Yosh! Ketemu lagi sama aku XD kali ini di Chp 10 gatau ya menurut kalian akan lebih seru atau engga hehe.. Yosh yosh! Gausah pake basa basi lagi!

Lanjut!~


.

.

.

.

.

Naruto Will Be Always with Masashi Kishimoto Sensei ^^

Pair : NaruHina Canon x MenmaHana (Bukan Canon)

WARNING!

Jika sebagian dari anda tidak menyukai cerita atau pair ini. Saya ingatkan untuk tidak membacanya. Dan jika sebagian dari anda masih ngotot untuk baca. Sakitnya akibat pair ini adalah kesalahan dari diri anda yang masih berniat untuk membacanya. Jika tidak menyukai fic ini, anda boleh membaca fic yang lainnya. Karena saya adalah Pemula disini.

-Terima kasih-

.

.

.

.

Selamat Membaca !

.

.

.


"Tidak mungkin.." Ucap Menma sambil memegang surat perpindahan Hinata dan Hanabi. Ia sangat shock mengetahui kalau mereka berdua sudah pindah jauh ke Eropa.

Disisi lain Naruto hanya menunduk saja. Banyak sekali pikirannya saat ini. Benar-benar terkejut dirinya dibuat oleh surat perpindahan itu. Pertanyaan demi pertanyaan keluar dari kepalanya.

Mengapa ia pindah?

Dengan siapa ia pergi?

Dan untuk apa ia pergi jauh ke Eropa?

Menma kemudian kembali menatap kakaknya yang masih menunduk kebingungan. Mereka sama-sama bingung sekali tentang masalah ini. Apa yang sebenarnya terjadi sampai mereka tanpa diberi kabar perpindahannya.

"Hey.. Aku berniat untuk menjemputnya kembali disana." Suara baritone khas kakaknya dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Sukses memecahkan keheningan disekitar mereka.

"T-Tapi.. Apa Tou-chan dan Kaa-chan akan menginjinkan kita pergi kesana?" spontan. Menma langsung bersemangat.

"Memangnya aku akan mengajakmu adik kecil?" ejek Naruto yang melirik Menma secara sekilas.

"Nii-chan semakin hari semakin menyebalkan!" teriak Menma kesal kepada Naruto.

Setelah Menma berteriak seperti itu. Naruto hanya tertawa kecil. Berhasil mengerjai adiknya yang masih saja berkelakuan seperti anak kecil. Padahal memang masih kecil.

Menma hanya menunduk. Tidak memperdulikan tawaan kecil dari kakaknya itu. Ia masih menundukan kepalanya. Mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam hatinya. Dari apa yang terjadi padanya. Ingin ia beritahukan kepada kakaknya. Walau tadi pagi kakaknya juga ikut menyebalkan.

"Aku hanya tidak ingin berdiam diri dirumah ini. Berdiam diri hingga hari pertunanganku tiba. Aku lebih memilih kabur dari rumah ini dari pada bersama wanita kuning itu. Sama sekali berbeda dengan Hanabi." Ucapnya panjang lebar.

Naruto mengerti apa yang dimaksud Menma. Kalau ia berada diposisi Menma. Ia juga mungkin akan berpikiran sama dengan adiknya itu. Sebab mereka berdua adalah kakak beradik yang kembar dan hanya dijauhi oleh umur.

Ia menghampiri adiknya dan mengusap-usap kepala adiknya itu seperti kucing. Menma hanya merasakan kehangatan tangan kakaknya yang menyentuh kepalanya.

"Nanti akan kubicarakan dengan tou-chan dan kaa-chan tentang aku akan membawa dirimu kesana. Akan kuusahakan demi adik tercinta." Tersenyum lebar adalah khas Naruto yang sekarang ia gunakan untuk memberikan kepercayaan kepada adiknya itu. Dan Menma tersenyum sama seperti kakaknya.

Benar-benar kembar..

.

.

.

.

Hotel George V Paris

"Hyaaaahhhh~! Akhirnya kita bisa istirahat juga! Wahaha.. Tempat tidurnya empuk sekali Nee-chan! Mewah banget yah ternyata hotel-hotel diparis. Aku tidak menyangkanya bahwa semua yang diparis itu mewah-mewah sekali." Sesampainya mereka disebuah Hotel. Hanabi langsung saja meloncat-loncati tempat tidur yang sudah tersedia.

"H-Hana.. Nanti tempat tidurnya rusak kalau-"

"Tidak akan Hinata-chan.. Disini tempat tidur seperti itu sudah biasa untuk dijadikan seperti itu. Nih lihat yah.." Potong Konan kepada Hinata yang langsung naik ketempat tidur dan ikut loncat-loncat bersama Hanabi.

Mereka berdua sama-sama tertawa. Hinata yang melihatnya sangat senang dan tersenyum manis. Ingin ikut meloncat-loncatinya namun malu dan gengsinya Hinata sangatlah besar dibanding mereka berdua.

Hotel ini sangat mewah dan besar. Awal masuk saja Hinata dan Hanabi sangat terpesona dengan design-design dari hotel ini. Sasuke bilang kepadanya bahwa biaya hotel ini sangatlah mahal. Apalagi menampung mereka semua yang sangatlah banyak dalam team.

