Title : Keberuntungan Lain
Paring : SasuNaru
Rating : T
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Dan fict ini milik Mizuki Rae Sichi
Summary : Sasuke adalah seorang artis populer. Dan Naruto sangat membencinya karena sang pacar yaitu Sakura ikut menjadi seorang fan di Sasuke Fans Club. Suatu hari Sakura meminta Naruto untuk mengantikannya meminta tanda tangan. Siapa sangka Sasuke malah terjerat pesona Naruto yang menyamar sebagai seorang wanita?
Genre : Romance—Drama yang sedikit diberi bumbu humor (mungkinkah?)
MULTICHAPTERS
Warning : Berisi unsur Shounen-ai #tentusaja#, gaje, abal, alur cepat dll.
Chapter 10 – Keberuntungan Lain (Last Chapter)
DAUN maple berguguran di sepanjang taman Rumah Sakit Konoha. Udara pagi yang segar berhembus dengan damai, menyejukan wajah setiap insan. Termasuk dua pemuda yang memiliki kepribadian yang sangat kontras. Berjalan beriringan dengan lembut, walau selang infus meliputi tangan-tangan mereka.
Si pemuda bersurai pantat ayam menghela napas sembari terus mendorong kursi roda di hadapan, "Akhirnya kita mengetahuinya. Aku lega."
Si pemuda lainnya—yang duduk di kursi roda, mendengus tidak suka, "Kau terlalu naif! Apa-apaan ucapanmu saat kemarin itu?! Kalian pikir aku wanita, huh?"
"Kudengar ada pesta topeng yang akan diadakan sekolah Hari Sabtu besok. Kau mau ikut?" ajak si Pantat Ayam, mengalihkan pembicaraan.
"Teme! Kalaupun aku berangkat, siapa yang akan menjadi pasanganku?"
"Tentu saja aku!" jawab Sasuke, cepat.
Seketika wajah pemuda pirang bernama Naruto itu memanas, "A-aku tidak sudi! Oii memangnya aku wanita?!"
Si Pantat Ayam bernama Sasuke itu mendengus geli sembari menyentil dahi Naruto, "Dasar Tsundere!"
Otomatis membuat darah Naruto seakan-akan mendidih karena malu, "Aduh! Apa-apaan Kau ini?!"
"Jadi tidak mau ikut?" gumam Sasuke, "Ya sudah, mungkin aku akan mengajak Naruko."
Seketika dada Naruto menjadi ngilu. Dengan bibir yang sedikit dimanyunkan dan pandangan yang mengerling ke kanan, ia hanya bergumam lirih, "Ya sudah sana pergi! Aku bisa menghabiskan waktuku dengan main game kok."
Tanpa Naruto ketahui, Sasuke menyeringai.
.
.
.
Sasuke dan Naruto kembali ke ruangan masing-masing mengingat hari semakin dingin dan tidak baik untuk tubuh mereka yang belum stabil. Sudah beberapa kali Sasuke menanyakan keadaan Naruto. Ia hanya tidak mau si Pirang semakin sakit karena jalan-jalan tadi. Bahkan Sasuke sempat ngotot ingin memindahkan kasurnya ke ruangan Naruto—yang langsung dilarang oleh si Penghuni Ruangan, dengan tsundere.
Saat dirasa si Pantat Ayam takkan datang lagi, Naruto hanya duduk termenung di ranjangnya. Hari ini waktu besuk memang sudah habis, jadi ia sendirian. Namun bukan kesendirian yang membuat Naruto kini menunduk lirih. Ia hanya merasa tidak berguna di saat-saat yang seharusnya bagus untuknya mengembangkan cinta. Tidak, tidak, Naruto bukanlah orang yang romantis. Jadi agak susah kalau begini. Demi Gaara berjoget India! Sudah berapa kali Naruto mengerang frustasi?
Kedua iris biru langit yang sedang frustasi itu mengedar ke segala penjuru ruangan hingga menemukan sebuah objek. Kalender. Dipikir-pikir, Hari Sabtu itu dua hari lagi. Ah, dari hati Naruto yang terdalam, ia ingin menyetujui ajakan Sasuke tadi. Namun ia terlalu munafik mungkin. Naruto cemburu! Naruto panas!
"TIDAAAAKK!" jerit Naruto, untuk kesekian kalinya.
Seiring dengan meluncurnya teriakan super merdu itu, ponsel milik Naruto pun sepertinya ingin ikut berduet. Lantunan lagu Uchiha Sasuke yang berjudul Move On—yang dipasang sebagai nada dering, terus berteriak-teriak hingga ke seluruh penjuru ruangan. Huh, kali ini Naruto benar-benar tertular virus Sakura.
Tangan berkulit cokelat madu milik Naruto akhirnya meraih ponsel keparat yang mengganggunya saat ini. Tanpa melihat siapa yang menelpon, ia langsung menekan tombol hijau dan menempelkan benda elektronik tersebut ke kuping kanannya.
"Moshi-moshi! Siapa?!" sapa Naruto, ogah-ogahan.
"Kasar sekali, Naruto. Kau sedang PMS, ya?"
Mood Naruto semakin memburuk saat mendengar suara orang di dalam panggilan teleponnya ini.
"Ada apa, Sai?" tanya Naruto, datar.
"Apakah Kau sudah tahu kalau Sabtu besok akan ada pesta topeng? Aku berencana untuk me..."
