"Maksudku adalah," Menma menarik napas dalam-dalam dan menatap kedua saudaranya bergantian. "Kemungkinan besar anggota dari fanclub dan orang yang bukan anggota fansclub bekerja sama,"

.

.

.

Naruto (c) Masashi Kishimoto

Kaktus (c) Shin-Eiise Kuroyuuki

.

.

.

Naruto diam. Kurama diam. Menma diam. Keheningan menguasai mereka selama beberapa waktu.

"Hei." Pecah Menma. "Kalian, tolong katakan sesuatu."

Naruto dan Kurama saling pandang. Entah dengan maksud apa. Sedangkan Menma sudah jengkel karena merasa disisihkan.

"Oke, Menma." Satu-satunya perempuan di ruangan itu akhirnya membuka suara. Punggungnya ia istirahatkan pada sandaran kursi sedangkan kedua tangan terlipat di depan dada. "Dari mana kau mendapat kesimpulan seperti itu? Atau ada seseorang yang mengatakan hal itu padamu?"

"My dear sister, Aku akan menjelaskan kenapa aku sampai pada kesimpulan seperti ini. Kalian lebih baik dengarkan baik-baik."

"Oke,"

Menma menarik napas dalam. Dari tatapannya kau bisa tahu bahwa Menma sedang dalam serious mode.

"Kau sudah tahu bahwa Uzumaki Karin adalah ketua Uchiha Sasuke's Fanclub?" tanya Menma pada Naruto.

"Tentu."

"Hey, tunggu. Ada Uzumaki lagi selain kita?" Kurama yang sedari tadi tidak kedapatan peran banyak akhirnya menunjukkan dirinya. Ekspresi tidak percaya nampak jelas sekali di wajahnya. "Aku kira satu-satunya Uzumaki yang tersisa adalah Okaa-san,"

"Yup. Tapi nyatanya begitu." Kata Naruto.

"Aku yakin Karin sudah memperingatimu untuk tidak mendekati Uchiha Sasuke. Sepertinya dia tahu sesuatu. Tapi dari sudut pandang orang awam, kita akan berpikir bahwa hal itu wajar karena dia ketua fansclubnya."

"Lalu?"

"Aku sudah mencoba memaksanya mengatakan sesuatu. Tapi dia bersikukuh untuk diam. Jadi kita hanya bisa memecahkan masalahmu tanpa bantuan Karin. Aku merasa, penindasan yang terjadi padamu ini bukan sekedar penindasan. Tapi aku tidak bisa mengatakan hal itu tanpa bukti yang jelas, 'kan?"

Menma menarik napas dan membuangnya pelan-pelan. Bahunya ia regangkan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Ini bakal membingungkan. Masih mau mendengarkan?"

.

.

.

"Kalian lebih baik keluar dari sini. Kalian bisa memakai ruangan yang lain, 'kan? Aku tidak mau tau, okay? Aku sudah kesal." Ucap Naruto dengan santai selagi dia mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Bibir gelas bertemu dengan bibir tipis Naruto dan air mengalir melalui kerongkongannya.

"APAH?! NO WAY!" Menma dan Kurama berteriak bersamaan. Ekspresi horor terlihat jelas sekali di wajah mereka.

"Bagaimana jika kau di rampok?!" teriak Menma histeris.

"Bagaimana jika kau kenapa-kenapa?!" kali ini Kurama juga sama histerisnya.

Benar-benar, dua orang itu kompak sekali.

"Kalian berlebihan. Kalian bisa kan tinggal tepat di lantai bawahku berhubung di lantai ini hanya ada satu ruangan? Kalau ada apa-apa kalian bisa langsung kesini. Sekali-sekali, otaknya dipakai."

TAK

Gadis blonde itu meletakkan gelasnya diatas dengan kasar. Tatapannya pada kedua kakak benar-benar datar, tidak bisa diganggu gugat.

"Mutlak. Kalian dengar?" Tekan Naruto sekali lagi sebelum mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Untuk apa? Ya mandi lah.

"Naru-chan kejam sekali, hiks."

.

.

.

Manik birunya tersembunyi di balik sepasang kelopak matanya. Kepalanya ia sandarkan selagi ia menikmati hangatnya air yang merendam tubuhya. Kelopak matanya perlahan terbuka dan menampilkan matanya yang sewarna dengan langit biru yang bersih. Matanya menatap langit-langit dan menerawang jauh, tenggelam dalam pikiran.

Perkataan kakak kembarnya beberapa waktu yang lalu terlintas di kepalanya.

"Fansclub Sasuke bisa menghukum anggota mereka tapi tidak bisa menghukum mereka yang bukan anggota klub. Jadi seandainya ketahuan siapa yang melakukan, dia bisa saja mengatakan bahwa pelakunya adalah orang yang bukan anggota. Mereka tidak bisa melakukan apapun. Karena jika seandainya mereka melakukan itu, seseorang yang menjadi 'pengkhianat' dapat melakukan segala cara untuk menyebar berita bahwa fangirls Sasuke adalah sekumpulan orang-orang jahat yang menindas orang lain. Namun jika mereka menghukum anggota mereka, mereka bisa meyakinkan dengan alasan yang kuat. Contohnya, melanggar peraturan klub. Mereka juga punya bukti siapa saja yang menjadi anggota klub tersebut."

"Ah," Naruto menghela napas panjang. Mungkin seharusnya dia abaikan saja orang-orang iseng yang mengganggu kehidupannya.

Tapi jika dia membiarkannya, sama saja dia akan mengalami ini sampai dia lulus? Hell no. Naruto tidak mau merasakannya. Yang membuatnya heran adalah, mereka ini siapa? Alasannya apa? Karena Sasuke?

"Si reinkarnasi dari ayam itu memang benar-benar merepotkan, deh." Keluhnya pelan.

"OII, NARUTO, JANGAN TIDUR DI KAMAR MANDI!"

Naruto mengernyit mendengar teriakan kakaknya. "ANIKI NO BAKA, AKU SEDANG MANDI BUKAN TIDUR! ARGH," teriaknya balik. Dengan kasar gadis berambut pirang ini keluar dari bak mandi dan segera mengeringkan tubuhnya.

"Untuk saat ini, lebih baik jangan pikirkan hal itu. Ini sudah malam. Lebih baik aku gunakan waktunya untuk tidur."

.

.

.

"Dengar? Besok kalian harus pindah, oke?"

Saat ini mereka sedang bersiap-siap tidur. Naruto hendak mematikan semua lampu dan melihat kedua kakaknya sedang main kartu.

"...dia sudah mengatakan itu berapa kali hari ini?"

"Tiga kali, Kurama-nii..."

"Kejam sekali dia, ya."

"Kau benar, Kurama-nii."

"Hoi! Aku dengar semuanya!" seru Naruto kesal. Ia kemudian masuk ke kamar dengan membanting pintu.

"Astaga, seandainya mereka tidak menyebalkan, aku tidak akan mengusir mereka. Tidak. Alasannya bukan itu. Apartemen ini punya banyak ruangan dan kenpaa mereka harus berada bersamaku? Kita sama-sama orang dewasa apalagi kita juga bertemu kembali belum lama ini. Bukankah sama saja kita ini orang asing?"

Naruto menghela napas dan mematikan lampu. Waktunya tenggelam dalam mimpi.

.

.

.

"Naru-chan, pagi."

Senyuman gadis berambut indigo yang manis adalah hal pertama yang menyambut Naruto di pagi ini. Nampaknya kebiasaan buruk Hinata yang selalu gagap mulai berkurang jika di hadapan Naruto. Volume suaranya juga mulai lebih keras. Mungkin karena dia sudah nyaman dengan Naruto.

Senyuman lebar secerah sinar matahari membalas senyuman manis Hinata. "Pagi, Hinata."

"Ayo ke kelas," Ajak Hinata dan Naruto mengangguk.

Pagi ini Naruto bangun dengan keadaan pintu masih terkunci dan keadaan lampu masih seperti tadi malam. Begitu melihat tempat dimana Kurama dan Menma tidur, dia masih melihat mereka berdua tenggelam dibalik selimut yang hangat dan nyaman. Sepertinya mereka masih belum terbiasa dengan perbedaan waktu di Jepang. Jadi dia hanya meninggalkan sarapan dengan sebuah memo diatas meja.

