"Ukh..."

Kaizuka Inaho membuka matanya perlahan, mengerjap tak nyaman kala cahaya lampu menyambutnya pertama kali.

"Inaho! Syukurlah kau sudah sadar..."

Ada suara seorang gadis di sisinya, terdengar tomboy. Mungkinkah itu Inko?

"Nao-kun..."

Inaho mencoba bangkit dari posisinya, pakaiannya basah oleh keringat dan Inaho tidak suka keadaan seperti ini. Rasanya Inaho ingin segera mengganti bajunya.

"Nao-kun... kau baik-baik saja, kan?"

Inaho bisa melihat teman-temannya berkumpul khawatir. Calm, Nina, Inko, juga kakaknya— Yuki. Mereka memandang Inaho seolah ia sudah lama sekali tertidur. Omong-omong, berapa lama Inaho tidur memangnya?

"Kau membuatku kaget tahu, Inaho! Okojo saja sampai menjerit agar dipanggilkan ambulans." protesan itu diikuti oleh tawa renyah lalu disambut cubitan pelan dari sang orpheus.

"Jam berapa sekarang?" Inaho bertanya— masih setengah sadar.

"Jam delapan malam, Nao-kun." suara Yuki sudah lebih santai saat ini. "Kau pingsan selama tiga jam."

Astaga, itu lama sekali.

"Mau kemana?"

Tangan Inko menahannya, tapi dengan segera Inaho melepasnya dengan mudah.

"Ganti baju." katanya. "Lalu bertemu Jayn."

Yuki nyaris menggebrak meja untuk membuat Inaho tetap berada di sekitar lingkungan puri. Namun Nina sudah lebih dulu menahannya, tatapannya seolah berkata firasatku buruk bila Inaho tetap di sini.

Orang-orang bilang apa yang dirasakan Nina selalu benar— mungkin sama dengan nekatnya Inaho yang selalu tepat —maka dari itu Yuki kembali duduk dengan tenang. Memandang sang adik yang sibuk mengenakan sepatu.

"Jangan lama-lama, Nao-kun."

Calm maupun Inko sedikit heran kala Yuki mengizinkan Inaho pergi begitu saja. Tanpa ceramah, tanpa omelan, tanpa nasihat panjang lebar. Inaho sendiri merasa heran— tapi ia tetap mengangguk dan pergi meninggalkan teman-temannya di ruang kesehatan.

"Firasatmu seperti apa?" tiba-tiba Yuki melemparkan pertanyaan setelah yakin Inaho sudah pergi jauh.

"Yang jelas ada sangkut pautnya dengan Slaine Troyard." balas Nina dan segera bangkit berdiri, menepuk roknya beberapa kali untuk menghilangkan debu imajiner, lalu berbalik pergi. "Pokoknya, kalau firasatku ini benar bahwa Saazbaum Famiglia akan datang menyerang. Sekuat tenaga harus segera kita selesaikan."

"Lalu kenapa kau membiarkan Inaho pergi? Harusnya kan dia membantu kita!"

"Begini Calm..." helaan nafas terdengar. "Inaho tidak akan seberuntung seperti yang sebelum-sebelumnya saat ini. Kalau kau mau Inaho tetap hidup dan baik-baik saja, maka saat ini jangan libatkan dia. Tapi kalau kau mau dia mati, silahkan panggil dia untuk bergabung."

"Apa maksudmu? Apa maksudmu Inaho akan—"

"Yah... itu hanya firasat biasa dariku. Kalian juga tidak perlu khawatir soal keadaan yang lainnya, kurasa— semua akan baik-baik saja meskipun tanpa Inaho. Sampai jumpa."

Kuharap Jayn bisa menahan Inaho lebih lama.


"Ayah, sepertinya akan turun hujan hari ini."

"Hahaha... saat ini memang sudah mendung, Nina."

"Bukan hujan air, Ayah... itu... hujan peluru."


