.
.
.
arisachin production
Proudly present
Dark Moon © Arissachin
The character belong to Masashi Kishimoto-san
While, The story is pure mine
.
"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,
Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."
.
.
.
ACT 10 : Realize
.
Sakura mengerjapkan matanya pelan. Cahaya matahari menyilaukan matanya, tirai kamarnya sudah di buka. Pakaian seragamnyapun sudah di siapkan di kursi sofa kamarnya. Sakura menggosok matanya perlahan lalu mulai merentangkan tubuhnya.
"Uugh~" erang Sakura.
Sakura mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia lalu dengan cepat bangun dari ranjangnya. Ia melangkah dengan ringan ke arah pintu kaca balkon kamarnya. Udara dingin membuat tengkuknya bergidik.
Sakura menatap pemandangan tamannya dengan tatapan tenang. Ia berharap semoga hari ini semuanya akan membaik. Tidak ada hal apapun yang akan membuatnya pusing. Tidak Gaara, dan soal tentang mereka berdua –Gaara dan Sakura, atau tentang 'harus hati-hati'nya.
Apalagi si brengsek Uchiha.
Berbicara tentang Uchiha, apa yang akan ia lakukan dengan lelaki itu?
Entahlah, ia sama sekali belum memikirkan apapun. Dan, tenang saja. Toh, lelaki itu sudah jatuh ke perangkapnya bukan? Jadi, ia tidak perlu bersusah-susah membuatnya jatuh cinta kepada dirinya bukan? Nice trap honey.
"Ayame-san! Bawakan sarapanku ke kamar!" seru Sakura.
Pelayan berambut coklat yang berada di samping pintu kamar Sakura segera mengangguk lalu membungkuk dan meninggalkan nona mudanya sendirian di kamar.
Sakura termenung sejenak. Ia lalu memegang dadanya erat, "kenapa ya dadaku rasanya sesak." Gumam Sakura.
Rasanya, ada sesuatu yang menjanggalnya. Perasaan buruk yang tiba-tiba saja membuat perutnya mual. Entahlah, ini hanya sugestinya atau apa. Tapi, sesuatu hal yang besar akan terjadi…
Mungkinkah?
Tok tok tok
Sakura menggelengkan kepalanya. Ia menghela nafasnya, "masuk saja Ayame."
Mungkin ini semua hanya sugestinya.
.
.
Sakura menatap kertas di hadapannya dengan tatapan kosong. Kertas berwarna putih dengan tulisan berwarna emas. Ame. Begitulah yang tertulis di kertas itu. Sakura bahkan nyaris lupa tentang hal ini. Karya wisata untuk anak-anak setingkatnya.
Selembaran yang mengumumkan akan karya wisata tahun ini.
Pulau Ame adalah sebuah pulau di utara Jepang. Pulau yang terkenal akan hutan, hujan, dan bunga mawarnya itu adalah salah satu pulau kebanggaan Jepang. Dengan curah hujan yang nyaris tinggi –bahkan pada musim panas juga, Ame adalah salah satu tempat yang harus di kunjungi.
Keindahannya hampir menyamai negeri dongeng. Tanpa naga tentu saja. Pulau itu seakan-akan adalah pintu gerbang ke dunia dongengnya. Pesona Ame yang begitu kuat seakan membuat siapapun tidak akan mau keluar dari pulau itu.
Dengan pasir berwarna merah dan juga danau dua warnanya, pulau itu merupakan tempat paling menakjubkan yang pernah Sakura tahu. Sakura selalu ingin mengunjungi pulau itu, tapi ia tidak pernah memiliki waktu yang cukup untuk pergi ke pulau itu.
"Kau ikut?"
Sakura menolehkan kepalanya. Ia mendapati Hinata menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya. "Kemana? Ame?" Sakura menjawab dengan suara heran. Ugh, kenapa ia bertanya seperti itu? Pertanyaan idiot.
"Tentu saja Sakura," ujar Hinata lembut. Lalu, wajahnya berubah jadi penuh selidik. "Jadi, ada apa?"
"Ada apa-apanya?" Sakura bertanya balik.
Gadis Hyuuga itu memutar bola matanya. "Tuhan, kau itu kenapa Sakura? Kau banyak melamun hari ini loh."
"Aku?" Sakura menunjuk dirinya sendiri. Ia lalu menggeleng cepat. "Aku tidak melamun Hinata."
"Mengaku deh, melamunkan?"
"Tidak."
"Mengaku saja."
"Hinata, ti-dak." Sakura menekankan tiap katanya.
"Aku berteman denganmu berapa lamasih? Kau bohong," kata Hinata masih dengan pendiriannya.
"Aku tidak berbohong."
"Kau tidak berbohong."
"Aku berboho –hey!" seru Sakura.
"Sudah kuduga," kikik Hinata. "Jadi?"
"Jadi apa?"
"Kau itu berputar-putar ya," ujar Hinata jengkel.
"Ino dan Sasuke," gumam Sakura pelan.
Hinata memutar matanya, "kenapa lagi dengan dua orang brengsek itu?"
"Mereka tidak masuk, berbarengan pula." Sakura menghela nafasnya. Ia lalu menatap Hintata dengan pandangan mata panik. "Rasanya ada yang aneh."
