WARNING!

Tolong yang merasa dedek-dedek gemes

"..pergi..pergilah...datanglah lain chapter..." *auto nyanyi*

Demi kepolosan kalian mohon yang merasa dibawah umur dan tidak sanggup membaca adegan dewasa. Tanpa mengurangi rasa hormat saya menyarankan skip saja chapter ini.

Saya ngga mau nanggung dosa orang banyak, dosa saya sudah banyak setara dengan para gadis yang hamil online gara-gara Sehun. Semoga kalian tidak kecewa dengan jalan cerita yang sudah saya reng-reng (bahasa apa sih ini?) jauh-juah hari.

Walaupun saya prediksi banyak yang bakal berkomentar, "Kog gitu sih, thor! Adek ngga rela!", saya akan sangat amat maklum. Ada kalanya jalan hidup orang itu ngga selalu semulus kaki mbak-mbak SNSD. Kata dosen saya mata kuliah solution focused brief theraphy "Masa lalu itu kek spion, bolehnya di tengok sesekali doang, yang paling penting adalah sekarang dan masa depan." Jadi yang penting masa depan kaisoo yekan? Yekan?

Dari pada author mulai ngelantur ngga jelas. Sekian pidato dari saya.

10

It's A Cheesy Love Story

.

.

"Aku tidak tau perasaan apa ini, aku tidak tau apa yang membuatku sekacau ini hanya karena mendengarmu akan meninggalkanku."

.

.

Semua siswa berdesak-desakan melihat peruntungan mereka pada tes kali ini. Begitu juga Kyungsoo yang sudah tak sabar melihat hasil belajarnya kali ini. Dengan badan kecilnya ia menerobos kerumunan, namun tak juga mencapai papan pengumuman karena banyaknya siswa yang juga penasaran. Tapi netranya melihat punggung seseorang yang ia kenali.

"Jonginie!" panggilnya sambil menepuk pelan bahu Jongin. Jongin menoleh melihat siapa yang menepuknya. "Kau sudah melihat pengumumannya? Aku peringkat berapa?" tanya Kyungsoo tak sabaran.

"Maafkan aku.." ucap Jongin bernada sedih. Kyungsoo mulai gelagapan dan mencari celah agar dapat melihat seberapa mengenaskan peringkatnya. 1. Kim Suho, 2. Kim Jongin, Irene, 4. Kim Chen, 5. Do Kyungsoo.

"Do Kyungsoo..." ucap Kyungsoo lirih. "Aku!" ia menunnjuk dirinya sendiri seperti korban tabrak lari yang kehilangan ingatannya. "Aku...Akuuu! Aku berhasill!" pekiknya girang tersadar jika namanya masuk lima besar.

Ketika ia ingin keluar dari kerumunan, dirinya menemukan Jongin melipat tangannya di dada sambil tersenyum bahagia melihat murid satu-satunya akhirnya berhasil menduduki lima besar. Butuh perjuangan ekstra ngomong-ngomong. Ia sampai membuat 100 soal tiap mata pelajaran, memperkirakan soal-soal yang mungkin di keluarkan. Jongin sampai tertawa geli melihat dirinya sudah seperti cenayang.

"Akuuuu berhasillll, Jonginieee!" Kyungsoo yang masih terbawa euforia keberhasilannya tanpa pikir panjang menabrakan dirinya ke tubuh Jongin. Memeluknya dengan erat. Jangan ditanya bagaimana keadaan Jongin sekarang. Shock sudah pasti. Sampai dirinya mendapat serangan jantung kecil secara mendadak.

Kyungsoo mengangkat wajahnya memandang orang yang ia peluk. "Terima kasih, Jonginie~" ucapnya lalu berjinjit memberikan kecupan ringan di pipi Jongin.

Chup. Satu kecupan yang membuat kesadaran Jongin bercerai-berai. Ia tak mendapat serangan jantung kecil lagi, sekarang dirinya yakin jatungnya sudah menggelinding jauh lalu meledak dengan tiba-tiba. Kurasa Jongin perlu ambulance sekarang juga.

"E-eh...maafkan aku. Aku terlalu bahagia" Kyungsoo melepaskan pelukannya dan membungkuk minta-maaf. Sedangkan Jongin masih berdiri memegangi pipinya seperti orang bodoh. Melihat kondisi Jongin yang memprihatikan Kyungsoo berinisiatif melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jongin.

"Kurasa pipiku yang satunya akan iri" ungkap Jongin membuat pipi tembam Kyungsoo bersemu merah. "Kalau tidak mau ya sudah, padahal aku punya kado untukmu lho!" Jongin menyeringai jahil lupa jika beberapa detik yang lalu dirinya seperti orang bodoh hanya karena sebuah kecupan ringan.

