Sasuke's POV
The Dark Girl
Chapter 9
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating: T
Pairing: Sasusaku
"Neji!"
"Neji!"
"Hei! Bangun!"
Sial! Pemuda berambut coklat panjang ini tetap saja tidak bangun meskipun aku sudah memanggil namanya berkali-kali. Sekarang aku mengerti mengapa Sakura hanya memperbolehkan aku membangunkan satu orang untuk membantu membangunkan Tenten. Jika aku harus membangunkan semua orang, itu akan memakan waktu seharian, dan kita tidak memiliki waktu sebanyak itu.
Aku mencengkram bahu Neji dengan kuat dan menggoncang-goncangkannya. "Ayo bangun!" teriaku lagi. Akhirnya, dengan perlahan ia membuka matanya.
"Sasuke? Ada apa?" tanyanya setengah sadar.
"Kita harus membangunkan, Tenten! Cepat!" ujarku seraya menariknya keluar dari tempatnya duduk.
"Ada apa ini?" Ia menatapku dengan heran. Namun, aku tidak menggubrisnya. Aku tidak punya waktu untuk itu.
Kami menghampiri tempat Tenten berada. Ia sedang tertidur dengan wajah pucat dan keringat mengalir diwajahnya. Ia terlihat gelisah. "Cepat bantu aku membangunkan dia! Akan aku jelaskan nanti!" ujarku dengan panik. Tanpa bertanya lagi, Neji segera mengguncang-guncangkan tubuh Tenten seperti yang tadi telah aku lakukan padanya. Namun, Tenten tetap tidak terbangun dari tidurnya.
Kami terus-menerus memanggil namanya, tetapi itu tidak mempengaruhinya sedikitpun. Aku mulai putus asa. Begitu pula dengan Neji, ia terlihat khawatir.
Pesawat yang kami naiki kembali bergoyang, aku segera mencengkram bangku yang ada di dekatku dengan erat. Aku segera menyadari bahwa kami tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Sepertinya Neji memikirkan hal yang sama denganku. Ia kembali mencengkram bahu Tenten dan meneriakkan namanya.
"Bangunlah!" pinta Neji dengan nada memohon. Ia mencengkram bahu Tenten dengan kuat, lalu ia menariknya kedalam pelukannya. Ia berkata dengan lembut di telinga Tenten, "Tenten, bangunlah! Semua akan baik-baik saja! Kumohon!"
Entah karena ucapan Neji atau bukan, Tenten mulai membuka matanya perlahan. Ia mengedipkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya. Namun, ia belum sadar sepenuhnya. Saat Ia kembali memejamkan matanya, Neji kembali memangil namanya hingga matanya yang hampir terpejam kembali terbuka. Dapat kulihat Neji tersenyum lega, ia semakin mengencangkan pelukkannya dan itu membuat Tenten terkejut.
"A..ada apa ini?" tanyanya.
"Syukurlah kau tidak apa-apa," kata Neji padanya. Dapat kulihat semburat merah terlihat di wajah Tenten.
Aku menjelaskan pada mereka semua yang aku ketahui.
"Syukurlah! Dengan begini semua akan baik-baik saja," ujar Tenten seraya tersenyum lega.
Namun, aku masih merasa ada sesuatu yang ganjil. Ada sesuatu yang mengangguku. Aku berdiri dan menatap sekelilingku. Semuanya yang tertidur sudah terbangun. Aku dan Neji dapat bernapas lega sekarang. Aku segera kembali ke kursiku. Sepertinya tidak ada yang menyadari hal yang terjadi selain aku, Neji, dan Tenten.. juga gadis bernama Sakura itu.
Ngomong-ngomong mengenai gadis itu. Aku belum melihatnya kembali sejak kepergiannya tadi itu.
"Kyaaa!" teriak beberapa orang.
"Woaa! Kenapa ini? Pesawatnya kayak mau jatuh!" kata Naruto yang duduk disebelahku.