"Hinata. Ayo ikut!" Konan kemudian menarik Hinata untuk ikut berloncat-loncat bersama. Ya.. mereka bertiga memang dalam satu kamar yang sama. Dan itu membuat Hinata semakin bahagia bisa bersama-sama seperti sekarang.

Dengan loncat bersama saja.. sudah menjadi kenangan terindah untuk Hinata dan Hanabi. Betapa bahagianya mereka sekarang.

.

Pemandangan diluar jendela di siang hari sudah menjadi ketertarikan untuk pria berambut raven itu. Sesekali ia meminum teh yang baru saja ia buat. Ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya dan hatinya. Yaitu wanita yang baru beberapa jam lalu bersamanya.

Pria berambut raven bernama Sasuke itu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesekali wajahnya memerah hebat ketika membayangkan saat-saat bersamanya. Padahal ia dengan wanita itu baru saja bertemu kemarin.

"Hahh.. Menyebalkan.." Helaan nafasnya yang membuatnya sedikit lega. Namun pikiran dan hatinya masih saja mengganggunya. Ia terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya sesekali pikiran bayang-bayang gadis itu muncul.

Sementara dibelakangnya Deidara dengan Sasori hanya menatapnya bingung. Berbeda dengan Sasori yang mengetahui apa yang dipikirkan oleh Sasuke.

Dari tatapan Sasori berusaha mencoba menyampaikan keSasuke yang masih menatap keluar jendela. 'Seharusnya kau ikuti saja jalan ceritamu. Tak usah terlalu dipikirkan.' Tatapan yang diberikan Sasori kepada Sasuke yang membelakanginya dengan Deidara.

"Mungkin dia sudah lapar ya Sasori?" Ucap Deidara khawatir. Namun hanya dijawab anggukan oleh Sasori dan itu sukses membuat Deidara mengerti situasi Sasuke.

"Ahh.. Kalau begitu aku akan pergi mencari makanan. Kau mau menitip tidak Sasori? Sasuke?"

Keduanya masih terdiam. Sasori akhirnya menoleh kearah Deidara yang sudah berjalan kearah pintu untuk keluar dari kamar mereka. "Pesankan saja aku apa yang mau kau beli. Dan untuk Sasuke juga."

Dan dibalas Deidara dengan mengangkatkan tangan kanannya setengah keatas. Dan tangan kirinya dimasukkan kedalam saku celananya. Lalu masih membelakangi Sasuke dan Sasori berjalan keluar. Mengartikan bahwa 'Ya aku mengerti.'

Setelah itu Deidara menghilang setelah ia keluar dari pintu itu.

Merasa sudah saatnya membantu kawannya untuk tenang. Sasori tidak ambil diam saja. Melainkan ia menghampiri untuk ikut membantu menenangkan pikiran rekan timnya itu.

"Jadi.. Kau sudah memutuskan untuk jatuh cinta pada orang seperti dia?" ucap Sasori yang tiba-tiba duduk disamping rekan timnya Uchiha Sasuke. Namun ia tidak memandang temannya itu. Ia ikut memandangi pemandangat kota paris dari kamarnya yang berada dilantai yang cukup tinggi.

Sikap Sasori dan Sasuke tidak beda jauh. Mereka sama-sama memiliki sifat cuek dan hanya merespon seadanya saja. Hanya berbeda jika sudah bertemu wanita. Namun dalam sifat asli. Mereka cuek dan sama sekali tidak memperdulikan wanita.

Namun untuk sekarang mereka terlihat berbeda karena sikap Sasuke yang seperti itu sudah tidak lagi muncul. Dari kemarin dipikirannya hanya wanita yang baru bertemu dan sekarang ikut dengannya. Namun ini benar-benar bukan seperti Sasuke yang Sasori kenal.

"Apa kau sudah bisa untuk melupakannya?" tanya Sasori yang tiba-tiba membuat Sasuke kini menatapnya tajam.

"Ini tidak ada hubungannya dengan dia." Tatapan tajam Sasuke masih dihiraukan Sasori yang masih memandang pemandangan kota itali.

Sasori menghembuskan nafasnya seakan didalam hembusan itu merupakan sebuah kalimat yang tidak bisa Sasuke baca dari Sasori. Sasuke terus menatapnya tajam. Menunggu jawaban dari Sasori yang sudah membuatnya bertatap tajam padanya.

"Kalau begitu mengapa kau tidak mengulanginya dari awal dengan Hinata-chan?" setelah menyebut namanya. Wajah Sasuke merona hebat.

DEG!

Spontan Sasuke memegang dadanya yang berdegup kencang. Dan setelah itu memalingkan wajahnya dari Sasori. 'Sial!' batinnya dalam hati yang menggerutu degup jantungnya semakin kencang.

"Dengar Sasori! Aku tidak akan memberikannya harapan atau aku yang berharap padanya! Aku hanya perlu menunggu Sakura untuk membuka hatinya!" bentak Sasuke kepada Sasori yang dibalas senyuman licik oleh Sasori.

Sasori kemudian menatap mata Sasuke tajam sambil tersenyum licik. Seakan mengejeknya untuk tidak bermain-main dengan perasaannya sendiri. Karena Sasori sudah lama mengenal seluk beluk Sasuke dari kecil. Itu juga karena mereka teman semasa kecil.

