Chapter 10

Shinobi Konoha by ^Jewon^

Naruto © Masashi kishimoto

[NaruxHina] ; Kurama/Kyuubi ; Sasuke

Genre : Adventure/Romance

Rated : T

WARNING : OOC , TYPO , EYD , DLL

SUMMARY :(New Summary) Kehidupan Naruto berubah saat mendengar berita akan adanya monster di dalam tubuh nya dengan berakhir di buru oleh Akatsuki. Hal itu menuntut Naruto untuk tidak berdiam diri demi keselamatan hidupnya dan kota di cintainya. Beruntung, dia menemukan 3 sahabat yang mau menemaninya dengan tulus. "Kalian bertiga akan mengguncang dunia"/"jaa ne".

Waktu yang ditunggu telah tiba, Ujian Chunin di depan mata. Para peserta dapat bernapas lega karena berhasil melewati tahap pertama dengan sukses.

Tahap kedua dimulai, para kelompok hanya harus memasuki hutan kematian untuk menemukan pasangan gulungan yang akan di berikan pada awal-awal. Dengan Anko-sensei sebagai pengawas.

Cukup mudah untuk Naruto, Sasuke dan Hinata mengetahui selak beluk Hutan yang di takuti itu dan tempat perkiraan para Shinobi beristirahat. Karena memang, hutan kematian adalah rumah kedua mereka-_-

"Waah.. Hinata. Kau cukup kenal dengan hutan ini ya?" Tanya Kiba.

"Guk guk" balas Akamaru.

"Ya begitulah" Hinata hanya tersenyum.

Tahap kedua berjalan cukup melelahkan. Beberapa masalah banyak terjadi dan cukup menyusahkan khususnya tim 7. Naruto dan Sasuke berusaha sekuat tenaga melawan Orochimaru, untunglah ular itu berhasil di usir tanpa terlalu melukai mereka.

Naruto sempat khawatir karena sepertinya ular itu mengincar Sasuke dan ingin mengigitnya. Sayangnya, Kurama tak bisa ikut untuk membantu mereka. Dan Tim 8, mereka hanya tidak beruntung harus melihat pembunuhan berdarah/? Di depan mereka. Akamaru, Kiba dan Shino bergidik ngeri melihat sang pelaku pembunuhan yang di selimuti aura mengerikan. Sedangkan untuk Hinata, dia merasa firasat buruk akan orang itu. Dia memang tak ingin berurusan dengan laki-laki yang memiliki sorot datar kebencian, walau awalnya Sasuke juga seperti dia, tapi kebencian ini bahkan lebih kuat dari Sasuke.

"Hinataaa-chaan. Kau sudah selesai" Teriak Naruto. Mereka berenam bertemu di menara tempat tujuan akhir.

"Yap"Jawab Hinata senang.

Wali kota 3 memberikan selamat kepada para peserta yang lolos dan juga memberi tahukan tentang tahap 3.

Mereka harus bertarung dengan acak. Beberapa peserta ujian chunin mengeluh karena stamina mereka yang masih drop.

"Aku harap kita bertarung, Naruto-kun Sasuke-kun"Ucap Hinata tiba-tiba.

Mereka yang sedang asik berdiri di tempat yang di sediakan sambil menunggu persiapan Ujian Chunin tahap 3 segera menoleh saat mendengar suara dingin dari Hinata. Untunglah hanya Sasuke dan Naruto yang mendengarnya karena memang mereka bertiga berdiri berdekatan.

"Eeeh? Kenapa kau ingin bertarung denganku" Naruto cemberut.

"Karena aku ingin menguji kekuatanku seberapa jauh" Ucap Hinata datar.

Naruto dan Sasuke bergidik ngeri. Jutsu lavender milik Hinata, walau terlihat indah tapi sangat mematikan.

"Dasar.. Kau kejam." Naruto mencubit kedua pipi gadis itu.

"Ekhem.. Sebaiknya kalian tidak berpacaran disini, Naruto Hinata" Ucap Kurenai.

"Ehehe.. Gomen"Naruto nyengir dengan semburat tipis di pipinya. Dia menoleh ke arah Hinata yang malah terlihat biasa-biasa saja. Laki-laki itu mendengus kesal.

Hinata berdecak kesal karena ternyata Naruto melawan teman satu timnya, Kiba. Sedangkan laki-laki pirang itu hanya melemparkan wajah tersenyum tanpa dosa.