Gak mungkin! Aku segera bangkit dari tempatku duduk dan berjalan dengan cepat sembari berpegangan pada bangku menuju tempat Sakura berlari tadi.
"Sasuke! Kau mau kemana?" panggil Naruto. Namun, aku tidak menggubrisnya. Dapat aku rasakan tatapan aneh dari teman-temanku lainnya yang menusuk punggungku. Namun, aku tetap berjalan, aku tidak memiliki banyak waktu. Aku keluar dari kabin tempat aku dan teman-temanku berada dan memasukki kabin penumpang lainnya.
Di kabin ini semua penumpang masih tertidur. Bahkan aku dapat melihat seorang pramugari yang tertidur di sebelah penumpang lainnya. Aku melihat ke depan, sekilas aku melihat beberapa sosok bayangan berlari ke kabin berikutnya. Aku mempercepat langkahku. Apa gadis itu disana?
Aku keluar dari kabin yang hanya berisi 30 orang itu menuju kabin berikutnya yang lebih besar. Disanalah aku melihat seorang gadis bermbut merah muda panjang yang sedang berdiri ditengah-tengah kabin. Meskipun ini di dalam pesawat aku dapat merasakan adanya angin yang bertiup pelan di kabin ini. Aku bergidik saat merasakan angin itu. Disisi lain, gadis yang berada di hadapanku ini tetap terlihat tenang tanpa ekpresi sedikitpun diwajahnya. Ia melihat kearahku, tapi aku merasa ia tidak melihatku. Ia seperti melihat sesuatu yang lain. Angin-angin itu tetap bertiup disekelilingnya, menyebabkan rambutnya yang panjang melambai-lambai.
Aku mulai dapat melihat sosok-sosok lain yang mengerikan yang berdiri di sekeliling gadis itu. Ada anak kecil dengan satu bola mata yang tergantung diwajahnya dan senyum yang mengerikan berdiri di dekatnya, ada pula seorang pria dengan wajah keriput dan tanpa lengan serta darah yang membasahi tubuhnya yang berdiri disebelahnya. Tak hanya itu masih banyak sosok lain yang jauh lebih mengerikan yang berkumpul di dekatnya. Pemandangan itu sungguh membuatku bergidik ngeri. Sebuah pikiran melintas dibenakku, bagaimana mungkin gadis itu dapat berdiri dengan tenang dikelilingi oleh makhluk seperti itu.
Tiba-tiba sesosok makhluk itu terlihat mengamuk dihadapan Sakura, ia meletakkan tangannya yang kurus bagaikan tengkorang dileher Sakura. Disaat itulah Sakura memejamkan mata emeraldnya yang dingin. Ia mulai membuka mulutnya perlahan. Dari mulutnya yang mungil keluarlah sebuah suara yang merdu.
"Time must go on…
It's can't stop even a second…
It can make us regret…
It can make us lose someone that we love…
But it's also can make us meet yhe one that we love again…
But in another place that's more beautiful…
And in that place…
We can have eternity ang we won't lose anything…"
Nyanyian yang ia nyanyikan membuatku merasa tenang tak hanya nada dan suara gadis itu yang menenangkan, syair lagu yang ia nyanyikanpun membuatku merasa tenang. Angin-angin yang bertiup disekelilingnya mulai menghilang. Saat ia membuka matanya, sosok-sosok mengerikan itupun mulai menghilang satu-persatu hingga tertinggal dua sosok yang berbeda dengan sosok lain. Kedua sosok itu tampat normal seperti halnya manusia biasa, hanya saja tubuh mereka transparan. Kedua sosok itu tersenyum lembut pada Sakura, lalu mereka memeluk Sakura. Perlahan sosok itupun pudar di udara.