"Oh ya? Sepertinya kau salah Sasuke. Dia benar-benar sudah berharap padamu karena dirimu yang sangat memperhatikannya. Dan juga.. bukankah kau sendiri yang dari awal mengatakan sudah menemukan putrimu yang kau cari-cari?" ucap Sasori melipat kedua tangannya didepan dadanya. Mencoba untuk mengintimidasikan Sasuke yang sedang dilema wanita.

Sasuke mendecik kesal. Kemudian spontan berdiri dan menundukkan kepalanya.

"Satu hal yang harus kau ingat Sasori." Masih terus menunduk. Kemudian ia memegang dadanya dengan tangan kanannya. Dan memejamkan kedua matanya. "Sakura.. akan selalu disini dan takkan pernah tergantikan! Kau mengerti?!"

Sasori melirik untuk memandang pemandangan kota. Tidak berniat memandang sifat Sasuke yang seperti anak kecil. Masih dengan melipat kedua tangannya didepan dada.

"Tapi itu salahmu sendiri yang sekarang memberikan harapan kepada Hinata-chan. Dan meninggalkan Sakura begitu saja-"

"Aku sudah mengatakan padanya aku akan kembali lagi untuk menjemputnya kemari! Jadi kau tidak usah ikut campur dengan urusanku! Dan dia juga berjanji untuk menungguku kembali dan membuka hatinya hanya untukku!" bentak Sasuke yang sudah sampai dipuncak terpendamnya.

Setelah itu Sasuke pergi meninggalkan Sasori yang berdiam duduk disana sendirian tanpa membalas kembali perkataan Sasuke kepadanya. Masih tetap dengan posisi biasanya. Setelah itu senyuman itu muncul dari wajah tampannya.

"Like i care.."

.

.

"Hey Hinata.. Apa kau tahu suatu hal tentang Sasuke?" Tanya wanita berambut biru pendek kepadanya sambil mensejajarkan dirinya untuk duduk disebelah Hinata.

Siang telah berganti dengan malam. Kini waktunya para manusia ini tidur dan beristirahat dengan tenang. Namun ketika Hanabi dan yang lain telah tidur. Hanya mereka berdualah yang masih berjaga karena faktor belum tertarik untuk menutup matanya dan beristirahat.

Konan mengenakan Tank top putih dihiasi gambar kucing ditengahnya membuatnya terlihat lebih fresh. Dan ditambah mengenakan celana panjang. Berbeda dengan Hinata yang hanya memakai baju santainya untuk tidur.

"Sasuke-san? Ada apa dengannya?" jawab Hinata penasaran.

Konanpun langsung menampakkan wajah seriusnya. Dan memegang kedua tangan Hinata dengan tatapan penuh harap.

"Kau jangan terlalu berharap dengannya yah Hinata. Mungkin dia memang terlihat perhatian padamu. Namun ia tidak memiliki perasaan apa-apa padamu." Ucap Konan dengan tidak enak hati mengatakannya.

"EH?! B-Berharap?! M-Memangnya aku berharap apa padanya Ko-Konan Senpai? Apa aku terlihat mengharapkan sesuatu darinya yah?" Tanya Hinata yang tidak lupa memasangkan wajah terkejutnya.

Konan hanya diam seakan memikirkan sesuatu. Setelah itu mengangguk antusias. Dan hal itu membuat Hinata semakin terloncat dari sofa. Bahkan Hinata berteriak kecil. Membuat Hanabi yang sedang tidur sedikit terbangun karena suaranya.

"A-Aku harus bagaimana ini? Aku sama sekali tak menaruh perasaan apapun padanya." Terang Hinata menundukkan wajahnya dan meremas celana yang ia kenakan.

"Dia itu memiliki gadis impiannya disekolah kita. Dan itu aku yang memperkenalkannya." Jelas Konan tersenyum kemenangan.

Hinata hanya diam. Menunggu jawaban selanjutnya yang akan Konan katakan. Hinata sangat penasaran dengan gadis impian Sasuke yang satu sekolah dengannya. Kira-kira siapa ya pikirnya dalam hati.

"Haruno Sakura." Konan kembali melanjutkannya. Membuat Hinata sedikit terkejut lagi dan menegang sesaat.

'S-Sakura Senpai? Y-Yang.. Naruto Senpai s-suka bukan?' batin Hinata dalam hati.

"Sakura adalah teman mainku disekolah. Kami tidak terlalu dekat. Hanya jika ia datang keperpustakaan saja kami main dan bercerita bersama. Kukenalkan ia pada Sasuke. Dan itu dalam sekejap membuat mereka berdua jatuh hati. Tapi rumors yang beredar dia dan Naruto berpacaran membuat Sasuke patah hati. Namun ia tidak pernah untuk menyerah."

DEG!

Degup jantung Hinata berdegup begitu kencang ketika mendengar sebutan Naruto dalam pembicaraan mereka. Kenapa pria itu slalu ada dimana-mana. Hinata menundukkan kepalanya mendengar rumors itu.

"Sasuke kemudian mengatakan pada Sakura bahwa dia akan kembali dari sini untuk menjemput Sakura dan membuktikan cintanya. Sakura juga mengatakan tentang rumors yang beredar antara hubungannya dengan Naruto itu cuman bualan semata. Ia dengan Naruto sama-sama tidak memiliki perasaan. Dan ia juga bilang bahwa sebelum waktu itu tiba. Ia akan membuka hatinya untuk Sasuke." Ucap Konan panjang lebar menjelaskan. Namun cukup membuat Hinata terkejut.

