"Aku tak ingin lagi ada di Seoul, Hyung. Aku ingin pergi sejauh mungkin. Ke tempat yang tidak ada seorang pun mengenalku. Ke tempat dimana tak akan ada yang dapat menemukan keberadaanku. Meninggalkan semua orang yang tak pernah dengan tulus menyayangiku. Meninggalkan semua orang yang ‒ yang ‒ hiks ‒"

Yesung beranjak dari duduknya dan langsung membawa Ryeowook mausk ke dalam pelukannya. Ryeowook makin terisak saat Yesung mendekapnya erat.

"Ssst, uljima, Ryeowookie."

Leeteuk menatap sendu ke arah Ryeowook.

"Bawa Wookie ke kamar kalian, Sungie. Biarkan ia istirahat. Kau bisa melanjutkan ceritamu nanti, Wookie. Sekarang lebih baik kau tenangkan dirimu."

Leeteuk kembali mengulas senyum lembutnya. Yesung mengangguk pelan dan langsung membawa Ryeowook menuju kamar yang mereka tempati berdua.

Sepeninggal Ryeowook dan Yesung, Leeteuk memijat pelipisnya pelan. Sepertinya apa yang dialami Ryeowook bukan hal kecil. Melihat Ryeowook yang sampai berlari ke minuman beralkohol dan menangis hebat seperti tadi. Pasti masalah yang dialaminya cukup berat.

"Apa yang harus ku lakukan?"

Genre : Brothership

Rating : Fiction T

Cast : All Super Junior member and other cast

Disclaimer : All them belong to themselves and GOD.I own only the plot.

Warning : Typos, Geje , Don't like it? Don't read it please.

Summary: "Wah, sepertinya dongsaeng imut dari Lee Sungmin tengah bersedih."/ "Ah, itu, mianhae, Sunbae, sepertinya aku tak bisa lagi pergi kesana. Aku sudah berjanji pada Leeteuk Hyung. Jeongmal mianhae, Sunbae."/ "Mwo? Jangan asal bicara!"/"Wookie? Ya! Wookie. Irreona!"

Saphire Blue House

Chapter 10

Saat ini Ryeowook dan Yesung berada di kamar mereka. Kamar yang sudah hampir satu minggu ini hanya ditempati seorang diri oleh Yesung. Ryeowook baru saja tertidur. Sepertinya namja mungil itu terlalu lelah menangis.

Yesung merapikan selimut yang menutupi tubuh Ryeowook. Ia menatap sendu wajah dongsaeng kesayangannya itu. Pandangannya menerawang ke kejadian satu minggu yang lalu.

~Flashback~

Yesung tengah berjalan di sepanjang koridor yang ada di fakultas Modern Music. Kebetulan hari ini Yesung ada janji menemui dosennya untuk membahas laporan magang yang tengah Yesung susun. Mengingat waktu magangnya sebentar lagi akan selesai, tentu laporan yang ia buat pun harus segera ia selesaikan.

Tak jarang beberapa hoobae yang berpapasan dengan Yesung menegurnya. Ayolah, siapa yang tak mengenal Yesung. Selain karena dirinya adalah sahabat baik Leeteuk dan salah satu penghuni Sapphire Blue House, Yesung juga merupakan sosok yang cukup dipandang di jurusannya.

Hampir setengah dari trophy yang ada di ruangan dosen di fakultas ini diraih oleh Yesung. Dengan suaranya yang sangat indah, Yesung selalu ditunjuk menjadi perwakilan dari kampus untuk mengikuti kompetisi menyanyi. Dan Yesung tak pernah pulang dengan tangan hampa. Ia pasti selalu meraih juara.

Yesung menampakkan senyumnya saat manik matanya melihat keberadaan dongsaengnya di depan sana. Ia melangkah lebih cepat berniat untuk menghampiri dongsaengnya itu. Namun langkahnya terhenti saat melihat ada sekelompok namja tak dikenalnya yang menghampiri dongsaengnya itu.

Dihantui rasa penasaran, Yesung mencoba untuk mendekat dan mencuri dengar percakapan mereka. Tak ingin kejadian yang menimpa Kibum terulang lagi.

"Wah, sepertinya dongsaeng imut dari Lee Sungmin tengah bersedih."

Yesung sedikit terkesiap saat mendengar ucapan namja tersebut. Ia mengarahkan pandangannya pada wajah dongsaengnya itu. Memang wajahnya terlihat memerah. Seperti baru saja menangis. Ada apa dengannya?

"Kau tahu, Ryeowook-ah, kau bisa menceritakan masalahmu padaku. Atau kau mau ikut dengan ku malam ini? Aku jamin, semua masalah yang kau hadapi akan terlupakan."

Yesung tak melihat Ryeowook menjawab pertanyaan namja itu. Hanya saja, tak berselang lama, Ryeowook menganggukkan kepalanya. Pertanda menyetujui ajakan namja di hadapannya itu.

"Okay! Lupakan masalahmu dan kita akan berpesta. Ayo, kita ke Hero Club."

Yesung terlonjak saat mendengar ucapan namja tadi, yang setelah diingat-ingat bernama Jong Ki. Ia beranjak dari posisinya berniat mencegah kepergian Ryeowook. Tapi sepertinya ia kalah cepat dengan namja-namja itu. Ryeowook sudah berlalu pergi bersama mereka.

