My Destiny
Jaehyun x Taeyong
NCT
.
.
Pernikahan Jaehyun dan Taeyong akan berlangsung esok hari. Segala persiapan sudah matang dan hanya menunggu hari H-nya saja. Hari ini Jaehyun tidak diperkenankan bertemu dengan Taeyong. Sebenarnya Jaehyun sangat keberatan, ia tak bisa jika sehari tak bertemu dengan Taeyong tapi ia juga tidak bisa berbuat apapun jika kedua keluarga sudah berkeinginan seperti itu. Dengan alasan agar nanti saat hari H keduanya saling merindu satu sama lain. Ini sangat tidak mengenakan menurut Jaehyun. Setiap hari bertemu aja Jaehyun selalu rindu pada Taeyong apalagi ia tidak dipertemukan oleh Taeyong walau sehari saja. Sungguh sangat menyiksa.
Dan karena Jaehyun dan Taeyong tidak bisa bertemu, Jaehyun selalu menghubungi Taeyong lewat telepon. Menelepon dan mengirim pesan pada Taeyong. Hanya menanyakan 'Kau sedang apa?' 'Kau sudah makan apa belum?' atau 'Aku sangat rindu padamu' . Jaehyun menanyakannya setiap saat. Tapi Taeyong tidak merasa keberatan tentu saja, ia hanya perlu menjawab 'Aku sedang membantu Ibu menyiapkan keperluan untuk besok' 'Aku sudah makan' dan 'Aku juga rindu padamu'
Dan sebenarnya Taeyong juga merasa keberatan jika tidak bertemu dengan Jaehyun, ia merasa sangat bosan jika harus seharian dirumah. Taeyong perlu melakukan sesuatu, tapi apa? Lalu terbesit keinginan Taeyong untuk pergi ke salon, ia ingin agar wajahnya tidak terlihat kusam saat pernikahannya besok. Lalu Taeyong meminta ijin pada Ayah dan Ibunya untuk pergi ke salon. Awalnya Nyonya Lee menawarkan untuk menemaninya namun Taeyong keberatan dengan alasan Ibunya pasti bosan menunggunya. Juga karena Nyonya Lee belum selesai merapihkan barang-barang untuk keperluan besok, untuk itu Taeyong hanya seorang diri pergi ke salon. Taeyong menghubungi penata rias untuk hari pernikahannya besok dan membuat janji dengannya. Taeyong hanya diminta untuk datang ke salon dimana ia bekerja.
.
.
Tak lama kemudian Taeyong sampai di salon yang dimaksud si penata rias. Dengan sedikit gugup ia lalu mengatakan pada seseorang yang menyambutnya didepan pintu jika ia sudah ada janji dengan penata rias bernama Choi Minho, lalu Taeyong diminta untuk menunggu sebentar sementara orang tersebut memangilnya. Dan tak lama kemudian Choi Minho pun datang.
"Taeyong-ssi, apa kabar?" tanya ramah si penata rias.
"Bai-k" jawab Taeyong sedikit canggung.
"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Minho lagi.
"Aku hanya ingin membersihkan diri. Mmm,, maksudku agar kulitku tidak terlihat kusam. Jadi-" ucap Taeyong malu-malu.
"Ah aku mengerti. Mari silahkan ikut denganku" ucap Minho. Dan Taeyong pun mengikuti Minho kedalam salon.
Selama satu jam lebih Minho melakukan perawatan pada wajah Taeyong. Apa pun ia lakukan agar wajah Taeyong terlihat lebih bersih dan bersinar. Sesungguhnya kulit wajah Taeyong sudah bersih tanpa harus dibersihkan lagi. Berkali-kali Minho memuji kulit wajah Taeyong, membuat Taeyong tersipu malu.
"Sedikit lagi selesai, hanya tinggal dibersihkan tahap akhir saja" ucap Minho.
Taeyong hanya mengangguk, membuat Minho tersenyum.
Dan tak lama kemudian perawatan pun selesai.
"Sudah selesai, Taeyong-ssi" ucap Minho.
Taeyong lalu melihat pantulan dirinya dicermin dihadapannya. Wajahnya terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Taeyong terlihat puas. Minho pun tersenyum melihat Taeyong yang tampak senang, lalu sebuah ide terlintas dibenaknya.
