Disclaimer: I do not own Naruto

Hope you'll enjoy these, my precious readers...


Chapter 10

Hinata Hyuuga tersentak kaget ketika pria dibawahnya tiba-tiba mendorongnya hingga ia terhempas ke tanah. Hal pertama dalam pikirannya adalah Sabaku no Gaara, karena suatu alasan, tiba-tiba marah padanya hingga pria itu melepas pelukan mereka dengan cara yang begitu kasar. Dalam sekejap Hinata pun mengambil posisi bertahan untuk berjaga-jaga kalau-kalau Gaara menyerangnya.

Namun, begitu Gaara tak menunjukkan tanda-tanda apapun untuk melukainya, Hinata menurunkan pertahanannya lalu kembali dikagetkan oleh pemandangan lain. Gaara sudah berdiri tegak, kedua tangannya terlipat di depan dada. Hinata tak perlu menoleh untuk menyadari bahwa pasir pria itu berputar-putar dengan gelisah di kaki tuannya, tak sabar menunggu perintah selanjutnya.

Tanpa sadar Hinata memundurkan tubuhnya ketika melihat pandangan membunuh di kedua mata Gaara. Jantungnya nyaris copot ketika ia melihat orang yang menerima pandangan maut tersebut tak lain dan tak bukan adalah sepupunya, Neji Hyuuga. Pupilnya melebar serta urat-urat disekeliling matanya menonjol, menandakan pria itu sudah mengaktifkan kekkei-genkainya. Kedua telapak tangannya yang besinar karena chakra pun membuat Hinata was-was.

Dua pria ini sudah siap saling bunuh.

"Dengan segala hormat Kazekage-sama," Neji memulai dengan nada marah, "Menjauhlah dari Hinata-sama sebelum pukulan ini mendarat padamu."

"Ingat posisimu Hyuuga," Gaara mendesis, "Lihat pada siapa kau berbicara sekarang." katanya dingin.

"Lihat gadis dibelakangmu. Dia pewaris klan paling tertua di Konoha. Menjauhlah sekarang." balas Neji tak mau kalah.

"N-Neji-nii-san... A-Apa yang kau lakukan disini?" Hinata yang seakan-akan baru tersadar dari syok tiba-tiba menemukan suaranya. Ia tidak mengerti mengapa Neji dan Gaara begitu marah.

Si gadis Hyuuga berdiri di kakinya, kemudian hendak berjalan ke arah Neji untuk menenangkan sepupunya tersebut. Namun, langkahnya tertahan oleh pasir yang secara misterius tiba-tiba muncul di kakinya.

"Jangan Hinata. Lihat matanya, dia berniat membunuh kita. Aku tak bisa membiarkanmu mendekatinya." Gaara menarik tangan Hinata lalu dengan kasar mendorongnya ke belakang, ke dekat keranjang piknik mereka. Kemudian sebelum Hinata bisa memprotes apapun, pasir Gaara sudah membungkusnya bersama keranjang piknik mereka dalam perisai berbentuk kepompong, menghalangi apapun untuk menyentuh wanita itu.

Hinata menatap tak percaya pada lapisan pasir yang semakin menebal disekelilingnya. Dalam kepompong pasir itu gelap gulita, namun demikian, Hinata masih bisa mendengar suara kedua pria diluar.

"LEPASKAN HINATA-SAMA!" teriak Neji gusar.

"Aku tak akan membiarkanmu melukainya." jawab Gaara tenang.

"OMONG KOSONG! HANYA KAU SATU-SATUNYA DISINI YANG BISA MEMBUATNYA TERLUKA!"

Hinata terkesiap mendengar suara Neji. Belum pernah Hinata mendengar sepupunya semarah itu. Sekuat apapun Gaara, tapi kalau dia menghadapi Neji yang kalap, salah satu dari mereka pasti ada yang berakhir terluka.

Ia tak bisa membiarkannya.

Hinata membukul-mukul dinding pasir disekelilingnya. "GAARA! GAARA! KELUARKAN AKU! JANGAN SAKITI NEJI-NII-SAN!"

"Diamlah disana Hinata!" Gaara berseru. "Dia bukan lagi sepupumu. Dia hendak membunuh kita!"

"DIA TAK AKAN MEMBUNUH KITA!" teriak Hinata sekuat tenaga. Tapi Gaara tak menjawabnya.

Gaara yang terus mengabaikannya membuat Hinata sadar bahwa berteriak tak ada gunanya. Ia harus menenangkan diri sekarang. Apa yang akan dilakukan ayahnya dalam keadaan seperti ini? Terjebak dalam sebuah perisai yang mustahil untuk ditembus sementara Gaara dan Neji sedang bertarung diluar sana? Dia menggigit bibir.

