Seokjin selalu mengingat kenangan itu. Tersimpan rapi di sudut otaknya. Kenangan pertama kali Seokjin menatap kedua bola mata bening adiknya yang berpendar indah di bawah timpahan lampu operasi yang menyala. Tangan mungilnya bergetar mencari kehangatan dan menggenggam jari Seokjin dengan mata tertutup serta rengekan manis. Saat itu, ibunya masih terbaring lemah akibat proses melahirkan yang menguras seluruh tenaganya. Mata ibunya terpejam, nafasnya teratur dengan rona bahagia memancar di wajahnya yang cantik.

Ayahnya di sana. Sibuk menenangkan ibunya dibawah suntikan morphin yang memabukkan. Ayahnya menggenggam tangan ibunya dengan kasih sayang, mengecupi punggung tangannya dengan tatapan sarat rasa terimakasih. Anak kedua dari Ketua Kim lahir, dan tidak ada yang jauh lebih disyukuri dari itu. Semua berjalan normal. Kehidupan Seokjin yang berlalu dengan indah.

Seokjin berlari menyongsong ke arah seorang perawat yang mengangkat seorang bayi berlumuran darah. Tangisannya memekakkan telinga, berteriak panjang dengan jari mungilnya bergerak samar. Saat itu umurnya enam tahun. Dengan menggunakan Jersey kesukaannya, ia berdiri memandang bayi itu penuh takjub. Sepatunya berdecit menggemaskan ketika bergesekan dengan lantai rumah sakit yang putih.

"Sekarang Jinnie sudah punya adik." Perawat itu berbicara lembut, suaranya sengau dibalik masker yang menutupi area mulut dan hidungnya seperti yang Seokjin pakai.

"Apakah dia laki-laki?" Tanya Seokjin antusias.

"Ya, dia seorang lelaki." Sang perawat memberikan Seokjin senyuman hangat. Seokjin berteriak lepas dan ceria. "lelaki yang sangat manis,"

"Ibu! Aku punya adik! Ibuuuuuu," Seokjin hendak berlari menuju ibunya yang masih lemah, kaki kecilnya bergerak semangat menuju ranjang sang ibu namun tiba-tiba saja terjaga oleh lengan lembut perawat lain yang menghadangnya. Juga kekehan lembut ayahnya yang dengan bahasa isyarat meletakkan jari telunjuknya di depan bibir dan meminta Seokjin agar tidak berisik.

"Jinnie jangan ganggu ibu dulu, oke? Ibu butuh istirahat."

Seokjin mengangguk patuh. Ia melangkah ceria ke arah perawat yang tengah merawat adiknya dengan telaten. Keningnya berkerut gemas melihat adiknya yang meronta lemah. "Suster! Jangan sakiti adikku!"

"Tidak, sayang." Perawat itu tertawa kecil sembari mengelus kepala Seokjin. Masker tergantung di satu telinganya. "Nah, apa kau mau membantuku menggunting tali pusar adikmu?"

"Tentu! Tentuuu. Ibu lihat? Aku menggunting tali pusar!" Seokjin semangat sekali, tangan kecilnya menggenggam sebuah gunting tajam dengan arahan perawat baik hati yang selalu berbisik betapa seorang bayi akan menuruti semua perkataan salah satu orang dari pihak keluarga yang menggunting tali pusarnya.

Adiknya kembali menangis, meronta lemah tak mau diam. Darah di tubuhnya sudah hilang, tergantikan oleh kulit kemerahan mulus yang ingin sekali Seokjin cubit. Perawat itu menyelimuti adiknya dengan sebuah selimut. Membawanya ke pelukan ibunya yang sudah sepenuhnya sadar. Ayahnya di sana. Mengusap kepala Seokjin dengan senyuman.

Seokjin berdiri di samping ibunya, melihat tatapan ibunya yang hangat tertuju pada adiknya yang masih saja menangis. Seokjin mengulurkan tangan, tepat ketika kelima jari mungil adiknya menggenggam jari telunjuknya. Kelopak mata berat nan lengketnya terangkat, tangisannya ikut mereda. Bola mata coklat adiknya bertemu dengan mata Seokjin. Adiknya mengemut bibirnya sendiri dengan mata terus tertuju pada Seokjin dan kesepuluh jarinya bergerak rentan mancari jari Seokjin yang lebih besar.

Ibunya tersenyum, mengusap kepala Seokjin dengan kasih sayang. "Kau mau memberikan adikmu nama, sayang?"

Seokjin mengangguk, "Taehyung." Seokjin memainkan jarinya hingga sudut bibir adiknya terangkat lucu. "Namanya Kim Taehyung."


Tittle : Determinare

Ichizenkaze

Cast : Jeon Jungkook / Kim Taehyung

Min Seojin (OC) / Kim Seokjin / Park Jimin / Min Yoongi /

Park Jimin / Kim Namjoon / Kim Mingyu

Other cast will appear soon!

Warning! BL! with Kook!Seme . Please notice me if i've made some mistake on my writing~

I put T+ for this chap!

My warn! Once you step in into my Fanfiction beware yourself for a lot dramatic scenes because that's absolutely my style.

.

.

Happy Reading~

.


.

Did I like you too much?

.

"Jaga dia untukku."

"Tentu, Hyung."

"Pastikan dia makan tepat waktu, jangan biarkan dia sendirian, dan—"

"Hyung, tenang saja." Jungkook memotong ucapan Seokjin sopan. Meletakkan tangannya di atas punggung tangan Seokjin yang menggenggam erat kenop pintu rumahnya. "Kau bisa pegang ucapanku."

Seokjin menganggukan kepala kaku, Namjoon di sampingnya bergumam 'mau kuantarkan pulang' ke telinga Seokjin. Dokter itu mengangguk, wajahnya menyiratkan ketidakrelaan meninggalkan Taehyung. Bola mata melirik gelisah melewati pundak Jungkook dan berharap ia dapat melihat sekelibat bayangan adiknya walau hanya sebentar.

Tetapi, mengingat tatapan marah bercampur kecewa yang dilayangkan Taehyung menguburkan niat Seokjin untuk bertahan di rumah Jungkook dan menanti adiknya. Bibirnya berkedut ringan mengingat hantaman tinju Taehyung yang keras. Namjoon sudah membubuhkan alkohol dan membuat darahnya menghilang. Taehyung membencinya. Itu adalah hukuman yang setimpal akibat perbuatannya. Seokjin tersenyum tipis, berkata agar Jungkook benar-benar menjaga Taehyung. Jungkook membalasnya dengan anggukan sabar.

"Dia hanya butuh waktu, Hyung." Gumam Jungkook tipis. Mengusap punggung Seokjin penuh perhatian.

"Aku rasa waktu saja tidak cukup," Seokjin membalas ucapan Jungkook cepat dan menyedihkan. "tolong bantu dia keluar, Jungkook-a." Seokjin mengatupkan bibirnya. "Dia tidak boleh selamanya seperti ini. Taehyung harus sadar itu."

"Aku mengerti," Jungkook tersenyum maklum.

Tubuh Seokjin dituntun oleh dekapan kuat Namjoon. Jantung pemuda itu berdegup cepat, tanda ia gelisah sekaligus ketakutan. Ia melepaskan diri dari dekapan Namjoon dan mendapat tatapan tak suka darr pemuda itu.

"Tidak apa-apa," ucapnya pelan, menepuk dada Namjoon. "Taehyung pasti akan baik-baik saja bersama Jungkook."

Seokjin tersenyum menenangkan. Namjoon mengerutkan kening kesal sambil mendesah, membuka pintu mobil dan membantu Seokjin masuk.

"Bodoh, bukan Taehyung yang aku khawatirkan," desisnya sambil membungkuk, mencengkram pintu mobil lalu menutupnya pelan seraya melanjutkan.

"Kau. Kau. Kim Seokjin. Kau yang aku khawatirkan setengah mati."

.

.

Pintu kamar mandinya terbuka. Ia mengira Taehyung sengaja melakukannya, untuk memberitahu Jungkook bahwa ia tidak keberatan jika pemuda itu menghampirinya. Jungkook melangkah ragu-ragu, menapaki marmer dingin dengan kaki telanjang beserta handuk kering menggantung di lengannya.

Taehyung duduk di bawah siraman air shower. Meringkuk sembari memeluk kedua kakinya begitu merana. Kemejanya melekat basah. Rambut coklat mahoninya turun di dahi dan membentuk gumpalan. Wajahnya terbenam di antara lipatan kaki, namun Jungkook masih dapat melihat aliran air yang turun dari setiap ujung rambut, menuruni hidung lancip, pipi mulus, lekukan mulutnya yang terkatup rapat dan berakhir di dagunya.