"Taeyong-ssi, bagaimana kalau aku juga merubah warna rambutmu?" ucap Minho menatap Taeyong dari cermin.
"Merubah warna rambutku?" tanya Taeyong sedikit bingung.
Minho mengangguk antusias. "Agar kau terlihat lebih fresh dan tampil beda" ucap Minho menambahkan.
"Aku tidak yakin"ucap Taeyong ragu.
"Calon suamimu pasti akan senang, dia pasti akan suka dengan warna rambut barumu nanti?" ucap Minho.
"Apa ada warna rambut yang cocok untukku?" tanya Taeyong.
Minho lalu menunjukkan sebuah foto model disebuah majalah. Lalu tersenyum pada Taeyong.
"Warna ini" ucap Minho.
Taeyong sedikit ragu, tapi tak dipungkiri ia juga suka dengan warna rambut pria di majalah itu.
"Baiklah" ucap Taeyong akhirnya.
Minho tersenyum lebar mendengar jawaban Taeyong. Ia lalu segera merubah warna rambut Taeyong seperti warna rambut pria di majalah yang menurutnya akan sangat cocok untuk Taeyong.
Setelah beberapa jam dan melalui beberapa tahap, akhirnya proses pewarnaan pada rambut Taeyong selesai. Taeyong menatap penampilan barunya dicermin.
"Apa kau pikir nanti Jaehyun akan suka, Minho-ssi?" tanya Taeyong pada Minho tanpa melepas pandangannya pada dirinya dicermin.
"Jaehyun pasti akan suka, calon suamimu dan juga para tamu undangan pasti akan terkesima melihat penampilan barumu. Kau sangat mempesona Taeyong-ssi" ucap Minho dan merasa sangat puas dengan hasil kerjanya.
"Apa kau yakin, Minho-ssi?" tanya Taeyong ragu.
"Aku sangat yakin" ucap Minho sambil tersenyum pada Taeyong.
Taeyong membalas senyum Minho dan sekali lagi menatap penampilan barunya dicermin. 'Semoga Jaehyun suka dengan rambut baruku' batin Taeyong.
.
.
Hari sudah sore saat Taeyong sampai dirumah, ia tak mengira ternyata butuh waktu lama untuk melakukan perawatan di salon, jika bukan karena hari pernikahannya besok mungkin ia enggan berlama-lama dan menghabiskan banyak waktu di salon.
"Aku pulang-" ucap Taeyong saat memasuki rumah.
"Tae, kenapa lama sek-" ucapan Nyonya Lee terhenti saat ia melihat Taeyong.
"Ibu kenapa?" tanya Taeyong bingung tiba-tiba mata Ibunya membulat melihatnya.
"Tae, rambut-mu?" ucap Nyonya Lee.
Taeyong yang mengerti Ibunya pasti terkejut melihat rambut barunya pun tersenyum ragu "Bagaimana penampilanku, Bu?" tanya Taeyong.
"Ba-gus" ucap Nyonya Lee tersenyum.
"Sungguh, Bu. Apa menurut Ibu, Jaehyun akan suka?" tanya Taeyong.
"Ibu rasa Jaehyun pasti suka sekali, Tae" ucap Nyonya Lee.
"Apa menurut Ibu begitu?" tanya Taeyong lagi. Tampaknya ia masih ragu dengan penampilannya.
Nyonya Lee mengangguk "Kalau kau tak percaya, kita tanya Ayahmu. Ayaaahh-" Nyonya Lee sedikit berteriak memanggil suaminya.
Tuan Lee yang dipanggil pun mendatangi mereka "Ada apa sih, Bu. Kenapa berteriak?" ucap Tuan Lee.
"Ayah lihat rambut baru Taeyong. Bagus kan?" tanya Nyonya Lee.
Tuan Lee melihat Taeyong dan matanya sedikit membulat melihat Taeyong.
"Apa ini Taeyong-nya Ayah?" tanya Tuan Lee masih menatap Taeyong.
"Tentu saja ini Taeyong-nya Ayah. Taeyong-nya kita" ucap Nyonya Lee.
"Wah, Tae. Kau berbeda sekali. Kau kelihatan lebih menawan. Ayah sampai tak mengenalimu" ucap Tuan Lee.
Taeyong yang mendengar Ayahnya memujinya langsung tersipu malu.
"Ayah bisa saja. Sudah,, aku mau masuk ke kamar" ucap Taeyong sambil berjalan menuju kamarnya. Tapi ia berhenti lagi "Ayah dan Ibu jangan mengatakan apa pun pada Jaehyun ya. Sampai dia melihatnya sendiri besok. Aku ingin memberi kejutan padanya" ucap Taeyong pada Ayah dan Ibunya.
Tuan dan Nyonya Lee pun menggangguk. Lalu Taeyong kembali berjalan menuju kamarnya.
.
.
Malam hari saat Taeyong sedang mempersiapkan keperluannya untuk hari pernikahannya besok, handphonenya berbunyi, sebuah panggilan masuk yang Taeyong sudah yakin pasti Jaehyun yang meneleponnya. Taeyong pun tersenyum sambil mengangkat telepon.
"Hallo, Jaehyun" ucap Taeyong lembut.
"Hallo, sayang. Kau sedang apa?" tanya Jaehyun diseberang sana.
"Aku sedang membereskan barang-barangku" jawab Taeyong.
"Kau belum tidur" tanya Jaehyun.
"Jaehyun, ini baru jam delapan. Masih terlalu sore untuk tidur" jawab Taeyong sedikit tertawa.
"Tapi besok kau harus bangun pagi-pagi sekali" ucap Jaehyun.
"Aku tau. Kau tenang saja. Aku tidak akan terlambat datang" ucap Taeyong tersenyum membayangkan pasti Jaehyun takut Taeyong akan terlambat datang.
"Sayang sekali aku tidak diijinkan menjemputmu" ucap Jaehyun sedih.
Taeyong tertawa lagi. "Sepertinya kau tidak sabar bertemu denganku ya" ucap Taeyong.
"Tentu saja aku sudah tidak sabar. Aku rindu sekali padamu, Tae. Sehari tidak bertemu denganmu rasanya hampir setahun" ucap Jaehyun.
"Kau berlebihan, Jaehyun" ucap Taeyong menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sungguh, Tae. Aku tidak berlebihan. Aku rindu sekali padamu. Memangnya kau tidak rindu padaku ya, Tae?" ucap Jaehyun.
"Tidak" jawab Taeyong cepat sambil tersenyum.
"Kau tega sekali, Tae. Masa kau tidak rindu pada kekasihmu yang tampan ini" ucap Jaehyun terdengar sedikit kecewa.
Taeyong malah tertawa "Iya iya aku juga rindu padamu" ucap Taeyong.
"Nah begitu" ucap Jaehyun senang. "Tae, bagaimana perasaanmu? Apa kau gugup?" tanya Jaehyun. Ia terdengar sangat serius menanyakan hal itu pada Taeyong.
"Sedikit" jawab Taeyong.
"Hanya sedikit?" tanya Jaehyun.
"Iyaa hanya sedikit. Karena aku lebih merasakan perasaan tak sabar untuk menikah denganmu" ucap Taeyong.
"Aku juga tak sabar untuk menikahimu, Tae. Tak sabar untuk menjadikanmu milikku untuk selamanya" ucap Jaehyun.
"Aku juga, Jaehyun" ucap Taeyong. Membuat Jaehyun tersenyum diseberang sana.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur Tae" ucap Jaehyun.
"Aku belum selesai membereskan barang-barang. Sedikit lagi. Setelah itu aku tidur. Kau tidur saja duluan, Jaehyun" ucap Taeyong.
"Ya sudah aku tidur duluan ya, kau jangan tidur malam-malam ya sayang. Besok kita harus bangun pagi" ucap Jaehyun.
"Iyaa sebentar lagi aku tidur" ucap Taeyong.
"Selamat malam, sayang. Tidur yang nyenyak yaa. Sampai ketemu besok di altar" ucap Jaehyun lembut.
"Semalam malam, Jaehyun. Kau juga tidur yang nyenyak. Aku mencintaimu" ucap Taeyong.
"Aku juga sangat mencintaimu, Tae" ucap Jaehyun.
Lalu mereka pun memutuskan hubungan telepon. Taeyong tersenyum lalu menarik napas sebelum melanjutkan membereskan barang-barangnya. Tidak lama kemudian Taeyong selesai dan segera tidur agar ia dapat bangun pagi.
.
.