Pasti ada satu, setidaknya satu hal yang bisa ia lakukan. Perisai ini pasti punya kelemahan, karena kekokohannya disokong oleh chakra Gaara yang sedang bertarung. Hinata membentuk berapa segel sebelum mengaktifkan kekkei-genkainya. Selama beberapa saat ia terpukau melihat betapa hebatnya kontrol chakra Gaara

Meskipun konsenterasi pria itu sedang terbagi, antara bertarung dan mempertahankan perisai, perisai tersebut sama sekali tak punya celah. Hinata mengalirkan chakra ke telapak tangannya, kemudian mengetes satu-satu permukaan dinding perisai pasir itu.

Ia makin panik ketika tak menemukan satu celah pun yang dapat ditembus sementara suara-suara adu mulut antara Gaara dan Neji diluar sana semakin memanas.

Dengan frustasi Hinata menggunakan seluruh tenaganya untuk memukul satu titik pada permukaan perisai tersebut. Kedua matanya melebar ketika melihat kepalan tangannya melesak ke dalam. Ia pun tersenyum sebelum mengerahkan seluruh tenaganya untuk menjebol tempat yang sama.

Sementara itu diluar perisai Gaara, Neji Hyuuga dengan amarah yang berkobar-kobar berlari kearah si Kazekage, telapak tangannya siap mendarat di dada pria itu. Gaara menatapnya dengan tenang dan pandangan menilai. Sejauh ini ia masih bisa menangkis setiap pukulan Neji Hyuuga dengan pasirnya. Namun lama-kelamaan gerakan pria itu semakin cepat. Belum lagi perisai pasirnya yang sejak tadi dipukuli terus oleh Hinata. Tak bisakah wanita itu diam di tempat dan berhenti membahayakan dirinya?

Memikirkan Hinata saat sedang bertarung dengan sepupu wanita itu merupakan sebuah kesalahan fatal. Gaara tak siap ketika dadanya dihantam oleh pukulan yang sanggup merobohkan seekor gajah. Namun Gaara, karena dia Gaara, pada saat-saat terakhir masih dapat menangkis pukulan tersebut sehingga efek yang ia dapat tak seberapa.

Melihat pukulannya yang berhasil mengenai sang Kage, selama sedetik Neji merasa puas terhadap dirinya hingga ia lupa bahwa ia tak boleh sekalipun menurunkan pertahanannya selama bertarung, apalagi saat bertarung dengan orang sebuas Sabaku no Gaara.

Saat pria itu tersadar, sudah terlambat. Aliran pasir sudah melingkari pergelangan kakinya. Namun dengan kecepatan ular yang siap mematuk, Neji sudah menghantamkan pergelangan tangannya pada pasir yang siap meremukkan tulangnya. Pasir tersebut pun berhamburan dan jatuh ke tanah.

Hanya saja Neji tak melihat ketika aliran pasir yang lain sudah melingkari pinggangnya dengan tenaga bak ular piton. Neji terkesiap lalu dengan panik memukuli aliran pasir yang menolak mengendurkan ikatannya tersebut.

Gaara merasa puas saat melihat Neji Hyuuga yang dari tadi bergerak dengan lincah itu akhirnya diam di tempat. Kepuasannya tak bertahan lama ketika ia merasakan perasaan janggal, perasaan yang didapatnya ketika perisai pasirnya ditembus...

Sang Kazekage menoleh ke belakang dan dikagetkan oleh sebuah kepalan tangan yang menyembul keluar. Kepalan tangan tersebut masuk kembali kedalam sebelum meninju lagi keluar hingga menghancurkan separuh perisai pasirnya dan menampakkan wajah Hinata Hyuuga.

Hinata Hyuuga yang tak terlihat begitu senang.

"Gaara!" Sang Kazekage mundur selangkah mendengar nada tegas gadis itu. "Lepaskan Neji-nii-san!"

Secara logis Gaara tak seharusnya menuruti kata-kata gadis itu. Memangnya dia siapa bisa seenaknya memerintah seorang Kage? Lagipula tidakkah perempuan ini sadar bahwa pria berambut panjang itu mengancam jiwa mereka?

Tetapi, sesuatu dalam mata serta suara gadis itu memberitahu Gaara bahwa kalau ia tak mematuhi perintahnya, akan terjadi bencana lain yang lebih berbahaya.

Belitan pada tubuh Neji Hyuuga pun mengendur dan pasir tersebut akhirnya jatuh ke tanah. Hanya butuh beberapa detik bagi Neji untuk mengumpulkan tenaganya kembali sebelum ia menerjang ke arah Gaara.

"NEJI-NII-SAN!" Suara lantang Hinata terdengar kembali, seketika menghentikan gerakan si Hyuuga prodigy. "Apa yang kau lakukan disini?" kalimat terakhir keluar lebih tenang, namun tetap mengandung ancaman yang sama.

"Saya... melihat anda menangis.. berada di pangkuan pria itu... berpelukan..." jawaban Neji yang kacau balau memancing pandangan geli dari Gaara. Ternyata si jenius dari klan Hyuuga bisa juga tergagap.