~SBH~

Ryeowook mengerjapkan kedua matanya. Matanya terasa sedikit berat. Mengingat dirinya menangis cukup lama sebelum akhirnya jatuh tertidur. Ryeowook memandang sekelilingnya. Tak didapatinya keberadaan Yesung di ruangan itu. Setelahnya Ryeowook melirik jam yang ada tepat di hadapannya. Sudah jam 1 siang.

"Ternyata aku tertidur sangat lama. Untung hari ini aku tak ada kelas," monolog Ryeowook.

Setelah beberapa saat, Ryeowook memutuskan bangkit dari tempat tidurnya. Berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.

Ryeowook melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Keheningan lah yang menyambut Ryeowook. Sepertinya sebagian besar penghuni Sapphire Blue belum kembali dari aktivitas mereka. Sedangkan Heechul dan Leeteuk, mungkin mereka ada di kamar atau malah sedang pergi keluar.

Ryeowook menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tengah. Niat awalnya tadi ia ingin ke dapur. Mengisi perutnya. Tapi melihat suasana rumah yang sesepi ini, rasanya Ryeowook sungkan untuk melangkahkan kakinya ke dapur.

"Kau sudah bangun?"

Ryeowook menolehkan kepalanya. Dilihatnya Yesung yang tengah berjalan menghampirinya.

"Hyung tidak ke kampus atau studio?"

Bukannya menjawab pertanyaan Yesung, Ryeowook malah meluncurkan pertanyaan lagi pada Yesung. Yesung mengacak pelan rambut Ryeowook mendengar penuturan dongsaengnya itu.

"Aku bisa mengerjakan pekerjaanku di rumah. Kau lupa? Ah, apa kau sudah makan?"

Ryeowook menggeleng.

"Aku belum lapar, Hyung."

"Aish, jangan membiasakan diri menunda makan, Wookie. Ayo, sekarang ikut aku ke dapur. Kita makan."

"Eoh? Hyung juga belum makan?"

"Belum, aku tadi baru membicarakan suatu hal dengan Leeteuk Hyung."

Ryeowook mengangguk-anggukkan kepalanya. Setelahnya namja mungil itu berjalan mengikuti langkah kaki Yesung menuju dapur. Tetapi sepertinya mereka berdua ‒atau mungkin hanya Yesung‒ harus menelan kekecewaan. Begitu sampai di dapur, sama sekali tak ada makanan yang tersedia.

"Aish, aku lupa kalau siang ini tidak ada siapapun di rumah ini selain kita dan Leeteuk Hyung."

"Apa Leeteuk Hyung juga belum makan siang?"

Yesung hanya menganggukkan kepalanya. Ia sibuk membuka beberapa lemari yang ada di dapur. Berharap dapat menemukan ramyoen. Ryeowook yang melihat itu menggeleng pelan. Ia pun melangkahkan akinya menuju kulkas. Melihat bahan makanan apa yang tersedia dan dapat diolah dengan cepat.

Setelah menemukan apa yang dicari, Ryeowook mulai mengeluarkan bahan-bahan tersebut.

"Hyung duduk saja. Aku akan buatkan omurice untuk kita. Tidak akan lama."

Yesung menepuk keningnya pelan. Ia lupa jika saat ini sedang bersama Ryeowook. Namja mungil itu pasti sangat dapat diandalkan di saat seperti ini.

"Ne, gomawo, Wookie."

Yesung pun mendudukkan dirinya di alah satu kursi yang ada di meja makan. Berkutat dengan ponsel yang ia bawa.

"Kalian sedang apa?"

Yesung menolehkan kepalanya. Tersenyum kecil pada Leeteuk dan mengisyaratkan pada Hyung tertuanya itu untuk ikut duduk bersamanya.

"Aku menunggu Wookie membuatkan kita makan siang, Hyung. Hyung juga belum makan siang, kan?"

Leeteuk mengangguk paham mendengar ucapan Yesung. Ia pun mendudukkan dirinya di bangku yang berada di sebelah Yesung. Tak lama, Ryeowook menyelesaikan kegiatannya dan mereka bertiga pun mulai menikmati hidangan tersebut.

~SBH~

Ryeowook melangkahkan kakinya menuju kelasnya pagi ini. Wajahnya masih terlihat sedikit murung. Sepertinya suasana hatinya masih belum terlalu membaik. Walaupun saat ini ia telah menuruti permintaan dari Leeteuk untuk tidak lagi pergi ke bar.

Langkah Ryeowook terhenti saat melihat Jong Ki dan kawan-kawannya. Ryeowook Sebenarnya cukup heran dengan Jong Ki. Seingatnya Jong Ki adalah mahasiswa Fakultas Bahasa. Tapi Ryeowook sangat sering melihat keberadaannya di Fakultas Seni.

"Annyeong, Ryeowook-ah."

"Annyeong, Sunbae."

Walau sedikit resah, Ryeowook berusaha untuk bersikap sopan. Ia tak ingin membuat masalah. Karena setahunya, Jong Ki dan kawan-kawannya itu sama menyebalkannya seperti Sang Byun.

"Malam tadi aku tak melihatmu di tempat biasa. Kau pergi kemana?"

Ryeowook mengusap tengkuknya saat mendengar pertanyaan itu.

"Ah, itu, mianhae, Sunbae, sepertinya aku tak bisa lagi pergi kesana. Aku sudah berjanji pada Leeteuk Hyung. Jeongmal mianhae, Sunbae."

Jong Ki mendengus mendengar perkataan Ryeowook.