Keesokannya Nyonya Lee membangunkan Taeyong pagi sekali. Meski masih sedikit mengantuk, Taeyong sama sekali tidak keberatan untuk dibangunkan. Hari ini ia sangat bersemangat, hari ini adalah hari pernikahannya dengan Jaehyun. Dan ia juga tidak sabar untuk bertemu dengan Jaehyun dan memberi Jaehyun kejutan.
Setelah mandi dan berpakaian rapih serta mengenakan penutup kapala, Taeyong keluar kamar. Tuan dan Nyonya Lee sudah menunggunya untuk sarapan bersama
"Selamat pagi, Tae" ucap Tuan dan Nyonya Lee.
"Selamat pagi Ayah, selamat pagi Ibu?" ucap Taeyong tersenyum.
"Hari ini kau kelihatan bersemangat sekali, Tae?" tanya Nyonya Lee.
"Ibu bagaimana sih, hari ini kan Taeyong akan menikah. Tentu saja ia sangat bersemangat" ucap Tuan Lee.
Taeyong hanya tersenyum menanggapi jawaban Ayahnya.
"Tae, sebentar lagi Tuan Kim akan menjemput kita. Ayo cepat kau sarapan" ucap Nyonya Lee.
Taeyong mengangguk lalu mereka pun mulai sarapan.
.
.
Dan tak lama setelah mereka selesai sarapan, Tuan Kim pun datang menjemput lalu mengantar keluarga Lee menuju sebuah hotel mewah tempat berlangsungnya pernikahan. Sesampainya di hotel tersebut, Taeyong dan orang tuanya beristirahat di kamar yang telah disewa oleh keluarga Jung.
Saat Taeyong sedang menunggu didalam kamar seorang diri, seseorang mengetuk pintu. Lalu Taeyong membukanya.
"Minho-ssi, silahkan masuk" sapa Taeyong saat ia membuka pintu kamar dan melihat siapa yang datang.
"Taeyong-ssi, bagaimana kabarmu?" tanya si penata rias sambil masuk kedalam kamar bersama seorang asistennya.
"Baik" jawab Taeyong tersenyum.
"Kelihatan sekali dari wajahmu, kau sepertinya sangat bersemangat sekali hari ini" ucap Minho menggoda Taeyong.
Taeyong hanya tersenyum. Lalu Taeyong duduk disamping tempat tidur melihat Minho dan asistennya menyiapkan peralatan make-up dan lain-lain.
Saat Taeyong sedang melihat Minho dan asistennya yang sedang sibuk. Suara ketukan pintu kembali terdengar, Taeyong kembali membukanya.
"Taeyong-ssiii" suara sedikit nyaring menyapa Taeyong. Tak perlu bertanya itu suara siapa. Siapa lagi kalo bukan Heenim-ssi si perancang baju pengantinnya
Taeyong tersenyum padanya dan menyuruhnya masuk. Heenim lalu masuk kedalam kamar, ia terlihat membawa baju yang akan dipakai Taeyong.
"Taeyong-ssi kau terlihat lebih manis dengan rambut barumu" ucap Heenim sambil meletakkan baju pengantin Taeyong diatas tempat tidur.
"Terima kasih, Minho-ssi yang merubah warna rambutku" ucap Taeyong tersipu sambil menunjuk si penata rias.
Minho dan Heenim tertawa bersama.
"Taeyong-ssi kau sudah siap untuk dimake-up?" tanya Minho kemudian.
Taeyong pun mengangguk, lalu ia duduk dikursi yang sudah disiapkan.
"Minho-ssi, jangan terlalu tebal ya, aku tidak suka" ucap Taeyong pada Minho.
Minho mengangguk mengerti, "Hanya bedak dan sedikit lipstik agar kau tidak terlihat pucat" ucap Minho. "Dan aku akan sedikit merapihkan rambutmu" tambah Minho.
Taeyong mengangguk dan tersenyum. Diliriknya Heenim yang sedang duduk disamping tempat tidur dan sedang menatapnya. Membuat Taeyong sedikit malu.
Satu jam lebih Taeyong selesai didandani, ia juga sudah mengenakan baju pengantinnya yang dibawakan oleh Heenim. Penampilan Taeyong sangat berbeda dari biasanya. Membuat Heenim dan Minho puas akan penampilan Taeyong. Baju pengantin yang dikenakan Taeyong sangat pas ditubuhnya, wajah dan tatanan rambut Taeyong menambah kesempurnaan penampilan Taeyong.
Saat Taeyong sedang melihat penampilannya dicermin, Ibunya pun datang. "Taeyong sayang, kau sangat tampan sekali" ucap Nyonya Lee saat ia masuk kedalam kamar Taeyong dan melihat penampilan Taeyong.
Nyonya Lee memeluk Taeyong erat, matanya berkaca-kaca. Nyonya Lee sangat terharu sekaligus bahagia karena akhirnya Taeyong akan menikah.
"Ibu jangan menangis, nanti make-up Ibu luntur" ucap Taeyong menggoda Ibunya.
Nyonya Lee berhenti menangis, ia sedikit menguap air matanya. "Ibu bahagia sekali, Tae" ucap Nyonya Lee, tangannya menyentuh pipi Taeyong.
"Aku juga bahagia, Ibu. Terima kasih sudah menemaniku sampai saat ini" ucap Taeyong sedikit lirih. Ia juga sangat terharu. Namun ia menahan agar ia tidak ikut menangis.
"Ayah dimana, Bu?" tanya Taeyong yang baru menyadari Ayahnya tidak ada.
"Ayah sedang menemani keluarga Jung" ucap Nyonya Lee.
"Mereka sudah datang?" tanya Taeyong.
"Sudah sejak dua puluh menit yang lalu" ucap Nyonya Lee.
"Ibu sudah bertemu dengan Jaehyun?" tanya Taeyong antusias.
"Sudah" jawab Ibunya sambil mengangguk. "Dia sangat tampan sekali" tambah Ibunya sambil tersenyum.
Taeyong hanya tersenyum mendengar perkataan Ibunya. Ia sudah tak sabar ingin melihat Jaehyun.
Tak lama kemudian Tuan Lee datang.
"Taeyong, acaranya akan segera dimulai. Apa kau sudah siap?" ucap Tuan Lee.
Taeyong melirik jam ditangannya. Jam pemberian Jaehyun menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit, Taeyong menarik napas panjang. Ia sudah siap. Ia sudah sangat siap. Taeyong mengangguk pada Ayahnya.
"Ibu, sebaiknya kembali ke tempat acara. Ayah yang akan menemani Taeyong" ucap Tuan Lee.
Nyonya Lee mengangguk, dan sebelum pergi Nyonya Lee mencium pipi Taeyong. "Kau tampan sekali, sayang" ucap Nyonya Lee memuji Taeyong lagi.
"Ibu juga sangat cantik" ucap Taeyong tersenyum pada Nyonya Lee sebelum Nyonya Lee pergi.
Heenim dan Minho merapihkan sedikit pakaian dan rambut Taeyong sambil memberi semangat padanya. Taeyong kembali menarik napas sebelum menggandeng tangan Ayahnya. Lalu mereka berjalan menuju aula tempat acara pernikahan berlangsung.
Suara piano tanda acara akan segera dimulai terdengar saat Taeyong dan Tuan Lee mendekati pintu masuk. Tuan Lee mendekap erat tangan Taeyong dan mereka mulai berjalan memasuki aula. Semua mata tertuju pada Taeyong. Dan semua tampak terkesima melihat Taeyong. Membuat Taeyong gugup, jantungnya tiba-tiba berdebar kencang. Ia sudah menahan agar ia tidak merasa gugup namun karena semua orang memandangnya ia menjadi sangat gugup dan malu.
"Ayah, jangan lepas tanganku" bisik Taeyong pada Ayahnya.
"Tidak, Tae" ucap Tuan Lee pelan sambil mengusap punggung tangan Taeyong. Tuan Lee tau Taeyong sangat gugup.
Tuan Lee dan Taeyong masih berjalan pelan menuju altar, dapat Taeyong liat teman-temannya berada diantara tamu undangan. Sahabatnya, Doyoung bersama kekasihnya Moon Taeil. Teman kerjanya Hansol, paman Choi dan teman-teman yang lain. Mereka semua tersenyum bahagia. Dan yang paling Taeyong lihat jelas adalah Jaehyun. Jaehyun berdiri didepan altar, menunggunya. Taeyong juga dapat melihat ekspresi terkejut dari wajah Jaehyun. Mulut Jaehyun sedikit terbuka. Pasti karena melihat penampilan baru Taeyong. Namun Taeyong tak bisa menebak apakah Jaehyun suka atau tidak dengan rambut barunya yang berwarna pink ini. Taeyong hanya melihat Jaehyun tak berhenti menatapnya. Tak berhenti menatapnya sampai ia berada didepan Jaehyun.
