Husband
Remake from Pheobe Maryand's novel "Husband"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


When you wake up from your sweet dream,
you are finding a stranger guy on your bed
and he said that you are his wife.
What will you do?


Prev Chap :

"Apa kabar Luhan?"

Seorang wanita sedang berdiri di sampingnya yang kelihatannya sedang mengandung dengan perut besarnya. Ia menyodorkan sebuah dasi berwarna merah hati saat Luhan hampir pergi. Luhan mentap wajah wanita itu lekat-lekat, mereka belum pernah bertemu, siapa dia?

"Kau sedang membeli dasi" lanjutnya.

Ia memandang Phill sejenak dengan tatapan asing dan memberikan senyuman kepada bocah itu dengan senyuman untuk orang asing. Phill memeluk pinggang luhan erat-erat.

"Ya." Jawab Luhan sambil membelai kepala Phill seolah-olah sedang menyiratkan kata 'tidak apa-apa' kepadanya.

Phill selalu begitu saat bertemu dengan orang yang dianggapnya asing. Dulu Phill memeluk ibunya saat pertama kali luhan tersenyum kepadanya, begitu juga saat Baekhyun dan Kris bertemu dengannya untuk pertama kali. Phill juga memeluk pinggang Luhan seperti yang sekarang sedang dilakukannya.

"Kau juga?" Sambung Luhan.

"Ini untuk suamiku. Apa kabar denan suamiku Luhan?"


'Suamimu? Kenapa bertanya padaku?' Batin Luhan.

Luhan tidak bisa menjawab apa-apa, mungkin wanita itu salah sebut atau...

"Atau lebih tepatnya suami kita, Sehun!"

Sehun? Luhan hampir saja menjatuhkan kantong yang berisi dasi dalam genggamannya. Maksudnya Oh Sehun? Suami kita berarti Luhan bukan satu-satunya?

"Aku terkejut saat mendengar kabar kalau Sehun memiliki istri lain selain aku, tapi aku tau Sehun akan kembali padaku juga akhirnya. Jadi nikmatilah kebersamaanmu."

Luhan masih tidak bisa berkata apa-apa. Dirinya masih sangat shock. Kata-kata itu menyiratkan seolah-olah Luhan sudah merampas suami orang. Sebegitu jahatkah dia? Dirinya semakintidak mengerti, ia meninggalkan Kris untuk menikah dengan pria yang sudah beristri. Luhan kecewa, sangat.

Wanita itu menyodorkan dasi yang di belinya kepada Luhan, cukup untuk membuat Luhan terpaku beberapa lama.

"Aku titip ini untuknya. Katakan kepadanya untuk pulang, sudah dua minggu ini Sehun tidak pernah kembali ke rumah istri pertamanya. Sampa jumpa!"


Oh Sehun menghela nafas perlahan. Ia sengaja pulang cepat demi bertemu dengan Luhan. Begitu membuka pintu kamar, sebuah suasana yang aneh merebak. Xi Luhan duduk di atas sofa sambil memandangi dua buah dasi yang masih rapi di dalam kotaknya yang terbuka. Lalu dimana Phill? Bocah itu tertidur, dia pasti sangat kelelahan karena mengikuti Luhan seharian ini.

Sehun membuka jasnya dan melemparkannya kedalam keranjang pakaian kotor yang ada di kamar mandi lalu mendekati Luhan dan memeluknya. Luhan terasa sangat beku tanpa perlawanan apa-apa.

"Kau membeli dua buah dasi?" Bisik Sehun.
"Aku hanya perlu satu!"

"Kalau begitu pakai salah satunya saja. Coba pilih, mana yang sesuai dengan seleramu?"

Sehun melepaskan pelukkannya dan mendekati dua buah dasi yang dihadapi Luhan entah sejak kapan. Yang berwarna biru atau merah hati? Sehun tertarik dengan yang berwarna biru, tapi yang merah hati sepertinya ia pernah melihatnya. Rasanya Sehun pernah memiliki dasi yang sama. Tangannya berusaha untuk mengambil dasi berwarna merah hati itu dan membukanya dari kotaknya. Sehun yakin kalau ia pernah memiliki dasi yang serupa.

"Jadi itu pilihanmu? Itu dari istrimu!" Suara Luhan terdengar agak sinis.

Sehun memandang wajah Luhan tidak percaya. Istri? Luhan, kan? Atau...

"Tadi kami bertemu di toko dasi, dia berpesan agar kau pulang. Tiga bulan tidak pernah pulang terdengar seperti aku sedang menahanmu disini."

"Maksudmu Irene?" desis Sehun, Irene menemuinya?