Kyungsoo menekuk wajahnya seolah-olah dirinya sedih tak jadi di beri hadiah. "Kemarikan tanganmu!" pinta Jongin. Kyungsoo mengulurkan tangan kirinya, Jongin mulai melingkarkan gelang tali berwarna hitam berbandul kayu berbentuk daun dimana terukir huruf J di tengah daun. Kyungsoo baru sadar jika tangan kanan Jongin juga memakai gelang yang sama hanya saja bukan huruf J disana tapi K.

Jongin menyunggikan senyumnya takala gelang itu sudah melikar di tangan putih Kyungsoo. Tanpa Kyungsoo tau ketika mereka di Jeju diam-diam Jongin pergi ke toko souvernir dan meminta sang pengrajin mengajarinya membuat sebuah gelang.

Dari kejauhan Luhan melihat semuanya tanpa kecuali. "Apa aku terkena serangan halusinasi mendadak? Siapa pun tolong sadarkan aku!" Menjawab gumanan tak jelasnya, pipi mulusnya tiba-tiba di cubit dengan keras oleh sebuah tangan, sampai Luhan mengaduh kesakitan.

"Yakkk! Appooo!" pekiknya melihat pemuda jakung berdiri di dekatnya dengan wajah datar.

"Apa? Aku hanya membantu thaja, kau butuh di thadarkan kan?" sahut Sehun mendapat tatapan murka dari Luhan.

"Apakah Suho tau ini semua? Ya Tahun Kyungie ku yang polos kenapa jadi begini" keluh Luhan merutuki apa yang dilihatnya.

"Thuho tak akan tahu, jika mulut thekthimu tetap menutup rapat. Thuho pasthi tak thuka mendengar kedekatan mereka. Aku tak berminat melihat adu jototh"

Luhan menatap Sehun heran. "Apa thih? Thehun memang tampan, tapi liatnya biatha thaja" ujar Sehun dengan pedenya.

"Kau cadel?"

Sehun langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan besar dan panjangnya. "Aaiiththhhhh...pathhi karena Thehun hauth biathanya thehun tidak cadel, theriuth. Lulu punya thuthu?"

"Lulu? Kau memanggilku Lulu? Kau minta apa? Thuthu?" Luhan bingung sebenarnya bocah ini ngomong apa sih.

Sehun kesal sendiri karena Luhan tak juga paham, akhirnya ia berpikir sebentar lalu ide melintas di benaknya. "Aku bertanya apa kau punya thuthu?" ucapnya sambil mengarahkan pandangannya ke payudara Luhan yang terbungkus seragam sekolah.

"Thuthu!" cicit Luhan melirik area tubuhnya yang menonjol tersebut. "Yakkk! Mesumm! Mau mati kau ya!" sembur Luhan murka.

"Ya ampun Thehun kan hanya menjelaskan kata thuthu bukan thuthu-nya dari thitu. Orang tampan thelalu thalah. Huft...Thehun capek!" Sehun nyelonong pergi meninggalkan Luhan yang masih bersumpah serapah.

.

.

~ It's A Cheesy Love Story ~

.

.

Di kediaman keluarga Kim sedang mengadakan makam malam bersama. Kim Siwon selaku kepala keluarga berada di ujung meja, sedangkan sebelah kanan berisi Nyonya Kim Jessica dan Suho dan sebelah kiri diisi Kim Tao. Namun makan malam mereka belum juga dimulai karena masih ada satu orang yang di tunggu oleh si kepala keluarga.

Langkah kaki terdengar memasuki ruang makan mereka yang megah. "Maaf aku terlambat. Aku ada urusan dengan teman-temanku" ucap Jongin segera duduk di sebelah Tao.

"Anak-anak berandalan itu pasti"cerca Tao pelan namun Kim Jongin dan Kim Siwon dapat mendengarnya dengan jelas. Kim Siwon hanya bisa menghela nafas maklum sifat putrinya yang satu ini.

"Ya memang mereka semua berandalan. Maaf jika itu membuatmu malu ataupun kesal, Tao-ssi," sahut Jongin setenang mungkin.

"Kau pasti salah menilai Tao-ya. Aku sempat bertemu dengan temannya Chanyeol, dia sopan dan sangat ramah. Oh iya dia juga tampan dengan senyum lebarnya...aku tidak keberatan jika kau dengannya Tao-ya" tutur Siwon

Chanyeol? Jongin tidak tau kenapa kawannya itu menemui pamannya. Apa yang sedang kau rencanakan, Chan? Hal yang sama juga melintas di pikiran Suho. Jarang-jarang teman Jongin bertemu dengan appa-nya.

