LIFE CHAPTER 9 : Give a shoulder to lean on instead of thousand words, Give a bitter words to encourage instead of sweet words to courtesy
Warning : TYPO‼
.
LIFE
By jiyeoon
Orang lain, bahkan ada yang begitu menyayangi hewan peliharaannya. Tapi aku ini manusia.
.
CHAPTER 9
Mengunci diri didalam kamar, dalam kegelapan dan sepi. Hanya itu yang ia lakukan. Duduk bersandar dikepala ranjang, menekuk lutut dengan pandangan kosong. Tak lagi mengeluarkan air mata, karena matanya sudah terasa perih karena banyak menangis, dia hanya duduk termenung. Tangannya meremas kuat selembar cek bernilai jutaan dollar, menatapnya sekilas. Melihat nominal angka yang begitu besar di lembar itu semakin membuatnya muak. Orang itu sudah memberinya banyak luka, dan sekarang ia mengantarkan sebuah luka baru. Sungguh ia ingin merengek, ingin mengatakan bahwa ia tak mampu berkompromi dengan luka yang satu ini, lagi.
Dia hanya anak kecil naif yang berlagak sok dewasa. Anak berumur 15 tahun yang bahkan belum mempunyai ID nya. Begitu naif sehingga merasa yakin bisa menanggung semua rasa sakit sendirian, begitu naif berharap sebuah kehidupan baru yang bahagia. Belum genap 3 bulan ia merasakan sedikit apa itu bahagia. Baru saja ia mengenal mereka, orang-orang senasib yang membuat ia merasa sedikit beruntung akan kehidupannya. Orang-orang senasib yang membuatnya memiliki semangat untuk memulai kehidupan baru.
Dan sekarang haruskah ia melepaskannya? Lagi?
Menggeleng kuat dalam renungannya.
Kyuhyun tak mau.
Berhenti meremas cek dalam genggamannya, bangkit berdiri lalu buru-buru menaruh cek itu kedalam laci, menyimpannya ditempat paling dasar, dibawah tumpukkan benda-benda lain, menaruhnya ditempat yang tak terjangkau, berharap dirinya lupa akan keberadaan benda itu. Kyuhyun tak cukup berani untuk membuangnya, tak juga cukup berani untuk melihatnya terus menerus. Bukan masalah uang, tapi lebih dari itu.
"Tidak, kali ini aku tidak akan pergi lagi. Aku tak akan menurutimu lagi." Kyuhyun mengucapkannya dengan yakin, tapi mulut tak sejalan dengan tubuhnya, Ia merosot jatuh terduduk. Sekarang ia begitu cengeng. Kyuhyun mencemooh dirinya, tertawa dengan mata berair, entah sudah berapa banyak menangis, tapi kenapa air matanya kembali mengalir, kenapa air matanya tak habis-habis. Kyuhyun merasa orang itu sudah menguras seluruh keberaniannya.
"Aaaghhh…." Berteriak, akhirnya ia melampiaskan semua rasa yang ditanggunya dalam sebuah suara memekik.
Kyuhyun tak sadar, orang-orang yang senasib dengannya berada diluar. Berdiri mematung menatap pintu kamarnya yang dikunci. Kibum dan Ryeowook memasuki rumah tepat 15 menit setelah Jungsoo keluar dari rumah mereka. Bermaksud memberikan waktu sejenak untuk Kyuhyun menyendiri, namun apa yang mereka dengar ketika baru saja memasuki rumah. Teriakan Kyuhyun yang cukup nyaring dari dalam kamar.
Ryeowook menoleh menatap Kibum. Namun Kibum menggeleng pelan, membuat Ryeowook mendengus frustasi. "Aku tak tahan Kibum, setidaknya aku ingin meminjamkan bahuku untuknya menangis."
"Dia butuh waktu sendiri Ryeowook, dia juga pasti benci kedapatan dalam keadaan lemah seperti ini oleh kita. Kau tau bagaimana wataknya bukan? Dia percaya dirinya yang paling tegar. Biarkan ia tenang dulu, ia akan keluar sendiri nanti."
.