"Jadi Irene namanya. Bagaimana mungkin aku menikah dengan seorang pria beristri?"

Luhan terdengar menggerutu pelan. Ia mulai terlihat sangat kacau. Sehun menghela nafas berat. Ia mulai merasa bingung dan tidak tau harus berbuat apa, tidak tau harus berkata apa, tidak tau harus membela diri atau memberi penjelasan seperti apa. Yang dilakukannya hanya meletakkan kembali dasi berwarna merah hati itu dan mengambil yang satunya lagi. Berarti yang berwarna biru adalah pilihan Luhan.

Sehun sudah menyukainya sejak pertama kali melihatnya. Ia mengeluarkan dasi itu dari kotaknya dan meligkarkan di lehernya.

"Aku suka yang ini."

Sehun berusaha mengeluarkan suara yang riang. Ia berusaha untuk tidak menganggap Irene sebagai masalah meskipun ia tau itu masalah bagi Luhan.

"Aku ingin bertanya satu hal kepadamu." Luhan bersuara lagi.

Ia seolah-olah sedang tidak perduli dengan usaha Sehun untuk mencairkan suasana.

"Apakah kau mencintainya? Saat menikah denganku, kau mencintainya?"

"Aku tidak akan menikah denganmu jika aku tidak mencintainya!"

Jawaban yang tidak bisa Luhan mengerti tapi dirinya ingin mengetahui yang lain.

"Apakah kau mencintaiku? Apakah sama besarnya dengan cintamu kepadanya?"

Sehun teridam lama, apakah ia mencintainya? Xi Luhan, sejak kapan ada di hatinya? Sehun tertarik kepada Luhan, kepada kelemahan yang ditunjukkannya, kepada caranya tersenyum, caranya bertanya, Sehun tertarik kepada cara Luhan menggodanya, semuanya.

Tapi selama ini, Luhan tidak pernah membekas di hatinya meskipun sehun selalu berusaha menunjukkan cinta yang merupakan sandiwara. Apakah ia mencintai Luhan? Sejak kapan? Pagi itu. Pagi itu Sehun jatuh cinta kepada Luhan, saat ia melihat Luhan menangis karena terbangun tanpa Sehun disisinya.

"Ya, aku mencintaimu."

Luhan tersenyum sinis. "Bohong. Kau terdiam lama!"

"Aku tidak berbohong. Aku..."

"Aku tidak ingin mmendengar apap-apa. Besok kita bahas lagi karena sekarang aku ingin istirahat. Kepalaku rasanya mau pecah."

Luhan beranjak dari sofa dan nyaris berbaring di atas tempat tidur saat mendengar pintu kamar diketuk. Sehun membuka pintu dan mendapati Jongin bersama Kyungsoo disana.

Mereka sudah pulang? Secepat ini? Seharusnya masih ada beberapa hari lagi.

"Kami tidak bisa pergi lama-lama karena selalu memikirkan Phill." Jongin mengelurakan kata pertamanya yang menjawab kebingungan semua orang.

"Maaf langsung ke kamar kalian, tadi Grandmere menunjukkan kamar ini karena Phill tidur bersama kalian."

Luhan berusaha tersenyum dan menjawab tidak masalah. Lalu Kyungsoo segera bergerak tanpa kata-kata mengumpulkan semua barang-barang Phill dan menenteng tasnya, ia mendekati Phill yang sepertinya terbangun karena kegaduhan itu. Phill menangis.

"Mami...Mami...!" Rengeknya.

Kyungsoo segera menggendong anaknya dan berusaha menggoyang-goyangkan tubuh kecil Phill. Tapi Phill tidak mau diam. Tangannya menggapai-gapai kerah Luhan sambil terus menjerit memanggil-manggilnya dengan sebutan Mami. Jadi yang Phill maksud sebagai Mami adalah Luhan?

Jongin dan Sehun saling pandang. Luhan merasa iba dan mendekat kepada Kyungsoo.

"Boleh aku menggendongnya sebentar?"

Luhan tidak membutuhkan persetujuan. Kedua tangannya langsung mengambil alih Phill dari ibunya dan menggendongnya penuh kasih sayang. Luhan membelai punggung Phill lembut. Ia bisa melihat kecemburuan Kyungsoo karena itu.

"Apa yang kau lakukan pada anakku?!" Tanyanya kasar.

Kyungsoo kembali mengambil alih Phill dan berkata pada Jongin.

"Aku tidak suka padanya. Ayo kita pergi!"