'Ti-Tidak ada perasaan? Na-Naruto senpai dengan Sakura senpai?' kaget Hinata yang mematung. Ia kemudian mencerna selama ini bahwa mereka adalah teman dan setiap rumors yang beredar, tidak ada dari mulut mereka mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan.

Apa selama ini yang Hinata pikirkan tidak seperti yang terjadi?

Apa Hinata salah paham terlalu jauh?

Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak boleh memikirkan hal yang tidak penting. Sekarang ia sedang fokus dengan kegiatan seperti ini. lebih bisa diandalkan pikirnya.

"Ah.. Aku tidak ada perasaan apapun kepada Sasuke-san. Mungkin karena kedekatan kami membuatku terlihat berharap padanya. Padahal tidak sama sekali." Ia tersenyum mengatakannya. Memang sebenarnya ia tidak memiliki perasaan apapun kepada Sasuke. Mungkin kedekatan mereka saja.

Konan mengelus punggungnya pelan dan tertawa pelan. "Lagian kau ini yah.. Memangnya wanita semanis dirimu itu tipenya seSasuke ya? Rendahan sekali levelmu Hinata-chan.." sambil kembali tertawa pelan.

Dan hanya dibalas tawaan oleh Hinata. "Tipeku itu 100% Naruto senpai- ups!" perkataannya yang secara spontan dan reflek membuat dirinya terkejut. Ia langsung menutup mulutnya seakan keceplosan mengatakannya.

'Ke-Kenapa Na-Naruto Senpai coba?!' batinnya memarahi dirinya sendiri. Wajahnya sudah memerah. Sangat merah. Dan membuang mukanya dari pandangan Konan menatapnya terkejut.

Wajah Konan benar-benar terkejut ketika Hinata mengatakan tipenya adalah 100% Naruto.

"Ini hanya aku yang salah dengar atau memang kau menyebutkan nama Naruto sebagai tipemu?" tanya Konan penasaran kepada Hinata. Mendekatkan wajahnya pada Hinata untuk mendapatkan jawabannya. Menatap intens.

Hinata hanya kaku dan menunduk dengan rona merah diwajahnya. Tidak mampu mengatakan apapun atau menjawabnya.

"T-Ternyata.. Tipemu itu seperti dia?! Lebih rendah dari yang kukira ternyata yah.." benar-benar tidak menyangka dengan Hinata yang super cute menyukai atau mentipei Naruto sebagai pria idamannya.

"I-Itu matamu yang mulai rusak atau memang kau benar-benar mentipeinya Hinata-chan?!"

'Aku sendiri tidak mengerti dengan diriku sendiri. Tapi itu memang sudah terjadi dia sebagai pria idamanku.' Batin Hinata dalam hati yang tidak berani menatap Konan.

'Ahh menyebalkan.'

.

.

Namikaze Mansion

Suasana makan malam yang sangat canggung. Tidak ada yang berbicara atau yang mau berusaha membuka pembicaraannya. Semua diam satu sama lain. Benar-benar tidak ada yang ingin memulainya. Semuanya sibuk dengan kesibukkan masing-masing yang terus mengunyah makanan yang tersedia.

Naruto tidak suka dengan keadaan canggung seperti ini. Benar-benar tidak seperti biasanya. Ia tidak suka dengan suasana hening. Keluarganya bukan keluarga yang suka mendiami satu sama lain.

Biasanya mereka akan saling bertukar cerita atau kejadian yang dialami hari ini oleh mereka sendiri. Menceritakan kejadian sehari-hari atau menanyakannya satu sama lain. Namun hari ini bukan suasana hati keluarga mereka.

Naruto membuka pembicaraan.

"J-Jadi.. K-Kaa-san masak enak yah hari ini." ucap Naruto berusaha memecahkan keheningan.

Memiliki sikap yang sama dengan anak pertamanya. Kushina ikut nimbrung dengan pembicaraan Naruto. "B-Bagaimana menurutmu Naruto? E-Enak tidak masakan Kaa-san?" namun tetap dengan keadaan canggung.

Naruto mengangguk antusias sebagai jawabannya. Berbeda dengan Menma yang masih terus memakan makanannya. Sama halnya dengan ayahnya. Masih dengan suasana hati yang tidak bisa diganggu.

Ini saatnya Naruto meminta izin kepada Ayahnya untuk pulang ke Eropa bersama Menma. Alasannya mungkin dengan ingin mengunjungi obaa-sannya yang berada di itali.

"Tou-chan. Aku dan Menma berniat untuk mengunjungi Obaa-san di itali." Tanyanya dengan penuh keyakinan dan menatap wajah ayahnya yang sedang mengunyah makanannya.

"Naruto.. Tou-chan menukar pertunangan itu." Jawab Minato tanpa menatap yang lainnya atau menjawab pertanyaan Naruto.

Kushina, Menma dan Naruto sama-sama membulatkan kedua matanya. Sama-sama memiliki perasaan lega dan senang. Terutama Menma yang hatinya loncat kegirangan.

Kemudian wajah ayahnya kembali lebih serius dari sebelumnya. Dan berhenti melakukan kegiatan memakannya. Lalu menatap Naruto dengan intens.