Hinata menghembuskan napas kesal. Ini bahkan belum jam dua belas siang dan dua pria ini sudah siap memporak-porandakan taman tersebut. Ia berbalik menghadapi Gaara, "Jangan bergerak seinci pun! Aku akan segera kembali." Dengan itu si pewaris Hyuuga meninggalkan Gaara untuk menghampiri sepupunya yang terlihat bingung.

"Neji-nii-san..." sapa Hinata lembut.

"Hinata-sama..." balas Neji tanpa berani membalas pandangan Hinata. Ia tahu ia pasti sudah membuat kesalahan saat mendengar nada tegas gadis itu yang memang sangat jarang digunakan.

"Bisakah kau menatapku sebentar?"

Neji mengangkat pandangannya untuk melihat ke dalam mata Hinata yang sama pucat dengan miliknya.

"Apa kau membenciku?"

Neji terbelalak mendengar pertanyaan tersebut. Dengan cepat ia langsung menjawab, "Tidak! Bagaimana mungkin saya bisa membenci anda?"

Jawaban Neji membuat Hinata tersenyum. "Aku juga tidak membencimu Neji-nii-san. Malahan aku sangat menyayangimu, aku sangat menyayangimu seperti kakakku sendiri. Aku tahu kalau kau juga menyayangiku dan Hanabi seperti adikmu sendiri..."

Neji memotong Hinata, ''Kalau begitu anda pasti mengerti saya tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada anda. Kita semua tahu bagaimana reputasi Sabaku no Gaara. Walaupun ia sudah menjadi Kazekage, tak ada yang bisa menjamin bahwa ia sepenuhnya sudah terlepas dari pengaruh masa lalunya."

"Neji-nii-san... Tidak ada orang yang bisa lepas dari masa lalu mereka. Aku tidak, kau pun tidak. Masa lalu akan selalu menjadi bagian dari diri kita. Itulah yang membuat kita menjadi diri kita sekarang." Hinata merendahkan suaranya dan melihat ke bawah, "Gaara dulu mungkin tidak menempuh jalan yang benar karena masa kecilnya yang buruk. Tapi ia berusaha dengan caranya sendiri untuk menjadi orang yang lebih baik."

Neji tertegun sejenak mendengar kata-kata Hinata. Meskipun demikian ia masih tetap berpendirian teguh bahwa Hinata tidak aman berada disekitar Gaara. "Dia tadi menyerang saya, dan ia mengurung anda di dalam pasir..."

"Itu karena kau yang menyerang ia duluan. Tak pernahkah kau mencoba melihat semuanya dari sudut pandangnya? Apa yang akan kau lakukan jika seluruh dunia membencimu? Gaara tak punya pilihan lain tapi melawan mereka semua. Dan sekarang... Sekarang ia mencoba untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi seseorang yang orang lain butuhkan..."

"Apa yang sebenarnya yang anda ingin coba katakan disini?"

Hinata menggenggam kedua tangan Neji, "Yang ingin aku coba katakan adalah... Tolong beri kami kesempatan. "

"Kesempatan untuk...?"

"Kesempatan untuk merasakan kebebasan! Aku... Aku hanya ingin mencoba mengenalnya... Melihat apa yang ia lihat, dan mungkin saja ia akan melihat apa yang kulihat."

Neji terdiam. Ia sama sekali tak mengerti apa yang Hinata katakan. Namun saat melihat mata gadis itu, ia rasanya bisa membaca apa yang sedang dipikirkan gadis itu.

"Hinata-sama... Anda tahu bahwa dia seorang Kazekage... Pria dari desa lain. Ini tak akan mudah."

Wajah Hinata sontak berubah merah, ia langsung melepaskan genggamannya pada Neji dan berbalik. "B-Bukan begitu... K-Kau m-menyalah-artikan ka-kata-kataku!"

Neji menghela napas melihat tingkah sepupunya. Jari-jari gadis itu saling bertautan sementara wajah yang biasanya pucat itu merona merah. Ia menyentuh tangan Hinata agar gadis itu berhenti memainkan jarinya.

Sekali lihat ia sudah tahu apa yang berada dalam kepala gadis itu. Mungkin Hinata sendiri belum menyadarinya, tapi cepat atau lambat ia yakin gadis itu pasti akan tahu.

"Saya mengerti."

Mendengar perkataan Neji, Hinata sontak mendongak. "B-Benarkah?"

"Tidak sepenuhnya." Neji menghela napas lagi lalu dengan cemberut berkata, "Berhati-hatilah. Dan ingat, kalau dia melukai anda seujung kuku saja, saya akan memburunya sampai keujung dunia."

Setiap kata yang keluar dari mulut Neji menambah cahaya pada wajah Hinata. Pria itu pun seketika tahu bahwa apa yang dilakukannya sudah benar. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mellihat Hinata tersenyum selebar itu. