Disclaimer : I own nothing. Super Junior belongs to their self and GOD. Hanya fic ini yang murni punya saya, Jung Hyun Hyo ^^ Don't copy without permission, please!

Cast : - Choi Siwon

- Kim Kibum

- Choi Kyuhyun

- Lee Sungmin

Pair : SiBum ; KyuMin ; HanChul ; KangTeuk (pair lain mungkin menyusul ^^)
Warning : Genderswitch for uke, typo(s), OOC, OC, AU. So, if you DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

.

Chapter 9 : Where'd You Go?

Columbia, New York.

"Hosh.. Hosh.. U-umma, bagaimana keadaan appa?" tanya Kyuhyun seraya tersengal-sengal. Keringat menetes deras dari dahinya. Tidak jauh berbeda dengan kakaknya yang bertubuh tinggi –Siwon. Kedua namja itu terengah-engah ketika sampai di rumah sakit tempat appa mereka dirawat.

Sang umma –Heechul segera mendongak ketika mengetahui anaknya sudah tiba. Matanya merah dan sembab. Ada kantong mata dibawah mata bulatnya. Pasti Heechul menangis seharian. "Appa baik-baik saja.. Tapi dia belum sadar.." jawabnya dengan suara serak. Ia menghapus kedua air mata yang masih mengalir dari pipinya ketika ditatap dengan paras khawatir oleh Siwon.

Kyuhyun mengatur nafasnya, lalu mengintip dari jendela kamar rawat inap ayahnya. Dan ia terperanjat. "Loh, appa sudah sadar kok.."

Heechul terlonjak. "Y-yang benar, Kyu?" Yeoja paruh baya itu lalu menggeser –atau lebih tepatnya mendorong tubuh Kyuhyun sehingga anak terakhirnya itu terantuk dinding. Kyuhyun meringis. "Hannie!" Dan dengan itu, Heechul menghambur masuk.

Kyuhyun mengumpat ketika pintu magnet itu tertutup sempurna. Siwon tertawa prihatin.

"Ayo masuk, Kyu." sahut Siwon pelan seraya menggamit tangan Kyuhyun. Kyuhyun menolak dengan menyentak tangannya, membuat Siwon mengernyit heran. "Waeyo?"

"A-ani, nanti saja kita masuk setelah umma."

Siwon menghela nafas. "Oh, ayolah, jangan bilang kau masih kesal dengan appa."

Kyuhyun melotot tajam pada Siwon. "Aku tidak pernah kesal ataupun marah sama appa! Aku marah dan kesal justru pada diriku sendiri yang tidak bisa melawan kehendaknya!"

"Kenapa kau tidak mengatakannya langsung kalau begitu?" tanya Siwon. Ia berusaha menarik Kyuhyun masuk, namun Kyuhyun menolak.

"Aku tidak akan pernah mengatakannya! Appa sudah senang melihatku seperti ini!"

"Kau tahu? Justru appa tidak bahagia melihatmu seperti ini! Kau membuang-buang waktu! Lebih baik kau cepat-cepat mengatakannya sebelum kau menunggu lebih lama dan membuat appa kecewa!"

Kyuhyun melotot dan lagi-lagi menolak saat Siwon berusaha menariknya masuk. "Dengar, hyung, aku –"

Ucapan Kyuhyun terpotong saat Heechul memunculkan kepalanya dan berkata. "Boys? Appa ingin bicara dengan kalian." Lalu Heechul masuk lagi.

Kyuhyun mendelik tajam pada Siwon. "Jangan ngomong yang aneh-aneh di dalam, hyung. Awas ya!" ancamnya. Siwon hanya mengedikkan bahu, lalu masuk mendahului Kyuhyun.

"Appa.." sahut Siwon pelan seraya memeluk Hangeng yang sedang duduk di tempat tidur. Hangeng terkekeh. "Apa kabar, Siwon?"

Siwon melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Hangeng. "I'm fine, Daddy. Do you feel better right now?" tanya Siwon.

Hangeng tertawa. "Yeah, absolutely. Where's Kyuhyun?"

