| HUNHAN | DARK & GOLD | CHAPTER 10 |

Author : LarasAfrilia1771

Genre : Drama, Angst, Tragedy, YAOI, Romance, Little action

Cast : Lu Han

Oh Sehun

Wu Yifan

Park Chanyeol

Byun Baekhyun

.

A/N : Judul FF ini terispirasi dari salah satu iklan kesukaan saya. Cerita milik saya almiah, buka remake apalagi jiplak punya orang. Tanpa ada unsur menjelek - jelekkan tokoh saya ciptakan ff ini (?) Juga Luhan punya keluarganya semua member juga kecuali sehun yang mutlak punya saya bhaqq ^o^

.

.

Summary

Setiap orangtua pasti ingin anaknya menjadi penerus keluarga. Orangtua yang berpangkat jendral dengan kekayaan berlimpah tak menjamin keinginannya pada Luhan sang anak bungsu. Luhan terlahir dengan figur yang berbeda dari keluarga kemiliteran Choi. Lemah lembut, penyayang juga cantik meski Luhan seorang namja. Keluarga Choi menjadi khawatir akan hal itu, mereka takut Luhan akan diperebutkan oleh siapapun yang menginginkannya.

.

.

.

_Sebelumnya_

HUEKK

Luhan menutup mulutnya dan segera berlari untuk pergi ke kamar mandi.

Sang guru hanya menatap Luhan yang kini tengah berusah membuka pintu kamar mandi di kamar besar itu. Namja berkaca mata yang nampak sangat kutu buku itu mencoba acuh, namun sesaat kemudian suara benturan terdengar dari arah kamar mandi. Membuatnya segera berlari ke arah sana, dan menemukan Luhan yang tergeletak di lantai.

"Tuan muda Luhan"

.

.

.

.

_D&G_

Hari berganti hari dan sekarang Sehun dan Chanyeol tengah berada di sebuah bus yang akan mengantar mereka menuju Seoul, dan mereka tidak hanya berdua karena Jinhwan juga ikut bersama mereka, itupun atas seizin kakeknya.

Selama perjalanan mereka hanya diam. Jinhwan menatap ke arah luar jendela selama perjalanan, ini adalah kali pertamanya keluar dari kawasan hutan itu. Pernah dulu saat dirinya masih berumur tujuh tahun, ia bersama kedua orang tuanya pergi ke sebuah tempat diluar hutan. Itu sudahh lama berlalu dan ia juga sudah lupa pergi kemana saat itu. Ia menghela napas berat, ia merasa sedih mengingat masa lalu nya, ia hanya bisa berharap jika kedua orangnya masih ada mendampinginya sekarang.

Sehun yang kebetulan berada disebelahnya menoleh sesaat, menatap Jinhwan yang hanya bersandar pada sisian itu dengan arah pandang yang fokus kearah luar jendela.

Entah apa yang tengah dipikirkan Jinhwan, ia tak tahu dan ia merasa sungkan untuk memulai pembicaraan dengan seseorang. Karena pada dasarnya ia tak bisa melakukan itu.

"Terima kasih kau telah mau ikut bersama kami"

Jinhwan menoleh saat suara itu terdengar di telinganya. Itu Sehun dengan semua kecanggungan yang melanda mereka. Jinhwan hanya tersenyum simpul, ia pun tak tahu kenapa bisa menyetujui ajakan Sehun dan Chanyeol untuk pergi ke Seoul. Jinhwan memang sedikit tak rela meninggalkan kakeknya sendirian di rumah, namun ia tak semata - mata menyetujui itu. Sehun dan Chanyeol menjanjikan dirinya disekolahlan disana. Jinhwan jelas sangat menginginkan itu, dan ia tidak menyia - nyiakan kesempatan ini.

"Kira - kira berapa lama lagi kita sampai ke Seoul?" Tanya Chanyeol yang berada di belakang jok mereka. Bus ini tidak terlalu lama, hanya ada beberapa penumpang disana.

"Mungkin dua jam lagi, bersabarlah" Jinhwan berujar. Menatap Chanyeol sesaat sebelum namja tinggi itu menunjuk ke arah luar jendela. Mereka berdua mengikuti arah pandang Chanyeol. Disana terhampar pemandangan yang sangat indah, dimana ladang hijau yang sangat luas juga tebing - tebing tinggi.

