihan dari sisi bawah ranjang. Karena lenasaran, kubawa tubuh ini untuk merambat ke sisi samping ranjang melihat apa gerangan yang terjadi.
Astaga! Di situ, tepatnya di atas lantai marmer tergeletak sosok tubuh berhelaian soft pink dengan penampilan sangat terlihat acak-acak an. Dia merintih sambil memegangi kepala.
Aku langsung melonjak turun ke tempatnya, "Sakura kau tak apa-apa, kan?" ku ulurkan tangan bermaksud untuk membantunya. Namun, ia hanya melihatku sejenak, mengerjapkan kelopak matanya berkali-kali. Terlihat bingung.
"ini ada dimana? " tanyanya dengan emerlad yang bergulir memperhatikan sekitar.
"di kamar mantan kekasihmu, " jawabku sekenanya. Sakura menyipitkan kedua matanya mendengar jawabanku.
"maksudmu?"
Desahan nafas panjang keluar dari dalam hidungku, mangabaikan pertanyaanya aku merubah posisi yang sebelumnya berdiri kini berjongkok. Sakura masih menatapku dengan tatapan yang sama.
"apa maksudmu? Jika ini kamar Sasuke Kun, ku harap kau berubah menjadi dia. " pernyataannya membuat ku sedikit menahan nafas.
"kau masih mabuk dan berhalusinasi? aku harap kau tidak mengulainginya lagi. " sekali lagi ku ulurkan tangan untuk membantunya berdiri dan dia menepisnya begitu saja.
"aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau ucapkan." oh dia masih keras kepala dan pura -pura tak ingat jika tadi bersama mantan kekasihnya.
Decihan keluar begiti saja dari diriku, "sudahlah lupakan, bagus juga kau tak mengiatnya. Aku akan membuatkanmu sesuatu, sekarang bersihkan dirimu. " ku lirik waktu yang menunjukkan pukul lima subuh. Sebentar lagi waktunya sarapan, tanggung jika mau kembali tidur. Tanpa berkata apa-apa lagi aku bangkit, bermaksud meninggalkan kamar namun,
"kau yang mengganti bajuku? " ku hentikan langkah sejenak, sedikit memutar tubuhku ke arah Sakura yang masih tetap tidak merubah posisi.
"sudahlah jangan bersikap seperti seorang perawan, lagian aku sudah beberapa kali melihat tubuhmu." setelahnya aku pergi meninggalkannya.
"hei, aku masih seorang perawan, brengsek! " balasnya dengan berteriak. Sejenak aku tersentak mendengar pernyataannya namun setelahnya senyum kebahagian tercetak, merasa lega disaat bersaaman mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
aku bersumpah akan menjadi yang pertama buat Sakura, begitupun sebaliknya. Aku harus bersabar menunggu itu semua.
.
.
Suasana sarapan pagi ini terlihat canggung, Sakura lebih banyak diam walaupun bersikap seperti biasanya. Menyiapkan pakaian, sarapan dan sedikit membersihkan kamar. Dia juga menyapa Elisabeth 3rd.
"ini, " dia menghentikan kegiatanya mencuci bekas peralatan yang kami pakai tadi. Sedikit memutar arah kepalanya ke samping, emerladnya menatap benda yang aku berikan, tepatnya minuman. Wajah dia masih terlihat sedikit pucat.
"apa ini? " tunjuknya.
Aku berdecak, "yang jelas bukan racun, minumlah, minuman ini bagus untuk penawar rasa mabuk, tadi saat aku kembali ke kamar kau muntah-muntah." dia berdengus, setelah kembali ke posisi semula. Lagi-lagi mengabaikanku. Aku tahu dia masih marah karena tadi sempat berdebat mengenai Uchiha Sasuke. Kuletakkan gelas minuman yang aku buat di atas meja pentry. "kau masih marah padaku, Sakura? bukankah aku sudah minta maaf padamu," dia masih tetap tak menggubris masih sibuk mencucu piring, tepatnya pura-pira sibuk. "Sakura? " panggilku. Tak ada tanggapan bahkan sampai selesai dan berjalan meninggalkan diriku. Dengan sabar aku mencoba untuk menahan rasa kesal, lebih memilih untuk mengikutinya seperti seekor anak anjing. Aku benar-benar dibuat gila akan sikapnya.
Sakura meraih tas kerjannya yang tergeletak di atas meja. Dan aku masih setia mengikutinnya. Getaran ponselnya membuat ia berhenti, meraih dari saku celana jeans yang ia pakai, emerladnya menyipit saat melihat siapa yang menghubunginya.
"ya Sasuke kun, "
Apa? Bola mataku pasti terbuka lebar saat mengetahi siapa yang menghubunginya.
"ya, aku sangat berterima kasih padamu, jika tidak ada dirimu. aku tidak tahu apa yang terjadi, ya kau tahulah kebiasaan mabukku tidak berubah hehehe."
Aku masih memantaunya,
"sebagai rasa terima kasihku. Aku akan mengundangmu makan malam." dia meliriku sejenak, "ah tidak di rumah, di restauran Jepang, bagaimana? Itupun jika kau tidak sibuk... "
Aku sudah tak tahan lagi mendengarnya, dan tanpa sadar ku raih ponselnya, memutuskan sambungan kemudian menghapus daftar kontak milik Uchiha Sasuke. Rasakan!
Sakura merebut ponselnya, dia menatapku nyalang, "apa maumu sih?!"
"aku yang seharusnya bertanya begitu, seenaknya saja mengundang seorang pria tanpa meminta izin dariku. Kau itu sudah mempunyai suami, Sakura.
"tidak berbeda dengan dirimu."
Aku mengeryit heran, "maksudmu? "
Sakura berdecih, dia melipat kedua lenganya."jangan pura-pura lupa dengan sikapmu kemarin, Tn Han. "
"bukankah tadi kita sudah membicarakannya, dan aku meminta maaf padamu, kurang apa lagi? " sergahku gemas. Sakura terdiam, "jadi jangan membahasnya lagi, oke."
