THE LEGENDIARY OF KORRA
.
Disclaimer: Based on Twilight by Stephenie Meyer. Not closely related with the saga. Spin-off of fanfic The Another Black
.
Spring 2012.
.
Korra POV
.
.
10. Gemetar
Wednesday, February 27, 2013
5:46 PM
.
.
Benar rupanya pertimbangan Alfaku. Pertemananku dengan Collin sangat menguntungkan.
Terus terang aku sangat menanti-nantikan kesempatanku mengobrol dengan sepupuku itu. Dari Collin, keran pengetahuanku tentang suku Quileute ini, aku mendapatkan banyak hal. Silsilah keluargaku, misalnya. Dia anak yang ceria dan polos, sama sekali tidak mencurigai apapun dan dengan santainya menceritakan banyak hal, sama sekali tidak menduga upayaku untuk melakukan penetrasi pada pengetahuan sukunya. Bahkan di hari Jumat itu, di antara jeda waktu kosong ketika guru Geografi kami belum masuk, dia dengan senang hati menggambarkanku pohon silsilah keluarga Black.
Padahal ini baru hari kelima aku sekolah! Wow...
Aku memandang gambar Collin dengan mata berbinar-binar, merangkai teoriku sendiri.
Jika benar kekuatan shifter di suku ini ditentukan oleh sistem pewarisan gen, maka besar kemungkinan posisi pemimpin mereka juga ditentukan oleh darah. Seperti sistem monarki. Jika kakakku adalah Alfa, maka seharusnya akulah yang berada di urutan berikutnya dalam takhta. Mungkin aku semacam … yah … Putri Mahkota … dan si Collin ini, mungkin ia semacam Putra Mahkota. Kedudukannya di bawahku, tapi karena aku tidak ada di kawanan mereka, jadi mungkin si Collin inilah calon Alfa selanjutnya jika kakakku entah bagaimana melepas takhtanya. Itu kalau kakakku tidak cepat-cepat punya anak, tentu saja.
Kelihatannya kakakku tidak atau belum punya pacar. Sejauh ini, tidak pernah ada cewek yang main ke rumah. Tapi tentu saja aku tidak tahu, kakakku toh jarang di rumah. Apalagi malam hari…. Bisa jadi kan, pada hari-hari tertentu dia tidak lari-lari di hutan, ia bertandang ke rumah pacarnya? Lagipula aku baru seminggu di sini, jadi apalah yang kutahu tentang keluargaku?
Huh, bukan saatnya aku mengurusi itu.
Jujur saja, soal sistem hierarki mereka, ada yang membingungkanku di sini. Jika memang benar mereka menganut sistem monarki, aneh sekali…. Kalau begitu berarti urutan hierarki calon Alfa tidak ada hubungannya dengan skema kepemimpinan, karena nama wakil Alfa mereka, Seth Clearwater, tidak ada di manapun di gambar silsilah Collin. Begitu juga si Alfa yang dikalahkan itu, Sam Uley. Apa memang sistem kawanan mereka bukan sistem monarki? Darah hanya menentukan siapa yang berubah, misalnya, tapi urusan kepemimpinan adalah urusan kekuatan? Siapapun bisa jadi pemimpin asal dia yang paling kuat, bisa menentang dan mengalahkan Alfa yang menjabat?
Ya, itu mungkin saja. Buktinya ada si Sam Uley ini. Mungkin semula ia Alfa, lalu kakakku mengalahkannya dan mengambil alih kepemimpinan.
Ya. Seperti di suku serigala padang pasir….
Tapi biasanya sistem seperti itu hanya ada di kawanan yang jumlah anggotanya relatif kecil. Sistem seperti itu sangat tidak stabil, siapapun bisa membunuh siapapun untuk mengklaim posisi puncak, yang membuat jumlah anggota mereka segitu-segitu saja. Jarang ada pemimpin yang bisa bertahan lebih dari setahun. Dan kalau ia kalah, nasibnya ada di tangan penakluknya. Entah dibuang atau dibunuh….
Tapi Sam masih ada di sini. Dan kawanan mereka, pastinya, sangat besar….
Sangat besar kalau dua hari yang lalu saja aku merasakan tak kurang dari tujuh shifter di sekolah, ditambah kakakku, Seth, dan Sam, total sepuluh.
Sepuluh!
Oh, Tuhan….
Aku makin bingung, dan meminta Collin melanjutkan gambarnya dengan menambahkan ranting-ranting cabang.
"Kalau aku tahu siapa saja saudaraku, kan siapa tahu aku jadi punya makin banyak teman…" kataku merayu sambil tersenyum, meyakinkan diri untuk menambahkan siratan sedih. Yah, sedikit efek agar ia merasa simpati.
Collin kelihatannya termakan karena ia kembali menarik pensilnya menggores permukaan kertas itu. Bibirnya tak henti berceloteh, menjelaskan sambil menambahkan gosip-gosip panas di tempat-tempat tertentu.
Wow. Ternyata memang benar katanya. Si Collin ini memang punya link yang bagus. Link gosip, maksudnya.
Aku terpukau melihat nama-nama yang beberapa hari lalu ia sebutkan kini menjelma di kertas di hadapanku. Ben, Frida, Ben lagi, Peter, Brady… dan juga… Seth Clearwater.
Jadi ia sepupu tingkat keduaku dari pihak ayah. Ayahku bersepupu dengan ibunya. Otomatis dengan ibuku juga.
Bagaimana bisa dia jadi wakil Alfa, kalau begitu? Collin ini, berdasarkan hierarki, lebih berhak darinya.
Oh, mungkin memang benar struktur hierarki kepemimpinan mereka tidak ditentukan oleh hierarki darah. Kemarin saja aku lihat Brady memerintah Collin. Mungkin Brady atasan Cole. Padahal kulihat nama Brady di silsilah itu agak jauh dari letak 'galur utama', kalau mau dibilang begitu, alias nama-nama yang dekat posisinya dengan kakakku.
Tetap saja aku belum melihat nama Sam.
Aku ingin bertanya, tapi kutahan mati-matian. Tentu akan mencurigakan jika tiba-tiba aku bertanya, 'Sam Uley sepupuku juga bukan, ya?' Bagaimana jika jawabannya tidak? Lagipula, terlalu spesifik jika aku langsung menanyakan satu nama. Dan bukan sembarang nama, tapi nama sang Alfa lain. Pasti ia tahu tentang Sam, dan itu akan membuatnya makin curiga. Ia akan menanyakan alasannya dan aku tidak tahu bagaimana cara mengelak.
Ya, karena tak mungkin kubilang, 'Aku perlu tahu posisinya dalam hierarki karena aku perlu menilai kesempatannya jika ia berencana mengkhianati kakakku.'
Tidak mungkin juga, 'Aku perlu tahu silsilahnya dan kemurnian darahnya karena Alfaku mengincarnya.'
Dan pastinya bukan, 'Aku perlu tahu apa ia saudara dekatku atau bukan karena aku naksir padanya.' Nah, itu malah kebohongan yang aneh. Tambah lagi, ia sudah berumur dan sudah jelas punya istri.
Jadi tak ada cara lain, aku harus sabar dan menunggu kesempatan.
Aku kembali memusatkan perhatian pada gambar Collin, menelusuri tiap cabang dan ranting.
Yang membuatku kaget, tanpa ragu Collin juga memasukkan nama nenekku, Korey, dan ibuku, Ariana, dalam pohon itu. Mataku membelalak begitu menelusuri garis keluarga itu. Nenekku adalah putri tertua seseorang bernama Ephraim Black, nama yang tidak pernah kudengar keluar dari mulut ibuku sekali pun. Jujur saja selain soal nenek dan ayah, ibu tak banyak bercerita tentang keluarganya. Soal kakak dan adik-adik ayah, misalnya, atau soal kakekku. Suami kedua nenekku, maksudnya.
Nama gadis nenekku adalah Korey Black. Yang artinya, jika ia tidak mengadopsi nama suami keduanya, nama gadis ibuku adalah Ariana Black.
Jadi memang sedekat itulah hubungan ayah dan ibuku. Keduanya sama-sama Black…
Ya, tentunya itu hanya mungkin karena kami tidak tahu siapa kakekku yang sebenarnya.
"Collin, boleh aku bertanya?" kataku, menginterupsi sementara ia menggambar kotak-kotak keluarga batihnya, menuliskan namanya sendiri.
Ia menghentikan coretannya dan memandang padaku. "Ada apa?"
Aku menunjuk garis putus-putus di atas nama nenekku, Korey. "Mengapa kau memisahkan nama nenekku dari nama nenek buyutku, dan juga dari ketiga adiknya, William Black Sr., Mary, dan Jane?"
Ekspresi Collin tiba-tiba berubah tegang. Ia tak menjawab.
"Ada apa, Cole?" kejarku.
Ia menghela napas berat, lalu menjawab lamat-lamat, "Oh, Korra … tolong jangan tanya itu…"
Apa ini adalah rahasia? Ada hubungannya dengan kawanan?
Tapi kalau begitu aku harus mengejar hingga sedekat yang aku bisa.
"Apa karena nenekku dan ketiga adiknya adalah saudara lain-ibu?"
Ia diam dan kuanggap memang itu alasannya.
Huh, jadi bukan cuma ayahku pengkhianat dalam keluarga. Kakeknya juga punya anak dari wanita lain. Meski belum tentu kenyataannya begitu, bisa saja istri pertamanya meninggal setelah melahirkan anak pertamanya dan kemudian setelah itu ia menikah lagi, kan? Tapi bisa juga memang benar ia berselingkuh. Ya, kalau tidak begitu, untuk apa si Collin ini langsung diam?
Ha-ha-ha…. Mungkin memang benar kata Cassidy kemarin, keluarga Black memang penuh skandal.
Mendadak aku ingat sesuatu.
"Rabu kemarin … Cassidy bilang soal … kemungkinan nenek dan kakekku adalah kakak beradik. Apa benar?"
Wajah Collin tampak membiru. Kuputuskan itu mungkin semacam konfirmasi.
Aku terhenyak, agak shock. Namun sesaat kemudian aku kembali mendapatkan kesadaranku, dan kembali bicara lamat-lamat, dalam kalimat yang benar-benar disaputi kengerian, "Apa kau mau bilang, Cole, bahwa kakek dan nenekku saudara seayah? Dan jika demikian, maka … ayah dan ibuku bukan sepupu ... tapi … sama dengan mereka?"
Collin mendesah panjang. "Oh, Korra… Itu semua mungkin hanya isapan jempol. Kau tahu bagaimana jahatnya gosip yang bisa beredar di luar sana…"
"Tapi memang ada kemungkinan itu, kan?" aku hampir tak kuasa menyebut kata itu, "… Incest?"
"Oh, Korra … tidak ada yang siapapun tahu mengenai Granma Korey," ucapnya buru-buru. Nadanya terdengar khawatir, seakan ingin menghindari masalah.
'Granma Korey', huh? Apa Cole sedang berusaha menggaet hatiku? Menempatkan dirinya berada di kotak yang sama denganku, misalnya?
Huh, apapun usahanya, tak berpengaruh. Ia adalah cucu William Black Sr. juga, tapi dari seorang perempuan bernama Judith. Ia tidak ada hubungan dengan Korey ataupun Ariana. Ia tidak ada di posisiku kini. Ia tidak dan tidak akan pernah ada di posisi 'sejarah hitam keluarga'.
"Ibu selalu bilang ayahnya adalah orang asing, yang tak dikenal," ujarku menerawang, bagai bicara pada diri sendiri. "Nenekku berada di kota ketika mengandung Ibu, 1962, dan salah seorang pemuda hippie itu mungkin…"
Aku tak bisa menyelesaikan kalimatku.
Apa benar memang kakekku adalah seseorang yang sepenuhnya tidak dikenal? Atau kekasih Nenek yang ditemuinya di luar suku ketika ia mengembara, pengecut yang tidak mau ketika diajak pulang ke suku Nenek, meminta agar ayahnya sudi memberi restu?
Atau…
Ya, bisa jadi, bisa jadi Ibu mengarang indah. Atau malah Nenek yang berbohong…. Bahwa sebenarnya gosip itulah yang benar….
