PREV :

Kaget dan gairah mengalir ke dalam tubuh Kyungsoo dengan deklarasi dari Sehun itu. Kyungsoo mencoba untuk mendapatkan jawaban melalui kabut gairah yang bermain-main di otaknya, tapi Sehun tidak menunggu dan bibirnya menutup bibir Kyungsoo lagi.

Sehun mendorong ke dalam Kyungsoo lagi dan saat tubuh mereka menegang bersama mencari pelepasan yang terakhir, Kyungsoo masuk ke dalam emosi kasar yang berasal dari tubuh Sehun dan mengisi dirinya dengan perasaan euphoria yang menjamin untuk apa yang mungkin bisa terjadi besok.

.

.

Kyungsoo's Surrender (REMAKE)

HunSoo Version

.

.

Original Story Sarah's Surrender

by. Lydia Chance

.

.

Cast :

Sehun

Kyungsoo (GS)

Other Cast (Temukan sendiri ^^)

.

.

Genre :

Romance, Mature

.

.

Bab 9

.

.++.

Hari-hari panas di liburan musim panas kali ini berlalu terlalu cepat bagi Kyungsoo. Dengan perjanjian yang tak terucap, baik Kyungsoo atau pun Sehun tak ada yang mau membahas tentang berakhirnya liburan musim panas ini atau fakta bahwa Kyungsoo masih berencana untuk pergi. Hanya sekali pada saat di tempat tidur siang itu, setelah itu Sehun tak pernah menyebutkannya lagi dan Kyungsoo juga terlalu takut untuk membahas hal itu. Kyungsoo berusaha untuk menikmati setiap hari yang berlalu, menikmati berjam-jam di rumahnya sendiri pada siang hari sebelum Sehun akan menjemputnya setiap malam.

Sejak hari dimana mereka pergi ke San Antonio untuk menjalankan tes. Kyungsoo selalu menghabiskan setiap malamnya di peternakan Sehun. Sehun tak mau Kyungsoo menyetir pada malam hari dan Kyungsoo juga tak terlalu perduli dan membiarkan dirinya menikmati Sehun yang menyetir untuknya.

Bekerja di yayasan Sehun hanya menghabiskan waktu tak lebih dari satu jam dalam sehari dan Kyungsoo merasa dia mengambil keuntungan dari Sehun. Kyungsoo benar-benar ingin bertanya kepada Sehun kapan mereka bisa membahas masalah pembangunan rumah jompo itu tapi Kyungsoo tidak ingin merusak suasana. Sehun sudah membayar gaji Kyungsoo dengan angka yang luar biasa dan Kyungsoo tidak menginginkan apa pun untuk bisa berada dalam hubungan yang perlahan tumbuh di antara mereka. Kyungsoo sadar bahwa dia benar berusaha untuk mematuhi peraturan yang sudah dibuat oleh Sehun dari awal; Kyungsoo berusaha untuk tetap memisahkan dua permasalahan mereka secara terpisah.

Kyungsoo mulai memikirkan cara lain untuk mencapai tujuannya terhadap Top Hill, tapi seperti sebelumnya, Kyungsoo kembali menemui jalan buntu.

Sehun sudah beberapa kali mengajak Kyungsoo makan malam di kota, dan pelan-pelan, Sehun mulai mengenalkan Kyungsoo kepada teman-temannya. Awalnya Kyungsoo berjumpa dengan Luhan dan Park Chanyeol. Chanyeol tinggi dan pendiam dan benar-benar berlawanan dengan istrinya yang gemerlap dan periang. Saat Luhan untuk pertama kalinya bertemu secara langsung dengan Kyungsoo dan Sehun, Luhan memperlihatkan ekspresi yang sangat tertarik yang hampir membuat Kyungsoo bahagia. Wanita itu memandangnya sebentar lalu tersenyum dan lalu secara cepat mengundang Kyungsoo dan Sehun untuk datang ke pesta mereka akhir minggu depan. Kyungsoo mengucapkan terima kasih dan setelah pasangan itu pergi, Sehun menggenggam tangan Kyungsoo.