Sehun tanpa sadar menyunggingkan senyumannya.

"Wah aku harus sering - sering berjalan - jalan ke tempat - tempat seperti ini" Ujar Chanyeol dengan wajah yang mengatakan jika ia sangat takjub dengan ini.

Sehun mengangguki itu, benar juga kata Chanyeol.

Selama perjalanan mereka akhirnya mengobrol masalah - masalah yang mungkin aneh bagi Sehun, karena ia sangat tahu Chanyeol sangat senang mengobrol apalagi dengan orang baru dan Sehun hanya menanggapi seadanya.

Suasana menjadi mencair. Jinhwan merasa sangat nyaman seperti ini, ya setidaknya mereka mengetahui jika kedua nama tersebut adalah orang baik.

.

.

Setelah menempuh enam jam lamanya, akhirnya mereka sampai juga di stadiun. Jinhwan sedikit bingung dengan keadaan sekarang, habisnya selama hidup ia tak pernah berkunjung ke tempat seperti ini dan sekarang ia merasa aneh.

Chanyeol menggandeng lengan Jinhwan, menuntunnya agar ikut mengikuti kemana mereka pergi. Ia takut dengan tubuh Jinhwan yang mungil membuatnya akan kesulitan jika Jinhwan menghilang ditengah kerumunan orang - orang.

Sehun dengan cepat mencari telepon umun yang ada di sekitar sana. Ya , tentu saja Sehun langsung menghubungi anak buahnya sekarang. Dan tak butuh waktu yang lama ia sudah memutuskan sambungan itu. Berjalan menuju ke arah Chanyeol dan Jinhwan kembali.

"Sebaiknya kita menunggu di sana" Ujar Sehun.

"Kau sudah menghubungi mereka?" Tanya Chanyeol.

Sehun mengangguk tak ingin berbicara lagi dan ia lebih memilih untuk duduk di kursi ruang tunggu . chanyeol dan Jinhwan mengikutinya, duduk berjajar di tempat itu.

Jinhwan berkali - kali menatap penuh takjub pada setiap objek yang ia lihat. Mulai dari dimana ia sekarang juga banyaknya orang - orang yang berlalu lalang. Dan hal itu ternyata tak luput dari perhatian Chanyeol yang menatap Jinhwan sambil tersenyum. Jinhwan sangatlah lucu baginya, semua gelagat malu juga caranya berbicara. Apa mungkin Jinhwan belum terbiasa atau memang pada dasarnya di yang pemalu.

"Kau memperhatikan apa?" Jinhwan menoleh ke sebelahnya, bertemu pandang dengan Chanyeol dan ia hanya bisa tersenyum malu.

"Ani, hanya emm.. aku merasa aneh sekarang" Ujarnya dengan tangan yang memeluk tas punggung yang ia bawa dari rumah.

"Aneh?"

Jinhwan mengangguk.

"Ada banyak orang disini" Itulah ucapan polis Jinhwan yang membuat Chanyeol terkikik karenanya. Bukannya ia meledek atau apa, tapi ini sangat lucu. Jelas banyak orang yang berlalu lalang karena ini tempat umum.

Chanyeol mengusak kepala namja mungil itu. Ia tak akan mentertawai Jinhwan sekarang, cukup ia tak ingin membuat namja mungil itu tersinggung.

"Berhenti untuk tertawa Yeol" Sehun berujar dingin seraya menatap Jinhwan yang setia memeluk tas punggungnya.

"Aku tidak tertawa, sungguh" Elak Chanyeol.

Sehun masabodo dan kembali menunggu anak buahnya yang akan datang sebentar lagi. Sehun pikir anak buahnya akan ditahan sama seperti mereka , namun nyatanya para anak buahnya tidak ada yang ditahan oleh Siwon dan yang lain atau mungkin mereka bisa melarikan diri dengan baik.

15 menit berlalu dan dua orang berjas hitam yang merupakan kaki tangan Sehun datang untuk menjemput mereka. Sehun menerima hormat dari mereka sebelum ketiga nama itu masuk kedalam mobil yang sudah ada.

Jinhwan hanya bisa mengikuti kemana ia akan dibawa dan ia sedikit kaget saat orang – orang itu mengambil tas punggungnya. Ia sedikit tak terima, tapi apa boleh buat. Ia pikir Sehun dan Chanyeol hanyalah orang biasa namun dengan adanya kedua bodyguard ini membuat dirinya berpikir lebih akan itu. Chanyeol dan Sehun mungkin sangat kaya.