Ibu dari ibuku dan ayah dari ayahku adalah kakak beradik, itu benar. Tapi bagaimana jika ibuku, Ariana, bukan putri dari hippie asing tidak dikenal? Bagaimana jika ia sebenarnya adalah putri dari dua saudara tiri, Korey dan William Black Sr.? Dengan kemungkinan itu, ada alternatif … bahwa kakekku dari pihak ayah maupun ibu adalah orang yang sama….
Ayah dan ibu … juga … kakak beradik….
Tidak mungkin!
Ibu selalu dikucilkan sejak kecil. Dan Nenek hanya merawat Ibu hingga masa kanak-kanak. Baru delapan tahun usia Ibu, ketika Nenek pergi, sesudah menikah lagi dengan pria bernama Isaac Gerrard.
Mengapa Nenek harus pergi? Meninggalkan Ibu? Mengapa begitu ia menikah lagi, ia tidak membawa Ibu? Ke mana Nenek pergi?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Tapi mendadak sesuatu yang lain, yang bahkan berada dalam saluran yang berbeda dengan semua pikiran negatif itu, mendadak menyerbu otakku.
Apakah ini pikiran sang Alfa? Karena analisa non-emosional ini jelas bukan sesuatu yang bisa kukeluarkan dengan mudah, di saat seperti ini.
Ya, kalau memang benar begitu, kalau memang nenek dan kakekku bersaudara, dan lantas ibu dan ayahku juga, maka aku seharusnya lebih dari layak untuk menyandang nama Black. Dan kalau kepemimpinan mereka ditentukan berdasarkan keturunan, dan darah Black ini bagaimanapun adalah darah bangsawan, maka aku lebih berhak dari kakakku untuk menjadi Alfa mereka. Darahnya hanya datang dari separuh, dari ayahnya saja. Sedangkan darahku dari kedua belah pihak, dari ibu dan ayahku.
Dan Alfaku selalu bilang darahku murni...
Tapi tentu saja, Jacob lebih tua dariku. Urutan hierarki juga ditentukan berdasarkan usia.
Astaga. Apa yang kulakukan? Kenapa aku malah jadi menganalisa posisiku dalam hierarki Alfa serigala Quileute?
Aku jelas takkan mungkin jadi Alfa, karena itu hanya bisa terjadi jika aku bersama mereka. Berubah di La Push dan menjalani hidup normal selama ini. Se-'normal' para serigala Quileute lain. Namun masalahnya, memang aku tidak berada dalam kawanan mereka. Dan hidupku sama sekali tidak normal. Tidak pernah.
Aku menggeleng keras, berusaha mengenyahkan pikiran dari topik berbahaya itu dan mulai mencari hal lain.
Aku menelusuri cabang keluarga batihku. Ada dua nama perempuan di sana. Rachel dan Rebecca Black.
"Apa ini nama kakak perempuanku?" tanyaku.
Collin terlihat lega aku menyudahi pembicaraan soal asal-usul keluargaku. Ia mengangguk, meski agak mengernyit. Ya. Aku tahu alasannya. Masa aku tidak tahu nama kakakku sendiri?
Ada dua nama di atas Jacob. Apa mereka juga shifter? Mengapa bukan salah satu dari mereka yang menjadi Alfa? Mengapa Jacob?
Atau suku ini menganut pola patriarki? Bahkan jika aku berada dalam kawanan, dan jikapun aku lebih berhak secara darah, aku tetap di bawah Jake?
Tunggu. Kan aku juga tidak tahu mereka benar-benar menganut pola monarki atau tidak… Mungkin memang kepemimpinan ditentukan berdasarkan adu kekuatan...
"Di mana mereka?" aku berusaha bertanya hal yang dasar terlebih dahulu.
"Mereka mengikuti suami mereka. Rebecca di Hawaii. Rachel entah di mana. Suaminya, Paul Lahote, adalah seorang petualang. Climber. Kurasa sekarang ia bertekad menaklukkan entah-gunung-apa di Asia Tenggara setelah beberapa bulan lalu ia menaklukkan Himalaya," jelas Collin. "Kurasa itu penurunan dalam prestasinya. Maksudku, memangnya ada gunung lain yang lebih tinggi dari Himalaya?" ia mendengus meski ekspresinya berkilat-kilat. Ia memang suka sekali bercerita kesana-kemari.
Aku mendadak awas dengan kata 'Himalaya'.
Aku menarik napas, berusaha menenangkan diri. "Jadi Rachel ini semacam … ibu rumah tangga?"
Anehnya Collin malah tertawa. "Oh, jangan salah paham, Korra. Maaf, mungkin aku salah menempatkannya. Sejujurnya, kupikir justru Paul yang mengikuti Rachel. Rachel bekerja untuk salah satu badan PBB. Unicef, kalau tak salah. Dia ke sana ke mari mengurusi hal-hal seperti anak-anak di suku terasing atau kekurangan gizi, anak-anak korban perang, yang semacam itulah…. Terakhir kali ia meributkan panda yang punah, soal macan tutul Jawa yang mendadak ditemukan di Sumatera…. Eh, tunggu sebentar, itu Unicef atau Unesco, ya? Atau malah WHO?"
Collin tampak bingung dengan wawasan pengetahuan umumnya yang kurang, tapi bukan itu yang jadi masalahnya.
"Lalu, dia ke mana saja selain ke Himalaya dan Asia Tenggara?" aku berusaha menjaga suaraku tetap kasual.
"Hmmm, aku sendiri tidak begitu tahu. Tanya saja Jake. Mungkin Jacob menyimpan kartu pos dari Rachel. Tiap ke mana-mana, Rachel suka mengirim kartu pos. Jake pernah menunjukkan padaku kartu pos dari Guatemala, Nepal, Indonesia, Cina, India, Thailand, Jepang, Zimbabwe, Mesir, Italia... apa lagi ya?"
Guatemala, Nepal, Indonesia, Cina, India, Thailand, Jepang, Zimbabwe, Mesir, Italia…
"Dia jarang pulang ke rumah, sayangnya," Collin agak menghela napas. "Sejak mereka menikah sekitar tiga tahun lalu, Rachel dan Paul sudah seperti tidak ingat tanah kelahiran mereka lagi. Bahkan Natal dan Thanksgiving tahun kemarin, dan tahun kemarinnya lagi, ia tidak datang. Padahal Rebecca saja datang dengan suami dan kedua anaknya. Uncle Bill kesal sekali…."