"Aneh apanya Sakura?" Hinata berkata dengan suara menyelidik, "aku pikir tidak ada –"
"Ada," potong Sakura. "Ada yang aneh Hinata, ada yang aneh dengan Sasuke dan Ino. Mereka berdua sama-sama tidak masuk. Bahkan sudah 2 minggu. Ada yang aneh, aku tahu itu…"
"Sakura, berhenti berpikir yang tidak-tidak," ujar Hinata lembut. "Kau mulai berfikir negatif."
"Hinata, aku tahu mereka berdua. Aku kenal Sasuke nyaris tiga perempat hidupku. Aku tahu ada yang aneh dengan dirinya dan Ino…" Sakura menggumam pelan. "Terlebih dia tidak menghubungiku selama dua minggu ini…"
"Astaga, jadi kau mengharapkan seorang Uchiha Sasuke meneleponmu?" Hinata tertawa. "Ada apa dengan dirimu yang selama ini? Kemana diri Sakura yang menggebu-gebu berkata bahwa dirinya membenci seorang Uchiha Sasuke?"
"Kau tahu itu bukan maksudku," ujar Sakura jengah. "Aku kenal Sasuke Hinata. Ia tidak pernah melakukan hal ini. Sebagaimana marahnya atau apapunlah, Sasuke pasti tetap menghubungiku. Tapi, sekarang ia menghilang."
"Sakura –"
"Hinata, sebenarnya apalagi yang ada di pikiran si brengsek itu sih?" ujar Sakura pelan. "Aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Aku kira dia sudah jatuh cinta padaku lagi, tapi… Sasuke kali ini terasa seperti menjauh, menyendiri? Entahlah…"
Hinata meremas tangan Sakura perlahan. "Semuanya akan baik-baik saja."
Dua minggu ini Uchiha Sasuke menghilang, tidak bisa di hubungi, dan nyaris membuat Sakura bertanya-tanya. Ada apa dengan pemuda ini? Bukan berarti Sakura peduli atau bahkan jatuh cinta kembali pada Sasuke. Tapi, rasanya terlalu aneh. Lelaki brengsek itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Sasuke seperti sedang merencanakan sesuatu, atau lebih buruknya lelaki itu telah mengetahui mengapa ia kembali ke Konoha Gakuen. Rasanya kepala Sakura mau pecah hanya untuk memikirkan hal ini. Ia tidak mau kalau sampai semua rencananya terbongkar bahkan sebelum semuanya di mulai.
"Jadi, kau lapar? Bagaimana kalau kita ke kantin?" ajak Hinata. Gadis berambut panjang itu lalu menarik Sakura dari balkon perpustakaan. Senyuman manis terpatri di bibirnya. "Aku belum bercerita ya?"
"Soal?" Sakura menoleh ke arah Hinata. "Kita jarang mengobrol belakangan."
Senyum Hinata menghilang. "Aku dan Naruto…," Hinata menghela nafasnya dan tersenyum kembali. "Kami putus."
"Apa?" pekik Sakura. Gadis itu menghentikan langkahnya. "Tapi kenapa? Maksudku, kalian cocok! Sangat cocok, dan apa yang membuatmu begini? Kau berhutang banyak cerita padaku Hyuuga!"
"Pulang sekolah bagaimana?" ujar Hinata seraya mengangkat bahunya. "Jangan di sekolah, ceritanya panjang."
"Baiklah, pulang sekolah kita langsung ke rumahku bagaimana?" tawar Sakura.
Hinata menganggukan kepalanya. "Oke, nanti aku akan menelepon supirku dan menyuruhnya menjemput kita disini."
.
.
"Ayame, terima kasih dan tolong tutup pintunya." Pelayan berambut coklat itu mengangguk, ia membungkukan badannya dan berjalan ke arah pintu kamar Sakura lalu menutupnya perlahan.
Kini hanya tinggal Sakura, Hinata, dan beberapa makanan –oh dan juga minuman tentu saja. Gadis yang biasanya memasang wajah datar itu kali ini menatap Hinata lembut. Ia tahu di balik sikap oh-tentu-saja-keadaan-ku-sangat-baik-baik-saja milik Hinata, gadis bermata amethyst itu jauh dari keadaan baik-baik saja. Sahabatnya itu adalah tipe orang yang sok kuat.
"Jadi kenapa?"
"Kami putus." Hinata meminum lemon teanya. Ia menaruh gelasnya lalu mencomot biskuit. Gadis itu mengangkat bahunya. "Entahlah, mungkin memang sudah jalannya seperti ini." Ujar Hinata.
Sakura turun dari kasurnya dan duduk di karpet bersama dengan Hinata. "Tidak mungkin sesederhana itu Hinata. Kau jangan coba berbohong dariku ya, aku mengenalmu lebih dari separuh hidupku." Sakura melirik Hinata dengan tatapan tajam. "Aku tidak sebodoh itu. Masalahnya tidak mungkin sesederhana itu."
"Jadi, kau mau seperti apa Sakura?" Hinata tersenyum pahit. "A-aku…," gadis itu menghela nafasnya. Ia memegang dadanya erat. "Semuanya terasa begitu menyakitkan…, aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu aku harus bagaimana."
"Ssst, ceritakanlah. Kau ingat bukan bahwa aku sahabatmu, kau bisa membagi semuanya padaku Hinata." Sakura merangkak pelan hingga kini ia ada di hadapan Hinata. Gadis itu memegang tangan Hinata. Sebuah senyum simpati terbentuk di bibir Sakura. "Ceritakanlah."
Hinata menggigit bibir bawahnya pelan. Ia tertawa, tawanya terdengar begitu pahit. Mata Hinata kini berkaca-kaca. "Sakura, aku menemukan dia tengah berciuman dan nyaris menelanjangi satu sama lain di klub malam. Kau dengar aku? Nyaris menelanjangi satu sama lain! Kalau aku tidak menyadari kami tengah berada di muka umum, mungkin sudah kukuliti hidup-hidup laki-laki itu! Ya Tuhan, aku bahkan tidak mengerti apa salahku hingga dia berani berbuat seperti itu!" ujar Hinata dengan air mata yang mulai menetes keluar dari matanya. Gadis itu terlihat begitu rapuh, seakan-akan jika ada seorang yang menyenggolnya –bahkan jika itu pelanpun, akan membuat gadis itu hancur berkeping-keping.
"Hinata –"
"Aku bahkan tidak mengerti kenapa ia begitu tega melakukan hal itu padaku. Aku bahkan tidak pernah terpikir akan melakukan hal seperti itu padanya. Tapi…, tapi kenapa ia begitu tega padaku? Katakan apa sebenarnya salahku padanya Sakura. Apa?"
"Kau tidak salah sedikitpun. Kau tidak salah padanya Hinata." Sakura memegang tangan Hinata dengan erat. "Kau tidak salah."
"Apakah aku salah menyukainya? Apa aku salah karena terlalu menyukai Naruto? Kenapa bisa ia setega itu kepadaku… Demi Tuhan! Aku menyukainya dengan tulus, tapi kenapa dia membalas rasa sukaku seperti ini." Ujar Hinata dengan tangisnya. "Aku tidak mengerti Sakura, aku tidak mengerti semua ini. Kenapa?" Hinata menatap mata emerald Sakura dengan tatapan memelas.
"Hinata, maaf aku tidak seharusnya –"
"Jangan!" potong Hinata cepat. "Jangan meminta maaf. Kau tidak salah, aku memang yang terlalu berlebihan. Kenapa aku seperti ini," Hinata tertawa pahit.
"Hinata…," lirih Sakura.
"Aku baik-baik saja," Hinata meyakinkan Sakura. Ia menghapus bekas air matanya dengan tisu yang ada di meja Sakura. "Semuanya akan baik-baik saja."
Sakura menarik Hinata ke dalam pelukannya. Gadis itu memeluk Hinata erat. "Kuharap semuanya baik-baik saja." Sakura mengelus kepala Hinata perlahan. "Semuanya akan baik-baik saja."
.
.
Lelaki itu hanya terdiam dengan botol minuman di tangannya, 2 orang perempuan meliuk-liuk di depan dan samping tubuhnya. Ia meneguk minumannya sekali lagi.
"WHOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!" teriak DJ berambut pirang itu. "KALIAN SIAP? MUSIK SELANJUTNYA!"
Musik kali ini terdengar lebih menghentak. Orang-orang di dalam ruangan itu semakin menggila. Ruangan terasa semakin memanas –well air condicionernya tentu saja dinyalakan. Setiap kali kau menggeser sedikit saja tubuhmu dan kau pasti akan –mau tidak mau, menabrak orang lain. Suasana pesta terasa begitu kuat. Pesta yang di adakan seorang Uchiha Sasuke tentu saja merupakan sebuah pesta yang luar biasa. Bad boy Tokyo kita ini tentu saja tidak akan main-main dalam membuat pesta. Kau tidak akan pernah dianggap sebagai seorang socialite Negara Jepang jika kau tidak di undang ke pesta seorang Uchiha Sasuke. Jadi, tamu di sini tentulah merupakan orang-orang yang penting.
Entah pengaruh musik yang terlalu keras atau ia sudah kebanyakan meminum alcohol, kepala Sasuke terasa berdenyut-denyut. Rasanya seperti seseorang memukul kepalanya dengan kursi. Sasuke menggelengkan kepalanya, ia lalu berjalan menjauhi gadis-gadis itu. Ia butuh ruangan untuk menyendiri mungkin.
Si bungsu Uchiha itu berjalan terhuyung pelan, lelaki itu memegangi dinding sebagai tumpuannya. Sasuke melempar botol minumannya asal-asalan.
"Minuman sialan," umpat Sasuke. Lelaki itu kembali berjalan sempoyongan ke arah ruangannya. Ia melihat sebuah pintu dengan dua orang bodyguard yang menjaga pintunya. Sasuke menepuka bahu kedua orang itu. "Jangan biarkan orang lain masuk guys aku benar-benar butuh waktu sendirian." Ujarnya dengan suara beratnya.
Sasuke memegang kenop pintu ruang privatnya, matanya berkunang-kunang rasanya dunia ini terasa berputar-putar. Sasuke menggelengkan kepalanya keras-keras, berusaha menghilangkan rasa pusing yang tak kunjung hilang juga. Uchiha muda itu lalu mendorong pintu itu dan menutup pintu itu cepat. Ia berjalan ke arah sofa, lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa beludru itu.
'Aku tidak akan sanggup bersama dengan gadis manapun malam ini.' Pikir Sasuke.
"Teme…"
Jika bukan saja image ke-Uchiha'annya, mungkin Sasuke sudah meloncat karena kaget. Suara itu terdengar begitu parau, dan seingatnya ia tidak melihat siapapun saat masuk ke ruangan ini. Fantasi liar akan hantu bermunculan di kepalanya. Cih, bagaimana bisa –tunggu sejak kapan seorang Uchiha Sasuke percaya akan hantu hah?
Sasuke mengerutkan alisnya, ia lalu menolehkan kepalanya. "Hn." Sebuah kepala dengan rambut berwarna kuning itu nyaris ternyata adalah asal suara yang membuat Sasuke kaget tadi. Lelaki dengan rambut berwarna kuning, kulit tan dan tampang depresinya. Uzumaki Naruto dengan tampang seperti itu adalah sesuatu yang jarang terjadi. Biasanya ini ada sangkut pautnya dengan ramen atau…, Hyuuga Hinata.
Ada apa dengan bocah idiot ini?
Sebelum Sasuke bisa mengatakan apa yang ada di pikirannya, Uzumaki Naruto telah mendahului dan mengatakan alasan di balik wajah lebih-baik-aku-dihantui-setan-seumur-hidup-saja miliknya.
"Aku…, putus." Naruto memijat pelipisnya pelan.
Lelaki bermarga Uchiha itu mengerutkan alisnya. "Apa?" oke, Sasuke merasa bodoh untuk menanyakan pertanyaan barusan. "Maksudku kenapa?" rasa pusing di kepalanya menghilang tanpa jejak dan berganti dengan rasa penasaran yang kelewat tinggi.
"Hinata memergokiku, dengan seorang gadis. Diruanganmu. Kemarin. Tengah. Berciuman. Dan. Nyaris. Te-lan-jang." Ujar Naruto dengan seriap penekanan di tiap kata. "Demi Tuhan! Aku bisa gila! AAAA!" pekik Naruto frustasi. "Bagaimana dia bisa memaafkanku sekarang teme? Huaaaaa!"
'Gadis Hyuuga itu memergoki si bodoh ini tengah berciuman? Dan putus? Lalu kenapa?' pikir Sasuke.
"Dasar brengsek, kau tidak mengerti perasaanku teme," Naruto menghela nafasnya. Ia menghempaskan dirinya ke sofa
Sasuke terdiam. Rupanya tanpa sadar tadi ia baru saja menyuarakan pikirannya terlalu keras. "Mengapa?"
"Mengapa apanya?" tanya Naruto seraya menoleh ke arah Sasuke. Mata biru laut Naruto terlihat sedikit lebih kelam. Tapi tetap saja, si idiot ini terlihat ceria. Naruto sepertinya adalah satu-satunya orang bodoh yang bisa terlihat ceria dan sedih dengan bersamaan.
"Mengapa kau sefrustasi ini, pertama kali aku melihatmu seperti ini dobe. Kau sudah sering bukan bermain dengan gadis lain, lalu kenapa sekarang kau bertingkah seperti bocah yang sakit hati?" tanya Sasuke panjang lebar.
Naruto mendengus, senyum kecut terbentuk di bibirnya. "Aku dulu tidak jauh berbeda denganmu Sasuke. Aku suka bermain dengan wanita, suka mematahkan hati mereka, suka tidur dengan mereka, mereka tidak ada bedanya dengan mainan. Lalu –"
"Intinya saja," ujar Sasuke seraya memutar tubuhnya menghadap Naruto.
"Kau ini tidak sabaran sekali sih," gerutu Naruto. Naruto menutup kedua matanya. "Dengar, Hinata-chan dan wanita-wanita di luar sana berbeda. Walaupun aku bermain-main dengan mereka, toh pada akhirnya aku akan kembali pada Hinata –kemarin saja sekali aku kehilangan kontrol akibat vodka sialan itu." Naruto tertawa kecil. "Kau tahu alasan kenapa aku sampai begini tidak?"
"Apa?"
Uzumaki itu memutar kepalanya dan menatap mata onyx Sasuke, "karena aku mencintainya." Seringai terbentuk di bibirnya. "Aku sih tidak begitu memikirkan hal ini, tapi kemarin aku melihat Hinata menangis. Jadi merasa bersalah, well walaupun memang sebenarnya aku juga sudah sedikit bosan dengan Hinata. Tapi, aku juga tidak tega sih. Dan, aku masih mencintainya –walaupun aku sudah bosan dengannya."
Sasuke terdiam. Ia tidak pernah menyangka seorang seperti Uzumaki Naruto akan berkata seperti itu padanya. "Kau berbicara tidak karuan dobe." Ujar Sasuke seraya menyeringai.