Jongin mengucapkan kata maaf pada Luhan dan mengikuti Kyungsoo pergi. Sekarang Luhan tau mengapa Kyungsoo sangat membenci Luhan, karena Luhan adalah wanita jahat yang merebut suami orang lain dan sebagai sesama perempuan Kyungsoo mungkin ikut merasakan penderitaan Irene, iparnya yang lain. Jongin mungkin juga membencinya. Hanya saja Jongin tidak menunjukkan itu dan masih bersikap sopan.

Hati Luhan di desaki petih yang luar biasa, ia memandangi Phill yang etrus memanggil-manggil Luhan dengan sebutan Mami sambil terus menggapai-gapai ke arahnya. Hatinya pilu, Xi Luhan adalah mami yang merana.


Luhan masih menenggelamkan wajahnya ke bantal. Kedua tanganya menekap telinga dan berusaha untuk tidak perduli pada panggilan Sehun diluar sana.

Semalam dirinya tidur di kamar ini dan meninggalkan Sehun di kamarnya sendirian. Sehun selalu bertnya apakah semua itu terjadi karena Phill atau dirinya, apakah Luhan marah hanya karena dasi, dan Luhan tidak mau mendengar kata-kata Sehun yang lainnya.

Ia selalu menolak setiap kali Sehun berusa memberi penjelasan. Bukan karena luhan tidak bisa memaafkan Sehun. Luhan hanya tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.

Sehun sekarang pasti sedang mempermasalahkan semua barang-barang yang pernah Luhan beli dengan uangnya. Luhan menggantinya, meletakkan sejumlah uang di atas ranjang mereka bersama surat yang memberitahukan kalau semua itu untuk mengganti apapun yang Luhan habiskan selama ini, begitu terperinci.

Luhan tidak membawa barang apa-apa dari kamarnya, hanya beberapa lembar pakaian lama untuk bekalnya disini. Dirinya sama sekali tidak ingin menggunakan barang-barang yang dibeli dengan uang Sehun lagi.

Sehun sangat bertenaga untuk orang yang baru saja pulang kerja. Ia menggedor-gedor pintu kamar tamu yang ditempati Luhan sekarang sambil berteriak-teriak memanggil Luhan. Tidak akan lama. Selama ini Sehun hanya bia bertahan beberapa menit. Tapi Luhan sudah tidak tahan mendengar suara Sehun. Ia ingin pergi menjauh dari rumah.

Luhan berusaha mengambil dompetnya dan menyelipkan disaku celana jeansnya lalu membuka pintu. Oh Sehun terdiam saat melihat Luhan berhadapan dengannya.

"Aku mau bicara."

"Aku mau pergi dulu."

Luhan hanya menjawab dengan itu. Ia sangat berharap Sehun menarik lengannya dan tidak membiarkannya pergi, tapi Sehun tidak melakukannya. Sehun tidak seperti laki-laki di film-film yang berusaha mengejar cintanya. Ini semua karena Sehun belum benar-benar mencintai Luhan. Sehun selalu mempersalahkan Kris dan melupakan kesalahannya sendiri. Dia tidak suka melihat Luhan berdekatan dengan Kris sedangkan Sehun sudah beristri.

Luhan ingin marah, ingin berteriak, tapi akhirnya yang bisa keluar dari bibirnya hanya isakan. Ia akan kehilangan Sehun, Luhan akan membiarkan Sehun kembali kepada istrinya...


Langkah demi langkah Luhan lalui tanpa tujuan yang jelas. Pada akhirnya Luhan terperangah karena ia berada tepat di depan café baru Kris dan terpaku melihat Kris yang berdiri memandangnya dengan tatapan heran di balik dinding kaca. Luhan mendekat perlahan-lahan, seharusnya ia tidak meninggalkan Kris, seharusnya ia memilih Kris dan tetap setia kepadanya apapun yang terjadi.

"Kau ada masalah dengan suamimu?!" Kris berbisik.

Luhan mengangguk, entah mengapa air matanya tumpah begitu saja. Kris tau kalau Luhan sedang bermasalah dengan Sehun? Jadi firasatnya benar dengan membawanya kepada Kris. Luhan selalu menemui Kris setiap kali ada masalah karena hanya Kris tempat ternyaman untuk berbagi.

"Kalau begitu masuklah. Kita bicarakan didalam." Luhan mengangguk lagi.

Langkah demi langkahnya berjalan pelan mengikuti Kris menuju lantai dua café-nya. Ada sebuah ruangan disana, seperti sebuah apartemen yang lengkap dengan ruang tengah, ruang makan, kamar mandi dan kamar tidur. Disini Kris tinggal.