Aku memperhatikan wajah Sakura. Ia tetap tidak menunjukkan ekspresi seperti biasanya, tetapi mata kirinya mengeluarkan air mata. Ini pertama kalinya aku melihatnya seperti itu. Hal ini sungguh membuatku terkejut. Tanpa berkata apapun gadis itu menghapus air matanya dan berjalan meninggalkan aku yang masih terpaku di tempatku berdiri. Aku segera berjalan menyusulnya.
"The sound for the lost adalah lagu yang dapat menenangkan jiwa," ujarnya lirih saat melewatiku.
Para penumpang lainnya mulai terbangun satu-persatu, pada awalnya mereka terlihat sedikit bingung, tetapi beberapa saat kemudian semua kembali normal. Berdasarkan pengumuman dari pramugari, dapat diketahaui bahwa kapal sudah kembali berada diposisi semula. Kali ini, aku sudah dapat benar-benar bernapas lega.
Teman-temanku yang lain tidak ada yang mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tahu dengan pasti, mereka akan berpikir bahwa penyebab semua ini adalah Sakura. Lagi-lagi, gadis itulah yang akan menjadi korbannya.
Saat ini, gadis itu hanya duduk dalam diam seperti biasanya, aku belum bertanya padanya mengenai ini semua. Aku pindah kebangku sebelah Sakura yang kosong.
"Hei, jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku dengan nada menuntut.
Gadis itu tidak memandangku sedikitpun.
"Bukankah kau bilang kalau aku membangunkan Tenten, yang lain akan ikut terbangun?" tanyaku lagi.
"Aku tidak pernah berkata demikian."
"Lalu, kenapa aku harus membangunkan Tenten?"
"Agar makhluk itu keluar dari mimpi Tenten. Tapi, itu tidak menjamin semua orang akan terbangun, karena ada sumber lain yang menyebabkan hal ini terjadi."
"Sumber lain?"
"Pesawat ini sendirilah sumbernya. Kau bisa tanyakan hal ini pada cenayang itu kalau kau tidak percaya! Pesawat ini dibuat berdasarkan sebuah rancangan pesawat yang pernah terjatuh saat mendarat beberapa tahun lalu. Dan ada beberapa bahan yang digunakan dari bahan pesawat yang terjatuh itu dan di bahan-bahan itu, tersimpan semua kenangan buruk disaat detik-detik kehancuran pesawat itu. Karena itulah pesawat ini dengan mudah mengundang hal-hal negatif itu untuk datang."
"Lalu, siapa dua sosok yang memelukmu itu?" mungkin aku terlalu mencampuri urusan dia. Tapi aku sungguh ingin tahu siapa orang yang dapat membuat gadi seperti Sakura ini meneteskan air matanya.
Gadis itu terdiam sangat lama. Ia tak tampak akan menjawab pertanyaanku. Jadi, aku beranjak dari tempatku menuju kursiku semula. Saat melewatinya. Aku dapat mendengarnya berkata dengan sangat lirih, "Otou-san, Okaa-san."
Aku terkejut mendengarnya. Mungkinkah kedua orang itu adalah orang tua Sakura? Jadi, apakah pesawat yang ia bicarakan itu adalah pesawat yang dinaikki oleh orang tuanya dulu?
End Sasuke's POV
.
.
.
Akhirnya, pesawat yang ditumpangi oleh murid-murid Konoha Private School mendarat di bandara dengan selamat. Dengan bergantian para murid keluar dari pesawat tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Naruto dan yang lainnya segera bertanya pada Sasuke mengenai apa yang terjadi.
Karena tuntutan dari teman-temannya, Sasuke, Neji, dan Tenten menceritakan apa yang mereka ketahui kepada teman-temannya. Namun, Sasuke tidak menceritakan kejadian di kabin. Ia telah memutuskan bahwa kejadianitu tidak perlu di ketahui oleh teman-temannya. Sasuke tidak ingin teman-temannya memandang Sakura sebagai seseorang yang mengerikan.
Gadis bercepol dua itu terlihat menyesali perbuatannya, ia meminta maaf beberapa kali kepada teman-temannya karena ia merasa bertangggung jawab atas kejadian ini.
