CACTH ME. If You Wanna.
Sherry Kim

.
.

Changmin bersiul senang melihat Yunho beserta mobil mewah pria itu sudah terparkir di depan gerbang sekolah saat jam pulang sore itu.

Sekolah memang bebas untuk hari ini, tapi mereka di wajibkan untuk pulang lewat dari jam dua sore dan sekarang jam menunjukan jam dua lebih lima menit.

Sekali lagi, mata bambi Changmin berbinar-binar melongok ke luar gerbang sekolah lewat aula. Bukan memperhatikan Yunho, bukan! Tetapi mobil kinclong milik wakil Directure tampan itu yang hampir menyamai jidat kinclong paman tersayangnya, Yoochun.

Astaga, pasti mobil itu pastilah sangat mahal, Changmin berjanji akan meminta ayahnya untuk membelikan mobil seperti itu. Ia tertawa dalam hati. Berkacak pinggang, Changmin mendesak sengsara. Kapan ibunda tercintanya itu akan memberinya ijin untuk menyetir sendiri.

Diam diam ia kembali memperhatikan paman tampan yang saat ini berdiri di sana sambil melirik jam tangan yang pasti juga mahal. Dasar orang kaya beli mobil seperti beli celana dalam. Gonta ganti setiap hari. Grutunya.

"Seingatku, bukankah mobilnya laborgini? Dan kenapa sekarang ganti merek dan warna lain?" Seseorang menyuarakan kata kata yang Changmin ucapkan dalam hati dengan lantang.

"Aku juga berpikir begitu." Changmin membenarkan. Pemuda itu mengusap dagu pelan. Mata bambinya menyipit melirik Jaejoong yang sudah berdiri di sisinya entah sejak kapan.

"Kenapa masih di sini?" Tudingnya ngeri. Hey ia sudah menerima uang lelang Jaejoong dan jangan katakan pemuda itu berniat kabur tanpa kencan bersama pria yang sudah membelinya? Membiarkan Changmin menanggung utang satu juta won karena uang itu sudah masuk yayasan amal beberapa menit lalu. "Kau sudah aku jual selama sehari pergilah dan kuras kantong paman kaya itu."

Tangan Jaejoong menggapai palang pintu gerbang sekolah kala Changmin mendorong pemuda itu dengan tidak elit. "Yunho Hyung." Dasar penghianat. Batin Jaejoong, saat mantan sahabat sejatinya itu memanggil pria pedofil yang telah membelinya.

Ya. Mantan! Karena Jaejoong sudah mengeliminasi pemuda itu dari daftar teman sejati.

Sekuat tenaga tangan Jaejoong tetap bertahan dengan menggenggam jeruji gerbang. Cengkraman itu begitu erat meski Changmin menariknya sekuat tenaga untuk melepasnya.

"Ya Tuhan, kenapa tenagamu begitu besar?" Perkacak pinggang Changmin berputar, berdiri di sisi lain gerbang dengan senyum evil yang membuat Jaejoong merinding. Pemuda itu mengamati wajah Jaejoong yang menempel lekat di antara jeruji gerbang dengan tidak indah untuk di pandang.

"Kalau kau tidak melepaskan jari jarimu dari jeruji ini, Jongie, aku bersumpah," Changmin terdiam sejenak untuk memberi dampak yang lebih mengerikan. "aku akan dengan senang hati menginjak jari-jarimu beserta gerbang ini, tidak peduli jari mungilmu itu patah atau... "Mengambil ancang ancang, Changmin sudah siap menendang saat Jaejoong melepas jemarinya dengan sangat tiba-tiba.

Tubuh pemuda itu terhuyung kebelakang. Astaga, aspal jalan pada jam sesiang ini pasti panas dan keras. Batin Jaejoong nelangsa.

Changmin menutup mata. Jaejoong sendiri berteriak pasrah dan berdoa di setiap detiknya semoga seseorang, siapapun menyelamatkan pantat mungilnya dari hantaman aspal.

Punggung Jaejoong menabrak sesuatu benda keras tapi tidak menyakitkan seperti yang sudah ia bayangkan. Terima kasih Tuhan, bokong sexynya tidak merasa sakit sedikitpun. Percuma ia was-was sampai berkeringat dingin jarena pada akhirnya ia selamat.

Saat ia membuka mata, beberapa siswa siswi yang pada saat itu kebetulan lewat menatapnya dengan mata terbelalak. Bahkan mulut Changmin mengaga sebelum serigai menyebalkan itu kembali muncul di bibir mungil penghianat itu.

"Kau tidak apa apa?" Suara dalam seseorang menyadarkan Jaejoong dari rutukannya untuk Changmin. Ia sadar sepenuhnya bahwa ia berada dalam pelukan seseorang, dan pria itu memeluk oinggangnya begitu erat. Ia memekik dan mendelik kearah Yunho yang berdiri begitu dekat denganya.

"Menjauh dariku." Ujarnya dengan suara marah. Menggeliat seperti ikan kekurangan air sebisanya.

"Tapi... "

"Jongie bilang menjauh dari Jongie." ujarnya manja.

"Kau yakin!"

"Sangat sangat sangat dan sangat yakin. Sekarang!"

"Baiklah." Jaejoong kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung dan seperti yang ia duga, aspal itu kerad dan menyakitkan serta panas pada jam seperti ini.

"Oh." Ia memekik keras saat bokong sexynya mendarat dengan suara yang mampu membuat semua orang di sekeliling tertawa terbahak bahak. Bahkan ia mendengar sahabatnya Changmin berkata. "Dasar bodoh."

Jaejoong mengaduh cukup keras, mencoba berdiri dengan segenap sisa harga dirinya yang jatuh bersama tubuhnya yang kurus kering. Melotot kepada Yunho ia berkata galak. "Kenapa kau melepaskanku?"

"Kau memintanya."

"Setidaknya beritahu aku sebelum kau melepaskanku, dengan begitu aku tidak akan jatuh." tuding Jaejoong galak.

"Kau bilang sekarang!"

"Setidaknya kau bisa mencari tempat yang lebih empuk untuk menjatuhkanku, bukan?"

Yunho terdiam. Bayangan Yunho menjatuhkan Jaejoong di atas ranjang empuk dengan dirinya menyelinuti pemuda itu di atasnya membuat wajahnya merona. Ia berniat baik dengan mencoba menolong Jaejoong saat Changmin menariknya seperti kambing yang menolak di mandikan, tepat saat Changmin berniat menendang pemuda kesayanganya ia berlari dan Jaejoong jatuh ke dalam pelukannya.

"Kenapa wajahmu merah. Kau ingin menertawaiku?" Tuding Jaejoong.

Menghitung sampai sepuluh. Kesabaran Yunho benar-benar di uji oleh kucing nakal ini. "Baiklah, maafkan aku."Akhirnya ia berkata. Tidak ada gunanya berdebat, hanya akan membuat Jaejoong marah dan merusak kencan mereka sore ini.

Bibir bawah pemuda itu mencebil. "Setidaknya kau tahu kau salah." grutunya sambil mencoba berdiri.

Changmin tertawa terbahak bahak melihat perdebatan terindah sepanjang masa. Ya Tuhan, seharusnya ia merekam pemandangan ini. Karena sungguh, banyak orang akan membayar bagaimana seorang wakil Directure kalah berdebat dengan pemuda ingusan, manja, cengeng seperti Kim Jaejoong.

Dengan suara sebijak ayahnya saat menasehati, Changmin berkata. "Jongie, ingat! Yunho Hyung sudah membelimu selama dua puluh empat jam. Kebetulan besok kita memiliki acara ke panti mengunjungi mereka, jadi kau tidak usah ikut, aku sudah menjelaskan dan mencari alasan kepada kepala sekolah."

Memasang wajah angkuh, Jaejoong menarik tas punggungnya lebih ke atas. Berjalan bak Ratu ingris dengan dagu terangkat penuh wibawa menuju mobil Yunho yang mahal, mengabaikan mantan sahabat sejatinya itu.