Luhan duduk di sofa ruang tengah setelah Kris menyalakan televisi, acara komedi disana tidak cukup untuk membuat Luhan tertawa dan melupakan masalahnya, ia malah semakin sedih karena merasa aneh. Luhan tau kalau acaranya sangat lucu dan menyenangkan, ia ingin tertawa tapi tidak bisa tertawa.

Kris datang kembali dan duduk di sampingnya lalu memberikan segelas teh hangat kepada Luhan. Luhan berusaha menghadirkan sebuah senyum dan menerimanya. Ia meminum tehnya seteguk dan meletakkannya di atas meja. Kris mengecilkan volume televisi dengan remote lalu memandang Luhan dengan serius.

"Kalian bertengkar karena apa?"

"Kami tidak bertengkar. Aku yang menghindar, aku menyesal menikah dengannya dan meninggalkanmu."

"Aku senang mendengarmu mengatakan itu."

Luhan mematung, Kris senang dengan itu? Masih memiliki perasaan itu? Luhan merasa semakin merasa bersalah. Oh Sehun sudah membuat Luhan yang polos menjadi wanita paling jahat di dunia, Oh Sehun sudah membuat Luhan berubah, sangat berubah dan anehnya Luhan menikmatinya.

Oh Sehun, laki-laki itu...,

Luhan menunduk. Sebulir air mata jatuh di pipinya. Kris menyeka airmata di pipi Luhan dengan lambut lalu mereka bertatapan. Luhan tidak pernah seperti ini bersama Kris. Tidak pernah dalam suasana yang romantis seperti sekarang, tidak pernah sekalipun setelah menjalin hubungan serius selama setahun. Selang beberapa menit Kris mencium bibirnya. Luhan tidak membalas tapi Kris terus nekat. Pada akhirnya Luhan membalasnya. Bukan salahnya, kan? Dia sedang membutuhkan itu sekarang. Luhan menikmatinya beberapa lama, tangan Kris mulai meraba tubuhnya dan saat itu Luhan tersentak.

"Jangan, Kris! Jangan…"

"Maaf!"

Kris melepaskan pelukannya dan Luhan segera menjauh darinya.

"Maaf, Luhan! Aku hanya terbawa suasana!"

Kali ini Luhan menangis. Benar-benar menangis dan hanya terpaku di sudut sofa. Ia tidak mau mendengar apa-apa, hanya ingin melampiaskan semua perasaannya dan berharap tuntas saat itu juga. Kris sepertinya mengerti dan diam untuk beberapa lama. Luhan pada akhirnya tertidur karena merasa lelah. Menangisi sesuatu yang tidak jelas membuat kelelahannya berlipat-lipat.


Lagi hari, Luhan terbangun setelah matahari yang menelisip melalui kisi-kisi jendela menyilaukan matanya. Wajahnya terasa panas karena cahaya alami siang. Ia membuka mata dan segera meraba tubuhnya. Pakaiannya masih lengkap. Ia dan Kris tidak melakukan apa-apa seperti yang di khawatirkannya.

Luhan memandang berkeliling, Kris tidak ada disana, bahkan ranjangnya sudah rapi dan bersih seperti tidak pernah tersentuh. Luhan bangkit dari sofa dan memandangi jam di dinding. Sudah hampir siang, Kris pasti sudah sibuk di cafenya. Sekarang sudah saatnya Luhan pulang, jika tidak Grandmere pasti merasa khawatir, Sehun pasti merasa khawatir.

Entah mengapa ia memikirkan Sehun lagi, mungkin Luhan akan kembali kepada Sehun, akan kembali membina semuanya.

Langkah demi langkah yang sangat perlahan Luhan tapaki menuruni tangga dan melihat keadaan café yang sudah lumayan ramai. Kris menarik tangannya dan Luhan menolak. Hal itu membuat Kris berhenti bergerak dan memandangnya.

"Sarapan dulu!" Suara Kris tersengar sangat lembut, sama seperti kata maafnya semalam.

Luhan menggeleng. "Aku harus pulang."

"Kalau begitu ku antar."

"Kris!"

Luhan berkata tegas dalam suara pelan, ia tidak ingin ada orang lain yang mendengar perkataan mereka.

"Ini akan jadi terakhir kalinya aku menemuimu."

"Kenapa? Karena tadi malam? Aku sudah minta maaf,kan? Aku tidak pernah melakukannya selama ini dan tadi malam benar-benar di luar kendali. Luhan, aku mencinta…"

"Ya, aku tau kau mencintaiku.!" Luhan memotong.

