Arc II: Pandora's Box


Chapter 10: Emperor Without Crown


~Opening Song: Toumei Datta Sekai by Motohiro Hata~

Dua minggu berlalu dengan cepat tanpa dirasa. Segala hal berjalan dengan normal dan tanpa hambatan terlebih untuk pemuda pirang yang mengejutkan banyak orang saat pemilihan anggota guild beberapa waktu lalu. Siapa lagi kalau bukan Namikaze Naruto sang pengguna elemen emas.

Dalam dua minggu ini Naruto sudah menguasai beberapa sihir dasar. Ia juga berlatih keras bersama Fenrir untuk dapat bertukar tubuh dengan sempurna tanpa efek samping. Saat ini prosesnya hampir 100 persen. Tinggal dibiasakan lagi maka Naruto dan Fenrir dapat bertukar tempat tanpa hambatan.

Operasi guild [SACRIFICE] berjalan lancar. Sudah setengah dari total misi yang diberikan sudah diselesaikan anggotanya. Harga buronan mereka naik sedikit demi sedikit. Kinerja dan koordinasi mereka cukup baik sehingga masing-masing mendapatkan harga bounty secara merata.

Tugas Naruto sebagai ketua kelas pun berjalan lancar. Bulan-bulan seperti ini ketua kelas cukup santai tanpa ada kegiatan yang berat. Dalam OSIS pun sama. Ia hanya bertugas mendata hal yang berhubungan dengan nada. Jika tidak ada kerjaan maka Naruto tak akan masuk ke ruang OSIS yang dipenuhi murid MVP–yang sedang bersantai.

Ia sebenarnya cukup risih dengan beberapa pasang mata yang menatapnya tidak suka terlebih dari seorang gadis merah yang sempat terlibat adu mulut saat di aula. Rias Gremory. Maka dari itu Naruto hanya akan ke ruang OSIS jika ada hal yang dikerjakan. Selebihnya ia menghabiskan waktu di markas.

Interaksi dengan member The Ten Grace of God pun cukup berjalan lancar. Tidak ada satu orang pun yang mengasingkan dirinya. Ia benar-benar telah diterima oleh mereka. Itu cukup untuk membuat Naruto nyaman di asramanya dan tak merasakan aura canggung seperti minggu pertama.

Ada hal yang menarik setelah Naruto menerima kedua surat di hari pertamanya bersekolah. Ya, dua hari kemudian ia bertemu dengan mereka berdua sesuai apa yang tertera di surat. Iya, Naruto memenuhi permintaan dua gadis itu untuk bertemu di belakang gedung sekolah.

Seperti yang Naruto duga, mereka kompak menyebutkan bahwa mereka berdua menyukai dirinya dan ingin meminta berpacara. What the– sebagai wanita tentu mereka tak ingin berbagi pria tapi hal ini jelas-jelas anti-mainstream.

Dua wanita secara bersamaan mengutarakan perasaan mereka dan memintanya untuk menjadi pacar.

Itu artinya dua gadis tersebut telah rela membagi cinta mereka. Naruto sangat bingung menghadapi dua gadis–yang memang jika diperhatikan sangat cantik–tersebut. Akhirnya dengan wajah polos ia mengangguk tanda menerima dua gadis itu.

Dan ya … ia sekarang telah memiliki dua pacar. Mereka adalah;

Gadis yang memiliki bentuk tubuh sempurna. Rambut panjang dengan warna menyerupai milik Kaguya. Manik hijau yang memancarkan keindahan karang di bawah laut. Gadis dengan sifat pemalu yang selalu menampilan semburat merah saat menatap Naruto. Momobami Ririka dari kelas 1-C dan anggota guild [ENVY].

Satunya lagi, berbanding terbalik dengan segala hal yang ada di Ririka. Ia bersurai hitam panjang sepinggang. Pemilik mata merah gelap yang selalu tersenyum ramah dalam setiap kemunculannya. Sifatnya juga berbeda dengan Ririka, ia tidak sungkan untuk mengutarakan apa yang ia suka dan tidak suka. Dia adalah Jabami Yumeko. Gadis yang ramah senyum tapi gila akan pertarungan. Naruto juga agak terkejut melihat perubahan ekspresi saat ia hendak bertarung. Namun, Yumeko tak pernah meminta Naruto untuk bertarung dengan sampai saat ini.