"Jangan sampai kalah, Dobe"

"Tentu saja, Teme"

Raven-Blonde itu bertukar tinju sebelum Naruto melompat ke tengah arena. Kiba dan Akamaru sudah menunggu nya di seberang sana.

"Jadi Hinata-chan, Kau akan menyemangati siapa?" Tanya Sasuke.

"Entahlah. Mungkin aku menyemangati pengawasnya saja" Hinata menyandarkan tangannya ke pagar besi.

"Aku tidak suka bercanda, Hinata-chan"Sasuke memijat keningnya kesal.

Pertempuran dua atau tiga orang itu berlangsung lambat. Naruto tak banyak menunjukkan jurus-jurus nya. Dia hanya menghindar dan sesekali melempar kunai atau mencoba dengan pukulan.

"Oy oy oy, Kenapa kau tidak serius, Naruto" Kiba dan Akamaru bersatu melawan Naruto.

"Sudahlah, Kiba" Ucap Naruto.

'Aku akan mengakhirinya' Batin laki-laki pirang itu. Dia sudah memikirkan jutsu apa yang akan digunakannya.

"Aku datang Narutoooo"

Pruuuuuttt...(?)

"E-eh?"

Mendadak ruangan itu menjadi sunyi senyap. Dengan gaya slow, Naruto menoleh ke arah Kiba yang sedang mengurus penciuman nya itu.

Hinata dan Sasuke terbelalak di atas.

"Arghhh.. Hidungku... Argh... Kusooo" Kiba tumbang sambil memegang hidungnya.

"Bravo, Naruto" Hinata berteriak. Dia bertepuk tangan sambil tertawa cekikikan.

"Astaga" Sasuke menutup wajahnya.

"Awas saja.." Geram Naruto menatap dua sahabatnya itu.

Pertarungan antara Naruto dan Kiba-Akamaru berakhir dengan em.. Rasa Malu Naruto.

"Itu tadi sangat hebat, Naruto-kun" Hinata terkikik geli.

"Benar" Sasuke hanya tersenyum tipis.

"Kalian kejam" Naruto bersidekap. Dia sedang kesal sekarang.

Pertarungan kembali berlanjut. Tibalah giliran Hinata melawan salah seorang Shinobi Suna.. Naruto menepuk bahu Hinata yang terdiam. Dia tersenyum memberi semangat.

"Apa kau akan mengeluarkan kekuatanmu?" Sasuke berbisik di telinga gadis itu.

"Entahlah" Jawab Hinata pelan.

Hinata dan Shinobi itu berhadapan. Mereka berdua saling bersiap dengan kuda masing-masing.

"Mulai"

Setelah aba-aba itu, Hinata langsung maju dengan cepat. Gadis itu terus melayangkan pukulan ke arah laki-laki bertubuh besar.

"Naruto" Panggil Sasuke.

"Ah.. Aku tau. Hinata-chan tidak mau memakai kekuatannya.."

'Dengan kekuatan segini pun. Aku pasti bisa mengalahkan nya shinobi ini'

Tak tinggal diam. Laki-laki bertubuh besar itu menahan pukulan Hinata. Dia mengepalkan tangan besarnya mempersiapkan pukulan ke arah Hinata yang berada di bawahnya.

"Hyat"

Hinata melompat dua kali. Akibat pukulan itu, tanah retak dan menimbulkan lubang yang cukup besar.

"Aku meremehkannya" Hinata mengelap keringatnya. Dia mulai merapalkan jutsu.

"Hohoho.. Hinata-chan akan mengeluarkannya" Ucap Naruto bersemangat.

"Hn.."

"Lavender release: thorn technique"

Kumpulan Lavender yang telah beralih menjadi duri tajam itu menghujam Shinobi besar. Dengan susah, Shinobi Suna melompat-lompat ke belakang yang menimbulkan guncangan besar.

'Aku sudah muak'

"Lavender Release: gale Lavender" Hinata menghentakkan tangannya kebawah . Perlahan tanah yang di pertarungan berubah menjadi bunga lavender. Tempat pertarungan layaknya seperti Lautan Lavender.

"Oy oy.. Apa ini" Sang pengawas berusaha untuk tidak tenggelam.