Jayn Dargfire tengah mengupas sebuah jeruk kala itu hingga sosok mungil berjaket oranye dan mengenakan sebuah topi datang ke hadapannya. Menatap Jayn dengan manik merah anggurnya.

"Astaga—!" Jayn nyaris melompat dari kursinya dan melemparkan beberapa buah jeruk. "Nana! Jangan muncul tiba-tiba seperti itu!"

"Arare sepi."

"Tentu saja sepi, lihat sudah jam berapa ini!" pria itu buru-buru mengambil cangkir gelas yang baru, lalu menyeduhkan segelas teh hangat untuk sang tamu tak diundang. "Kalau jam segini yang datang hanya satu dua orang, tahu."

Inaho menarik sebuah kursi di dekat wastafel, lalu duduk di hadapan Jayn. Pemuda itu melepas topinya lalu meminum teh yang dihidangkan dengan pelan.

"Kenapa lagi sekarang?" Jayn bertanya agak sinis— masih kesal karena dikejutkan. "Ini bukan jadwalmu mengunjungiku."

"Mimpi, Jayn." dua buah gula batu ia masukkan ke dalam cangkir, lalu diaduk dengan gerakan yang anggun. "Lebih tepatnya— sesuatu yang berhubungan dengan Vers tiba-tiba datang ke kepalaku dan membuatku pusing."

"Vers?" Jayn memastikan. "Vers yang itu?"

"Yang mana?"

"Sekutunya Saazbaum— tidak juga sih, dulu mereka juga berperang."

"Kamu tahu?"

"Dulu aku kan ang—" kalimat Jayn berhenti, menyisakan kilat tanda tanya pada mata Inaho. "Dulu aku kan pernah melihat perang antara Vers, Saazbaum, dan Klein secara langsung."

"Oh begitu..." Inaho mengangguk-angguk.

"Jadi seperti apa?"

"Apanya?"

Jayn menepuk keningnya lalu mencubiti kedua pipi Inaho dengan ganas. "Mimpinya— ya ampun, Nana."

"Sakit, Jayn." sang pemuda menepis kedua tangan Jayn dengan kasar, nada suaranya terdengar sangat kesal. "Mimpinya begitu."

"Bagaimana?"

"Vers membunuhku tapi membuatnya seolah-olah Klein yang melakukannya." tutur Inaho pelan. "Aku melihat ekspresi Slaine Troyard di sana."

Tangan Jayn berhenti mengupas, pandangannya kembali tertuju pada Inaho. "Slaine Troyard? Seperti apa ekspresinya?"

"Kaget— dendam, tapi juga sedih. Aku tidak tahu yang mana yang benar."

"Nana, hari ini apa Saazbaum menyerang?"

"Sekali tadi pagi, kurasa. Tidak, kemarin lebih tepatnya."

"Yang benar kemarin atau tadi pagi?"

"Kemarin."

"Hh... Nana..." Jayn menuangkan teh pada cangkirnya lagi. "Kali ini aku tidak tahu maksud semua mimpimu, apa berhubungan atau tidak aku tidak mengerti. Bisa saja itu hanya kebetulan, bisa saja itu merupakan salah satu ingatanmu atau bagaimana. Tapi aku sudah memperingatkanmu berkali-kali, jangan berurusan dengan Saazbaum."

"Aku sudah berurusan dengan mereka."

"Kalau begitu mulai sekarang sebisa mungkin hindari mereka."

"Melarikan diri?"

"Tidak juga, sebut saja melindungi diri."

"Itu namanya melarikan diri."

"Terserah kau sajalah, Nana."

Hening. Inaho tidak tahu apalagi yang ingin ia bicarakan dengan Jayn. Lagipula ia datang mengunjungi Arare juga hanya untuk menenangkan pikirannya yang semakin hari semakin rumit— bukannya untuk menceritakan mimpi-mimpi anehnya yang sejak awal memang hanyalah sebuah bunga tidur.

"Jayn! Tiramissunya dua!"