"Lebih baik aku menjomblo hingga tua, appa" Tao bersungut tak suka. Kim Siwon hanya menanggapi dengan tertawa tipis.

"Aku senang bisa makan malam dengan keluargaku lagi, mengingat kesibukan kalian yang begitu padat." Kim Siwon melirik istrinya yang tak bersuara sedari tadi. "Aku ingin memberikan kabar bahagia. Aku sudah setuju jika Suho akan bertunangan dengan kekasihnya sebulan lagi. Bukankah begitu?"

"Ya, Appa. Aku akan memberi tahunya nanti ketika malam pentas seni sekolah. Dan aku punya satu permintaan lagi, appa." Kim Siwon menaikan sebelah alisnya, memberikan isyarat agar putrnya menyatakan permintaannya. "Kyungsoo masuk lima besar dalam tes kali ini, sebagai hadiah akan keberhasilannya maukah apaa membantuku menghilangkan dan menindak tegas semua bentuk bullying di sekolah kami? Kurasa appa bisa mengkonsultasikannya dengan Pak Lee."

Tao langsung pucat pasi mendengar pemintaan kakaknya.

"Tentu aku akan mengabulkannya" balas Kim Siwon yakin. "Apa Kyungsoo juga jadi korban bully di sekolahnya?"

"Tentu tidak, appa. Hanya saja sahabatnya dulu jadi korban bully beberapa siswi, sekarang sahabatnya sudah pindah. Ia hanya tak mau kejadian tersebut menimpa siswa yang lain"

"Aku cukup kagum dengannya, kurasa hatinya sangat lembut. Bagaimana menurutmu, Jess?" Kim Siwon meminta pendapat istrinya. Walaupun hubungan mereka tak begitu baik tapi Siwon tetap menempatkan Jessica sebagi istrinya.

"Ya, aku setuju. Kurasa dia gadis yang baik. Eomma sarankan jangan buru-buru, kalian masih muda. Yakin kan dulu perasaan kalian. Kau tak ingin menjalin pertunangan maupun pernikahan dengan keragu-raguan bukan?" ucap Jessica kepada putrannya.

"Jess...!" tegur Siwon merasa istrinya mencoba menyindir hubungan mereka berdua.

"Suho harus tau. Jangan sampai ketika menikah nanti kau menyesal karena baru sadar yang kau cintai bukanlah istri maupun suamimu. Kau tak akan bahagia jika memaksakan perasaan seseorang hanya karena ego dan harga diri" lanjut Jessica tak menghiraukan teguran suaminya. Entah perasaan Jongin saja atau memang benar jika bibinya sedang memandangnya lekat-lekat.

"Baik, eomma." Suho yang sudah paham keluarganya yang memaksakan untuk utuh hanya bisa mengiyakan nasihat eommanya. Mereka lebih banyak makan asam garam.

"Bagaimana denganmu, Jongin? Apakah kau akan segera menyusul Suho setelah tidak berhasil dengan Nona dari keluarga Jung?" Siwon mengalihkan pembicaraan karena merasa tak nyaman urusan keluarganya sampai di dengar keponakannya.

"Belum, samchon. Kurasa aku belum seberuntung Suho mendapatkan gadis seperti Kyungsoo" Jongin menekan kalimatnya di akhir.

Kedua mata pemuda keluarga Kim itu saling beradu pandang. Menerka-nerka pikiran satu sama lain. Bagi Suho, foto antara Kyungsoo dan Jongin mungkin hanya cara Jongin membalas dendam, tapi dalam hati kecilnya merasa ada banyak hal yang tak ia ketahui.

"Apa gadis yang kau sukai menolak keponakan paman yang tampan ini?

"Aku belum menyatakan perasaanku, samchon. Tapi setelah mendengar Suho akan bertunangan, sepertinya aku akan menyatakan perasaanku secepatnya. Siapa tau gadis yang kusukai juga akan bertunangan, aku tidak akan rela jika itu terjadi." Ucap Jongin membuat tangan Suho diam-diam mengepal di bawah meja.

"Mendengarmu berkata begitu, kurasa kau lebih mirip eommamu. Semoga berhasil, nak! Baiklah ayo kita makan, pasti kalian sudah lapar" Siwon memberikan kode kepada pelayan untuk menghidangkan malam spesial ini. Semuanya mulai menyantap makanan dengan khidmat kecuali Nyonya Kim yang duduk terpaku dengan garpu dan pisau tak kunjung membelah potongan daging panggang bertabur saus yang menggoda lidah. Pikirannya melayang etah kemana.

"Yuri-ssi ya..tentu... mana mungkin ia mirip appanya" Jessica menarik ujung bibirnya sambil memperhatikan suaminya sedang menyantap makanannya.