Kyuhyun tak ingat berapa lama ia menangis, saat mengerjap ia mendapati dirinya berbaring dilantai. Tak nyaman, Kyuhyun merasa kedinginan juga nyeri di sekujur tubuh. Tak bisa berbohong, tubuhnya hanya terbiasa tidur di kasur yang empuk, dibawah hangatnya selimut tebal. Ingatkan Kyuhyun jika di China ia mempunyai kasur dan selimut yang berkali kali lipat lebih nyaman dari yang ia punya saat ini. Dan sekarang ia malah tertidur dilantai, ck bukan Kyuhyun sekali.
Saat berusaha duduk, Kyuhyun merasa kepalanya berdenyut. Ia memegang keningnya sebentar, benar, rupanya ia terserang demam. Sedikit susah Kyuhyun bangkit berdiri bermaksud menuju kasur, namun naas tubuhnya begitu lemah dan hilang keseimbagan.
"Akh…." Kyuhyun merintih cukup nyaring. "Appo…" Ngilu sekali tubuhnya, sebelum sukses menghantam lantai, pinggulnya sempat menubruk meja, jelas sangat sakit, Kyuhyun sangat tak beruntung.
Suara rintihannya yang begitu nyaring membangunkan dua orang dikamar lain tepat disebelah kamarnya. Buru-buru Kibum juga Ryeowook menggedor pintu kamarnya.
"Kyuhyun-ah Gwenchana?" Ryeowook paling gusar saat ini.
"Kyuhyun-ah buka pintunya." Kibum meminta dengan tenang. Tapi Kyuhyun begitu lemah, tubuhnya yang lemah lagi panas ditambah pinggulnya yang nyeri membuatnya tak bisa bangkit meminta tolong.
"Ryeowook tolong kau kebawah, minta kunci serep ke ahjumma pemilik rumah."
.
Saat berhasil membuka pintu. Betapa terkejutnya Kibum dan Ryeowook mendapati Kyuhyun terbaring lemah dilantai, buru-buru mereka mengangkatnya ke kasur. "Kau demam Kyuhyun." Ryeowook menyadari pertama kali. "Aku akan manyiapkan kompres."lanjutnya lalu pergi kedapur.
"Mianhae, aku merepotkan kalian." ujar Kyuhyun lemah.
"Appo..?" Kibum menyadari Kyuhyun sedari tadi memegang pinggul kanannya.
"Tadi terantuk meja, sakit sekali." Jawab Kyuhyun.
"Diamana kau meletakkan salep?" Kibum mulai menggeledah meja belajar Kyuhyun.
"Bukan disitu. Aku menyimpannya dilemari sana. Dalam kotak P3K." telunjuk Kyuhyun menunjuk sebuah lemari kecil dibagian ujung kamar.
Saat Kibum berhasil mendapatkan salep, saat itu juga Ryeowook datang membawa kompresan. "Kibum bisa kau melakukan ini untuk Kyuhyun? Aku akan membuatkan bubur untuknya sarapan."
"Ya. Taruh saja dimeja nakas" Jawab Kibum singkat, setelahnya Ryeowook bermaksud keluar menuju dapur, sedikit melirik salep ditangan Kibum namun enggan bertanya lebih, ia sudah bisa menebak sendiri apa yang terjadi pada Kyuhyun sebelumnya.
Sebelum benar-benar keluar matanya menatap sejenak ke arah Kibum, Kibum juga menatapnya sebentar, keduanya saling mengangguk bersama. Sebuah komunikasi non verbal dengan maksud kesepakatan untuk jangan mengungkit masalah kemarin malam dulu untuk saat ini, Kyuhyun sedang sakit, tak baik menanyainya pertanyaan macam-macam.
"Sarapan? Memangnya ini jam berapa Kibum?" tanya Kyuhyun lemah.
"Setengah enam pagi." Kibum membuka kancing seragam sekolah Kyuhyun, menyibak kaos dalam dan mendapati pinggul kanan Kyuhyun yang berwarna keunguan. Dalam diamnya, ia mengoleskan salep perlahan. Selanjutnya mengompres kening Kyuhyun dengan telaten.
"Kau belum berganti baju dari kemarin. Aku akan menggantikan bajumu." Ujar Kibum disela kegiatannya.
"Kibum.. aku malu." Tolak Kyuhyun.
Kibum tak perduli, ia berjalan dengan santainya ke arah lemari mengambil kaos dan celana kain selutut milik Kyuhyun. Toh Kyuhyun sedang lemah tak bisa melawan. Kibum mulai menggantikan pakaian sang sahabat tanpa perduli wajah memerah Kyuhyun menahan malu.
Ryeowook kembali datang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air hangat, juga beberapa butir paracetamol untuk penurun demam. "Makanlah.." baru Ryeowook berusaha menyuapi Kyuhyun. Kibum segera menghentikkannya sembari tersenyum tipis. "Kau bersiaplah sekolah, aku akan merawatnya hari ini."
"Tidak, kalian berdua pergi sekolah saja. Aku tak apa sendiri." Kyuhyun menolak, namun karena terlalu banyak berbicara membuat suaranya sedikit serak.
"Kau itu mudah sekali sakit. Saat sedang sakit kau begitu lemah, berbicara saja serak dan tidak jelas. lalu sekarang minta ditinggal sendiri? Ck." Kibum mencemooh sembari mulai menyuapi Kyuhyun. Kyuhyun hanya diam menerimanya,
"Jangan merasa tidak enak. Lagipula aku memang sedang ingin membolos." Kibum kembali menyuapinya seperti bayi.
"Baiklah, aku akan bersiap. Kibum tolong rawat uri Kyuhyunie dengan baik nde?" ujar Ryeowook ceria sambil berlalu pergi.
"Ryeowook." Panggilan Kibum menghentikan langkah Ryeowook, membuatnya berbalik sebentar.
"Aku menolak ikut lomba debate, Aku sudah bilang ke Sungmin seongsaenim kalau kau bisa menggantikanku, kau bisa menemuinya hari ini."
Ryeowook membulatkan matanya terkejut. "Kibum-ah.." panggilnya pelan, apakah Kibum mendengar ucapannya kemarin itu? Perasaan tak enak kini menyeruak didalam dirinya.
"Tolong jangan salah paham, aku menolak karena aku tak tertarik sama sekali dengan lomba semacam itu, aku juga tak punya waktu menyiapkan diri, aku sibuk bekerja dan mereka memahami." Kibum memutuskan kontak matanya dengan Ryeowook yang berdiri termenung didepannya. Ia lanjut menyuapi Kyuhyun yang memandanginya dengan wajah bingung, namun ia abaikan.
"Gomawo Kibum-ah." Ujar Ryeowook pelan lalu berlalu.
.
.
[FLASHBACK]
Matanya mengerjap bahagia, senyumnya merekah saat ahjumma yang merawatnya memakaikannya atribut musim dingin yang hangat. Sebuah sarung tangan, syal, mantel tebal dan juga sepasang sepatu bagus. "Ahjumma, kita mau jalan? Kemana?" baru 5 tahun, tapi anak itu sudah tak cadel.
"Bukan kita. Tapi Kyuhyunie, appa, eomma dan hyungdeul." Jawab si ahjumma sembari tersenyum.
"Benarkah? ada eomma? dan Kyunie boleh ikut?" tanya anak itu tak percaya.
"Yup, captain Cho boleh ikut. Cha, Mari kedepan, hyung dan eomma sudah menunggu di mobil." Tuan Cho tiba-tiba muncul didepan kamarnaya, mengulurkan tangan yang langgsung disambut bahagia oleh sang anak.
"Appa."
.
Turun dari mobil dengan senyum merekah, rupanya keluarga Cho memutuskan berlibur di salah satu sky resort terkenal di Beijing. Pilihan tempat liburan yang tepat di musim ini. Tapi tidak dengan Kyuhyun, anak itu masih begitu kecil untuk bermain sky.