.
.
.
Beberapa hari kemudian…
Sasuke's POV
Hal-hal mengerikan yang terjadi beberapa hari itu telah berakhir dengan baik. Semuanya telah kembali seperti semula. Termasuk kabar-kabar miring mengenai Sakura yang masih saja terdengar di koridor-koridor kelas.
Sejujurnya, aku mengharapkan adanya sedikit perubahan. Sakura telah banyak membantu kami disepanjang field trip itu, aku yakin bahwa pandangan Naruto dan yang lainnya terhadap dia telah berubah. Setidaknya, aku ingin agar Sakura dapat berkumpul bersama kami saat istirahat. Namun, sepertinya aku terlalu banyak berharap.
"Hei! Hei! Ino, kau saja yang ajak dia kesini!" Bisik Naruto
"Enak saja! Kenapa tidak kau saja, Naruto!" bantah Ino
"Kau saja, deh Sai!"
"A-aku?"
"Hei, cepatlah teman-teman! Sepertinya sebentar lagi, ia akan keluar kelas," potong Temari.
"Ada apa, sih?" tanyaku yang sedari tadi hanya melamun.
"Mereka ingin mengajak Sakura untuk bergabung dengan kita, tapi sepertinya tidak ada yang berani mendekatinya," jelas Neji.
Aku melihat gadis berambut merah muda itu yang sedang berdiri dari bangkunya dan keluar kelas. Akhirnya, gadis itu tetap seperti biasanya. Selalu sendirian. Aku terdiam sejenak. Aku beranjak dari kursiku dan berjalan keluar kelas. Teman-temanku tidak ada yang memperhatikan, mereka sedang asyik berdebat.
Sesampainya di depan kelas aku melihat sekelilingku. Saat mataku menangkap sosok yang kucari, kakiku telah terlebih dahulu mengambil alih daripada pikiranku. Aku melewati koridor yang dipenuhi oleh orang-orang sampai akhirnya aku tiba di halaman belakang sekolah.
Aku menemukan gadis itu disana. Seperti biasa, ia duduk sendirian dibawah pohon. Ia tak bergerak sedikitpun, bahkan bola matanyapun tak bergerak. Matanya yang dingin dan terlihat kosong memandang kedepan, ke arah gedung sekolah lama yang sudah tak terpakai lagi. Ia tampak seperti boneka. Dengan pelan, aku berjalan mendekatinya. Bahkan saat aku sampai tepat didepannya, ia sama sekali tidak melirikku.
"Sakura!" panggilku.
Ia tidak bergeming.
"Bagaimana kalau kau bergabung dengan aku, Naruto, dan yang lainnya? Kurasa itu lebih menyenangkan daripada sendirian seperti ini setiap istirhat," tawarku.
Gadis itu menatapku sejenak dengan matanya yang dingin, lalu ia kembali menatap kedepan.
Kurasa itu berarti tidak.
Aku segera berbalik dari tempat itu menuju kelas Naruto.
"Dasar bodoh! Sial! Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku mau saja mengajak gadis itu untuk bergabung? Seharusnya aku tahu, mana mungkin gadis anti-sosial itu mau bergabung dengan kami! Sial!" umpatku disepanjang perjalanan. Aku merasa malu karena kebodohanku sendiri. Ini tidak seperti diriku yang biasanya.
.
.
.
Akhirnya, bel pulang sekolahpun berbunyi. Aku segera merapikan barang-barangku dan berjalan menuju halaman belakang. Aku sudah berjanji dengan Naruto, Sai, Neji, Kiba, dan Lee untuk bermain futsal disana.
Sesampainya disana, aku hanya menemukan gadis berambut merah mudah itu lagi. Entah mengapa, ia sepertinya suka sekali ke tempat itu. Ia duduk di tempat yang sama dengan tempat ia duduk saat istirahat.