"Luhan selalu mengadakan pesta. Kita tak harus pergi."

"Aku tidak keberatan. Sepertinya terdengar menyenangkan."

.

.

.++

Dan memang terdengar menyenangkan sampai Kyungsoo berada di pesta itu, memegang segelas wine dan dikelilingi oleh Luhan dan keponakan Luhan yang sudah dewasa, Kim Minseok. Kedua wanita ini secara harfiah 'mengusir' Sehun dan sekarang mereka tidak terlalu halus menginterogasi Kyungsoo.

"Kau hanya berkunjung untuk liburan musim panas?" Minseok bertanya.

"Ya. Aku mengajar matematika di Dallas." Kyungsoo memandang kedua wanita ini yang sedang mengamatinya tidak dengan pandangan benci sama sekali, tapi dengan tatapan spekulasi yang tak bisa mereka sembunyikan.

"Ini untuk pertama kalinya. Sehun tak pernah membawa wanita ke sebuah pesta temanku manapun," Luhan berkata dengan tersenyum.

"Benarkah?" Kyungsoo tahu wanita lain itu bisa mendengar keterkejutan Kyungsoo pada suaranya.

"Ya benar. Dimana kalian berdua bertemu?" Minseok bertanya.

"Di sebuah toko serba ada di kota. Dia menolongku mengisi bensin."

"Aku benci mengisi bensin," Luhan berkata.

"Aku tidak harus mengisi bensin sejak Jongdae dan aku menikah," Minseok menambahkan yang bagi Kyungsoo terlihat seperti seringai nakal. Kyungsoo tidak bisa menanggapi kecuali membalas tersenyum. Kyungsoo meneguk wine nya dan menikmati perbincangan diantara kedua wanita ini sebelum dia menawarkan informasi lain.

"Aku menjalankan yayasannya sekarang."

"Yayasan apa?" Minseok bertanya.

"Dia membangun yayasan amal dan aku managernya."

"Dia membuatmu mengatur uangnya?" Luhan bertanya saat dia berbalik dan memandang keponakannya dan saling melepaskan pandangan.

"Apa?" Kyungsoo ingin mengetahui apa yang mereka pikirkan.

"Tidak. Tidak apa-apa, hanya saja Sehun_dia itu, dia_"

Karena Luhan terbata-bata pada perkataannya, Minseok membantunya, "Wanita tidak bisa dekat dengan Sehun. Sehun tidak berkencan – tepatnya – dan Luhan dan aku mungkin merupakan orang paling dekat yang bisa disebut teman wanita yang dia punya. Dan itu pun karena dia menghargai suami kami. Kami sebenarnya kaget dia benar-benar membawamu kemari, bahwa kalian berdua berada dalam _"

Kata-kata Minseok menjadi kabur saat dia juga tampaknya tidak dapat mengatakan apa yang dia pikirkan. "bahwa kami berada dalam suatu hubungan?" Kyungsoo bertanya.

"ya." Kedua wanita ini menjawab bersamaan. Lalu Luhan bertanya untuk mengklarifikasi.

"Kalian berada dalam suatu hubungan kan?"

"Ya, kupikir begitu." Minseok dan Luhan tersenyum pada respon Kyungsoo.

"Nona, kau berhasil melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan oleh wanita lain, kupikir kau berada dalam suatu hubungan. Dia membawamu ke salah satu pestaku dan dia mempercayakan uangnya kepadamu. Dan jangan menoleh tapi dia tak bisa mengalihkan pandangannya darimu."

Dengan kata-kata Luhan itu, ketiga wanita ini memandang ke arah Sehun dimana dia sedang berdiri dan berbicara dengan suami Minseok dan Kyungsoo bisa melihat bahwa Luhan benar. Sehun memandang Kyungsoo sementara dia berdiri mendengarkan Jongdae, gelasnya tergantung di udara seperti dia menggantung pada pikiran yang tak bisa Sehun singkirkan.

