Remake dari novel karya DIANA PALMER dengan judul BELOVED. Tanpa mengubah inti cerita, alur cerita atau ide dasar penulis asli. Namun demi kepentingan cerita, nama tempat, nama tokoh dan beberapa bahasa penuturan akan saya ubah. Semoga itu tidak merubah makna dari cerita, dan semoga bisa diterima pembaca.
Saya tidak ada maksud menjiplak, hanya ingin berbagi cerita dari salah satu novel favorit saya, dengan tokoh cerita yang dirubah menjadi couple idola favorit saya, Sehun-Luhan.
Selamat menikmati…
.
.
.
.
.
BELOVED
(Remake story from Beloved – Diana Palmer)
.
.
SEMBILAN
.
.
.
Luhan, yang kemarahannya masih meluap-luap karena pengkhianatan tubuhnya yang lemah semalam, memilih untuk memanjakan dirinya dengan makan siang di sebuah cafe yang terkenal di pusat kota. Takdir seperti sedang menentangku, pikirnya dengan pasrah ketika melihat Irene berjalan masuk ke dalam café dan langsung menuju tempat duduknya seolah tidak ada orang lain dan langsung memesan kopi.
"Well, bagaimana kabarmu?" tanya Irene dengan senyum tanpa dosa. "Hanya sandwich? Kasihan kau! Sehun mengajakku ke Jung Sik Dang malam ini."
"Lalu mengapa kau ada di sini?" tanya Luhan sinis, tidak merasa perlu bersikap ramah kepada musuh bebuyutannya.
Alis Irene sempurna melengkung. "Wah, aku sedang berbelanja di toko seberang mencari kalung berlian untuk ku kenakan malam nanti, dan aku melihatmu di sini," kata Irene berbohong. Karena nyatanya, Irene sengaja mendatangi Luhan setelah dia menelepon rumah Luhan dan diberitahu bahwa Luhan sedang ke pusat kota. Tidak terlalu sulit untuk mencari Luhan, karena Irene sangat hafal dengan café favorit Luhan ini. Irene sedang merasa terancam saat ini. Semalam, dia menghubungi Sehun untuk bertanya mengenai sikap Sehun yang terlihat menghindarinya belakangan ini. Dari racauan Sehun jugalah Irene tahu soal pertemuan tak sengaja Sehun dan Luhan semalam. Sepertinya Sehun cukup mabuk ketika ditelepon olehnya. Irene panik memikirkan kenyataan bahwa Luhan mulai merebut perhatian Sehun, disaat segalanya berjalan lancar.
"Aku ingin memberitahumu sesuatu," ucap Irene tiba-tiba, melihat ke sekeliling dengan sikap waspada seperti agen intelejen sebelum mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik, "Sehun sangat kesal menemukanmu duduk di sebelahnya di opera semalam. Kau seharusnya lebih berhati-hati dalam mengatur 'kebetulan' semacam itu hanya untuk mengejar Sehun. Suasana hatinya hari ini buruk sekali!"
"Baguslah!" kata Luhan dengan kemarahan yang hampir tak terkontrol. Dia menatap Irene. "Maukah kau minum kopi denganku, Irene?" tanya Luhan sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang secangkir kopi. Irene tidak sempat melangkah mundur ketika cangkir kopi itu melayang di udara dan mendarat di lantai tepat di depan kakinya. Matanya terbelalak dan mulutnya pun menganga. Irene tidak menduga musuhnya akan membalas serangannya.
"Ya ampun, aku memang sangat ceroboh!" kata Luhan dengan manis. "Aku menjatuhkan cangkir dan menumpahkan kopiku!"
Irene menelan ludah dengan keras. "Aku akan pergi saja." katanya cepat. Irene berjalan pergi secepatnya. Jika lUhan tidak sedang sedih, dia pasti akan tertawa melihat reaksi Irene. Akhirnya Luhan meminta maaf kepada pelayan dan memberikan ganti rugi untuk cangkir yang dipecahkannya. Untung saja ini café langganannya, jadi Luhan tidak mendapatkan banyak masalah karena keributan yang disebabkan olehnya tadi.