Kyuhyun muncul dari balik punggung Siwon dan memeluk ayahnya –yang terbalut pakaian khas rumah sakit, kaku. Ia canggung. Hangeng tersenyum ketika Kyuhyun melepaskan pelukannya.

Siwon dan Kyuhyun lalu duduk di kursi di samping tempat tidur Hangeng. Heechul duduk di tepi yang lain seraya mengupaskan jeruk untuk Hangeng. Kyuhyun menunduk diam dan memain-mainkan ujung jaket birunya, sementara Siwon berusaha memecahkan keheningan.

"Appa, bagaimana kau bisa terkena serangan?" tanya Siwon heran. Appanya ini tidak pernah lupa minum obat. Tapi kok..

Hangeng tersenyum sedih dan menggeleng pelan. Ia menghirup dalam-dalam oksigen dari selang yang tertancap di kedua hidungnya. "Well, aku lupa minum obat kemarin, dan.. Ya begitulah. Dan ngomong-ngomong, aku heran kenapa kalian bisa ada disini tidak sampai sehari setelah ibumu mengabarkan keadaanku?"

Kyuhyun mendongak. Kali ini, ia yang menjawab seraya mencibir ke Siwon. "Hyung ngebut gila-gilaan. Tidak usah ditanya ngerinya."

Siwon cemberut. "Hei, aku ini pengemudi professional! Buktinya, kita sampai kurang dari 24 jam kan?"

Kyuhyun merengut dan menjawab sarkatis. "Oh ya, pembalap professional. Saking professionalnya, sampai melanggar belasan rambu lalu lintas dan hampir membunuhku. Terima kasih banyak, hyung, aku sangat sayang padamu!"

"Hah? Hei, aku tidak pernah melanggar lalu lintas, itu –"

"Hyung buta dan tuli ya? Jelas-jelas aku mendengar dan melihat ada polisi lalu lintas yang mengikuti kita dari belakang! Pokoknya kalau mobilku ditilang, hyung yang harus menebusnya!"

"Enak saja, gajiku kecil tahu!"

"He? Kecil? Kalau begitu, ambil dari tabungan –"

"STOOP!"

Teriakan Heechul yang menggelegar mendiamkan Siwon dan Kyuhyun yang sedang berdebat tidak penting. Matanya melotot garang pada kedua anak lelakinya. "Appa kalian sedang sakit, kalian malah ribut? Umma pusing dengarnya!"

Hangeng tertawa dan mengelus rambut Heechul pelan. "Tidak apa-apa, Chullie. Justru aneh kalau mereka tidak bertengkar."

Siwon dan Kyuhyun serempak berteriak gemas. "Yah! Appa!"

Hangeng menyeringai, lalu membuka mulutnya untuk menerima suapan jeruk dari Heechul. Kyuhyun memutar-mutar bola matanya melihat orangtuanya pamer kemesraan. Begitu pula dengan Siwon.

"Emm.. Kyuhyun.." panggil Hangeng.

"Ya, appa?"

"Bagaimana dengan Siwon? Apa masih suka mabuk-mabukkan?"

Kyuhyun melirik Siwon sekilas, lalu menjawab. "Tidak. Bahkan sudah hampir dua minggu ini hyung tidak meneguk minuman keras."

Heechul melotot tidak percaya –namun di mata Siwon, sang umma justru sedang melotot horror. Namja itu lantas mendengus. "MWOYA? Sudah berhenti total? Ah, tidak mungkin! Mustahil! Impossible!"

Siwon menggeram gemas. Ibunya ini! Sebenarnya Heechul mau Siwon berhenti mabuk-mabukkan atau tidak sih? Kok reaksinya begitu? Bukannya senang, malah heran. Ih!

Hangeng mengerjap takjub. "Yang benar, Kyuhyun?"

Kyuhyun menatap Siwon dan mengeluarkan seringai setan andalannya. Saatnya mengerjai Siwon. "Ya. Kurasa kecantikan seorang gadis sudah membuat hyung buta akan nikmatnya minuman keras."

