MOHON DIBACA
Untuk semuanya, author mau ucapin maaf sedalam-dalamnya karena udah ga update berbulan-bulan lamanya. Author ngerti kok nyeseknya nunggu ff update itu gimana:')
Author udah baca semua review kalian dan maaf author ga bisa balas satu persatu. Tapi semuanya author baca. Terimakasih banyak untuk yang selalu support fanfic ini, kalian the best!
Tapi disini, author mau kasih tau kalo berbulan-bulan belakangan ini, author bener-bener ga bisa update fanfic yang author tulis sama sekali. Alasannya adalah author punya kehidupan juga loh. Kalian kan pasti juga gitu, di real life punya kesibukan. Author juga sama.
Author pengen banget lah lanjut nulis, tapi ya gitu. Sulit karena belakangan problem numpuk. Author juga nulis fanfic di wattpad, itu juga author baru bisa update baru-baru ini karena problem real life itu tadi.
Kalian pasti merasa author alasan atau apa, tapi memang author jelasin seadanya aja sesuai fakta. Percaya atau engga, itu terserah kalian^^
Sekali lagi author ucapkan maaf banget.
Okay biar ga panjang-panjang, selamat membaca~
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
Hari ini sudah memasuki minggu kedua Chanyeol di rumah sakit. Setiap pagi ia selalu terbangun dengan keluhan yang sama; kapan ia bisa keluar dari tempat terkutuk ini?
Tetapi pikiran itu selalu lenyap setiap kali ia disambut oleh wajah terlelap Baekhyun. Ya, Baekhyun memutuskan untuk menjaga Chanyeol di rumah sakit. Karena jarak rumah Chanyeol yang sangat jauh dengan rumah sakit, Chanyeol menyarankan Baekhyun untuk menginap.
Baekhyun terlelap setiap harinya diatas ranjang yang cukup besar dan sangat nyaman. Ia mengira, memang rumah sakit ini adalah rumah sakit yang tergolong elit, sehingga pelayanan mereka sangat maksimal, bahkan bagi orang-orang yang bukan pasien.
Namun, pada kenyataannya, Chanyeol lah yang memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan ranjang senyaman mungkin untuk Baekhyun. Ia juga memerintahkan mereka untuk membawakan Baekhyun makanan kesukaannya setiap hari. Selain itu, Baekhyun juga tidak perlu repot-repot kembali ke rumah untuk mengambil barang-barangnya karena hal itu sudah dilaksanakan oleh Yixing.
Setiap pagi, Chanyeol selalu terbangun lebih dulu dari Baekhyun. Lalu ia akan memandangi wajah Baekhyun dan tersenyum tanpa disadarinya. Dan ketika Baekhyun terbangun, ia akan berpura-pura tertidur lagi.
Sama seperti pagi ini.
"Chanyeol, aku sudah hampir dua minggu menetap di rumah sakit ini tanpa pergi kemanapun. Bolehkah aku berjalan-jalan keluar?"
Baekhyun menopang dagunya dengan sebelah tangannya, memandangi wajah Chanyeol yang sedang terlelap—atau berpura-pura terlelap. Saat ini ia duduk di sebuah kursi di sebelah ranjang Chanyeol.
Ia sengaja berbicara ketika Chanyeol sedang terlelap, karena ia tidak cukup berani untuk menanyakannya langsung pada Chanyeol. Tanpa sepengetahuannya, Chanyeol selalu mendengar perkataan Baekhyun ketika ia berpura-pura terlelap.
"Aku tau kau tidak akan mengizinkanku pergi sendiri. Perintahkan anak buahmu, siapapun itu untuk menemaniku. Aku tidak masalah dengan itu, yang terpenting aku bisa menghirup udara segar, Chanyeol-ah~"
Baekhyun sedikit merengek. Kini ia memandangi wajah Chanyeol dengan jengkel.
"Kenapa kau harus sakit? Kau adalah ketua mafia terlemah yang pernah kutemui! Aku jadi terperangkap disini bersamamu!"
Baekhyun mendengus kesal. Di sisi lain, Chanyeol berusaha keras menahan tawanya karena suara Baekhyun yang terdengar menggemaskan menurutnya.
Baekhyun kembali memandangi wajah Chanyeol. Wajahnya yang sedang terlelap itu terlihat sungguh polos dan…..tampan.
'Hey! Tunggu, Byun Baekhyun! Sejak kapan kau mengakuinya tampan?'
Batin Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.
Siapa yang menyangka wajah tampan yang terlihat sangat polos dan baik hati ini ternyata adalah wajah yang telah merenggut nyawa ratusan orang.
Baekhyun jadi kembali teringat saat pertama kali ia 'dibeli' oleh Chanyeol. Saat-saat dimana rasa bencinya terhadap Chanyeol benar-benar sudah tidak bisa dibendung. Terutama saat Chanyeol mengurungnya dan mengaturnya seperti binatang.
Dan lihatlah dirinya sekarang, ia yang dulunya sangat membenci Chanyeol, kini rela menghabiskan waktunya di rumah sakit demi menjaga Chanyeol. Walaupun sudah jelas pria-pria kekar suruhan Chanyeol pasti berjaga 24 jam di depan ruangan inapnya.
Baekhyun hanya merasa bahwa dirinyalah penyebab semua kekacauan ini. Walaupun Chanyeol memang sudah biasa menghadapi serangan-serangan seperti itu, mengingat bahwa dirinya adalah seorang mafia.
Namun, ini adalah kali pertama ia sampai terbaring di tempat yang paling dibencinya, rumah sakit.
"Kenapa rasa benciku seperti lenyap begitu saja, Yeol? Apa yang sudah kau lakukan padaku?"
Chanyeol yang mendengar perkataan Baekhyun, sedikit tertegun. Namun ia tetap berpura-pura tertidur.
"Aku sangat membencimu karena kau kejam dan kau memperlakukanku dengan sangat buruk! Kau memang membanjiriku dengan banyak harta dan kemewahan, tapi aku tidak butuh semua itu, Yeol. Kau bahkan sempat mengurungku seperti binatang. Aku bahkan sempat berpikir kalau bisa saja aku akan mati dalam keadaan terkurung seperti itu."
Chanyeol merasa semakin tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia mendengar keluh kesah Baekhyun. Dulu, ia selalu membentak Baekhyun setiap kali ia menangis.
Tidak pernah sekalipun ia membiarkan Baekhyun mengatakan apa yang ingin ia katakan.
"Tapi sekarang, rasa benciku yang dulunya tidak bisa kupungkiri itu, lenyap begitu saja, Yeol. Bahkan diriku sendiri masih tidak tau alasannya. Ya, aku harap seiring berjalannya waktu, aku akan mengetahui alasan itu. Dan kuharap kau bisa memperlakukanku dengan lebih baik."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun beranjak dari duduknya. Perutnya mulai merasa sedikit lapar, jadi ia berencana untuk membeli sarapan.
"Jangan pernah mengurungku seperti binatang lagi, Yeol. Aku tidak masalah apabila orang suruhanmu mengikutiku kemanapun aku pergi. Asalkan kau tidak mengurungku seperti dulu."
Kini Baekhyun memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu.
Tepat sebelum tangannya meraih gagang pintu, ia membalikkan tubuhnya untuk kembali melihat kearah Chanyeol.
"Aku tau kau tidak akan mendengar ini karena kau tidur. Tapi bisakah kau minta Yixing untuk berhenti berbicara formal padaku?"
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
Sekumpulan orang dengan pakaian pelayan berlalu lalang di dalam rumah Chanyeol. Mereka terlihat sangat sibuk menyiapkan sesuatu.