Yumeko satu kelas dengan Ririka juga ia satu guild. Faktanya mereka adalah saudara jauh yang dahulu keluarga mereka terbagi menjadi beberapa cabang. Mereka bukan berasal dari keluarga bangsawan, melainkan keluarga pengusaha kaya raya.

Dalam dua minggu itu dilalui dengan normal tanpa hambatan.


Sore hari adalah waktu yang tepat untuk bermesraan bagi orang yang sudah memiliki pasangan, tak terkecuali Namikaze Naruto. Ia sekarang sedang berada di taman sekolah bersama dengan dua pacar yang mengapitnya di kanan dan kiri. Ririka dan Yumeko.

Menatap langit sore di taman sesudah semua urusan sekolah selesai telah menjadi kegiatan rutin mereka sejak menjalin hubungan. Awalnya Naruto agak kurang nyaman tapi semakin ke sini ia semakin menikmati.

Yumeko dan Ririka selalu mengapit tangan Naruto erat. Pastinya dengan ekspresi yang berbeda. Yumeko yang selalu tersenyum sumrigah dan Ririka yang malu-malu kucing. Naruto? Ia hanya diam menikmati saja.

Naruto teringat sesuatu, "Yumeko, apa hari ini kau tidak bertarung dengan siswa lain?"

Senyum yang awalnya mengembang kini hancur digantikan dengan bibir yang cemberut. Mood Yumeko tiba-tiba berubah, "Tidak ada. Aku sudah mengajak banyak orang tapi mereka semua menolak ajakan bertarungku. Huft, padahal tawaran dariku sudah cukup menggiurkan."

Mata sebiru langit itu menatap wajah Yumeko yang terhalang oleh poninya, "Memang apa tawaran yang kau berikan seandainya lawanmu menang?"

"Tawaran dariku adalah jika aku kalah semua bounty-ku akan kuserahkan padanya dan juga aku akan menjadi budak yang bisa bebas diperintah selama 1 minggu," jawab Yumeko dengan seringai tipis.

Naruto menelan ludah agak kasar. Itu sudah keterlaluan menurutnya sebagai tawaran. Menjadi budak yang bisa diperintah apa pun selama satu minggu, jika laki-laki yang mendapatkannya ia tidak bisa membayangkan bagaimana Yumeko ke depannya.

"Menurutku itu terlalu berlebihan," ungkap Naruto.

"N-Naruto-sama benar, Yumeko sudah keterlaluan," Ririka mendukung pernyataan pacarnya.

Gadis dengan wajah ayu dipadu mata berwarna merah gelap itu mendongkak dan menatap Naruto serta Ririka bergantian. Ia memiringkan sedikit kepala, "Benarkah?" pertanyaan yang sangat kentara akan kepolosan.

Naruto dan Ririka mengangguk.

"Kupikir itu tidak berlebihan. Selama aku bisa merasakan sensasi pertarungan maka semuanya sudah cukup."

Jabami Yumeko. Semenjak hari pertama bersekolah sampai sekarang ia selalu mengajak siswa lain untuk bertarung di Colosseum dengan mempertaruhkan nilai bounty masing-masing. Sudah tak terhitung berapa banyak siswa yang ia ajak untuk bertarung dan hingga saat ini ia telah bertarung sebanyak 8 kali dan semuanya dimenangkan oleh Yumeko.

Hal itu membuat ia mendapatkan julukan yaitu Crazy Fighter. Dari hasil 8 pertarungan yang ia menangkan, Yumeko menduduki peringkat paling atas dari seluruh siswa kelas 1, tentu saja kecuali Naruto.

Yumeko adalah salah seorang dari murid yang pergerakkannya tak bisa diduga. Murid yang sanggup menggeser jajaran kandidat The Ten Grace of God yang sebelumnya sudah diprediksi. Membuat ia masuk ke jajaran generasi murid tak terduga, mereka dinamakan;

Supernova.

Saat ini ada beberapa murid yang termasuk ke dalam generasi itu–murid yang tak mendapatkan MVP tapi bia sejajar dengan mereka yang mendapatkan MVP–termasuk Yumeko.

Naruto hanya bisa menghela napas melihat kelakuan pacar rambut hitamnya itu. mau bagaimanapun ia berbicara, Yumeko akan terus melakukan apa pun selama ia bisa menikmati sensasi bertarung. Mengingat hal tersebut, Naruto sempat kepikiran dan ingin menanyakannya.

"Yumeko, kenapa kau tidak pernah menantangku bertarung?" tanya Naruto.

Yumeko terdiam dengan mata sedikit melebar tanda ia kaget. Naruto menunggu jawaban dari Yumeko dengan sabar. Gadis itu mengerjapkan mata beberapa kali sambil mencari jawaban yang pas. Tak lama kemudian ia menunjukkan senyum sumrigah seperti biasa lalu memeluk Naruto.

"Mana mungkin aku menantang pacarku sendiri bukan? Lagi pula aku tak akan menang melawan Naruto-san," jawab Yumeko.

Ririka berdecak kesal dengan pipi mengembung karena Yumeko seenaknya memekul Naruto. Ia yang asalnya lagi enak mendekap tangan Naruto kini terlepas karena ulah saudara jauhnya itu.

"Tunggu Yumeko, jangan seenaknya memeluk Naruto-sama!" Ririka berusaha melepaskan pelukan Yumeko dengan wajah yang benar-benar imut.

Tidak jauh dari tempat tiga orang yang sedang bermesraan itu. Di balik semak-semak yang kadang bergoyang sendiri padahal tidak ada angin berhembus. Ada dua gadis yang sedang mengamati gerak-gerik Naruto bersama pacarnya.

"Ghh, dasar playboy!"

"Ja-jangan berbicara seperti itu, Kaguya-sama."

"Memangnya kenapa, ada yang salah dengan perkataanku? Jelas-jelas Naruto-kun itu playboy karena menggaet dua wanita langsung."

"T-tapi kita tidak tahu kenapa Naruto memiliki dua pacar sekaligus."

"Ck, apa kau akan selalu membela Naruto-kun, Coriana-senpai?"

Yep. Mereka berdua adalah Ootsutsuki Kaguya dan Coriana yang tidak lain adalah bawahan Naruto di guild. Sejak beredar kabar bahwa Namikaze Naruto mengencani dua orang siswi. Mereka langsung bergerak untuk menguntit, mengamati apakah benar Naruto itu punya dua pacar atau tidak.

Kenyataan membuat dua hati gadis cantik tersebut bergetar hebat. Sebenarnya Coriana telah memprediksi hal ini menjadi kemungkinan terburuk setelah ia mendapati surat cinta di saku blazer Naruto dua minggu lalu. Namun ia tak menyangka bahwa surat cinta itu membuat Naruto memiliki pacar sekarang.

Oh tidak, ia sudah dikalahkan bahkan sebelum mulai!

Kaguya juga sama, ia sudah diberi tahu oleh Coriana tentang surat cinta beberapa hari lalu. Namun, meski dijelaskan dengan cara apa pun, Kaguya masih tetap beranggapan bahwa Naruto adalah playboy yang langsung ngembat dua cewek sekaligus. Cantik dan kaya lagi.

'Tunggu, kenapa aku malah nguntit orang pacaran? Huft, lebih baik aku pulang ke asrama saja.'

Kaguya bangkit berdiri lalu meninggalkan tempatnya tanpa bilang-bilang pada Coriana. Gadis pirang yang ditinggalkan tersebut mengikuti Kaguya di belakang setelah sadar ia meninggalkannya.

'Kenapa aku melakukan hal memalukan seperti tadi? Itu menurunkan harga diriku sebagai puteri kekaisaran Jepang. Juga … kenapa aku kalah start sama mereka berdua?' batin Kaguya.

Sementara itu dengan Naruto yang sudah melerai pertengkaran kecil antara Yumeko dan Ririka, mereka bertiga menyudahi kegiatan kencan harian dan kembali ke asrama masing-masing. Remaja pirang itu harus cepat-cepat kembali sebelum matahari terbenam karena Sirzechs mengeluarkan perintah untuk rapat setelah makan malam.


Malam hari setelah makan malam yang mewah, rapat diadakan di ruang khusus di asrama The Ten Grace of God. Ruang besar dengan dekorasi kelas atas yang di tengahnya terdapat meja berbentuk persegi panjang besar dan di dalam meja itu terlihat peta keseluruhan sekolah ini. Ada 10 kursi mewah dengan angka romawi 1-10 tercetak di tengah. Sekarang, Naruto sedang mengadakan rapat dengan anggota lain. Membahas tentang sesuatu yang penting.

Ini tentang mereka yang akan 'menari' di masa depan kelak. Mereka yang akan mengambil alih kekuasaan tahun depan. Mereka yang sudah diprediksi dan mereka yang tak terduga.