"bukan hanya itu, kau... " Sakura menggantung kalimatnya, "sudahlah lupakan, aku pergi. " ucapnya seraya berlalu.
Karena penasaran aku mengerjarnya, meraih pergelangan tanganya ketika dia hendak masuk ke dalam lift, Sakura melirikku tajam.
"katakan!" dia meringis saat merasakan cengkraman telapak tanganku. Namun tak kuhiraukan sebelum dia memberitahu diriku.
"aku sudah tahu tentang Rika,"
Deg! Jantungku rasanya berhenti seketika, cengkraman tangan mulai mengendur. wajahku pasti terlihat gugup. Kali ini ada rasa takut saat menatap emerlad yang terlihat begitu tegas.
"kau bohong padaku, aku sangat kecewa padamu Jumin. " suara Sakura terdengar bergetar. Aku sudah tak berkutik saat menangkap sebutir air mata mulai menggenang di sudut matanya. inilah ketakutanku. Sial kenapa aku tidak berkata jujur saja padanya.
"Sakura..." sungguh aku tak sanggup lagi melanjutkan kata kata. Bibir ini rasanya berat untuk terbuka untuk sekedar menjelaskan semua.
"aku pergi, kerja." Kali ini gengaman tanganku terlepas, aku hanya bisa memandangi punggung mungilnya, "aku akan telat pulang, jadi tak usah menungguku." tambahnya tanpa melihat ke arahku
Lagi-lagi hembusan nafas keluar begitu saja, kali ini lebih panjang. Jemariku meremas erat surai hitamku, pikiran sangat kacau. Aku sangat menyesal, jika waktu bisa diundur aku ingin kembali saat itu dan berkata jujur dan kejadian buruk ini tak akan terjadi.
Baru kali ini aku merutuki kebodohanku dan menyadari ucapan Jaehe benar adanya,
Bahwa wanita tidak akan bertindak gegabah sebelum menemukan bukti yang nyata.
.
.
Seharian ini aku benar-benar tak fokus, beberapa kali pertemuan penting aku cancel, pikiranku bercabang. Jika begini aku butuh waktu untuk menenangkan diri.
Ku raih ponsel yang tergeletak di atas meja kerja. Tak ada balasan dari Sakura, pesan line ku tidak dibacanya, kali ini dia benar-benar marah.
Tut, tut, tut
Deringan ketiga langsung diangkat,
"Jumin, bagaimana kabarmu? " terdengar suara seseorang yang sangat aku rindukan.
"baik, bu. Kabar ibu dan nenek?" kuputuskan untuk menghubungi ibu.
"baik juga Nak, bagaimana kabar Sakura, ibu sangat merindukannya. Kau tahu, nenek ingin sekali bertemu dengan istrimu."
"Sakura baik baik saja, Bu. Pasti akan aku bawa menantu ibu untuk bertemu nenek" jawabku dengan menghembuskan nafas dan sedikit berbohong.
"apa ada masalah dengan istrimu? " ikatan batin memang tak pernah salah. Ibu tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Terdengar ibu mendesah, "Jumin, kau sudah dewasa dan bisa menyelesaikan masalahmu sendiri. Yakin dan percaya kau dan Sakura pasti baik baik saja. ibu selalu mendukung kalian berdua."
"terima kasih, bu,"
Aku yakin ibu tersenyum di sebrang telephon, ibu selalu mendoakan yang terbaik buatmu dan menantu ibu
"apa itu cucuku Jumin yang menelpon? Benarkah itu Kurinai?!"
Sedikit ku jauhkan ponsel dari telinga ketika terdengar teriakan yang sangat khas.
"ibu jangan berteriak...hei jangan mengambil ponselku" teriak ibu memperingatkan nenek. Sedikit terkekeh mendengar keributan kecil dari sebrang telephon.
"Jumin, cucuku. Apa kau baik baik saja? kenapa kau balik cepat ke Seoul tanpa menunggu wanita renta ini. Padahal nenek ingin sekali bertemu dengan istrimu, dia sangat cantik. Ibumu memperlihatkan foto istrimu." Sekali mengambil alih, nenek tak berhenti mengoceh.
"pasti aku akan memperkenalkan pada nenek dan dia lebih cantik daripada yang terlihat di foto." jawabku sembari tertawa lirih. Selalu saja ramai jika ada nenek dan sayangnya waktu aku pulang ke Jepang nenek tak ada. Aku yakin jika bertemu Sakura pasti tambah seru.
"pokoknya nenek mau bertemu dengan istrimu, Kurinai kita harus ke Seoul, "
"iya ibu, sekarang berikan ponselnya, "
"kamu ini selalu saja tidak menginjinkan berbicara dengan cucu tersayangku, " nenek mulai mengomel.
"dasar, " gerutu ibuku, "Jumin, kau masih di sana kan, nak" kali ini ibu kembali mengabil alih, nenek masih terdengar menggerutu
"hm"
"baikalah. Jaga dirimu baik baik. dan ibu berharap hubungan mu dan Sakura baik - baik saja. Kau tahu, sejak menikah dengan Sakura sikapmu berubah banyak tidak seperti dulu lagi. Ibu merasa lega,kau terlihat bahagia nak.
"ya, ibu memang benar. Aku sangat bahagia.
dan Ibu akan menunggu kebahagian yang lain dengan hadirnya cucu ibu.
Aku terkekeh mendengar harapan ibu, pasti, secepatnya impian ibu akan tercapai. Jaga diri ibu dan juga nenek. dan kuputuskan sambungan telephon setelah Ibu membalas.
Ku tatap sejenak ponsel yang berada dalam gengaman sebelum menaruhnya di atas meja kembali. Menyandarkan kepala di sandaran kursi kebesaran, ku tutup mata sejenak, menghirup udara sebanyak yang aku bisa.