Akhirnya Luhan memilih pulang dan mulai membuat patung baru untuk galeri seni. Hal itu bukan pekerjaan yang harus dilakukannya, tetapi memberinya sesuatu untuk dikerjakan sehingga tidak perlu menghabiskan waktu dengan memikirkan ciuman Sehun, atau berpikir tentang bagaimana Sehun menghabiskan malamnya saat ini bersama Irene.
.
Keesokan harinya Luhan diminta membantu sebagai panitia persiapan acara perayaan natal di salah satu rumah penampungan anak yatim. Panitia itu dipimpin oleh Sehun, dan Luhan telah menolak dengan sopan kepada orang yang meminta bantuannya. Tetapi tak lama kemudian, Sehun meneleponnya hanya berselang 10 menit dari penolakan Luhan, hanya untuk menanyakan alasan penolakan Luhan.
Luhan marah. "Tidakkah kau tahu?" tanyanya dengan menahan emosi. "Kau menyuruh Irene menemuiku dan memberitahuku bahwa—bagaimana dia mengatakannya?—aku mengejarmu ke opera!"
Hening cukup lama. "Aku meminta Boa memberimu tiket ke opera, karena dia sendiri tidak bisa datang." Sehun mengaku. Luhan terkejut. "Jika ada yang mengejar, itu aku, Luhan. Aku yang mengejarmu." kata pria itu.
Luhan merasa jantungnya berhenti berdetak. "Apa?"
"Kau dengar apa yang aku katakan," kata Sehun singkat. Hening lagi. "Bekerjalah bersamaku sebagai panitia. Aku tahu kau menyukai kegiatan seperti ini."
Memang benar, dan Luhan akan sangat menikmatinya. Tapi dia enggan berdekatan dengan Sehun lebih dari komunikasi lewat telepon. "Aku tidak yakin akan menikmatinya. Kau tidak seperti dirimu akhir-akhir ini."
"Aku tahu." Sehun merasakan jalan terbuka baginya. "Tidak bisakah kita memulai lagi?"
Luhan ragu-ragu. "Sebagai apa?" tanyanya blak-blakan.
"Rekan kerja. Teman. Apapun yang kau inginkan, Luhan."
Paling tidak itu sejenis pernyataan menyerah. Mungkin Sehun sudah melupakan usahanya untuk membalas Luhan atas kematian Donghae yang terlalu cepat. Apa pun alasannya, hidup Luhan kosong tanpa keberadaan Sehun, bukan? Tentu saja persahabatan lebih baik daripada tidak ada apa-apa sama sekali. Luhan menolak berpikir tentang bagaimana rasa ciuman Sehun, saat kenangan ini membombardir otaknya.
"Apakah Irene ikut juga sebagai panitia?" tanyanya tiba-tiba, waspada akan adanya persekongkolan.
"Tidak!"
Hal itu sudah cukup jelas. "Baiklah, kalau begitu!" kata Luhan dengan berat hati. "Aku ikut."
"Bagus! Aku akan menjemputmu untuk rapat besok malam." jawab Sehun penuh semangat.
"Tidak, Sehun! Tidak perlu." kata Luhan singkat. "Aku akan membawa mobil sendiri. Rapatnya dimana?"
Sehun memberitahunya. Tidak ada tanda dalam suaranya yang menunjukkan kekecewaannya atas penolakan Luhan yang keras kepala atas tawarannya. Dia lebih kesal dengan campur tangan Irene. Sehun merasa telah membuat kesalahan yang buruk, mengencani musuh bebuyutan Luhan. Waktu itu dia sedang sedih dan Irene datang sebagai teman yang baik Tetapi hal itu harus dihentikan, sekarang juga. Luhan tidak akan menerima begitu saja sikap Irene yang menjelek-jelekkannya karena mereka berdua bersaing. Sehun paham itu.
.
Luhan pergi mengikuti rapat itu, bertemu dengan beberapa teman lama yang bekerja sukarela sebagai panitia. Mereka bekerja selama tiga jam untuk mempersiapkan pesta, lengkap dengan seorang pria setengah baya yang setuju memerankan Sinterklas untuk anak-anak. Luhan membantu menyiapkan dan membawakan kue-kue, dia bersedia membantu karena tidak punya acara untuk malam Natal selain membuat perangkap untuk tikus yang berada di dapurnya.
Sehun mencegat Luhan di depan mobilnya setelah rapat. "Saudara-saudaraku akan mengadakan pesta Natal sabtu malam nanti di Busan. Mereka ingin kau datang."
"Aku tidak…."
Sehun meletakkan jari telunjuknya yang besar di bibir Luhan yang lembut, dan hal itu mengejutkan Luhan. Keintiman seperti ini tidak biasa baginya dan membuat Luhan resah.
"Seunghyun bisa hidup tanpamu hanya untuk satu malam, kan?" tanya Sehun pendek.
"Aku belum bertemu Seunghyun belakangan ini. Kakaknya, Jang Dong Gun, masih dirawat di rumah sakit," kata Luhan tanpa sadar. Lupa apakah dia sudah pernah bercerita atau belum kepada Sehun. "Sekyung tidak dapat menghadapi hal itu dengan baik, dan Seunghyun tidak bisa meninggalkannya sendirian."
"Sekyung?"
"Istri Dong Gun." Ingin rasanya Luhan bercerita tentang Seunghyun dan Sekyung, tetapi itu bukan haknya. Dengan tetap membiarkan Sehun berpikir dia dan Seunghyun punya hubungan dekat, merupakan satu-satunya perisai yang dimiliki Luhan saat ini. Luhan tidak bisa membiarkan dirinya tanpa pertahanan. Dia masih belum benar-benar mempercayai Sehun. sikapnya yang berubah-ubah membuat Luhan bingung. Dia tidak mengerti Sehun bersikap seperti itu.
"Oh, begitu. Aku mengerti."
"Kau tidak mengerti, tetapi itu tidak penting. Aku ingin pulang. Aku kedinginan."
Sehun mengamati wajah Luhan yang terdiam. "Aku bisa menawarkan alternatif," katanya lembut.
Luhan menatap Sehun dengan penuh penghinaan. "Aku tidak suka hubungan yang tidak serius, Sehun." katanya blak-blakan, "kalau-kalau itu yang kau pikirkan akhir-akhir ini."
Wajah Sehun tampak seolah dia baru saja ditampar. Rahangnya menegang. "Kau tidak suka? Lalu jika kencanmu dengan Seunghyun bukan hubungan yang tidak serius, mengapa dia tidak menikahimu?"
"Aku tidak ingin menikah lahi," kata Luhan dengan suara parau, sambil memalingkan pandangannya. "Tidak akan pernah lagi."
Sehun ragu-ragu. Dia tahu mengapa Luhan merasa seperti itu, karena dia telah dikhianati dengan cara yang paling buruk. Ayah mertua Luhan telah menceritakan semuanya, tapi Sehun ragu apakah perlu bercerita kepada Luhan bahwa kini Sehun sudah tahu.
Luhan memandang Sehun dengan waspada. "Apakah Irene tahu kau masih berkabung atas kematian istrimu?" tanyanya, langsung masuk dalam arena pertarungan. "Atau apakah dia hanya makanan ringan selingan di larut malam?"
Alis Sehun melengkung. "Itu perbandingan yang tidak pantas."
"Apakah begitu?" Luhan tersenyum manis. "Aku ingin pulang."
"Datanglah ke Busan bersamaku."
"Dan masuk dalam neraka dan perbudakan di dapur?" goda Luhan. "Aku tidak mau terjebak dengan saudara-saudaramu yang maniak cookies itu."
"Mereka tidak akan mendekatimu," janji Sehun. "Kris sudah menyewa tukang masak baru. Dia sangat pandai dan dia bisa membuat kue apa saja."
"Dia tidak akan tahan lebih lama dari dua minggu, karena Jongin akan membuatnya pergi." Luhan meyakinkan Sehun.
Sehun senang Luhan mengenal saudara-saudaranya dengan baik, bahwa wanita itu tertarik mengetahui tentang keluarganya. Dulu Luhan dan Kris bersahabat dan pernah berkencan beberapa kali, tetapi tidak pernah berlanjut. Keduanya merasa lebih nyaman menjadi sahabat. Namun, tiba-tiba Sehun menyadari bahwa selain Kris, beberapa pria yang sempat berkencan dengan Luhan pun tak pernah berlangsung lama. Selalu ada Seunghyun di sekitar Luhan seolah menghalangi siapa pun yang ingin mendekat. Mengapa Sehun baru menyadari itu.
"Kau bepergian terus dengan Seunghyun sejak kau meninggalkan Donghae," ingat Sehun tanpa emosi.
"Seunghyun temanku," kata Luhan.
"Teman," ulang Sehun dengan nada mengejek, matanya tampak menghina. "Apakah sekarang istilahnya sudah berubah?"
"Kau seharusnya tahu," balas Luhan, "apa sebuatan Irene untuk statusnya?"
Sehun mengerutkan dahinya dengan marah. "Setidaknya dia jujur tentang apa yang dia inginkan dariku," jawabnya. "Dan itu bukan uangku."
Luhan mengangkat bahunya tak acuh. "Tentu saja kau memihaknya."
Sehun mengamati wajah Luhan diam-diam. "Kau membalas ciumanku malam itu."
Pipi Luhan memerah dan dia membuang muka, memegang erat tas kecilnya. "Aku harus pergi."
Sehun berjalan mengikutinya. Dia tidak menyentuh Luhan, tetapi wanita itu dapat merasakan kehangatan dari tubuh Sehun sampai ke dalam tulang belakangnya, rasa nyaman yang aneh melandanya di tengah udara bulan Desember yang dingin.
"Berhenti berlari!" ucap Sehun tajam.
Luhan memejamkan mata sejenak sebelum memegang handle pintu mobil. "Sepertinya dulu kita berteman," katanya dengan suara parau. "Tetapi sebenarnya kita bukan teman, tidak benar-benar teman. Kau hanya mengasihaniku. Aku kagum diriku bisa melalui tahun-tahun itu dengan begitu buta sehingga tidak pernah melihat kebencian yang kau rasakan ketika kau memandangku."
"Luhan…."
Luhan menengok, mengangkat sebelah tangannya. "Aku tidak menuduhmu. Aku hanya ingin kau tahu aku tidak mau menghancurkan hatiku karena kau pergi bersama Irene." Sorot mata Luhan tampak lelah dan Sehun tiba-tiba menyadari Luhan terlihat jauh lebih kurus dalam beberapa bulan terkahir ini. Dia tampak rapuh, mudah digoyahkan.
"Apa maksudmu?" tanya Sehun.
"Maksudku, kau tidak perlu mengasihaniku, Sehun," kata Luhan dengan angkuh. "Alu tidak benar-benar menginginkan urusan yang mendekatkanku denganmu, apa pun yang dikatakan atau dipikirkan Irene. Aku sedang mengatur kembali hidupku. Aku akan mulai lagi. Aku tidak ingin kembali ke hubungan kita sebelumnya."
Sehun merasa kata-kata itu seperti pisau yang menusuknya. Dan Luhan bersungguh-sungguh. Hal itu terlihat jelas pada ekspresinya.
"Aku mengerti," kara Sehun pelan.
"Tidak, kau tidak mengerti," jawab Luhan berat. "Kau seperti semacam obat," Luhan merenung. "Aku mengalami ketergantungan terhadapmu dan aku sudah sembuh, tetapi bahkan satu dosis kecil bisa berbahaya untuk penyembuhanku."
Jantung Sehun seolah melompat. Dia menatap mata Luhan dan menahannya tanpa ampun. "Apa maksudmu?"
"Kau tahu apa maksudku," jawab Luhan. "Aku takkan membiarkan diriku tergantung padamu lagi. Aku punya Seunghyun dan kau punya Irene. Mari kita berpisah dan meneruskan hidup kita masing-masing. Aku serius tentang pistol dan tikus itu, kau tahu, itu bukan semacam alsan untuk menyelamatkan mukaku. Aku tidak pernah bermaksud bunuh diri karenamu."
"Oh, tentu saja aku tahu itu."
"Lalu mengapa….?" ucap Luhan bingung.
"Ya?"
Luhan mendekap tasnya erat dengan kedua tangannya. "Mengapa kau terus mengatur supaya kita bisa bersama?" tanya Luhan. "Hal itu tidak ada gunanya."
Sehun mengeluarkan tangan dari sakunya dan mengangkat tangan itu untuk menyentuh rambut Luhan dengan perlahan. Luhan tersentak dan Sehun buru-buru menurunkan tangannya sambil menghela napas panjang.
"Kau tidak bisa melupakan, ya?" tanya Sehun pelan.