Kyungsoo tersenyum kecil kepada Sehun saat getaran antisipasi mengalir ke tulang punggungnya.

.

.

.++

Pandangan Sehun beralih dari Kyungsoo sebentar dan dia berpaling ke wajah seorang pria yang paling pantas untuk disebut sebagai sahabat yang dia punya.

"Apa yang baru saja kau katakan?"

"Aku bilang kau sebaiknya menikahi dia."

Sehun tak bisa memahami apa yang dia katakan. Sehun tahu apa yang dia rasakan pada Kyungsoo begitu kuat. Dan Sehun tahu Kyungsoo juga merasakan hal yang sama. Tapi menikah? Sehun sudah pernah gagal dalam pernikahan sekali dan faktanya Kyungsoo juga begitu. Bisakah mereka mencoba lagi? haruskah mereka mencoba lagi atau mereka sudah benar-benar gagal? Bahkan hanya dengan membayangkannya Sehun merasa bahagia dan merasa damai. Dan sekarang Kim Jongdae dari sekian banyak orang, mengatakan kepadanya untuk menikahi Kyungsoo. Siapa yang akan pernah memikirkannya?

"Kenapa kau berkata seperti itu?"

Jongdae mengamati Sehun dan mencoba untuk menjelaskan. "Karena aku bisa mengenali tatapan di matamu. Aku mengenali obsesi yang ada di darahmu. Aku mengenalinya karena aku melihatnya setiap hari saat aku memandang diriku di depan cermin." Jongdae memberikan pandangan kepada Sehun yang mengatakan itu semua. "Kau menanggapinya dengan buruk, seperti aku. Segera kau akan menerimanya, segera kesengsaraan akan pergi."

"kesengsaraan akan pergi?" Sehun memberitahu dirinya sendiri bahwa ini sebuah kesengsaraan. Pemikiran bahwa Kyungsoo meninggalkannya murni terasa sakit, berada ratusan mil jauhnya, kemungkinan Kyungsoo berkencan dengan orang lain, tidur dengan orang lain. Sehun mengertakan giginya.

"ya, kesengsaraan akan pergi. Saat dia tinggal di bawah atap rumahmu untuk kebaikan dan kau memiliki surat kepemilikanmu kembali dan disyahkan oleh notaris Negara bagian texas." Jongdae mengatakannya dengan nada yang sangat serius.

Sehun merasa mulutnya menjadi membentuk mimik setengah menyeringai untuk memperolok. "Surat kepemilikan? Aku bisa memerasmu dengan kata itu teman."

"Tidak mungkin. Minseok tahu dia milik siapa. Jangan ragukan itu."

"Betul. Aku dengan tulus yakin aku tahu siapa yang memiliki siapa," Sehun berkata.

"Siapa."

"Siapapun."

Jongdae menyeringai dan meneguk bir nya. "Serius. Kau bilang kau selalu merasa hilang kendali saat dia berbicara soal kembali ke Dallas. Kau secara praktik telah memindahkan dia ke rumahmu."

"Ya."

"Apakah mengganggumu saat berpikir kau tidur tanpa dia?" Jongdae bertanya.

"Ya."

"Apakah kau menjadi marah saat kau berpikir dia bersama dengan laki-laki lain?"

"Sialan Ya."

"Sebegitu marahnya hingga kau merasa darahmu akan mendidih jika kau tak menghajar laki-laki lain itu?"

"Ya."

"Dan apakah kau memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjaga agar dia aman? Memastikan tak ada yang akan menyakiti dia?"

"Ya."

"Dan apakah kau merasa bahwa dia milikmu dan kau akan melakukan apapun di dunia ini untuk menjaga agar dia tetap menjadi milikmu?"