Tapi ia tidak akan pernah lagi berkata kalau dirinya mencintai Kris, Luhan tidak merasakan cinta kepada Kris lagi, sudah lama. Dan Kris tidak akan menuntut Luhan mengatakan kalau Luhan mencintainya juga, kan?

"Apa yang bisa ku berikan kepadamu? Apa yang seharusnya ku berikan untukmu sudah ku serahkan kepada orang lain."

"Luhan, Kau…"

"Aku mencintai suamiku, Kris. Dan aku sudah memastikan untuk menunggunya kembali dengan setia meskipun dia sedang tidak setia. Seharusnya aku tidak mengatakan kalimat itu, tidak pantas untukku! Aku yang sudah membuatnya menjadi orang yang tidak setia."

Kris mengangguk mengerti. "Kalau begitu kau boleh datang lagi jika ada masalah."

"Tidak akan pernah." Desis Luhan.

"Selamat tinggal." Dan Luhan berusaha pergi secepat mungkin, kembali kerumahnya dengan segera. Tapi apa yang di dapatnya begitu keluar dari café? Sebuah tamparan mendarat di wajahnya membuat Luhan terpaku. Oh Sehun menamparnya di depan orang banyak? Mungkin orang-orang di café keluar dan melihat kejadian ini. Mengapa ini harus terjadi di saat Luhan berfikir untuk memperbaiki semuanya?

"Kau, pantas untuk mendapatkan itu!" Sehun berbisik.

"Kau disini semalaman? Aku menunggumu kembali kepadaku. Apa yang kau lakukan disana? Kau tidur dengannya? Kau masih mengatakan kalau kau adalah seorang istri? Masih merasa berhak untuk marah karena Irene? Kita sama saja Luhan! Sama!"

Luhan meledak lagi. Tangisnya kembali hadir dan dirinya benar- benar kesulitan menenangkan diri. Pada akhirnya Luhan bisa menahan getaran suaranya dan memandang mata Sehunl dalam-dalam.

"Aku berhianat semalam. Jadi kembalilah kepada Istrimu, aku tidak seperti dia. Aku tidak bisa menunggumu yang tidak setia!"

Sehun mengertakkan giginya geram. Luhan pergi menggalkannya. Luhan mengakuinya. Dia berkhianat semalam, itu katanya.

Mata Sehun beralih kepada Kris yang berdiri di depan café dan memandanginya. Sebuah pukulan penuh emosi melayang, sekali, dua kali, bertubi-tubi dan Kris tidak melawan. Semua orang berusaha melerai dan Sehun masih berupaya untuk menyerang. Pada akhirnya lima orang yang memeganginya bisa membuatnya merasa lebih tenang. Tapi Sehun masih menunjukkan emosinya dengan kata-kata.

"Aku tidak suka melihatmu mendekati istriku. Aku tidak membunuhmu waktu itu, tapi aku akan membunuhmu sekarang!" Teriaknya.

"Aku tau kau membenciku. Tapi tamparan itu tidak pantas untuk Luhan. Kau tidak pernah menampar Irene setiap kali memergokinya bercinta denganku. Lalu kenapa tamparan itu kau berikan kepada Luhan yang tidak melakukan apa-apa?"

Sehun terpaku. Luhan tidak melakukan apa-apa, kata-kata itu terus menggema di kepalanya.


TBC


Fast apdet cuuyyy!

Chap kemaren entah kenapa banyak typo nya...?! Mungkin seyeo gak fokus kali yaaa, biasa kurang aqua /iklan?/.
Buat yang ini seyeo jamin nggak bakal ada typo atau kalo enggak kalian bisa civok seyeo sepuasnya.. /eh?/

Kayaknya bentar lagi ini ff bakalan tamat. Dan seyeo berencana buat publish ff lagi, tapi tetep hasil remake an. Apa nggak papa?
Soalnya sebenernya seyeo tuh lebih suka baca dari pada nulis. Nulis tuh susah tau, jadi buat para author-author di dunia per-ff an maupun dunia per-novel an, seyeo kagum sama kalian :')

Dan hari ini...
MAMA 2015!

Okeh, nggak mau banyak cuap-cuap.

Big Thank's and Big Hug to:

Guest, chenma, Deer-Bubble, seluau, ruixi1, Lovesehunluhanforever, 23, rifkun, Seravin509, Juna Oh, sheerii, Arifahohse, laabaikands, ichaadyah, hunnapark, arkeuminju, DBSJYJ, Ahanachan, SyiSehun, semvakluhan, Cadeli94.

Last..
Review juseyo..
And DON'T FORGET to see EXO at MAMA!
Gomawoo... :*:*