Belum selesai Sai menyelesaikan ucapannya tadi, dengan segera Naruto menutup panggilan tersebut secara sepihak.
"Geez! Kubunuh orang itu nanti!" geram Naruto, sembari meremas ponselnya dengan segenap emosi. Detik berikutnya ia kembali meraung, "Aku harap si Teme mengulang ajakannya untukku! Aku menyesal! Beri aku kesempatan kedua!"
Lalu ponselnya kembali berdering. Naruto yang sudah kelewat emosi, menekan tombol hijau tersebut lalu mempersiapkan suara merdunya, "OII KAMPRET! SEKALI TIDAK YA TIDAK!"
"Naruto? Kau kenapa?"
Seketika Naruto berjengit. Saat ia melihat nama orang yang memanggilnya, seketika wajahnya memanas karena malu, "Ettou... maaf Naruko. Tadi ada orang jahil, jadi aku sangat kesal."
"Oh," jawab Naruko, di seberang sana. Ia melanjutkan, "Naruto, apakah Kau sudah tahu kalau Hari Sabtu besok akan ada pesta topeng?"
Naruto mengangguk seolah gadis yang menelponnya sedang berdiri di hadapannya, "Ah. Aku sudah mendengarnya dari Sasuke." Gumamnya. Naruto hanya berpikir, mungkin gadis ini akan mengajaknya. Yah, mungkin boleh juga untuk melepas stres.
"Jadi begini, Naruto. Ettou... aku juga sebenarnya tidak enak padamu."
"Katakan saja, Naruko. Tidak usah sungkan." Ucap Naruto, lembut. Bagaimanapun dia juga pernah pacaran dengan seorang gadis.
"Apakah Kau masih free?"
"Ah." Jawab Naruto.
"Sasuke-kun sudah mengajakku untuk pergi ke pesta itu."
'Terus apa masalahnya denganku?' batin Naruto, menjadi keki.
"Tapi aku sudah menyetujui ajakan Gaara sebelumnya."
'Nah lho? Serakah sekali.' Batin Naruto, semakin menjadi-jadi.
"Dan sepertinya aku lebih memilih Gaara daripada Sasuke."
Akhirnya Naruto mengeluarkan suaranya dengan menghela napas lelah terlebih dulu, "Lalu, apakah Kau sudah membicarakannya pada Sasuke?"
"Belum. Aku hanya takut menyakitinya."
Mendadak Naruto menjadi gondok.
"Nah, maksudku menelponmu adalah... maukah Kau menggantikanku untuk Sasuke?"
"Eh?" pekik Naruto, seperti tersengat listrik, "EEEEHHHH? Apa maksudmu?!"
"Sebagaimana yang kita tahu, kita ini seperti kembar, bukan? Aku ingin memintamu untuk menyamar menjadi perempuan. Berapa uang yang Kau mau? Atau aku akan melakukan segalanya untukmu!" jelas Naruko, "Dan tenang saja, namanya juga pesta topeng, pasti wajahmu akan tertutup topeng."
"L-lalu bagaimana denganmu? Bisa aneh 'kan kalau Kau ada dua?"
Naruko terkikik pelan, "Aku sudah memakai kostumku sendiri. Kau tenang saja. Yang penting adalah Sasuke-kun."
Tidak! Ini akan terjadi lagi! Seperti di awal! Tapi... bukankah ini yang Naruto tunggu-tunggu?
"Naruto? Kau masih di sana?"
Naruto terlonjak dari lamunannya, "Ah, iya."
"Bagaimana?" tanya Naruko, ramah.
"Mungkin... aku mau."
.
.
.
Konoha High School benar-benar berbeda malam ini. Tempat yang biasanya dianggap seperti neraka para pelajar, kini justru disulap menjadi tempat yang sangat indah. Lampu-lampu romantis, lilin-lilin kecil yang diatur sedemikian rupa, lampion, musik yang lembut, dan konter-konter penyedia makanan kecil beserta minuman. Sayang, di saat teman-teman laki-laki Naruto tampil gagah dengan balutan jas keren dan topeng, Naruto sendiri justru harus datang dengan gaun berjumbai-jumbai layaknya putri dongeng, memakai rambut palsu, memakai riasan di sana-sini, dan parahnya harus memakai sepatu high heels setinggi sepuluh sentimeter. Ah, rasanya terjun ke jurang adalah pilihan yang tepat ketimbang harus berpegal ria seperti ini. Untung ia memakai topeng bulu angsa yang menutupi bagian mata dan hidungnya.
"Keparat! Si Teme itu di mana sih?!" gerutu Naruto, sembari terus berkeliling. Sungguh, karena kakinya yang terus-menerus berjinjit seperti ini, mungkin ia bisa mengalahkan anak-anak klub balet.
Mendadak sepasang tangan menyelimuti pundak Naruto. Dari aromanya, sepertinya ia sangat kenal. Yah, ini yang sangat ia cintai. Aroma kesejukan daun mint.
"Jadi Kau di sini, Naruko?" bisik sosok yang kini memeluk Naruto dari belakang itu. Jarak di antara keduanya sangatlah dekat. Mungkin sosok itu sengaja menempelkan bibirnya pada kuping Naruto.
Namun bukan kebahagiaan yang Naruto dapatkan, melainkan rasa ngilu di dada. Bagaimanapun juga, saat ini Naruto sedang memainkan peran sebagai sosok Naruko. Dan juga, apakah ini yang Sasuke lakukan pada Naruko? Sungguh, Naruto ingin segera pulang.