Niatnya untuk menegur Taehyung, mengajaknya berdiri, mengusap rambutnya dengan handuk dan menyuruh pemuda itu istirahat meluap begitu saja kala ia meletakkan handuk kering di atas wastafel dan melangkah menghampiri Taehyung, ikut masuk ke dalam bilik showernya yang terhalang kaca tipis buram. Tanpa mematikan keran showernya yang berderu bagai hujan, Jungkook duduk di samping Taehyung. Melengkungkan punggungnya hingga terkena percikan air yang perlahan membasahi kemeja putih beserta dasinya yang belum sempat ia ganti. Tubuh Jungkook sudah basah total, dari atas kepala hingga mencapai ujung kakinya. Ia merunduk merasakan aliran air yang mengalir turun menuju dagunya, Ia menoleh ke arah Taehyung, melihat bibir Taehyung yang bergetar, wajahnya semakin tenggelam dalam lipatan kakinya juga mata kosong yang begitu dikhawatirkan Jungkook.

Butuh waktu lama bagi Taehyung menyadari keberadaan Jungkook. Taehyung mengangkat wajah dan menoleh. Memberikan Jungkook senyuman tipis lalu beringsut mendekat, memeluk lengan Jungkook dan menumpu kepalanya pada pundak Jungkook yang kuat.

"Aku merasa sakit," ucapnya pilu.

"Di mana?" Tanya Jungkook, pipinya bergesekan dengan pelipis Taehyung

"Di sini."

Taehyung menunjukkan kepalan tangannya yang menyatu erat. Jungkook meraihnya lalu meremasnya. Membawa jari Taehyung menuju bibirnya dan memberikan kecupan ringan. Mengecupi satu-persatu dengan sabar. Jari Taehyung bergetar kala Jungkook membuka kepalan tangannya, mengurai kecemasan dan buku jarinya yang terlihat bengkak. Jungkook mengecup dengan sungguh-sungguh di bagian telapak tangan Taehyung yang pucat.

"Masih sakit?" Tanya Jungkook.

"Lebih baik," jawabnya.

Sensasi ketika bibir hangat Jungkook menyentuh jari-jarinya ditambah tumpahan air di atas mereka yang tak henti membuat Taehyung merinding. Menggerakkan pikiran-pikiran dalam nalar Taehyung yang beradu pendapat dengan sengit. Sentuhan Jungkook bisa menjadi petaka yang tidak bisa ia cegah. Seluruh keliaran yang tersimpan di dalam relung hatinya. Dalam dan begitu sesat.

Jungkook menggenggam jari-jarinya dan menempelkannya di pipi. Membenturkan kepala mereka lembut diiringi sapuan acak jari-jarinya di punggung tangan Taehyung.

Air dingin terus mengalir di tubuh mereka, rintikannya menghujam kepala mereka tanpa ampun. Meluluhkan kekacauan serta seluruh sakit yang terpendam. Taehyung merasakan satu-persatu pertahanannya hancur. Membentuk sebuah gunungan penuh sesal dan ketidakmampuannya yang melemah. Satu tangan Jungkook terulur ke atas, memutar panel agar rintikan air itu berhenti. Dan Jungkook menunggu, mendekap erat Taehyung saat pemuda itu akhirnya pecah. Hingga akhirnya remasan Taehyung di lengannya semakin kuat. Hingga akhirnya jarinya membalas genggaman tangan Jungkook begitu tangguh. Hingga akhirnya Taehyung menangis di pundaknya. Tanpa suara, hanya sebatas bersitan samar dan gesekan lembut kala Taehyung menyembunyikan suara cegukan dan rintihan tipis yang tanpa sengaja keluar. Ia membiarkan air matanya merembas di kemeja Jungkook. Membuat kulit pemuda itu merasakan hangatnya air mata Taehyung.

Jungkook tidak mencegah atau menyuruh Taehyung untuk berhenti. Ia diam. Mengecup punggung tangan Taehyung agar pemuda itu tahu; Jungkook berada tepat di sampingnya, dan akan terus begitu.

.

.

Setelah membungkus tubuh Taehyung dengan handuk kering yang tiba-tiba tertidur damai dalam pelukannya sehabis tangisannya yang hebat, Jungkook membawa Taehyung menuju tempat tidur. Membaringkannya lembut dan mulai melepas handuk yang melilit di pundak Taehyung dan perlahan membuka kemeja Taehyung yang basah. Ia berusaha mencegah pikiran liar mendobrak masuk ke sela-sela logikanya yang goyah.

Jangan. Jeon Jungkook. Jangan pikirkan apapun.

Ia berhasil melepaskan kemeja Taehyung. Taehyung nampak tenang dalam tidurnya. Kantung matanya bengkak dengan hidung memerah dan bibir yang terkatup ratap. Basah. Air membuat bulu matanya menjadi lebih lentik disertai hembusan nafas kalem.

Jungkook menarik lepas belt yang melingkari pinggang Taehyung. Mengalihkan pandangannya saat tangannya sibuk melepas kancing celana Taehyung. Memaksa bahan beratnya meluncur turun dari kaki Taehyung dan segera menyeret selimut untuk menutupi tubuh polos Taehyung yang sialnya masih nyaman tertidur dan bahkan bergumam kecil sambil mencengkram ujung selimut lalu memiringkan tubuh dengan imut.

Kenapa dia bisa semenggemaskan ini ketika Jungkook serasa tengah mengadu jiwanya pada malaikat kematian?

Jungkook melepas celana Taehyung yang tersangkut di pergelangan kakinya. Mengumpulkannya beserta kemeja Taehyung lalu membawanya ke keranjang cucian. Ia segera melepaskan baju serta celananya sendiri dengan cepat kemudian menggantinya dengan pakaian kering. Celana pendek serta kaus santai yang warnanya sudah sedikit pudar. Ia mengambil baju untuk Taehyung. Duduk di tepi tempat tidur sembari mengamati wajah Taehyung.

Satu ciuman tidak akan membuat masalah, kan?

Ia bertanya pada diri sendiri. Merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak berhenti menatap bibir Taehyung yang mengerut kecil dan menjadikannya terlihat jauh lebih menggemaskan. Rambutnya tertumpuk halus, menempel di pipi serta tengkuknya. Jungkook berakhir dengan menaruh pakaian kering di samping bantal. Tidak mau mengambil resiko membangunkan Taehyung dan mengijinkan pemuda itu meninjunya ketika sadar Jungkook tengah memakaikan pakaian ke tubuhnya yang telanjang. Tidak, Terimakasih. Biar saja ia simpan tinju dari Taehyung karena sudah dengan lancang membuka seluruh pakaiannya tanpa ijin. Itu juga karena ia seratus persen perduli terhadap Taehyung dan tidak mau pemuda itu tertidur dengan pakaian basah.

Jungkook menaikkan selimut hingga menutupi dagu Taehyung. Mengusap rambutnya yang basah dan memberikan kecupan ringan di pelipisnya diiringi ucapan selamat malam yang tulus dan penuh kasih sayang.

.

.

Taehyung tidak bisa tidur.

Setengah jam ia habiskan dengan membolak-balikkan posisi tidurnya. Satu jam untuk memainkan beberapa permainan dalam smartphone dan beberapa puluh menit untuk menatap langit-langit kamar Jungkook dengan kosong. Pikirannya terbang saat ia bangun pagi ini. Telanjang di bawah selimut tebal. Taehyung hampir mengeluarkan umpatan. Wajahnya memerah dengan gigi menggigit bibirnya kuat. Ia duduk cepat dan melihat sarapan di atas disertai sebuah note kecil berwarna kuning. Pakaian kering tertata rapi di samping bantalnya. Butuh waktu lama bagi Taehyung untuk berhenti mengerang malu dan mengacak rambutnya kasar. Dan kini, Taehyung masih merasakan pipinya memerah panas bila mengingatnya. Bayangkan itu. Jeon Jungkook membuka seluruh pakaiannya. Damn it!

Taehyung mendengar deru Range Rover Jungkook yang masuk ke dalam garasi, serangkaian bunyi kunci dan detak sepatu dokter muda itu yang sibuk di lantai bawah. Ia mendudukkan tubuh. Dengan seksama menatap arah jarum jam yang semakin ke kanan dan melewati tengah malam. Ia menajamkan telinga. Rintikan air dan denting piring yang beradu sampai ke telinganya. Taehyung bangkit dengan cepat. Sempat-sempatnya mematut pakaian serta rambutnya di depan cermin sebelum dengan riang menuruni tangga.

Suara pembawa berita yang disiarkan secara live tentang kebakaran di salah satu sudut kota Seoul adalah yang pertama telinganya tangkap, ia mengintip hati-hati dari balik tangga. Melihat jari kaki Jungkook di ujung sofa. Lampu di lantai bawah sudah mati semua. Hanya sinar dari televisi lah yang menjadi penuntunnya. Taehyung mendekat, berdiri dibalik sofa dan menatap Jungkook yang tengah berbaring di sofa dengan nyaman.

"Kau tidak berniat tidur di atas?"

Jungkook tersentak, ia menatap takut ke arah Taehyung dengan tangan refleks memegang dadanya, "Hyung! Astaga, kau membuatku kaget!" sertaknya lembut.