Ada yang membersihkan ruang tamu, ada yang memasang hiasan-hiasan di dinding dan langit-langit rumah, ada juga yang menyiapkan berbagai macam makanan yang menggugah selera diatas meja makan besar dan mewah milik Chanyeol, dan masih banyak kesibukan lainnya.
Di satu sisi, terlihat Minseok sibuk memberikan arahan pada setiap pelayan untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Ini adalah kali pertama terjadi kesibukan sesibuk ini di dalam rumah megah Chanyeol.
Terakhir kali hal serupa terjadi adalah saat para pelayan menyiapkan kejutan di hari ulang tahun Chanyeol. Kejutan yang awalnya akan diberikan setelah ia kembali dari taman hiburan bersama orangtuanya. Namun, kejutan itu tidak sesuai yang diharapkan karena hari itu, Chanyeol tidak kembali bersama orangtuanya.
Lalu, apakah akan ada pesta lagi di rumah Chanyeol?
Tidak.
Chanyeol benci pesta.
Lalu? Apakah ini pesta ulang tahun untuk orang lain?
Tidak.
Seluruh pelayan disibukkan dengan mempersiapkan segala hal, adalah karena satu alasan.
Baekhyun akan kembali ke rumah.
Tentu saja ini bukan inisiatif para pelayan. Baekhyun bahkan hanya pergi dari rumah selama seminggu. Chanyeol lah yang memerintahkan mereka semua untuk menyambut Baekhyun sebaik mungkin. Ia telah mendengar segala keluh kesah Baekhyun saat berpura-pura tertidur tadi.
Ia akan meminta Baekhyun untuk kembali ke rumah karena ternyata Baekhyun merasa 'terperangkap' di rumah sakit.
"Pastikan Tuan Muda Byun menyukai kejutan ini, kalian mengerti?"
Minseok sedikit berteriak agar seluruh pelayan yang berlalu lalang dapat mendengar suaranya.
"Dan pastikan kalian menyambutnya dengan senyuman paling ramah yang kalian miliki. Perlakukan Tuan Muda Byun sama seperti kalian memperlakukan Tuan Muda Park. Mengerti?"
Minseok kembali berteriak. Serentak seluruh pelayan menjawab 'Mengerti!'
Sehun yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan, terkekeh kecil melihat betapa kerepotan para pelayan hanya karena satu kalimat yang dilontarkan Chanyeol, 'Sambut Byun Baekhyun dengan baik.'
Ia berjalan menuju kearah Minseok dan menepuk pundaknya.
"Kalian sungguh berdedikasi tinggi pada Chanyeol hyung." Kemudian ia kembali terkekeh.
"Ohh, Tuan Muda Oh. Apa anda disini sejak tadi? Maaf saya tidak melihat anda karena terlalu sib-"
"Santai saja, hyung. Aku juga hanya ingin melihat keadaan rumah. Ternyata sedang terjadi hiruk pikuk di dalam sini."
"Ah, itu karena Tuan Muda Park meminta kami untuk menyambut Tuan Muda Byun."
Sehun kemudian kembali menepuk pelan pundak Minseok.
"Apakah Chanyeol hyung meminta kalian untuk menyambutnya dengan 'meriah'?"
Minseok terdiam. Pertanyaan Sehun cukup menohoknya. Memang benar, Chanyeol tidak pernah meminta mereka untuk menyambut Baekhyun dengan meriah.
Sehun terkekeh untuk yang kesekian kalinya saat melihat Minseok terdiam.
"Jangan menganggap serius pertanyaanku, hyung. Aku mengerti Chanyeol tidak pernah mengungkapkan ia menginginkan kemeriahan, tetapi ia sebenarnya mengharapkannya."
Sehun menepuk pundak Minseok untuk terakhir kalinya.
"Baiklah, lanjutkan saja pekerjaan kalian. Jangan terlalu terburu-buru. Ini masih siang dan Baekhyun akan kembali nanti sore."
Sehun kemudian meninggalkan Minseok dan berjalan menuju pintu. Menolehkan kepalanya sedikit dan berkata, "Aku pergi dulu, hyung."