"Ya"

"Baiklah, itu sesuatu yang harus kau lakukan? Untuk menjaga agar dia tetap menjadi milikmu? Kau harus membelenggu dia." Jongdae memandang Sehun dengan akurasi mata besinya. "Kau harus menikahi dia."

Sehun memandang temannya meneguk birnya lagi dan memandang ketiga wanita itu dengan berfokus pada Minseok. Jongdae membuat ini terdengar sangat simple. Tapi Sehun tidak terlalu yakin. "Kau pikir dia akan menikahi aku?"

Introspeksi Jongdae tiba-tiba berakhir dan dia kembali ke kepribadian awalnya yang sangat Sehun kenali. "Tidak tahu. Dengan wajahmu yang buruk itu? Diragukan."

"Sialan."

"Tapi berguna," Jongdae menyetujui tanpa mengalihkan pandangannya dari istrinya.

.

.

.++

Satu minggu lagi berlalu dan Kyungsoo mulai menghitung sisa waktu yang dia miliki tak lagi dalam hitungan minggu tapi tinggal hitungan hari. Bulan Juli hampir habis dan Agustus dengan cepat akan datang. Semakin dekat, Kyungsoo semakin merasa sakit di dalam dirinya. Ada sedikit keraguan di dalam pikirannya bahwa dia jatuh cinta kepada Sehun. Jatuh cinta dengan cara yang belum pernah dia alami sebelumnya. Selain beberapa waktu lalu saat mereka sedang bercinta Sehun mengatakan kepadanya bahwa Sehun tak ingin dia pergi, tak ada lagi pembicaraan agar Kyungsoo tinggal.

Kyungsoo terus mengulang-ulang di pikirannya saat Baekhyun mengatakan kepadanya bahwa dia mendengar Sehun tak pernah ingin menikah lagi. Dan Kyungsoo tidak bisa berhenti dari pekerjaannya di Dallas untuk apapun yang tak lebih dari cinta dan komitmen.

Kyungsoo membutuhkan keamanan finansial dan pekerjaannya di Dallas bisa memberikan itu. Oh dia memiliki pekerjaan yang Sehun sediakan untuknya tapi itu tidak sama. Pekerjaan ini tak memberikan jaminan dan keuntungan lainnya, selain apa yang Kyungsoo terima dari tidur di ranjang Sehun. Kyungsoo tidak bisa bergantung pada hal itu untuk bertahan selamanya. Jika mereka bertengkar, atau putus, lalu Kyungsoo mungkin harus berhenti. Kyungsoo tak bisa melihat dirinya tetap bekerja pada Sehun jika hal seperti itu terjadi.

Perut Kyungsoo melilit karena semakin dekat dengan akhir musim panas, semakin dia khawatir. Beberapa kali Kyungsoo sudah sebegitu dekat untuk mengatakan betapa dia mencintai Sehun. Tapi sesuatu selalu menghentikannya. Mungkin itu karena pepatah tua yang mengatakan wanita seharusnya tidak mengejar laki-laki. Mungkin itu bodoh, atau salah, tapi Kyungsoo tidak bisa menolaknya dan dia selalu menjaga agar mulutnya tetap diam. Kyungsoo tidak ingin mencintai Sehun jika Sehun tidak mencintainya, tapi bukankah memang harus begitu? salah satu harus ada yang memulai. Kyungsoo tahu Sehun perduli padanya. Kyungsoo harus mengatakan lebih jauh lagi bahwa Sehun benar-benar perduli kepadanya. Sehun selalu memiliki pandangan itu di matanya, Sehun menyentuhnya dengan cara itu, Sehun tampak bernafas lebih ringan saat Kyungsoo bersamanya pada malam hari. Tapi apakah itu cinta?

Nafsu jelas menjadi sesuatu yang lain. Setidaknya pada sudut pandangnya. Dan Kyungsoo tak ingin kembali ke Dallas. Begitu enggannya sampai memikirkannya saja membuat lubang di hati Kyungsoo.