Taehyung terkekeh jahil, melompati sofa dan tak sengaja menginjak kaki Jungkook. ia berteriak maaf, Jungkook mengeluh keras sementara Taehyung tertawa begitu Jungkook menangkap pergelangan tangannya hingga tubuhnya limbung dan berakhir jatuh di atas Jungkook.

"Sungguh tidak lucu jika seorang dokter torak berakhir meninggal karena serangan jantung," gumamnya, memeluk Taehyung yang berusaha berontak namun berakhir dengan memeluk Jungkook balik lalu meletakkan kepalanya di dada Jungkook. ia memiringkan kepala hingga telinganya bisa mendengar degup jantung Jungkook yang menenangkan. Ia menindih kaki Jungkook dan dokter itu terlihat nyaman dengan yang dilakukan Taehyung.

"Tidak keren?" Taehyung tersenyum dibalik pelukan Jungkook. Lengan pemuda itu melingkar manis di pundak Taehyung hingga ia bisa menghirup aroma sabun segar yang digunakan Jungkook. Tubuh kurusnya terjaga dalam lengan Jungkook yang kuat dan memberikan ketenangan yang mendebarkan.

"Sangat tidak keren. Pasti kau membayangkan bisa menikmati masa tua dengan tenang sebelum meninggal, bukan karena terkena serangan jantung." Gumam Jungkook. menyapu telapak tangannya di rambut Taehyung bahkan memberikan pijatan lembut di kulit kepala Taehyung serta remasan singkat di tengkuknya.

Taehyung memejamkan mata. Ia memeluk tubuh Jungkook lebih erat. Jungkook terlihat manis. Memperlakukannya begitu manis.

"Dan kenapa kau belum tidur?" Gerutu Jungkook." Ini sudah jam dua pagi."

"Bagaimana jika aku katakan aku merindukanmu?" gumam Taehyung. Tersenyum di dada Jungkook yang memeluknya hangat.

"Ha ha, lelucon yang bagus," Jungkook tertawa setengah hati dan main-main. Memilin lembut helai rambut Taehyung dengan jarinya. "Jangan katakan sesuatu yang membuatku semakin berharap, Hyung."

"Uhm-Uhm itu bukan harapan," Taehyung mengangkat kepala. Menampilkan cengiran manisnya dengan jari menepuk dada Jungkook. "tidak bisa percaya sedikit dengan perkataanku, ya?" keluhnya setengah merajuk.

"Sulit mempercayainya." gurau Jungkook. tertawa serak begitu Taehyung memukul dadanya dengan kepalan tangan. "Mungkin kau harus menciumku dulu baru aku bisa percaya," Jungkook mengaduh panjang seraya mencengkram pergelangan tangan Taehyung diserta derai tawa.

Taehyung suka melihat bagaimana Jungkook tertawa dengan seluruh aura kanak-kanaknya yang lucu. Seolah ia tengah menatap Jeon Jungkook lima tahun yang lalu. Jeon Jungkook yang masih berpegang teguh bahwa Hoseok masih bisa ia selamatkan. Jeon Jungkook yang berharap takdir memihak pada dirinya dan mengabulkan seluruh harapannya untuk dapat membuat Hoseok tetap bersamanya. Jeon Jungkook yang belajar mati-matian untuk memperutuh keluarganya. Jeon Jungkook yang masih tidak paham jika kehilangan bisa sesakit dan semenyedihkan ini. Jeon Jungkook yang mencintai Kim Taehyung tanpa tuntutan dan perintah dari siapaapun. Jeon Jungkook yang selalu berharap suatu hari Taehyung dapat membalas perasaannya.

"Kau mau sebuah ciuman?" Tanya Taehyung dengan mata berkedip jahil. Merayap di atas tubuh Jungkook lalu mendekatkan wajah mereka.

Tawa Jungkook mati. Kegugupan terlihat jelas di kedua bola matanya yang gelisah. Taehyung dapat melihat rona merah yang menjalar di wajah Jungkook yang menandakan betapa gugupnya Jeon Jungkook dengan semua sikap Taehyung yang terkadang tak bisa dipahaminya.

"T-Tae Hyung," Jungkook menelan air liurnya susah payah. Mengalihkan tatapan matanya dari bibir Taehyung yang merah dan wajah mulus Taehyung yang menaunginya. "Hei, ini tidak lucu, sungguh."

Taehyung mencubit pipi Jungkook dengan gemas. "tadi kau bilang kau mau sebuah ciuman." Taehyung memasang wajah terluka. Memberenggut manis ditambah bola matanya yang terlihat merana.

"Aku tidak bilang seperti itu!" sergah Jungkook.

"Aku tidak jago ciuman," Taehyung kembali merayap turun dan menaruh kepala di atas dada Jungkook. "aku bisa saja menggigit bibirmu dan membuatnya berdarah. Atau ciumanku tidak bagus, atau—"

"—Hyung, siapa yang perduli kau jago ciuman atau tidak?" Jungkook mengusap punggung Taehyung. Tulang ekornya yang kurus terasa nyata dalam telapak tangan Jungkook. ia bergumam sesuatu tentang menaikkan berat badan dan perbanyak makan karbohidrat di telinga Taehyung dengan suara berat.

Taehyung tertawa. hangatnya naik dari pipi Taehyung yang menempel di dadanya hingga ke degup jantung Jungkook. menyelimuti Jungkook dengan kehangatan yang tidak bisa digantikan oleh apapun. Jungkook meletakkan telapak tangannya di punggung Taehyung, mengusapnya lembut dan tidak bisa menahan untuk tersenyum.

"Kau harus lebih sering tertawa, Hyung." Bisik Jungkook. dagunya berbenturan dengan puncak kepala Taehyung. Menerbangkan harum shampoo miliknya yang dipakai Taehyung. Aromanya campuran mint dan apel, tercium manis di bawah hidung Jungkook. Sangat manis.

Taehyung terkekeh tipis, menepuk dada Jungkook dan kini menaruh dagunya di sana. "Siapa yang tahu kalau dokter kaku sepertimu punya selera humor yang lumayan bagus." Taehyung nyengir. Namun senyuman itu mendadak hilang. Kabur sesaat sebelum Taehyung kembali tersenyum. Kini penuh kebohongan.

"Aku tahu kau mau bertanya sesuatu. Tentang Seokjin Hyung?" Jungkook menebaknya dengan mudah.

"Hm," Gumam Taehyung.

"Well, dia sedikit kacau. Jimin yang mengambil alih segalanya. Aku tahu tahu sangat tidak profesional. Tapi aku tahu apa yang dihadapi Seokjin Hyung."

"Kau tahu?" Tanya Taehyung menyerupai bisikan.

"Seokjin Hyung akan melakukan apa saja untukmu. Untuk keselamatanmu. Untuk kebahagiaanmu. Dan tiba-tiba adik yang sangat ia sayangi membuat sebuah perisai dan menabuh gendang peperangan. Kebencian di matamu. Penyesalannya yang tidak berujung. Menurutmu Seokjin Hyung bukan manusia yang tahan menghadapi itu semua?"

Taehyung merunduk, melesak masuk lebih dalam ke pelukan Jungkook dan meremas kemeja Jungkook erat-erat. "Kau pernah melihat film Inside Out?" tanya Taehyung tiba-tiba.

"Hah?" Jungkook menaikkan alis tidak mengerti. "aku jarang melihat film." Terangnya cepat.

"Di dalam tubuh Riley Andersen ada lima macam emosi yang mengontrol kehidupannya. Ada Joy si Bahagia, Fear si rasa takut, Anger adalah rasa marah, Disgust adalah rasa jijik, dan Sadness si rasa sedih." Taehyung mengangkat satu-persatu jemarinya. "Aku hampir mengingat apa saja yang membuatku bahagia. Ulang tahun ke lima. Saat ayahku membelikan sebuah sepeda. Ayahku adalah seorang ayah terhebat yang pernah kumiliki sampai saat umurku sepuluh tahun. Aku baru saja pulang dari sekolah bersama Seokjin Hyung, saling lomba tercepat sampai rumah menggunakan sepeda. Saat itu rumah kami penuh oleh orang-orang, kerabat dekat keluarga, hingga kakek-nenek kami dari Daegu. Ramai sekali. Aku melihat Ayah. Menangis di samping ibu. Saat itu perasaanku bercampur antara sedih dan marah. Aku marah sekali. Rasanya sangat sakit." Taehyung menarik nafas, mengusap pipinya yang basah dengan cepat sebelum Jungkook menyadarinya. "Kanker merebutnya dari kami. Dan kematian Ibu merebut ayah kami yang dulu. Ia berubah menjadi sekejam serigala. Membawa kami menuju apa yang diinginkannya tanpa tahu jika ini bukan cara terbaik baginya melepaskan kemarahan. Ibu memintaku untuk meneruskan perusahaan ayah karena ia tahu Seokjin sangat suka memasak. Tetapi ayah memaksa Seokjin Hyung menjadi dokter. Memaksaku menjadi sehebat dirinya. Dan mencekoki hidupku dengan tata karma setinggi langit serta ilmu bisnis yang memuakkan. Itu adalah saat-saat dimana rasa jijik dan kemarahan bercampur dalam diriku. "

"Aku mulai menjadi pembangkang. Bertingkah liar hanya untuk memberitahu Ayah ini bukanlah jalan yang dimau Ibu. Aku ingin menyadarkannya bahwa kami adalah anaknya. Kedua putranya yang dulu ia sayangi dan rela lakukan apa saja. Kami adalah putranya. Tetapi kesedihan dan kemarahan menyeretnya terlalu dalam. Aku dan Seokjin Hyung menyerah. Aku kini membencinya dengan segenap jiwaku setelah ia membunuh Seojin. Setelah apa yang ia lakukan terhadap Seojin. Demi Tuhan, Seojin hanya seorang malaikat manis yang mau bertahan di sisiku sementara semua orang menghujatku. Dia yang menyuruhku untuk melepas semua rantai di kakiku dan mengajarkan aku kembali terbang. Min Seojin tidak bersalah. Aku yang selalu salah. Tetapi Ayah merenggutnya dariku dengan cara yang sangat kejam. Aku tidak mengenalnya sebagai ayahku lagi. Semenjak itu, hidupku hanya dipenuhi oleh tiga perasaan." Taehyung mengangkat tiga jari tangannya. "Kemarahan, kesedihan, dan menjijikan," Taehyung mengangkat wajah.

"Hoseok Hyung pernah membawa rasa senangku meluap naik tidak terkira. Mengajarkanku terbang dan menunjukkan aku sebuah dunia baru. Ia meminjamkanku sayap, tetapi dia juga yang menyeret panah dan membidiknya tepat ke arahku. Ia juga menamparku dengan rasa sakit yang keterlaluan. Mendorongku jatuh tanpa mau mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. Hanya dua. Hanya dua perasaan yang ada ketika aku bersama Hoseok Hyung," Taehyung bernafas pelan, terasa hangat menyapu leher Jungkook. "Dan semenjak bertemu denganmu, kau membuat kelima perasaan itu muncul sekali sentak. Aku marah. Marah karena aku menginginkanmu tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku sedih. Sedih karena setiap melihatmu aku bisa melihat Hoseok Hyung. Aku merasa jijik karena pikiranku terus berkata aku menginginkanmu dengan cara apapun dan ingin kau di sampingku apapun yang terjadi. Aku senang, karena kau di sini. Membantuku melewati hari-hari berat yang tidak bisa aku lalui sendirian. Aku senang kau mau menungguku. Aku senang kau masih mau menggenggam tanganku setelah yang aku lakukan hanyalah mendorongmu menjauh. Aku sangat senang." Taehyung mengatupkan bibirnya rapat sebelum melanjutkan. "dan aku sangat takut. Takut seseorang akan mengambilmu dariku. Takut ayahku bertindak sesuatu untuk menyingkirkanmu. Aku takut setengah mati memikirkan kau tidak berada disisiku lagi. Aku ketakutan setelah apa yang kau lakukan. Aku takut." Tekan Taehyung.

Taehyung kembali mengangkat wajah, mengijinkan mata mereka bertemu dan bertatapan lama. Telapak tangan Taehyung berada di atas dada Jungkook dan merasakan degupannya yang cepat. ia merunduk, hidungnya menekan dada Jungkook dengan kening menempel di dagu Jungkook. Bernafas dalam dan menghirup aroma tubuh Jungkook yang menenangkan. Ada kalanya Jungkook bisa membuat Taehyung begitu lemah dan lumpuh. Meluluhlantahkan kata-kata di lidahnya dan menahan semua pembelaan Taehyung. Jungkook menyentuh titik buta di tubuhnya hingga semua rasionalitas tidak lagi berada di tempatnya. Semua fikiran sehatnya di ambang kehancuran. Ada kalanya Jungkook menjadi sebuah dinding kokoh yang menopang Taehyung dan menyelimutinya dengan kehangatan. Membangun perisai kuat dan menghalau siapa saja yang maju untuk menyakiti Taehyung. Ia memegang sebuah pedang berisi racun mematikan yang siap ia ayunkan dan menebas apapun yang menyakiti Taehyung. Juga, Ada kalanya Jungkook sanggup membuat Taehyung bertekuk lutut di bawah kelembutannya.

"Apapun, Hyung." Jungkook berbisik. "Aku akan melakukan apapun. Untukmu."

Dan, Taehyung meleleh dalam pelukan Jungkook yang penuh kemanisan.

.

.

Awalnya hanya kecupan ringan, Taehyung berani bersumpah.

Awalnya hanya sekedar kecupan penenang saat Jungkook melihat tatapan terluka bercampur sedih di wajah Taehyung. Jeon Jungkook tidak akan pernah tahan melihat kesedihan di wajah Taehyung.

Awalnya hanya bisikan-bisikan lembut Jungkook di telinganya, ciuman-ciuman manis di sekitar wajahnya.

Awalnya Jungkook hanya menyentuh pergelangan Taehyung dengan bibirnya yang hangat. Mengecup letak denyut nadinya dengan kelembutan yang mendebarkan jantung Taehyung.

Awalnya hanya satu kancing kemeja.

Awalnya hanya kecupan yang berubah menjadi ciuman panjang. Menyekat oksigen dan menarik jiwanya keluar.

Awalnya hanya satu ruam kemerahan di lehernya, lalu tiba-tiba ia menarik kepala Jungkook mendekat dan meminta tanpa kata agar Jungkook membuat yang lebih banyak.

Awalnya hanya ia yang bertelanjang dada. Sentuhan Jungkook seperti api yang bermain dalam kanvas yang terbuat dari pecahan es. Mengukir bara api yang semakin bergejolak tidak waras. Taehyung berulang kali menyuruh pikirannya untuk berhenti.

Ini tidak benar.

Ciuman Jungkook membawa Taehyung melupakan teriakan di pikirannya. Kenyataan saat tubuh Jungkook mengukungnya kuat di balik ruang sofa yang sempit, menghimpit tubuhnya di antara pelukan dan sandaran sofa yang lembut, ketika kelima jarinya meraba kemejanya yang tipis lalu meremas pinggang Taehyung mendebarkan. Pundaknya yang lebar menghalau cahaya televisi yang temaram, mengaburkan suara pembawa berita yang semakin jauh karena suara yang mengaung di telinga Taehyung hanyalah nafas Jungkook yang hangat serta rintihan tipis ketika dengan berani Taehyung menyelipkan jemarinya ke sela-sela rambut Jungkook yang pekat lalu meremasnya intim. Sementara bibirnya sibuk mencari bibir Jungkook, ia meloloskan satu-persatu kancing kemeja Jungkook. Meremas punggung telanjang Jungkook dengan jari-jarinya yang tumpul sambil melengkungkan punggung mencari kekuatan. Lengan Jungkook menyelinap pasti di bawah tubuhnya, menarik Taehyung dalam dekapan hingga dada mereka bersentuhan sementara lengannya terkalung manis di leher Jungkook. Merenggut segala rasa di bibir Jungkook yang membungkam logikanya.

Ini tidak benar.

Dan ketika jari Jungkook membuka kancing celananya, teriakan itu sempurna keluar dari bibirnya.

"B-Berhenti!" ia ketakutan setengah mati. Jarinya bergetar. Terangkat membingkai wajah kebingungan Jungkook. Hasrat dan gairahnya berteriak murka. Memaki ketakutan Taehyung yang datang di waktu yang tidak tepat. tetapi logiknya mengambil alih secepat cahaya. Mengumpulkan alur-alur kacau di kepalanya mengingat kelembutan bibir Jungkook yang menyapu bibirnya penuh tuntutan. "Jangan lakukan." Ulangnya lagi. Ibu jarinya mengusap bibir Jungkook yang bengkak.

Jungkook memejamkan mata sesaat, menarik nafas pelan dan menangkap jari Taehyung. Mengecupinya sabar hingga jari Taehyung tidak lagi bergetar. Ia membuka mata dan mengerti tatapan Taehyung.

"Baik," ia berbisik lemah. Memeluk Taehyung cepat sebelum melepas Taehyung dan bangkit dari atas tubuh Taehyung. Dokter itu mengambil kemejanya dan duduk di tepi sofa. Taehyung bahkan bisa melihat tanda kemerahan samar di punggung Jungkook yang terlihat dari sekelebat cahaya televisi, tanda merah akibat kekuatan kukunya yang mencengkram kulit Jungkook, dokter itu bangkit setelah memakai kemejanya lalu menghilang dari pandangannya.

Tidak. Bukan salah Jungkook.

Kim Taehyung hanya terlalu pecundang untuk mengakui ia mencintai Jungkook lebih dari yang ia inginkan.

.

.