"hei, Sasuke!" panggil pemuda berambut kuning dari kejauhan. Aku segera mengalihkan pandanganku ke sumber suara itu. Naruto sudah datang bersama dengan yang lainnya.
"kemana saja kau? Kami mencarimu dari tadi," lanjutnya.
"Hm," jawabku cuek.
Saat aku berbalik, aku melihat sosok itu telah menghilang dari tempatnya semula. Mataku yang masih terbelalak mencari-cari keberadaan sosok itu. Tapi, aku tidak dapat menemukannya. Kemana gadis itu pergi?
"Sai!" teriak Naruto seraya menendang bola ke arah Sai.
Namun, Sai tidak menggubris ucapan naruto. Alih-alih menangkap bola itu, ia malah berhenti berlari dan merunduk.
PRANGG!
Suara kaca pecah terdengar dari gedung sekolah lama.
"Wah, kau para sekali, Naruto," komentar Sai tanpa rasa bersalah.
"Apa? itu karena kau yang tidak menangkap bolanya!" ujar naruto tak mau kalah.
"Aku, kan, harus mengikat tali sepatuku dahulu agar tidak terjatuh," balas Sai.
"Lagipula, orang bodoh mana yang akan mengoper bola sekuat tenaga seperti itu hingga melambung tinggi dan memecahkan kaca jendela," tambahku.
Naruto yang kesal, hanya menggeram untuk mengekspresikan amarahnya. Sedangkan, para gadis yang menonton kami hanya tertawa melihat tingkah konyol Naruto.
Aku melihat bangunan tua dimana bola itu berada sekarang. Kalau tidak salah itu adalah gedung tua yang dilihat oleh Sakura saat istirahat. Dan jika ingatanku tak salah, sepertinya ada rumor mengenai gedung itu. Tapi, sebesar apapun usahaku untuk mengingat, aku tidak dapat mengingat rumor itu dengan jelas.
"Naruto! Cepat ambil bola itu!" ujar kiba tak sabar.
"Iya iya. Tapi Kiba, apa kau tidak pernah dengar tentang rumor gedung sekolah lama itu?"
"Naruto, jangan bilang kau percaya pada rumor itu? Sudah cepat ambil!"
"Hei, apa isi rumor itu?" potongku tiba-tiba.
Naruto dan Kiba segera menatapku. Setelah terdiam beberapa lama, naruto mulai membuka mulutnya.
"Aku tidak ingat."
"Iya, ya. Meskipun aku tahu ada rumor buruk mengenai gedung itu, tapi aku juga tidak ingat apa isi rumor itu," ujar pemuda dengan tato segitiga diwajahnya itu. Dan sepertinya, yang lainpun juga demikian. Ya, kurasa itu wajar, mungkin rumor itu terakhir kali dibicarakan saat sebelum kedatangan Sakura ke sekolah ini. Gadis itu terlalu banyak menarik perhatian.
"Hah! Persetan dengan rumor itu! Kalau kau tidak mau mengambilnya, biar aku saja yang ambil!" kataku akhirnya.
"Bukan begitu…. Hei, Sasuke, aku ikut. Tunggu!" teriak Naruto.
"Gak perlu! Aku bisa mengambilnya sendiri! Lagipula akan lebih cepat jika aku melakukannya sendiri," balasku sambil terus berjalan, meninggalkan Naruto yang menatapku dengan kesal.
Aku berjalan tanpa ragu menuju gedung tua itu. Aku berusaha menepis pikiran-pikiran buruk dari kepalaku. Sekalipun persaanku tidak enak, aku tetap memasuki gedung tua itu.
Pintu depan bangunan itu terbuat dari kayu yang sudah rapuh. Suara nyaring dari pintu itu terdengar saat aku membukanya. Dengan hati-hati aku melangkahkan kakiku ke dalam gedung sekolah tua itu.
End Sasuke's POV
.
.
.