"Aku sedang mencoba," Luhan meyakinkan Sehun. "Tetapi setiap kali kita bersama, orang-orang berspekulasi. Cerita-cerita yang beredar cukup membuat hidupku terganggu. Aku tidak ingin menimbulkan spekulasi baru."
"Kau dulu tidak pernah peduli dengan gosip."
"Aku tidak pernah dibantai publik sebelumnya," jawab Luhan. "Aku dibuat terlihat seperti seorang penyihir yang sedang bergantung sambil tersenyum bodoh lalu menangis karena mencintai pria yang tidak menginginkannya. Harga diriku hancur berantakan!"
Sehun menatapnya erat-erat. "Bagaimana kau tahu aku tidak menginginkamu, Luhan?" tanyanya langsung.
Luhan menatap Sehun tanpa bicara, menjadi bingung karena pertanyaan itu.
"Aku akan menjemputmu pukul 18.00 hari Sabtu dan kita akan ke Busan bersama," kata Sehun. "Pakailah sesuatu yang anggun. Acaranya formal."
"Aku tidak akan pergi," kata Luhan sambil menggertakkan gigi.
"Ya, kau akan pergi," jawab Sehun dengan keyakinan yang dingin.
Sehun berbalik dan berjalan menuju mobilnya sendiri dengan Luhan yang masih menatapnya. Well, kita lihat saja nanti! Kata Luhan pada dirinya sendiri.
.
Tinggal satu minggu lagi sebelum Natal. Luhan sedang menghias pohon Natal yang dipasang di ruang tamu rumahnya, sekedar untuk membantunya merasakan sedikit semangat Natal. Luhan sebenarnya lebih suka pohon cemara asli, tetapi dia sangat alergi pada segala jenis pohon cemara. Pohon Natal yang dia miliki terbuat dari plastik, namun sangat menyerupai pohon asli hingga dapat mengelabui seorang pakar sekalipun, jika dilihat dari kejauhan. Dia memiliki koleksi bola-bola dan pita-pita warna emas yang anggun untuk digunakan sebagai dekorasi, bersama dengan manik-manik emas dan perak serta lampu-lampu kecil yang bisa dihidupkan dengan menekan satu tombol. Untuk menambah semarak dia memasang mainan kereta-keretaan yang dilihatnya dari jendela toko mainan pada hari ketika bertemu Sehun. Akhirnya Luhan kembali dan membeli kereta itu, dan kini dia menikmati melihat kereta itu berputar mengelilingi pohon Natal.
Luhan berdiri mundu dan mengagumi hasil karyanya sendiri. Dia mengenakan baju panjang putih keemasan yang tampak selaras dengan warna pohon Natal, apalagi dengan rambutnya yang terurai. Hari ini hari sabtu, tetapi dia tidak akan pergi ke pesta keluarga Oh. Sebenernya, nanti bila Sehun membunyikan bel pintu, dia tidak akan membiarkannya masuk. Luhan merasa sangat senang memikirkan betapa mudahnya menghindari Sehun kali ini.
"Indah sekali," terdengar suara yang dalam dan empuk dari belakang Luhan. Dia berbalik dan melihat Sehun, sudah rapi mengenakan jas formalnya, sedang mengamati Luhan dari lorong.
"Bagaimana….bagaimana kau bisa masuk?" Luhan tersedak.
"Bibi Han dengan baik hati membiarkan pintu belakang tidak dikunci untukkku," goda Sehun. "Aku bilang kita berdua akan pergi bersama dan mungkin saja kau lupa. Dia sangat senang. Bibi Han, benar-benar baik hati."
"Aku akan memecatnya hari Senin setelah dia kembali dari rumah saudaranya!" gertak Luhan.
"Tidak, kau tidak akan melakukannya. Dia sangat berharga."
Luhan mengibaskan rambutnya. "Aku tidak akan pergi ke Busan!"
"Ya, kau akan kesana," kata Sehun. "Kau pilih ganti pakaian sendiri, atau aku akan melakukannya untukmu."
"Ha!" Luhan bersidekap dan menantang Sehun melakukan ancamannya.