Jaehyun menatap dan tersenyum pada Taeyong, lalu Tuan Lee melepaskan tangan Taeyong dan memberinya pada Jaehyun. Masih dengan senyumannya Jaehyun menerima tangan Taeyong lalu digenggamnya erat. Lalu keduanya menghadap ke arah pendeta untuk mengucapkan janji pernikahan.
Musik pun berhenti saat pendeta akan mulai berbicara. Para tamu undangan yang berdiri pun segera duduk.
"Jaehyun-ssi, Taeyong-ssi. Apa kalian siap mengucapkan janji pernikahan?" tanya pendeta pada Jaehyun dan Taeyong.
"Kami siap" jawab Jaehyun dan Taeyong. Taeyong kembali menarik napas, Jaehyun yang melihatnya lalu menatap Taeyong sambil tersenyum dan mengusap-usap punggung tangan Taeyong yang digenggamnya.
"Jung Jaehyun-ssi, apakah kau bersedia menerima Lee Taeyong-ssi sebagai pasangan hidupmu, disaat susah atau pun senang?" tanya pendeta pada Jaehyun.
"Aku bersedia" jawab Jaehyun lantang.
"Lee Taeyong-ssi, apakah kau bersedia menerima Jung Jaehyun-ssi sebagai pasangan hidupmu, disaat susah atau pun senang?" tanya pendeta pada Taeyong.
"Aku bersedia" jawab Taeyong yakin.
"Silahkan kalian pasangkan cincin pernikahan pada pasangan kalian" ucap pendeta.
Lalu Jaehyun memasangkan cincin pada Taeyong dan Taeyong memasangkan cincin pada Jaehyun.
"Dengan ini saya nyatakan kalian resmi sebagai pasangan hidup. Kalian boleh mencium pasangan kalian" ucap pendeta.
Lalu Jaehyun dan Taeyong berhadapan, mereka saling tersenyum satu sama lain. Tangan kiri Jaehyun menarik pinggang Taeyong pelan dan tangan kanannya menyentuh pipi Taeyong, membawanya mendekati wajahnya. Lalu Jaehyun mencium bibir Taeyong dan Taeyong pun membalas ciuman Jaehyun. Kedua tangannya ia letakkan didepan dada Jaehyun. Mereka terus berciuman sampai mereka mendengar suara tepuk tangan dari para tamu undangan. Yang membuat mereka tersadar, mereka berciuman didepan orang banyak.
Jaehyun lalu melepas ciumannya, mereka lalu berbalik arah menghadap para tamu undangan. Jaehyun mendekap pinggang Taeyong. Mereka tersenyum bahagia. Para tamu undangan juga terlihat bahagia. Nyonya Jung dan Nyonya Lee saling berpelukan, mata mereka terlihat berkaca-kaca. Mereka menangis bahagia.
.
Setelah upacara janji suci selesai lalu dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan. Jaehyun dan Taeyong tampak berbaur dengan para tamu undangan, semua tamu memberi ucapan selamat pada mereka. Tak terkecuali sahabat Taeyong, Doyoung yang datang bersama kekasihnya Taeil.
"Taeyong selamat, aku ikut bahagia untukmu" ucap Doyoung sambil memeluk Taeyong.
"Terima kasih, Young" ucap Taeyong. "Kapan kalian akan menyusul?" tanya Taeyong tiba-tiba membuat Doyoung sedikit terkejut.
Doyoung lalu melirik kekasihnya, "Tanyakan saja pada, Taeil hyung" jawab Doyoung.
Taeil yang disuruh menjawab pun sedikit gugup, "Secepatnya" jawab Taeil membuat Doyoung tersenyum. Dan semua ikut tersenyum.
Setelah itu terdengar musik pelan mengalun, membuat para tamu undangan berdansa pelan mengikuti musik.
"Hyung, kau mau dansa?" tanya Doyoung pada Taeil, kekasihnya. Lalu Taeil pun mengangguk dan mereka pergi meninggalkan Jaehyun dan Taeyong untuk berdansa.