Ada beberapa murid kelas satu yang menjadi topik pembicaraan. Mereka di antaranya;

Ootsutsuki Kaguya.

Sairaorg Bael.

Rias Gremory.

Uchiha Sasuke.

Sona Sitri.

Hyuuga Neji.

Tak lupa murid yang termasuk ke dalam generasi supernova turut menjadi perbincangan, salah satunya adalah Jabami Yumeko.

"Bagaimana menurut kalian?" tanya Sirzechs setelah menjelaskan masing-masing dari profile murid yang menjadi topik rapat sekarang.

Tidak ada yang bicara selain Nagato, "Tahun ini akan menjadi tahun terkacau sekaligus tahun paling berjaya bagi Donquixote Academy."

Perkataan singkat Nagato sangat dimengerti oleh semua yang hadir di sini. Tidak seperti tahun sebelumnya, tahun ajaran ini banyak murid baru yang berpotensi menjadi penerus The Ten Grace of God. Meski dinilai positif, nampak negatifnya akan ada banyak persaingan yang tentu saja akan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Terutama di penghujung tahun.

"Kita harus menjinakkan mereka," ucap Cao Cao. "Atau tidak kita akan mendapatkan masalah merepotkan di kemudian hari."

Naruto diam mendengarkan apa yang mereka diskusikan. Ia pikir suaranya di sini tak akan memberi pengaruh besar. Jadi pilihan terbaik adalah mengamati dan mengikuti keputusan yang telah disepakati. Meski begitu, ia juga tetap memikirkan sebuah rencana untuk masalah ini.

Gelombang besar sudah tak dapat dihindari.

Perebutan kekuasaan suatu saat akan terjadi.

Siapa yang menang? Para murid MVP atau generasi tak terduga supernova?

Atau … pihak lain?


Esok hari setelah sepulang sekolah, seperti biasa Naruto pergi ke markasnya untuk memberikan tugas ke masing-masing tim. Hal yang ganjal adalah perubahan sifat dari Coriana dan Kaguya yang entah kenapa seperti menjaga jarak darinya, tidak seperti biasa. Namun, Naruto tak memusingkan masalah sepele seperti itu. Ada hal lain yang harus ia kerjakan berhubungan dengan posisinya sekarang.

Di markas Naruto hanya membagikan tugas pada anggotanya serta menyelesaikan beberapa dokumen laporan harian. Setelah itu masalah menjaga markas Naruto serahkan pada Coriana.

Kini ia sedang berlatih dengan Fenrir teknik pergantian tubuh di halaman belakang asrama. Naruto duduk sila dengan posisi seperti bertapa. Menutup mata. Berkonsentrasi pada seutas benang putih Mana dibenaknya. Itu adalah jalur untuk menghubungkan dirinya dengan Fenrir.

Setelah itu Naruto melakukan sesuai apa yang diajarkan Fenrir dulu. Beberapa saat kemudian ia membuka mata dan manik dari yang awalnya berwarna biru cerah sekarang tergantingan dengan mata tajam khas serigala.

'Pergantian berjalan dengan lancar,' kata Fenrir dalam tubuh Naruto. Namun tetap suara yang terdengar adalah suara khas Naruto. Fenrir kini menguasai tubuh inangnya.

'Bagaimana denganmu, Naruto?' tanya Fenrir.

'Aku tak apa-apa di sini, aku melihat tubuhmu meringkuk tertidur,' jawab remaja pirang itu.

'Hn, karena sekarang nyawaku berada di dalam tubuhmu ini. Sekarang aku akan belajar merasakan kekuatanmu. Untuk sementara aku akan tetap berada di sini.'

'Terserahmu saja, Fenrir-san. Tapi jika ada seseorang yang menghampirimu cepat kembali seperti semula.'

'Ya, aku mengerti.'

Fenrir berkonsentrasi untuk merasakan aliran Mana di dalam tubuh inangnya. Ia juga mengorek ingatan di kepala kuning itu tentang cara penggunakan semua teknik milik Naruto. Ya, hanya itu saja. Selebihnya Fenrir tak mau melihat ingatan tentang masa lalu Namikaze Naruto.

Setelah mengetahui cara kerja semua teknik Naruto, ia lantas mencoba beberapa teknik sihir sederhana. Awalnya agak kaku menggunakan tubuh manusia tapi sedikit demi sedikit ia mulai lancar. Seperti melakukan beberapa gerakan bela diri.