Protes itu tampaknya menyenangkan Sehun. dia menggandeng Luhan dengan tangannya yang asli dan mengajaknya berjalan melalui lorong menuju kamarnya, membuka pintunya, mendorong Luhan masuk, dan menutup pintu dibelakang mereka. Sehun sudah pernah disini, Luhan bisa tahu, karena sebuah gaun malam putih tanpa tali sudah terbaring di ranjangnya, bersama dengan pakaian dalam yang warnanya serasi dengan gaun itu.
"Kau…..kau menginvasi kamarku!" Luhan marah.
"Ya, aku melakukannya. Dan hal itu sangat mendidik. Kau tidak berpenampilan seperti seorang wanita penggoda sama sekali. Kebanyakan pakaianmu dari bahan katun, jins, dan tank top." Sehun memandangnya. "Aku suka baju panjang yang kau kenakan, tapi ini tidak cukup pantas untuk pesta malam ini."
"Aku tidak akan mengenakan gaun itu."
Sehun tertawa kecil. "Ya, kau akan mengenakannya. Cepat atau lambat."
Luhan hendak menuju pintu tetapi Sehun menahannya, memegangnya erat dengan tangan palsu yang tampaknya bekerja sebaik tangan yang digantikannya.
"Aku tidak akan melukaimu," janji Sehun lembut. "Tetapi kau akan pergi."
"Aku akan….apa yang kau…lakukan?"
Luhan lupa mengancingkan risleting baju panjang yang membungkus tubuhnya. Sehun membukanya dengan usaha yang sangat minimal. Semua pakaian Luhan tanggal dan jatuh ke lanatai, meninggalkan dirinya hanya mengenakan celana dalam berenda berwarna putih.
Luhan melongo. Sehun memandang tubuhnya dengan penghargaan seorang seniman, memperhatikan lembutnya payudara Luhan dan lekukan pinggulnya di atas kaki panjang yang elegan.
"Jangan kau…..pandangi aku!" kata Luhan tercekat, sambil mencoba menutupi tubuhnya.
Mata Sehun memandang mata Luhan penuh tanda tanya. "Tidakkah kau ingin aku memandangimu?" tanya lembut.
Pertanyaan itu mengejutkan Luhan. Dia hanya menatap Sehun, mengamati pendangan pria itu turun lagi menelusuri tubuhnya dengan penuh kenikmatan. Luhan bergetar merasakan tatapan itu.
"Tidak apa-apa," kata Sehun lembut, terkejut oleh reaksi Luhan. "Aku bahkan tidak akan menyentuhmu. Aku janji."
Luha menarik napas dengan gemetar, sementara tangan Sehun membelai pipinya yang memerah dan turun ke sudut bibirnya yang masih bergetar.
'Aku tidak menyangka reaksi Luhan akan seperti ini', pikir Sehun agak bingung. Luhan sepertinya malu, tidak berani, dan gelisah berdiri di depannya seperti ini. Pipinya memerah seperti seorang gadis kecil. Sehun tahu tidak mungkin Luhan begitu polos, tetapi reaksinya tidak seperti wanita yang berpengalaman.
Jari-jari Sehun menelusuri bibir Luhan dan turun ke lekuk lehernya yang masih gemetaran sampai ke tulang lehernya. Dia berhenti di sana dan pandangannya jatuh ke bibir Luhan.
Keheningan di kamar itu seperti keheningan ketika badai datang. Jika Luhan bernapas dengan cara yang salah, akan menghancurkan suasana, dan Sehun akan menarik dirinya. Jari-jari Sehun pun, kini, sedang ragu di lekuk lehernya, dan bibir Sehun berada di dekat bibirnya seolah dia tidak dapat memutuskan apa yang akan dilakukan berikutnya.
Luhan bergetar, matanya sendiri memandang tak berdaya pada garis-garis bibir Sehun yang tipis menggoda.
Sehun bergerak, sedikit, sehingga tubuh mereka berdekatan, dan dia membiarkan Luhan merasakan gejolak dalam tubuhnya. Luhan terkejut. Sehun dapat melihat pipi gadis itu memerah kembali.
"Luhan," katanya dengan keras, "katakan padaku apa yang kau inginkan."
"Aku tidak…tahu," bisik Luhan tak berdaya mengamati mata Sehun yang mengilat. "Aku tidak tahu!"