"Sudah lama kah?" tanya sosok yang kini memakai topeng bulu angsa—Naruto ingin tertawa mengingat sosok itu semakin mirip unggas.
Naruto menggeleng, "Aku baru beberapa menit kok."
"Kalau begitu, kita berdansa, yuk?" ajak sosok itu, dengan romantis. Ah, Naruto ingin menangis sembari membakar foto Sasuke kalau begini. Hancur sudah perasaannya.
"T-tapi aku tidak bisa berdansa..."
Sosok itu menyeringai, "Aku akan mengajarimu, kok." Ia menarik pinggang ramping milik Naruko hingga si Sosok Jejadian itu terpontang-panting dengan gemulainya.
Naruto benar-benar panik saat mereka kini sudah berada di aula—yang kini diubah menjadi ball room. Lalu sosok itu menggenggam tangan kanan Naruto dengan lembut, sementara tangan lainnya menempel pada pinggangnya. Dan lagu yang menyatukan biola, harpa, dan grand piano, mengalun dengan lembut. Beberapa pasangan pun sudah beraksi.
"Te-Sasuke! A-aku benar-benar tidak bisa!"
"Tenang saja!" bisik sosok itu, "Letakkan tanganmu yang lainnya di bahuku."
Naruto menurut saja. Dan detik berikutnya, tubuhnya mengayun-ayun dengan lembut sesuai dengan kendali dari sosok itu—yang entah kenapa saat ini justru tersenyum sangat lembut pada Naruto. Wajah Naruto benar-benar merah dan untungnya semuanya tertutupi topeng.
"Aku memaafkanmu, kok!"
Naruto berjengit, "Apa maksudmu?"
Sosok itu mendekatkan bibir pada kuping Naruto, "Semua kebodohanmu."
"Aku benar-benar tidak mengerti."
"Aku senang karena yang menyamar adalah yang asli." Gumam sosok itu, dengan nada yang rendah.
"Eh?"
"Jangan kira aku ini bodoh, Naruto. Aku sudah tahu sejak awal yang menjadi Namikaze Naruko adalah Kau. Yare-yare... bagaimanapun Kau ini memang Dobe!"
Kedua mata Naruto terbelalak sempurna. Ia meronta untuk melepaskan diri, namun tenaga Sasuke lebih besar, "Aku gagal paham atas opinimu, Sasuke-kun."
"Are? Tidak usah memanggilku dengan sopan seperti itu! Justru menjijikan! Bukankah biasanya Kau memanggilku dengan sebutan Teme?" gumam Sasuke, menyeringai.
"Sudahlah Naruto, menyerahlah! Yang kumaksud saat di rumah sakit tentang "Akhirnya kita mengetahuinya. Aku lega."—itu aku benar-benar serius mengatakannya." Gumam Sasuke, ia mengusap wajah Naruto dengan sayang. Lalu perlahan menarik dagu tersebut. Hingga kedua bibir bertemu dalam sebuah ciuman lembut di bawah sinar yang remang-remang. Hanya sebuah kecupan manis yang memberi kesan yang besar.
Air mata Naruto benar-benar tumpah kali ini. Isak tangisnya juga tidak dapat dibendung. Dengan kalap, Naruto menarik wajah Sasuke dan menciumnya dengan pagutan. Setelah itu, ia melepaskan sosok yang lebih tinggi darinya itu dengan wajah yang sangat panas.
"Aku benar-benar meminta maaf, Sasuke! Aku juga tidak bermaksud untuk menipumu selama ini!"
Tangan pucat milik Sasuke segera melepas topengnya dan topeng milik Naruto.
"Tenanglah... Sakura sudah menjelaskan semuanya, kok." Gumam Sasuke, lembut.
"Sakura?"
"Ah." Jawab Sasuke.
.
.
.
Flashback
Sasuke dan Naruto kembali ke ruangan masing-masing mengingat hari semakin dingin dan tidak baik untuk tubuh mereka yang belum stabil. Sudah beberapa kali Sasuke menanyakan keadaan Naruto. Ia hanya tidak mau si Pirang semakin sakit karena jalan-jalan tadi. Bahkan Sasuke sempat ngotot ingin memindahkan kasurnya ke ruangan Naruto—yang langsung dilarang oleh si Penghuni Ruangan, dengan tsundere.
Sasuke menyamankan posisi berbaringnya di atas ranjang rumah sakit. Sebenarnya ia adalah orang yang paling membenci suasana rumah sakit. Namun karena kehadiran Naruto, membuat suasana rumah sakit justru seolah seperti tempat penginapan yang indah. Damai, semuanya terlayani, dan yang terpenting adalah ia selalu bisa berjumpa dengan sang pujaan hati kapan pun ia mau.
Sebuah majalah di bufet menarik minat Sasuke untuk melihat isinya. Ia menghela napas lelah saat melihat sebuah berita yang menjadi hedline. Ah, paparazi itu sangat licik dan menyebalkan. Karena Sasuke tidak pernah meluangkan waktu untuk menonton televisi, mungkin berita tentang ayahnya kini sedang menjadi trending topic. Sial! Kalau tahu begini, rasanya Sasuke tidak pernah mau menjadi seorang public figur!
Mendadak suara ketukan pintu ruangan Sasuke mengudara. Kedua mata oniks Sasuke melirik ke sumber suara lalu membuka mulut, "Masuk!"
