Hari masih pagi ketika Ten bangun dan menyiapkan sarapan, kamar Johnny dan Taeyong masih tertutup rapat, kalau Taeyong, Ten sudah maklum karena lelaki itu selalu menggunakan waktu paginya untuk tidur karena semalaman hampir tidak tidur. Tetapi rupanya Johnny juga bangun kesiangan pagi ini. Ten mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya Johnny kesiangan.

Setiap hari lelaki itu selalu bangun pagi, sudah mandi dan rapi dengan aroma segar yang menyenangkan lalu duduk di meja dapur, makan sarapannya bersama Ten.

Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Johnny datang untuk tinggal di apartemen ini. Dan dalam dua minggu itu, banyak sekali kejadian, dan perubahan, terutama bagi Ten.

Selama dua minggu kemarin, Taeyong selalu bangun pagi sarapan bersama Ten dan Johnny, kemudian dia mengantar Ten ke tempat Irene, di sana Ten menghabiskan waktunya seharian.

Semula Ten agak canggung ketika berduaan dengan Irene, apalagi Ten mengetahui bahwa Irene dulunya laki-laki sebelum berubah menjadi perempuan. Tetapi Irene memang memiliki sifat yang sangat ramah dan baik.

Setiap hari ketika Ten datang, dia akan membuat seteko teh mint yang harum dan sepiring kue cokelat yang baru keluar dari panggangan, kemudian mengajak Ten mengobrol dan mencairkan suasana. Dari mengobrol itulah Irene megajarkan banyak hal kepada Ten, semua pengetahuannya tentang dunia fashion di tularkannya, tak lupa dia mengajari cara berjalan, table manner di acara makan malam resmi, cara berbicara, dan bahkan cara memadu padankan pakaian supaya tampil cantik.

Irene selalu menekankan bahwa dia harus berperan sebagai lelaki penggoda nanti ketika ayah kandung Taeyong sudah muncul. Pipi Ten selalu merona merah ketika Irene mengatakan bahwa Ten harus melemparkan tatapan sensual penuh ajakan kepada Taeyong setiap saat, juga senyuman nakal, bibir yang merekah penuh godaan.

Irene memang sudah mengajari Ten semua caranya, dan Ten menyerapnya, juga belajar sendiri di cermin, memonyong-monyongkan bibirnya, atau bahkan mencoba mengedip-ngedip genit kepada bayangannya sendiri di depan cermin, yang membuatnya tertawa sendiri di kamar.

Bagaimanapun juga, Ten masih tidak mampu membayangkan bagaimana caranya dia melakukan itu semua pada Taeyong. Pipinya selalu merona dan wajahnya terasa panas kalau membayangkan akan mengedip genit kepada Taeyong, atau menyapukan jemarinya sambil menatap sensual penuh ajakan kepada Taeyong. Ah, Ya ampun, bagaimana mungkin dia melakukannya?

Ten menyiapkan sarapan itu dengan pipi memerah. Kemudian pikirannya berkelana lagi, Irene sudah menyerahkan Ten kepada Taeyong kemarin, dan mengatakan bahwa Ten sudah siap. Yah mungkin secara teori Ten sudah siap... tetapi prakteknya nanti? Entahlah. Yang pasti Ten akan berusaha sebaik mungkin, dia tidak ingin mengecewakan Taeyong yang sudah berharap banyak kepadanya.

Cara berpakaian Ten pun sudah berubah, tiba-tiba saja lemari pakaiannya sudah penuh dengan pakaian-pakaian mahal dari butik ternama, ada rak sepatu khusus yang dibelikan oleh Taeyong untuk menampung koleksi sepatunya yang tiada duanya, belum lagi susunan aksesoris seperti jam tangan yang diberikan Taeyong kepadanya.

Lelaki itu benar-benar boros dan membuang-buang uang. Ten berpikir akan dikemanakan semua barang itu kalau semua sandiwara ini sudah selesai. Tentu saja semua barang ini hanya pinjaman dan bukan untuk Ten bukan?

Karena itulah Ten sangat berhat-hati memakai semua barang itu, berusaha supaya nanti ketika barang itu dikembalikan, kondisinya masih bagus dan sempurna. Ten benar-benar berhati-hati apalagi mengingat betapa mahalnya harga barang-barang itu.

Pagi ini Ten mengenakan hoodie yang ringan dan elegan, bahannya sifon dengan warna ungu lavender yang lembut dan memakai celana pendek selutut. Tampak sangat indah dipakai olehnya, membuat tubuhnya yang mungil tampak berisi.