Semua biarkan mengalir seperti air tenang. Pasti suatu saat akan tahu bermuara dimana. Sama halnya dengan cinta.
.
.
Sebelum pulang Jaehee memberiku beberapa dokumen yang harus aku tanda tandangi, dia kembali bersikap seperti biasanya. Bahkan dia mengantikan driver Kim.
"kau sudah tidak marah padaku?" tanyaku membuka pembicaraan saat berada dalam mobil.
"aku tidak bisa marah terlalu lama padamu, kau tahu sendiri kan, " dengan santai dia menjawab tanpa melihat ke arahku. Ya, aku sangat mengenal sifat Jaehee dia memang seperti ini. Mengenal selama hampir enam tahun membuat tahu akan sifatnya.
"terima kasih nona Kang, sekarang giliran Sakura yang marah padaku, " keluhku. Dia tertawa renyah. Alisku menukik tajam,"ada yang lucu? "
"makanya sudah aku bilang, kau harus mengatakan yang sebenarnya pada Sakura. Seandainya kau jujur dari awal dia tidak akan marah padamu. "
"apa dia benar-benar marah padaku Jaehee? " tanyaku serius.
Jaehee menghendikkan bahu, "mungkin hanya kecewa."
"ya mudah - mudahan saja. Terus apa yang harus aku lakukan supaya dia memafkan diriku? "
"lakukan yang biasa Sakura lakukan, ambil hatinya dan katakan terus terang tentang perasaanmu," Jaehee memberiku jalan keluar.
"bisakah? "
"coba saja, jangan takut. Aku yakin Sakura pasti menghargai usahamu."
Aku mengangguk mendengarnya mencoba mencerna penjelasan Jaehee barusan. 'lakukan apa yang Sakura lakukan'
Berpikir keras, dia selama ini menyiapkan makan malam, air hangat dan bersih-bersih rumah. Apa aku harus melakukannya? Baiklah aku akan mencobanya.
.
.
Tepat pukul enam aku sudah tiba di penthouse. Seperti biasa di sambut Elizabeth 3rd. Biasanya jam segini Sakura sudah pulang, namun hari ini dia pulang telat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, kulangkahkan kaki menuju dapur, membuka kulkas mencari bahan yang ingin kubuat makan malam, biasanya ini tugas Sakura. Namun kali ini biarkan aku yang mengerjakan tugas dia, seperti apa yang diucapkan Jaehee. Hitung - hitung sebagai permintaan maaf juga.
Setelah satu jam kemudian, aku menggeleng melihat ulahku sendiri, BERANTAKAN. Mana masakan tidak jadi padahal aku sudah mengikuti interuksi dari YouTube. Ayam gosong, sayur juga gosong, semuanya gagal total. Padahal cuma mau masak nasi goreng.
Meong~~~
Elizabeth 3rd mengeong, ku pandangi kucing putih yang melihat dengan tatapan kasihan.
"hei jangan menatapku seperti itu,"
Meong~~ Elizabeth mengerakkan ekornya ke kanan dan ke kiri sembari berjalan memutar di sekitar kaki.
"tapi aku tidak akan menyerah, " Elizabeth 3rd berhenti mengintari diriku, kali ini ia setengah duduk, mata birunya menatap dengan bulat. "terima kasih, " aku tahu arti tatapan itu, dia memberiku semangat.
Meong~~~
Aku tersenyum melihat tingkahnya, kucing pintar. Dan setelahnya aku kembali berusaha memasak nasi goreng.
Selama dua jam lebih akhirnya nasi goreng buatanku jadi, walaupun dapur sudah seperti gudang. Tidak apa-apa yang penting hasil akhirnya.
Ku bawa dua piring nasi goreng ke meja pantry, menatanya seperti di restoran. Oke semuanya beres. Dua gelas wine, lilin dan bunga mawar. Tidak jelek juga, aku harap Sakura menyukainya. Baiklah aku foto dulu dan kirim lewat line dia supaya cepat pulang.
Cklik,
Send,
Oke beres.
Satu jam kemudian, dia membalasnya.
Aku tersenyum lebar, namun saat membuka pesannya.
Fotomu ngeblur, tidak jelas.
Balasnya,
Makannya cepat pulang.
MaafJumin,pekerjaanku menumpuk. Jika kau ingin makan malam pesan dulu. Aku masih lama.
Jam berapa kau pulang?
Entalah, mungkin sekitar pukul sepuluh malam.
Apa? Tanpa membalasnya langsung aku menghubunginya. Sampai deringan terakhir dia tidak mengakatnya, aneh padahal dia online. Jangan-jangan masih marah padaku?
Kau marah padaku? Kenapa tak dijawab?
Tidak. Aku lagi sibuk. Kamu tenang saja, aku pasti pulang. Oke?!
Baiklah, hati-hati di jalan jangan ngebut.
Sakura mengirim stiker boneka bertuliskan oke sembari meloncat-loncat. Aku bernafas lega, syukurlah dia tidak marah lagi jika begini aku merasa tenang dan berjanji tidak akan pernah membuatnya kecewa lagi.
Kulangkahkan kaki menuju ruang tengah, menyalakan televisi untuk mengusir kebosanan sampai mataku sudah tak dapat dikompromi lagi.
Tertidur.
Tubuhku terasa hangat dan berat saat merasakan sebuah benda menimpa tubuh ini. Ingin rasanya tetap seperti ini, namun saat samar samar melihat sinar mentari dari balik celah gorden, segera membangkitkan diri walau terasa berat. Ku kerjapkan kelopak mata beberapa kali, mengobservasi sekitar, ternyata masih di tempat yang sama. Tapi siapa yang memberiku selimut? Perasaan tadi malam aku tidak memakainya. Jangan-jangan Sakura?