.

.

.

H-1. Kyungsoo sudah merampungkan gerakan dancenya yang bercampur tarian traditional Korea. Dimulai dengan kelembutan dari tarian Korea di akhiri gerakan energik khas dance modern. Bahkan Lay hampir menyelesaikan memodifikasi hanbok yang akan di gunakan Kyungsoo hingga nantinya bagian Chima (Rok Hanbok) nya dapat di singkap ke belakang, digantikan celana panjang ketat memperlihatkan kaki ramping Kyungsoo. Sedangkan Jeogori (bagian atas baju) di lepas. Begitu bayangan Lay.

"Lebih baik kau cepet beristirahat, Kyung! Jangan khawatirkan perfommu. Pasti hasilnya bagus, kau sudah berusaha keras," ujaar Baekhyun meminta Kyungsoo berhenti berlatih.

"Aku takut lupa gerakannya, baek!" keluh Kyungsoo.

"Tak apa, aku akan di belakang penonton memberikanmu instruksi jika kau lupa gerakannya, " bujuk Baekhyun (Dulu guru sanggar tari author pernah ngibul kaya gini nih biar anak-anaknya ngga resah gelisah #curhat dikit yap)

"Terima kasih baek! Kalau begitu aku pulang duluan. Sampai jumpa besokk!" Kyungsoo memberikan pelukan satu persatu pada kawannya mulai dari Baekhyun, Lay, dan Luhan.

Luhan sampai harus memaksakan senyumnya ketika gelangang yang di pakaian Jongin melingkar di tangan kiri Kyungsoo. Luhan sangat dilema saat ini, haruskah ia membiarkan kawan kecilnya ini bersama orang yang ia pilih walaupun harus menghianati gengnya sendiri. Walaupun nantinya Kyungsoo berakhir seperti Baekhyun.

"Seperti Baek.." ucap Luhan lirih.

"Akhhh!" jerit Lay yang jari telunjuknya tertusuk jarum hingga darahnya mengenai Chima Kyungsoo yang berwarna putih. "What the.. hanya tinggal satu bunga saja padahal. Jarum sialan!" maki Lay buru-buru mencari obat merah dan plester.

Melihat Chima yang bernoda darah membuat hati Luhan semakin tak karu-karuan. "Kenapa perasaanku jadi tidak enak..." guman Luhan memeganggi dadanya. Baekhyun sampai mengerutkan dahinya melihat Luhan terlihat lebih resah di banding Kyungsoo yang besok malam perform untuk pertama kalinya.

.

.

"Kenapa perasaanku jadi tidak enak..."di tempat lain Chanyeol juga menggumamkan hal yang sama. Dirinya sedang bersama Taehyung, Chanyeol mencari teman untuk menemaninya membuat lagu dengan gitar yang ia bawa dan Taehyun adalah teman yang cocok. Tidak berisik dan sibuk sendiri dengan laptopnya. Entah apa yang ia kerjakan. Membobol uang atau situs presiden mungkin. Entalah, Chanyeol tak peduli.

"Karena kau terlalu banyak menulis lagu sedih, hyung!" sahut Taehyung tanpa menengok ke arah hyungnya.

"Aku tidak sedang bercanda, Tae..."

"Aku kan hanya menyahuti saja biar hyung tidak seperti orang gila berbicara sendiri."

"Eh, hyung...hyung yang lain kemana? Kenapa tiba-tiba hari ini hujan deras?" tanya Taehyung menatap jendela cafe yang yang di penuhi air hujan yang membuat jalur di kaca.

"Entalah, mungkin karena hujan mereka jadi tidak berkumpul seperti biasa. Mungkin Yifan sedang menghangatkan ranjangnya. Sehun pasti sedang membuat susu panas. Jongin paling sedang latihan dance dengan Taemin kembarannya (?). Aiishh...kenapa perasaanku jadi begini? Apa efek hujan?" Chanyeol jadi ikut memandangi jendela cafe.

"Malam yang di selimuti awan gelap, hujan yang turun, petir yang menyambar-nyambar, jalanan yang sepi. Bukankah ini seperti latar di film-film kriminal atau mungkin sebuah adegan sedih menguras air mata." Tebak Taehyung mendramatisir keadaan.

Masih dalam posisi memandangi hujan dari balik kaca cafe sambil memangku gitarnya, raut wajah Chanyeol menjadi sendu. Perasaanya tidak tenang. "Tae~...perasaanku sangat kacau tanpa sebab. Mungkin hal buruk akan terjadi. Sebelum aku menangis meraung-raung karena hal buruk tersebut – "

"Hyung, kau ingin apa?" potong Taehyung tak tahan mendengar hyungnya mengoceh mendramatisir suasana lebih dari yang ia lakukan tadi.