Normal's POV
Pemuda bermata tajam itu memasukki gedung itu tanpa ragu. Bukan hal yang mengherankan untuk pemuda itu.
Gedung itu sudah lama rusak. Lantai-lantai kayunya telah berlubang dimakan rayap. Cat-cat didinding telah mengelupas. Sarang laba-laba dan debu yang bertebaran dimana-mana. Dan jika pemuda itu berjalan lebih ke dalam lagi, ia akan menemukan kelas-kelas yang lengkap dengan meja dan kursi yang telah rusak dan diselimuti oleh debu, juga hiasan-hiasan dinding dari kertas yang telah robek dan menguning. Bahkan bekas-bekas cat warna yang dipakai muridpun masih berbekas.
Namun, pemuda itu terus berjalan tanpa memperhatikannya. Tampaknya, ia sudah tahu kemana arah yang harus ia tuju. Lantai 2. Ya, bola itu masuk kesana.
Pemuda itu terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya. Ia menaiki anak tangga yang telah rapuh dan berlubang. Sesaat setelah sampati di lantai dua, ia terdiam sejenak.
Kemudian pemuda itu kembali berjalan, hingga ia sampai disebuah ruangan kecil. Tepat didepan ruangan itu terdapat kaca yang pecah akibat tendangan naruto tadi. Pemuda bernama Sasuke itu melihat sekilas keluar dari kaca. Ia dapat melihat teman-temannya yang sedang menunggu seraya menatap ke arah gedung tua ini. Kemudian, saat ia mengalihkan perhatiannya ke atas, ia mengerutkan keningnya.
.
.
.
"Hei, Sasuke lama sekali, sih! Sudah kuduga, harusnya aku ikut saja!" gerutu pemuda berambut kuning.
"Sabar saja, Naruto!" ujar Sai.
"Ya, tapi Sai, sepertinya kita juga tidak bisa berlama-lama," ujar Ino sambil menunjuk ke atas.
Murid-murid itupun melihat ke arah yang gadis itu tunjuk. Gadis itu benar, langit tidak terlihat bersahabat. Sepertinya akan ada badai salju. Pertandinganpun mereka hentikan. Pemuda-pemuda lain yang menjadi lawan tanding Sasuke dan teman-temannya telah berlari menuju rumah mereka masing-masing sebelum badai tiba. Namun, Naruto dan teman-temannya tetap sabar menunggu Sasuke yang tak kunjung keluar dari gedung tua itu.
"Ini benar-benar buruk!" gumam Ino sambil menatap langit yang telah berubah warna menjadi abu-abu.
.
.
.
Ruangan kecil itu dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba. Sepertinya tempat ini digunakkan sebagai tempat menyimpan alat-alat kebersihan. Pemuda itu bergerak mendekati ruangan itu, lalu ia menyingkirkan sapu yang menghalangi jalannya.
"Itu dia," gumam pemuda bernama Sasuke itu saat melihat bola sepak itu berada didekat lemari besi berkarat yang sudah kosong.
Ia berjalan melangkahi beberapa sapu dan pel yang sudah patah hingga akhirnya ia sampai tepat di depan lemari itu.
.
.
.
"Kurasa kita harus menyusul Sasuke, teman-teman! Kalau tidak, kita akan terlambat!" saran Tenten seraya menatap langit yang semakin gelap.
Angin dinginpun mulai bertiup dengan kencang.
"Iya!"
Anak-anak itupun berlari menuju gedung sekolah tua itu.
"Teman-teman, kalian yakin akan masuk ke dalam? Bagaimana dengan rumor itu?" tanya seorang gadis bermata lavender dengan sedikit bergetar.
"Tenang saja, Hinata! Untuk apa kita takut untuk rumor yang bahkan tidak kita ingat," balas temannya yang dikuncir empat dengan bijak. Meskipun ia berkata demikian, ia sendiri tidak dapat menepis kegelisahannya. Kesepuluh anak itupun dengan ragu memasuki bangunan tua itu.
.
