Part 10
Yonggi tertidur di subway yang ia naiki sepulangnya dari Changwon untuk melihat pameran foto. Mengunjungi pameran foto di Changwon mungkin sudah menjadi rutinitas Yonggi tiap tahunnya karena ia akan selalu berpartisipasi dalam acara tersebut. Tahun ini Yonggi menyumbangkan hasil jepretennya yaitu sebuah foto seorang wanita yang sedang bermain ayunan dengan tawa bebasnya yang diambil Yonggi saat memotret Minju. Ditambah dengan efek hitam putih membuat foto itu terlihat sangat indah. Yonggi memberi nama foto itu "Angel from Heaven", karena baginya itu pantas untuk menggambarkan sosok Minju ketika itu.
"Aishhh" Ujar Yonggi sambil berusaha membuka mata dan maskernya ketika ia merasa disampingnya ada seseorang yang tertidur di bahunya.
"Noee?" Yonggi terkejut ketika mengetahui siapa yang tertidur di sampingnya.
"Yaa Noee?" Minju pun tidak kalah kaget dengan reaksi Yonggi saat itu,
"Yakkk, sejak kapan kau disini? Tanya Yonggi penuh rasa penasaran.
"a…a..ku sudah dari tadi disini" jawab Minju gagap
"Tapi aku tidak melihatmu dari tadi" kata Yonggi
"Ah sudah-sudah aku harus turun" Minju segera menyudahi perdebatan itu dan berjalan menuju pintu keluar subway. Namun Yonggi tidak tinggal diam, dia mengikuti Minju, dan mengikuti Minju untuk turun.
"Kenapa kau selalu mengikutiku?" Tanya Minju dengan muka sedikit kesal.
"Entahlah" Jawab Yonggi seadanya.
Minju pun terus melanjutkan perjalannya keluar stasiun subway dan menyusuri jalan kota yang dipenuhi banyak pertokoan dan restoran di kiri kanannya. Yonggi hanya tetap mengikuti Minju disampingnya sambil terus melihat lihat sekelilingnya.
"Kau mau kemana?" Tanya Yonggi membuka perbincangan .
"Bukan urusanmu"
Yonggi hanya mengerenyutkan bibirnya mendapat jawaban seperti itu dari Minju. Tiba-tiba Yonggi merasa bahwa jalan yang dilalui oleh mereka sangat tidak asing baginya, seperti de javu.
"Ahhh samgyetang!" Teriak Yonggi ketika melihat sebuah restoran samgyetang dijalan yang ia lalui. Sesaat Minju terkejut mendengar teriakan Yonggi dan menoleh ke arah Yonggi. Yonggi hanya menggaruk kepalanya ketika Minju menoleh ke arahnya. Lalu Minju kembali melanjutkan perjalanannya.
"Yaaaaa Minju yaa,, kau tidak lapar? " teriak Yonggi ketika Minju tetap berjalan meninggalkan Yonggi yang tetap berdiri didepan restoran Samgyetang.
Minju tetap tidak menghiraukan teriakan Yonggi.
"Yaa kau benar-benar tidak lapar" kini suara teriakan Yonggi semakin kencang
" Ah yasudah kalau kau tidak lapar , aku akan makan disini, kau hati-hati dijalan ya". Ucap Yonggi lalu masuk kedalam restoran samgyetang tersebut.
Minju yang berusaha mencoba bersikap acuh dengan ajakan Yonggi tidak didukung oleh kondisi perutnya yang memang sudah menahan lapar. Cacing di perutnya mulai memberontak untuk segera diberi asupan.
"Ah sial, kenapa harus sekarang!" Minju terlihat kesal sambil memegang perutnya yang sudah mengeluarkan bunyi keroncong.
Saat ini Minju berada pada kondisi yang membingungkan, apakah dia harus memasang muka tebal untuk menghampiri Yonggi, atau menahan lapar sampai rumah karena uangnya yang mulai menipis, setidaknya jika ia memasang muka tebal ia bisa meminta yonggi untuk mentraktirnya.
"ah baiklah, Yaaa Minju sekali ini saja kau harus pasang muka tebalmu daripada kau harus masuk rumah sakit karena Maag mu kambuh" Minju mencoba menguatkan dirinya sendiri untuk menghampiri Yonggi,
Dia pun berjalan masuk menuju restoran dimana Yonggi berada. Dengan mudah dia menemukan Yonggi yang saat ini baru saja membuka daftar menu. Dengan sekuat tenaga Minju mengumpulkan rasa percaya dirinya dan kemudian duduk di hadapan Yonggi.
"Noe ?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Yonggi membuat Minju sedikit tersentak tapi tetap mencoba memasang muka kesal.