Dengan malas, ku bangkitkan diri setelah menyibak selimut. Sebelum melangkahkan kaki bermaksud mencari keberadaan istriku, sebelah tangan terangkat menuju belakang leher, memijat pelan karena terasa kaku. Setelah dirasa nyaman, kugulir bola mata mencari keberadaan ponsel yang tergeletak di atas meja, meraihnya dan melihat waktu. Hah? Sudah pukul tujuh pagi? Astaga ternyata sudah siang, mungkin karena kecapean aku langsung tertidur nyenyak.
berjalan cepat menuju lantai atas. Namun langkahku terhenti saat melewati dapur. Mengeryit heran ketika mendapati semua telah rapi dan bersih. Apa Sakura yang membersihkan?
Kuurungkan langkah kaki menuju lantai atas beralih menuju dapur, tepatnya meja pantry. Di sana aku mendapatkan secarik kertas memo. Kuraih kertas memo dan mulai membacanya.
Terima kasih makan malamnya, aku sudah menghabiskannya walaupun rasanya...TIDAK ENAK
kekehan kecil keluar begitu saja sebelum melanjutkan membaca pesan Sakura,
Ps: aku sudah menyiapkan sarapan untukmu dan juga pakaian, sepatu, tak lupa air hangat. Maaf aku tidak tega membangunkanmu karena tidurmu nyenyak.
Pss: aku berangkat pagi karena dikejar deadline sepertinya nanti malam pulang terlambat lagi. Maaf.
Pesan terakhir membuat sesuatu dalam dada tiba-tiba bergejolak, entah ini marah, kesal atau bingung aku sendiri bingung menyingkapinya, yang jelas aku tidak suka dia terlambat lagi? Baiklah kali ini aku harus bersabar.
.
.
Sudah hampir satu minggu kejadian sama terulang kembali, Sakura selalu pulang terlambat. Terkadang aku sama sekali tak bertemu denganya. Pulang terlambat, berangkat sebelum aku bangun. Di telephon tidak pernah diangkat, tapi anehnya jika kirim pesan line dia membalasnya. Apa sebenarnya maunya dia? Ini seperti dia menghindar , ini tidak bisa dibiarkan.
Baiklah, kita lihat nyonya Han. Siapa kali ini yang lebih pintar.
Hari ini aku sengaja mengirimkan pesan line memberitahu jika pulang tengah malam karena berada di Jeju dan seperti biasa dia membalas pesan lineku, memberitahu akan pulang terlambat juga. Seringai tercetak kala aku membaca pesanya. Dia masuk perangkap!
kita mulai saja.
Aku sengaja pulang lebih awal, menunggu kedatangan dia. Mobil yang biasa aku tumpangi tidak terpakir di Basement dibawa driver Kim ke apartemenya. Biar dia tidak curiga.
Tepat pukul lima aku tiba di Penthouse. Sakura belum pulang. Seperti biasa, aku melakukan kegiatan sehari-hari, mandi dan berganti pakaian. Namun belum sempat aku mengganti baju kerja, terdengar pintu lift berdenting.
Mataku menyipit, siapa yang datang? Selain istriku dan juga Ayame tidak ada yang tahu kode kunci lift. Apa mungkin dia? Jika memang benar, rencanaku berhasil juga. Aku tunggu dia di sini.
Cklek,
Pintu kamar terbuka dan...sosok yang aku rindukan akhirnya muncul dari balik pintu dengan emeralad yang terbuka lebar. Terkejut, pastinya. Belum sempat kusapa dia sudah balik badan, hendak kabur. Tapi tidak akan kubiarkan. Dengan cekatan aku mengerjanya dan berhasil menangkap pergelangan tangannya saat ia hendak menurungi tangga, sedikit menyeret,membawanya kembali ke kamar kami. Tidak perduli dia meronta.
Tubuh Sakura terhempas di atas ranjang saat sedikit melemparnya. Terdengar suara rintihan kecil, sebenarnya tidak tega juga, namun terpaksa aku melakukannya. Karena tahu sendiri sikap dia bagaimana.
"kamu sengaja melakukannya? " dia pasti tahu maksud pernyataanku.
Sakura terdiam, tanpa menjawab pernyataanku dia meraih ponsel yang berada dalam tas kerja selempangnya. Oh Tuhan, sangat gemas melihat tingkahnya, malah bermain ponsel, mengabaikan diriku. Belum sempat membuka mulut, getaran ponsel dari balik saku setelan mengurungkan niatku. Disaat seprti ini siapa yang menghubungiku?
Dengan rasa kesal kuselipkan jemari mengambil benda yang telah mengganggu kami tanpa sedikitpun mengarahkan pandangan mata darinya. Namun terpaksa ku alihkan atensi pada ponsel bermaksud melihat siapa gerangan yang menghubungi. Mataku menyipit tak kala mengetahui siapa pelakunya. Sejenak ku alihlan tatapan pada Sakura sebelum kembali pada layar ponsel. Pesan line dari dia?
Aku tidak marah padamu, aku bermaksud kembali ke sini karena ada sesuatu yang tertinggal.
"benarkah? "
Lagi-lagi dia mengirimkan pesan line untuk menjawab pertanyaanku.
Aku masih bersabar.
"jangan berbohong padaku, Sakura? "
Dan kejadian sama terulang aku berbicara dia membalasnya melalui pesan line.
Cukup! aku sudah tidak tahan.
Dengan gemas ku raih ponselnya, tepatnya merampas paksa kemudian menyimpanya di balik setelan jas. Dia terkejut dan manatapku nyalang. Nafasnya sedikit memburu. Ya, aku rasa dia kesal setengah mati.
"hentikan sikapmu itu? Jangan seperti ini?!" perintahku. Dia mengabaikanya malah balas menatap nyalang. Dengan kesal dia bangkit dari atas ranjang, berjalan cepat menuju nakas, membuka laci bagian atas. Mata greyku menanti apa yang akan dilakukan selanjutnya.
Kembalikan ponselku!