Dari luar dapur salah seorang pelayan berseru, menyadarkan Inaho dari lamunannya.

"Oke!" Jayn berdiri, kembali memandang Inaho. "Kalau mau kau bisa menungguku di rumah atau—"

"Aku pulang saja." topi kembali dikenakan. "Terima kasih atas waktu dan tehnya."

Lalu Inaho pergi begitu saja.

"Ya ampun, anak itu."


"Herla Koichiro Marito!"

Dalam kegelapan lorong yang sunyi— Avherryl Saeverlon berlari. Memanggil sosok pria dengan setelan kemeja yang dikenakan asal-asalan.

"Herla Koichiro Marito!" seruan itu kembali Avherryl dendangkan, menghentikan langkah terburu sang pria.

"Ada apa, Nona Saervelon? Bukankah seorang Trissera seharusnya ada di sisi Don sekarang?" Marito bertanya dengan sedikit menyindir. "Dan lagi sekarang puri kemungkinan akan diserang bukan? Aku harus segera pergi ke—"

"Dengarkan aku!" suara tegas Avherryl membungkam segala bentuk protesan Marito, membuatnya diam mendengarkan. "Ramalan Tuan Putri Nina sudah diumumkan!"

"Apa? Ada apa kali ini?"

"Orpheus Saazbaum— Slaine Troyard —menyerang Klein bukan untuk membalaskan dendam." Avherryl melirik keluar jendela besar di sampingnya, anggota Klein Famiglia sudah berkumpul di sekitar puri— lengkap dengan senjata mereka. "Hanya satu orang yang ia incar."

"Siapa?"

"Kaizuka Inaho."

Marito mengernyit. Sedikit heran mendengar nama yang disebutkan Avherryl. "Kenapa anak baru itu? Apa yang sudah dia lakukan? Dan lagi, kalau memang Slaine Troyard mengincar dia— kenapa harus mengerahkan banyak pasukan dan menyatakan peperangan?"

"Mulanya— Saazbaum menyerang memang untuk menghancurkan kita." helaan nafas memenggal kalimatnya. "Lalu— dari apa yang Tuan Putri Nina lihat —ada masalah antara Kaizuka Inaho dan Slaine Troyard.

"Dan akhirnya, misi mereka— selain untuk menjatuhkan Klein —juga untuk membunuh Kaizuka Inaho. Begitu yang dikatakan Orpheus kita."

"Oh, astaga..." Marito menyandarkan punggungnya, menutup sebagian wajahnya dengan tangan. "Ini sih bakal repot jadinya... lalu— kau mau aku berbuat apa?"

"Bukan aku yang meminta— tapi Tuan Putri yang meminta." sebuah pistol ia lemparkan dan ditangkap dengan baik oleh Marito. "Isinya peluru yang dilumuri racun. Tembaklah Slaine Troyard dengan itu. Sang Orpheus memercayaimu, Herla Koichiro."

"Ya ampun... kenapa sih memangnya? Apalagi Tuan Putri sampai melindungi adiknya Yuki seperti ini."

Avherryl tertawa, membuat rambut ikalnya bergoyang pelan. "Apalagi? Jelas saja... ini karena cinta, kau pasti pernah merasakan hal itu kan?"

"Ah— anak jaman sekarang benar-benar deh." mau tak mau Marito ikut tersenyum geli. "Kalau begitu percayakan saja padaku, Yuki pasti juga bersyukur karena aku ikut melindungi adik kesayangannya."

"Gadis brother-complex itu..." lagi, Avherryl tertawa. "Nah sekarang bersiaplah di posisimu. Berharap saja boss tidak ikut turun tangan, akan jadi masalah kalau itu sampai terjadi."

"Aku mengerti."


Suara deru mesin sebuah mobil hitam terdengar pelan dan halus. Di dalamnya, seraya memerhatikan layar laptopnya— Slaine Troyard —duduk dengan tenang.

"Harklight, bagaimana keadaan di sana?"