"Jadi sudah tiga tahun, dia tidak pulang?" kejarku sebelum Collin mulai bicara entah-ke-mana.
Entah mengapa aku jadi begini penasaran. Tapi semua negara yang disebutkan Collin …
Ya, ini jelas aneh: kalau memang Rachel bekerja untuk Unicef, okelah, ia datang ke Guatemala dan Zimbabwe. Tapi apa urusannya dia segala ke Italia? Anak korban perang? Mengapa urusan pengungsi jadi urusan Unicef juga? Oke, mungkin itu masih ada hubungannya, jika menyangkut anak-anak, walau aku yakin UNHCR dan IRC juga cukup untuk mengatasinya. Tapi … mengapa ia malah ke Jepang? Bukankah seharusnya ia ke Irak atau Palestina? Jelas di sana ada perang…. Lagipula, apa urusannya Unicef dengan panda yang punah? Dan macan tutul? Memangnya bisa ia bekerja di Unicef juga, di UNHCR juga, dan di WWF atau WSPA juga?
Tiga tahun…
Guatemala, Thailand, Nepal….
Dan Rachel adalah seorang Black, sepertiku.
"Yeah, mungkin memang jadwal kerja Rachel padat sekali," jelas Collin yang makin membuatku merasa aneh. "Dia kan dari dulu memang gila kerja. Waktu kuliah dulu, dia jarang sekali pulang, sibuk dengan pelajarannya. Tapi dengar-dengar sih, sekitar tiga atau empat bulan lagi, dia berencana datang …"
Rachel Black, dan suaminya Paul Lahote….
Di mana rasanya aku pernah mendengar nama itu? Bukan, bukan dari ayah. Dari seseorang, atau suatu tempat yang lain … lama sekali … sebelum aku menginjakkan kaki di La Push. Tidak, bahkan jauh, jauh, jauh sebelumnya.
Kenapa aku tidak ingat?
Collin kelihatannya sudah akan cerita lagi. Tak lama ia sudah larut meributkan segala tetek bengek soal Rachel, yang makin lama topiknya makin luas. Mulai dari acara pernikahan Rachel tiga tahun lalu, Jacob yang menentang keras pernikahan itu karena memang ia dan Paul adalah musuh bebuyutan, gosip yang beredar karena Rachel menikahi cowok yang seumur dengan adiknya, hingga soal keduanya yang kabarnya belum juga dapat momongan, serta macam-macam lagi. Aku menyimaknya, mencoba mencari celah untuk bertanya tentang petualangan Rachel, namun tak kunjung kesempatan itu muncul.
"… Jadi kupikir Rachel, dengan sifatnya itu, berusaha menunda mendapatkan anak, walau Paul pastinya sudah memohon-mohon," Collin masih asyik menggosip. "Aku dengar dari Caleb Lahote, yang sepupunya Paul, bahwa …"
Namun sedetik kemudian ia terdiam, seakan menyadari sesuatu. Kemudian ia menatapku, mengernyit bingung.
"Memangnya Uncle Bill tidak cerita?" tanyanya curiga.
Aku memutar memoriku. Cerita tidak, ya? Aku lupa.
Akhirnya aku memutuskan untuk berkata jujur. "Mungkin pernah. Sayangnya aku lupa."
Ya. Patut kuakui selama ini aku tidak terlalu menaruh perhatian pada apapun yang menyangkut keluargaku dari pihak wanita itu. Aku lupa nama kedua kakak perempuanku. Aku takkan ingat nama Jacob jika bukan karena ayahku selalu menyebut-nyebut namanya, sebab ialah yang harus menjemputku di hari kedatanganku. Aku bahkan lupa nama ibu tiriku itu, dan baru diingatkan oleh pohon silsilah yang digambar Collin.
Sarah…
Perebut cinta ayah…
Wanita yang membuat ayah dan ibuku tak bisa bersama.
Wanita yang membuat ayah lebih memilih dirinya, dan bukan ibuku. Yang memberi ayah tiga anak. Dan salah satunya anak laki-laki. Penerus. Yang membuat ayah tak bisa meninggalkan keluarganya, sukunya.
Wanita yang, bahkan setelah kematiannya pun, mencegahku merasakan keluarga yang utuh dan kasih sayang seorang ayah…
Wanita yang membuat suku membuang ibuku….
Wanita yang membuat ibuku bergelar 'penyihir' dan 'pelacur'….
Wanita yang, karenanya, aku….
.
"Korra! Korra!" suara Collin membangunkanku. Aku mengerjap, menatapnya yang menatapku dengan pandangan aneh. Khawatir? Takut?
Astaga. Takut? Mengapa?
Seakan dikendalikan insting, aku mulai memperhatikan tubuhku. Tanganku kaku, jemari-jemariku mengejang, terbuka dan melengkung, agak membentuk cakar. Kusadari ujung-ujung jemariku bergetar.
"Korra, tenanglah, kumohon!" kudengar suara mendesak Collin lagi. Dan mataku mendadak membulat penuh kengerian.
Astaga. Apakah tadi aku bergetar? Di sini? Di kelas? Di depan Collin?
Di tengah-tengah manusia tidak bersalah?
Lebih lagi, di depan shifter?
Astaga.
Mengapa aku begini ceroboh?
Kutahan semua emosiku dan kucoba menenangkan diriku. Menarik napas dan menghembuskannya. Lagi dan lagi. Di bawah pandangan Collin.
"Kau tak apa, Korra?" tanyanya kemudian, ketika gemetarku menghilang.
Aku menggeleng. "Tidak…"
Mengutuki diriku sendiri, aku pamit pada Collin untuk langsung ke toilet. Ia mengawasiku dengan pandangan khawatir, bahkan menawarkan akan mengantarku, tapi aku menolaknya dengan halus.
Dalam hati akulah yang khawatir. Takut setengah mati.
Apa ia curiga? Apa ia tahu siapa aku?
Pastinya ia curiga. Sudah jelas. Ia shifter. Pastinya ia tahu tanda-tandanya. Pastinya ia melihat ekspresiku yang berubah keras dan getaran yang merambati lenganku. Itu alasannya tadi ia menghentakku, membangunkanku. Agar aku tidak berubah di sini, di dalam kelas penuh anak-anak.
Bodoh Korra, bodoh!