"Ah, sudah kembali menjadi anak baik, eoh? Apa yang kau dapatkan dengan menjadi anak baik, Ryeowook-ah? Kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Bukankah kau selama ini sudah menjadi anak baik. Selalu mendukung orang tuamu. Tapi apa yang kau dapatkan? Sebuah kebohongan, kan? Hanya kepalsuan, kan?"

Ryeowook menunduk. Tanpa diperintah, otaknya bekerja memutar semua memori-memori indahnya bersama kedua orang tuanya. Semua canda tawa yang menghiasi keluarga kecil mereka. Semua keceriaan yang melingkupi masa kecilnya dulu.

Melihat Ryeowook tertunduk, Jong Ki menyeringai senang. Ini saatnya ia kembali menghasut Ryeowook.

"Orang tuamu saja tega membohongimu, apalagi Leeteuk Sunbae yang tidak memiliki hubungan darah denganmu."

"Tapi sayangnya, Leeteuk Hyung tak mungkin seperti itu."

Ryeowook langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar suara tenor khas milik salah satu Hyungnya.

"Berhenti mengganggu dongsaengku, Jong Ki-ssi. Atau kau ingin mengalami nasib yang sama dengan Sang Byun?"

Jong Ki memandang sengit ke arah Sungmin. Sungmin sendiri hanya menanggapi santai hal tersebut. Ia yakin, Jong Ki tak mungkin bertindak gegabah. Mengingat Sungmin menguasai martial arts. Selain itu, sejak kasus Kibum dan Sang Byun, tak ada yang berani mengusik penghuni Sapphire Blue. Mengingat saat itu Sang Byun mendapat teguran keras dari pihak kampus.

Tanpa berkata apapun, Jong Ki beranjak meninggalkan koridor Fakultas Modern Music tersebut. Sungmin tersenyum kecil melihat itu. Ia mengarahkan pandangannya pada Ryeowook. Dilihatnya dongsaengnya itu menundukkan kepalanya.

"Sudahlah, Wookie, kau jangan terlalu mendengarkan ucapan Jong Ki. Kau pasti bisa membedakan mana perlakuan yang tulus dan hanya kepura-puraan."

Ryeowook hanya mengangguk kecil. "Ah, Hyung ada perlu apa kemari? Bukankah gedung fakultas Hyung cukup jauh dari sini."

Sungmin mengangkat kantung yang ia bawa.

"Aku membawakan ini untukmu dan Kyuhyunie. Kalian berdua belum sempat sarapan kan tadi. Leeteuk Hyung memintak untuk memberikan ini pada kalian berdua."

Ryeowook menganggukkan kepalanya dan menerima kantung yang disodorkan Sungmin.

"Gomawo, Hyung. Biar nanti aku akan memberikannya pada Kyuhyun."

Sungmin mengangguk. Ia melirik jam tangannya sekilas.

"Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Ingat, Wookie, jangan terlalu kau hiraukan perkataan Jong Ki. Dan juga, kau bisa menceritakan masalahmu pada kami. Kami siap mendengarmu."

Ryeowook tersenyum. Ia melambaikan tangannya pada Sungmin yang telah berjalan menjauh.

~SBH~

"Ne, Eomma, aku baik-baik saja disini. Leeteuk Hyung menjaga kami semua dengan sangat baik. Eomma dan Appa disana bagaimana?"

"Kami baik, Chagi. Mianhae, kami belum bisa mengunjungimu. Appamu masih sangat sibuk disini."

Ryeowook, sosok yang sedang menerima telpon dari sosok Eommanya, terdiam sejenak. Ia menyipitkan matanya saat melihat siluet seseorang yang sepertinya cukup ia kenal.

"Ryeowookie? Kau masih disana, Chagi?"

"Ah, nde, Eomma. Eomma, apa yang sedang Eomma lakukan sekarang?"

"Eoh? Waeyo, Chagi?"

"Aniyo, hanya ingin tahu apa yang Eomma lakukan di tengah kesibukan Appa."

Terdengar tawa lembut dari smartphone milik Ryeowook. Tawa yang sama terdengar tak jauh dari posisinya berada saat ini. Hanya berbeda beberapa meja.

"Kau pasti khawatir Eomma kesepian disini, kan? Kau tenang saja, Chagi. Eomma baik-baik saja. Eomma bisa melakukan banyak hal untuk menunggu Appa mu menyelesaikan semua urusan kantornya. Dan saat ini Eomma sedang bersantai di rumah."

"Jadi Eomma ada di rumah? Kenapa sepertinya ramai sekali. Apa sedang ada tamu?"

Tak ada jawaban dari seberang. Ryeowook hanya menunggu. Tak ingin terlalu mendesak Eommanya untuk bicara. Tapi pandangan mata Ryeowook tak pernah lepas dari sosok yeoja paruh baya yang diyakini olehnya adalah sosok Eommanya.

"Yeobo, ayo kembali."

Ryeowook tersentak saat pendengarannya menangkap kalimat itu. Samar memang, tapi terasa cukup jelas di telinganya. Dapat ia lihat sosok Eommanya memberikan isyarat pada namja di hadapannya untuk menunggu sebentar.

"Chagi, mianhae, Eomma harus menutup telponnya sekarang. Eomma baru ingat ada janji. Saranghae."

Klik!

Sambungan telpon itu terputus. Ryeowook menatap nanar sepasang suami-istri ‒mungkin‒, yang terlihat menjauh dari tempatnya saat ini.