Ada sedikit suara gemerisik yang mengganggu sebelum suara pemuda yang bisa bersamanya terdengar.

"Sepertinya mereka sudah tahu kita akan menyerang. Memang luar biasa firasat Tuan Putri Klein."

"Lalu? Apa kita bisa menyerang dan menang?"

"Haha... jangan remehkan anggota keluargamu sendiri, Slaine. Lihatlah akibat perbuatan kita kemarin, menara ketiga itu sudah setengah hancur."

Slaine menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis— sinis. "Serang sekarang."

"Dimengerti."

Dari alat di telinganya— Slaine bisa mendengar derap langkah kaki dan gemerisik dedaunan sebelum suara desing peluru terdengar memekakkan telinga bersama teriakan-teriakan yang menyebutkan kata pertahanan atau serang.

Slaine sedikit menyeringai, "Sekarang aku akan memastikan sesuatu."

Dan mobil hitamnya melaju menerobos hutan.


Bolehkah Slaine berharap?


× Informasi Umum Chercio ×

Saazbaum Famiglia dan Klein Famiglia itu berbeda antara panggilan dengan atasannya.

Don/Donna Mafia

-Saazbaum Famiglia memanggil donnya dengan sebutan Ayah.

-Klein Famiglia memanggil donnya dengan sebutan Boss.

Trissera (Biasanya ada 3 orang)

-Saazbaum Famiglia tidak memiliki seorang Trissera pun.

-Avherryl Saervelon adalah satu-satunya Trissera Klein Famiglia.

Orpheus

-Di Saazbaum, orpheus biasa dipanggil dengan namanya langsung (bagi para pelayan memanggilnya dengan Tuan).

-Klein Famiglia memanggil orpheusnya Tuan Putri (tapi Nina meminta teman-teman seumurannya agar memanggilnya dengan nama).

Herla dan Vice-Herla

-Harklight, Abberlain, Gabriel, dan Finnie merupakan herla Saazbaum Famiglia (sekarang hanya tinggal Harklight). Mereka tidak punya Vice-Herla. Belum ada pengganti bagi 3 herla lainnya— jadi seluruh bagian diambil alih oleh Harklight.

-Koichiro Marito, Kaizuka Inaho, Tsumugi Yutaro, dan Darzana Magberedge adalah herla Klein Famiglia. Vice-Herlanya masing-masing adalah Rayet Areash, Kaizuka Yuki, Kakei Shigo, Mizusaki Kaoru (Awalnya Yuki merupakan herla dan Inaho adalah v-hernya, tapi Yuki minta ditukar dan disetujui oleh Nina).

Sejarah singkat kedua keluarga besar mafia :

•Klein Famiglia sudah berdiri selama 17 tahun. Ayah Nina merupakan Don ke-5 (dan Nina akan menjadi Donna ke-6). Namun saat ini statusnya masih tidak diketahui (mungkin akan disebutkan dalam cerita suatu saat nanti). Hanya orang-orang yang sudah melewati ujian dari sang Don yang bisa bergabung dengan keluarga ini— namun terkadang anak-anak korban perang atau anak-anak yang orang tuanya tanpa sengaja terbunuh oleh mereka pun akan dijadikan anggota keluarga sebagai pertanggung jawaban.

•Saazbaum Famiglia belum lama berdiri, yang mendirikan Saazbaum Famiglia dari nol adalah Saazbaum sendiri saat ia masih berusia 20 tahun (itu sebabnya namanya menjadi nama keluarga). Artinya Saazbaum Famiglia berdiri selama 6 tahun (karena sekarang Saazbaum sudah berusia 26 tahun). Mereka mencari anak-anak yatim piatu yang dipilih dengan cermat dari panti asuhan yang berbeda-beda, anak-anak jalanan yang tidak diketahui asal-usulnya, dan orang-orang tanpa marga yang bekerja sebagai budak.

Sekian untuk hari ini, tunggu terus kelanjutannya ya! Sampa jumpa~!