Jungkook berdeham kecil. Memeriksa kertas berisi daftar pasien yang berada dalam tanggung jawabnya serta segudang perkembangan mempuni yang ia lakukan sekuat tenaga. Jungkook mengeceknya dengan taat, jemari kanan menggenggam cup kopi instan yang mulai dingin dengan jari kiri usil mengetuk ujung pena ke permukaan meja. Jungkook kembali berdeham. Kini diiringi erangan ringan dan dengusan tidak senang. Akhirnya Jungkook mengangkat wajah, menaikkan alis sambil menutup lembaran kertas yang ditekuninya dengan gusar.

"Bisakah berhenti tersenyum idiot seperti itu di hadapanku?" gertaknya. Mendorong clipboard yang menjadi penyangga kertas-kertas pentingnya dan membiarkan Mingyu mengambilnya diiringi senyuman mencurigakan yang tampan. Jungkook bahkan sempat memberikan Mingyu tatapan peringatan yang menyeramkan.

"Senyum idiot?" ulang Jimin. Ia tertawa kecil. Suaranya menyenangkan untuk didengar dalam suasana rumah sakit yang suram. Tetapi Jungkook benar-benar sedang tidak ingin memuji Park Jimin. Mingyu di sampingnya menyuarakan tawa tertahan yang langsung mendapat pelototan dari Jungkook. kemudian Mingyu meminta diri setelah berhigh five dengan Jimin diiringi tawa usil yang menyebalkan.

"Kau harusnya bertanya apa yang membuatku tersenyum idiot pagi-pagi seperti ini." Jimin menjentikkan jari gembira. "Lihat ini?" Jimin menunjuk leher Jungkook. Menyentuh garis rahang Jungkook dan berhenti di batas telinganya, sedikit lagi menuju belakang telinga.

"Lihat apa?" Jungkook mengusir jari Jimin sambil mendesis jijik dengan main-main. Jimin hanya membalasnya dengan kekehan manis yang kurang ajar.

"Hickey," Jimin berucap penuh percaya diri, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Lehermu penuh dengan bekas ciuman, Dokter Jeon. Menghabisi malam yang indah, eoh?"Jimin bertanya sambil bersiul bejat. "atau malam yang sedikit liar melihat bibirmu yang bengkak dengan luka gigit dan bekas ciuman yang terlalu banyak. Fuuuh," Jimin bersidekap. "Taehyung sangat ahli membuat bekas ciuman yang lamaaa sekali hilang."

Jungkook meninju lengan Jimin. Wajahnya memerah akibat godaan Jimin yang keterlaluan. Ia menggerakkan lehernya ke kanan-kiri, mengusap lehernya dengan gugup seolah dengan cara itu bekas ciuman di lehernya bisa hilang. Ia bahkan tidak mengecek dirinya di cermin sebelum pergi karena buru-buru takut Taehyung bangun dan memaksanya membicarakan kejadian semalam. Kejadian yang tidak pernah Jungkook lupakan namun menjadi kejadian yang ingin ia simpan di dasar otaknya mengingat penolakan Taehyung yang jelas melukai dirinya.

"Tutup mulut," desis Jungkook. Membuang bekas kopinya ke tempat sampah dengan wajah masih memerah. Sialan. Perasaan memiliki bekas ciuman akibat perbuatan Taehyung membuatnya senang sekaligus merinding. Ia selalu diingatkan akan geretan gigi Taehyung yang menggigit lehernya tajam serta kecupannya yang membuat Jungkook lupa ia tinggal di bumi dan serasa melayang di surga.

Jimin kembali tertawa, menyeret gelas kopinya yang setengah habis, "Jadi kemajuan?"

"Apanya?" dengus Jungkook.

"Kau dan Taehyung?"

"Aku tidak mengerti maksud kemajuan yang kau bicarakan," dengus Jungkook terlampau kasar.

"Jeon Jungkook," Jimin menepuk pundak Jungkook dengan gerakan dramatis. "Mencintai Kim Taehyung sepenuh hatinya. Rela menyiapkan seluruh dunia untuknya. Jeon Jungkook. yang akan mengikuti Taehyung kemanapun pemuda itu inginkan, bahkan dasar neraka sekalipun. Akan ia turuti semua permintaan yang keluar dari bibir Taehyung. Tidak memerdulikan kewarasan dan mata dunia. Jeon Jungkook, pecinta nomor satu Kim Taehyung."

Jungkook tertegun sesaat, sebelum menepis jari Jimin di pundaknya. "kenapa tiba-tiba kau jadi sok puitis seperti ini, Hyung?"

Jimin tertawa lagi. Matanya membentuk bulan sabit yang lucu. "ada dua jalan bagi setiap orang saat sedang jatuh cinta. Satu adalah jalan ia menuju dirinya sendiri. Dan yang kedua adalah jalan untuk menjadi orang lain. Kau boleh saja menjadi Jeon Jungkook saat ini. tapi kau bisa menjadi orang lain. Kau bisa menjadi Seokjin Hyung, yang akan melakukan apapun demi keselamatan Taehyung, menyingkirkan semua rasionalitas karena otakmu akan lumpuh ketika jatuh cinta. Kau bisa saja menjadi Yoongi Hyung, begitu keras kepala dan menyembunyikan perasaannya mati-matian. Atau kau bisa jadi diriku, Park Jimin. Tidak lelah memasangkan satu-persatu baut yang lepas dari raga Yoongi Hyung. Atau kau bisa jadi Hoseok Hyung," Jimin tersenyum lembut. Menepuk pundak Jungkook diiringi remasan singkat. "Yang meninggalkan Taehyung demi kebahagiannya. Yang terus mencintai Taehyung dan tidak lelah memintamu untuk menjaganya. Kau bisa menjadi siapa saja saat jatuh cinta, Jeon. Sebutkan orang terkejam di dunia ini dan cari tahu realita dari semua kekejaman yang ia lakukan. Tidak lebih karena dia sedang jatuh cinta, dan terlampau mencintainya."

Dan ucapan Jimin membuat Jungkook paham. Teramat paham.

.

.

Kim Taehyung memasukkan jarinya ke dalam saku jaket. Bahan kulitnya yang kasar menyapa buku jarinya yang terkepal di sana. Taehyung menggerutu samar, menggerakkan kepala agar rambutnya yang tersibak angin kembali menutupi keningnya. Ia bisa mencium seberkas aroma shampo Jungkook yang digunakannya. Segar dan alami. Taehyung juga bisa mencium aroma pakaiannya yang kini mirip dengan punya Jungkook. Aroma deterjen sehangat musim semi dengan bunga prancis yang nikmat. Taehyung dapat merasakan kehadiran Jungkook setiap ia menghela nafas panjang, seolah Jungkook tengah memeluknya erat dengan kedua lengannya yang kuat. Ia melangkahkan kakinya cepat menuju sebuah café mungil dengan tulisan menarik di atasnya yang berwarna biru toska. Mendorong pintu kayunya yang berat diiringi bunyi lonceng kecil yang manis. Ia bisa menghirup aroma kopi dan pasta. Pedasnya aroma ikan tuna menusuk hidung Taehyung hingga ia mengerutkan hidungnya tidak suka. Ia duduk di salah satu sudut café dengan empat buah kursi mengelilingi meja berbentuk persegi dengan vas bunga mungil di tengahnya. Seorang pelayan menaruh daftar menu yang berat di hadapannya.

"Aku sedang menunggu teman," Ia tersenyum. "Tidak apa kan aku memesan nanti?"

"Tentu," pelayan itu menarik buku menunya dengan sopan. Taehyung bergumam terimakasih sambil merunduk ringan. Ia mengalihkan matanya ke samping kanan. Menatap sebuah vespa lucu yang terparkir di depan café, juga beberapa sepeda dengan warna menarik mata. Tumpukan salju mengumpul di setiap sudut jalanan, membuat Seoul terlihat basah dan licin.

"Menungguku lama, manis?"

Taehyung mengangkat wajah, tertawa mengejek begitu melihat Park Jimin berdiri di hadapannya, sibuk membuka mantelnya yang panjang dan menyisakan kemeja putih penuh aroma antiseptik.

"Aku baru sampai," Ucapnya. Tersenyum kecil begitu melihat Yoongi yang berdiri di belakang Jimin. Yoongi membalas senyumannya, terasa semanis gula di bawah siraman rambutnya yang berwarna merah muda. Seperti gulali, pikir Taehyung. Manis dan membuat gigi Taehyung ngilu.

"Si pendek itu lupa mengisi bensinya," Yoongi angkat suara. "dasar bodoh, dia membuatku menunggu dua puluh menit." Yoongi sibuk mengurai kancing jaketnya. Dan Jimin turun tangan membantu Yoongi menanggalkan jaketnya dengan kekehan.

"Jalanan macet sekali Hyung. Lagipula aku hanya telat dua puluh menit." Jimin mencoba membela diri.

"Hanya dua puluh menit, kepalamu." Gertak Yoongi galak. Taehyung hampir saja tertawa melihat wajah terkejut Jimin karena bentakan Yoongi.