~SBH~

Ryeowook tersentak bangun dari tidurnya saat kejadian yang dilihatnya beberapa waktu lalu muncul dalam mimpinya. Ryeowook terdiam di tempat tidurnya. Menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Memejamkan matanya dan mencoba mengenyahkan bayangan-bayangan yang menghantuinya itu.

Ryeowook mengalihkan pandangannya ke arah tempat tidur yang berada di sampingnya. Untung saja Ryeowook tidak histeris saat terbangun tadi. Jadi Yesung tetap terlelap dalam tidurnya. Sama sekali tak terganggu dengan kekagetannya tadi.

Kini pandangan Ryeowook teralih pada jam yang berada di dinding di hadapannya. Baru jam 3 pagi, tapi Ryeowook sudah kehilangan minat untuk melanjutkan tidurnya. Dengan perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya, berjalan meninggalkan kamarnya dan Yesung.

Sunyi. Itu yang Ryeowook rasakan saat menginjakkan kakinya di ruang tengah. Bukan hal ang aneh, mengingat penghuni yang lain pasti masih terlelap dalam tidurnya. Ryeowook mendudukkan dirinya dan meraih remote televisi. Mencari tayangan yang mungkin dapat menemaninya.

Tapi sepertinya hal itu percuma saja. Karena Ryeowook sama sekali tak memperhatikan tayangan yang ada di hadapannya. Tatapannya menerawang. Entah apa yang dilihat olehnya. Sepertinya hanya raga Ryeowook saja yang ada disana. Tidak dengan jiwanya.

"Apa yang kau lakukan tengah malam seperti ini, Wookie?"

Ryeowook menolehkan kepalanya. Ia tersenyum kecil saat melihat Leeteuk berjalan menghampirinya. Sama sekali tak merasa aneh melihat Leeteuk terjaga tengah malam seperti ini. Leeteuk mengambil duduk di samping Ryeowook. Ikut mengalihkan tatapannya kea rah televisi yang masih memutar tayangan entah apa. Tak menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi pada Ryeowook.

Untuk beberapa menit, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Hingga terdengar helaan nafas dari Leeteuk.

"Sebenarnya apa yang sedang kau fikirkan, Ryeowookie?"

Ryeowook menolehkan kepalanya saat mendengar ucapan Leeteuk. Menunjukkan wajah polosnya. Seolah tak mengerti maksud pertanyaan Leeteuk.

"Aku yakin kau mengerti maksud pertanyaanku. Kau tidak mungkin terbangun tengah malam seperti ini jika tak ada yang kau pikirkan."

Ryeowook menghembuskan nafasnya. Sepertinya ia sudah tak bisa lagi menyimpan masalahnya seorang diri. Dan memang saat ini ia butuh seseorang untuk dapat menguatkannya. Membantunya mengobati rasa kecewanya.

"Beberapa waktu yang lalu, aku melihat Eomma di sebuah café, Hyung."

"Eoh? Bukankah Eomma mu ada di China?"

Ryeowook menggeleng pelan. Tatapan matanya berubah sendu.

"Seharusnya memang seperti itu Hyung. Bahkan saat aku melihat Eomma, aku juga sedang bicara dengannya di telpon. Tapi saat kutanya Eomma berada dimana, Eomma bilang kalau Eomma ada di rumah."

"Mungkin kau salah mengenali orang, Wookie."

Ryeowook menggeleng.

"Aku yakin itu Eomma, Hyung. Aku sangat mengenali Eomma. Pakaian yang dikenakan Eomma saat itu adalah hadiah ulang tahun dariku beberapa tahun lalu."

Leeteuk menganggukkan kepalanya.

"Lalu, apa kau menghampiri Eomma mu saat itu?"

"Aniyo. Karena saat itu aku melihat seorang namja menghampiri Eomma. Walau sedikit samar, aku dapat mendengar namja itu memanggil 'Yeobo' pada Eomma."

Kini Leeteuk membulatkan kedua matanya mendengar cerita Ryeowook. Yeobo? Bukankah itu panggilan untuk sepasang suami istri? Belum hilang keterkejutan Leeteuk, kalimat Ryeowook selanjutnya makin membuatnya tersentak.

"Dan namja itu bukan Appa."

Ucapan Ryeowook itu sangat lirih. Mungkin jika suasana saat itu tidak sesunyi ini, Leeteuk tak akan mampu mendengar apa yang diucapkan Ryeowook. Dengan perlahan, Leeteuk membawa Ryeowook ke dalam dekapannya. Mengusap lembut punggung Ryeowook. Berharap dapat emberi kenyamanan pada dongsaengnya itu.

Ryeowook menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Leeteuk yang mengetahui hal itu mengeratkan dekapannya.

"Menangislah, Wookie, jika itu dapat mengurangi bebanmu."

Tanpa diperintah dua kali, Ryeowook langsung menumpahkan air matanya. Mengeluarkan semua kesesakannya dalam bentuk air mata.

Leeteuk masih terus mengusap punggung Ryeowook. Membiarkan namja mungil itu menumpahkan kesedihannya. Ia mengalihkan pandangannya saat merasakan seseorang berjalan menghampiri mereka. Senyum kecil tersungging di wajahnya saat melihat sosok itu. Dari melihat kehadiran namja itu saja, Leeteuk sudah dapat menebak jika namja bermata sipit itu mendengar percakapannya dan Ryeowook.

~SBH~

"Sudah merasa lebih baik?"

Ryeowook mengangguk. Ia melepaskan dekapan Hyungnya itu. Menggerakkan kedua tangannya untuk menghapus jejak air mata di wajahnya.