Kali ini dia menulis di atas kertas memo. Oh Tuhan beri aku kesabaran menghadapi istriku ini. Dengan cepat aku berjalan menuju ketempatnya, bermaksud merampas kertas memo yang ia pegang. Sayangnya, Sakura lebih cepat menghindar menyembunyikan kertas memo di balik punggungnya. Dengusan kesal keluar begitu saja, aku menunggu dia lengah beberpa menit. Dan...
Hup!
Kembali dia berhasil menghindar. Aku tidak menyerah. Selama sepuluh menit kami saling berebut memo yang dia pegang dan lagi-lagi Sakura berhasil menghindar bahkan kami saling berkejaran di dalam kamar. Oke, aku ladeni.
Dan...
Brukkkk! Dia terjatuh di atas ranjang saat hendak naik karena salah satu kakinya terselip, aku tidak menyiakan kesempatan ini. Segera ku raih pergelangan tangannya, melintirnya ke atas kepala. kemudian membalik tubuhnya supaya terlentang. Salah satu kaki aku selipkan diantara kedua pahanya. Sedikit kucondongkan wajahku untuk lebih mendekatkan diri tepat di depan wajah putihnya.
Mata kami saling bertemu pandang, hembusan nafas hangatnya mulai menggelitik. Dia hendak bangkit namun sayangnya cengkramanku semakin kuat.
Kuperhatikan wajah cantik istriku yang terlihat semakin menggemaskan. Jantungku mulai terpompa keras. Harum tubuhnya mulai menguar memenuhi indra penciuman, oh Tuhan tolong kuatkan diriku. Tahan Jumin!
Sakura memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona samar yang mulai muncul di kedua pipinya. Senyum miring mulai menghiyas di sudut bibir.
Perlahan ku lepas cengkraman tanganku, dia sedikit meronta ingin melepaskan diri namun di bawah sana kaki ku berhasil menahannya.
Aku menunggu reaksi dia beberapa menit. Setelah dirasa aman, ku ulurkan sebelah tanganku, meraih dagunya, memutar dengan lembut supaya menghadap padaku. Sejenak Sakura menatapku sebelum bola mata emeralad itu mengerling ke arah lain.
"kau masih marah padaku, Sakura? " ku coba bertanya dengan lembut supaya dia mau membuka suara.
Tak ada jawaban,
"Sakura... " kali ini suaraku seperti terdengar memohon.
Masih tak ada jawaban.
Dengusan nafas lelah keluar begitu saja.
"bukan maksudku untuk membohongi dirimu, aku hanya tak ingin membuatmu khawatir." terdiam sejenak sembari mengambil nafas,"karena bagiku Rika hanya bagian masa lalu dan tidak penting juga untuk memberitahu dirimu. Percayalah rasa cinta ini sudah tak aku rasakan lagi.
Sakura memutar bola matanya ke arahku, menatap dengan penuh tanda tanya besar. Aku tertawa lirih, entah menertawai diriku atau melihat ulah dia.
"Sakura, waktu aku bilang padamu untuk menunggu kau tahu maksudanya apa? "
Sakura menggeleng lemah, aku tersenyum sembari membelai lembut wajah cantiknya. Sakura sedikit terkejut menerima perlakuanku. Namun setelahnya dia kembali bersikap tenang.
"benar kata pepatah cinta, yang istimewa akan kalah dengan yang selalu ada, kau tahu siapa yang selalu ada untukku? " Sakura menggeleng lemah. Senyum tulus aku hadirkan. Jemariku dengan lembut membelai helaian pink sebahunya, menyelipkan beberapa helaian yang menutupi wajah cantiknya ke belakang telinganya. Wajah Sakura merona, melihat reakasinya, semakin ku dekatkan wajah ini pada wajahnya, nafas hangatnya semakin hangat mengelitik wajahku..."KAU, HARUNO SAKURA!"
Emeralad Sakura terbeliak, mulutnya sedikit terbuka, aku menunjukkan senyum "kau tahu artinya apa? " jantung ini mulai memompa keras, inilah saatnya, sebenarnya aku ingin mengatakan perasaan ini dengan mengajaknya makam malam yang romantis. Namun semuanya gagal.
Ku kecup bibirnya sebelum melanjutkan kata - kata, gila jantungku benar-benar serasa ingin keluar. Wow sangat luar biasa. Jadi begini rasanya menyatakan perasaan.
"Haruno Sakura aku men... "
Deringan telephon sialan menganggu! tapi bukan bunyi ponselku? Segera ku raih ponsel yang sedang berbunyi nyaring dari balik saku setelan jas. Belum sempat melihat siapa pengirimnya, Sebuah tangan menyambar ponsel yang berada dalam gengaman tanganku."ya, baiklah aku tidak lupa. Aku akan sampai ketemu di Hotel Grand Hyatt"Ucapanya menyudahai obrolan, terkesan santai, mengabaikan diriku yang menatapnya tajam. Grand Hyatt? Jangan jangan dia...
"apakah itu Uchiha?" selidikku, tanpa menjawab Sakura menyingkirkan tubuhku, bangkit dari atas ranjang dan berjalan santai memuju kamar mandi. "Sakura, jangan mengabaikanku!" teriakanku tidak digubris. Segera aku bangkit menyusulnya, dan sayangnya pintu kamar mandi ke buru ditutup dan terkunci dari dalam.
Sambil menunggunya keluar, aku sempatkan untuk berganti pakaian.
Lima belas menit kemudian, dia muncul dari balik kamar mandi dengan memakai jubah mandi. Kepalanya dililit dengan sebuah handuk. Tanpa memperdulikan diriku dia masuk ke dalam ruang ganti.
Masih sabar menunggunya. Tak berapa lama kemudian pintu kaca lemari terbuka. Sosok yang aku tunggu akhirnya muncul juga. Kali ini mataku melotot sempurna melihat penampilan Sakura, dia memakai gaun long dress berwarna putih dengan kerah berbentuk v, sedikit memperlihatkan belahan dadanya.