Irene bilang Ten terlalu kurus dan harus menambah berat badannya, dan sepertinya selama dua minggu ini, Ten berhasil menambah berat badannya beberapa kilo sehingga bagian-bagian yang seharusnya terisi penuh, mulai terisi dengan indahnya.

Kadangkala Ten masih sering terpaku menatap dirinya di cermin dan tidak mengenali dirinya sendiri. Lalu dia tersenyum dan kemudian mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan kepadanya.

Bahkan sekarang Ten punya ponsel. Taeyong membelikan Ten ponsel canggih dengan fitur-fitur yang Ten sendiri tidak tahu cara memakainya, sementara nomor di ponsel itu hanya menyimpan nomor telepon Taeyong saja, meskipun kemudian Ten mengingat tentang Jaehyun yang dulu sempat menanyakan nomor ponselnya. Ten sangat ingin mengunjungi Jaehyun di cafe, meskipun dia harus memikirkan caranya menemui Jaehyun tanpa harus berurusan dengan manager Song yang setiap hari ada di cafe itu. Bagaimanapun juga, Jaehyun adalah satu-satunya orang yang bersikap baik kepadanya di sana, sahabatnya. Dan Ten tidak mungkin melupakan kebaikannya. Tetapi karena setiap pagi Ten harus ke tempat Irene dan baru pulang menjelang malam, tidak ada kesempatan baginya untuk mengunjungi Jaehyun.

Mungkin besok dia bisa kesana... gumamnya dalam hati, sambil menaburkan bumbu ke masakannya,

Ketika Ten menuang bacon panas yang beraroma harum dan menata kentang goreng di piring. Bel pintu apartemen berbunyi, membuat Ten mengernyitkan keningnya.

Mereka hampir tidak pernah menerima tamu di apartemen ini. Hanya Johnny satu-satunya tamu yang pernah datang kemari sejak Ten tinggal di sini, dan kemudian menetap di sini.

Kalau begitu siapa?

Dengan langkah ragu, Ten mengintip melalui kaca cembung untuk mengintip di pintu apartemen. Dia mengernyit, tidak mengenali lelaki tua tetapi masih terlihat tampan dan bertubuh tinggi itu sedang berdiri dengan ekspresi tidak sabar di depan pintu.

Otaknya berputar cepat, dan kemudian langsung menyadari bahwa mungkin saja saatnya sudah tiba. Mungkin saja lelaki itu adalah ayah kandung Taeyong yang datang untuk mengunjunginya!

Ten meragu, takut untuk membuka pintu. Bel pintu berbunyi lagi, tetapi Ten tetap menahan diri untuk menahan pintu. Mungkin saja lelaki itu ayah kandung Taeyong, tetapi mungkin saja tidak bukan? Ten harus berhati-hati membuka pintu untuk orang asing.

Dia harus membangunkan Taeyong.

Jantungnya berdebar, menyadari betapa buruknya mood Taeyong kalau dibangunkan paksa di pagi hari. Tetapi bagaimana lagi? Ten tidak bisa duduk diam dan membiarkan bel itu terus berbunyi dan menunggu sampai tamu itu menyerah lalu pergi bukan?

Siapa tahu itu tamu penting...?

Dengan ragu, Ten mengetuk pintu kamar Taeyong. Pelan... sekali, dua kali, dan kemudian sedikit lebih keras. Tetapi tetap saja tidak ada jawaban.

Ten akhirnya memberanikan diri memegang handel pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, Ten bisa melihat Taeyong tengah tertidur pulas, terbaring terngkurap di atas ranjang berukuran besar. Selimut polos berwarna gelap tampak menggumpal di kakinya, sementara seperti biasanya, lelaki itu tidur hanya mengenakan celana panjang piyama dan bertelanjang dada.

Ten melangkah masuk, berdiri ragu di depan pintu kamar, kemudian memanggil Taeyong,

"Hyung, Taeyong hyung?" suaranya agak keras, berharap bisa membangunkan lelaki itu dari jarak jauh, tetapi rupanya usahanya sia-sia karena Taeyong tampak pulas bahkan tidak bergerak dari posisinya.

Ragu, Ten melangkah mendekat lagi, menelan ludahnya ketika sudah berdiri di sisi ranjang, menatap punggung telanjang Taeyong yang berotot dan indah.

"Hyung?" Ten setengah membungkuk di dekat lelaki itu. Tetapi panggilannya hanya mampu menghasilkan sedikit kerutan di alis Taeyong.

Sambil menghela napas, Ten meletakkan jemarinya di pundak telanjang Taeyong, merasakan dirinya merona ketika kulit hangat itu menempel di telapak tangannya.