"Ayahnya menukarnya denganmu."

BRAKK!

"Apa-apaan ini tou-chan!" Spontan Naruto berdiri dan menggebrak mejanya mendengar kabar mendadak seperti ini.

Ayahnya Minato kemudian ikut berdiri menatap Naruto. Menatap Naruto tanpa menghilangkan tatapan seriusnya.

"Sopan sekali kau melakukan hal seperti ini kepada kepala keluarga!" bentak Minato.

Kushina tidak hanya tinggal diam. Ia berusaha menenangkan keduanya dengan menenangkan mereka. "Sudah Naruto.. duduklah. Kita bicarakan ini baik-baik dengan ayahmu." Setelah itu beralih menatap Minato yang masih berdiri seperti Naruto. Kini mereka seperti teman yang bermusuhan satu sama lain.

"Apa maksudnya Anata? Bukankah kemarin kau mengatakan bahwa Menmalah yang menjadi pertunangan ini?" tanya Kushina pada suaminya.

"Aku menukarnya karena putri Hyuuga itu menginginkan Naruto sejak awal." Jelas Minato menatap Kushina.

Kushina menghela nafas. Kemudian menyuruh mereka untuk kembali duduk dengan tenang. Berusaha menetralkan suasana yang sempat canggung menjadi tegang.

"Tou-chan dulu memiliki masalah dengan keluarga Hyuuga, Naruto." Melanjutkan pembicaran ketika semua keluarga sudah duduk tenang di kursi dengan meja makan. "Ketika itu mereka merampas semua yang Tou-chan punya.. Hingga kau saat itu kau mengalami kecelakaan karena Tou-chan melarangmu untuk berteman dengan keluarga dari Hyuuga."

Naruto, Menma dan Kushina hanya terus mendengarkan cerita dari ayahnya. Mereka berusaha mendengar dengan detail apa saja yang terjadi hingga hal seperti ini terjadi.

"Kau begitu kesal dengan Tou-chan dan melarikan diri. Tou-chan berusaha mengejarmu. Namun Tou-chan terlambat hingga sebuah kendaraan menabrakmu hingga kau pingsan dan mengalami hilang ingatan seperti sekarang." Jelas ayahnya kepada mereka yang masih mendengarkan.

Naruto mulai bingung. "Lalu apa hubungannya dengan pertunangan bodoh ini?!" tanyanya sambil menekankan perkataannya.

Minato menghelakan nafasnya. Kemudian melanjutkan kembali penjelasannya yang sempat membingungkan seluruh keluarganya termasuk istrinya sendiri yang tidak diberitahu apa-apa tentang hal seperti ini.

"Setelah kecelakaan itu kau terus menyebutkan nama seorang wanita yang berasal dari clan Hyuuga. Tou-chan lupa siapa nama wanita itu namun tou-chan sangat yakin ia berasal dari clan Hyuuga. Maka dari itu tou-chan memutuskan untuk menjodohkanmu dengan wanita Hyuuga tersebut. Namun tou-chan lupa bahwa kau penerus tou-chan. Maka tou-chan menggantimu dengan Menma." Jelas Minato panjang lebar dan menundukan kepalanya dihadapan mereka semua.

Menma kemudian menelungkupkan wajahnya diatas meja. Dan mulai bergumam. "Tou-chan membuangku.." namun didengar oleh mereka semua.

Kushina menghampiri anak bungsunya dan mengeluskan kepalanya dengan lembut dan hangat. Setelah itu memeluknya dan mencium kening anak bungsunya.

"Tou-chan tidak membuangmu sayang. Tou-chan menyayangimu dan memiliki alasannya sendiri melakukan itu-"

"Tapi aku tak suka." Ucap Menma menatap ibunya yang terkejut melihat wajah anak kesayangannya menahan air matanya.

Kushina menatap Minato. Minato kemudian menghampiri Menma dan memeluknya juga sama seperti Kushina. Dan pemandangan itu hanya dipandang oleh Naruto dengan tersenyum.

"Maafkan Tou-chan yah Menma?" ucap Minato tersenyum kepada putra bungsunya.

Menma hanya mengangguk mengerti dan membalas pelukan ayahnya yang memeluknya dengan hangat.

"Jadi begitu yah.. yang sempat kusebuti selama ini." Ucap Naruto sambil bergaya seperti memikirkan sesuatu. "Tapi itu bukan Shion." Memejamkan matanya berusaha terus mendalamkan pikirannya.

Minato, Menma dan Kushina hanya menatap Naruto dengan tatapan bertanda tanya (?). Siapa wanita yang memiliki clan Hyuuga yang sedang Naruto pikirkan?

"Hinata." Mulutnyapun berucap satu nama yang memiliki arti untuknya. "Hyuuga Hinata tou-chan. Bukan Hyuuga Shion." Ucap Naruto meyakinkan Ayahnya sendiri tentang seseorang yang ia sebut.

Minato membulatkan kedua bola matanya. Juga Menma yang terkejut mendengarnya. Kushina hanya tersenyum mendengarnya. Mendengar sebuah nama yang sepertinya tidak asing baginya.

"Bukan Hyuuga Shion?" tanya Minato kepada Naruto. Namun dijawab dengan gelengan oleh Naruto. Benar-benar bukan wanita itu yang ia jadikan pertunangan antara Hyuuga dengan Namikaze. Bukan Hyuuga itu.