"Permisi."
Dan seketika kedua mata Sasuke menyipit sinis, "Mau apa Kau ke mari, Naruko?"
Gadis cantik yang kini mengikat rambut pirangnya itu menunduk lirih, "Maaf sudah mengganggumu. Tapi aku ingin mengatakan sesuatu yang penting."
Sasuke mengalihkan pandangan—bosan. Ia lebih memilih untuk membaca berita lain yang tersaji di majalah, "Cepatlah. Aku mau tidur nih." Ucapnya, bosan.
Naruko membungkuk dalam. Perlahan air matanya menetes ke lantai. Isak tangisnya mengudara di ruangan yang hening ini.
Sasuke mendecak sebal, "Kalau Kau ke sini hanya untuk menangis, lebih baik pulang saja dan menangislah di bawah bantalmu!"
Dengan kesengukan, Naruko membuka suaranya, "Seharusnya aku mengerti... hiks... ikatan kalian terlalu kuat! A-aku tidak bisa memutusnya!"
Sebelah alis Sasuke naik—heran.
Mendadak Naruko melakukan sesuatu terhadap matanya. Ia mencubit permukaan bola matanya hingga sebuah benda bundar yang sangat tipis kini berpindah ke jemari yang lentik. Senyuman getir terpancar di wajah manisnya. Kedua mata Naruko kini tidak lagi semuanya biru safir.
Kedua mata Sasuke terbelalak. Rasanya seperti tertusuk tombak yang besar.
"Ya. Kau memang sangat cerdas, Sasuke-kun! Aku adalah Haruno Sakura! Wanita yang mengirimkan sebuah surat perasaan padamu, namun dengan sekejap Kau menghancurkannya!"
Perlahan sudut bibir Sasuke tertarik, membentuk sebuah seringaian, "Bodoh!" ejeknya. Demikian nafsu Sasuke untuk membaca sirna. Ditaruhnya majalah tersebut kembali ke atas bufet. Ia lebih tertarik dengan dialog ini. Dengan santai, ia langsung duduk dan menopangkan dagu dengan kedua tangannya, "Lalu, apakah Kau mengoperasi wajah buruk rupamu? Berpura menjadi angsa yang cantik, hee?"
Naruko yang sebenarnya Sakura itu menahan deru napasnya yang bercampur emosi. Sebenarnya ia ingin segera pulang dan menyayatkan silet di urat nadinya. Namun semua ini harus selesai. Bagaimanapun juga, ini adalah salah Sakura. Ia yang sangat terobsesi pada Sasuke. Ah, penyesalan selalu datang terlambat.
Lalu dengan wajah yang tegas, Sakura menjawab, "Iya, Sasuke-kun! Aku merubah seluruh tubuhku mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hanya saja, aku tidak bersedia untuk mengoperasi mataku untuk persis seperti Naruto. Ini adalah harta dari orang tuaku."
"Kalau harta dari orang tuamu, kenapa Kau menghilangkannya—seluruh tubuhmu?"
"Aku hanya berpikir kalau Sasuke-kun akan melirikku sejenak karena aku ini bisa berpenampilan seperti apa yang Kau inginkan. Aku sangat tahu bahwa Kau sangat terobsesi pada sosok Namikaze Naruko! Aku hanya berusaha mewujudkannya! Kurang baik apa aku?!"
Kekehan tidak suka meluncur di bibir Sasuke, "Hee? Mau Kau merubah jenis kelamin pun, aku takkan pernah tertarik padamu, Bodoh! Para siswi benar. Kau ini hanyalah seorang jalang!"
Kedua mata Sakura terbelalak sempurna. Air mata mengalir dengan deras layaknya air terjun. Kaki yang sudah tidak sanggup menopang tubuhnya pun kini lemas dan jatuh ke lantai yang dingin. Ia benar-benar menangis keras. Tentu saja. Siapa yang tahan dicela seperti itu, terlebih oleh orang yang disukai?
"Mau diuji seberapa pun, aku tetap mencintai Naruto! Hanya dia yang sanggup membuka gerbangku!" tegas Sasuke, "Kuakui, Kau memang sempat menarik minatku saat menjadi sosok Naruko, namun masih ada yang belum Kau punya. Hatimu tidak sebersih Naruto! Sisi gelapmu menyelubungi kecantikanmu!"
Isak tangis Sakura berhenti. Namun ia masih tertunduk dalam.
"Aku berhenti bermain di permainanmu, Sakura! Aku tidak akan menahannya lagi! Mulai sekarang aku akan serius akan perasaanku terhadap Naruto! Akan kudapatkan hatinya, walaupun aku harus mengorbankan semua yang kupunya—seperti dirimu yang mengorbankan semuanya hanya untukku! Jadi, Kau mengerti 'kan?"
Kekehan yang membuat Sasuke berjengit, meluncur dari bibir Sakura. Wajah gadis itu yang kini masih tertunduk juga menampilkan sebuah seringaian, "Sungguh menjengkelkan sekali mendengar deklarasimu itu, Sasuke-kun!" gumamnya, dengan nada yang sangat rendah—hingga terkesan seperti setan. Kedua tangannya yang kini di atas paha, perlahan mengepal dengan kuat. Dan mendadak wajahnya mendongak dengan merah padam dan gemerlap girang, "Tapi aku suka gayamu!" teriaknya, dengan seringai girang.