Siwon melotot tidak percaya, lalu memukul kepala Kyuhyun dari belakang. "Hei!"

Heechul bertanya heboh. "Benarkah? Apa dia cantik?"

Belum sempat Siwon menyangkal, Kyuhyun sudah mendahuluinya. "Tentu saja cantik! Kulitnya seputih susu, bibirnya merah ranum, rambutnya sehitam arang! Wow!"

Hangeng tertawa. Yah, apapun lah, entah benar kalau Siwon menyukai seorang yeoja di Florida atau tidak, yang penting tujuan utamanya tercapai. Siwon sudah tidak mabuk-mabukkan lagi. Terlihat dari matanya yang berbinar –berbeda dengan mata yang biasanya menyalang karena habis mabuk. Ucapannya terdengar lugas dan terkontrol, berbeda sekali dengan Siwon yang biasanya meracau dengan nada aneh sehabis menegak alkohol.

Sang ayah lalu berdeham untuk mendiamkan Siwon dan Kyuhyun yang sedang ribut sendiri. Kedua anaknya lantas menoleh.

"Kurasa.. Kau sudah bisa pulang ke rumah dan melanjutkan kuliahmu, Siwon." sahut Hangeng langsung. Siwon memucat.

Apa? Pulang ke rumah? Lalu bagaimana dengan Kibum? Astaga, tidak bisa! Tidak bisa! Siwon sudah jatuh cinta setengah mati dengan Kibum! Ia tidak bisa jauh dari malaikatnya, atau Siwon akan menegak berbotol-botol Wine lagi!

"T-tapi, appa –"

Melihat kakaknya yang memucat, Kyuhyun memutuskan untuk membantunya. Tidak tega juga melihat kakaknya seperti ini. Ia tahu, sedalam cinta Siwon pada Kibum, hingga rela bersusah payah menyiapkan segala sesuatu untuk Kibum. Kakaknya bukan tipe orang yang mau repot untuk makhluk bernama 'yeoja'. Walau tampan, Siwon tidak mudah terpikat oleh perempuan. Dan kalau ada yeoja yang mampu menaklukan Siwon, pasti yeoja itu sempurana –di mata Siwon dan lebih berharga dari apapun.

"Waaah, tidak bisa begitu dong, appa! Karena ada hyung, bar yang kukelola dengan Sungmin bisa ramai! Wajah Siwon hyung yang tidak terlalu menarik itu tampaknya menjadi jimat tersendiri untuk bar-ku. Jangan dong, appa.." rengek Kyuhyun. Huh. Coba saja lihat. Saking sayangnya Kyuhyun pada kakak laki-lakinya, ia rela merendahkan dirinya untuk memuji sang kakak yang ia yakini tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.

Siwon tersenyum terkulum –berterimakasih pada Kyuhyun.

Hangeng menyipitkan matanya. "Tidak bisa. Aku tidak ingin kau menelantarkan kuliahmu."

"Kumohon, appa.." mohon Siwon dengan wajah memelas.

Heechul menghela nafas. Seraya menyuapi jeruk di piringnya, Heechul membisikkan sesuatu di telinga kiri Hangeng. Hangeng melotot mendengarnya. Belum sempat Hangeng melontarkan protes, Heechul kembali mendekatkan bibirnya ke telinga Hangeng. Oh, semoga saja ibunya mau membantu Siwon. Namja tinggi itu meremas tangannya gugup.

Hangeng mendengus, lalu menatap Siwon dan Kyuhyun bergantian. "Oke, kau boleh bekerja di bar Kyuhyun selama dua hari."

Siwon melotot. Apa? Dua hari? Ayahnya sudah gila ya? "Empat hari!" tawar Siwon. Oh, ayolah. Ia benar-benar bisa tidak waras kalau tidak bertemu Kibum.

"Lima hari!" sahut Kyuhyun –membantu kakaknya. Mereka bersahut-sahutan, seolah sedang menawar sebuah harga barang di pelelangan. Siapa yang mengajukan angka tertinggi yang mendapat hadiahnya.

"Enam hari." kata Hangeng tenang.