"Maukah kau memelukku, Tae~?"

"Demi celana dalam Sehun hyung harus impor dari Amerika karena ukurannya yang abnormal... Aku masih 'lurus' dan waras, hyung!" tolak Taehyung kejam.

"Baiklah, terima kasih infonya" balas Chanyeol lemah.

.

.

.

Kyungsoo menyusuri jalan menuju halte terdekat sambil membawa payung. Kyungsoo juga heran kenapa hari ini tiba-tiba hujan datang padahal tadi siang langit masih cerah. Ia merogoh saku celana sport-nya merasa handphonenya bergetar tanda telepon masuk. Jonginie.

"Hallo. Siapa pun anda tolong bawa kekasih anda pulang. Ia mabuk berat dan saya sekarang harus menutup kedai. Kedai bibi ada di persimpangan dekat taman pinggir sungai han. Kalau bisa datanglah secepat mungkin."Cepat-cepat Kyungsoo menyetop taksi kalau menunggu bus bisa-bisa Jongin sudah di depak jadi gelandangan.

Setelah berputar-putar di taman pinggir sungai han akhirnya ia menemukan pemuda yang duduk sendirian di kursi kedai, kepalanya ia sandarkan di meja. Mejanya penuh botol botol kosong. Seorang perempuan setengah baya dengan celemek lusuh membereskan meja lainnya bersiap menutup kedai. Bibi pemilik kedai itu mendatangi Kyungsoo.

"Maafkan bibi, kau harus kesini di tengah hujan seperti ini. Hanya nomormu yang bisa bibi hubungi, aku sudah menelpon dua nomor terakhir yang sering pemuda ini hubungi tapi tidak di angkat," ucap bibi itu sambil mencoba membangunkan Jongin. Jongin hanya melenguh pelan tak menanggapi sang bibi pemilik kedai.

"Tidak apa, bi. Saya akan mengurusnya." Kyungsoo mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Jongin. Tidak mungkin kan dia menggendong tubuh besarnya. "Jongin, kau harus pulang!"

Mendengar suara Kyungsoo, Jongin membuka matanya lalu berguman layakya orang teler. "Kyungsoo~"

"Ya, ini aku. Ayo kita pulang, kau minum terlalu banyak."

Di tengah hujan yang mengguyur kota Seoul bergitu deras. Kyungsoo keluar dari taksi sambil memapah tubuh pemuda yang lebih besar darinya tanpa payung. Akan sulit memapah Jongin sambil membawa payung. "Harusnya ku seret saja!" rutuk Kyungsoo sudah di depan pintu studio Jongin.

"Mana kunci studiomu?" tanya Kyungsoo. Jongin tak menjawab apa pun. Kyungsoo mengecek kantong saku jaket Jongin. Tidak ada. Tangan kecilnya merambat ke saku celana Jongin, tangannya merasakan tekstur besi bergelombang. Dapat.

"Sshhhhh..aahh..!" Tiba-tiba bibir plum Jongin mendesah pelan merasakan gerakan kecil membelai pahanya.

"H-huh?" mata Kyungsoo mengerjap bingung. Namun melanjutkan aktifitasnya membuka pintu. Bahunya sudah sangat pegal sekarang.

Kyungsoo mendudukan Jongin di matras di tempat Jongin biasa latihan dance. Kyungsoo terlalu capek untuk menggiringnya sampai ke kamar. Studio Jongin gelap, sehingga Kyungsoo mencari sakelar lampu tapi sudah berkali-kali ia memencetnya namun tak juga hidup lampunya. "Aisshh...pasti gara-gara hujan deras listrik jadi padam."

Kyungsoo kembali menghampiri Jongin yang duduk tertunduk di atas matras dan bersandar pada tembok kaca. Lalu duduk di sampingnya. Kyungsoo takut gelap. Setidaknya ada sama-sama manusia di tempat gelap seperti ini. Jika setan muncul setidaknya ia bisa melempar Jongin sebagai tameng.

"Soo-ya~" pangil Jongin serak sambil mengangkat kepalanya menghadap Kyungsoo. Mau tak mau Kyungsoo menoleh. Dirinya baru sadar mata pemuda di hadapannya ini tak seceria biasanya, matanya sayu seperti sedang bersedih.

Tiba-tiba bibir plum tersebut mendekat ke arah bibir lainya yang berbentuk hati. Kyungsoo langsung memalingkan wajahnya. Jongin menarik kepalanya sedikit menjauh, menatap wajah Kyungsoo lekat-lekat mencari jawaban atas penolakan yang ia terima.