"Sialan kau," umpat Naruto. Naruto lalu tersenyum simpul. "Hey, kau juga sudah menyadarinya belum?"
"Menyadari apa?" Sasuke mengerutkan alisnya.
"Oh ayolah, menyadari ituuuuuu," ujar Naruto dengan mata yang –tiba-tiba, bersinar jahil. Seperti menghapus semua ekspresi depresinya yang tadi.
"Menyadari apa dobe?" Sasuke mengulangi pertanyaannya dengan ketus. Sedikit-banyak ia mulai mengerti kemana Naruto akan membawa pembicaraan ini.
Naruto menyeringai. "Sadar bahwa selama ini, kau menyukai –ah tidak, mencintai Haruno Sakura? Uchiha Sasuke." Oh no! Mood playful bocah Uzumaki ini kembali. Sasuke tahu pasti bocah ini akan mulai mengolok-oloknya lagi.
"Apa yang kau bicarakan, jangan –"
"Kau yang jangan Sasuke. Berhentilah mengingkari semuanya. Kau adalah orang yang paling tau hal ini Sasuke." Naruto terkekeh pelan. "Aku saja yang idiot sudah menyadari bahwa kau memiliki 'sesuatu' pada Sakura."
Sasuke kini menatap Naruto tajam. "Aku hanya tidak suka melihat Sakura dan Gaara. Itu saja Naruto. Tidak ada yang lebih. Sakura itu mainanku dan, Gaara tidak boleh merebutnya."
"Berhenti dengan candaan mainan itu, kau dan aku –atau malah seluruh dunia, sudah tahu bahwa kau menyayangi Sakura Sasuke. Ya, kau brengsek, bajingan, kurang ajar, dan segala hal-hal yang jelek itu kau," Naruto mengatakan hal itu seraya menyeringai. Sebelum Sasuke sempat memprotesnya Naruto cepat-cepat menambahkan. "Tapi, bahkan kau bisa jadi seseorang yang lain bagi Haruno Sakura. Kau bisa menunjukan sisi lembutmu, perhatian, dan banyak lagi pada Sakura. Hanya pada Sakura. Kau hanya terlalu egois dan angkuh untuk mengakuinya."
"Aku tidak menyukainya Uzumaki Naruto. Dan, kalaupun iya aku memang menyukai –atau setidaknya, peduli pada Sakura, misalnya kenapa aku tidak mencarinya dulu? Kenapa aku tidak melacaknya? Aku seorang Uchiha yang tersohor. Aku memiliki uang yang bahkan tak'an habis dalam berjuta-juta tahun mendatang. Tapi kenapa aku tak melakukannya hah? Menurutmu kenapa hah?" tanya Sasuke dengan nada sarkastik.
"Karna harga dirimu yang kelewat tinggi itu teme." Naruto menyeringai. "Bingo?"
"Demi Kami-sama." Sasuke kini tertawa, bahkan jika kau mendengarkan dengan baik-baik, nada frustasinya sedikit terselip dalam tawanya. Ia membantingkan tubuhnya ke sofa berwarna hitam itu. Lelaki Uchiha itu lalu menyisir rambutnya ke belakang –kebiasaannya jika ia sedang banyak pikiran. "Kalaupun iya aku menyukainya lalu apa? kenapa? Jika aku menyatakan perasaanmu kau pikir ia akan mengiyakannya? Jangan bodoh, kau juga melihat bahwa sekarang betapa besarnya kebencian Haruno Sakura padaku bukan? Dan si kepala-brengsek-merah itu, betapa ia selalu menempeli Sakura. Gaara menyukai Sakura! Dan, bukan tidak mungkin Sakura tidak menyukai Gaara juga dobe."
"Kau itu idiot ya? Kau seorang Uchiha Sasuke! Casanova, perayu paling ulung se Asia. Bagaimana kau bisa menyerah hanya dengan gadis seperti Haruno Sakura?" Naruto lalu menepuk bahu Sasuke pelan. "Kuberitahu sebuah rahasia. Jika seorang gadis mencintai pemuda itu dengan sungguh-sungguh, sepenuh hatinya, dan bla bla bla, apapun yang telah lelaki itu lakukan, sebagaimanapun lelaki itu telah menyakitinya, jika gadis itu benar-benar mencintainya, ia akan memaafkannya. Percaya padaku."
"Sejak kapan kau jadi seorang penyair dobe?" cemooh Sasuke. Sasuke jelas sedang berusaha mengejek Naruto agar pembicaraan ini berbelok.
"Aku serius man!" Naruto menonjok bahu Sasuke pelan. "Percayalah, Haruno Sakura masih menyukaimu. Atau bahkan sangat menyukaimu. Dan masih teramat menyukaimu. Instingku tidak pernah salah," ujar Naruto dengan penuh keyakinan.
Sasuke kali ini tidak berkomentar apapun, lelaki itu bangkit dari sofa dan mengambil jaketnya yang terletak di sisi Naruto. "Terserah, lagipula aku tidak peduli pada perasaan Haruno Sakura. Terserah dia mau suka atau benci padaku."
"Penyangkalan, penyangkalan, dan penyangkalan~" Naruto berkata dengan seringainya. "Kau harus berhenti menyangkal teme. Serius."