Dan apa ini? Kenapa bahkan Alfaku dan kawananku sama sekali tidak memperingatkanku? Dan lagi, omong-omong, ke mana mereka? Biasanya mereka menggerecokiku 7x24 jam sehari, dan kini apa? Saat aku sedang terancam berubah di depan salah satu shifter, mereka sepakat memasang tembok mental? Huh… bagus sekali…
Dan si Alfaku yang cerewet itu, mana dia? Masa iya dia tidur? Bagus sekali kelakuannya, tidak melindungiku di saat yang paling genting? Lagi?
Setelah kuingat-ingat lagi, seharian ini sejak aku bangun, tak pernah sedikit pun kudengar suara menyebalkannya. Padahal biasanya ia begitu berisik, menyuruhku ini itu ditambah mengingatkanku ini itu, untuk hal-hal yang sudah kutahu seperti 'Hati-hati', 'Jaga jarak dengan Jacob', 'merendah di depan Jacob', 'Jangan memprovokasi Jacob', atau semacamnya.
Ia bahkan tidak bicara apapun waktu tadi pagi aku dan keluargaku sarapan, dan Jacob jelas agak-agak mencurigaiku waktu aku bilang mau main ke tempat Kanna, dan mungkin menginap, sepulang sekolah nanti. Padahal biasanya, baru aku mengeluarkan satu kata saja pada Jacob, dia sudah ribut.
Aneh.
.
Begitu aku keluar dari toilet, aku agak terkejut mendapati Collin sudah ada di sana, bersandar di dinding. Kucoba untuk tetap bersikap tenang. Mengusilinya seperti biasa.
"Hei kau, Cole Cabul… Apa yang kaulakukan di sini? Mau mengintipku, ya?" cengirku.
Tapi ia tak bergeming. Wajahnya serius.
Gawat.
Ada apa ini?
"Korra..." akhirnya ia menghela napas berat, dan memanggil namaku dengan lembut. Ia mendekat, langsung menempatkan tubuh besarnya di hadapanku. Tangannya terulur, kulitnya yang hangat, panas malah, menyentuh pipiku.
Aku tahu apa yang ia lakukan. Ia sedang mengecekku. Telapak tangannya menempel di pipiku, mengukur panas tubuh. Sementara dua jari terakhirnya, jari manis dan kelingking, menempel di leherku, tepat di pembuluh nadiku. Ia sedang merasakan aliran darahku, menghitung ritme denyut jantungku.
Aku seharusnya kabur. Pergi. Ia bisa jadi menyingkap semua. Mengetahui identitasku saat itu juga.
Tapi tidak. Aku tidak boleh kabur. Tidak masalah aliran darahku agak deras. Tidak masalah denyut jantungku agak meninggi. Siapapun akan seperti ini kalau tiba-tiba disentuh seorang cowok. Begitu mendadak, di depan toilet pula. Dan lagi … ya, ini kelebihanku dibanding semua shifter berdarah panas lain. Suhu tubuhku tak setinggi mereka. Di kulit mereka, aku akan terasa lebih dingin. Agak lebih tinggi satu atau satu setengah derajat tapi secara umum hampir seperti manusia normal pada umumnya.
Dan ada hal lain yang menahanku tetap di situ. Sorot matanya. Itu bukan sorot mata menuduh. Ia mungkin curiga, tapi ia tidak menuduh. Apa bayang yang ada di sana? Apa gejolak emosi yang ada di balik matanya yang teduh? Prihatin? Kasihan?
Aku tak punya banyak waktu untuk menganalisa karena tahu-tahu ia menarikku, merengkuhku dalam pelukannya.
"Oh Tuhan, Korra … maafkan aku…," bisiknya di rambutku.
Eh, apa? Dia minta maaf?
"Kau harus menjaga emosimu, Korra. Tolong…. Jangan sampai kau marah, sedetik pun jangan…"
Astaga. Apa memang benar ia berhasil mengungkap siapa aku?
"Maafkan aku karena aku mengungkit hal yang membuatmu marah, Korra…. Aku tak ingin kau marah…. Tidak, kau tidak boleh marah. Jangan sampai ini terjadi padamu. Ini tak boleh terjadi padamu."
Ia mengatakannya dengan begitu sendu, tapi ada nada penuh tekad di sana, dan seketika aku mengerti.
Collin tahu aku memiliki gen ini. Ia tahu aku bisa berubah. Tapi ia tidak tahu bahwa aku sudah berubah. Dan ia tidak ingin itu terjadi.
Ia mendadak menarikku keluar dari pelukannya. Dengan tangan satunya ia mengangkat daguku. Berupaya agar aku melihat matanya.
"Aku akan melindungimu, Korra… Percayalah padaku, aku akan melindungimu." katanya sungguh-sungguh. Ia mendesah berat, kelihatan sangat pedih, ketika melanjutkan, agak menutup mata sebelum menarikku kembali ke pelukannya, "Aku menyayangimu, Korra…. Jangan sampai kau menempuh jalan yang sama…. Jangan takut, aku akan selalu bersamamu, menjagamu…."
Aku tahu apa yang ia maksudkan, dan seketika aku merasa beban berat mencengkeram dadaku.
Kubalas pelukannya, kurasakan air mataku menggenang, kala kurasakan kehangatan tubuhnya, menembus hatiku yang sudah membeku sekian tahun.
Aku memejamkan mata, berusaha menahan kepedihanku.
Sudah terlambat, Collin….
.
.
Ya. Sudah terlambat…
Seharusnya ia mengucapkannya dulu. Lebih dari empat tahun yang silam. Hari sebelum segalanya dimulai.
Aku di Guatemala saat itu. Musim penghujan di 2008. Beberapa bulan menjelang ulang tahunku yang ke-13. Guatemala. Apa yang orang pikir tentangnya, bahwa negeri itu mengerikan di bawah berondongan peluru, demonstrasi, dan kondisi politik yang tidak stabil, mungkin tak sepenuhnya benar. Bagiku malah tidak benar sama sekali. Karena bukan mereka yang kutakutkan saat itu. Sama sekali bukan. Bukan peluru, atau narkoba, atau tindakan penuh kekerasan para demonstran yang mengancamku. Tapi sesuatu yang lain.