Akan tetapi amarah itu lenyap seketika kala mata Doe miliknya melihat mobil kinclong berwarna merah milik Yunho. Lupakan Changmin dan lupakan kalau ia sedang marah. Senyum indah muncul di wajahnya dan melompat lompat menuju mobil Yunho. Juga mobilnya tentu saja! Untuk waktu dua puluh empat jam ke depan. Ia berjanji akan membuat paman tampan itu menyesal telah membelinya.

"Buka pintunya untuk Jongie."

Bahu Yunho terkulai lemas melihat tingka ajaib pemuda kesayangannya itu. Tuhan, semoga ia memiliki cadangan kesabaran untuk tidak mencium dan menyeret Jaejoong ke ranjang malam ini.

Dengan patuh ia membuka pintu untuk pemuda manis itu, ia menyerigai dan mendorong Jaejoong untuk mengikat sabuk pengaman. Mengabaikan sekeliling ia mencuri satu ciuman dan menutup pintu sebelum Jaejoong menyadari apa yang ia lakukan.

..

.

..

Sepanjang perjalanan Jaejoong membisu, tatapan pemuda itu tertuju keluar kaca mobil dengan wajah menempel erat di kaca.

Doe indah miliknya menyipit menatap pesisir pantai berbatu yang indah, tempat yang Jaejoong inginkan untuk acara kencan mereka. Kencan paksa bersama pria yang telah membelinya dengan harga satu juta won.

Jaejoong bersumpah akan mencekik Changmin besok, ia belum puas mencekik pemuda itu hari ini. Bagaimana mungkin sabahatnya itu melelang dirinya, terlebih Yunho yang membelinya. Pria yang tidak ingin ia lihat -untuk saat ini- .

Bahkan pria itu telah mencuri satu ciuman darinya, lagi. Sialan, Jaejoong seorang laki laki dan kenapa jantungnya kembali berdetak tak karuang saat ia diam diam ia melirik pria tampan yang saat ini duduk di balik kemudi.

Dan bagaimana pria itu bisa datang ke Shinki Scholl di saat yang tepat? Apakah Changmin sengaja mengundang pria kaya itu untuk ia rampok?

"Kaca itu kotor Jongie."
Sebelah tangan Yunho menarik bahu pemuda itu untuk duduk dengan benar.

Jaejoong mengibaskan tangan tak suka dan kembali menempelkan wajahnya pada kaca, memunggungi Yunho sepenuhnya.

Yunho melirik Jaejoong yang terdiam sedari tadi. Pemuda itu tidak menatapnya sejak satu jam lalu bahkan mengabaikan apapun yang ia katakan. "Kalau kau tidak suka pantai, kita bisa pergi ke tempat lain."

Saat ini rumah Changmin terdengar menarik bagi Jaejoong karena ia ingin membumi hanguskan rumah beserta pemuda itu.

Hah... Alih-alih ia hanya berkata. "Aku belum pernah ke pantai."

Pengakuan terang terangan itu mengejutkan Yunho. "Benarkan?"

"Apa kau berpikir aku berbohong." Lupakan sopan santun, ia tidak suka berbicara sopan saat sedang marah. Tidak peduli pria itu jauh lebih tua sekalipun.

"Tidak! aku hanya... terkejut."

"Kenapa?"

Membelokkan mobil, Yunho kembali melirik Jaejoong. "Kau jelas marah kepadaku. Apa kau lebih suka orang lain yang membelimu?"

Astaga. Apakah dirinya barang yang bisa di jual belikan dengan mudah?

Mobil berhenti dan Jaejoong segera melompat turun. Pemuda itu berjalan cepat ke arah pesisir pantai yang basah. Ia marah. Marah dan sangat marah. Sampai ingin rasanya mencakar wajah beruang gemuk menyebalkan itu. Hah, beruang gemuk? Sebutan itu sepertinya cocok untuk pria tinggi dan besar seperti Yunho

"Aku marah padamu. Dasar kau pria tidak bertanggung jawab, beruang kutub menyebalkan." Tuduhnya kearah Yunho.

Pria itu bersandar santai pada mobil, menatap penuh tanyadengan geli melihat bibir mungil itu komat kamit tidak jelas. "Jelaskan! Bagian mana yang menurutmu tidak bertanggung jawab dariku?"