Sasuke berjalan ke arah pintu keluar. Beberapa langkah sebelum ia berhasil keluar dari pintu, ia membalikan tubuhnya dan menatap Naruto. "Berisik kau." Sasuke memberi jeda sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku akan kembali ke Tokyo nanti malam. Kau ikut?" tanya Sasuke.
"Yep, tentu saja! Papi berkata bahwa aku harus mewakilinya menghadiri acara di Sabaku mansion. Kalau jetnya sudah siap kau telf aku saja, nanti aku naik ke atap." Ucap Naruto panjang lebar.
"Hn," Sasuke lalu memutar tubuhnya dan kembali berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Naruto sendiri.
"Eh!" Naruto tiba-tiba saja mengerutkan alisnya. "Apa ya yang ingin aku katakan pada Sasuke. Soal Sakura sama Gaara. Tapi apa ya? Aku lupa…," Naruto akhirnya mengangkat bahunya. "Sudahlah, nanti juga ingat."
.
.
Gadis Haruno itu memakan makanannya dengan perlahan. Perasaannya bercampur aduk karena hanya melihat ada 3 orang anggota keluarga dari Uchiha yang duduk di meja makan bersama dirinya. Kelihatannya gadis kita mencemaskan seseorang yang kita kenal dekat. Siapa lagi kalau bukan dark prince kebanggaan kita. Uchiha Sasuke.
"Kemanakah Sasuke Mikoto? Ini perasaanku saja, atau memang setiap kali kami kemari anak bungsumu itu tidak ada sih?" Rin menyuapkan potongan lasagna miliknya ke mulutnya.
Mikoto mengangkat bahunya, "Sasu-chan menghilang. Aku juga tidak tahu ia kemana, tapi yah mau bagaimana, iakan sudah besar sekarang. Sasuke nanti juga kembali." Mikoto mengalihkan pandangannya ke arah Sakura. Senyum lebar terpatri di bibir Mikoto. "Aih~ Sakura-chan kawaii-desu!" pekik Mikoto.
"Arigatougozaimasu Mikoto-kaasan." Sakura tersenyum tipis. Malam ini Sakura dengan dress berwarna kuning dengan aksen hitamnya memang terlihat begitu manis. Apalagi dengan rambut yang keriting. Sakura nyaris mirip dengan boneka.
"Fugaku, apa kau akan menghadiri pesta keluarga Sabaku?" Obito tiba-tiba saja bertanya pada Fugaku.
Kepala keluarga Uchiha yang tengah tersenyum tipis menatap istrinya yang berkelakuan seperti anak kecil itu teralihkan perhatiannya pada Obito. Fugaku menganggukan kepalanya. "Bagaimanapun juga mereka adalah salah satu kolegaku Obito. Aku dan keluargaku akan datang. Bagaimana denganmu?"
RIn menyela Obito dan menjawab pertanyaan Fugaku. "Kami tentu saja harus datang, karena Sakura-chan." Ujar RIn seraya memajukan bibirnya untuk menunjukan rasa sebalnya.
Itachi yang sedari tadi terdiam menatap percakapan kedua keluarga akhirnya mengangkat suaranya. Rasa penasaran menjalari dirinya, apa hubungannya Sakura dengan keharusan datang ke acara keluarga Sabaku? Lagipula, keluarga Sabaku dengan Haruno tidak terlalu dekat seperti keluarga Uchiha dan Haruno. "Memang kenapa gara-gara Sakura bibi?" tanya Itachi.
"Akane ingin melihat Sakura, katanya sih ingin melihat bagaimana gadis yang di sukai oleh Gaara. Yah, kemungkinan paling buruk paling di tunangkan di sana, padahal aku lebih suka Sakura-chan dengan Sasuke-kun saja. Tapi, ya sudahlah." RIn berkata dengan ringan. Lalu seisi ruangan mulai terisi kembali dengan tawa Mikoto juga Rin.
Itachi memperhatikan perubahan mimik muka Sakura. Gadis itu tersedak makanannya sedikit lalu buru-buru meminum air mineral yang ada di depannya. Apa yang salah sebenarnya dengan di –
–Tunggu!
"Bu!" Sakura menatap Rin dengan tatapan horor.
Rin menanggapinya hanya dengan tawa kecil. "Apa? Kau seperti habis kuapakan saja Sakura-chan." Seisi ruangan itu lalu mulai tertawa kembali.
Di tunangkan? Apa? Sakura dan Gaara?
Tapi, bagaimana bisa Gaara dan Sakura? Bukankah gadis itu menyukai Sasuke? Dan, tunangkan? Bertunangan? Umur Sakura bahkan belum 20 tahun!
Itachi mencoba membuat kontak mata dengan Sakura agar bisa kabur dari acara makan ini dan mengobrol hanya berdua dengan gadis itu. Namun, sepertinya gadis itu menyadarinya. Bahkan sampai akhir acara jamuan makan Itachi tetap tidak bisa mengobrol berdua dengan Sakura. Gadis itu selalu menghindari kontak mata dengan Itachi, atau bahkan ketika Itachi mengirim pesan singkat padanya, gadis itu hanya melirik ponselnya sebentar lalu kembali acuh. Gadis itu berusaha menghindarinya!