Jaehyun lalu mendekap pinggang Taeyong lagi, membawanya mendekat pada Jaehyun. Lalu Taeyong melingkarkan tangannya pada leher Jaehyun. Mereka berdua saling tersenyum.
"Kapan kau mengganti warna rambutmu?" tanya Jaehyun sambil menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata indah Taeyong.
"Kemarin" jawab Taeyong tersenyum.
"Kenapa kau tak katakan padaku?" tanya Jaehyun lagi.
"Aku sengaja, aku ingin memberi kejutan padamu" ucap Taeyong masih tersenyum.
"Dan kau berhasil melakukannya, kau membuatku sangat terkejut" ucap Jaehyun balas tersenyum.
"Kau suka?" tanya Taeyong.
"Sangat, aku sangat menyukainya. Kau jadi semakin cantik" ucap Jaehyun sambil membelai pipi Taeyong.
"Aku laki-laki Jaehyun, harusnya kau bilang aku tampan" protes Taeyong sambil memajukan bibirnya.
"Tapi kau cantik. Dimataku kau sangat cantik" ucap Jaehyun menggoda Taeyong.
Taeyong yang tidak terima disebut cantik hanya bisa merengut, bibirnya maju lima senti. Jaehyun yang melihat Taeyong merengut malah tertawa, lalu ia mengecup bibir Taeyong.
"Tae, apa kau bahagia?" tanya Jaehyun tiba-tiba.
"Tentu saja aku sangat bahagia, kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau juga bahagia, Jaehyun?" Taeyong balik bertanya.
"Aku sangat sangat bahagia. Ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku, Tae. Dan kau lah sumber kebahagiaanku. Terima kasih kau mau menikah denganku. Aku tak tau bagaimana hidupku, jika kau menolak menikah denganku waktu itu" ucap Jaehyun.
Taeyong teringat kembali hari dimana ia pertama kali bertemu dengan Jaehyun.
"Saat itu aku merasa yakin jika kau akan membahagiakan hidupku, karena itu aku menerima lamaranmu" ucap Taeyong.
"Tapi saat itu kau belum jatuh cinta padaku. Apa yang membuatmu sangat yakin?" tanya Jaehyun.
"Aku bisa melihatnya dari matamu. Aku bisa melihat kau sungguh-sungguh mencintaiku. Dan akan membahagiakan aku dan juga keluargaku" jawab Taeyong.
"Aku memang sungguh mencintaimu, Tae. Saat pertama aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta dan ingin kau menjadi milikku" ucap Jaehyun.
"Aku sudah jadi milikmu, Jaehyun" ucap Taeyong tersenyum.
"Milikku selamanya" ucap Jaehyun sambil mendekap erat Taeyong. Lalu mencium bibir Taeyong dengan lembut.
Taeyong balas mencium bibir Jaehyun. Mereka terus saja berciuman tanpa henti dan semakin dalam dan mereka tidak perduli dengan orang-orang disekitar yang memandang kearah mereka. Bahkan beberapa tamu undangan mengabadikan moment bahagia itu.
.
.
Pesta pernikahan Jaehyun dan Taeyong berlangsung sangat meriah, semua tamu undangan sangat menikmatinya. Mereka menyantap hidangan yang telah disediakan, berdansa dan tertawa. Mereka ikut larut dalam kebahagian Jaehyun, Taeyong dan juga keluarga mereka. Keluarga Jung dan Keluarga Lee. Mereka menjadi satu keluarga sekarang. Taeyong dapat melihat Ayah dan Ibunya tertawa bahagia bersama Keluarga Jung dan tamu undangan. Kebahagiaan yang dulu jarang ia lihat. Bahkan sangat jarang. Dan semua berkat Jaehyun. Kehadiran Jaehyun telah merubah hidupnya dan juga hidup keluarganya.
"Terima kasih, Jaehyun" ucap Taeyong mendekap erat Jaehyun.
.
Kau adalah takdirku.
.
.
.
TBC
.
.
.
Fiuuh selesai juga chapter ini, setelah cukup lama. Maaf yaa.. Maaf juga kalau ceritanya ga bagus.. Huhuhu.. :"
Ditunggu reviewnya yaaa...
See you next chapter~~~ \^^/