"Minggu lalu kau menciumku, mengatakan menyukaiku. Tapi kau bohong. Kau tidak menyukaiku apalagi mencintaiku." tudingnya.

Yunho berdiri tegak. Kakinya mengambil langkah mendekati Jaejoong penuh keyakinan. "Aku memang menyukaimu, itu benar! Aku mencoba menghubungimu tapi kau tidak mengaktifkan ponselmu?"

Bibir Jaejoong mencebil. Ia benci pria itu. Tidakkah Yunho paham bahwa Jaejoong malu, takut mendengar suara Yunho karena ia merasakan perasaan yang aneh terhadap pria itu. Demi Tuhan, Yunho terlalu tua untuk ia jadikan kekasih. Lima belas tahun, tahun tahun itu sangat banyak sampai ia harus meminjam kaki Jiji Hiro dan kucing kucing kakaknya untuk menghitung.

Mengabaikan Yunho, Jaejoong berputar memunggungi pria itu dengan marah. Melempar kedua sepatunya sembarang kearah pria itu lalu melangkah menjauh menembus ombak dengan kaki telanjang.

Rasanya kepala Yunho akan meledak tidak lama lagi. Seperti inikah rasanya jatuh cinta, dan ia tidak menyukainya tapi ia menyukai Jaejoong dan berusaha membuat pemuda itu selalu tersenyum.

Mengetahui tidak akan mendapatkan jawaban dari Jaejoong, Yunho memelankan nada suaranya mencoba lebih sabar. "Kakimu akan terluka Jongie, banyak karang bersebaran yang bisa terinjak."

"Apa pedulimu." Bentak Jaejoong.

Yunho menghela napas. Apakah Jaejoong merengek? Pemuda itu benar benar seperti gadis yang sedang dalam masa suburnya. "Kau anak nakal." Yunho mengejar.

Jaejoong mendelik. "Berhenti!" Ia memkir dan mulai berlari lalu kembali menjerit.

"Aku akan menghukummu jika aku berhasil menangkapmu. Dan aku akan menunjukan betapa aku menyukaimu."

Jeritan Jaejoong tersamarkan oleh deru ombak. Jeritan itu berubah menjadi tawa ketika Yunho tidak berhasil mengejarnya. "Hyung, kau terlalu tua untuk... "Jaejoong mendelik. Pria itu sudah berdiri di belakangnya dan menyambar tubuh Jaejoong dengan mudahnya kearah pria itu. "Hyung... " Teriaknya.

Mengabaikan teriakan histeris Jaejoong. Yunho menarik lalu mendekap tubuh pemuda itu ke arahnya. Jaejoong menggeliat ingin lepas sampai Yunho tidak menemukan cara lain untuk membuat pemuda itu diam kecuali menyampirkan tubuh Jaejoong di atas pundak, seakan Jaejoong karung beras yang tidak memiliki beban lebih dari lima puluh kilo.

"Dasar beruang, lepaskan Jongie."

"Tidak. Akan ku perlihatkan kepadamu rumah pantai keluargaku."

"Tidak bisakah kau membawaku dengan lebih baik, lebih terhormat, aku kan tamu di sana." Jaejoong masih memberontak.

"Tidak!" Kaki Jaejoong menendang, tanganya memukul punggung Yunho lebih keras yang hanya membuat tanganya sendiri sakit.

"Bear turunkan aku."

"Panggilan yang manis."

"Aku menghinamu, dasar kau beruang bodoh menyebalkan."

"Terima kasih. Kitten."

"Aku bukan kucing, kenapa kau dan Changmin begitu menyebalkan!"

..

.

..

Jaejoong masih menekuk wajah masam dan tidak berniat menyantap makan malam yang di masak oleh Yunho sendiri.

Pria itu memasak! Demi Tuhan, Jung Yunho. Pria arogan, wakil direkture Jung Emperor bisa memasak! Ini akan menjadi berita terhangat minggu ini kalau ia menjual berita ini ke reporter. Otaknya mulai ngawur, sepertinya ia ketularan Changmin yang mata duitan.