"Anggap saja kau sudah mengenal kita cukup lama, panggil kami hyung dan anggap kami adalah hyung kandungmu" Sehun menatap Jinhwan yang mengangguk pelan tersebut. Sehun mengusak puncuk kepala itu sayang. Mulai saat ini ia akan menganggap Jinhwan seperti adiknya sendiri.

"Iya hyung"

"Good Boy"

.

.

_D&G_

"Saya pikir ini aneh"

"Aneh bagaimana?"

"Apa Luhan sudah menikah?"

"Dia masih tujuh belas tahun"

Sang dokter menatap Siwon lekat. Ia mungkin berpikir jika hal ini wajar jika Luhan sudah menikah, namun dengan ucapan Siwon barusan membuat sang dokter berpikir dua kali untuk menjelaskan ini.

"Bagaimana ya, jadi begini anak anda mengalami sedikit keanehan"

"Maksud anda?" Siwon sangat penasaran akan kondisi anaknya sekarang. Ia takut penyakit yang dulu kambuh dan itu akan memperburuk keadaan Luhan lagi.

"Luhan tengah hamil"

"Mwo?"

Siwon menatap tak percaya ke arah dokter itu. Mana mungkin anaknya bisa hamil, lagipula siapa yang menghamili anaknya.

"Mungkin anda salah, tidak mungkin"

"Jika anda tak percaya Luhan bisa dibawa ke rumah sakit untuk di periksa"

Hal yang mustahil ini membuat Siwon menatap kosong kedepan. Betapa ia sangat terpukul dengan kenyataan itu. Siwon masih berpikir tentang ini. Luhan hamil dan ia tak tahu siapa yang menghamili anaknya. Sebagai seorang single parent ia merasa gagal menjaga anaknya.

"Kalau begitu saya permisi"

Tak ada sahutan apapun saat saat sang dokter berpamitan. Siwon terasa jatuh kedalam jurang yang sangat dalam. Ia merasa lemas dan juga sangat tak percaya. Namun satu hal yang memungkinkan ini terjadi. Seseorang yang telah menculik anaknya waktu itu. Maksudnya dua orang. Ya, siapa lagi jika bukan Sehun atau Chanyeol. Diantara kedua namja brengsek itu, ada salah satu yang membuat anaknya seperti ini.

.

.

.

_D&G_

Luhan membuka matanya saat dirasa perutnya sangat sakit. Ia membuka matanya cepat, turun dari ranjang dan segera pergi menuju kamar mandi meskipun sedikit terhuyung. Akhir – akhir ini tubuhnya terasa sangat tidak enak untuk digerakkan, apalagi perutnya yang terus saja mual.

"Ini aneh" Ujarnya sendiri di depan cermin wastafel.

Luhan terus saja melihat ke arah cermin besar itu. Menilik setiap inci wajahnya yang mungkin saja mengalami perubahan. Namun ia rasa tidak, ia baik – baik saja.

CKELK

Pintu dibuka oleh seseorang dengan tidak sabaran. Luhan terlonjak kaget, sebelum mendapati sang ayah yang teranyata berada disana. Berdiri dengan tangan yang masih memegang kenop pintu dengan wajah yang sangat khwatir.

"Appa"

GREP

Sang ayah segera mendekatinya, memegang kedua bahu itu cukup erat dengan pandangan yang sulit diartikan. Luhan tak mengerti apa maksud itu, tapi ia pikir sang ayah terlalu mengkhawatirkannya.

"Ada apa?" Tanya Luhan aneh dengan perlakuan sang ayah.

"Katakan siapa yang sudah berani menghamilimu!"

DEG

"Maksud Appa?"

"Katakan, akan Appa bunuh orang itu"

.

.

.

Beberapa menit selama perjalan, Jinhwan sangat menikmati semua yang sedang ia raskaan sekarang. Jinhwan jelas sangat senang, sungguh berbeda dan ia hanya bisa takjub dengan semua itu.