"Jangan tinggalkan aku!" ucap Jongin lirih. Dengan jarak sedekat ini Kyungsoo mampu mencium bau alkohol yang keluar dari mulutnya. "Aku tidak tau perasaan apa ini, aku tidak tau apa yang membuatku sekacau ini hanya karena mendengarmu akan meninggalkanku. Aku dan ...Suho - " Jongin menyebut nama itu dengan pelan namun tak dapat menyembunyikann amarahnya.

"Dapatkah kau memilihku?" meskipun itu sebuah pertanyaan namun Jongin mengucapkannya sarat akan pemohonan. Tanpa sadar tangan Kyungsoo sudah berada di sebuah dada bidang dan mencengkaram kuat kain jaket yang melapisinya. "Tidak! Tidak, Jongin! Aku tak dapat memilih!" Kyungsoo menggeleng kuat.

Pandangan Jongin berkabut karena amarah dan perasaan kecewa menyelubungi hatinya. Kyungsoo merasakan pundahknya di cengkam sangat kuat hingga tulangnya bisa remuk kapan saja. Diiringi dengan Jongin menyambar kasar bibirnya lalu melumat dan mengisapnya tanpa henti. Tak lupa menggigit bibir bawah Kyungsoo agar lindahnya dapat mengabsen satu persatu gigi yang tubuh disana.

"Hhmmm...ummmhhh...J-jongg...mhhh.."

Tangan kekarnya berpindah ke tengkuk, menekan kepala Kyungsoo untuk memperdalam ciumannya. Manis dan memabukkan, Jongin rasa ia akan bertambah mabuk. Sedangkan, tangan Jongin satunya menelusup ke dalam kaos. Merasakan kulit halus perut menyentuh tangannya. Tangannya semakin merambat ke atas, menemukan gundukan yang terbungkus bra.

Kyungsoo semakin memberontak mendorong tubuh Jongin menjauh dari tubuhnya. Cukup untuk menghentikan aksi cabul Jongin. Jongin mengusap saliva yang menetes dari bibirnya, mata tajamnya menatap Kyungsoo mencoba menafas dengan benar. Dengan dada yang naik turun dan bibir bengkak, ohh jangan lupakan saliva yang juga menjuntai di bibirnya yang terbuka. Sungguh merupakan pemandangan yang erotis.

"Sadarkan dirimu, Jongin!" seru Kyungsoo.

JDERRR! Petir yang menyambar membuat kilatan cahaya menerpa wajah Jongin. Membuat Kyungsoo melihat dengan jelas ekspresi pemuda di depannya ini walau hanya hitungan detik saja. Seperti anak kecil terbuang yang menodong siapa pun yang melintas di hadapannya dengan pistol.

Pikiran Jongin mulai menggelap. Kesadarannya yang minim membuat nafsu mulai mengambil alih dirinya di tambah libidonya yang terus meningkat semenjak mengecap kembali bibir gadis yang ia cintai. Bagi pro seperti dirinya hal yang mudah membuat lawannya tak berkutik, bahkan wanita seliar Kyrstal saja berakhir kewalahan setiap kali Jongin menyentuh dan menyetubuhinya seperti binatang.

Jongin menindih tubuh kecil Kyungsoo dan merobek paksa kaosnya hingga terbelah menjadi dua lalu melemparnya tak tentu arah. Kyungsoo yang terus memberontak akhirnya harus pasrah ketika tangan kecilnya di cekal dan di tahan di atas kepalanya.

Mata Kyungsoo sudah berkaca-kaca dan terus berusaha menyadarkan Jongin dengan pekikan ketakutannya. "Jonginnn...hiks..hiks..kumohon sadarlah!" Jongin seakan menulikan telinganya malah membungkam bibir bengkak itu kembali. Puas dengan bibir hati, bibirnya mulai menjelajah leher mulus dan putih itu dengan hisapan dan gigitan hingga meninggalkan hickey. "Sssshhh...Jonggg...h-hent-tikannnn...ngghhh!"

Desahan Kyungsoo membuat Jongin lebih besemangat menjelajah leher ke dada. Melihat kedua bukit masih tertutup bra, tangan kanan jongin yang menganggur menarik bra tersebut ke atas hingga membuat puyudara Kyungsoo tertekan dan menyembul ke pangkal payudaranya. Payudara ranum dan kencang dengan puting coklat muda bersemu pink. Hanya melihatnya saja siapa pun pasti yakin betapa lembutnya kulit payudara Kyungsoo.

Melihat hidangannya sudah tak tertutup apa pun Jongin langsung melahapnya, menyedotnya dengan kuat, menarik dan menggigitnya hingga Kyungsoo memekik keras menahan sakit di kedua buah payudaranya. Karena payudara satunya tak luput dari tangan Jongin yang menganggur. Ia meremasnya dengan kuat di selingi dengan mencubit dan menarik putingnya hingga menjadi tegang dan kemerahan.