Jaejoong mengacak acak rambutnya gemas. Apa yang ia pikirkan di otaknya yang cerdas. Sepertinya jatuh ke laut dan basah kuyup membuatnya kehilangan sebagian daya pikir dan membuatnya sedikit gila.

Menatap spageti di atas piring, Jaejoong merasa perutnya bernyanyi. Jika saja saat ini Jaejoong tidak dalam mode marah, ia akan bangga melihat Yunho melakukan sesuatu untuknya dan akan menghabiskan masakan pria itu. Tapi tidak untuk saat ini.

Di seberang Yunho sudah melahap habis bagianya sendiri namun Jaejoong masih duduk manis di meja ruang makan di rumah pantai milik keluarga Jung. Memakai pakaian kebesaran miliknya yang ia temukan di kamar lantai atas. Pemuda itu meronta dan membuat mereka berdua terjatuh sampai basah kuyup dan di sinilah mereka berdua, kedinginan.

"Kau tidak lapar?" Pemuda itu masih mengabaikan dirinya.

Semilir angin laut menyibakkan rambut di kening Jaejoong. Jendela kaca lebar memberikan pemandangan indah pada malam hari dari lampu lampu di sisi rumah pantai, langit berbintang dan juga kolam renang belakang memberikan pemandangan serta kedamaian tersendiri untuk Jaejoong. Ia menyukai tempat ini. Begitu tenang, hanya ada suara ombah membelah pasir.

Jaejoong bertanya dalam hati. Untuk apa kolam renang itu di buat ketika tidak jauh dari sana ada kolam renang terbesar di Dunia. Tanpa sadar ia mengucapkan kata itu cukup lantang.

"Karena dulu aku tidak bisa berenang. Aku takut melihat laut, itulah alasannya kenapa ayahku membeli rumah ini. "

Jawaban itu membuat bibir Jaejoong berkedup menahan tawa. Demi apa, pria tinggi mempesona seperti Jung Yunho itu tidak bisa berenang. Tunggu! Apa dia mengatakan Yunho mempesona?

"Kau tidak suka makan malam yang aku buat?" Jaejoong menggeleng. "Bagaimana kalau kita pergi ke restoran?"

Lagi lagi Jaejoong menggeleng. "Lalu kau ingin makan apa?"

"Jongie tidak lapar." Bohong. Perutnya keroncongan. Hanya saja ia malu mengatakan ia lapar.

"Kau tidak makan sejak siang tadi, kau juga mendiamkanku. Apa aku berbuat salah?" kali ini Jaejoong mengangguk.

Ujung bibir Yunho terangkat, pria itu menghampiri Jaejoong dan berdiri di sebelah kursi, menyandarkan pinggulnya pada sisi meja. "Katakan kesalahanku apa?"

"Banyak."

Menunduk. Yunho berdiri dengan kedua lututnya untuk menatap Jaejoong. "Katakan, aku akan menebus semua kesalahanku sebisaku."

"Di sini. Sakit." Jaejoong menepuk dadanya sendiri. Yunho menangkap tangan Jaejoong yang telihat mungil di genggaman tanganya sendiri. Membuka tangan itu dan melihat jari jari indah Jaejoong yang pucat. "Aku minta maaf."

"Aku benci kau yang membuatku selalu memikirkanmu, aku benci karena ciuman yang kau ajarkan membuatku ingin di cium lagi." Merasa salah bicara Jaejoong terdiam.

Hanya kecupan singkat di ujung bibir Jaejoong yang Yunho berikan. "Ini yang kau mau." Bibir hati pria itu melengkung keatas. "Dan ini." Kali ini kecupan itu mendarat di atas bibir Jaejoong sepenuhnya.

"Bagaimana?"

Jaejoong menggeleng. "Tetap saja kau mengabaikanku seminggu ini. Aku tidak mau kau menciumku."

"Kau berbogong."

"Tidak... " Bibir Yunho menyambar bibir Jaejoong. Pemuda itu mendorong Yunho menjauh. Membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan.