"Mianhae, aku membuat baju Hyung basah."

Leeteuk tertawa kecil mendengar ucapan polos Ryeowook.

"Gwaenchana. Asal itu bisa membuatmu sedikit merasa lebih baik, bukan masalah besar untukku."

Ryeowook hanya menganggukkan kepalanya sekali. Ia masih terdiam. Tak tahu harus bicara apa pada Leeteuk.

"Kenapa kau tak pernah menceritakan hal ini, Wookie?"

Ryeowook terkesiap saat mendengar suara bariton itu. Ia mengarahkan pandangannya pada single sofa yang ada di sisi kanannya. Membulatkan matanya saat melihat Yesung disana. Ia sama sekali tak menyadari kehadiran Yesung.

"Hyung ‒ sejak kapan Hyung disana?"

Lagi-lagi pertanyaan yang begitu polos meluncur dari namja mungil itu. Sangat tidak bisa dipercaya namja polos ini beberapa waktu yang lalu selalu menghabiskan malamnya untuk berada di bar.

"Apakah hal itu penting untuk ku jawab?"

Ryeowook mempout bibirnya mendengar jawaban Yesung. Semakin sebal saat mendengar suara kekehan dari sampingnya.

"Kenapa tak menjawab pertanyaanku?"

Lagi, Yesung melontarkan pertanyaan pada Ryeowook. Dengan nada dingin yang membuat Ryeowook bergidik.

"Yesung benar, Wookie. Kenapa kau tak menceritakan masalah ini pada kami? Atau mungkin hanya pada Yesung. Dengan begitu, kami bisa membantumu mencari jalan keluarnya."

Ryeowook menundukkan kepalanya.

"Aku masih terlalu kaget setelah melihat hal itu, Hyung. Aku juga tak tahu harus bagaimana menceritakannya pada Hyung."

Leeteuk dan Yesung menarik nafas mendengar hal itu.

"Kau sudah mencoba mendatangi rumahmu?"

Ryeowook mengangguk.

"Tapi aku tak melihat Eomma disana. Saat aku menanyakan perihal kemungkinan Eomma pulang pada Jung Ahjumma pun, jawabannya tidak. Eomma tidak pulang ke rumah."

"Lalu, apa rencanamu selanjutnya?"

"Entahlah, Hyung."

"Sudah mencoba menanyakannya pada Appa mu?"

"Dua hari setelah melihat Eomma, aku menghubungi Appa. Aku meminta bicara pada Eomma dengan alasan ponsel Eomma tak bisa ku hubungi. Tapi Appa beralasan sedang tidak bersama Eomma. Padahal saat aku menelpon itu masih sangat pagi. Tidak mungkin Eomma tidak ada di rumah."

Leeteuk mengusap tangan Ryeowook lembut.

"Percayalah, kedua orang tuamu memiliki penjelasan atas semua ini."

Ryeowook tak berkata apa-apa lagi. Begitu juga dengan Yesung. Keheningan kini menyelimuti mereka. Membiarkan sunyi menemani mereka menyambut matahari pagi.

~SBH~

Siang itu hanya ada Leeteuk dan Ryeowook di rumah. Semua penghuni rumah itu sibuk dengan kegiatan mereka. Heechul sendiri ada janji menemui Noona nya. Ryeowook sepertinya langsung tidur setelah makan siang tadi. Menyisakan Leeteuk seorang diri di ruang tengah. Sibuk dengan buku yang ada di tangannya.

Brakk!

Leeteuk terlonjak saat mendengar suara pintu yang dibuka dengan begitu kencang. Ia sudah siap untuk mengomeli siapapun yang membuka pintu dengan sangat brutal itu. Tapi belum sampai Leeteuk melakukan hal itu, ia langsung terdiam melihat raut tegang dongsaengnya itu.

"Hyung!"

"Waeyo, Heechul-ah?"

Heechul, pelaku pembukaan pintu secara brutal itu, mengatur nafasnya sejenak sebelum membuka suaranya lagi. Leeteuk hanya memperhatikan Heechul dengan kening berkerut. Setelah berhasil mengatur nafasnya, Heechul bersiap mengutarakan maksudnya.

"Hyung, apa Hyung sudah dengar kalau Eomma dan Appa Ryeowook berpisah?"

"Mwo? Jangan asal bicara!"

"Aku serius, Hyung. Noona yang bilang padaku. Bahkan Noona yang menjadi pengacara untuk Eomma Ryeowook. Dan itu sudah terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu."

Leeteuk terdiam. Entahlah. Berita yang disampaikan Heechul ini begitu mengejutkan untuknya. Sekelebat percakapannya dengan Ryeowook malam tadi berputar dalam benaknya. Jadi ini yang sebenarnya terjadi?

"Hyung, gwaenchana?"

"Nde. Aku hanya terkejut. Tolong jangan bicarakan hal ini pada Wookie. Aku tak ingin ia ‒"

"Aku sudah mendengarnya, Hyung."

Leeteuk langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar suara Ryeowook.

"Ryeowookie ‒"

"Jadi, sebenarnya Eomma dan Appa sudah berpisah? Alasan pindah ke China itu hanya untuk menutupi perpisahan mereka. Hanya sebuah alasan agar aku tak menanyakan keberadaan salah satu dari mereka. Kenapa mereka tak jujur saja padaku? Kenapa mereka harus merahasiakannya dan berpura-pura semua masih baik-baik saja. Kenapa, Hyung?"