Sasuke mendadak sweatdrop.
Sakura tertawa, "Asalkan Kau tahu saja, karena hubungan kalian itu yang membuatku berani untuk jujur. Kalian hebat! Belum pernah aku mendapat OTP secantik kalian!"
Sweatdrop di kepala Sasuke bertambah menjadi dua. Jangan-jangan gadis kampret ini...
"YEAH! AKU ADALAH VETERAN FUJOSHI YANG KINI BANGKIT KEMBALI KARENA MELIHAT KALIAN!"
Tunggu... rasanya menjadi antiklimaks...
Sasuke berjengit horor, "Jangan-jangan Kau adalah salah satu author di dunia maya yang sering membuat fiksi homo?! Dan... dan... yang menjadi main karaktermu selama ini adalah... aku?"
Efek bunga-bunga menjadi background Sakura, "YA! PINTAR SEKALI KAU, SASUKE-KUN!"
Siapa pun! Bantu Sasuke untuk memasangkan kabel oksigen!
"Dan yang sangat indahnya, aku bisa melihatnya secara LIVE setiap hari! Bayangkan berapa kotak tisu yang habis?!" jerit Sakura, girang.
Mungkin kabel oksigennya sudah terlambat karena Sasuke sudah terbujur kaku.
Raut girang itu runtuh kembali menjadi raut yang dingin, "Memang, alasan aku berhenti menjadi fujoshi adalah untuk mengejarmu. Kau tahu, berapa lama aku depresi? Hingga Ayah tiriku akhirnya memberi apa saja yang kuinginkan? Tapi aku sangat bersyukur karena Kau tidak bersama wanita manapun! Aku sangat marah kalau itu terjadi!"
Sasuke berjengit, "Sakura! Apa tadi Kau mengatakan Ayah tiri?"
Sakura tersenyum, "Ya, Namikaze Minato adalah Ayah tiriku! Ayah dan Ibuku bercerai, lalu Ibuku menikah dengan Minato-san karena perintah Fugaku-san. Ah, orang itu benar-benar brengsek! Mengancam Ibuku untuk menikahi Minato-san, namun hanya untuk sebagai boneka!"
'Akhirnya teka-teki terpecahkan!' batin Sasuke.
"Tapi tenang saja! Aku sudah jinak kok!" tambah Sakura, cepat, "Aku sungguh sangat merestui hubunganmu dan Naruto! Kalau perlu aku akan membantumu dengan sekuat tenaga!" tegasnya, sembari berposisi hormat pada Sasuke—seolah ini adalah misi negara untuk berperang.
Sasuke tersenyum, "Terima kasih, ya, Sakura. Maaf soal ucapanku tadi."
Sakura terbelalak bahagia. Wajahnya memanas melihat Sasuke yang langka tadi. Dengan penuh semangat ia bergumam, "Humm... tidak apa-apa kok! Ini bukan apa-apa ketimbang kalian yang terus berjuang!"
Kedua bibir Sasuke mengatup, lalu terbuka lagi, "Omong-omong, bolehkah aku tahu kenapa Naruto harus menyamar jadi perempuan saat itu?"
End Of Flashback
.
.
.
Seketika Naruto mendorong tubuh Sasuke dengan kecepatan tinggi dan emosi yang meluap, "APA-APAAN ITU?!"
"Kenapa?"
"KALAU KAU SUDAH TAHU, KENAPA TIDAK BILANG?!" jerit Naruto. Untung suara di sini sedikit berisik, jadi ia tidak menjadi sorotan.
Kekehan geli meluncur di bibir Sasuke, "Kalau aku berkata bahwa aku ini sudah tahu sejak awal, itu jadi tidak keren 'kan?"
"Tapi... tapi..."
Mendadak sebuah kecupan mendarat di bibir Naruto. Membuat darah Naruto menjadi mendidih.
"Tenanglah... semuanya sudah baik-baik saja kok!" bisik Sasuke, dengan senyuman hangat.
"L-lalu bagaimana dengan Sakura-chan?"
Sasuke mendengus pelan lalu melirik ke arah kanan—seolah menunjuk sesuatu, "Kau bisa lihat di sana?"
Kedua safir milik Naruto mengikuti arahan Sasuke. Dan tampaklah di sana seorang gadis cantik berpenampilan anggun tanpa topeng sedang menggenggam segelas sirup. Surainya tidak lagi pirang, melainkan kembali menjadi pink—yang sekarang digulung dan sedikit menyisakan beberapa helaian di kedua samping wajah. Gadis itu sedang tertawa kecil bersama seseorang yang berada di hadapannya.
Senyuman hangat di wajah Sasuke muncul, "Aku sangat berterima kasih padanya. Dia selalu menolong kita, Kau tahu?"
"Eh?"
"Kalau pada awalnya Sakura tidak mengidolakanku, mungkin kita takkan pernah bertemu. Kalau Sakura tidak menelepon polisi saat kejadian dengan preman itu, entah apa yang mungkin terjadi padaku saat ini. Dan Sakura juga selalu melindungi kita dari Ayahku. Ah, begitu banyak yang ia lakukan untuk kita!"
Naruto ikut tersenyum, "Ah, Kau benar, Teme!"