Tapi kini gadis itu tidak bisa menghindarinya lagi. Itachi dan Sakura berjala beriringan. Gadis itu tidak bisa berkutik di hadapannya. Sakura tahu pasti Itachi akan melakukan sesuatu padanya. Dengan helaan nafas Itachi dengan cepat menarik Sakura ke dalam pelukannya.
"Kau benar bertunangan dengan si kepala merah? Gaara?" Itachi berbisik pelan. Itachi melingkarkan pinggangnya. "Bagaimana dengan Sasuke?" Itachi mendengar derap langkah yang menjauh. Berarti sekarang ia hanya tinggal berdua dengan Sakura. Bagus.
"Itu…," Sakura memberikan sebuah jeda. "Kita lihat saja nanti ya."
Itachi melepaskan pelukannya. Ia menatap mata emerald Sakura, tangan kanannya bergerak mengacak rambut Sakura ringan. "Aku selalu berdo'a yang terbaik untukmu adik kecil." Seringai mulai terbentuk di bibir Itachi. Lelaki itu lalu buru-buru menambahkan perkataannya. "Yah, lebih tepatnya sih berdo'a semoga kau jadi adik iparku."
"Jangan panggil aku adik kecil nii-chan dan," Sakura mendengus seraya menyisir rambutnya dengan jari. "Jangan menghancurkan rambutku. Dan, jangan berdo'a aneh seperti ituuuuu," ujar Sakura sebal.
Si sulung Uchiha itu menyeringai. "Suruh siapa kau begitu menggemaskan. Untung kau tidak kumakan."
"Tolonglah," Sakura memutar matanya. "Well, karena kau orang tuaku sudah keluar duluan. Jadi Itachi-nii sekarang bertugas mengantarku ke depan."
"Dengan senang hati tuan puteri." Cemooh Itachi.
Sakura mendecih, "yang benar saja."
.
.
Sakura melirik lapangan basket itu sekali lagi. Berkali-kali ia berjuang melawan keinginan untuk melirik sosok itu. Tapi, rasa penasarannya selalu lebih tinggi. Sosok lelaki dengan tubuh tinggi yang tengah tertawa dengan kroni-kroninya.
Sosok Uchiha Sasuke.
Lelaki itu kembali muncul di sekolah tadi pagi. Sakura melihat lelaki itu tadi saat ia di panggil oleh Anko-sensei ke ruang guru. Ia melihat lelaki itu baru masuk ke gerbang sekolah tepat saat bel berbunyi. Sakura awalnya sudah menyiapkan dirinya untuk bertemu lelaki itu di kelas.
Namun, sayangnya dugaannya tidak tepat.
Uchiha Sasuke bahkan tidak memasuki kelas. Pelajaran pertama, pelajaran kedua, dan bahkan saat istirahatpun lelaki itu tidak menampakan batang hidungnya.
Sakura menghela nafasnya. Gadis yang bernama sama dengan nama bunga kebanggaan Jepang itu memutar kembali otaknya. Alasan mengapa Sasuke tidak masuk ke kelas. Apakah…, karena Uchiha Sasuke menghindarinya?
'Pikiran bodoh,' batin Sakura.
Untuk apa Uchiha Sasuke menghindarinya? Memangnya lelaki itu kenapa? Ada yang salah dengan otaknya? Atau tiba-tiba si bajingan itu –
–apa?
Pasokan udara di sekelilingnya seolah-olah menghilang. Mulutnya menganga karena kaget. Jantung Sakura berpacu dengan kencang. Jangan-jangan lelaki itu sudah tahu! Lelaki itu tahu dengan apa yang telah terjadi malam itu!
"Tidak tidak tidak!" pekik Sakura. Sakura memutar tubuhnya membelakangi Sasuke. "Hah!" Sakura terperanjat saat mengetahui siapa orang di belakanganya. "Senpai!" seru Sakura.
Gaara mengerutkan keningnya. "Kau kenapa?"
"Oh, ya Tuhan! Kau mengagetkanku!" ujar Sakura seraya memukul Gaara. Pukulan yang awalnya ia kira tak terlalu keras ternyata mampu membuat efek yang cukup mengagetkan. Gaara terlihat meringis. Berarti pukulan Sakura bukan tak terlalu keras.
"Kenapa kau Sakura?" Gaara lalu melangkah ke sisi Sakura. Semilir angin menyambutnya. "Kau sedang melihat apa?"
"Bukan apa-apa," ujar Sakura singkat.
Mata jade milik Gaara terpaku pada satu sosok. "Uchiha Sasuke."
"Senpai…," gumam Sakura pelan.
Lelaki itu menghela nafasnya. Koridor yang sudah mulai sepi membuat Sakura bisa mendengar hela'an nafas lelaki itu begitu jelas. "Kau harus mulai berhenti soal Sasuke. Itu tidak baik Sakura."
"Kau sudah mengatakan hal itu beratus-ratus kali," ujar Sakura seraya tersenyum tipis. Gadis itu memutar tubuhnya, sehingga kini ia sama-sama menghadap ke lapangan seperti Gaara.