"Sebaiknya anda pergi" Hinata mengarahkan sebuah tangan terbuat dari Lavender dan menangkap tubuh pengawas membawanya keatas.

"Tempat ini telah menjadi daerah kekuasaanku. Sebaiknya kau menyerah sebelum tulang-tulang mu hancur." Jika terlihat, Kumpulan lavender itu seperti jutsu Gaara, yaitu pasir.

"Bunga ini memuakkan." Shinobi Suna itu terus menghalau kumpulan lavender di depannya dengan kunai.

"Jangan sakiti mereka jika tak ingin mereka meremukkan tulangmu"

Deg!

Shinobi itu tertarik ke dasar Lavender. Dia meronta-ronta tak bisa bernafas. Hinata hanya tersenyum sinis. Gadis berambut indigo pendek itu mengarahkan tangan kecilnya ke arah Shinobi yang tinggal tangan nya itu.

"Bum" Lirih Hinata.

Bum!

Ledakan terjadi dan perlahan lavender itu berubah kembali menjadi tanah. Pengawas yang di atas juga melompat turun dan berjalan ke arah shinobi yang berbaring di bawah.

'Dia masih hidup'

"Tenang saja, aku tak membunuhnya. Hanya saja dia tak akan bisa menjadi shinobi lagi." Ucap Hinata pelan tapi tetap bisa di dengar oleh seluruh orang yang menonton.

"Hi-hinata mengerikan.."Ino bergidik ngeri. Sakura mengangguk mengiyakan.

"Aku tak akan berani melawan nya. Bisa-bisa seluruh syaraf ku hancur"Naruto mengusap tengkuknya, takut.

"Hn" Sasuke mengangguk datar. Walau tak ayal wajah uchiha nya menyiratkan ketakutan.

"Huuh~ padahal aku berharap bisa melawan musuh yang mengerikan."Hinata manyun.

"Kau saja sudah menjadi lawan yang mengerikan, Hinata-chan"Sahut Naruto horror

Hinata hanya tersenyum polos.

Ujian berjalan mulus sampai peserta terakhir. Kalah dan menang memang hal yang biasa tapi bagi seorang Shinobi, kalah adalah suatu yang tak bisa diungkapkan terlebih masa ujian seperti ini.

Tapi shinobi sejati adalah orang yang bisa menerima kekalahan nya dan menjadikannya sebagai tolak ukur akan kekuatan. Karena mereka adalah penjaga kota ini, Kota Konoha yang damai ini. Mereka harus kuat demi kota tercinta.

1 Bulan kemudian~

Setelah waktu yang panjang. Ujian tahap terakhir diadakan. Penentuan akan kelulusan ke arah Chunin. Waktu yang cukup lama untuk latihan keras dan menyusun strategi baru guna menghadapi musuh yang baru juga.

Naruto, Hinata, dan Sasuke memilih latihan sendiri-sendiri. Alasan nya sederhana, mereka hanya ingin melihat sejauh mana kehebatan masing-masing nanti di area pertarungan. Lagipula 3 orang ini telah menandai siapa-siapa saja yang harus di waspadai nanti.

"Kalian sudah merasa kuat, Naruto-kun Sasuke-kun?" Hinata melirik 2 orang yang berdiri di sampingnya.

"Tentu saja" "hn"

"Yosh! Aku harap bisa melawan diantara kalian berdua" ucap Hinata bersemangat. Dia tersenyum senang.

'Aku harap tidak' batin dua laki-laki itu.

"Setelah ini, kalian mau ikut aku?"

"Hn kemana?" "Kau mau kemana, Naruto-kun."

"Kita akan pergi dari sini."

"Hah? Kenapa?"

Naruto hanya tersenyum. Dia memandang jauh ke arah awan cerah.

'Karena aku merasa jika tetap disini, hanya akan membahayakan yang lain'

"Naruto-kun" Hinata memegang pundak laki-laki itu.

"Tidak. Tidak jadi." Naruto nyengir.

'Naruto' Sasuke memandang diam sahabatnya itu.

Ujian final akhirnya dimulai. Peserta pertama, Naruto versus Neji. Dan lagi-lagi gadis indigo ini hanya bisa mengerut kesal.

"Mou~ kenapa semua tidak berpihak padaku." Hinata melipat tangan nya kesal.

"Sudahlah, Hinata-chan"

Tbc