Hampir dua jam Fenrir anteng nangkring di tubuh inangnya. Sedangkan sang inang tiduran di tubuh asli Fenrir yang memiliki bulu halus sambil memikirkan sesuatu. Ia juga ternyata dapat melihat apa saja yang dilakukan Fenrir dari sini. Naruto akhirnya tahu bagaimana Fenrir dapat melihat apa yang ia lihat sebelumnya.

Magical Beast berbentuk serigala raksasa itu sudah mengeluarkan teknik sihir Naruto belasan kali. Mulai dari yang paling sederhana sampai salah satu sihir terkuat Naruto ia pernah coba. Hasilnya beberapa bagian di taman ini berantakan akibat ulah Fenrir. Namun, itu tak menjadi masalah. Tinggal memerintahkan pengurus asrama ini untuk membenarkan semua telah beres.

'Ternyata menyenangkan juga memakai tubuh manusia,' ungkap Fenrir menarik pikiran Naruto.

'Maksud Fenrir-san?'

'Ras kalian dapat melakukan sangat banyak gerakan dari pada ras kami. Juga, kalian memiliki struktur jaringan Mana yang hampir menyerupai Magical Beast tapi tak sehebat ras kami.'

'Hmm, apa Magical Beast lebih superior dari pada manusia dalam hal struktur Mana?' tanya Naruto.

'Tentu saja. Makhluk seperti kami dianugerahi struktur Mana yang sangat bagus. Itulah kenapa jumlah Mana kami rata-rata lebih besar dari kalian para manusia,' jawab Fenrir yang di sana terkandung nada kesombongan.

Naruto tak lagi bertanya hal lain. Ia membiarkan Fenrir bersenang-senang dengan tubuhnya sampai tubuhnya kelelahan. Terbukti dari berapa banyak bulir keringat yang keluar dari pori kulitnya. Tak ada ruginya juga karena ia bisa berlatih tanpa perlu merasakan kelelahan.

Ah sayang sekali, pemikiran pendek seperti itu tak akan terkabul karena setelah mereka kembali bertukar dalam keadaan tubuh inang yang lelah, saat Naruto kembali ke tubuhnya ia justru yang merasakan kelelahan.

'Sial.'


Sore hari seperti biasa, Naruto berada di taman sekolah bersama kedua pacarnya yang setia pengapit dirinya dengan mendekap tangannya erat. Bahkan Naruto dapat merasakan kelembutan dari salah satu titik vital wanita. Yah … sebenarnya ia juga tak berharap banyak tentang hal itu sih. Mungkin ini sudah rezeki Naruto jadi ia terima saja.

"N-Naruto-sama kelihatan lelah," ucap Ririka peka akan keadaan tubuh Naruto. Begitu pun dengan Yumeko yang menatap pacarnya penuh tanda tanya.

"Aku tadi habis latihan. Jadinya sekarang aku cukup kelelahan," Naruto menjawab apa adanya.

"Naruto-san orangnya pekerja keras ya, padahal kalau sudah menduduki salah satu kursi The Ten Grace of God tidak perlu lagi melakukan pertandingan yang tak perlu. Otomatis orang biasa akan mengurangi porsi latihannya."

Naruto tersenyum kepada Yumeko yang mengungkapkan isi pikirannya dengan gamblang. Ia kemudian berkata, "Perkataanmu memang benar, tapi ada kalanya aku akan dihadapi dengan pertarungan yang merepotkan. Maka dari itu aku terus berlatih dan meningkatkan kekuatanku sedikit demi sedikit."

'Yah meski begitu aku berharap tak dihadapi pertarungan apa pun lagi.'

Yumeko menatap manik biru itu dengan kagum. Ia lalu memeluk Naruto dengan erat seperti kemarin. Dalam pelukannya ia berkata, "Aku jadi semakin menyukaimu, Naruto-san!"

Sama halnya seperti kemarin, Ririka mencoba untuk melepaskan pelukan Yumeko.

"L-lepaskan pelukanmu, Yumeko!"

Di tempat yang berbeda, di sebuah ruangan di dalam markas salah satu guild. Sebuah ruangan mewah dengan satu meja di depan. Ada seseorang yag berada di sana. Sirzechs Gremory. Ketua dari guild [Kings] yang sedang mengerjakan beberapa dokumen. Cahaya matahari pada sore hari masuk melewati jendela. Menyebabkan hanya beberapa bagian ruangan yang tersinari. Sebagiannya dilahap oleh kegelapan.