Gemas, Kyuhyun berteriak lantang. "SEMINGGU!"

Suasana hening sejenak. Siwon melotot heran pada Kyuhyun. Adiknya itu menyeringai salah tingkah dan tanpa dosa seraya menunduk.

"Deal!" sahut Hangeng dan Heechul keras. Dan satu keluarga itu serempak tertawa kencang. Kelegaaan dan kebahagiaan menyusup ke relung hati mereka. Ah. Mereka berempat sungguh merindukan momen-momen seperti ini. Begitu hangat.

. . .

"Kau mau langsung pulang, Siwonnie?" tanya Heechul seraya mengemut permen soda di dalam mulutnya. Hangeng dan Kyuhyun masih ada didalam ruang rawat. Hangeng bilang, ada yang ingin ia bicarakan dengan Kyuhyun. Siwon hanya bisa berharap semoga ayahnya bisa menangkap keanehan dalam diri Kyuhyun dan membebaskannya.

"Mm-hmm. Boleh, umma?" tanya Siwon seraya menatap wajah cantik ibunya. Gurat kecewa terlihat jelas di wajah Heechul.

"Boleh umma jujur?"

Siwon mengangguk. "Tentu, umma."

Heechul menghela nafas sebelum menjawab. "Sejujurnya, umma tidak mau kau pulang secepat ini. Kau tidak kangen dengan rumah? Minho saja rindu padamu.."

Siwon tersentak. Oh iya, Minho.. Tapi.. Kalau ia tidak pulang sekarang, pasti Kibum nanti bingung. Haaah, Siwon jadi menyesal tidak memberitahu Kibum sebelum ia pergi. Lagipula, nomor handphone Kibum saja Siwon tidak tahu. Bodohnya ia.

"Well, mungkin aku akan pulang 2 hari lagi saja.." sahut Siwon lirih. Heechul berjengit mendengarnya. Bahagia, Heechul menarik pundak Siwon mendekat dan mencium pipi Siwon. Siwon terperangah dan mengelap pipinya. "Iiih, umma!" sahut Siwon kesal.

Heechul tertawa. Dasar, anak lelakinya ini. Dari dulu tidak pernah mau dicium. Padahal ciuman itu kan tanda kasih sayang Heechul pada Siwon. Memang ego laki-laki itu tinggi ya?

. . .

"Welcome home hyuuuuuuuuuuung!" teriak Minho seraya menghambur ke pelukan Siwon. PSP yang baru saja ia mainkan ia letakkan begitu saja di depan TV.

Siwon terkekeh melihat Minho. Namun matanya mengerjap bingung pada seorang yeoja cantik –imut, sebenarnya– yang berdiri dan tersenyum sopan pada Siwon.

"Thank you, Minho. And who is this sweet girl?" tanya Siwon seraya melepaskan pelukan Minho cepat dan berkedip menggoda yeoja itu. Minho mengerucutkan bibirnya kesal melihat yeojachingunya merona.

"This is my girlfriend, hyung! Introduce my cousin, Taem, Siwon hyung." sahut Minho seraya merangkul pacarnya.

"Taemin." sahut Lee Taemin seraya menyodorkan tangannya dengan muka bersemu merah. Siwon menjabat tangan kecil itu dengan sigap. "Choi Siwon." Dan ia memamerkan deretan gigi rapi dan putihnya seraya menggelitik tangan Taemin. Yeoja itu semakin merona.

Minho memutar bola matanya kesal. Aura playboy terpancar kuat dari tubuh sepupunya itu. Sepertinya sudah suratan takdir bahwa seluruh anggota keluarga bermarga Choi berwajah tampan dan berdompet tebal dengan bakat mempermainkan hati wanita.

Well, Minho juga sih..

.

.

.

Kibum menyusuri karpet pasir di bawah kakinya seraya menggenggam erat tali kekang Ichiro –anjing putihnya yang merajuk karena sudah beberapa hari tidak diajak bermain dan jalan-jalan oleh majikan cantiknya.