Hanya Appa, Eomma dan Donghae yang bermain di kawasan kids zone, mereka mengajari Donghae bermain karena alasan mereka kesini adalah Donghae yang terus merengek ingin belajar bermain ski. Jungsoo berkata ia malas dan lelah karena perlajalanan yang cukup jauh, memilih menjauh menuju spot yang bagus untuk duduk-duduk, Kyuhyun mengikutinya duduk dalam diam. Namun pandangan Jungsoo masih menjangkau kedua orang tuanya juga Donghae yang bermain bersama.
Terlihat bahagia sekali. Tidak seperti dirinya yang merupakan mendiang istri pertama keluarga Cho, Donghae adalah anak kandung ibu dan juga ayah mereka, pelengkap mereka, simbol kebahagiaan keluarga Cho. Anak yang menyatukan kelurga Cho.
"Hyung, Kyu bosan." Jungsoo melirik Kyuhyun disampingnya sebentar. Lalu kembali memandang ibu, ayah dan Donghae didepan sana, kembali lagi ia memandang sang adik bungsu disampingnya. Tidak seperti Donghae yang merupakan simbol kebahagiaan mereka. Kyuhyun adalah perusak segalanya, sebuah simbol kehancuran, semua berubah sejak anak ini lahir.
Awalnya Jungsoo tak mengerti akan sikap ibunya yang tidak menyukai sang adik dan mulai jarang dirumah. Tak pernah menimang, memberi asi bahkan bermain bersama, selama 5 tahun hidupnya, adik bungsunya ini selalu dirawat oleh seorah pelayan. Jungsoo bingung sungguh, karena Kyuhyun pada dasarnya adalah adik yang penurut dan juga manis, sehingga Jungsoo sangat menyayanginya. Namun beberapa minggu kemarin ia mendapat jawabannya dari sang eomma, sebuah jawaban yang membuat pandangannya tentang si bungsu berubah.
"Kyunie, mari jalan-jalan."
Mereka berjalan lurus, melewati zona bermain snowboard, berbelok kearah barat, semakin lurus semakin menjauh dari resort sky tersebut. Naik ke dataran yang lebih tinggi. Kyuhyun sedikit kesusahan saat naik, Jungsoo didepannya tak berbicara banyak, jadi Kyuhyun hanya mengikut saja. Entahlah, sudah beberapa minggu ini Kyuhyun dibuat bingung dengan sikap hyung sulungnya ini, selalu menghindarinya bermain bersama disetiap waktu dengan alasan ini itu, jadi Kyuhyun mulai sedikit canggung.
Jungsoo berhenti saat sudah sampai dipuncak, Kyuhyun ikut berhenti. Kedua mata bulatnya menatap kebawah, dan terkejut mendapati jurang yang curam. "Hyung kita bisa bermain apa ditempat seperti ini?" Kyuhyun bergidik ngeri melihat jurang tersebut.
"Kyunie, mari lebih dekat ke hyung." Kyuhyun menurut dan melangkah maju berdiri disamping Jungsoo.
Begitu cepat, Kyuhyun tak sadar sejak kapan tanah bersalju yang dipijak nya longsor dan sekarang ia tengah berada di posisi hampir jatuh, bergantung dengan tangan digenggam erat oleh sang hyung.
Kyuhyun melirik kebawah, merasa mual karena ketinggian. "Hyung…" Kyuhyun menangis ketakutan. Jungsoo masih terus mengenggam tangannya erat dalam diam, tak berniat menarik sang adik, padahal siapapun tau, Jungsoo bisa dengan sangat mudah menarik tubuh kecil itu.
"Hyung… tolong tarik Kyunie." Kyuhyun meminta tolong dengan cemas, melihat jurang dalam dibawahnya membuatnya sangat takut jatuh
"Kyu, kau taukan eomma tak suka dengan Kyu?" Tanya Jungsoo.
"Eomma tak suka Kyu karena Kyu bukan anak appa. Kyunie tidak tau kan?" Jungsoo berucap dengan tenang, namun dengan kondisi seperti ini Kyuhyun sangat ketakutan mendengarnya.
"Hyung bicara apa?" Kyuhyun tak mengerti, anak sekecil itu memang seharusnya tak mengerti.
"Hyung tolong.. tolong.." lagi, Kyuhyun hanya bisa menangis meminta tolong.