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
Pukul 3 sore, Baekhyun sudah membasuh dirinya. Ia tidak begitu suka mandi terlalu sore, jadi ia selalu mandi sekitar pukul 3 atau 4 sore.
Saat ia keluar kamar mandi, ia melihat Chanyeol sudah duduk diatas ranjangnya sambil membaca sebuah novel.
"Aku baru tau seorang mafia mempunya minat untuk membaca novel romance."
Nada bicara Baekhyun sedikit mengejek.
"Ini bukan novel romance. Kalau kau tidak tau apa-apa lebih baik kau diam."
Chanyeol berbicara dengan sangat dingin, tanpa memalingkan tatapannya dari novel di tangannya.
Baekhyun hanya mendengus kesal.
"Kau ingin makan apa malam ini? Tadi pagi seorang perawat memberitahuku kalau kau sudah boleh makan makanan selain makanan pemberian rumah sakit."
Tangan Baekhyun sedang membereskan barang-barang miliknya, tetapi matanya melekat pada Chanyeol.
"Tteokbokki."
Jawaban Chanyeol yang benar-benar singkat itu membuat Baekhyun merasa sedikit aneh. Biasanya, Chanyeol yang akan aktif mengajaknya mengobrol. Tetapi hari ini tiba-tiba saja ia berubah drastis, seperti kembali menjadi dirinya yang dibenci Baekhyun.
"Baik, aku akan membelinya untukku juga."
Setelah merogoh beberapa lembar uang dari dalam tasnya, Baekhyun beranjak menuju pintu.
Tepat saat ia berada di depan pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan Sehun bersama seorang pria yang berparas sangat cantik. Mungkin bila rambutnya panjang, Baekhyun sudah mengira bahwa ia perempuan.
"Oh, apa kau akan pergi keluar, hyung?"
Sehun bertanya pada Baekhyun.
"Ah, iya. Chanyeol berkata ingin makan tteokbokki, jadi aku akan membelikannya."
Baekhyun berusaha fokus pada Sehun, tapi matanya terus saja beralih pada pria yang berdiri di sebelah Sehun. Benar-benar cantik.
"Tidak usah mempedulikan Chanyeol hyung. Kau akan kuantar pulang sekarang, hyung. Masalah tteokbokki, nanti biar aku saja yang membelinya."
Sehun berkata sambil berjalan, mengambil barang-barang Baekhyun.
"Apa? Aku akan pulang hari ini? Lalu siapa yang akan menjaga Chanyeol?"
"Tidak usah khawatir, malam ini akan ada empat orang yang menjaga kamar Chanyeol. Dia pasti aman."
Ketika pria cantik itu yang menjawab pertanyaan Baekhyun, ia hanya bisa mematung. Suaranya lembut sekali.
Baekhyun tidak meresponnya, justru ia menatap pria itu dengan mulut yang sedikit terbuka. Terlewat kagum.
"Hm, Baekhyun-ssi?" Panggilan pria itu menyadarkan Baekhyun dari lamunannya.
"A-ah, baik." Jawab Baekhyun. Kemudian mengambil barang-barangnya dari tangan Sehun dan berjalan mendekati ranjang Chanyeol.
"Kau akan baik-baik saja kan? Kalau kau membutuhkan apa-apa, panggil saja penjaga di depan kamarmu itu dengan sangat kencang. Oh, atau kalau kau tidak bisa berteriak, kau bisa menelepon mereka-"
"Aku bukan anak kecil. Aku sudah tau apa yang harus kulakukan."
"Dia hanya mengkhawatirkanmu, hyung." Sehun membela Baekhyun. Ia sendiri cukup bingung dengan sikap Chanyeol yang tiba-tiba menjadi dingin.
"Lebih baik kalian segera pergi."
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
"Baek hyung, kita tidak akan langsung pulang."
Sehun berbicara sambil menyetir mobilnya. Pria cantik tadi duduk di sebelah kursi kemudi dan Baekhyun duduk di kursi belakang.