Leeteuk langsung bangkit dari duduknya. Ia memeluk Ryeowook yang menangis kencang. Menanyakan sikap dari kedua orang tuanya. Sedangkan Heechul, ia merasa bersalah telah mengatakan hal sepenting itu tanpa tahu ada Ryeowook disana.

"Sssttt, uljima, Wookie. Uljima."

Leeteuk masih terus mencoba menenangkan Ryeowook. Ia tersenyum menenangkan saat pandangannya menatap raut bersalah pada Heechul.

"Wookie?"

Hening. Tak ada jawaban. Isakan Ryeowook pun berhenti mendadak. Membuat Leeteuk khawatir. Dengan perlahan, diangkatnya wajah Ryeowook. Mata itu terpejam sempurna. Dengan sisa-sisa air mata di wajahnya.

"Wookie? Ya! Wookie. Irreona!"

Leeteuk berubah panik saat menyadari Ryeowook pingsan. Tanpa pikir panjang ia langsung membawa Ryeowook kembali ke kamarnya.

"Heechul-ah, tolong hubungi Jung uisa."

"Nde, Hyung."

~SBH~

"Bagaimana, Uisanim?"

"Tenang saja, Jung Soo-ah. Ryeowook hanya mengalami shock hingga dia pingsan. Sepertinya ia juga sedikit tertekan. Apa benar?"

Leeteuk mengangguk.

"Ah, seperti itu. Aku mengerti. Kau tidak perlu cemas. Ryeowook hanya perlu istirahat. Kalau begitu, aku permisi dulu."

"Nde. Kamsahamnida, Uisanim."

Leeteuk membiarkan Heechul yang mengantar Jung uisa ke pintu depan. Sedangkan dirinya menatap cemas ke arah Ryeowook yang masih memejamkan mata. Setelah terdiam dan berfikir beberapa saat, Leeteuk beralih mengambil ponselnya dan beranjak meninggalkan kamar Ryeowook. Ia harus menghubungi seseorang.

"Yeoboseyo. Ahjumma, mianhae saya mengganggu. Saya hanya ingin memberi tahu jika saat ini Ryeowook sedang tak sadarkan diri. Dan jika bisa, saya harap Ahjumma bisa datang kemari untuk menemui Ryeowook."

Leeteuk tersenyum begitu mendengar jawaban dari seberang.

"Nde, saya tunggu, Ahjumma. Kamsahamnuda."

"Hyung menghubungi Eomma Wookie?"

Leeteuk menatap Heechul sejenak sebelum menganggukkan kepalanya.

"Dia perlu mendengar penjelasan dari orang tuanya, Heechul-ah."

Heechul mengangguk membenarkan. Ryeowook memang perlu penjelasan. Ia bukan anak kecil lagi yang belum mengerti hal-hal seperti ini. Mungkin penjelasan dari orang tuanya mampu membuat Ryeowook menerima semua ini.

~SBH~

Ryeowook menatap kosong langit-langit kamarnya. Sejak siuman tadi hanya itu yang Ryeowook lakukan. Sama sekali mengacuhkan Leeteuk yang berada di sampingnya. Dalam diamnya, tetes air mata itu kembali mengalir. Menyiratkan bagaimana perasaan Ryeowook saat ini. Bagaimana kekecewaan yang ia rasakan. Bagaimana hancurnya perasaannya saat ini.

Leeteuk tak berkata apapun. Ia hanya berdiam diri di samping Leeteuk. Hanya kedua tangannya yang terlihat menggenggam erat tangan Ryeowook. Sesekali menghapus air mata yang membasahi wajah dongsaeng mungilnya itu.

Leeteuk sangat mengerti apa yang dirasakan Ryeowook. Dan ia paham, bukan kata-kata penghiburan yang dibutuhkan Ryeowook saat ini. Bukan pula nasihat yang diperlukan Ryeowook.

"Hyung," sosok Donghae mengintip dari celah pintu kamar Ryeowook.

"Nde?"

"Ada Eomma dari Wookie."

Leeteuk mengangguk. "Aku akan menemui beliau. Tolong buatkan minum ne?"

Donghae menganggukkan kepalanya dan kembali menutup pintu kamar Ryeowook.

"Aku akan menemui Eomma mu dulu. Apa kau ingin ikut? Kau bisa meminta Eomma mu menjelaskan semuanya."

Ryeowook mengarahkan pandangannya pada Leeteuk. Manik kembar yang biasanya berbinar ceria itu kini menyiratkan kepedihan dan luka yang dalam.

"Kau bisa tak menemuinya jika memang belum siap. Tapi alangkah kebih baik jika kau mau menemui Eomma mu. Beliau pasti punya alasan untuk semua itu."

Setelah berfikir sejenak, Ryeowook mengangguk. Menyingkap selimutnya dan bersiap untuk menemui Eommanya. Leeteuk benar. Orang tuanya pasti punya alasan. Dan Ryeowook perlu tahu alasan itu.

Leeteuk tersenyum lembut melihat sikap Ryeowook. Ia menggenggam tangan Ryeowook. Seolah meyakinkan dongsaengnya itu jika ia akan selalu ada disampingnya.

Ryeowook dapat melihat Eommanya duduk dengan sedikit gelisah di ruang tamu Sapphire Blue. Disampingnya duduk seorang namja yang terlihat menenangkan Eommanya. Namja yang sama yang dilihatnya di café beberapa waktu lalu. Ryeowook hampir saja menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menuju kamarnya. Tapi Leeteuk tetap menggenggam erat tangannya dan tersenyum lembut. Seolah mengatakan 'Kau pasti bisa.'