"Taeyong hyung?" Ten mengguncang pundak Taeyong.

Seketika itu juga, jemari kuat Taeyong menarik Ten yang mungil, membuat Ten memekik ketika lelaki itu membanting tubuh Ten ke atas ranjang dan kemudian setengah menindih tubuhnya.

Ten berusaha meronta, tetapi pegangan Taeyong kepada dirinya sangatlah kuat. Mata lelaki itu setengah terpejam, sepertinya masih setengah tidur, dan senyumnya begitu sensual, senyum yang tidak pernah ditunjukkannya kepada Ten sebelumnya.

"Kau ingin menggodaku di pagi hari sayang?" Taeyong berbisik serak, lalu mengecup leher Ten seringan bulu, membuat sekujur tubuh Ten merinding. Dia langsung memekik dan mendorong tubuh Taeyong sekuat tenaga, membuat lelaki itu tersentak dan kemudian membuka matanya, kali ini benar-benar sadar.

Taeyong tampak mengerjap bingung, dia kemudian menunduk, menatap Ten yang terbaring di bawah tubuhnya dan mengerutkan keningnya,

"Apa yang kau lakukan di bawah situ?"

Pipi Ten merah padam, dia malu setengah mati. Di sini, berbaring di atas ranjang, di bawah tindihan tubuh Taeyong yang telanjang dada. Astaga. Tidak pernah dipikirkannya sebelumnya akan terjadi begini ketika menyentuh pundak Taeyong. Tahu begitu Ten akan mengambil tongkat atau apa untuk menggoyang-goyangkan tubuh Taeyong dari jarak jauh. Well ya, kalau nanti dia harus membangunkan Taeyong lagi, dia akan menggunakan cara itu,

"Aku... aku berusaha membangunkanmu.. ada tamu... aku menyentuh pundakmu dan kau membantingku ke ranjang."

Ekspresi Taeyong tidak terbaca, dia mengerutkan kening lalu secepat kilat melepaskan Ten dari tindihannya, berguling ke samping dan kemudian meluncur berdiri di tepi ranjang,

"Lain kali hati-hati kalau membangunkanku." Gumamnya dingin, "Dan kenapa kau membangunkanku? Tamu apa yang kau maksud?"

Ten sendiri langsung bangkit dari ranjang ketika Taeyong melepaskan tindihannya, wajahnya merah padam dan terasa panas hingga dia harus meletakkan tangannya di lehernya untuk meredakan panasnya,

"Tamu... seorang lelaki tua asing.. aku pikir.. aku pikir akhirnya ayah kandungmu mengunjungimu."

Ekspresi Taeyong langsung berubah keras, sedikit menakutkan.

"Kau yakin?"

"Aku tidak tahu.." Ten menggelengkan kepalanya, "Tetapi dia tamu pertama di apartemen ini, dia pria asing, berambut kelabu, sangat tinggi...

apakah kau tidak ingin mengintipnya dulu?"

"Tidak." Bibir Taeyong menipis, "Itu sudah pasti ayahku, aku tidak sedang menunggu tamu manapun. Aku akan mandi dulu sebelum menemuinya." Lelaki itu menatap Ten dengan serius, "Ingat peranmu mulai sekarang, Ten. Kau adalah simpananku, lelaki penggoda, lelaki jalang yang tak jelas asal usulnya dan penggila harta, sementara itu aku tergila-gila kepadamu." Lelaki itu terkekeh, "Aku tak sabar untuk melihat reaksi tua bangka itu. Persilahkan dia masuk dan menungguku."

Kemudian Taeyong membalikkan badan dan masuk ke kamar mandi.

Bel pintu sudah tidak berbunyi ketika Ten keluar sehingga dia mengira tamu itu sudah pergi. Tiba-tiba dia menyesal jangan-jangan dia terlalu lama membangunkan Taeyong tadi sehingga membuat lelaki itu pulang.

Tetapi ketika Ten mengintip, dia masih melihat lelaki itu berdiri di pintu dan menunggu, dengan hati-hati Ten membuka pintu, membiarkan rantai gerendelnya masih menempel di sana untuk berjaga-jaga.

"Mencari siapa?" Tanyanya hati-hati.

Lelaki tua itu langsung menegakkan tubuhnya ketika Ten membuka pintu dan mengintip dari baliknya, matanya menelusuri Ten, sepertinya tidak menyangka kalau Ten yang membukakan pintu untuknya, lelaki itu melemparkan tatapan mata penuh spekulasi sebelum kemudian bergumam,

"Aku mencari Taeyong. Anakku." Suaranya berat dan dalam, penuh wibawa.