Tidak lama kemudian, pintu yang berada di depan terbuka. Sirzechs mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang dibuka oleh Grayfia. Dari muka pintu berdiri seorang lelaki kekar. Wajanya tak terlihat jelas karena gelap.

Laki-laki itu berjalan mendekati tempat Sirzechs dan berhenti 2 meter di depannya. Sinar mentari hanya menyoroti bagian bawah laki-laki tersebut. Sang ketua guild menyimpan dokumen yang tadi sedang dikerjakan.

"Tumben kau ke sini, ada apa?" tanya Sirzechs dengan senyum tipis khas dirinya.

"Aku ingin meminta izin kepadamu," kata laki-laki misterius itu.

"Izin untuk apa?"

"Sepertinya aku akan menjadi salah satu dari siswa sepertimu, Sirzechs."

Sirzechs melebarkan mata sedikit. Ia tahu makna yang terkandung dalam perkataan laki-laki di depannya barusan. Siswa berambut merah itu membuat seringai tipis. Ia menatap manik tajam milik lawan bicaranya, "Siapa targetmu?"

"Pemilik kursi ke-7, Namikaze Naruto."

"Hooh … aku sudah menduga kau akan mengincar Naruto-kun. Untuk izin, aku izinkan kau menantang Naruto-kun. Meski begitu semua keputusan ada di tangan Naruto-kun sebagai pihak yang ditantang. Akankah dia setuju atau tidak."

Laki-laki itu menyeringai dalam kegelapan, "Akan kupastikan bocah itu menerima tantanganku."

"Aku tidak sabar untuk melihat pertarungan kalian."

Setelah urusan selesai, laki-laki misterius itu keluar tanpa banyak bicara.

'Omoshiroi.'


Ada sebuah cerita yang berisikan tentang seorang berjuluk 'Emperor Without Crown' berdasarkan kisahnya ia adalah orang yang memiliki kekuatan besar. Kekuatannya dapat disejajarkan dengan para The Ten Grace of God bahkan mungkin lebih kuat dari pemegang kursi 6 sampai 10.

Sangat disayangkan ia tidak menjadi salah satu dari mereka. Kekuatan, prestasi, reputasi, menjadikannya banyak dijuliki sebagai 'Kaisar Tanpa Mahkota'.

Kisah itu sudah diketahui semua siswa kelas 2 dan 3.

Orang yang harus dihindari saat ia ingin mengajak bertarung.


Pagi hari menjelang. Matahari masih malu-malu menampakkan keperkasannya. Jauh di sudut asrama reguler, di dekat hutan, terdapat seorang siswa kelas satu–memakai kalung penanda bahwa dia adalah budak–sedang dikerumuni oleh dua orang siswi tak berkalung. Sudah bisa ditebak jika dua siswi itu hendak melakukan sesuatu dengan memanfaatkan statusnya.

Dengan wajah menjijikkan dua siswi itu menyudukan remaja yang tak bisa berbuat apa-apa sampai punggungnya bersentuhan dengan batang pohon.

Siswa malang yang terkena dampak dari sistem sekolah ini. Ia hanya diam menunduk sambil mendengarkan segala omongan merendahkan dari mulut laknat dua siswi itu. Sudah dua minggu ia diperlakukan layaknya 'budak asli' oleh mereka.

"Hei budak, hari ini aku ingin kau membersihkan sepatuku memakai lidahmu oke? Sepatuku agak berdebu."

"Oh ya, kalau sudah jangan lupa membersihkan sepatuku juga ya."

"Hahahaha!"

"HAHAHAHA!"

Tawa menjijikkan itu sudah membuat remaja yang diam saja saat ini habis kesabaran. Ia tidak mau lagi diperintah layaknya binatang oleh mereka berdua. Akhirnya, ia memberontak. Menerjang salah satu dari mereka hingga terjatuh. Satu siswi yang lain berusaha melepaskan temannya dari cengkraman si budak dengan cara menendang pinggang siswa tersebut memakai sedikit Mana.

Dikendalikan sepenuhnya oleh emosi membuat siswa tersebut menyerang balik gadis yang tadi menendangnya hingga ia terpental dan menabrak batang pohon.

"Kyaaaa!"

Seringai puas tercetak di sana. Ia kembali menindih gadis satunya lagi.

"Aku sudah muak … aku sudah muak dengan kalian dan sekarang giliranku untuk melakukan apa pun yang kusuka kepada kalian!" kata-kata itu terlontar bersamaan dengan niat jahat di sepasang mata hitamnya.