Bibir Jongin terus merambat turun hingga perut rata Kyungsoo. Kyungsoo merasakan gelombang gelayar aneh di perutnya hingga membuatnya bergerak-gerak tak nyaman dengan semua sentuhan ini. Hingga akhirnya Jongin melepaskan cengkraman di kedua tangannya untuk membuka jaket dan bajunya sendiri hingga bertelanjang dada. Di lanjutkan dengan melucuti celana sport yang Kyungsoo pakai.

Kyungsoo sekarang hanya mengenakan bra yang tak berfungsi sebagai mestinya dan celana dalam hitam masih bertengger di tempatnya, setidaknya sampai saat ini. Kurasa Jongin tak menyukai celana dalam itu, dia langsung meloloskannya dari kaki jenjang Kyungsoo. Tanpa buang-buang waktu, Kyungsoo di paksa melebarkan kedua pahanya hingga mengkangkang lebar menampilkan varginanya yang tembam dan berwarna merah muda menggoda.

Dengan gairah yang sudah di ubun-ubun, Jongin melepaskan ikat pinggangnya dan menurunkan zipper celanya. Kejantanannya yang sedari tadi menggembung di balik celana jeans sekarang mengacung tegak dengan gagahnya. Kecoklatan seperti warna kulit sang pemilik. Tak bunuh waktu lama ia langsung menerobos masuk ke liang vargina di depannya.

JLEB!

"Akhhhhh!" jerit Kyungsoo sampai reflek mengatupkan pahanya dan mengcengkram matras untuk meredakan rasa sakitnya. Air matanya mengalir tanpa di suruh. Kyungsoo tidak tau seberapa banyak alkohol yang meracuni pikiran Jongin hingga melupakan fakta bahwa dirinya adalah seorang gadis perawan yang belum tersentuh siapa pun.

Tanpa foreplay lebih. Tanpa menyiapkan varginanya. Tanpa pelumas. Beruntung varginanya tidak terlalu kering akibat rangsangan yang diberikan Jongin sebelumnya.

Jongin melebarkan kembali paha Kyungsoo yang mengatup.

JLEB! Hentakan yang kedua kalinya. Lebih kuat.

"Akkkhhhhh...S-Sa-kitttt...!" begitu jeritaan Kyungsoo merasa kesakitan yang amat sangat karena batang besar dan panjang tersebut berhasil menerobos penghalang di dalam sana hingga darah mengalir di selakangannya. Rasanya varginanya terbelah menjadi dua. Begitu penuh dan perih.

Melihat wajah Kyungsoo tanpak sangat kesakitan hingga dahinya berkerut dengan mata terpejam dan berpaling ke kanan. Hati kecil Jongin menyuruhnya mendiamkan miliknya di dalam sana, walaupun rasanya ingin segera bergerak di lubang sempit yang memijat-mijatnya sangat memanjakannya tersebut. "Ssshhh..ahhhh..." desahan Jongin takala penisnya diremas sangat kuat.

Jongin mengusap dahi Kyungsoo yang bercucuran keringat dan memberikan kecupan di dahinya, mata, pipi, dan berakhir di bibir ditambah lumatan-lumatan lembut. Mendapat perlakuan yang tiba-tiba melembut dari Jongin membuat hati Kyungsoo sedikit menghangat.

"Hiks...hiks..hiks...S-sakitttt...hiks..hiks...!" tangis pilu Kyungsoo terdengar nyaring di ruang studio yang gelap.

"Aouwhhh...nggghhhhh...J-jongg-innn...!." rasa sakitnya bertambah berkali kali lipat ketika penis Jongin yang tertanam sempurna bergerak menghentak-hentak lubang ketatnya.

"Hiks...hiks...Jooonggg! hiks...k-ku-moh-honnnn hen-tikannnn...hiks...hiks."

"Ukkkhhh...sshhhnhhhh...Jonginnnnn!"

"H-hen-hentikannnnn...ngghhh,,,!"

"Ahh...ahh...ahhh..."

Jongin memaju mundurkan miliknya dengan keras dan tanpa ampun. Mencari kenikmatan sendiri di dalam sana. Ia tak pernah merasakan penyatuan senikmat ini, apalagi payudara Kyungsoo yang ikut naik turun mengikuti irama hentakannya. Wajah sayu Kyungsoo bahkan genangan air mata yang membasahi pipinya hingga turun ke lehernya bercampur keringat malah membuatnya semakin seksi.