Tanpa Naruto ketahui, diam-diam Sakura menyeringai dan langsung menjentikan jemarinya. Dan mendadak suasana dalam ball room tersebut menjadi gelap. Semua orang kaget dan kebingungan—termasuk Naruto. Hingga mendadak cahaya dari sebuah lampu sorot, menghujam tubuh Sasuke dan Naruto. Otomatis semua mata tertuju pada pasangan tersebut. Bisik-bisik heran mulai mengudara.
"A-apa maksud semua ini?" tanya Naruto, mulai berfirasat buruk. Dipandangi oleh orang-orang dalam keadaan seperti ini, membuatnya jengkel.
Sasuke tersenyum dan menoleh ke arah tempat Sakura berdiri, "Aku akan selalu berterima kasih padamu! Dan tidak lupa, aku juga akan selalu memberikanmu fanservices gratis, Sakura!"
"YOSHAAA!" jerit Sakura, menghilangkan sisi anggun yang tadi sempat menyelimutinya. Dengan senyum lebar dan wajah yang panas, ia memberi Sasuke salam hormat, "Aye aye, Kapten! Agen Sakura selalu siap melayani pasangan SasuNaru! Cihuy!"
Naruto mendadak gondok dan mulai merinding. Perubahan Sakura dari kupu-kupu cantik menjadi ulat bulu adalah sesuatu sekali—bagi Naruto.
Sasuke mendengus geli. Ia segera berlutut di hadapan si Pirang dan langsung mengamit tangan berkulit gelap tersebut. Lalu ia segera mengecup punggung tangan itu, "Aku Uchiha Sasuke menerimamu dalam sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, susah maupun senang." Senyuman hangatnya membuat beberapa gadis menahan mimisan, "Maukah Kau menjadi kekasihku, Namikaze Naruto?"
Wajah Naruto yang memang semula merah, kini menjadi merah padam. Ia terus berusaha mengalihkannya dari tatapan lurus milik Sasuke, "K-Kau ini bicara apa sih? M-memangnya k-kita sedang menikah?" sunggutnya, dengan tsundere.
Sasuke menyeringai, "Oh jadi Kau justru menginginkan pernikahan? Oke, aku akan melamarmu langsung di sini!"
"HUAAAA APA-APAAN KAU INI?!" jerit Naruto, masih tsundere. Kedua kakinya benar-benar lemas.
"Jadi, apa jawabanmu?"
Sambil masih mengalihkan wajah, Naruto menjawab dengan bibir yang dimanyunkan, "K-kenapa Kau masih terus bertanya? Kau sudah tahu jawabanku 'kan?"
"Hee? Aku hanya ingin mendengarnya langsung dari bibirmu yang manis." Rayu Sasuke, membuat Naruto seolah meleleh.
Naruto menundukan wajah dan berbisik, "Aku menerimanya."
Bukannya puas, Sasuke justru tambah menggodanya, "Apa? Aku tidak dengar!"
Dengusan gusar meluncur di bibir Naruto, "Baiklah... baiklah... Aku Namikaze Naruto menerima Uchiha Sasuke dalam sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, susah maupun senang! Kau puas?!"
Para penonton terkesima dengan pasangan nyentrik tersebut. Perlahan suara tepuk tangan mulai terdengar. Beberapa dari mereka bahkan mulai menanamkan diri untuk bergabung di SasuNaru fansclub—sebagian anggotanya adalah para 'Suke dayo.
Dengan wajah bahagia, Sasuke menyapukan hidung mancungnya pada permukaan kulit Naruto mulai dari ujung jemari, merayap ke punggung tangan, lengan, pundak, hingga terakhir berhenti di bibir. Mereka berdua kembali berciuman dengan lembut, seolah mereka hanya berdua di dunia ini. Menghiraukan tepuk riuh dan genangan darah dari mimisan para penggemar.
Sakura yang menjadi dhalang di balik semua ini hanya terkekeh bangga, "Dasar pasangan sialan! Membuatku anemia begini! Mungkin aku harus transfusi darah." Gumamnya, sembari menyumpalkan tisu ke lubang hidung.
"Ano... Sakura..."
"Eh?" respon Sakura, menoleh ke sumber suara. Ternyata di sana berdirilah Karin, Ino, Tenten, Temari, dan lain-lain—yang merupakan para 'Suke dayo.
"Mungkin kelakuan kami sudah terlewat batas saat itu. Maaf... karena kami... Kau seolah terusir dari sekolah dan klub. Aku mewakili seluruh orang-orang yang sudah mencelamu, meminta maaf yang sebesar-besarnya!" Lirih Karin. Perlahan senyuman hangatnya terpancar, "Jadi... maukah Kau bergabung kembali ke klub?" tawarnya, sembari mengulurkan tangan.
Kedua mata zamrud Sakura berbinar-binar bahagia. Air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Dan dengan senyuman yang hangat ia membuka suara, "Aku sudah memaafkan kalian kok! Lagipula aku juga yang salah. Dan terima kasih karena sudah mau menerimaku kembali." Ucapnya. Namun tangan Karin masih menggantung, belum ia konfirmasi. Lalu Sakura membuka suara lagi, "Tapi maaf, aku tidak ingin menjadi penggemar Sasuke lagi."
"Eh?" pekik para 'Suke dayo.
Sakura melipat kedua tangannya di dada. Lalu menempelkan jempol dan telunjuk—yang membentuk pistol, di dagu. Ia terkekeh layaknya nenek sihir lalu berteriak tegas, "Mulai sekarang! Aku adalah penggemar SasuNaru! Dan kuputuskan untuk menjadi ketua di klubku sendiri! Siapa yang mau ikut?!"