"Dan Tou-chan. Aku ingin mengunjungi Obaa-san di itali bersama Menma."

Minato dan Kushina kemudian menatap satu sama lain. Kemudian mereka berdua tersenyum hangat kepada kedua anaknya. Naruto dan Menma begitu bahagia sehingga loncat dari bangkunya begitu saja. Membuat Kushina dan Minato terkejut melihat kelakuan mereka berdua.

Dan makan malam saat itu kembali memiliki suasana yang mengisi kembali suasana hati satu sama lain. Dimana mereka saling bertukar senyum mereka. Dan membagi canda dan tawa bersama keluarga mereka.

.

Wanita bersurai panjang berambut merah itu mengenakan dress hitam panjangnya seperti biasa sebelum tidur. Menetapkan dirinya untuk berjaga malam dengan memandang keluar pemandangan malam dari jendela kamarnya.

Mungkin menurut kedua anaknya ia terlihat begitu menyeramkan dengan rambut panjang berwarna merahnya mengenakan dress hitam panjang. Terlihat mengerikan dimata kedua anaknya.

Berbeda dengan Minato yang hanya menatap keindahan dan kecantikan istri tercintanya dimalam hari. Ini membuat dirinya slalu menjadi tak biasa disetiap malam sebelum mereka tidur. Namun dalam beberapa hari lalu mereka sempat memiliki suasana yang sangat canggung.

Dengan begitu hangat ia menyambut istrinya dengan memeluknya dari belakang. Mencium aroma wanita kesayangannya yang memberikan dunianya begitu indah selama ini. Berusaha merasakan kehangatan istrinya pula.

"Ahh.." Suara yang menggairahkan keluar dari bibir seksi milik istrinya ketika mulutnya mengecup lehernya.

"Kau masih indah seperti biasanya." Ucap Minato menggoda istrinya yang sempat menikmati bibir suaminya pada jenjang lehernya.

Kemudian mereka berdua hanya tertawa. Minato lalu membalikan badan Kushina untuk berhadapan dengannya. Menyuruhnya untuk menatap kedua matanya intens.

"Anata.. Apa kau tetap akan melanjutkan pertunangan ini?" tanya Kushina kepada Minato yang masih menatapnya intens.

Minato mencium bibir istrinya dengan mesra dengan hangatnya. Merasakan bibir manis istrinya yang sempat tidak ia rasakan untuk beberapa hari ini. membuatnya tidak bisa menahannya lagi.

Kushina tidak tinggal diam. Ia sempat menerima ciuman itu. Namun tidak beberapa lama ia menjauhkan tubuh suaminya darinya untuk mencoba mengambil nafas.

Minato menerima dorongan dari istrinya. Namun ia menahan tangan istrinya untuk tidak menjauh dari dirinya lagi. Dan memeluk istrinya dengan hangat.

"Aku tidak ingin kau menjauhiku lagi Kushina. Aku tidak suka dan tidak tahan dengan itu." Ujar Minato masih memeluk Kushina dengan hangat.

Kushina tersenyum dan membalas pelukan suaminya. Dan tidak lupa mengelus-elus kepala suaminya yang memeluknya sangat erat. Suaminya benar-benar sangat manja malam ini padanya.

"Minato.. Aku akan pergi dari sini." Mendengar Kushina mengatakan itu membuat Minato dengan cepat menjauhkan dirinya. Dan menatap Kushina dengan tatapan marah dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Tidak akan kubiarkan itu terjadi Kushina!-"

"Jika kau melanjutkan pertunangan itu Minato." Lanjut Kushina.

Setelah itu Minato membulatkan kedua matanya. Berusaha untuk menahan sesuatu dari tubuhnya.

1

.

2

.

3

.

"Ahahahaha! Astaga sayang.." Suaminya kemudian tertawa terbahak-bahak. Kushina dibuat bingung sekarang oleh kelakuan Suaminya.

"Apanya sih yang Lucu Minato!" teriak istrinya dengan wajahnya yang memerah karena merasa tidak suka ditertawakan suaminya.

Minato kemudian menghapus airmatanya yang sempat keluar karena tertawa terlalu lama dan terbahak-bahak. Tidak memperdulikan istrinya yang sudah memerah.

"Aku sudah memikirkan itu semua sayang. Lagi-lagi dia menipu kita." Jelas Minato didepan istrinya. Kushina benar-benar dibuat bingung.

"Siapa Anata?" tanya Kushina sambil memiringkan kepalanya.

"Tentu saja keluarga busuk Hyuuga Hiashi. Lagi-lagi ia menipu kita. Saat itu aku lupa menanyakan nama anaknya. Aku juga bodoh." Ucapnya yang ditambahi sedikit tertawa.

"Kau juga salah tidak menanyakan namanya dan asal melakukan semua tindakan. Sekarang kau tak bisa lari." Kushina kemudian membuang mukanya dan kemudian mendorong kembali Minato untuk menjauh darinya.

Namun itu tidak bisa dilakukan begitu saja karena Minato seperti biasa menahannya untuk tidak menjauh darinya.

"Kushina.. Kumohon jangan seperti ini untuk yang kedua kali. Serahkan saja semuanya padaku." Setelah mengatakan semua itu. Minato memeluk Kushina untuk kedua kalinya lagi.