Pikiran Kyungsoo kacau, Kyungsoo memandang ke bawah ke teleponnya yang berbunyi di meja samping. Dia mengangkat teleponnya dan mengerutkan dahi. Untuk apa Kris menelponnya sekarang?

.

.

.++

Sehun selesai menurunkan sapi muda yang dia bawa dari pelelangan di Del Rio. Dia sudah mengemudi cukup jauh dan dia sangat lelah. Kotor dan berkeringat juga. Perternakan yang dia mulai dari hobi setelah dia menjual bisnisnya berkembang dengan pesat. Sehun harus memperhitungkan lagi, tidak memperluas ukuran operasi peternakannya. Masalahnya dia kecanduan bekerja. Dia senang sibuk dan dia tak tahu bagaimana melakukan hal lainnya. Pikirannya beralih ke wanitanya. Sehun ingin mandi dan Kyungsoo, begitu urutannya.

Bukan dengan urutan itu, Tapi dia akan mandi sebelum menarik Kyungsoo ke bawah tubuhnya. Sehun tak ingin menghabiskan malamnya di Del Rio atau dia akan mencoba lebih keras agar Kyungsoo ikut dengannya. Tapi Kyungsoo tampak ragu untuk pergi, hampir seperti sesuatu mengganggunya dan Sehun tidak ingin memaksanya.

Sehingga, Sehun pergi sendiri dan harus menginap di sana semalam sebelum dia bisa menyelesaikan surat menyurat. Sehun menghempaskan pintu dan berjalan masuk ke dapur dimana Tao sedang mengeluarkan kue dari dalam oven.

"Dimana Kyungsoo?"

"Dan apa kabarmu Sehun?"

"Aku baik-baik saja." Sehun menarik nafas dalam dan mencoba untuk manjaga nada sabar dalam suaranya. "Senang bisa pulang Tao. Dimana Kyungsoo?"

"Dia pergi."

"Sudah berapa lama?"

"Sekitar tiga jam lalu."

"Aku akan mandi dengan cepat dan menjemputnya. Makan apa malam ini?"

Sehun terpaku saat Tao berbalik dan memandangnya. Ekspresi Tao mengirimkan putaran kepanikan ke tulang belakangnya.

"Dia tidak pulang ke rumahnya, Sehun. Dia pergi ke Dallas terburu-buru setelah dia menerima telepon. Kupikir kau mengetahuinya."

Sehun merasa bulu di lehernya berdiri saat mulutnya membentuk garis sinis. Tepi kehampaan melanda dirinya. "Tidak. Telepon apa? Apakah kau tahu siapa yang menelponnya?"

"Seseorang bernama Kris. Itu yang aku dengar. Tapi hanya itu yang aku tahu. Kyungsoo bilang dia pergi ke Dallas dan itu saja." Sehun mengertakan giginya dengan rasa sakit, tajam dan primitif, terpancar dari daerah di dadanya dan menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Kupikir itu saja."

"Apa maksudnya?"

"Kupikir aku tersingkir dan Kris masuk."

"Omong kosong. Jangan katakan itu padaku. Wanita itu mencintaimu. Siapapun dapat melihatnya sejelas melihat hidung di wajah mereka."

"Dia tidak mencintaiku. Jika dia mencintaku, dia tak akan pergi begitu saja kepada laki-laki itu. Lagipula, dia tak pernah mengatakan dia mencintaiku."

Sehun tak tahu kenapa dia mengatakan semua ini kepada pembantu rumah tangganya. Kyungsoo benar-benar sudah mengacaukannya. Kyungsoo sudah membuat Sehun merindukan suatu emosi manusia yang tak pernah dia butuhkan sebelumnya. Dan sekarang Sehun menjadi terbuka dengan pembantu rumah tangganya. Sial. Kyungsoo benar-benar sialan.

Tao memandang Sehun seperti Sehun telah kehilangan pikirannya. Tao meletakkan tangannya ke pinggangnya dan menuntut, "Dan berapa kali kau sudah mengatakan kepadanya bahwa kau mencintainya?"