"Lalu kita akan kemana?"
"Ke tempat yang kau inginkan."
Baekhyun mengerutkan alisnya, tidak mengerti dengan maksud Sehun.
"Kau ingin kita pergi kemana?"
Seperti bisa membaca pikiran Baekhyun, Sehun langsung bertanya pada intinya.
"Tentu saja pulang. Memang kemana lagi?"
"Perintahkan anak buahmu, siapapun itu untuk menemaniku. Aku tidak masalah dengan itu, yang terpenting aku bisa menghirup udara segar." Sehun berkata, mengutip perkataan Baekhyun pada Chanyeol pagi itu.
Baekhyun yang tidak asing dengan kalimat itu, semakin mengerutkan alisnya. Kemudian ia teringat.
"Hey! Darimana kau bisa tau kalimat itu?"
Sehun hanya terkekeh, "Apa kau pikir Chanyeol hyung benar-benar sedang tidur pagi tadi? Tidur adalah hal yang paling sulit dilakukannya. Apalagi ia sedang berada di tempat yang paling dibencinya, alias rumah sakit."
Baekhyun tertegun mendengar perkataan Sehun.
"A-apa? J-jadi Chanyeol mendengar semua perkataanku tadi?"
"Ya, begitulah."
Baekhyun memejamkan matanya dan mengerang kesal. Dia benar-benar mengungkapkan segala keluh kesahnya selama ini. Dan bodohnya ia berpikir Chanyeol benar-benar tidur.
"Tenang saja, Chanyeol hyung tidak marah padamu. Bahkan ia tertawa saat meneleponku dan menceritakannya tadi."
Baekhyun semakin mengerang. Sungguh memalukan.
Sehun hanya tertawa kecil melihat Baekhyun.
"Hey, kau belum memutuskan kita akan kemana."
"Apa aku benar-benar boleh menentukan pergi kemana?"
"Tentu saja. Bukankah itu yang kau inginkan? Tidak dikurung seperti binatang."
"Hm, baiklah. Aku ingin kita pergi ke taman hiburan. Sudah cukup lama aku tidak pergi ke taman hiburan."
"Baiklah. Kita pergi ke taman hiburan yang berada tidak jauh dari rumah saja."
"No problem."
Setelah menentukan tujuan mereka, terlihat pria cantik yang dari tadi berdiam diri itu mengotak-atik handphone nya dan mengirimkan sebuah pesan singkat pada seseorang.
'Taman hiburan di dekat kediaman Park.'
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
Setelah perjalanan yang terbilang panjang, mereka akhirnya tiba di taman hiburan. Baekhyun terlihat kegirangan seperti anak kecil dan berbicara tanpa henti sambil menunjuk-nunjuk setiap wahana bermain yang ada.
Mereka lalu berhenti dan duduk di sebuah kursi taman.
"Apa kalian mau ice cream?" Sehun menawarkan mereka berdua.
"Tentu!" Baekhyun dengan semangatnya mengiyakan pertanyaan Sehun.
"Baiklah, kalian tunggu disini sebentar. Aku akan membelinya. Tolong jaga dia."
Kalimat terakhir Sehun ditujukan pada pria cantik tadi, memintanya untuk menjaga Baekhyun.
Setelah Sehun berlalu pergi, suasana canggung menyelimuti keduanya.
"Ah, dari tadi aku belum memperkenalkan diriku. Perkenalkan, namaku Luhan."
Pria cantik itu menjulurkan tangannya sambil tersenyum manis, dan disambut tangan Baekhyun.
"Namaku Byun Baekhyun. Kau bisa panggil aku Baekhyun."
Luhan terkekeh, "Semua orang sudah tau namamu, Baekhyun-ssi. Siapa yang tidak tau orang yang pertama kali melunakkan Chanyeol ini."
Baekhyun hanya tersenyum canggung. 'Pertama kali melunakkan Chanyeol katanya.'