Chanyeol yang setia berada disebelah namja mungil itu hanya bisa tersenyum simpul, saat matanya terus melihat semua gerak – gerik yang dilakukan Jinhwan. Dengan jendela mobil yang dibuka, serta angin yang menerpa wajah mungil yang membuat Chanyeol sedikit terkikik karenanya.

"Kau suka?" Tanya Chanyeol, mendekat ke arah Jinhwan yang sedang bertumpu pada sisian jendela. Tanpa menjawab Jinhwan hanya mengangguk kegirangan. Ia jelas angat menyukai ini.

"Syukurlah" Chanyeol mengusap puncuk kepala itu sayang.

Jinhwan masih betah untuk diam dalam posisi itu. Hingga lambat laun matanya mulai meredup karena terpaan angin itu. Ia menyudahinya, menutup kembali jendela mobil kemudian beralih untuk bersandar di jok. Ia merasa lelah sehabis perjalanan tadi, rasanya ia ingin sekali segera tidur.

GREP

"Eh?"

"Kau lelah ya"

Jinhwan menatap siapa yang merengkuh bahunya tersbeut. Ya, itu Chanyeol dengan senyuman hangat yang membuat Jinhwan merasa sangat malu.

"Ayo tidur, aku juga mengantuk. Beberapa menit lagi kita sampai" Dan ucapan itu hanya bisa ia angguki sebisanya. Chanyeol mencoba menyamankan posisi itu, merengkuh pundak Jinhwan dan mereka sama – sama memejamkan mata. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

Dari arah jok depan, Sehun melihat mereka berdua melalui kaca spion. Ia menatapnya acuh, namun sedikit ada rasa aneh saat melihat mereka berdua seperti itu. Sehun bukannya asal menuduh, hanya saja segala gerak – gerik Chanyeol membuatnya merasa jika sahabatnya itu menyukai Jinhwan. Ya, ia pun tidak begitu yakin hanya saja pikiran itulah yang sedari tadi merayap dalam otaknya.

.

.

Ketiga namja yang baru keluar dari mobil mewah itu segera berjalan menuju rumah yang nampaknya masih sangat terurus itu. Sehun berlenggang masuk diikuti oleh kedua namja dibelakangnya.

Rumah ini masih sangat terawat, dengan luas tanah yang besar membuat Sehun sebelumnya berpikir jika nanti saat dirinya pulang rumah ini sudah menjadi rumah hantu atau mungkin disita oleh Siwon dan Yifan. Tapi itu pikiran fantasi Sehun, karena dalam kenyataannya rumah ini tak akan bisa disita oleh siapapun, karena bangunan ini adalah resmi miliknya.

Chanyeol merangkul Jinhwan untuk masuk kedalam rumah besar itu. Jinhwan menatap linglung, ia merasa baru kali ini melihat rumah yang luasnya berkali lipat. Ia tak habis pikir, ternyata dugaannya benar kedua namja ini adalah orang kaya.

"Sehun apakah ini rumahmu?" Tanya namja mungil itu.

Sehun tersenyum simpul sebelum mengangguk.

"Rumahmu besar sekali" Decak kagum Jinhwan membuat Chanyeol kembali mengusap surai legam itu.

"Kau bisa pilih kamar manapun disini, sebelumnya aku minta maaf karena tidak bisa menyiapkan keperluanmu. Ini mendadak"

"Tidak, ini lebih dari cukup aku merasa senang"

"Baiklah jika begitu, ayo kita lihat kamar mana yang akan kau pilih"

Jinhwan menatap Sehun penuh harap. Ia merasa sangat nyaman berada didekat mereka. Chanyeol dan Sehun adalah orang baik, dengan semua harta yang berlimpah ini. Pikirannya tertuju pada kasus penculikan waktu itu. Mungkin saja mereka berdua diculik dan diaasingkan ke hutan itu, karena mereka sangatlah kaya raya.

.

.

_D&G_

Baekhyun dan Yifan berlari menuju rumah besar itu dengan terburu – buru. Atas panggilan yang beberapa menit lalu ia terima, Yifan menatap pintu yang berada beberapa langkah lagi dari posisinya. Namja tampan itu segera membuka pintu tersebut diikuti Bakehyun yang setia berada dibelakangnya.

Yifan dapat mendengar suara isakan yang membuat hatinya merasa tergores kala melihat apa yang ada dihadapannya. Yifan menghampiri keduanya yang nampak susuk di ranjang besar Luhan.