Sakura berjalan dengan anggun menuju meja rias. Merias wajahnya dan sedikit menata surai pink dengan menggelungnya. Sebuah hiasan rambut berbentuk tusuk konde dengan aksen bunga sakura bertengger di surai pink itu. sungguh, dia terlihat sangat cantik dan sexsi. Tidak akan kubiarkan dia menemui Uchiha dengan penampilan seperti itu.
Segera aku bangkit dari tepian ranjang, melangkah kaki menuju pintu kamar, menguncinya.
Cklek!
Berhasil, akhirnya aku mengunci pintu kamar. Dari pantulan cermin, bola mata Sakura melotot sempurna padaku menyadari perbuatanku. Mengetahui hal yang aku perbuat dia bergegas bangkit, berjalan cepat menuju ketempatku berdiri. Tanpa berucap dia berusaha merebut kunci yang aku pegang, namun secepat pula aku berhasil menepisnya.
"jangan harap kau bisa pergi bersama Uchiha dengan penampilan seperti ini," peringatku dengan memperhatikan panampilan Sakura. Harum tubuhnya terasa manis membuat semakin tak ingin membiarkanya pergi, mengurungnya di kamar ini hanya berdua denganku.
Sakura sekejap memejamkan kelopak matanya dan berdesah saat kelopak itu terbuka. Emerlad itu menatap tajam padaku. Namun hanya sekejap dia mengarahkan ke tempat lain sembari berucap,
"ah, Rika san!" tunjuk Sakura tepat di sebelah sampingku.
Segera aku mengalihakan atensi ke arah yang di tunjuk Sakura.
Dan...
Ckelk!
Astaga! Aku lengah, dia berhasil merebut kunci kamar dan berhasil membukanya. Tanpa berpikir panjang, segera berlari keluar mengerjarnya. Sakura sudah menyadari dari awal dia berlari terlebih dahulu dengan menjinjing kedua sepatu high hellsnya.
"Sakura!" dia semakin kencang menambah kecepatan larinya menuju pintu lift dan dengan cepat pula masuk ke dalam.
Ting!
Sialan pintu lift segera tertutup sebelum aku tiba. Dengan rasa kesal pintu lift kutendang. Amarahku sudah tak bisa di bendung lagi, rasanya sudah berada di puncak kepala.
Aku tidak akan menyerah dan akan terus mengerjanya untuk mencegah ia pergi ke tempat Uchiha. Segera ku langkahlan kaki menuju tangga tepatnya di bawah tangga yang dimana terdapat pintu darurat yang langsung terhubung dengan tangga menuju lantai bawah.
Oh Tuhan tabahkanlah diriku ini. Dengan berlari sedikit kencang kuturuni tangga ini.
Gila! nafasku hampir putus saat tiba di basement parkir mobil. Mengabaikan peluh yang membanjiri seluruh tubuh serta nafas memburu, ku alihkan pandangan pada deretan mobil milikku yang terpakir rapi, mencari sosok istriku.
Brukkk! Brummmmm!
Dan lagi-lagi aku terlambat mengerjarnya, dia sudah menjalankan mobilnya.
dengan kecepatan tanpa batas aku berlari menuju lobi apartemen. Tak aku perdulikan tatapan security yang melihat heran ke arahku. Terus bergegas keluar mencari taksi untuk mengejar mobil Sakura yang baru saja melintas di halaman lobi.
"Ahjushi, cepat kejar mobil pw itu, " perintahku saat sudah berada dalam mobil taxsi.
"baikalah Tn,"
"cepat, ahjusi. "
Tanpa menunggu perintah dua kali, sopir taxsi ini segera melajukan kemudinya mengejar mobil Sakura yang terpaut beberapa jarak.
Taxsi yang aku tumpangi terus mengikuti mobil Sakura.
Hampir tiga puluh menit kami mengerjanya dan taxi ini tidak dapat mendahuli mobil sakura, lihai juga dia mengemudikan mobil tua itu. Bahkan kami kehilangan dirinya. Beruntungnya aku mengetahui tujuanya. Grand Hyatt.
Aku meraih kenop pintu mobil, saat taxi ini sudah tiba di tempat yang dituju. Namun saat hendak keluar, sebuah intruksi dari arah samping, tepatnya kursi pengemudi membuat niatku terurung. Sedikit kuputar arah tubuh ke samping, melihat Ahjusi yang masih terduduk di belakang kemudi.
"ada apa, Ahjusi? "
"sebelum keluar, bayar dulu Tn." ucapanya. Aku bernafas lega, oh hanya itu, aku kira apa.
Ku lirik prince yang tertera di alat khusus yang biasa kita lihat saat naik taksi. 20 rbu won. Hanya segitu? Tak masalah sekalian aku kasih tiga puluh ribu won sebagai bonus.
Tanganku meraba saku celana, di mana biasa dompet aku taruh. Tapi...
Beberapa kali memastikan tapi dompet tidak ada. Mungkin di saku yang lain dan sayangnya dompetku tidak di temukan juga. Apa aku lupa? Astaga karena paniknya aku sampai lupa bawa dompet. Bukan hanya dompet, bahkan ponsel juga. Lebih mengerikkan lagi aku sampai lupa tidak memakai alas kaki. Oh Tuhan, sangat sial hari ini.
"jangan bilang kau lupa membawa dompet Tn? " suara Ahjushi terdengar mengerikan kali ini.
Perlahan aku mengangkat wajah, berusaha tetap tenang.
"apakah anda punya ponsel, ahjushi? Saya akan menghubungi istri saya dan menyuruhnya untuk mengambil dompet..."