Tawa Yunho pecah. Astaga, Jaejoong benar benar menggemaskan. Jadi, sepanjang sore Jaejoong merajuk, karena pemuda itu masih meragukan perasaannya sendiri. Seharusnya Yunho menyadari itu sebelumnya, bagaimanapun juga Jaejoong masih terlalu muda untuk memahami perasaan sayang yang pemuda itu rasakan atau jika ia beruntung juga cinta.

Menangkup sisi wajah Jaejoong, Yunho mencium tangan pemuda itu yang masih menutupi mulutnya sendiri. "Aku punya sesuatu untukmu." Mengeluarkan sesuatu dari saku celana, Yunho menaruh benda itu di atas meja.

"Dompet Jongie." pekik Jaejoong.

Sebelum pemuda itu berhasil meraihnya Yunho lebih dulu mengambil kembali dompet tersebut dan berdiri. "Habiskan makan malammu dan kau akan mendapatkan kembali dompetmu."

Pria itu berlalu untuk membereskan piringnya sendiri yang sudah kosong dan membawa piring kotor itu ke bak cuci piring.

Jaejoong ingin memprotes andai saja ia tidak lapar, andai saja aroma spageti tidak menggelitik hidungnya. Persetan! Dengan kecepatan penuh ia menyantap spageti dengan rakus. Doe miliknya memperhatikan kemanapun Yunho pergi, dompet miliknya masih berada di tangan pria itu.

Senyum indah muncul di bibir Yunho. Ia mengikat tangan di depan dada dan bersandar pada jendela kaca, memperhatikan Jaejoong menikmati makan malamnya dengan terburu buru. "Kau akan tersedak jika makan seperti itu."

"Tid... dak." Ujarnya di antara mulut penuh makanan.

"Makanlah lalu aku akan mengantarmu pulang."

.

.

.

Song Ji Hyo membantu suaminya menanggalkan jas. "Apa kau sudah makan malam?"

Mr. Song membuka kancing pada lengan kemeja dan tersenyum ke arah istrinya. "Sudah, bersama yang lain di kantin kantor."

Mrs. Song membantu suaminya menanggalkan kemeja dengan cekatan. Namun pikiranya berkelana kemana-mana memikirkan sesuatu.

"Kau tidak mendengaku?" Mr. Song menunduk untuk meraih dahu istrinya agar memandang kearahnya. "Aku bertanya, kemana Jaejoong. Sudah sangat larut kenapa belum kembali? Kau memikirkan sesuatu?"

Senyum menenangkan itu membuat Song Il Gook menggeryitkan alisnya yang tebal. "Acara sekolah, Changmin bilang lelang hari ini ia menjual Jaejoong," Wanita itu tertawa membayangkan kenakalan keduanya. "Kau tahu putra kita itu idola sekolahan, bukan. Jadi Jejoong bersedia di lelang dan mendapat harga satu juga won."

Mr. Song ikut tertawa membayangkan kenakalan keduanya. "Siapa yang berani membeli putra kita dengan harga semahal itu?"

Mrs. Song megambil handuk dan mendorong suaminya masuk ke kamar mandi. "Choi Siwon, teman mereka dari sekolah lain dan saat ini Jongie bersamanya."

"Aku bisa tenang jika pemuda itu yang membeli Jongie, setidaknya Siwon tidak akan melakukan sesuatu yang... " Song Il Gook berhenti untuk menatap istrinya.
"apa kau memberitahu Jongie untuk tidak bergaul dengan laki-laki dalam pergaulan bebas."

Mrs. Song terdiam. Il Gook seharusnya tahu lebih awal bahwa istrinya belum menjelaskan apapun tentang kelainan aneh yang di derita putranya. Keterdiaman Ji Hyo menjawabnya. "Tidak apa-apa, biar aku yang menjelaskan kepada Jongie. Sebentar lagi ia berusia delapan belas tahun, dia berhak tahu."

Mrs. Song tidak menjawab, beliau hanya menatap suamianya untuk waktu yang cukup lama. Mrs. Song tahu istrinya tidak akan menjawab jika di paksa tapi ia kembaki bertanya. "Kau ingin mengatakan sesuatu? karena jika tidak aku akan mandi."