"Kenapa kalian menangis?" Yifan bertanya, menatap bergantian kedua orang tersebut.

Siwon bungkam, ia tak menangis layaknya Luhan yang tersedu –sedu, ia hanya diam dengan air mata yang menetes terus menerus.

"Aku merasa gagal merawat anak bungsuku" Luhan terus saja meraung, dengan lengan yang bertumpu. Baekhyun dengan sigap menenagngkan namja cantik tersebut. Memeluk tubuh kecil itu kedalam rengkuhannya, Baekhyun jelas belum mengerti dengan situasi ini. Namun melihat Luhan yang seperti ini membuatnya berpikir yang macam – macam.

"Luhan hamil" Dengan perasaan tak rela Siwon mengucapkan itu. Yifan yang mendengarnya tiba – tiba bungkam, menoleh kearah sang adik yang masih terus menerus mengangis dalam pelukan Baekhyun.

"Hamil?" Ulang Yifan dan Siwon hanya diam.

"-Bagaimana bisa?" Dengan wajah terkejut Yifan menatap Luhan. Namja cantik itu tak berani berbicara sedikitpun. Ia terlanjut kaget dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.

Baekhyun yang mendnegar jeritan Luhan segera menenagkan kembali Luhan. Ia memberi isyarat untuk diam. Luhan butuh meluapkan tangaisannya barang sebentar.

"Ini bukan salah Luhan, si brengsek itu yang telah membuatnya seperti ini"

"Hiks.. Appa berhentilah mengatakan mereka brengsek..hiks..Mereka tidak seperti itu"

"Apa maksudmu Luhan?" Yifan mendekat, menatap mata sebam itu lekat. Kenapa Luhan membela mereka sekarang. Sedangkan Baekhyun disana hanya bungkam, entah kenapa Baekhyun pun sependapat dengan Luhan.

"Kau membelanya?" Siwon menatap anaknya tak percaya.

"Hiks..Mereka tidak seperti itu, jangan cari mereka lagi..hiks" Luhan bersikukuh untuk itu. Ia meminta pada keduanya agar tidak mencari Chanyeol maupun Sehun. Ia takut jika semakin gentar dicari Chanyeol dan Sehun akan semakin jauh darinya, ia tak mau itu terjadi.

Yifan menggeleng pelan. Menatap tajam Luhan yang ia pikir sudah dibodohi oleh tingkah laku keduanya.

"Ada apa denganmu Luhan, kenapa seperti ini?" Yifan bertanya dan Luhan yakin Yifan belum berhenti untuk kembali bicara "-Katakan kenapa kau membela mereka?"

Baekhyun yang melihat perubahan suasan ini, sedikit was –was. Ia tak mau menyaksikan pertengkaran keluarga ini terllau lama.

"Yifan kita bisa bicarakan ini ba...

"DIAMM"

Baekhyun akhirnya menuruti apa yang diucapkan. Oh ayolah jika sudah seperti ini bisa gawat.

"Aku yakin janin yang ada dirahimmu adalah hasil dari kedua namja brengsek itu. Entah itu Chanyeol ataupun Sehun. Aku tidak peduli. Tapi kau harus melakukan aborsi secepatnya sebelum janin itu berkembang"

"Yifan, kau gila"

"Gila? Baekhyun, kau harusnya memihakku"

"Tapi aborsi itu berbahaya, Luhan baru sembuh dari sakitnya apa kau tega"

"Tidak, saat aku mengetahui yang melakukan itu adalah mereka"

Sesaat Baekhyun merasakan sesak dalam hatinya. Jelas ia membela Luhan, namun disisi lagi ia pun merasa kesal saat Yifan menyebutkan nama seseorang yang membuat degup jantungnya memompa tak karuan. Ya, sebelum dirinya Chanyeol sudah lebih dulu melakukannya pada Luhan.

"Luhan, sebaiknya kau melakukan apa yang kakakmu perintahkan. Demi nama baik keluarga" Siwon akhirnya membuka suara dan Yifan merasa menang karena sang Appa memihak kepadanya.

Baekhyun ingin protes saat itu. Nmaun tidak bisa karena ia tak memilki adil apa – apa dalam situasi ini, ia hanya seorang dokter.

