Asari Family
—drabbles collection—
[ chapter 10 : sleep with me, papa! ]
.
.
Katekyo Hitman Reborn! © Amano Akira
This fic and Gokudera Hayato © Kazue Ichimaru
( Ryohei : YANG DI ATAS NGAREP TO THE EXTREEMEE! )
.
Rate T for colorful language
Warning for the MPREG, AU, chibi!8059, OOC, sho-ai, typos, jayus, etc!
U02? Definitely. 8059? It depend on readers thought. Kufufufu
.
Chapter ini cuma munculin G sama Takeshi aja, hehe
.
.
Enjoy!
Jam menunjukkan pukul satu pagi tetapi pria bersurai magenta itu masih saja asyik berkutat dengan laptopnya. G sedang menyelesaikan laporannya yang tiada habis sekarang. Jari-jari itu lihai mengetik kata demi kata dengan cepat, menghasilkan suara cetikan beruntun. Rambut merah magentanya ia ikat ke belakang supaya tidak menghalangi pandangan dan secangkir kopi turut menemaninya untuk menahan kantuk.
Workaholic mode on, eh?
Sayup, terdengar suara langkah kaki mendekati dirinya perlahan. Iris magentanya ia gulirkan ke samping untuk melirik siapa yang datang, dan menemukan bocah berambut raven dengan langkah terseret-seret sambil mengusap mata ngantuknya.
"Takeshi mau kemana?" tanya G saat melihat si sulung melewati dirinya dan pergi menuju dapur.
Takeshi agak tersentak, lalu menolehkan wajah ke G, "ah, ada papa. Aku tidak lihat." Lalu si sulung menghampiri papanya yang sedang duduk di sofa depan televisi dan bersender ke pundaknya.
"Kalau ngantuk mendingan tidur lagi saja sana. Lagipula, mau apa kamu ke dapur?"
"Mau minum susu…" Takeshi menjawab walau matanya menahan kantuk, "tenggorokanku kering. Jadi nggak bisa tidur."
"Ooh." G menyimpan data lalu mengubah laptopnya ke mode sleep. "Kalau begitu ayo ke dapur," lanjutnya sembari menggendong Takeshi, membawanya menuju dapur.
Sesampainya di dapur, G mendudukkan Takeshi ke kursi. Ia lalu pergi mencari cangkir motif bola baseball milik Takeshi yang memang biasa dia pakai, mengeluarkan sekotak susu cair dari dalam kulkas, dan mengisi cangkir itu dengan setengah susu.
"Ini," ucap G seraya menyimpan cangkir di hadapan Takeshi.
Takeshi melongok ke dalam cangkirnya. "Papa, kok isinya dikit, sih?" tanyanya disertai raut kecewa.
"Itu supaya susunya tidak tumpah-tumpah waktu diminum. Ayo cepat minum lalu tidur. Papa tungguin kamu."
"Aku maunya yang banyak! Sampe penuh susunya!" Takeshi protes. Lengannya ia lebarkan ke samping; memaksudkan gestur dari definisi penuh mungkin, ya?
"Cerewet. Kalau kurang 'kan tinggal ditambah lagi."
"Tapi ayah kalau nuangin susu suka banyak sampe penuh." Takeshi menatap papanya sambil memanyunkan bibir.
"Tapi kalau isinya penuh nanti susunya bakalan tumpah-tumpah ngotorin baju," G menjelaskan dengan sabar.
"Aku sudah besar. Minumnya nggak akan tumpah-tumpah!"
"Huh, iyalah, terserah kamu." G lalu menuangkan susu ke cangkir hingga penuh.
"Yee, aku sayang papa!" Takeshi bersorak senang lalu meminum susunya. Tapi benar saja apa yang dikatakan G sebelumnya, karena kebanyakan, sebagian susu mengalir melalui celah bibir menuju leher lalu mengotori baju.
G mendecak kesal, "tuh 'kan, papa bilang apa juga!"
Setelah menenggak susunya hingga habis, Takeshi mengelap susu yang tertinggal di bibir dan leher dengan lengan bajunya, "tinggal dielap pakai baju!"
"Jorok!" G langsung mengangkat Takeshi dan membawanya menuju wastafel, "habis papa bersihin dan mengganti baju kamu, nggak mau tahu kamu harus tidur. Jangan minta yang lain lagi, mengerti?"
"Iya…" Takeshi mengiyakan walaupun ekspresinya sedikit cemberut.
G tetap memasang wajah kesal seperti biasa, tetapi di dalam hatinya ia ingin tertawa melihat wajah Takeshi yang merajuk. Selesai membersihkan dan mengganti baju Takeshi, G menuntun si sulung menuju kasur lalu menyelimutinya.
"Selamat tidur. Tidur yang nyenyak," ucap G seraya mengecup kening si sulung.
Takeshi terkekeh lalu tiba-tiba menarik tangan G pelan sewaktu ingin beranjak dari kasur, "pa, temani aku tidur, ya?"
"Hah? Menemani?"
"Mm," Takeshi mengangguk manis, "akhir-akhir ini papa sering banget nggak ada di rumah. Jarang ketemu aku sama Hayato. Jadi, aku kangen papa. Papa temani aku tidur yaa?"
Melihat betapa manis senyum anaknya saat ini, tanpa sadar wajah G memerah. "Baiklah," jawab G lalu berbaring di samping Takeshi. Ah, lagipula seharian ini dia belum tidur sama sekali.
"Hehehe," Takeshi terkekeh senang sambil memeluk papanya. "Ne, papa, usap-usap kepalaku sampe aku tidur, dong!"
"Seenaknya saja nyuruh."
"Ayolah paa~"
"Ya ampun, kenapa kau jadi manja begini, Takeshi?" G menghela nafasnya capek. Walaupun begitu, di bibirnya terbentuk senyuman lembut, "tapi janji kau akan tertidur kalau papa mengusap-usap kepalamu, ya?"
"Un!" Takeshi mengangguk lalu menutup kelopak matanya. G terkekeh, ikut menutup kelopak matanya tetapi tangannya tetap mengusap rambut raven si sulung lembut hingga ia tertidur.
Uh-oh! Sepertinya G tiba-tiba lupa pada laporan yang harus ia berikan pada Giotto siang nanti. Ah, ya sudahlah.
.
.
.
end of chapter 10
A/N : Err, jadi ceritanya ini aku terinspirasi dari tingkah sepupu cowok aku yang manis banget. Sumpah demi apa manis banget sampe minta digigit /eh/. Why anak kecil itu unyu sekali why?! /gelindingan/ /nggak saya bukan pedo/
Tak terasa Asari Family sudah mencapai chapter 10! Woo hoo! Saya ngak pernah buat fic sampe chapternya nyampe 10 /curhat/. Tanpa readers sekalian saya nggak akan bisa nulis sampe chapter 10 seperti ini XD Terimakasih banyaaak~ /tebar foto Asari family/ /eh/
Btw, dari 10 chapter ini, chapter apa saja yang kalian suka? XD /kepo/
So, mind to RnR? ;D