"Ada PR?" tanya Naruto berbasa-basi. Namun di sisi lain, dia tidak hanya berbasa-basi. Dia memang tidak sempat mengecek ada PR atau tidak karena ada dua orang menyebalkan di apartemennya. Tingkah mereka benar-benar alay, kalau Naruto bilang.

"Tidak ada, Naru-chan."

Saat ini mereka sedang mengganti outdoor shoes mereka dengan indoor shoes. Hinata menyadari bahwa Naruto tidak memasukkan outdoor shoes nya ke dalam loker namun justru ke dalam tas.

"Kenapa tidak meletakkan sepatumu ke loker, Naru-chan?"

Naruto berkedip, "Kemarin ada yang mengusili aku dengan membakar sepatuku. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi jadi aku memasukkannya ke tas supaya lebih aman." Jawab Naruto santai.

"Ha? Sepatumu? Dibakar? Bukannya itu sudah keterlaluan?"

"Entahlah.." balas Naruto lesu.

"Yo, dobe!"

Oh. Si reinkarnasi ayam telah datang tanpa di inginkan. Mana pakai sapaan seolah mereka saling kenal pula. Well, mereka memang saling kenal, sih.

"Oi, teme. Hentikan itu. Kau menyebabkan banyak masalah buatku. BTW, pagi." Gerutu Naruto yang pada akhirnya justru menyapa Sasuke juga.

"P-Pagi, Uchiha-kun." Sapa Hinata juga.

"Hn."

Keluarlah kata menyebalkan Uchiha.

"Terima kasih untuk yang kemarin. Tapi aku menghargainya kalau kau tidak terlalu baik padaku."

"Beraninya kau memerintah seorang Uchiha? Dan aku tidak baik denganmu. Hanya kasihan." Ejek Sasuke dengan seringai menyebalkannya.

"OH!? JADI BEGITU?" seru Naruto. Dalam hati merutuki sifat keras kepala Sasuke yang membuatnya sudah marah-marah di pagi hari. "Kalau memang suka denganku, bilang saja! Ayo, Hinata. Lebih baik kita kelas." Ia melengos dan menarik tangan Hinata menjauhi Sasuke. Setelah beberapa lama berjalan, seseorang menghampiri mereka.

"Naruto."

Seseorang memanggilnya. Saat ia menoleh pada pelaku, bola matanya menangkap kepala berambut merah dengan kacamata menghiasi wajahnya.

"Karin?"

Naruto menatapnya heran sementara Hinata menatap dengan pandangan bertanya. Apakah mereka saling kenal kenal.

Karin mengisyaratkan Naruto untuk mendekat. Naruto melakukannya dan begitu mereka sudah cukup dekat, Karin membisikkan sesuatu ke telinga Naruto.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Temui aku nanti saat jam pelajaran ke 6. Aku akan mengirim tempatnya lewat e-mail,"

.

.

.

To be continue

.

.

.

A/N

GOSH, KALIAN NGGAK TAU SEBERAPA MENYEBALKANNYA ADIK SAYA SAAT SAYA PINJEM KOMPUTERNYA. Pelit banget! – saya nggak sempat melihat apakah ada typo atau tidak.

Anyway, pada akhirnya saya berhasil menyelesaikan chapter ini. Saya ingin sekali membalas review kalian satu satu tapi waktu tidak berpihak kepadaku T,T

Btw hutamara sama-dono (kok aneh rasanya), adik saya nggak baik TT

Untuk BoltItou-ku RT-dono, saya nggak suka ke warnet. Banyak laki-laki dan warnet di daerah saya udah mulai jarang. Saya juga sedang bokek ekekeke

Untuk AsakiYuuna-dono, kalo soal itu, silahkan tanya langsung saja pada Menma XD

untuk Alsheon, hmmm kita lihat saja nanti ohohoho /slapped

Last thing, saya merasa saya ini labil deh. X"D soalnya kemarin bilang mau hiatus tapi malah udah apdet 2 chapter. Au ah gelap. Udah sekian aja dari saya. Saya bakal seneng kalo ada yang nge review chapter ini X"D. Terima kasih 3.

Adios!

Shin-Eiise Kuroyuuki