Tanpa disadari, ada yang memerhatikan mereka dari jauh.
'Bos, target terlihat. Tanpa pengawasan.'
'Bagus, lanjutkan.'
.
.
.
.
.
.
Mafia Boss and I
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain, Chanyeol masih pada posisi awalnya, membaca sebuah novel.
Tiba-tiba ponselnya bordering, nomor tidak dikenal meneleponnya.
Chanyeol mengerutkan dahinya sebelum mengangkat telfon itu.
"Halo?"
'Halo, Park. Lama tidak berjumpa.'
"Maaf, siapa anda?"
'Hahahahaha. Kau lupa dengan suaraku?'
Chanyeol semakin mengerutkan keningnya. Suara itu memang terdengar familiar, tapi ingatannya benar-benar tidak bisa mengingat pemilik suara itu.
'Aku masih tidak menyangka kau bisa membiarkan pria mungilmu berkeliaran begitu saja. Apa kau tidak tau betapa bahayanya dunia luar untuknya? Apalagi sekarang ia memiliki hubungan dengan seorang ketua mafia termuda Korea Selatan. Bukankah hal itu semakin memancing orang-orang untuk menjadikannya umpan?'
Chanyeol mencengkram erat ponselnya. Mengapa hal ini tidak terpikirkan olehnya? Saat ini posisi Baekhyun sangatlah rawan untuk dijadikan target karena ia adalah salah satu orang terdekat Chanyeol. Dan Chanyeol adalah ketua mafia paling dibenci geng mafia lain karena kesuksesannya.
"Siapa kau?!" Chanyeol membentak lawan bicaranya itu. Kini amarah dan kekhawatiran menjadi satu dalam dirinya.
'Hey, tidak usah panik. Byun kecilmu akan aman bila berada di tangan kami.'
"Jangan berani-berani kau menyentuhnya! Atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!"
'Hahahahaha, ingatlah kondisimu sekarang, Park. Kau terbaring lemah sambil membaca novel. Bagaimana bisa kau menyelamatkan Byun kecilmu?'
Chanyeol tersentak, matanya melihat sekeliling. Bagaimana orang ini bisa mengetahui bahwa ia sedang membaca novel? Ia pasti mengamatinya dengan suatu cara.
"Siapa kau dan apa maumu?!"
'Kau tidak perlu tau siapa aku. Tapi yang aku inginkan adalah Byun kecilmu untuk menjadi milikku.'
"Jangan menyebutnya dengan panggilan itu! Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya, bahkan sehelai rambut pun!"
'Tidak usah repot-repot. Anak buahku sudah berada beberapa langkah saja darinya. Dan temanmu si maniak komputer itu juga tidak terlihat. Benar-benar mangsa di depan mata. Hahahahaha.'
Chanyeol yang tadinya berbaring, langsung terduduk. Pikirannya bercampur aduk dan berusaha mengingat kemana perginya Baekhyun.
Taman hiburan!
'Jangan coba-coba mencabut infus di tanganmu dan menyusul Byun, Park. Ini bukan film-film perjuangan cinta. Serahkan saja dia padaku, dan aku tidak akan mengusikmu sedikitpun.'
Tiba-tiba kalimat itu menohok Chanyeol, 'Ini bukan film-film perjuangan cinta.'
'Oh, sepertinya anak buahku sudah berhasil mendapat mangsanya. Kalau begitu, senang berbisnis denganmu, Park Chanyeol.'
Belum sempat Chanyeol menjawab, telepon sudah terputus.
Chanyeol berteriak kesal. Tangannya memegang kedua sisi kepalanya, sambil memejamkan mata, ia berusaha keras mengingat suara dan kalimat familiar itu. Kalimat yang dulu sering dilontarkan padanya.
Ketika ingatan itu menyengat Chanyeol, rasa kaget, amarah, kekecewaan, dan semuanya bercampur menjadi satu.
"Wu Yifan!"
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