Kushina membalas pelukan itu lagi dan mengelus punggung suaminya. "Jangan kecewakan aku."

.

.

"Naruto Senpai.."

"Dia selalu seperti ini ya?" Ucap wanita berambut biru pendek sambil terus memerhatikan temannya yang sedang tertidur.

"Nee-chan itu sangat menyukai Naruto Senpai. Katanya mirip dengan teman lamanya yang ia kenal." Dan dijawab oleh adik dari temannya yang sedang tertidur.

Dan keduanyapun tertawa secara bersamaan.

"Kenapa Naruto Senpai.. Kena.. pa.. Sakura-chan.." gumam temannya yang masih tertidur.

Lalu kedua sejoli itupun menatap satu sama lain. Kemudian tersenyum jahil yang tak bisa terbacakan.

Wanita berambut biru itupun menghampiri telinga temannya yang sedang tertidur. Membisikan sesuatu. "Karena Sakura-chan lebih bisa mengerti aku Hinata-chan.."

"Naruto Senpai.." gumamnya lagi.

Keduanya hanya tertawa melihat temannya terus menggumami nama seseorang yang ia sukai. Menurut mereka teman dan kakaknya ini sangat menggemaskan menggumami nama seseorang disaat tertidur.

"Nee.. Konan-nee. Aku sangat menyayangi Nee-san. Kenapa? Dia sepertinya semangat terus menjalani hidupnya walau banyak sekali rintangan." Jelas Hanabi sambil terus memerhatikan kakaknya.

Konan tersenyum mengerti. Kemudian merangkul adik temannya itu. "Makanya kamu juga jangan merepotkan nee-chanmu yah?" dan dijawab senyuman oleh Hanabi.

Suara Handphone yang berasal dari meja disamping tempat tidur mengganggu aktivitas mereka berdua. Dan ternyata itu suara handphone Konan yang sedang ada panggilan.

Konan lalu dengan sigap turun dari tempat tidur dan menghampiri handphonenya yang sedang berdering. Dilihat nama seseorang yang menelponnya.

'Ayah'

Itulah nama yang tertera dihandphonenya saat ini. membuatnya sedikit terlonjak kaget membacanya. "Dia baru menelfonnya sekarang."

Pip' – Konan mengangkat telefon dari ayahnya. "Konan? Kamu dimana sayang? Ayah dan Ibu sangat mengkhawatirkanmu." Itulah suara pertama yang ia dapat saat menjawab panggilan masuk dari ayahnya. Terdengar dari sana Ayahnya mengkhawatirkan keberadaannya.

Konan masih terdiam. "Dimana kamu sayang? Jawab ayah nak." Masih terus terdiam sampai kemudian..

'Pip-

"Lalu setelah aku menghilang kalian baru mencariku? Dasar tidak berguna." Ucapnya setelah mematikan handphonenya. Hanabi terkejut melihat Konan yang seketika marah-marah didepan ponselnya.

Ada apa? Kenapa? Itulah yang ada dipikiran Hanabi saat ini. "Aku tidak peduli kalau sampai mereka menjemputku dan berlutut dihadapanku untuk kembali dihadapan mereka lagi." Lalu setelah berkata seperti itu Konan membantingkan handphonenya begitu saja kelantai yang terlapisi karpet.

"Konan-nee.. Apa itu dari orangtuamu?" Tanya Hanabi baik-baik. Dan hanya dijawab anggukan saja oleh Konan.

"Kenapa dimatikan? Mereka pasti mengkhawatirkanmu." Konan lalu menatap ponselnya yang sudah berada didekat kakinya. Kemudian ia mengambil kembali ponselnya dan ponsel itu berdering kembali. Kali ini nama yang tertera adalah ibunya.

"Hanabi.. Kau angkat telfon dari ibuku dan katakan padanya kalau ini salah sambung." Lalu melempar ponsel itu kepada Hanabi dan ditangkap dengan kedua tangannya okeh Hanabi.

Setelah itu Hanabi memencet tombol Hijau dan mengangkatnya. "H-Halo-"

"Konan! Kamu dimana sayang? Ibu sangat mengkhawatirkanmu.. Ayah juga sayang. Tolong beritahu keberadaanmu dimana sayang. Ibu sangat sangat mengkhawatirkanmu. Maafkan ayah dan ibu yang tidak pernah memperhatikanmu sayang.. sekarang cepatlah pulang." Ucap seseorang dari seberang sana sambil menangis.

Hanabi hanya mendengarkan apa yang dikatakan perempuan diseberang sana. Ingin sekali ia mengatakan salah sambung dan menutup ponselnya setelah itu. Namun dirinya berkata lain.

"A-Aku juga menyayangi Kaa-chan.." setelah mengatakan itu ia mematikan ponselnya. Dan setelah itu memberikan ponselnya kepada Konan dan berlari kekamar mandi.

Konan hanya terkejut melihat Hanabi mengatakan hal itu dan mematikannya. Dan pergi berlari kekamar mandi. Konan awalnya hanya melihatnya pergi berlari. Namun setelah itu ia menyusulnya dari belakang.

"Ada apa Hanabi-chan? Kenapa kau berlari setelah mengatakan itu?" tanya Konan setelah mengejarnya.