"Kau jangan kepedean, aku kesini bukan karena mau minta makan padamu atau bermaksud yang macam-macam, aku hanya mau kau menjelaskan kenapa kau selalu mengikutiku" Ucap Minju bohong. Namun kebohongan Minju tidak bisa berjalan mulus karena suara perut Minju yang kembali meronta-ronta untuk segera diisi.
Yonggi hanya tersenyum mendengar suara perut Minju lalu menyodorkan buku menu ke Minju.
"Baiklah aku akan menjelaskan, tapi sebaiknya kau urus dulu masalah perutmu, pilihlah sesukamu, aku yang traktir" Ucap Yonggi disusul senyum simpulnya.
Minju berusaha untuk menahan rasa senang ketika Yonggi mengatakan kata "Traktir" namun dia berusaha untuk meredam itu dan tetap bersikap dingin.
"Oke,baiklah jika kau yang minta. Hmmm pesankan menu yang sama dengan yang kau pesan". Dengan sigap Yonggi memanggil pelayan untuk memesan.
"Tolong buatkan kami dua samgyetang, tapi yang satu tolong tidak ditambahkan …."
"Daun bawang" Suara Minju tiba-tiba membuat Yonngi menoleh kearahnya.
"Ah iya Daun Bawang" lanjut yonggi kepada pelayan tersebut lalu menyelesaikan pesanannya.
Yonggi terdiam, dia mulai memperhatikan Minju. Dalam hati, Yonggi merasa bingung kenapa Minju tahu bahwa dirinya tidak menyukai daun bawang.
"Hmm, darimana kau tahu aku tidak suka daun bawang?" Tanya Yonggi penuh keheranan.
"ah itu, ya biasanya kan beberapa orang tidak suka daun bawang, jadi aku tahu pasti itu yang kau hindari" Jawab Minju santai.
"Ohhh, baiklah. Aku pikir kau memang benar-benar mengenalku" Ucapan Yonggi kali ini dipenuhi rasa ketidakpuasan.
Tidak lama setelah itu makanan mereka datang dan dengan lahap mereka menghabiskan makanan mereka dan keluar dari Restoran tersebut.
"Kau langsung pulang?" Yonggi mencoba membuka percakapan diantara mereka berdua ketika mereka sedang berjalan menuju halte bus. Cuaca saat itu sudah mulai malam dengan angin yang berhembus kencang karena akan turun hujan.
"Ah nee, ah aku lupa, jadi kenapa kau selalu mengikutiku?" Pertanyaan yang sedari tadi disimpan oleh Minju kini ia mulai tanyakan kepada Yonggi.
"Ohh masalah itu, aku hanya ingin mengikutimu saja tanpa alasan, karena aku juga tidak tahu kenapa aku bisa mengikutimu"
"Aneh" Balas Minju mendengar alasan Yonggi.
"Ya mungkin memang aku aneh, tapi setiap aku melihatmu aku merasa ada sesuatu yang aneh juga"
Minju hanya terdiam mendengar jawaban Yonggi karena tidak tahu lagi harus berkomentar apa. Sesaat mereka kembali diselimuti diam dan tetap berjalan menuju halte. Namun hujan lebih dulu turun sebelum mereka sampai ke halte, dengan sigap Yonggi membuka jaketnya lalu memayungi Minju dengan jaketnya lalu berlari menuju halte.
"Ah mian, kau kebasahan, kau tidak seharusnya membuka jaketmu untukku"
Ucap Minju sambil memperhatikkan Yonngi yang kebasahan.
"Tak apa-apa, yang penting kau tidak kebasahan" Balas Yonggi sambil mencoba mengeringkan baju dan rambutnya yang basah.
Minju mengeluarkan tisu dari tasnya, dan mencoba membantu mengeringkan wajah Yonggi yang basah. Namun saat Minju mencoba mengeringkan wajah Yonggi, Yonggi memegang pergelangan tangan Minju erat sehingga sontak Minju memandang wajah Yonggi yang sangat terlihat tampan dengan rambut basahnya. Kini wajah mereka berdua saling pandang dan hanya berjarak beberapa centimeter dengan pencahayaan lampu halte yang tidak begitu terang, Yonggi mencoba mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah Minju, namun suara klakson bus membuat Minju dapat berpaling dari wajah Yonggi dan melepaskan genggaman tangan Yonggi.
"Bis ku sudah datang, aku harus pulang" pamit Minju yang lalu masuk kedalam bus meningalkan Yonggi sendirian di halte. Yonggi hanya tersenyum simpul dengan apa yang barusan terjadi antara dia dan Minju sambil memandangi bis yang ditumpangi Minju yang mulai berjalan jauh darinya.
To be continue..
Happy reading, don't be silent reader :)