Eomma Ryeowook yang kebetulan mengedarkan pandangannya bertatap muka dengan putra semata wayangnya itu.

"Chagi, gwaenchana?"

Eomma Ryeowook langsung bertanya begitu Ryeowook dan Leeteuk duduk di hadapannya.

"Gwaenchana, Eomma."

Eomma Ryeowook mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Ryeowook. Terkesan sedikit dingin. Ia mengarahkan pandangannya pada Leeteuk. Berharap dapat penjelasan dari namja itu.

"Mianhae saya mengganggu waktu Ahjumma," buka Leeteuk.

"Gwaenchana, Jung Soo-ah. Aku justru berterima kasih karena kau sudah menjaga Ryeowook dengan baik."

Leeteuk menatap Ryeowook sekilas. Lalu mengalihkan pandangannya ke arah Eomma Ryeowook. Ia tahu, pasti banyak pertanyaan yang muncul dalam benak yeoja paruh baya di hadapannya. Awalnya Leeteuk berharap Ryeowook mau membuka suara. Tapi sepertinya dongsaengnya itu masih diliputi kekecewaan.

Leeteuk berdehem sejenak. Membuat semua yang ada di ruangan itu memusatkan perhatiannya pada Leeteuk.

"Ahjumma, sebelumnya saya ingin minta maaf jika mungkin apa yang akan saya sampaikan nanti terkesan tidak sopan. Hmm, sebenarnya, siang tadi, saya mendengar suatu kabar yang cukup mengejutkan. Dan Wookie juga mendengar hal tersebut. Hal itu membuatnya shock dan jatuh pingsan setelah menangis."

Leeteuk berhenti sejenak. Ia ingin melihat reaksi yang ditunjukkan orang-orang yang ada di hadapannya. Melihat tak ada reaksi berlebih, Leeteuk berniat melanjutkan ucapannya. Tapi belum sempat Leeteuk berucap, Ryeowook sudah menyelanya.

"Kenapa Eomma dan Appa tak pernah mengatakannya padaku? Kenapa harus memberi alasan mengurus perusahaan di China hanya untuk menutupi kenyataan yang sebenarnya padaku? Eomma pikir aku anak kecil yang bisa dibohongi terus menerus. Aku sudah besar, Eomma. Cukup berterus terang padaku. Dan semuanya selesai. Jangan bersikap seolah semua baik-baik saja. Padahal semua itu hanya kepalsuan."

Suara Ryeowook bergetar. Leeteuk mengeratkan genggaman tangannya. Sedangkan Eomma Ryeowook menatap Ryeowook dengan sedikit bingung. Sedikit. Karena sedikit banyak ia bisa menebak ke arah mana pembicaraan putranya ini.

"Lebih baik Eomma dan Appa menjelaskan semuanya langsung padaku dibandingkan dengan memberi kasih sayang palsu. Memperlihatkan keharmonisan kalian di hadapanku padahal di belakangku kalian mungkin tidak bertegur sapa. Membuatku berfikir kedua orang tuaku sedang bersusah payah mencari uang untuk kebutuhanku. Tapi kenyataan yang ada justru bertolak belakang."

Eomma Ryeowook meneteskan air matanya begitu dapat menangkap maksud perkataan Ryeowook itu. Ia sama sekali tak menyangka jika putranya itu mengetahui hal yang sudah disembunyikan olehnya dan juga mantan suaminya. Bukan karena mereka ingin membohongi Ryeowook. Hanya saja mereka berusaha mencari waktu yang tepat untuk memberi tahu Ryeowook.

"Mianhae, Chagi. Jeongmal mianhae."

Ryeowook diam. Tak mengeluarkan sepatah katapun setelah ucapan panjang lebarnya tadi. Tapi air matanya masih terus menetes membasahi wajahnya. Ia terluka. Bukan karena perpisahan orang tuanya. Melainkan karena ketidak jujuran kedua orang tuanya.

"Bukan maksud Eomma dan Appa untuk tidak memberi tahu hal ini padamu. Kami masih mencari waktu yang tepat. Kami tak ingin dirimu terbebani dengan perpisahan kami."

"Apa perlu selama ini, Eomma? Satu setengah tahun Eomma dan Appa membohongiku. Aku bukan lagi anak kecil yang memaksakan kehendaknya. Kalau Eomma dan Appa mengatakannya sejak awal, aku bisa mengerti. Jika memang itu yang terbaik untuk Eomma dan Appa. Tapi jika seperti ini ‒ Aku ‒ aku benar-benar kecewa."

Ryeowook bangkit dari duduknya. Berlalu meninggalkan ruang tamu Sapphire Blue. Menghiraukan Eommanya yang memanggil namanya.

~SBH~

Leeteuk memandang kepergian Ryeowook dengan helaan nafas. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Eomma Ryeowook yang terisak dalam pelukan namja yang bersamanya.

"Mianhae atas sikap Ryeowook, Ahjumma. Dia hanya masih shock dengan berita ini. Terlebih dia mengetahuinya dari orang lain. Bukan langsung dari Ahjumma atau Ahjushi."

Sosok namja yang berada di samping Eomma Ryeowook menunjukkan senyumnya.

"Gwaenchana, Jung Soo-ssi. Itu hal yang wajar. Ah, ya, kenalkan, Jang Taeyong imnida. Saya adalah suami dari Han Byoel, Eomma Ryeowook."