"Aku menyesal sudah mempercayai Jimin Hyung." Jungkook datang dengan gumamam kesal, Mengirimkan Taehyung gejolak rasa senang karena akhirnya bisa melihat Jungkook setelah pagi ini ia merutuk kejadian antara dirinya dan Jungkook semalam. "Lain kali ingatkan aku kejadian ini maka aku tidak akan mengijinkan Jimin Hyung membawa mobilnya." Jungkook masih melanjutkan kekesalannya, melangkah mendekat ke Taehyung lalu mengusap rambut Taehyung dengan gerakan lembut, diiringi 'hai' kecil yang manis saat ia mendudukan tubuhnya di samping Taehyung.

"Yoongi Hyung, kau harus memaksanya mengganti mobil. Honda 2000 itu terlalu tua," Jungkook berucap semangat sembari membuka mantelnya, yang lagi-lagi mengirimkan aroma antiseptik yang memualkan isi perut Taehyung. Taehyung membalas senyuman Jungkook kaku. matanya melirik ke arah leher Jungkook yang penuh ruam merah. Ia meringis sambil menggigit bibir malu sementara Jungkook nampak baik-baik saja.

"Mobil baru masuk daftar wish listku di tahun dua ribu enam belas," Jimin mengangkat tangan memanggil pelayan.

"Aku baru tahu kau punya wish list," Taehyung buka suara dengan gusar. Jungkook tiba-tiba saja memegang tangannya dan mengirimi Taehyung rasa beku dingin yang menggetarkan. Ia menepis jari Jungkook kasar. Dokter itu tertawa kecil.

"Tanganku dingin sekali," bisiknya, ia dengan jahil menempelkannya di pipi Taehyung. Dan Taehyung berjengit, kini memukul lengan Jungkook main-main. Tetapi diam-diam ia mencari jari Jungkook di bawah meja lalu menggenggamnya erat.

"List keduaku di tahun dua ribu enam belas adalah memiliki rumah baru," Jimin berucap setelah menyebutkan pesanannya dan Yoongi. "aku akan memasukkan mobil baru ke nomor tiga."

"Dan apa yang nomor satu?" tanya Jungkook penasaran. Ia menunjuk makanan yang ia inginkan dan membiarkan Taehyung yang menyebutkannya ke palayan.

"Menikah," Jimin tersenyum saat mengatakannya. Yoongi pura-pura berdeham keras sambil terbatuk. "dengan Yoongi Hyung," ia melanjutkan diiringi kekehan.

"Memangnya Yoongi Hyung mau menikah denganmu?" Jungkook bertanya usil.

"Jungkook tidak usah mematahkan harapanku bisa tidak, sih?!" Jimin menggerung kesal.

"Akukan hanya bertanya. Memangnya Yoongi Hyung sudah setuju?" Jungkook membela diri.

Yoongi mengangkat tangannya, memperlihat jarinya yang kurus dengan sebuah cincin imut melingkar di jari manisnya.

"Sayangnya aku sudah mengatakan iya, Jungkook-a," Yoongi menampilkan wajah bangga yang terlihat menyesal. Membuat nada protesan keluar dari Jimin.

"Woah!" Taehyung terpaku. Ia tidak menyangka Jimin cukup berani dan sangat serius dengan Yoongi. Ia menepuk pundak Jimin dengan keras. "Jadi kalian akan menikah?! Mendahuluiku?! Oh sialan, pendek! Selamat! Yoongi Hyung terlalu bagus untukmu!"

"Dasar sial," gerutu Jimin. Senyuman cerahnya luntur diiringi tatapan terluka yang main-main. "Kau dan Jungkook sama saja."

"Kapan dia melamarmu, Hyung?" tanya Jungkook antusias. Ia meremas jari Taehyung dalam genggamannya.

"Entahlah, aku lupa." Jawab Yoongi santai.

"Hyung! Kau lupa?" Jimin menjerit berlebihan. "bagaimana bisa kau lupa lamaranku yang romantis itu?"

"Itu norak. Bukan romantis."

"Aku me—"

"Ah Park Jimin berisik sekali," potong Yoongi. Pemuda itu memberikan Taehyung senyuman tipis kala makanan mereka tiba.

"Hyung, aku menghabiskan banyak uang untuk merencanakannya, aku—"

"Cepat makan,"

"Hyu—"

"Berisik sekali,"

Jungkook dan Taehyung hanya bisa tertawa melihat keajaiban Jimin dan Yoongi yang entah bagaimana bisa membuat mereka begitu serasi. Taehyung membalas remasan tangan Jungkook. Mengira, ini adalah pertama kali ia bisa kembali tertawa sebebas Kim Taehyung yang selama ini ia sembunyikan.

.

.

"Aku awalnya tidak mengerti,"

Taehyung sadar tubuhnya kaku ketika Min Yoongi membuka suara. Mereka berdua tengah duduk di sebuah bangku kayu yang tercium wangi cat yang baru. Taman itu sepi. Taehyung melirik Jimin dan Jungkook yang sedang tertawa dengan sekaleng soda di genggaman mereka. Berbincang sesuatu yang asik dan meninggalkannya dengan Min Yoongi. Taehyung masih ragu Yoongi sudah memaafkannya. Taehyung masih ragu seluruh kebencian Yoongi sudah terhapus dan terangkat dari dasar hatinya.

Taehyung merunduk, menatap sepatunya yang basah akibat salju dan terdapat noda tanah di ujungnya. Menunggu Yoongi melanjutkan ucapannya.

"Rasanya aku ingin membencimu dan Seokjin sekaligus." Gerit Yoongi pelan. Penuh sesak. "lalu semalam, Park Jimin bertanya padaku apa yang akan aku lakukan jika aku berada di posisi Seokjin," Yoongi menarik bibirnyamenjadi senyuman menyebalkan yang penuh kesedihan. "Aku hampir tidak mau mengakuinya. Aku hampir kembali bersikap keras kepala dan membenci Seokjin segenap hatiku. Aku hampir meninju Jimin karena sudah berani-beraninya menanyakan itu. Aku tidak bisa tidur semalam." Yoongi menarik nafas panjang. Menoleh ke arah Taehyung diiringi kerutan di keningnya yang menyiksa. "Aku akan melakukannya. Apa saja. Apapun. Aku akan melakukan apapun untuk bisa melindungi adikku. Dan itulah yang sedang Seokjin lakukan,"

Taehyung terperanjat saat jari kurus Yoongi menggenggam punggung tangannya yang tersimpan di atas pahanya. Yoongi meremasnya erat. Mengalirkan perasaan seorang kakak yang dipahaminya agar Taehyung mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Jari Yoongi dingin, begitu pucat di bawah sinar matahari yang bersinar tentram.

"Persamaan semua kakak di dunia ini adalah ia berani mengambil resiko apa saja untuk melindungi adiknya. Aku mengerti. Aku sangat mengerti mengapa Seokjin melakukan semua ini karena jika aku berada di posisi Seokjin aku akan melakukan hal yang sama dengan apa yang telah dilakukannya. Aku mengerti kenapa Jungkook melakukan semua ini untuk Hoseok Hyungnya. Aku mengerti karena satu-satunya tujuan dari ini semua adalah ingin melindungimu. Membuatmu utuh kembali. Seojin tidak bisa bersamamu, Taehyung." Taehyung bisa melihat mata Yoongi yang berkaca-kaca. "dia mungkin tidak menangis di hadapanmu. Tetapi dia menangis di pundakku. Dia tidak mengeluh, tetapi semua keluhannya tersimpan rapi di otakku. Dia cacat." Taehyung meremas jari Yoongi dan menggelengkan kepala meminta Yoongi untuk tidak melanjutkan ucapannya. "Seojin membantumu bangkit karena tahu dia sudah jatuh dan tidak mempunyai kekuatan untuk kembali berdiri. Beban di pundak Seojin terlalu berat dengan segala kecacatan yang ia derita. Dan saat ini entah mengapa aku sangat bersyukur dia tidak ada lagi di dunia. Aku ingin dia beristirahat tenang. Dan Aku mengerti, aku mengerti."

Dan detik itu, mereka berdua sama-sama menangis, saling menguatkan dan meremas jari satu sama lain. Dan detik itu juga, rasa sakit di hati Taehyung perlahan membaik, menggulirkan sebuah kenangan baru yang jauh lebih menyenangkan.

.

.

Namjoon menuangkan segelas air mineral setelah meletakkan bungkus makanan anjing yang ia ambil dari rak atas dapur Seokjin untuk diberikan kepada Lady yang sedari tadi menarik ujung celana Namjoon dengan giginya karena kelaparan. Anjing manis itu kini tengah bergulat di piring makanannya yang berbentuk bundar dengan ekor yang bergerak ceria. Namjoon menenggak minumannya dengan rakus, mengusap berkas air di bibirnya dengan lengan baju sembari melangkah ke ruang tengah apartemen Seokjin yang masih lengang. Televisi di hadapan Seokjin menyala, sementara pemuda itu duduk manis di sofa dengan lutut tertekuk dan mata kosong yang penuh kesedihan.