Laki-laki itu merobek kasar pakaian gadis yang meronta minta tolong. Belahan dadanya terlihat membuat air liur keluar dari sudut bibir sang budak. Hingga ia berniat untuk meremas kepunyaan si gadis tapi detik berikutnya sesuatu mengenai tengkuknya hingga ia tak sadarkan diri.

Sang gadis yang selamat buru-buru menyingkirkan tubuh pingsan itu lalu menatap siluet seseorang yang duduk di batang pohon di atas sana.

Detik berikutnya ia kaget melihat siapa orang yang menyelamatkan dirinya.

"K-kau–"

Seorang lekaki garang yang sedang duduk bersandar di batang pohon sambil memainkan beberapa batu di kepalannya.

Siswa yang memiliki jabatan sebagai Captain dalam guild [Kings].

Orang dengan harga kepala sebesar 256.000.000.

Murid yang sangat ditakuti karena julukannya, Emperor Without Crown.

Dia adalah–

"–Diehauser Belial-sama!"

"Seorang budak tak sepantasnya membangkang dari majikan. Ketahuilah posisimu dan tugasmu, wahai budak menjijikkan."

Perkataan dingin Diehauser mengakibatkan dua gadis itu terpana dengan pipi yang memerah. Melupakan kejadian yang baru saja terjadi beberapa menit lalu. Diehauser sanggup menumbangkan satu siswa hanya dengan baru kecil di tangannya. Meskipun singkat, ia telah memperlihatkan seberapa besar kapasitas yang ia miliki.

Setelah itu, Diehauser menghilang dengan daun-daun di sekitarnya yang berterbangan.


Naruto menguap bosan disela-sela langkah kakinya menuju kantin. Khusus untuk sekarang ia tidak ke tempat makan bersama Shikamaru karena laki-laki nanas itu ada urusan dengan Yasaka-sensei. Dari manik biru redup itu dapat diketahui Naruto sedang bosan. Ia bosan mendengarkan pelajaran sebelumnya yang sudah ia kuasai jauh hari.

Berharap saja ada sesuatu yang mengusir rasa bosannya saat ini. Mungkin makanan yang tak biasa adalah jawabannya. Berhubung ia memiliki otoritas sebagai murid MVP, remaja itu bisa memesan makanan sepuasnya yang dia mau asalkan itu untuk dirinya sendiri, bukan orang lain.

"Yosh, aku akan makan ramen dengan porsi jumbo!" kata Naruto lalu berbelok menuju koridor tapi langkahnya terhenti karena menubruk seseorang. Siswa yang memiliki tubuh lebih besar ketimbang dirinya.

Naruto sedikit mendongkak untuk melihat siapa yang ia tabrak barusan. Dari blazernya Naruto tahu bahwa siswa ini adalah kelas 3. Kenapa dia mampir ke gedung kelas satu?

"Maaf," kata Naruto singkat lalu hendak melanjutkan perjalanannya lagi sebelum langkahnya dihentikan oleh tangan besar orang itu. Ia menoleh dengan satu alis terangkat.

"Kau Namikaze Naruto, bukan?" tanya pria itu.

Naruto menganggul, "Ya itu aku. Ada apa?"

"Bertarunglah denganku dalam Battle of Honor, pemilik kursi ke-7 Namikaze Naruto!" kata atau lebih tepatnya perintah laki-laki itu.

Remaja pirang itu diam sebentar lalu menolak ajakan bertarung, "Aku menolak."

Tanpa membuang waktu lebih lama Naruto dengan cepat melanjutkan langkahnya lagi tapi sesuatu membuatnya terpaksa menghentikan gerak kaki.

"Apa kau sungguh menolak ajakan bertarungku? Bagaimana kalau kau lihat layar hologram ini."

"Hah?" Naruto melihat laki-laki itu merentangkan tangan ke depan dengan telapak tangan di atas. Dari sana muncul layar hologram berwarna hijau transparan yang menampilkan video.

Tubuh Naruto seketika membeku dengan pasang mata membulat sempurna. Dalam video itu terlihat orang yang sangat dikenalnya sedang terikat di kuris, Momobami Ririka. Durasi video berlanjut memperlihatkan beberapa siswa berkalung mengitari Ririka lalu melakukan hal yang tak sepantasnya.