"A-Aku hanya tidak bisa Konan-nee.. Aku merindukan ibuku." Jawabnya sambil memeluk lututnya dan mengeluarkan airmatanya didepan Konan.

Konan kemudian menghampiri dan memeluknya. Berusaha menenangkannya. "Memangnya kamu belum meminta izin kepada ibumu? Mau meneleponnya?" dan dengan cepat dijawab gelengan oleh Hanabi. Ia menatap Konan dengan tatapan sendu.

"Aku dan Nee-chan tidak tahu keberadaan ayah dan ibu. Makanya aku merindukannya." Jelas Hanabi menatap Konan dengan tatapan sendu. Konan terkejut mendengarnya. Ia baru tahu bahwa Hanabi dan Hinata tidak bersama kedua orangtuanya selama ini.

"Konan-nee harusnya masih mensyukuri mereka masih bisa mengkhawatirkanmu." Ucap Hanabi. Dan kali ini suara sesenggukannya mulai keluar kecil-kecil.

Konan hanya menunduk mendapati ceramahan dari anak kecil yang masih dibawah umurnya. Ia kemudian memeluk Hanabi hangat. Dan mulai tersenyum. "Kau hanya belum mengenal orangtuaku saja Hanabi. Mereka egois dan tidak pernah memperdulikanku selama aku dirumah. Aku hanya sendirian tanpa kasih sayang mereka setiap hari. Dan teman-teman sekolahku yang hanya memandangku sebagai anak bangsawan. Aku tidak pernah menginginkan itu semua."

Hanabi mendengar semua penuturan dari Konan dan memejamkan matanya. Hangat seperti kakaknya sendiri. Luka yang dialaminyapun sama. Sangat sama seperti kakaknya.

"Apa yang sedang kalian lakukan?" suara seseorang mengagetkan mereka berdua. dan menoleh dari mana asal suara itu berada.

Ternyata Hinata sedang menatap mereka berdua yang sedang berpelukan didalam kamar mandi. Dan lebih terkejut lagi Hinata menatap Hanabi yang sedang menangis. "K-Kalian berdua sedang apa disitu?"

Konan dan Hanabi menatapnya sendu. Dan mereka berdua kemudian berdiri secara bersamaan. "Tadi Hanabi tidak mengerti menggunakan Toilet dan menangis karna-"

"Hanya karna seperti itu kau menangis Hanabi?" Tanya Hinata mengintimidasi. Hanabi hanya terdiam tak menjawab.

Hinata menghampiri mereka berdua dan tersenyum. "Nah sekarang geser yah. Aku ingin menggunakannya. Kebelet nih."

Konan dan Hanabi menggeser tanda mengerti kalau Hinata ingin menggunakan toilet. Hinata mulai melepaskan celananya. Namun karena sedang diawasi ia hanya membukanya sedikit dan menatap kedua orang tersebut.

"Kenapa kalian masih berdiam diri disana dan menatapku seperti itu? Ayo cepat keluar!" teriak Hinata mengusir dengan wajah yang sudah memerah. Merasa sudah diusir mereka berdua kemudian keluar dari sana sambil menahan tawa.

"Hii mereka itu memang benar-benar deh." Ketus Hinata kemudian melanjutkan aktifitasnya.

.

.

"Nee.. Naruto-nii.." panggil Menma dengan pandangan menghadap ke langit-langit dirumahnya. "Apa kita bisa bertemu dengan mereka?".

"Nii-san juga tidak pernah seniat dan seserius ini sih dengan hal seperti ini. apalagi yang berkaitan dengan wanita." Jawab Naruto menjelaskan. Dan hanya dibalas anggukan setuju oleh Menma.

"Aku tidak menyangka.. diumurku yang semuda ini, bisa begitu saja jatuh hati." Dan Menmapun memejamkan kedua matanya.

Mereka yang sedang berada diatas tempat tidur masing-masingnya itu bergalau bersama dengan membayangkan wanita pujaan mereka. Tidak lama kemudian Naruto bangun dan duduk ditepi ranjangnya. Sementara Menma masih memejamkan matanya. Entah sudah tertidur atau ia sedang memikirkan sesuatu.

Naruto yang duduk ditepi ranjang yang mengarah kearah luar jendela hanya menghela nafas dan memegang dadanya. Berusaha menahan degup jantungnya.

"Segila inikah aku padanya?"

.

.

.

.

"Sampai sesakit ini ditinggalkan."

.

.

.

.

"Padahal baru saja mengenal sosok dirinya."

.

.

Dia tidak tahu bahwa sebuah ingatan itu akan kembali teringat diingatannya. Dia tidak tahu apa yang terjadi padanya beberapa tahun lalu. Dia hanya belum mengetahui semuanya.

.

.

.

.

.

.

.

-TBC :)

.

.

.

.

.


A/N :


Okay.. Pertama-tama.. saya mau mengucapkan banyak terima kasih kepada para anda pembaca yang masih mau menunggu kelanjutan cerita ini. maaf dikarenakan sudah sangat terlambat saya mengupdate..

Kemungkinan besar saya akan menyelesaikan fanfic ini pada bulan Desember mendatang. Jadi kalian sudah tidak akan menunggu lama lagi XD

Kalau begitu saya pamit!

.

.

.

.

.

.


Mohon Reviewnya yah :D