Leeteuk menganggukkan kepalanya pelan. Jadi sosok namja di hadapannya ini yang dilihat Ryeowook beberapa waktu lalu.

"Jung Soo-ah, bolehkah aku menemui Wookie di kamarnya?"

Leeteuk kembali mengarahkan pandangannya ke arah Eomma Ryeowook. Ia mengangguk kecil dan berdiri untuk mengantarkan Eomma Ryeowook ke kamar YeWook. Begitu sampai di pintu kamar, Leeteuk mempersilahkan Eomma Ryeowook untuk masuk dan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.

~SBH~

Ryeowook terduduk di tempat tidurnya. Menekuk kedua lututnya dan menyandarkan dagunya disana. Membiarkan tetes demi tetes air mata membasahi wajah dan juga lututnya. Menghiraukan kehadiran sosok Eommanya di dalam kamarnya.

"Chagi, mianhae. Jeongmal mianhae hiks ‒"

Ryeowook langsung berhambur ke pelukan Eommanya. Ia memang kecewa. Ia memang tersakiti. Tapi ia sadar, orang tuanya lebih tersakiti lagi. Harus menyembunyikan hal seserius ini dan terus menunjukkan kebahagiaan di hadapannya.

"Mianhae, Eomma. Aku ‒ hiks aku hanya ‒ hiks hanya terkejut dengan hal ini. Mianhae. Jeongmal mianhae."

Han Byeol memeluk erat putranya itu. Menyampaikan permintaan maafnya dalam pelukan itu. Membiarkan air matanya meluruh bersama dengan semua penyesalannya.

Setelah beberapa saat saling menumpahkan air mata, Han Byeol melepaskan pelukannya. Menangkup wajah putranya dan menghapus jejak-jejak air mata di wajah putranya itu. Hal yang sama pun dilakukan oleh Ryeowook.

"Mianhae, Eomma dan Appa mengambil keputusan penting seperti ini tanpa melibatkanmu. Tapi perlu kau tahu, kami berpisah bukan karena kami tak menyayangimu. Kami juga melakukan semua ini karena terpaksa. Perpisahan adalah jalan terbaik agar tak ada salah satu dari kita yang terluka. Satu hal yang perlu kau tahu. Walaupun Eomma dan Appa sudah tak bersama, kami sudah sepakat untuk tetap menomorsatukan dirimu. Kau adalah putra kami satu-satunya. Kami tak ingin kau kekurangan kasih sayang dari salah satu dari kami."

Ryeowook mengangguk kecil. Baginya tak terlalu penting mengetahui alasan kedua orang tuanya berpisah. Toh sejauh ini hubungan kedua orang tuanya masih baik-baik saja. Mereka masih memberikan kasih sayang melimpah padanya.

"Apa namja yang bersama Eomma itu suami Eomma?"

Han Byeol mengangguk.

"Ne, Eomma menikah dengannya beberapa bulan lalu. Mianhae, Eomma tak memberi tahumu kabar baik itu."

"Gwaenchana, Eomma. Aku mengerti."

"Apa kau mau menemui Jang Appa?"

Ryeowook mengerjapkan matanya tak mengerti. Han Byeol tersenyum melihat hal itu.

"Jang Taeyong, itu nama suami Eomma sekarang. Kau mau kan menganggapnya Appa?"

Ryeowook mengangguk.

"Ne, jadi sekarang aku memiliki dua Appa?"

"Ne. dan tidak lama lagi kau juga akan memiliki dua Eomma."

"Eoh?"

"Appa mu sedang dekat dengan seorang yeoja di China sana. Kita hanya tinggal menunggu kapan Appa mu meresmikan hubungannya."

Ryeowook mengangguk-angguk.

"Cha, kita temui Jang Appa."

Ryeowook tersenyum dan menyambut uluran tangan Han Byeol.

~SBH~

Ryeowook sudah kembali dalam mood baiknya saat muncul di ruang tamu. Dapat dilihatnya Jang Appa dan Leeteuk tengah berbincang. Perbincangan mereka terhenti saat melihat sosok Han Byeol dan Ryeowook mendekat. Senyum langsung terkembang di wajah Leeteuk begitu melihat senyum merekah di wajah Ryeowook.

"Annyeong, Appa," sapa Ryeowook.

Jang Appa yang tak mengira akan mendapat sambutan hangat dari Ryeowook hanya mampu membulatkan matanya. Tapi tak lama senyumnya merekah. Menunjukkan kebahagiaannya atas sikap Ryeowook.

Leeteuk pun tak kalah senangnya melihat hal itu. Ia sangat bersyukur, dongsaengnya itu dapat bersikap dewasa.

"Ah, akhirnya satu masalah kembali terselesaikan."

~End for this Chap~

Tadinya nargetin mau update 4 hari setelah chap terakhir update. Tapi ternyata ga bisa. Meletusnya gunung Kelud berdampak juga ke Jogja, jadi lebih banyak ngabisin waktu buat beres2 rumah yg kena abu. Adakah dari Chingudeul yang terkena dampaknya juga?

Akhirnya permasalahan Wookie selesai juga. Di chap ini kayaknya bener-bener focus ke Wookie, member lainnya ga ada yang muncul. Mianhae, ne? aku fokusin buat nyelesein konfliknya Wookie dulu.

Oke, gomawo buat yg review chap kemarin. Ditunggu reviewnya untuk chap ini *kittyeyes*