Sabaku Gaara menunduk, ia menutup mata jadenya, "kau dan obsesi Sasukemu. Sakura, bisakah untuk sebentar saja kau berhenti memikirkan obsesimu…"
"Gaara –"
"Sudahlah, apa yang kubicarakan sebenarnya," Gaara tertawa canggung. Lelaki itu lalu menggaruk tengkuknya. "Kau jadi menemaniku ke pesta orang tuaku?"
Sakura mengangguk singkat. "Akukan sudah berjanji."
Gaara lalu menatap ke arah Sakura. Side profile Sakura memang selalu membuat dirinya terkesima. Bibir tipisnya, hidung mancungnya, dan dagunya yang tajam membuat gadis itu tampak seperti dewi. Apalagi angin yang memainkan rambut Sakura. Jujur saja, gadis itu tampak luar biasa menawan.
Pikiran akan Sasuke tiba-tiba saja masuk ke otaknya. Kedua tangannya mengepal erat.
Lelaki bajingan itu adalah rivalnya, perang itu sudah di mulai sejak dulu, bahkan sudah di mulai sejak bertahun-tahun yang lalu.
Cih, lelaki bajingan itu begitu beruntung untuk mendapatkan Sakura.
Gaara mendengus. Lelaki berambut merah itu menatap kembali gadis berambut merah jambu itu. Seulas senyum kecut menghiasi bibirnya.
Gadis yang bernama sama dengan bunga kebanggaan Jepang itu tengah menatap Sasuke. Lelaki brengsek Uchiha itu selalu saja merebut perhatian Sakura. Gaara benci sekali dengan Sasuke, si brengsek itu selalu saja beruntung.
Gaara mengepalkan tangannya dengan erat. Ia kesal, kenapa Sakura tidak pernah peka akan perasaannya? Kenapa gadis itu selalu saja mendahulukan seorang Uchiha Sasuke di atas segalanya. Gaara bukannya tidak peduli atau apa, tapi ia tidak mau memaksakan kehendaknya pada Sakura.
Sabaku Gaara menarik tangan Sakura, membuat gadis itu berputar dan kini tangan kanan Gaara melingkari pinggang Sakura, sementara tangan kirinya menarik kepala Sakura agar lebih dekat dengan dirinya. Wangi cherry segera memenuhi indra penciumannya.
Gaara tidak boleh kalah dari Sasuke. Ia tidak boleh kalah.
"Senpai?" suara gadis itu terdengar kebingungan. Cih, siapapula orang yang tidak bingung jika di peluk tiba-tiba seperti ini.
Gaara memeluk Sakura lebih erat, seolah-olah sedikit saja Gaara melonggarkan pelukannya gadis itu akan hilang. Gaara memejamkan matanya erat-erat, 'sekarang atau tidak sama sekali…,' pikir Gaara.
"Sakura…, aku tidak tahu apa kau akan mengerti atau tidak. Tapi," Gaara memberi jeda pada perkataannya. "Aku tidak akan melepaskanmu kali ini…"
Ya, Gaara tidak akan menyerahkan Haruno Sakura pada Uchiha Sasuke.
.
TSUZUKU
.
Author note's :
*dibunuh rame-rame*
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa jangan bunuh saya! Karena saya lama update, karena saya kehilangan feel saya buat nulis, dan saya motong scene seenak jidat! X))))
Sceene yang terakhir yang GaaSaku itu dan scene ItaSaku sebenernya sama sekali gada di draft, tapi saya mikir ko GaaSakunya kurang, jadi ya beginilah. Oh iya, nanti chapter depan atau 2 chapter kemudian, ada sceene yang bakal bikin anti-sasuke bakal sedikit berbahagia, karena entah kenapa saya berencana membuat Sasuke tersiksa di chapter 11-12'an X)))
Itu adegan kesukaan saya tuh yang Naruto ngobrol serius sama Sasuke XDDDD, itu tuh di percepat semuanya, awalnya gakepikiran malah sama saya kalo Sasu bakal ngobrol seserius itu sama Naru. Saya rasa saya pengen namatin Dark moon cepet-cepet. Jadi, saya bakal mempercepat adegan dan sementara ini bakal fokusin di dark moon, dan ngeupdate aideen kalau sempat yaaa :D
Daaaan, kerasa gak sih feelnya? Ko saya ngerasa saya makin ancur sih penulisannya? Terus terus terus saya nulis apa ini di atas… saya nulis apa? *nangisdipojokan*
.
Special Thank's
summerdream ; Yakuza ; Kamikaze Ayy ; chocobadas ; Cherry'UchihaSakura'Blossom ; BlueWhite Girl ; Voila Sophie ; Sindi 'Kucing Pink ; naomi-azurania ; cherrysasusaku ; Tabita Pinkybunny ; Sagachivu ; JjSonghee ; yukiyukiyuki-chan ; yamatonadeshiko ; sasusaku ; uchihyuu nagisa ; Ria kishimoto ; rex vegeane ; Sung Rae Ki ; Sasusaku ; (gak ada namanya)
.
Oke, see you next time.
.
Xoxo,
.
Arissachin