Bibir Mrs. Song terbuka lalu tertutup kembali. Menelan kata kata yang sudah akan keluar.

Mr. Song tersenyum simpul, mengusap rambut panjang istrinya. "Katakan jika kau sudah sayang."

"Kau harus membicarakan tentang jati diri Jongie kepada ayah kita." Mr. Song berhenti sebelum masuk ke kamar mand, berbalik menatap istrinya. "Delapan belas tahun usianya, sudah saatnya kita memberitahu semua orang bahwa Jaejoong adalah putramu. Song Jaejoong."

Song Il Gook kembali menghampiri istrinya untuk memeluk Ji Hyo. Ia harus berterimakasih karena wanita ini masih membela dan mau menerima Jaejoong setelah apa yang ia lakukan di belakang istrinya. "Aku akan bicara kepada ayahku dan ayah mertua."

"Aku ingin mengumumkan siapa Jaejoong pada acara pesta pernikahan kita minggu depan." bisik Ji Hyo.

Lengan Mr. Song mendekap istrinya semakin erat. Betapa mulia istrinya ini, "Apapun untukmu Ji Hyo."

"Jaejoong putraku, putra kita. Kalian adalah keluargaku, tidak peduli apa kata orang nantinya aku tidak peduli mereka akan membenci kita setelahnya, tapi kita tetap sebuah keluarga."

"Kau benar. Aku minta maaf dan bisakah kau melepaskanku karena aku harus mandi." Mrs. Song tertawa, melepas dekapan suaminya dan mendorong pria itu masuk agar suaminya itu tidak melihat air matanya.

Tepat saat pintu kamar mandi tertutup terdengar suara mobil berhenti di teras. Ji Hyo berjalan ke jendela untuk melihat ke bawah.

Mobil merah yang tidak ia kenal berhenti di jalan utama menuju Mansion. Jaejoong turun, dari pintu lain ia melihat seorang pria keluar dari balik kemudi.

Jung Yunho. Mrs. Song mencengeram dinding balkon erat, berpegangan saat melongok lebih keluar agar bisa melihat lebih jelas. Ia mengenali pria itu sebagai salah satu putra rekan bisnis suaminya.

Bagaimana bisa Jaejoong bersama pria itu. Jaejoong terlihat bahagia begitu juga dengan Jung Yunho. Keduanya berbicara singkat dan putranya tersenyum lebar masuk ke pekarangan rumah saat ia melihat pria yang masih bersandar pada pintu mobil mengatakan sesuatu. Terdengar suara Jaejoong dan putranya itu berlari kearah Yunho, berdiri di hadapanya untuk mengatakan sesuatu.

Ji Hyo tidak bisa mendengar dengan jarak dua lantai dengan teras. Tapi ia melihat dengan jelas bagaimana Jaejoong tersenyum dan memeluk pria itu. Yunho menunduk untuk mencium Jaejoong yang di sambut putranya dengan lengan Jaejoong menarik Yunho kearahnya.

Ya Tuhan, mereka berciuman.
Ji Hyo berbalik. Tidak ingin melihat apa yang di lakukan putra tirinya itu. Astaga, sejak kapan putranya yang polos menjadi Jaejoong yang bisa berciuman dengan pria yang jauh lebih dewasa dari pemuda itu.

Sejak kapan putra manis yang ia banggakan menjadi pemuda penggoda yang mengerikan, Jaejoong tidak boleh berada terlalu dekat dengan Jung Yunho, terlebih pria itu akan bertunangan pertengahan bulan ini. Astaga.

-TBC-

TYPO bertebaran. Cerita makin gak jelas.

Menerima kritik saran yang masih berhubungan dengan FF ini.

Terima kasih yang sudah ngasih tau kesalahan eja nulis dan sebagainya. Itu sangat membantu.

BUKA PO.
BOLERO ~love in the past~
Rp. 75.000
Berminat hubungi sherry
Fb : Sherry Kim
Line : ziyakjjlover
IG : Sherry_kim26

Tutup po tgk 16april.