"Donghae dan hyung jadi jarang bertemu eomma karena Kyunie." Jungsoo berucap kembali.
Jungsoo tersenyum tipis melihat air mata Kyuhyun mengalir deras, beralih melihat tubuh bergantung sang adik, merasakan tangan berkeringat dalam genggamannya.
Kyuhyun dibuat bingung dan takut saat Jungsoo mulai tak membalas genggamannya. "Jungsoo Hyung.."
"Mianhae Kyunie sayang.." dalam sekali sentak ia melepas cepat genggaman kecil tangannya. Matanya melihat jelas tubuh kecil Kyuhyun yang berguling menuju dasar jurang.
Tanpa penyesalan ia berbalik, berlari cepat menjauh. Meninggalkan seorang adik tak berdosa dengan luka dibawah sana. Hati dan juga tubuhnya.
.
Namun semuanya tak berjalan sesuai keinginganan anak sulung keluarga Cho. Selama 6 jam Kyuhyun dinyatakan menghilang, semua orang tak tau apa yang terjadi. Kyuhyun ditemukan dalam keadaan mengenaskan didasar jurang, tubuh membiru karena kedinginan, tak sadarkan diri dengan seluruh luka menghiasi tubuh dan sebuah luka parah dibelakang kepalanya. Namun anak itu selamat, anak itu masih ingin hidup.
Setelah koma hampir 4 hari, Kyuhyun sadar dalam keadaan amnesia. Hal yang perlu disyukuri sesungguhnya, bayangkan jika anak itu mengingat apa yang dilaluinya sebelum berbaring diranjang pesakitan ini. Berapa banyak luka hati yang harus ditanggungnya jika ia mengingatnya saat itu.
Mendapati kenyataan bahwa ia adalah putra bungsu keluarga Cho dengan seorang appa yang begitu menyayanginya, seorang ibu dan kedua hyung yang membencinya. Entah apa yang Jungsoo atau sang Ibu katakan sehingga berhasil menanamkan sebuah kebencian dihati Donghae.
Hampir sepuluh tahun mereka habiskan dalam ketidaktahuan. Kyuhyun yang naif dan pengalah selalu berkompromi dengan rasa sakit yang mereka berikan. Donghae yang bodoh dan mudah percaya ikut membenci dalam ketidaktahuan.
Sampai hari-hari itu tiba, 4 bulan lalu sebelum Kyuhyun memutuskan pergi. Kepingan-kepingan memori yang dilupakannya mulai melintas secara abstrak. Berhasil membuatnya menarik kesimpulan yang ternyata adalah jawaban sebenarnya.
Mengerikkan.
Kyuhyun akhirnya memutuskan pergi untuk mengalah dan juga karena…
Takut.
Orang itu, ternyata pernah mengantarnya kepintu kematian.
[FLASHBACK END]
.
.
Hampir jam 3 siang, namun tak ada tanda-tanda kondisi Kyuhyun membaik, demamnya masih cukup tinggi. Kibum tak berhenti mengganti kompresan dikeningnya. Sejam lalu, Kyuhyun kembali tertidur setelah memakan sup tak karuan yang dibuat Kibum. Memaksa Kyuhyun ke rumah sakit pun percuma, ia menolak dengan keras.
"Hyung..tolong.." Kyuhyun mulai mengiggau. Ryeowook bingung harus melakukan apa, ia hanya berusaha mengusap punggung tangan Kyuhyun menenangkan. Ryeowook yang beberapa menit lalu pulang sekolah langsung menggantikan Kibum menjagai Kyuhyun, Kibum memutuskan beristirahat di sofa ruang tengah.
"Hyung.. jangan membunuhku.."
"Kau kenapa Kyuhyun?" Tidak seperti Kibum, Ryeowook baru pertama kali mendapati Kyuhyun menginggau seperti ini.
Tiba-tiba Kyuhyun bangun, ia tersentak keras dan spontan duduk meringkuk. Ryeowook semakin khawatir. "Kibum-ah…" Ryeowook memanggil Kibum cukup nyaring.