Kyungsoo mulai lelah terus memohon dan mendesah dalam waktu bersamaan. Dinding varginanya serasa di gesek dan digaruk dengan penis keras Jongin. Gesekan tersebebut membuatnya perih. Mungkin jika dirinya bisa melihat keadaan dalam varginanya, mungkin disana sudah banyak luka lecet yang di timbulkan.

Ketika merasakan vargina Kyung berkedut-kedut akan sampai puncaknya. Jongin malah membalik tubuh Kyungsoo yang sudah tak bertenaga tanpa melepas penyatuan. Tangan kekarnya mengangkat pinggul Kyungsoo untuk menungging, sehingga Kungsoo hanya bisa menitikan bebannya pada siku dan lutut.

Dengan gerakan memutar, Jongin mengelus pelan bokong kenyal putih bersih itu lalu memberikan tamparan cukup keras.

PLAKKK!

"A-akhhhh!" jerit Kyungsoo mencapai klimaks-nya membuat Jongin menyeringai.

PLAKK!

"Akh! Stopp..."

PLAKKKK!

"Aaahhh...mmhhhh.!"

Merasa cukup, dirinya menggenjot lagi lebih keras, cepat dan panas. Sampai ujung penisnya merasakan area yang sangat lembut, yang dirinya duga adalah mulut rahim. Menemukan titik yang pas, Jongin jadi semakin gencar mencari puncaknya sendiri namun merasakan tubuh Kyungsoo semakin lemas dirinya mencoba membangkitkan gairah lawan mainnya dengan menciumi pundak seksi dan membuang bra yang menghangi aktifitasnya. Tagannya menjalar dari perut ke bawah ketiak berbelok ke pangkal payudara. Membuat remasan pelan namun kuat disana.

"Ngghhhhh..ummmhhhh.." geraman nikmat keluar dari bibir hati tersebut. Kyungsoo sampai mengadahkan kepalanya tak bisa mengimbangi sentuhan memabukkan. Kyungsoo dapat melihat pantulan dirinya dari kaca. Tubuhnya mengkilat keringat, posisi menungging membuat payudaranya mengantung bebas dengan sebuah tangan sibuk meremas layaknya memerah susu, rambutnya berantakan hampir menutupi wajahnya dan ujungnya menjuntai kedepan dadanya membuat efek erotis pada payudaranya yang mengantung.

Crot! Croootttt!

Cairan hangat menyembur memenuhi rahimnya. Kyungsoo tidak tau seberapa banyak sperma yang Jongin keluarkan di rahimnya hingga merasakan aliran hangat melewati rahimnya dan sekarang ia juga merasa kembung karena sperma. Kepalanya menjadi pening dan berputar-putar hingga tak bisa menyangga tubuhnya lagi.

BRUKKK!

Jongin dengan sigap menahan kepala Kyungsoo agar tak membentur lantai karena matras yang menjadi saksi bisu permainan panas mereka sudah melenceng dari tempatnya semula. Ia mencabut miliknya dan memangku badan telanjang tersebut, mentransfer tenaganya dengan memberikan ciuman lembut penuh gairah. Kyungsoo hanya bisa melihat apa yang di lakukan Jongin tanpa bereaksi apa pun, ia hanya menerimanya dengan pasrah...percuma saja memberontak.

Ia baru sadar Jongin tak mengatakan apa pun selama memaksanya bercinta. Apakah Jongin dalam keadaan sadar?

"Jonginiee~" panggil Kyungsoo ingin menanyakan pertanyaan di pikirannya. Namun dirinya terkejut tiba-tiba benda di bawah bokongnya menjadi keras dan berkedut. Oh tidak ini tidak baik! Pikir Kyungsoo. Kyungsoo tak mau menambah ronde untuk acara pemerkosaannya.

Tanpa aba-aba Jongin mengangkat tubuhnya yang seringan kapas dan membopongnya ke kamar. Melemparnya ke ranjang yang tak asing lagi bagi Kyungsoo. Disana Jongin mulai menyetubuhinya lagi dengan brutal.

Lagi. lagi. Dan lagi.

Seperti tak ada hari esok lagi untuk menyentuhnya. Kyungsoo tidak tau sampai kapan pemuda di atasnya ini akan puas dan merasa cukup. Mungkin sampai dirinya pingsan pun tidak akan cukup.

Malam ini..malam yang seharusnya Kyungsoo bisa beristirahat dengan tenang dan mengumpulkan engerginya untuk sebuah tarian indah di atas panggung berubah menjadi malam yang panjang di sertai jeritan dan desahan berlatar belakang suara hujan lebat yang tak juga reda.

TBC

Note:

UUWAAHHHHH! GILA!GILA! GILA! *Authornya otw ke Pak Kyai minta rukiyah*