"hentikan ocehanmu, sekarang ikut aku ke kantor polisi! "
"tu, tunggu dulu Ahjusi, saya akan membayar anda dua kali lipat. " aku berusaha memberikan pengertian namun sayangnya Ahjushi ini tak mau mendengarkan penjelasan dariku, dia lebih memilih keluar. Kemudian berjalan memutar menuju ke sisi penumpang. Pintu mobil terbuka, belum siap, Ahjusi ini meraih pergelangan tangan dan sedikit menarik paksa tubuhku supaya keluar.
"jangan banyak omong, sekarang ini banyak penipu. Aku tidak mau ketipu untuk yang kelima kalinya. "balasnya sembari membawa diriku kekantor polisi terdekat. Sialan! Jika dia tahu siapa aku sebenarnya, pasti akan bersujud minta maaf.
Selama hampir satu jam aku diintrogasi di kantor polisi. Mereka tidak percaya jika aku adalah Han Jumin, malah mereka meledekku.
"kau kira kami bodoh, Han Jumin mana mungkin berpenampilan seperti ini. Dan Jika dia kau, aku akan meminta uang padanya. Dasar Han Jumin kw Hahahahhaha" ingin sekali aku melempar polisi ini ke tengah laut. Dia kira aku palsu."sekarang cepat hubungi keluargamu?" perintahnya dengan menggeser telephon duduk mendekat ke arah ku.
Aku ingin menghubungi Jaehee namun lupa no tlpnnya. Yang aku ingat hanya nomorku dan tentu saja no istriku karena aku sendiri yang memilih no nya.
Deringan telephon terdengar saat aku memencet no yang sangat hapal di luar kepala. Jantungku mulai berdebar keras. Entah takut, atau gugup.
"namoseo, " sebuah suara terdengar dari sebrang, aku yakin itu suara Sakura bukan orang lain. Lega.
"Sakura, ini aku suamimu. Datanglah ke kantor polisi distrik Yongsan -gu. Cepatlah aku menunggumu. " belum sempat dia menjawabnya segera aku putus sambungan telephon.
Polisi yang mengintrogasiku tersenyum simpul.
"ada yang lucu? " tanyaku dengan mengankat sebelah alis.
"tidak, hanya saja saya masih terasa geli, ketika anda mengaku Han Jumin, mana mungkin orang terkaya Se Korea berada di sini, jangan gila Tn, saya mengerti obsesi anda ingin menjadi orang kaya. Daripada berhayal mending bekerja. Jika anda butuh pekerjaan saya akan membawa anda pada seorang kenalan. " dia terdiam sebentar, mata hitamnya melirik nakal ke arahku. Sedikit memundurkan tubuh saat petugas polisi ini mencondongkan tubuhnya mendekat ke depan tubuhku. Dia terus memperhatikan penampilanku,"kau mempunyai wajah yang tampan dan muda cocok untuk menemani wanita tua kaya kesepian. Bayarannya banyak. Bagaimana? " lanjutnya dengan memainkan kedua alisnya.
Gila polisi ini, aku dijadikan gigolo. Harus diberi pelajaran,"jika atasan anda tahu, pekerjaan sampingan anda. Anda tahu apa yang akan terjadi? "wajah polisi itu mulai pucat dia mengarahkan arah pandangan ke kanan dan ke kiri takut ada yang menguping. Untung hanya kita berdua yang berada di sini.
Aku menyeringai melihat polisi yang seumuran dengan ayahku. Sudah tua masih saja bermain dengan api.
"kau i - "
Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"masuk! " perintahnya.
Cklek, pintu terbuka. Ku arahkan arah pandangan pada pintu yang sedikit terbuka dari luar. Mata grey ku menangkap dua sosok yang berdiri di ambang pintu. Dadaku terasa lega saat mengetahui kedua sosok itu yang salah satunya sosok Sakura. Aku kira dia ditemani Uchiha Sasuke ternyata seorang polisi setengah baya.
Mereka berjalan menuju ke tempat kami, sekilas Sakura melirik ka arahku, sebelum beralih pada polisi yang mengintrogasi diriki. Matanya membulat penuh melihat penampilan Sakura. Deheman keluar sedikit keras memberi peringatan pada polisi tua itu. Dia melirikku tajam.
"silahkan duduk nona, " perintahnya. Sakura mengangguk hormat sebelum ia terduduk di sebelahku. "apa benar lelaki ini suami anda nona... "
"Sakura!" potong Sakura cepat sembari tersenyum. Dan lagi-lagi polisi setengah baya ini terpukau. Gila!
"woah apakah anda gadis Jepang?"
"darima mana anda tahu,ahjusi?"
"nama anda cantik seperti bunga Sakura, begitupun dengan orangnya. " pujinya. Cih sudah bau tanah masih merayu.
"terima kasih, ahjusi --"
"sudahlah sayang, cepat kau bayar supir taksi itu dan segera pergi dari tempat ini." kali ini aku yang memotong pembicaraan. Sakura melirikku tajam.
"maaf sebelumnya," sambung paman polisi, "apakah Tn ini benar -benar suami anda nona, Sakura? "
Sakura mendesah, "benar Ahjusi, maafkan kesalahan dia, saya akan menyelesaikan semuanya."
Sejenak polisi itu menatapku, raut wajahnya tergambar jelas sangat kecewa. Rasakan!
"baikalah kalau begitu, sebaiknya anda tanda tangani dokumen ini dan bayar dendanya. " polisi itu menyerahkan selembar kertas pada Sakura. Dan dengan cepat pula Sakura menerimnya, membacanya sekilas kemudian membayar semua denda.
"janga. Khawatir, aku akan menggantikan dua kali lipat, sayang. "
"nona anda sebaiknya bersabar mempunyai seorang suami yang terobsesi menjadi kaya. Saya mengerti perasaan anda." sahut polisi tua ini.
Ku arahkan arah pandangan pada pria tua ini. Kurang ajar dia masih belum percaya pada ku? Jika aku bawa dompet, akan aku tunjukkan 'black card'milikku.