"Aku mau pesan pizza," Namjoon duduk di sebelah Seokjin yang terlihat tidak bergeming dengan apapun yang berada di sekitarnya. "Kau mau?"

Seokjin menggeleng, tersenyum tipis dan kembali menggeleng. "Aku tidak lapar,"

"Terserah," gumam Namjoon tidak mau tahu. "Aku akan memesan lima box pizza dan aku mau kau ikut makan denganku." Namjoon mengeluarkan smartphone dari saku celananya, menekan serangkai nomor dan terdengar suara pemuda itu yang menyebutkan pesanannya dengan cepat dan tidak perduli dengan delikan tajam Seokjin.

"Aku itu menyayangimu tahu," Namjoon berucap frontal setelah meletakkan smartphonennya di atas meja. Bahannya yang berat menimpa bahan meja Seokjin yang terbuat dari kaca. "aku tidak mau melihatmu sakit. Aku tidak mau melihatmu seperti mayat hidup. Besok kau harus kembali ke rumah sakit. Bekerja sebagaimana mestinya. Kau harus memakai jas doktermu itu dan bertanggung jawablah dengan pasien-pasienmu di rumah sakit. Jangan egois, Kim Seokjin. Masih banyak yang membutuhkanmu di rumah sakit. Kau itu dokter. Bukan seorang lelaki pengecut yang bersikap seperti orang tolol. Aku tidak mau melihatmu mengurung diri di apartemen ini dan membiarkan anjingmu kelaparan. Tidak lagi, Kim Seokjin."

Seokjin mendengus diiringi tawa yang semu. Ia mengacak rambutnya lalu menyandarkan pundaknya ke sandaran sofa. "Saat dokter berkata jika ibu tidak bisa diselamatkan, aku dan ayah kebingungan bagaimana cara memberitahu Taehyung. Dia menunggu sabar di depan pintu kamar ibu. Memeluk fotonya dengan wajah luar biasa marah. Aku duduk di sampingnya. Mengelus rambutnya dan mulai mengajaknya berbicara. Aku berumur enam belas tahun, dan aku paham posisiku sementara Taehyung masih berumur sepuluh tahun dan sangat keras kepala. Kau tahu apa yang dia ucapkan saat aku memeluk tubuhnya?" Seokjin menoleh ke arah Namjoon diiringi senyuman lembut yang penuh kasih sayang. Namjoon menjawabnya dengan gelengan. Seokjin mengatupkan bibir sebelum melanjutkan.

"Dia bertanya 'apakah ibu sudah tidur?'" Seokjin mengeluarkan tawa sedih dengan mata berkaca-kaca. "Aku mengangguk dan berkata di telinganya kalau ibu sudah tidur dengan tenang. Dan Taehyung dengan sabar membalas pelukanku dan berkata dia senang ibu sudah tidur tenang dan tidak perlu lagi menangis sakit. Dia yang berbalik mendiamkan tangisanku," Seokjin mengusap sudut matanya yang berair.

Kening Seokjin mengerut, "Oh sialan, kenapa aku mudah sekali menangis," gerutunya sambil mengambil tisu dan mengusap matanya. Seokjin menarik nafas panjang, dengan asal membuang tisu ke lantai rumahnya yang mengkilap. "Apa kau mengerti?" Seokjin menaikkan satu alisnya.

"Aku sudah mengerti dari dulu," Namjoon mengangkat bahu. "Aku tidak pernah bilang kau salah selama ini, kan?" Ia menepuk pundak Seokjin kuat sambil berdiri kala pintu apartemen Seokjin berbunyi. "Aku hanya menunggu kapan kau akan mengerti kenapa selama ini aku selalu berada di sampingmu."

Ucapan itu menonjok relung hati Seokjin. ia tergagap menatap pundak Namjoon yang berjalan menjauh untuk membuka pintu. Seokjin ikut bangkit, mengira pizza yang dipesan Namjoonlah yang tengah menunggunya di balik pintu. Seokjin ingin menggapai bahu Namjoon, memeluknya erat dan berucap beribu terimakasih. Pemuda itu rela berada di sisinya walau jelas-jelas semua ini adalah kesalahannya. Namjoon tidak pernah menghakiminya, dia kukuh berdiri di samping Seokjin dan menepuk pundaknya penuh kesungguhan.

Namjoon menarik kenop pintu, terpaku di tempatnya lalu menoleh ke arah Seokjin. ia tersenyum tipis penuh makna, membuka semakin lebar pintu di hadapannya hingga seseorang yang tengah berdiri di ambang pintu dapat tertangkap mata Seokjin.

Di sana. Ada Jeon Jungkook. mengenakan coat musim dingin mencapai lutut, berwarna pastel lembut dan luar biasa tampan dengan senyuman manis di wajahnya. Yang Seokjin tidak pernah kira adalah adanya keberadaan Taehyung, Kim Taehyung, adiknya, yang berdiri tepat di samping Jungkook. Adiknya. Yang lalu berlari menghambur ke pelukannya dan membisikkan beribu kata terimakasih dan maaf.

Kim Taehyung. Adiknya. Yang memeluk Seokjin erat dan menjanjikan sebuah kehidupan baru, untuk mereka berdua.

.

.

"Matamu bengkak,"

Taehyung membersit pelan lalu menekan kantung matanya dengan jari teunjuk. Ia terkekeh dengan suara serak. "Aku menangis terus-menerus hari ini. Pertama karena Yoongi Hyung lalu Seokjin Hyung," Taehyung membuka kedua lengannya, menengadahkan kepala ke atas menatap langit-langit kamar Jungkook lalu membaringkan tubuhnya dengan senyuman. "tetapi aku senang semuanya sudah selesai."

Jungkook berdeham mengiyakan, menggasak rambutnya yang basah dengan handuk kecil yang terkalung di lehernya. Ia mengambil selimut tambahan dari dalam satu lemari dengan jantung berdegup teratur. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sebuah pertanyaan yang sudah berada di ujung lidahnya namun tertahan di sana tak mau terucap. Ia mengambil sebuah selimut tebal dan memantapkan dalam hati untuk bertanya.

"Tae Hyung," Jungkook membalikkan tubuh, menutup pintu lemari dengan tumitnya sambil memeluk selimut erat-erat.

"Ne?" Taehyung masih dalam posisi berbaring. Kakinya bergerak riang menggantung di tepi tempat tidur Jungkook. Taehyung terlihat luar biasa senang. Ia menggumamkan nada gembira dari balik bibirnya yang terkatup rapat.

"Bagaimana—"

Dengan kita?

Aku dan kau?

Apa yang terjadi?

Apa kau kekasihku sekarang?

"Bagaimana apa?" Taehyung bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Memberikan tatapan penuh pertanyaan yang imut. Rambutnya setengah basah, menempel di keningnya dengan lucu. Ada bercak air di kaus merah gelap yang dikenakannya. Celana Taehyung super pendek, dan semakin pendek ketika pemuda itu mengangkat kakinya lalu menyilangkannya dengan wajah masih menatap Jungkook.

"Apa…" Jungkook tanpa sadar mencengkram selimut dalam pelukannya semakin erat. "Aku harus berhenti…?"

Jeon Jungkook kemarin malam menciumnya dengan panas, mengelabui seluruh akal sehatnya dengan seluruh sentuhan ringannya yang penuh keajaiban. Namun sekarang, ia tengah melihat Jungkook yang gelisah setengah mati. Menggigit bibir bawahnya ragu dan berdiri kaku. Jeon Jungkook yang manis dan polos. Kepolosan yang mencengkram Taehyung jika pilihannya hanyalah dua. Berhenti membohongi hatinya sendiri atau kembali mendorong Jungkook menjauh dan membiarkan semuanya mati. Taehyung masih takut. Sangat takut untuk mengambil langkah selanjutnya. Ia tidak mau seseorang menyakiti Jungkook. Ia tidak mau kehilangan Jungkook seperti ia kehilangan orang yang pernah disayanginya sepenuh hati.

Taehyung mengerutkan kening samar, mengusap betisnya yang dingin dengan jari-jarinya bergetar. Mencoba mengalihkan pikirannya dari tatapan penuh harapan yang dilayangkan Jungkook padanya.

Kebohongan besar jika Taehyung berkata ia tidak menyukai Jungkook. kebohongan itu akan menguliti setiap langkahnya. Kebohongan itu akan membayangi setiap hembusan nafasnya. Dan Tahyung merasa cukup. Dia tidak mau lagi takut. Dia tidak takut seluruh dunia berbalik memusuhinya. Dia ingin tutup telinga. Dia ingin Jeon Jungkook.

"Kau membuatku gugup," gerutu Taehyung. "Aku tidak suka."

"M-maafkan aku!" Jungkook berseru tipis. "Lupakan saja pertanyaanku tadi. Selamat tidur. Selamat malam, Hyung. Aku—"

"Minggu. Aku mau kita ke akuarium yang ada di COEX." Taehyung melipat tangan di depan dada. Wajah meminta seperti kanak-kanak dengan kepala mengangguk-angguk pasti tanda tidak menerima bantahan dari Jungkook.