Dan akhirnya kedua namja dewas itu keluar dari ruangan, menyisakan Bakehyun dan Luhan disana. Luhan dengan tatapan kosongnya hanya bisa menatap ke arah lantai. Baekhyun menatap Luhan prihatin, ia tak berpikir jauh jika hal yang buruk akan terjadi.

"Baekhyun, aku takut" Lirih Luhan padanya. Baekhyun segera memeluk kembali tubuh itu, mengusap punggungnya yang bergetar itu.

"Aku tahu ini berat, tapi bersabarlah aku akan berusaha membantumu"

"Tolong aku Baekhyun..Hiks"

"Aku akan berusaha"

.

.

.

Sehun dan Chanyeol kini sedang berada di ruangan yang biasa digunakan untuk berdiskusi. Sehun menatap setiap sudut yang tersaji diruangan itu. Tak ada yang berubah dan maish sangat bersih, bukti jika para suruhannya bekerja sangat baik.

"Entah kenapa aku berpikir kita masih disayang oleh Tuhan" Celetuk Chanyeol yang kini sedang memainkan pulpen mahal di meja itu.

"Tuhan pasti sayang kita, terbukti dengan ini" Sehun acuh, ia sependapat dengan Chanyeol. ingin rasnaya tertawa karena dengan ucapan Chanyeol tadi membuat moodnya menjadi lebih baik.

"Apa Jinhwan sudah tidur?" Tanya Sehun.

"Ya sudah, lagipula besok aku akan mengantarkannya pergi ke sekolah"

Sehun mengangguk paham. Ia harus lebih terbiasa lagi seperti ini karena sekarang ia memiliki tanggungan yang harus dijaga, yaitu Jinhwan.

"Dia adalah namja yang sangat polos, sangking polosnya aku pikir dia bodoh" Tawa renyah Chanyeol membuat Sehun tersenyum.

"Dan aku akan melatihnya gar tidak bodoh lagi, mengubahnya dengan pola pikir yang lebih baik"

"Jangan bilang dia akan diajarkan apa yang pernah kau pelajari dulu" Terka Chanyeol padanya.

"Siapa tahu, kita punya bibit unggul"

"Maksudmu?"

"Ayolah, Jinhwan bisa sangat berpotensi jika dilatih" Tutur Sehun.

"Tapi jangan latih dia dengan hal yang berat, aku takut dia akan minta pulang"

"Aku mengerti, tenang saja"

Setelah obrolan itu, Chanyeol dengan iseng membuka isi lemari kecil yang ada disana. Sudah menjadi kebiasaannya karena tangan ini memang sudah untuk diidamkan saja.

Sehun yang melihat itu hanya maklum. Toh brankas pentang tak ditaruh diruangan ini.

Chanyeol merogoh apapun yang ada didalam lemari kecil itu. Hinggwa tangannya terhenti saat merasa memegang sebuah benda berbentu persegi panjang yang pipih.

"Ponsel, apa ini milik Baekhyun?" Chanyeol mengambil itu, menyodorkan pada Sehun yang sbeelumnya sudah ia cek terlebih dahulu.

Sehun mangambil benda itu kemudian menyalakannya.

"Benar bukan? Oh aku lupa jika waktu itu kau menaruhnya disitu"

Sehun tetap diam.

"Milik Baekhyun sudah ia ambil waktu penangkapan kita" Ujar Sehun.

"Lalu?"

Sehun berpikir, ia mulai mengingat kembali kejadian waktu itu. Tidak mungkin jika ini adalah milik Luhan karena waktu mereka membawanya dari rumah sakit, namja cantik itu tidak membawa apa – apa.

Tangannya menekan tombol on pada siisan ponsel itu. Dan segera layar pipih ditangannya menampilkan sebuah wallpaper yang membuat Sehun menyeringai ke arahnya.

"Kau akan mengenalnya Yeol"

.

.

.

TEBECE?

.

.

.

AkHIR – akhir ini yang ngoment jadi sedikit hehe, entah kenapa atau mungkin Hunhan shipper makin berkurang?. Jangan sampe deh. Aku tau kalo makin lama ini ff makin gaje, abis kesel juga ya ama penggemar rahasia yang Cuma nongol tanpa kasih support. Tapi ya mo gimana lagi terserah anda juga, dan aku sangat berterimakasih buat pembaca yang nyempetin ng review meskipun sedikit, itu masih bisa dibilang wajar.