Jadi benar. Orang ini adalah ayah kandung Taeyong. Ten teringat bahwa dia harus menjalankan perannya dengan baik, karena itulah dia tersenyum dengan gaya ceria yang sedikit menggoda, mengangkat alisnya dibuat-buat.

"Setahuku ayah Taeyong sudah meninggal." Ten dengan berani menelusuri sosok lelaki di depannya, sengaja membuat lelaki itu jengkel, meskipun dalam hatinya dia gemetar setengah mati.

Dan usahanya berhasil, lelaki tua itu tampaknya termakan oleh usaha Ten untuk bersikap sebagai sosok yang menyebalkan. Wajahnya memerah meskipun lelaki itu masih berusaha bersikap sopan,

"Aku ayah kandung Taeyong, sekarang buka pintu ini dan biarkan aku bertemu anakku." Gumamnya tegas, menatap Ten dengan mata menyala-nyala, membuat Ten hampir saja mundur selangkah ketakutan.

"Biarkan dia masuk sayang." Tiba-tiba saja Taeyong sudah berdiri di belakangnya, memegang pundaknya dengan lembut dan begitu dekat di sana, sampai Ten bisa mencium aroma sabun yang bercampur dengan after shave dan parfum beraroma maskulinnya.

Lalu jemari Taeyong terlurur melewati Ten dan membuka gerendel itu. Sebelah lengan lelaki itu merangkul Ten dengan posesif dan kemudian mereka berdiri berhadapan dengan lelaki itu, ayah kandung Taeyong.

"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" gumam lelaki tua itu datar.

Taeyong menegang, Ten bisa merasakannya meskipun lelaki itu tampak berusaha bersikap datar, tetapi sepertinya semua kemarahan dan kebencian terpupuk di sana, membuat seluruh tubuhnya menegang.

"Masuklah." Lelaki itu menghela Ten masih dalam rangkulan lengannya, kemudian mengajaknya duduk di sofa, "Pengacaramu sudah memberitahukan kedatanganmu, aku tidak menyangka kau sebodoh itu membuang-buang waktumu dengan datang kemari."

Panggilan ber 'aku' dan ber 'kau' yang dipakai Taeyong kepada ayahnya sepertinya dilakukan dengan sengaja, untuk menunjukkan bahwa jelas-jelas Taeyong tidak menganggap lelaki itu sebagai ayahnya. Sebuah penghinaan frontal yang disengaja dan rupanya efektif karena ekspresi ayah kandung Taeyong memucat dan tampak tidak senang.

Lelaki itu duduk di sofa di depan Taeyong dan mengamati sekeliling ruangan, dia mencoba berbasa-basi,

"Tempat yang bagus." Gumamnya bersikap tak mendengar kata-kata Taeyong tadi yang menyebutnya bodoh. Kali ini dengan memakai bahasa inggris, untunglah Ten cukup mengerti bahasa inggris dari pelajaran SMAnya dan kursus singkat intensifnya bersama Irene yang serba bisa.

Taeyong mengangkat alisnya, jemarinya menelusuri pinggang Ten sambil lalu, sebuah gerakan ringan tapi mesra, menunjukkan kepemilikan, membuat Ten harus berusaha keras supaya tidak salah tingkah.

"Tentu saja, dan aku membelinya dari hasil kerja kerasku sendiri."

Lelaki itu tersenyum dan menatap Taeyong dalam-dalam, "Kau bisa menadapatkan beberapa kastil indah, lengkap dengan tanah pegunungan yang luas, kekayaan yang berlimpah sehingga kau bisa membeli puluhan apartemen seperti ini, sebanyak yang kau mau Taeyong, kalau saja kau mau mendengarkan perkataan pengacaraku."

"Aku tidak butuh hartamu." Tatapan Taeyong berubah dingin, dia lalu melemparkan senyuman sensual kepada Taeyong, "Benar kan, sayang?"

Saatnya berakting. Ten memutar bola matanya dengan genit, "Kalau ada kesempatan kau bisa lebih kaya dari sekarang, tentu saja tidak boleh kau tolak Taeyong, itu akan menguntungkanku juga." Gumamnya dengan nada genit yang meskipun sedikit kaku pada awalnya tapi tampak meyakinkan.

Taeyong terkekeh dan kemudian menarik Ten semakin rapat kepadanya, "Oh ya, aku belum memperkenalkanmu. Ini... Kim Yunho." Taeyong dengan kurang ajarnya menyebut nama ayahnya langsung, "Dia seorang bangsawan... aku lupa gelarmu."