Sakura terkikik geli, "terima kasih Ahjusi, dia memang begitu, oke semua sudah selesai. Kami pamit undur diri. "
"hati-hati di jalan Nona, kuharap kau bisa membimbing suamimu, dan bahasa Hangul anda sangat lancar." tak ayal Sakura tertawa lepas. Ingin aku membalas perkataan pria tua itu. Namun saat melihat Sakura tertawa lepas, ku urungkan niat semula. Entah kenapa hati rasanya menghangat seketika.
Setelah semua selesai kami pergi.
"kenapa kau bisa sampai ke tempat ini?" tanyannya di sela perjalanan menuju parkiran mobil, "lihatlah penampilanmu? Oh astaga Jumin kau terlihat seperti gembel, tahu begitu aku akan membiarkanmu mendekam di dalam penjara, supaya kau merasakan hal yang sama denganku"ini adalah percakapan pertama secara langsung denganku meski terasa menyakitkan untuk didengar.
"ceritanya panjang, yang jelas ini semua gara-gara kau." Sakura menghentikan langkahnya. Decakan keluar dari mulut, ku hentikan langkah memutar balik badan, kemudian meraih pergelangan tangannya, sedikit memaksa untuk segera melangkahkan kaki menuju mobil.
"Ju, Jumin... " belum sempat ia protes, ku paksa tubuhnya untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikanya aman, pintu kututup, kemudian berjalan memutar menuju sisi kemudi.
"mana kunci mobilnya? " ku ulurkan telapak tangan. Sakura berdecih, sambil mengoceh dia mengambil kunci mobil di dalam tasnya dan memberikannya padaku.
"antarkan ke Grand Hyatt, acaraku belum selesai." mendengar hal itu segera ku putar arah kepala ke samping, menatapnya tajam."Kenapa kau menatapku begitu? Kurang jelas apa yang aku ucapkan barusan? Antarkan aku-"
Humpttttfff!
Belum selesai dia berbicara, langsung ku lumat bibir manisnya. Supaya terdiam. Sakura memukul dadaku berusaha melepaskan diri, namun kedua tanganku meraih pergelangan tanganya mencegah dia supaya tak berontak. Ciumanku semakin liar membuat Sakura semakin terdesak dan akhirnya dia membalasnya. kami benar benar sudah tak perduli jika ini masih berada di dalam mobil dan untungnya tak ada gangguan dari luar. Maklumlah hari sudah mulai beranjak malam, mungkin orang tak menyadari kegiatan kami.
Selama beberapa menit aku menyudahi mencumbunya, karena butuh pasokan oksigen. Mata kami saling menatap, nafas saling memburu. Wajah Sakura merona merah dan penampilannya terlihat acak-acak an. sebelah tanganku terulur untuk meraih wajahnya dan mengusapnya lembut, Sakura sedikit terkejut.
"jangan pergi ke tempatnya. Kau milikku, Sakura." dan lagi-lagi sebuah ciuman aku sematkan di bibirnya dengan lembut, kali ini Sakura sangat merespon ciumanku."aku membutuhkan dirimu dan ada sesuatu yang ingin aku katakan. tentang perasaanku yang sebenarnya,
Emerladnya sedikit terbeliak. Aku tersenyum miring. "sekarang ayo kita pulang, " sebelum menghidupkan mesin mobil ku kecup sekilas bibirnya, kemudian memasang seatbelh, melajukan mobil dengan...
"Jumin, tunggu. Kenapa mobilnya oleng begini?!" Sakura membuka percakapan, dia terlihat panik tak ada bedanya dengan diriku. "jangan-jangan kau tidak bisa... "
"jangan panik Sakura!"
"kau yang terlihat panik, bilang kalau kau tidak bisa menyetir!" teriak Sakura. "oh astaga, pinjak remnya!" intruksinya. Aku bingung."bodoh, kenapa malah menginjak pedal gasnya!
Reflek kuarahkan kepala padanya, kau mengataiku, BODOH?! sungguh tidak bisa diterima
awas Jumin ada mobil! " kali ini reflek pandangan beralih ke depan. Dan di depanku yang berjarak sepuluh meter melaju mobil truk kencang menuju ke arah mobil kami. Aku semakin panik dan bingung. Sakura memegang alih kemudi, salah satu kakinya menginjak sesuatu di bawah sana. Dia membanting setir ke Kiri dan...
Brakkkkkk! Benturan sedikit keras menghantam tiang listrik membuat kepalaku terbentur keras menyentuh kemudi. Ada rasa hangat mengalir keluar dari lubang hidung. Merasa penasaran ku bawa jari telunjuk untuk menyentuh cairan ini. Pandangku sedikit buram melihat warna merah yang menempel di jari telunjuk. Samar-samar aku mendengar teriakan Sakura memanggil namaku. Apakah aku akan mati? Tidak sebelum mati, aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Biar arwahku tenang.
"Sakura... Aku mencintamu! "
Kemudian aku merasa melayang di kegelapan menuju sebuah titik cahaya. Akhirnya aku bisa pergi dengan tenang.
.
.
TBC :D
Akhirnya bisa update juga hehehe maaf lama ya. Terima kasih banyak yang telah meriview, memfolow dan memfav fic abal saya, hiks terharu. Yang jelas saya akan menamatkan fic ini karna ini fic kesayangan. Pokoknya saya akan menamatkan meski sangat sibuk. Paling ini tinggal beberapa chapter lagi kok. Dan Insyaallah saya akan langsung menamatkannya pas up date. Sekali lagi maaf kalau lama menunggu. Btw,jika masih banyak typo, kata tidak baku dan eyd yang berantakan saya minta maaf, maklumlah saya masih author abal - abal Wkwkwkwk. Sampai jumpa di chapter selanjutnya hehehe. Kecup satu satu.
Terima kasih pada: Image28, yuri rahmamalika,saisah,white lentlily,DcherryBlue,Lightning Shun.