Kami hidup di salah satu desa, di tengah pemukiman penduduk asli. Ibuku, seperti biasa, mendapat dana hibah penelitian yang berhubungan dengan masyarakat sekitar. Dan tentu saja aku mengikutinya, mau ke mana lagi aku? Kami merencanakan tinggal beberapa lama di sana, mungkin bahkan setengah tahun lebih. Bahkan aku merencanakan merayakan ulang tahunku yang ke-13 di sana, bersama teman-teman yang baru saja kukenal.
Mereka baik, lembut, menerima kami dengan ramah. Ibu suka sekali kopi Guatemala, katanya itu yang paling enak di seluruh dunia. Dan tentu saja, Ibu senang bercerita mengenai para penduduk asli. Bangsa Garifuna, Xinca, dan Maya. Bangsa-bangsa besar yang menghuni Amerika Tengah. Para pembangun peradaban, sebelum Colombus datang dan tak hanya mengundang bangsa asing, tapi juga mengundang masuk setan-setan pucat pembawa kehancuran.
Ketika Ibu pertama kali menceritakan kisah itu, aku terpukau. Tapi lantas begitu usiaku bertambah dan aku mulai membaca sejarah, tahulah aku ke mana kisah itu menuju. Kekesalanku pada Ibu mulai berkembang, kukira waktu itu semua kisah tentang para pembawa kehancuran itu kisah rasis, xenofobia, dan emosiku menjadi-jadi kala cerita Ibu mulai menyinggung masalah itu. Tentu saja, walau Ibu Native, kupikir semua dendam mengenai pemusnahan dan kolonisasi seharusnya sudah lenyap ditelan zaman. Ibuku, lebih dari yang lain, adalah orang terakhir, yang pernah kuharapkan masih juga memendam dendam sejarah ratusan tahun itu. Maksudku, Ibu berpendidikan, kan? Aku memang tidak terlalu patriotik juga, tapi kurasa tak ada gunanya menyebut-nyebut perang ratusan tahun lalu di masa kini, ketika jelas-jelas konstitusi menghargai independensi sukunya. Aku memang baru 12 tahun, bodoh dan tidak punya banyak wawasan, tapi aku tahu arti kata 'otonomi'.
Yah, setidaknya jika ia masih mau mengakui suku yang telah membuangnya itu sebagai sukunya.
Tak pernah kutahu bahwa kisah itu sama sekali tidak punya maksud tersirat. Sangat, sangat, sangat tersurat, bahkan.
Sore itu aku baru pulang dari rumah salah satu penduduk. Rumah temanku. Seperti biasa, saat ibu sedang bekerja mengumpulkan data etnografi yang ia butuhkan, aku akan bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Mencari anak-anak seumurku untuk bermain. Ibu suka melihatku melakukan itu. Mungkin aku malah menjadi salah satu tiketnya untuk dekat dengan masyarakat yang ia teliti. Dan ia juga bisa melakukan pengamatan atas hubungan yang kami lakukan. Di pihakku, tentu saja aku senang. Ada banyak permainan yang menarik. Setiap desa yang kami datangi selalu menyediakan permainan yang unik, cerita-cerita seru, hal-hal baru bagiku. Menyenangkan.
Sampai di rumah, ibu belum pulang. Aku memanjat jendela pintu pondok kecil tempat kami tinggal dan langsung masuk. Kubuka jendela lebar-lebar, membiarkan udara sejuk mengalir masuk. Meski awal musim hujan, cuaca masih tetap saja panas.
Belakangan aku merasa tubuhku kurang sehat. Mungkin perasaanku saja, tapi sepertinya aku terserang demam. Biasa di awal pergantian musim seperti ini. Tubuhku terasa panas. Kendati demikian, tidak seperti demam biasa, meriang, panas-dingin, aku merasa segala di sekitarku memanas. Dan aku jadi mudah marah karenanya. Tentu saja, Ibu menyuruhku istirahat di rumah, tapi aku tak pernah mau menurut. Aku lebih suka bermain. Dengan bermain, aku merasa tubuhku membaik. Perasaanku juga lebih tenang.
Tentu saja setelah seharian bermain, aku merasa kelelahan. Aku berselonjor di depan jendela, iseng menatap ujung-ujung dedaunan yang dipermainkan belaian angin. Memandang langit yang mulai rembang petang.
Tanpa sadar aku tertidur. Dan begitu aku terbangun, hari sudah malam. Ibu belum juga pulang. Hujan mulai gerimis. Aku bangkit untuk menutup jendela. Dan tiba-tiba hidungku mencium bau yang asing.
Bau yang manis, sangat manis. Tapi aneh. Menusuk. Seakan aku ingin segera menutup hidungku mencegah bau itu memasuki indera penciumanku. Karena hidungku terasa terbakar.
Bau itu tidak berasal dari manapun di dalam rumah ini. Tapi dari luar.
Aku merasakan insting untuk menghindar, tapi sekaligus tarikan untuk mendekati bau itu. Mungkin memang rasa penasaran seorang anak kecil menguasaiku, akhirnya tarikan itulah yang menang. Aku melompati jendela, mengikuti ke mana kaki membawaku. Melintasi tanah becek. Tak peduli jika aku berjalan tanpa alas kaki.
Dan kemudian aku mendengar jeritan. Satu suara perempuan. Dan disusul suara lainnya. Jeritan yang gaduh, satu menimpa yang lain. Bau aneh menyelimuti udara. Asin, seperti bau karat.
Entah mengapa aku mengenali bau itu. Bau darah. Dan sangat intens.
Bau itu menguasai diriku. Jeritan itu, makin lama terdengar makin nyaring di kepalaku. Tidak hanya jeritan, tapi juga keributan. Kegaduhan masyarakat. Yang segera menjelma menjadi ketakutan. Kengerian. Dan bau darah yang makin menyesak.
Seketika aku merasa pusing. Sangat pusing. Segala di sekitarku berputar. Terus dan terus. Aku merasa berat membebani seluruh tubuhku. Panas kian membakar dadaku, menyebar ke seluruh tubuh. Tubuhku mulai gemetar tak terkendali. Ruangan mataku mendadak disaputi warna merah. Kudengar teriakan yang bukan suaraku. Suara tarikan dan robekan kain. Dan kemudian aku tidak ingat apapun lagi.
.