"Jangan membunuhku, jangan membunuhku." Kyuhyun berucap tak karuan, mulai memeluk kedua lutut yang menempel didadanya, posisinya menggambarkan seseorang yang sangat ketakutan. Kibum muncul dan sama terkejutnnya dengan Ryeowook. Air mata Kyuhyun mulai mengalir karena ketakutan memenuhi dirinya, Kyuhyun lalu mendunduk dalam menyembunyikan wajah, terisak keras dengan tubuh berguncang hebat.
Kibum dengan cepat mengambil posisi Ryeowook. Memegang erat pundak sang sahabat. "Kyuhyun, tenang lah, ini aku Kibum. Kau berada di Korea, kau aman, tak ada yang akan membunuhmu."
Tidak ada reaksi, akhirnya mereka membiarkan Kyuhyun terus menangis. Berapa menit berlalu, tubuh Kyuhyun sudah berhenti bergetar, tangisannya mulai mereda, walaupun masih sesegukkan, ia mulai mengangkat kepalanya. Terkejut mendapati dua sahabatnya yang kini tengah menatapnya khawatir.
Kyuhyun tak sadar ada orang lain yang melihatnya dalam keadaan seperti ini. Kyuhyun menjadi salah tingkah sendiri. "Kibum-ah, Ryeowook-ah. Kalian sejak tadi disini?"
Kibum tiba-tiba memukul pelan kepalanya. "Pabo.. kenapa menanggungnya sendirian? Kenapa tak pernah bercerita?" Kibum mulai merasa melankolis sendiri, matanya memanas mengingat kejadian beberapa menit lalu, mendapati Kyuhyun dalam kondisi seperti tadi.
"Kalian?" Kyuhyun tak bisa melanjutkan pertanyaannya.
"Kami sudah tau Kyuhyunie, kami mendengar apa yang kau dan orang itu bicarakan kemarin. Kenapa kau tak pernah bercerita? Seperti apa kau memandang kami sebenarnya?" Ryeowook sendiri mulai menangis.
"Mianhae." Kyuhyun menunduk dan mulai menangis. Lagi. Ah.. Kyuhyun merasa malu dan cengeng sekali saat ini.
Kibum berjongkok menghadap Kyuhyun yang menunduk. Diraihnya pundak sang sahabat sembari menatapnya dalam. "Kyuhyun, kau tau? Salah satu hal yang paling kubenci adalah melihat seseorang yang berarti untukku kesakitan. Kau adalah salah satu orang yang berarti untukku dari seakrang." Kyuhyun menatapnya terkejut, sebuah pengakuan dari seseorang yang abru dikenalnya beberapa bulan.
Benarkah?
Benarkah keberadaaanya bisa berarti lebih untuk orang lain. Dan mereka, bahkan bukan keluarganya.
Seolah tau isi pikiran Kyuhyun, Kibum menatap sang sahabat dengan senyum, mengangguk dengan penuh keyakinan. "Jadi Kyuhyun, kumohon belajarlah berhenti merasakan itu. Kau sudah disini, kau memiliki kami."pinta Kibum sembari mulai mengenggam tangan Kyuhyun.
"Aku bigung bagaimana caranya berhenti merasa Kibum, tak semudah yang kau katakan, ini menyakitkan." Kyuhyun melepas paksa genggaman lembut Kibum ditangannya, mulai memeluk sendiri lengannyayang menggigil ketika campuran rasa itu kembali datang. Takut, sedih, kecewa. Semua bercampur membentuk rasa sakit.
"Dengarkan aku!" Kibum menyentak pundak Kyuhyun sekali lagi. "Lebih dari siapapun, saat kau sudah melangkah sejauh ini, ketika kau sudah melangkahkan kakimu ketempat asing ini. Seharusnya kau yang paling menyadari bahwa kau tidak menyisahkan harapan lagi yang tertinggal disana. Berhentilah terkejut, bersedih dan terpukul dengan apa yang dilakukan mereka. Itu hanya akan semakin menyakitimu."