"KYAAA! AKU! AKU!"
Mendadak Sakura berjengit kaget. Padahal tadi ia cuma asal bicara. Ia menoleh ke arah pasangan yang menjadi objek dengan pandangan khawatir. Dan pasangan nyentrik itu tersenyum lembut—berisyarat bahwa mereka menyetujui diekspos. Bahkan Sasuke mengacungkan dua jempol.
Sakura terkekeh hambar sembari menggaruk pelipis dengan telunjuk, "Aduh bakal repot, nih."
.
.
.
Setelah merasa semuanya membaik, akhirnya Sasuke memberanikan diri untuk kembali ke panggung hiburan. Dan karena meninggalkan begitu banyak pekerjaan, Sasuke harus menanggungnya dengan bekerja lebih keras. Seluruh tawaran untuk manggung, menghadiri konferensi pers, menjadi model, menghadiri acara talk show, syuting drama, menghadiri wawancara radio, syuting film, semuanya ia terima. Sasuke sudah tidak marah lagi pada media—lebih tepatnya sudah tidak peduli. Karena yang Sasuke pedulikan saat ini hanyalah Naruto seorang. Sisi Sasuke yang pekerja keras mulai bangkit kembali. Bahkan tidak tanggung-tanggung, dalam waktu dekat ini, Sasuke akan mengadakan konser tunggal bertema "Metamorfosis". Maksudnya konser ini akan menceritakan bagaimana ia berjalan dari masa kegelapan (ulat) menuju masa depan yang cerah (kupu-kupu). Dan tentu saja yang mendapat tiket VVIP secara gratis hanyalah Naruto dan Sakura—selaku para pelaku di balik semua ini.
Saat konser dimulai, Sasuke begitu terharu melihat begitu banyak penggemar yang masih setia—dan bahkan beberapanya bertambah. Berkat didikan keras Naruto, ia akan menjadi peduli pada para penggemar dan senantiasa ramah. Karena tanpa penggemar, Sasuke bukanlah siapa-siapa. Karena tanpa penggemar, tiada yang mau mendengar lagu-lagu buatan Sasuke yang dibuat saat vakum. Ah, Sasuke benar-benar merindukan saat-saat seperti ini. Bagaimana lautan warna-warni dari light stick di Konoha Dome ini, riuh orang-orang, spanduk, poster, dan lain-lain.
Para penonton terkesima dengan perubahan yang terjadi pada Sasuke. Beberapa di antara mereka terkadang mimisan berjamaah saat melihat beberapa kali sang idola tersenyum—bahkan tertawa bahagia. Belum pernah Sasuke seperti ini. Sungguh, mereka mengidolakan orang yang telah "menjinakkan" Sasuke menjadi begini.
Hingga pada akhir acara, Sasuke datang ke atas panggung hanya membawa sebuah gitar klasik. Beberapa kru menyiapkan kursi dan penyangga mikrofon. Riuh penonton menggema meneriakan nama Sasuke.
"Oke selamat malam, semuanya!" sapa Sasuke saat ia sudah duduk nyaman di kursi, "Tidak terasa kita sudah berada di ujung acara."
Sontak para penonton berteriak kecewa.
"Tapi tenang, sebagai bonus, aku ingin kalian mendengarkan laguku yang baru kutulis beberapa jam yang lalu."
"EEEHHH?" pekik penonton, "KAMI TENTU AKAN MENDENGARKANNYA, SASUKE-SAMA!"
Sasuke tersenyum bahagia. Lalu pandangannya jatuh pada seseorang yang sedang duduk di bangku VVIP, "Lagu ini kuciptakan untuk seseorang yang sudah membuatku berubah menjadi kupu-kupu. Aku harap dia menyukainya."
Penonton bersorak gembira sembari menggoyangkan light sticks.
Sebelum memulai, Sasuke menghela napas terlebih dahulu. Mungkin inilah efek dari terlalu lama vakum. Ia menjadi lebih gugup—apalagi dilihat oleh banyak orang dan konser ini disiarkan secara live di salah satu stasiun tv.
Sorak penonton perlahan mereda saat Sasuke memulai memainkan intro dengan gitar tersebut. Semua seolah terhipnotis oleh permainan gitar yang indah itu.
Sasuke mulai mengeluarkan suaranya,
Sudah berapa lama kah?
Topeng di wajahku ini?
Angin yang datang pun tak bisa goyahkannya...
Jemari pucat itu terus menari di antara bentangan senar gitar.
Mereka menambahkannya
Semua kebohongan itu
Bedebah yang mengatakan semuanya benar...
Pandangan Sasuke menajam. Seolah ingin menyampaikan bahwa ia adalah korban dari kebohongan itu. Teringat di mana ia berada di masa-masa kelam. Saat ia dibohongi oleh ayahnya sendiri... dan sosok yang ia cintai.
"Aku bisa lewati itu!" huh?
Bullshit! Inginku membunuh mereka! Yeah!
Kali ini tangan Sasuke lebih bertenaga untuk menghentak tempo di permainan gitarnya.
Di bawah langit yang biru ini
Aku terbaring lupakan sejenak
Mentari selimutiku
Oh hangatnya membuatku terlupa
Akan kamera dan sorot lampu
Walau dipenuhi dusta
Topengku retak!