"Ne?" Jungkook meminta konfirmasi dari ucapan Taehyung yang membingungkan.

"Kencannya, Jungkook!" seru Taehyung sebal. "aku mau kencan pertama kita di akuarium!"

"Ken…can?" Jungkook refleks menjatuhkan selimut dalam pelukannya. Lututnya terasa lemas mendengar kata kencan yang keluar dari bibir Taehyung.

"Ken-can," tekan Taehyung diiringi senyuman. "Aku mau lihat lumba-lumba! Dan kau harus mentraktirku makan, belikan aku es krim, aku juga mau gula-gula, dan kau harus menggenggam tanganku, aku tidak suka jalan-jalan tanpa pegangan tangan. Aku mau lihat kembang api, aku mau kita kita duduk di Cheonggyecheon sampai larut malam. Aku mau kita ke Itaewon dan mencicipi semua makanannya, lalu makan ramen dengan sosis tengah malam, kemudian bermain skateboard sampai pagi." Taehyung menjelaskan dengan rinci dan Jungkook tidak punya kekuatan untuk menolak atau membantah setiap ucapan yang keluar dari mulut Taehyung.

Jungkook berkedip, wajahnya yang kaku membentuk sebuah senyuman tipis. "aku akan mengingatnya."

"Kau harus mengingatnya," paksa Taehyung sambil merenggut kecil. Namun matanya bersinar menatap Jungkook.

"Apapun," gumam Jungkook. ia membungkukkan tubuh untuk mengambil selimutnya. Berjalan menuju pintu kamar dengan senyuman idiot yang bertahan di wajahnya. Kencan. Ya Tuhan. Kencan bersama Taehyung. "Kalau begitu selamat malam, Hyung. Aku tid—"

"Haish, mau kemana?!" Taehyung menghentakkan kaki sembari melangkah ke arah Jungkook, merebut selimut dari pelukan Jungkook dengan wajah kesal. "Kau tidur bersamaku mulai sekarang."

Jungkook yakin dia akan mimpi indah malam ini.

.

.

Jeon Jungkook memasuki rumah sakit dengan gusar. Menaiki lift ke lantai 15 dengan cepat dan diiringi nafasnya yang berderu karena habis berlari kencang. Ia menemui Mingyu yang sibuk dengan kertas hasil sinar X yang baru keluar pagi ini.

"Dokter Jeon! OR nomor satu!" Ia mengisyaratkan dengan lengannya yang panjang.

"Berikan aku hasilnya," Jungkook membuka jas dokternya dan memberikannya pada seorang perawat lalu mengambil hasil scan sinar X dari tangan Mingyu yang sudah mengenakan pakaian operasinya dengan patuh.

"Terjadi robekan subpleura, tekanan inti intrapreular meningkat tajam hingga mengakibatkan tension pneumotoraks, serta mediastinum yang bergeser ke kontralateral, diafragma tertekan ke bawah, paru-parunya empat puluh persen terisi cairan dan udara, Sonsaengnim." Jelas Mingyu cepat.

"Dada sebelah kanan, kita harus bergerak cepat agar tidak berkembang menjadi hidroneumo. Lalukan penyedotan udara yang terjebak dalam rongga pleural. Apa pasien sudah memperlihatkan gejalanya?" mereka memasuki ruang OR yang mencekam dengan detak jantung pasien yang bergejolak cepat. Jungkook buru-buru mengambil alih dibantu Mingyu. "Perawat! segera bawa WSD!"

Mingyu mengambil hasil scan sinar X dan membiarkan Jungkook memakai pakaian operasinya cekatan. Seorang perawat memakaikan sarung tangan serta masker ke daerah mulutnya. Mingyu memantau monitor di hadapannya dengan cermat. Seorang perawat lain masuk dengan membawa Water Seal Drainage yang segera Jungkook pasang dengan teliti.

Mingyu menarik nafas panjang, "Selamat hari minggu, guys." Ujarnya diiringi dengusan pelan dari beberapa orang.

"Tidak ada hari minggu untuk seorang dokter, Dokter Kim." Jungkook bergumam kecil membalas ucapan Mingyu.

Dan sesaat, pikirannya terbang mengingat Taehyung yang tengah menunggunya.

"Tenang saja, Hyung. Aku akan selesaikan ini dan mari kencan!" Itu adalah ucapan Jungkook di telpon saat ia terburu masuk ke dalam Range Rovernya kala mendapat panggilan dari rumah sakit.

Mari kita kencan!

Jungkook terus-menerus merapalkan ucapan itu di kepalanya.

.

.

Taehyung mengunyah popcornnya dengan santai. Tersenyum kecil melihat seorang anak kecil yang tengah berjalan beriringan dengan ibunya. Taehyung menyempatkan diri memberikan sebuah permen lalu mengusap puncak kepalanya lalu melanjutkan langkah. Ia sudah mengirimkan Jungkook pesan jika ia akan ke Gangnam seorang diri menggunakan kereta bawah tanah. Ia menghabiskan waktu mengelilingi COEX yang megah lalu bergerak ke luar menunggu Jungkook. Ia duduk di sebuah halte, memangku sebungkus besar popcorn yang ia makan dengan nikmat.

Taehyung tidak menyalahkan pekerjaan Jungkook sebagai seorang dokter. Itu adalah kewajibannya. Itu adalah cara bagaimana Jungkook mengenang Hoseok. Dan Taehyung tidak mau jadi orang berengsek yang mengambil seluruh kenangan indah Jungkook bersama Hoseok. Dan lagipula, ia menikmati waktunya sendiri. Menghabiskan banyak kesempatan untuk melihat kota Seoul yang super sibuk tanpa beban menggantung di pundaknya. Taehyung menatap jam tangan yang melingkar manis di lengan kanannya. Menyadari ini sudah pukul dua belas dan waktunya untuk makan siang. Taehyung baru saja hendak bangkit saat matanya menangkap Range Rover milik Jungkook di sebrang jalan.

Ia melambaikan tangan ceria ke arah Jungkook yang menurunkan kaca mobilnya lalu tersenyum cerah. Dokter itu bersiap memutar stir, terlihat lampu sennya yang berkedip dengan mata waspada menatap kaca spion. Taehyung duduk sabar, menunggu diiringi senyuman di wajahnya.

Dan kejadian itu sangat cepat. Sedetik ia mengerjapkan mata dan seluruh kekacauan terpampang di depan matanya. Taehyung yakin ia menjerit, berteriak sangat kencang, popcorn di pangkuannya terjatuh mengenaskan ke atas tanah keras yang ditapaknya. Lututnya goyah, ia mencoba bangkit sambil merayap dengan nafas putus yang menyiksa. Mobil Jungkook terseret jauh, bunyi logam yang saling beradu membuat Taehyung ngilu dan ia kembali berteriak. Decitan roda yang tergugus jalan aspal serta asap tipis yang keluar dari gaya gesekan yang terjadi adalah kutukan yang selama ini selalu ingin ia jauhi. Jari tangannya lengket akan keringat, berlari sekuat yang ia mampu di jalanan licin akibat salju. Ia terpeleset, kembali bangkit lalu menerobos kerumunan orang yang mulai memenuhi tepi jalan.

Ada yang mencegahnya mendekat, mendekap pinggang Taehyung erat karena pemuda itu berontak luar biasa. Aroma besi yang hangus serta bensin yang berceceran membuat Taehyung ketakutan, ia menjerit kencang sembari memukul siapa saja yang mencegah langkahnya.

"Jungkook!" ia berteriak.

"Jungkook!"

Tidak ada jawaban.

"Lepas— lepaskan aku! —Jungkook!"

Range Rovernya terbalik, hancur di beberapa bagian dengan sebuah truk besar yang menabraknya lalu menyeretnya tak bersisa.

"Jung—" ia kembali menyerah, "Jangan lakukan ini padaku." Ia jatuh tak berdaya. Dan Taehyung yakin hidupnya benar-benar berakhir. Hancur menjadi kepingan yang tak berbentuk. Ia mendengar sirene ambulance yang mendekat. Tetapi Taehyung tidak bergeming. Sebagian nyawanya terasa hilang terbawa angin musim dingin yang menusuk. Dan yang ia lihat selanjutnya adalah darah.

Darah yang membuat jalan bersalju itu penuh oleh noda. Darah Jeon Jungkook.


TBC


Hallo?

Ada yang kangen aku? XD /ga/

I wont say much, hanya mau berterimakasih buat yang udah review di chapter sebelumnya dan masih nungguin FF aku, makasih banget sayang-sayangku. Dan please jangan bunuh aku dengan ending di chapter ini. Aku nunggu bom masukan dari kalian! Dan please wait pateintly for the next chapter! I'm excited for myself, I hope you too~

RnR Juseyooo~

I'm not gonna bite you~