"Kim Yunho Sinclair, Earl of Moray." Sahut Yunho dengan dingin. Seperti dugaan Taeyong, masalah gelar dan darah bangsawan sangatlah sensitif bagi lelaki tua itu. Dan Taeyong akan menggunakannya sebagai senjata.

"Yah begitulah namanya Ten, aku sendiri susah mengingatnya, lagipula nama gelar itu tidak ada artinya di negara ini." Taeyong sengaja melemparkan pandangan mencemooh, "Dan perkenalkan, ini adalah Ten Chittaphon Leechaiyapornkul tanpa embel-embel nama lain sepertinya karena gadis ini sebatang kara sebelum aku memungutnya dari panti asuhan." Taeyong tertawa sendiri, "Ten ini adalah calon isteriku."

Wajah Yunho langsung pucat pasi, memandang Ten dan Taeyong berganti-ganti. Sikap dan kata-kata Ten tadi, apalagi menyangkut kekayaan, sudah bisa membuat Yunho mengetahui tipe orang seperti apa yang sekarang sedang menempel di tubuh anaknya seperti lintah penghisap darah.

Dan dari panti asuhan berarti tidak diketahui asal usulnya! Yunho tidak bisa menerima itu. Bagaimanapun juga, Taeyong menyimpan darah Sinclair di tubuhnya, darah bangsawan yang murni dari miliknya yang diturunkan oleh nenek moyangnya yang terhormat. Dan sekarang Taeyong akan menikahi orang yang tidak jelas asal usulnya? Akan seperti apa keturunan mereka nanti? Laki-laki itu akan menodai kemurnian darah Sinclair mereka, darah terhormat yang sekarang hanya ada di tubuh Taeyong. Dia harus menyelamatkan darah bangsawan itu. Taeyong harus menikah dengan perempuan bangsawan yang terhormat, supaya keturunan Sinclair berikutnya berasal dari darah murni. Bukan dari orang yang tidak jelas seperti ini.

"Aku datang kemari untuk membicarakan warisan gelarmu." Yunho memulai, pura-pura tidak mendengar perkenalan Taeyong tentang Ten tadi, "Kau adalah anakku satu-satunya, satu-satunya Sinclair murni yang tersisa."

"Dan apakah pengacaramu tidak mengatakan kepadamu bahwa aku menolaknya? Aku tidak butuh hartamu, gelarmu atau bahkan warisan darahmu. Kalau saja aku bisa membuangnya, akan aku buang dari tubuhku semua jejak yang menghubungkanku padamu," Mata Taeyong menggelap, "Kedatanganmu sia-sia Pak Tua, Aku menikmati hidup di sini, bersama kekasihku yang menggairahkan dan tawaranmu sama sekali tidak menggodaku."

"Kau tidak boleh menikahinya." Tiba-tiba Yunho terpancing emosi, menatap Ten dengan penuh kebencian, membuat Ten sedikit beringsut dari duduknya. Untunglah jemari Taeyong di pinggangnya menguatkannya, lelaki itu memeluknya makin erat seolah akan menjaganya.

"Kenapa tidak boleh? Kami saling mencintai dan saling memuaskan, aku sudah tinggal bersamanya selama beberapa bulan dan percintaan kami sangat memuaskan, benar kan sayang?"

Nada suara Taeyong penuh siratan makna, membuat pipi Ten merona, tetapi dia menganggukkan kepalanya, mengimbangi kata-kata Taeyong dengan kedipan genit menggoda, "Benar sayang. Dan aku tidak sabar menunggu kita menikah dan kemudian mendapatkan cincin dengan berlian raksasa yang kau janjikan itu." Ide untuk mengatakan hal-hal semacam itu sebenarnya berasal dari Irene, Irenelah yang mengarahkannya untuk selalu menyinggung uang dan perhiasan.

Taeyong terkekeh, "Kau akan mendapatkannya nanti sayang."

Yunho rupanya sudah tidak tahan lagi, lelaki itu langsung berseru, "Kau tidak boleh menikahinya, Taeyong. Darah keluarga Sinclair akan tercemar kalau kau menikahi orang dengan asal usul tidak jelas, aku sudah memilihkan calon isteri untukmu, perempuan bangsawan, berpendidikan tinggi, modern dan sempurna untukku, dia sedang dalam perjalanan menyusulku kemari untuk menemuimu. Segera setelah kau melihatnya, kau akan sadar bahwa kau sudah membuat pilihan buruk!

To Be Continue...