.
.
Sasuke merunduk untuk mengambil bola yang berada di depan lemari berkarat itu. Saat itulah, ia baru menyadari bau busuk yang menyengat dari tempat itu. Munkin, sedari tadi ia terlalu focus untuk mengambil bola itu sehingga tidak menyadarinya. Namun, setelah tujuannya tercapai, ia baru menyadari keadaan sekelilingnya.
"Tempat ini sangat buruk." Pikirnya.
"Halloo, Onii-chan, ayo main dengan kami!" suara seorang anak kecil terdengar atas lemari.
Deg!
Keringat mengalir diwajah pemuda itu. Ia dapat merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.
.
.
.
"Hii.. tempat ini mengerikan," ujar Lee.
"Sudahlah! Kita harus segera menemukan Sasuke," balas Neji.
.
.
.
Dengan leher yang kaku, Sasuke mengangkat wajahnya. Degupan jantungnya semakin kencang saat ia melihat seorang anak laki-laki duduk diatas lemari itu. Penampilan anak-laki-laki itu tidak seperti anak laki-laki biasanya. Bagian tubuh anak itu terlihat seperti manusia biasanya, hanya saja, satu rongga matanya kosong dan darah mengalir dari rongga matanya itu.
"Onii-chan, ayo main!" ajaknya lagi.
Hanya dengan mendengar suaranya saja, sudah dapat membuat tubuh pemuda itu bergidik. Anak laki-laki itu berdiri di atas lemari dan melompat-lompat diatasnya, dan perbuatannya itu membuat lemari besi berkarat yang sudah rapuh itu jatuh tepat diatas Sasuke. Pemuda itu berusaha menghindar. Namun, ia tidak dapat bergerak, seakan-akan ada sesuatu yang menahannya. Saat itulah ia sadar bahwa anak laki-laki itu sudah berada didepannya dan ia mencengkram baju Sasuke dengan kuat hingga ia tidak dapat bergerak.
Dengan panik, Sasuke berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman anak laki-laki itu.
BRAaakk!
Napas pemuda itu memburu. Didetik-detik terakhir sebelum lemari itu menimpanya, seseorang menariknya dengan kuat hingga ia terlepas dari anak itu. Namun, orang dihadapannya saat ini lebih membuatnya terkejut.
"Sakura?" panggil pemuda itu tak percaya.
Gadis bermata emerald itu terlihat sangat tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Sasuke.
"Kau harus keluar dari sini, jika kau ingin tetap hidup." Alih-alih menjawab pertanyaan pemuda itu, gadis itu malah memperingatinya. Tapi, mungkin itu memang yang terbaik untuk mereka, karena mereka tidak memiliki banyak waktu. Anak kecil itu kembali muncul dihadapan Sasuke dengan senyum yang mengerikkan diwajahnya. Ia mengulurkan tanggannya untuk mencengkram Sasuke. Namun, sebelum anak itu berhasil menggapainya, Sakura sudah menarik Sasuke keluar dari ruangan kecil itu.
"Aku mengerti, pokoknya, kita harus keluar dari tempat ini secepatnya, kan?" ujar pemuda itu seraya berlari.
.
.
.
"Waw! Ini buruk! Sangat buruk!" kata Ino tiba-tiba seraya terus berjalan melewati lorong-lorong kelas.
"Kenapa?" tanya Sai singkat.
"Lihat! Badainya telah datang, kalau begini, kita tidak akan bisa keluar sampai badai reda."
-TBC-
Sekian dulu yaa..
Ty bwt yang udh baca n nge-review..
review kalian sangat berarti bwt aku..
Tolong di review juga ya, chapter ini..
semoga kalian suka..
maaf klu rada pendek..
thx yaa...
bwt lagu yang dinyanyiin Sakura, itu dibwt oleh teman aku, Nadia Sylvano.. (ty..)
klu judulnya, emg aku yang bwt, dan itu rada aneh.. haha..