Ririka berontak memohon tolong dalam keadaan mulut terikat kain putih. Kedua matanya menahan bulir bening yang sebentar lagi jatuh. Naruto mengepalkan kedua tangannya hingga memutih saat melihat beberapa siswa yang bersatus sebagai dudak itu meremas dada Ririka, dan yang paling ia tak bisa menahan emosi adalah tangan salah satu siswa menyelinap masuk ke dalam roknya Ririka.

"SIALAN!"

Secepat kilat Naruto menyarangkan tinju lapis emas tapi bisa dihindari oleh laki-laki itu.

'Dia cukup cepat.'

Gagal dengan serangan pertama, Naruto berniat melakukan serangan berikutnya sebelum laki-laki itu berkata hal yang membuat Naruto terdiam.

"Jika kau ingin menyelamatkan gadis ini maka kau harus menyetujui tantangan dariku. Aku ingin melawanmu dalam Battle of Honor. Jika aku menang aku ingin semua harga kepala yang kau miliki menjadi milikku, jabatanmu akan kurebut dan guild-mu akan aku ambil alih. Namun, jika kau yang menang aku akan melepaskan pacarmu ini, memberikan setengah dari harga kepalaku, dan juga ini," laki-laki itu mengambil sesuatu di dalam saku celananya lalu diperlihatkan.

Itu adalah ramuan untuk menambah kapasitas Mana dengan signifikan. Ramuan yang harganya tidak kurang dari 1 juta Yen.

"Bagaimana, kau tertarik, bukan?"

Naruto menggeram marah dengan sorot mata yang sudah berubah layaknya elang sedang mengamati mangsa. Tidak ada pilihan selain menyetujui tantangan ini meski ia tahu jika ia kalah dia akan kehilangan semuanya dan menjadi budak. Namun, jauh dari itu, Naruto lebih mementingkan keselamatan Ririka.

Maka dari itu ia mengangguk tanda menyetujui tantangan ini.

Laki-laki itu menyeringai puas, "Bagus! Namaku Diehauser Belial dan harga kepala terbaruku sebesar 256.000.000."

"Hanya ada satu lagi hal untuk meresmikan pertarungan ini," kata Naruto datar.

"Benar! Ayo kita ke tempat Azazel-sama!"


Naruto dan Diehauser dengan ekspresi berbeda menghadap Azazel di ruangannya. Kepala sekolah itu sudah mendengar penjelasan tentang maksud dari Battle of Honor. Selama yang ditandang setuju maka Azazel tidak ada pilihan lain selain meresmikan pertarungan ini.

Ia menghela napas pelan, "Baiklah. Aku resmikan pertarungan kalian berdua. Untuk jadwalnya sepulang sekolah. Setuju?"

"Ya aku setuju."

"Lebih cepat lebih baik."

Azazel mengangguk singkat, "Pulang sekolah di Colosseum. Pertandingan kalian akan diwasiti oleh Shizune. Kalau tidak ada urusan lain kalian boleh keluar."

Mereka berdua keluar dan menuju kelas masing-masing tanpa sepata kata. Kabar tentang Battle of Honor mereka telah menyebar dengan cepat sampai ke seluruh penjuru sekolah ini. semua siswa pasti ingin melihat jalannya pertandingan karena ini bukan pertandingan antara murid biasa.

Kaisar Tanpa Mahkota melawan siswa pemilik julukan anugerah Kekayaan.

Siapa yang akan menang?

Tidak ada yang tahu.

Tidak ada yang bisa memprediksi.

Semuanya hanya akan diketahui di Colosseum.

Maka dari itu, setelah pelajaran selesai, kini mereka berdua saling menghadap satu sama lain di arena dengan ditonton oleh seluruh siswa termasuk The Ten Grace of God bersama para wakilnya di atas mimbar.

Naruto vs Diehauser

Siapa yang akan menjadi kaisar bermahkota?

Bersambung

~Ending Song: Silent Solitude by OxT~


AN: Arc kali ini mungkin akan lebih dari 10 chapter karena tidak hanya fokus pada masalah [Pandora's Box] di arc dua ini sedikit demi sedikit saya akan menyajikan materi dan bahasan baru. Seperti Supernova.

Naruto langsung punya pacar? Gk bisa ditebak 'kan? Hehehe.

Ada yang tahu dua pacar Naruto siapa? Pasti pada tahu semua karena animenya sedang ongoing. Saya suka desain karakter mereka.

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak di fic ini karena review dari kalian adalah penyemangat author dalam berkarya.

Sampai jumpa chapter depan.

08/02/2019