Sadar-sadar aku sudah ada di tempat yang diselubungi kegelapan. Namun aku bisa melihat segalanya, mengenali satu per satu bentuk. Kurasakan inderaku, seluruh inderaku, menguat. Aku bisa melihat sesuatu yang jauh, gerakan yang sangat cepat. Aku bisa mencium dan mengenali benda, memisah-misahkan dan mengindentifikasi bau, hanya dari aroma yang sangat tipis.
Tapi aku sendirian. Di mana aku? Aku pastinya berada di dalam hutan. Suara-suara hewan di sekitar mulai membuatku takut. Aku ingin memanggil Ibu. Tapi tiap aku berteriak, kudengar suara yang mengerikan. Suara aum menggema yang memerindingkan bulu roma. Seakan membuat jantungku tercerabut.
Apa ada hewan buas di sekitarku?
Aku memandang berkeliling dengan ngeri. Apa yang harus kulakukan? Aku bisa membuat api untuk menghalau hewan buas, tapi hari itu hujan baru turun, dan tak ada ranting kering…
Di sanakah akhir nasibku? Di hutan, sendirian, jadi mangsa hewan buas?
Aku berlari, ketakutan. Terus memanggil ibu. Dan setiap aku berteriak, auman yang sama terus terdengar, selalu terasa dekat.
Astaga, hewan itu mengikutiku!
Kakiku entah mengapa terasa begitu lelah, tulangnya bagai tercerabut. Aku jatuh terduduk, mulai menangis. Dan begitu aku mengangkat tanganku, mencoba mengusap air mataku, saat itulah aku melihatnya.
Tanganku sudah tak ada lagi.
Sebagai gantinya ada tangan, bukan, kaki berbulu, dan bercakar….
Aku berlari panik. Tak jauh dari situ aku menemukan sebuah danau. Airnya mengilat disinari cahaya bulan. Aku melongok takut-takut menatap bayanganku di permukaannya. Satu sosok memandang balik dari air. Sosok yang—setelah aku mengecek sekeliling berkali-kali dan sadar itu tak mungkin berasal dari bawah permukaan air—adalah bayangan diriku sendiri.
Aku monster.
Tubuhku berbulu … wajahku mengerikan … dan aku memiliki taring….
Aku mulai ketakutan.
Apa yang terjadi? Apa aku masuk ke dunia antah berantah, disihir jadi makhluk berkaki penuh bulu? Seperti Hanoman, mungkin? Tidak, Hanoman tidak disihir…. Mungkinkah aku jadi monster Big Foot? Atau The Beast?
Apa kesalahanku? Hingga para peri dan dewa mengutukku? Karena aku meninggalkan Ibu? Karena aku tidak menuruti Ibu padahal aku sakit, dan malah bersikeras main di luar? Karena aku marah pada Ibu karena Ibu menyuruhku istirahat? Ya, Ibu khawatir padaku, sayang padaku, dan aku malah bersikap bandel. Tadi pagi, aku berteriak, bilang aku benci Ibu karena melarangku ini itu. Aku mengamuk dan membanting vas bunga, kabur dan tidak pulang seharian. Terus main bersama teman-teman, tak menghiraukan walau Ibu mencariku. Ibu pasti menangis, sedih karena punya anak senakal aku. Kesedihan Ibu pasti didengar para Dewa dan Roh Nenek Moyang, dan mereka menghukumku. Aku, anak pembangkang yang susah diurus….
Aku menangis. Berteriak minta tolong. Siapapun, kumohon, tolong cabut kutukan ini. Tolong lepaskan aku. Aku ingin kembali pada Ibu. Aku sayang Ibu. Aku ingin disayang, dipeluk Ibu. Aku takut berada di sini.
Entah berapa jam aku menangis.
Bagaimana agar kutukan ini hilang?
Berulang kupanjatkan doa dan sumpah pada setiap nama dewa yang kutahu, setiap roh penjaga suku apapun, setiap Tuhan di tempat manapun yang pernah kupelajari atau kudatangi.
Aku takkan nakal lagi, aku berjanji aku takkan nakal lagi.
Aku ingin pulang.
Lalu satu solusi muncul di kepalaku.
Aku pernah dengar tentang legenda anak durhaka yang dikutuk jadi batu. Atau anak bandel yang dikutuk jadi anjing, atau buaya, atau ular, atau burung. Ia kembali pada orangtuanya, menangis dan memohon, tapi tak juga bisa kembali karena orangtuanya tak bisa mendengar permohonannya, kata maafnya.
Ya, itu dia jawabannya. Aku harus minta maaf. Kalau Ibu memaafkanku, aku bisa kembali jadi seperti biasa. Ibu pasti mengenaliku. Dan kalau tidak, aku harus mencari cara agar Ibu tahu monster ini adalah aku. Aku harus membuat Ibu mencabut kutukannya.
Aku harus kembali pada Ibu. Ya, aku harus pulang dan minta maaf.
Aku segera mencari jalan pulang. Mencari Ibu.
Detik aku memutuskan untuk mencari Ibu, entah mengapa aku tahu ke mana aku harus melangkah. Kemampuanku mengenali arah tiba-tiba menjadi jauh, jauh, jauh meningkat. Instingku menajam. Kusadari lariku lebih cepat dari kelinci, phanter, leopard, cheetah, atau mungkin hewan apapun. Dan, aneh sekali, aku juga bisa mengendus bau Ibu.
Tapi bau Ibu hanya satu di antara bau-bau lain. Bau yang lebih tajam menusuk, merampok perhatianku.
Bau itu memaksa memasuki syarafku. Bau manis yang kuendus sebelum aku hilang pikiran, diselimuti bau darah yang pekat.
Kuikuti naluriku. Dan tak lama, naluri itu terbukti benar: aku kembali ke perkampungan.
Hari sudah menjelang pagi. Dan kulihat api unggun, besar dan tinggi. Api berwarna ungu. Dan tubuh-tubuh yang terbakar di dalamnya. Potongan tubuh manusia. Menguarkan bau manis yang aneh, bercampur bau rambut terbakar yang menyesakkan.