Gadis itu tetap cantik –seperti biasa. Kali ini, Kibum memakai tanktop putih dibalut dengan jaket jeans sepinggang. Sementara pinggul ramping hingga mata kakinya dibalut dengan celana jeans pipa. Kakinya tetap setia terbungkus flat shoes putih.

Raut wajahnya berbinar. Kulitnya yang putih bersih tanpa noda seolah memancarkan sinar yang tidak kalah kuat dengan bintang dan bulan di awan sana. Rambutnya yang sehitam arang dibelai lembut oleh sang angin malam. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk mengikuti irama musik dari headset putih di kedua telinganya. Senyumnya tersungging lebar, membuat siapapun terpesona melihatnya.

"Jangan jauh-jauh, Ichiro ~ " sahut Kibum pelan seraya membuka pengait tali kekang di leher Ichiro. Anjing putih itu menjilati tangan Kibum pelan sebagai tanda terima kasih, lalu ia berlari melesat ke arah ombak yang menantang egonya sebagai binatang. Dengan penuh semangat, Ichiro menggonggongi air malang tersebut.

Kibum tertawa. Wajahnya semakin cantik ketika diterpa sinar putih bulan.

Seraya sesekali bersiul kecil, Kibum melihat ke bar KyuMin, menantikan sesosok namja tinggi, tegap, dan tampan bernama Choi Siwon keluar dari sana.

. . .

Berkali-kali Kibum menoleh ke arah bar pantai KyuMin, namun bar itu kosong dan gelap. Tidak ada tanda-tanda Siwon akan muncul dari dalamnya. Oh Tuhan, dimana Siwon? Kibum merindukannya.

Kibum yang sedang duduk lalu menekuk lutut dan menariknya mendekat ke dagunya. Bosan, Kibum menulis-nulis nama Siwon di atas pasir dengan telunjuk kanannya. Ichiro menggonggongi Kibum dari jauh. Kibum mendongak dan tertawa melihat Ichiro menjulurkan lidahnya yang panjang.

"Ichiro, Siwon kemana ya?" tanya Kibum lirih.

Ia tidak mau menghampiri bar KyuMin. Selain karena tidak mau menganggu, Kibum juga tidak ingin menemui orang lain. Ia hanya mau menemui Siwon. Hanya Siwon.

Kibum menghela nafas. Ia lalu ikut bernyanyi saat lagu Adele sampai ke reff-nya.

Never mind I'll find, someone like you ~

I wish nothing but the best, for you ~

. . .

Ketika matahari mulai muncul dari ufuk laut, Kibum berdiri dan menarik tali kekang Ichiro. Dengan raut kecewa sekaligus sedih, disaksikan bulan yang juga pergi menghilang, Kibum beranjak dari tempat itu. Ichiro mengikuti dengan raut bingung dibelakangnya. Debur ombak memelan, menyampaikan salam perpisahannya dengan Kibum.

Ia sungguh tidak mengerti, kenapa matanya menghangat hanya karena Siwon tidak ada di sisinya malam ini. Hei, ayolah. Kibum memang terbiasa sendiri kan? Dan jalan-jalan sendirian di malam hari di pantai kosong itu sudah menjadi rutinitas bagi Kibum.

Jadi, kenapa Kibum merasa seolah ada yang hilang?

TBC

Review Reply :

A/N : Annyeong ~ ^^

Mianhae ya, kalau chapter ini lamaaaaa banget updatenya ^^' *bow*

No review reply on this chap, tapi chapter depan Hyo janji ada ^^'

Oke. Kayaknya gak ada yang nangkep keanehan di diri Kyuhyun ya? Simple aja. Masa iya, seorang sarjana matematika kerja di bar, sama sekali enggak kerja di tempat yang ada kaitannya dengan mata kuliahnya? Kira-kira kenapa tuh? Hayooo, muehehe ~

Haaaaa, mungkin 5 sampai 6 chapter lagi ff ini end. Ada yang cepet-cepet nungguin ff ini tamat? ^^ Atau ada yang mau tamatnya sekarang? Kekeke, ngomong aja lewat review ya ~

*Hyo*