Tidak
Kyuhyun menggeleng tak setuju, air matanya mulai jatuh. Dilepasnya paksa tangan Kibum dari pundaknya. "Kenapa tidak? Kenapa aku tidak boleh menyisahkan harapan? Kau tau apa tentang harapanku"
Kyuhyun mendecih saat mendapati Kibum terdiam, kemudian ia menatap kosong kearah depan. "Orang lain, bahkan ada yang begitu menyayangi hewan peliharaannnya. Tapi aku ini manusia. Kenapa dia memperlakukan manusia seperti ini."
"Kyuhyun-ah…" lirih Ryeowook yang sedari tadi diam memperhatikan mereka.
"Maafkan aku, biarkan aku merengek kali ini. pergilah jika kalian tidak ingin dengar." Ujar Kyuhyun.
"Kyu, bukan seperti itu maksudku." Kibum merasa tidak enak.
Tiba-tiba Ryeowook melangkah maju, duduk tepat disamping Kyuhyun, meraih satu tangan Kyuhyun, melingkarkan jemari panjang Kyuhyun dengan miliknya. Diraihnya pelan kepala Kyuhyun, mendorongnya untuk bersandar dipundaknya. "Bagus Kyuhyun-ah. Kau melakukannya dengan baik. Marahlah, menangislah yang banyak, kutuk orang itu sebanyak kau mau," ucap Ryeowook. Dan Kyuhyun menurut, kembali menangis dalam rangkuhan seorang Ryeowook.
"Aku masih bisa berkompromi dengan kebencian dari ibu dan hyungku yang satu lagi. Tapi dia berbeda. Dia membenciku disetiap aliran darahnya. Dia pernah mengantarku kepintu kematian, dia memusuhiku, mengusiku dan sekarang dia.." Kyuhyun tak sanggup melanjutkan perkataaannya saat sesak itu kembali datang.
Kyuhyun menarik nafas panjang, mengatur nafasnya yang sesak karena sesenggukan. "Dan harapanku tidaklah begitu muluk. Aku hanya berharap bebas dari kebenciannya. Aku sudah berlari sejauh ini, tapi dia masih terus menyakitiku."
"Nae appa... aku bahkan meninggalkan nae appa demi dia.. appa...hiks.. mianhae appa.."
Sore itu, Kyuhyun mengeluarkan segalanya.
.
Give a shoulder to lean on instead of thousand words.
Give a bitter words to encourage instead of sweet words to courtesy
Ada saat ketika kita begitu lemah. Merasa seisi dunia berbalik membelakangi kita. Pada saat itu, jika kau orang yang beruntung, kau akan menemui dua jenis teman yang datang. Yang pertama ia tak suka berbasa basi, dia akan mengkritikmu, mencemoohmu karena begitu cengeng, namun dibalik perkataannya, ia berusaha menguatkanmu, mengajakmu melihat raelita. Yang kedua, tanpa berkata apapun, ia memberikan pundaknya sukarela, membiarkanmu bersandar untuk menangis, marah bahkan mengutuk.
Tak perduli kau suka yang mana, jangan tinggalkan salah satu diantaranya. Mereka adalah orang yang berharga. Tak ada yang lebih baik dan tak ada yang lebih buruk.
TBC
Chap ini buat kalian yang penasaran sama masa lalu Kyuhyun. Chap depan mungkin aku bahas Ryeowook dan Kibum selanjutnya.
Sebenarnya saya bingung nanti harus naikin rate nya atau ngga. Saya sih maunya tetap namun konsekuensinya berarti ada beberapa yang saya rombak. Ya sudahlah nikmati aja dulu chapter ini, chapter chapter selanjutnya nanti saya pikirkan lagi.. See you next time! Dan jangan lupa review.
Next :
Jika masih pantas, akan kubuang harga diriku. Bersujud dikakimu meminta maaf, walaupun itu tak akan membuat ibumu hidup kembali.
.
Bila kau tak ada. Aku hanya perlu mengurus diriku. Dari awal kaulah yang menyebabkan semua ini.
.
.
Kau berbohong padaku! Orang itu baru menyentuhmu sekarang bukan?
Dia benar-benar melakukannya?
Bagaimana bisa kau melaluinya seorang diri!