Dan aku ingat, apa yang kulakukan sebelum aku berlari ke hutan. Aku gelap mata. Dalam keadaan marah, melihat darah, melihat teman-temanku bersimbah darah, melihat ayah dan ibu mereka bergeletakan di tangga muka rumah dan jalanan, aku mengamuk. Menyerang orang-orang yang menyerang teman-temanku. Mencakar mereka. Mencabik-cabik mereka. Menarik putus kepala mereka.
Astaga, apa yang kulakukan?
Aku … bukan cuma anak durhaka … aku juga … pembunuh?
Aku mungkin membunuh orang yang membunuh … tapi aku tetap pembunuh.
Dan itukah tubuh-tubuh yang kubunuh? Yang terbakar dalam kobaran nyala api? Itukah yang kulakukan?
Oh, Tuhan … Dewa … Roh Nenek Moyang…
Aku kembali ketakutan, dan berlari balik ke dalam hutan. Namun aku menimbulkan terlalu banyak suara. Tak bisa kutahan lenguhan dan lolongan ketakutanku. Jerit tangisku. Dan kemudian ada orang, yang sepertinya mendengar suaraku, memasuki hutan. Memanggil-manggil namaku.
"Korra! Korra, dimana kau?"
Suara Ibu! Tidak salah lagi, itu suara Ibu!
Tapi Ibu akan melihatku seperti ini! Apa ia takkan ketakutan? Apa ia tidak akan justru membawa api untuk menakut-nakutiku, mengira aku monster? Monster pembunuh orang-orang? Yang memakan anaknya? Ya, mungkin malah ia bersama orang-orang desa, mengejarku. Dan kemudian membakarku.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku meringkuk di ceruk yang kutemukan, tersembunyi di balik pohon di balik semak-semak. Aku ketakutan dan mulai menangis lagi. Kudengar dengkingan-dengkingan menyayat keluar dari tenggorokanku. Mungkin ini justru akan membuat mereka menemukanku, memanggangku hidup-hidup sebagai monster penjagal dan pemakan-Korra, pemakan diriku sendiri. Tapi aku tak peduli. Biar saja mereka menemukan dan membunuhku. Mungkin itu hukuman bagiku.
Dan kemudian terdengar sibakan semak-semak. Seseorang menghampiriku, dengan obor di tangannya. Aku makin ketakutan. Ini akhir hidupku. Mereka akan membakarku hidup-hidup.
Kututup mataku, kubayangkan wajah ibu. Kusampaikan maaf untuk Ibu, untuk semua orang yang kusakiti … untuk teman-teman yang tak bisa kuselamatkan … untuk orang yang kubunuh. Oh, jika saja aku tidak membangkang pada perintah Ibu, aku takkan menjadi seperti ini, dan aku juga takkan melakukan semua itu … Aku takkan menjadi monster pembunuh.
Maafkan aku, Ibu …
Tapi lantas terdengar suara lembut Ibu, "Korra, tenang … aku takkan menyakitimu…. Kau ingat aku, Sayang? Kau bisa mengenaliku? Aku ibumu…"
Aku mendengking-dengking. Beribu emosi bercampur. Sedih? Gembira karena Ibu mengenaliku? Takut jika Ibu takkan memaafkanku? Takut akan hukuman yang mungkin menantiku? Menyesal? Aku tak tahu lagi.
Tapi lantas ibu menambatkan obornya entah di mana di dinding luar ceruk kecil itu. Kemudian Ibu mendekatiku tanpa ragu, memeluk leherku. Tubuh Ibu, anehnya, begitu kecil. Mungkin memang aku yang berubah, aku monster sekarang, pasti akulah yang membesar. Tapi ia bahkan tak peduli aku menjadi sedemikian besar. Ia tak peduli aku berbulu dan taring tajam ada di rahang besarku, cakar tajam menggantikan tangan dan kakiku, dan bahkan tak peduli pada fakta bahwa aku telah menjadi pembunuh. Ia tak peduli aku monster. Ia tetap memelukku. Kurasakan, entah bagaimana, rasa hangat itu. Ketenangan. Perlahan menguar dari tubuh ibu, menjalar dari pelukannya, menguat dan menguat, menenteramkan kekacauan jiwaku. Membuatku merasa aman.
"Oh, Korra, maafkan aku. Maaf karena kau harus mengalami ini...," bisik Ibu di leherku.
Maaf? Kenapa Ibu yang minta maaf?
Akulah yang seharusnya minta maaf. Aku anak bandel, dikutuk jadi monster, jadi pembunuh….
Aku mendengking-dengking lagi, dan kurasakan air mata mengalir membasahi wajah berbuluku. Ibuku menyadarinya, dan kurasakan tangan mungilnya menyentuh pipiku, atau mungkin rahangku, aku tak tahu. Ia mengusap air mataku, bergumam lembut.
"Tenang, Korra … Ibu akan selalu bersamamu ... melindungimu … menjagamu…"
Ibu.…
"Jangan takut, Korra…"
.
.
Aku kembali ke dunia nyata. Di dalam pelukan Collin.
Pelukan Collin, bagaimanapun, hangat dan menenteramkan. Menenangkan. Membuatku merasa aman. Seperti pelukan Ibu.
"Jangan takut, Korra," bisikan manis Collin membawa bayangan Ibu kembali ke hadapanku. Seakan Ibu sendiri yang memelukku, menenangkanku.
Ya, seperti Ibu.
Kuketatkan pelukanku padanya. Ia agak terkesiap, tapi ia tak marah atau melepaskanku. Hanya memelukku lebih erat.
Kali itu kubiarkan setetes air mataku mengalir.
.
.
Catatan:
Pohon keluarga dan kisah flashback masa lalu Korra…
maaf dengan urusan 'incest' itu, seperti dibilang Collin: kau tahu betapa jahatnya gosip yang berkembang di luar sana.
Dan soal tanggapan Korra tentang cerita ibunya, tentu saja, Korra kesal karena dipikirnya ibunya xenofobik, tapi tidak… tentu saja tidak ada dendam sejarah bersifat rasis di sini… hahaha :D
Mudah-mudahan emosinya ketangkep…
oh ya, detail mengenai guatemala dan badan2 pbb, aku mohooooooonnn banget ada yang mau ngoreksi, karena aku lupa
R&R pleassssssssssssssssssssssee eeeeeeeeeeeeeeeee…
NB: aku tahu aku ga seharusnya seksis dalam hal ini, but last time i check, i'm NOT a guy, definitely...