Semua penonton bergeming. Terkesima dengan lagu tersebut yang isinya seolah benar-benar menggambarkan kehidupan Sasuke selama vakum. Namun Sakura mengerti arti dari reff itu—karena ia memakai kacamata fujoshi. "Langit biru" menggambarkan iris mata Naruto yang indah bagai langit biru tanpa awan. Lalu "terbaring lupakan sejenak di bawah mentari" berarti Sasuke yang beristirahat dari dunia hiburan ke dunia konyol milik Naruto. Dan "walau dipenuhi dusta, topeng retak" artinya walau selama ini Naruto berbohong, tapi Sasuke tetap menerimanya dan justru perlahan merubahnya.
Kali ini Sasuke memainkan intelude singkat yang cantik sebelum melanjutkan—kembali ke nada awal,
Hari-hari yang ceria
Di naungan langit biru
Kuharap cintaku tersampaikan padanya
Kulupakan dusta itu
Kumaafkan kebodohannya
"Aku merindukan senyum lima jarimu!"
Kali ini Sakura benar-benar yakin. Ia melompat senang mengetahui hipotesisnya benar. Dengan seringai jahil, ia mencolek tangan Naruto yang kini duduk di sebelahnya dan berbisik, "Dia sedang membicarakanmu, tuh!"
Naruto tersipu malu. Namun tetap mempertahankan sifat tsundere-nya, "Diamlah, Sakura-chan!"
Dan seolah mengerti, Sasuke menatap Naruto dengan lurus dari panggung. Membuat Naruto berjengit malu-malu. Sakura hanya tertawa.
Ekstasi, alkohol, melayaniku. Cih!
Tak mampu saingi figur malaikat...
Kali ini nadanya kembali menegas—seperti sebelumnya,
Di bawah kamera dan lampu sorot
Kuingin mengatakan dengan keras
Bahwa, "Kumencintaimu!"
Tak peduli kau tak menerimaku
Tak peduli kau akan membenciku
Aku siap hadapinya
Kulepas topengku!
Naruto benar-benar tersenyum bahagia. Ia benar-benar beruntung memiliki pacar seromantis Sasuke.
"Aku benar 'kan, Naruto?" ujar Sakura, girang.
"Ah." Jawab Naruto, masih tersenyum damai, "Tentu saja aku menerimamu, Teme! Setelah Kau melepas topengmu di pesta saat itu! Dan setelah Kau membuang topeng dinginmu!"
Sakura terkesima. Semburat merah perlahan menghiasi wajahnya. Dan ia pun berkata, "Aku suka gayamu, Naruto!"
Para penonton bersorak saat mendengar intelude yang dimainkan Sasuke. Bahkan Naruto ikut bersorak gembira—memberikan tambahan tenaga untuk Sasuke. Hingga mendadak permainan gitar itu berhenti. Semua penonton terdiam bingung.
Sasuke kembali membuka mulut, kali ini suaranya nyaris berbisik,
Di bawah langit yang biru ini
Aku terbaring lupakan sejenak...
Suara Sasuke lalu menghentak,
Mentari selimutiku!
Tangan pucat itu kembali memainkan gitar, namun dengan sangat emosional hingga membuat para penonton berdiri. Sasuke pun berdiri dan berjalan ke ujung panggung—seolah sedang berjalan-jalan di dermaga lautan manusia.
Oh hangatnya membuatku terlupa
Akan kamera dan sorot lampu
Walau dipenuhi dusta
Topengku retak!
Topengku retak!
Kulepas topengku!
Petikan gitar terakhir membuat para penonton bersorak meriah. Sementara Sasuke berdiri memandangi tempat VVIP. Walau terengah-engah dan keringat membanjiri seluruh tubuh, ia tetap tersenyum sembari menggenggam gitar yang sudah dicoret-coret Naruto.
"TERIMA KASIH, SEMUANYA!" teriak Sasuke, yang disambut sorakan penonton. "DAN TERIMA KASIH UNTUK NAMIKAZE NARUTO YANG SUDAH MERUBAHKU MENJADI KUPU-KUPU! AKU MENCINTAIMU, NARUTO!"
Air mata bahagia tidak mampu Naruto bendung lagi, "Ya, Sasuke! Aku juga mencintaimu!" tegasnya, dengan suara yang nyaris berbisik.
Sementara Sakura harus tersiksa karena air mata harunya dan mimisannya yang terus membanjir.
Naruto lalu menatap Sakura dengan air mata harunya, "Sakura... terima kasih, ya! Berkatmu, aku mendapat keberuntungan lain yang sangat indah! Keberuntungan lain yang kukira adalah sebuah kesialan yang sangat besar."
Sakura tersenyum, "Aku ikut bahagia! Akibat keegoisanku untuk mendapat tanda tangan Sasuke saat itu, justru membuahkan keberuntungan lain untukmu!"
Demikianlah cerita ini...
TAMAT
.
.
.
Terima kasih banyak untuk:
Tuhan YME
Teman-teman di FanFiction
Wifi sekolah
Warnet
Dll.
.
.
.
Jejak Kaki:
Terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mengikuti fiksi berjudul Keberuntungan Lain ini. Saya selaku author fiksi ini, mengucapkan permohonan maaf karena ketidakdisiplinan saya selama ini.
Sekian.
.
.
.
Original Soundtrack
[Karena Langit Biru]
Komposer : Mizuki Rae Sichi
.
.
.
TERIMA KASIH, SEMUANYA!
20 April 2015
Mizuki Rae Sichi