"belum pernah," Sehun menjawab sesingkat mungkin, mencoba untuk mendapatkan kontrolnya kembali.

Tao memutar bola bola matanya. "Aku bertanya-tanya bagaimana aku bisa mengetahuinya?" Tao melirik ke Sehun dan saat Sehun tidak mengatakan apa pun dia melanjutkan, "Tapi kau benar-benar mencintainya, kan?"

Mata Sehun menajam menjadi celah saat dia memandang ke arah pembantu rumah tangannya. "Itu bukan urusanmu, Tao."

Dengan segera, Tao memukul kepala Sehun dengan sendok kayu. Sehun terlonjak karena kaget. "baiklah. Jangan jawab aku, Tapi jawab dirimu yang keras kepala itu. Apakah kau mencintainya Sehun? Karena Jika kau mencintainya kau harus menelponnya. Sekarang. Cari tahu kenapa dia pergi. Kau tahu, jika saja kau mengeluarkan kepalamu dari pantatmu sedetik saja, mungkin kau akan bisa berpikir bahwa Kyungsoo mungkin membutuhkan pertolongan. Sesuatu yang buruk mungkin terjadi, tahu."

Kata-kata pembantu rumah tangganya membuat Sehun tersadar. Baiklah, Sialan. Sekarang yang mana yang lebih buruk? Kyungsoo meninggalkannya untuk laki–laki lain? atau sesuatu yang buruk telah terjadi yang mungkin telah membuat Kyungsoo begitu kecewa sehingga dia kembali ke Dallas? sesuatu yang mungkin telah menempatkan diri Kyungsoo dalam bahaya?

Sehun tidak membuang waktu dan mengeluarkan teleponnya dari saku celananya. Saat Sehun menghempaskan pintu keluar dari rumah, Sehun berkata kepada pembantu rumah tangganya, "Aku akan memecatmu suatu hari nanti."

"Hmmmph. Aku akan berhenti suatu hari nanti." Sehun mendengar kata-kata itu saat dia melangkah ke serambi. Setidaknya ada satu hal dalam hidupnya yang tidak berubah.

Sehun berjalan menuju pohon rindang dan menekan satu angka khusus untuk menelpon Kyungsoo. Telepon langsung menuju pesan suara dan ketegangan melanda Sehun saat suara riang Kyungsoo terdengar dengan mengatakan agar meninggalkan pesan.

"Telepon aku Sialan." Kata-kata itu keluar dengan tidak sabar dari tenggorokan Sehun.

Sehun melangkah dengan cepat ke gudang lalu berpikir ulang. Dia tak tahu berapa lama Kyungsoo akan menelpon balik, itu Jika Kyungsoo menelepon balik. Dia tidak akan duduk saja di atas pantatnya sepanjang hari dan tidak melakukan apapun terhadap masalah sialan ini. Dia tidak akan menghabiskan waktu lagi untuk bertahan disini saat odometer di mobil Kyungsoo mil demi mil terus bertambah.

Sehun membalikkan badannya dan kembali menuju rumah. Sehun menekan tombol lain di teleponnya sembari dia terus berjalan. Saat anak yang bekerja paruh waktu padanya mengangkat telepon, Sehun membuat percakapan cepat. "Aku membutuhkanmu sekarang. Datang dan urus ternakku untuk seminggu atau kurang dan aku akan membayar semester pertama dari kuliahmu yang dengan susah payah kau telah tabung untuk bisa mendapatkannya." Saat Sehun menerima jawaban persetujuan, Sehun memasukkan telponnya ke dalam sakunya dan berjalan menuju dapur dimana Sehun bertemu dengan Tao.

"Aku akan pergi dalam sepuluh menit. Bisakah kau membungkuskan aku beberapa potong sandwich dan beberapa botol air?"

Sehun memgamati saat senyuman menghiasi seluruh wajah Tao.

"kau akan mendapatkannya."

"Terima kasih."

.

.

.++

TBC