Sehun merasa Luhan menggerakkan pinggulnya hanya sedikit, dia merasa gadis itu menggeser tubuh sehingga lebih mendekat ke arahnya. "Kau tidak tahu?" bisik Sehun. "Tetapi tubuhmu tahu. Bagaimana kalau kutunjukkan padamu apa yang diinginkan tubuhmu terhadapku?"
Luhan tidak mampu berkata-kata, tetapi tampaknya Sehun tidak memerlukan kata-kata. Dengan senyum tipis, Sehun mengangkat tangannya dan membelai tubuh Luhan perlahan-lahan, dengan penuh perasaan bergerak ke atas dan mendarat di sisi payudara Luhan. Luhan bergetar dan menarik napas cepat, matanya terbuka dan mendamba, tetapi dia masih merasa takut.
"Aku tidak akan menyakitimu," bisik Sehun dan tangannya bergerak membelai dada Luhan dengan lembut.
Luhan mencengkram bahu Sehun dan menyembunyikan wajahnya di tubuh Sehun atas siksaan dari sensai yang luar biasa dan mengerang tajam karena sentuhan yang sangat intim itu.
Sehun menjadi ragu. "Ada apa?" tanyanya lembut. Sehun menyentuhkan wajahnya pada pipi Luhan, memaksa gadis itu mendongak. Sehun dapat melihat bahwa Luhan merasa tidak berdaya tetapi masih kaget. Sehun menyentuhnya lagi, tangannya kembali membelai dada Luhan. Tatapan wanita itu membuat seluruh tubuh Sehun menjadi tegang.
Wajah Luhan kembali disembunyikan. Matanya terpejam. Dia bergetar, menggigit bibir untuk menahan diri agar tidak menjerit, kenikmatan yang dirasakannya sungguh luar biasa.
Bukan hanya Luhan yang bergetar, Sehun juga. Percintaan itu benar-benar bisa dikatakan murni, tetapi Luhan bereaksi seolah tubuh Sehun yang secara intim mendekatinya. Respon tubuhnya begitu tidak terduga dan juga menyanjung bagi Sehun.
"Kemarilah," kata Sehun agak mendesak, membawa Luhan ke atas ranjang. Sehun membaringkan Luhan di sisi gaunnya dan bergeser sedikit sehingga Luhan berada di bawah tubuhnya. Detak jantungnya yang cepat membuat Sehun bergetar bahkan sebelum bibir mereka bertemu. Sehun membelai tubuh Luhan dengan intim.
"Sehun," Luhan mendesah. Tetapi dia malah menarik bukan mendorong pria itu. Dia membuka bibirnya kepada Sehun, tubuhnya bergerak saat pria itu membelainya dengan tangannya dan juga dengan mulutnya yang terbuka. Sehun mengerak ketika Luhan bergetar dan mendesah penuh kenikmatan yang begitu luar biasa, begitu erotis. Dia ingin melakukan hal-hal bersama Luhan yang tidak pernah diinginkannya dengan wanita lain.
Bibirnya mencumbu bibir Luhan, tangannya bergerak perlahan menuruni pinggul Luhan yang liat. Luhan mendesah ketika Sehun mulai menyentuhnya, menjerit, dan mencengkram Sehun erat-erat. Dirinya sudah siap untuk Sehun, bahkan saat pria itu baru memulai.
Meskipun dipenuhi kenikmatan, Sehun tahu hal itu tidak benar. Segalanya tidak benar. Dia sudah terlalu lama tidak bersama seorang wanita, dan kali ini terlalu berapi-api, terlalu bergelora untuk pertama kalinya bersama Luhan. Dia seolah sedang terjun bebas, dan Luhan takkan menyukainya. Tetapi Sehun tidak dapat menahan dirinya.
"Luhan," Sehun mngerang di telinga Luhan. "Sayangku, tidak sekarang. Tidak seperti ini. Demi Tuhan, tolonglah aku….!"
Tangannya berhenti, mulutnya terasa panas dan keras di dekat tenggorokan Luhan sementara dia berbaring di sisi Luhan, tubuhnya yang besar masih bergetar karena dia mencoba mengatasi desakan dan kebutuhannya akaan diri Luhan.
.
.
.
.
HUNHAN
.
.
.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya
.
.
.
"Maaf untuk update yang super lama. Dan..makasih buat yang masih tetap nunggu cerita ini. Tidak ada alasan pembenar yang bisa aku pakai, karena semua tergantung niat."
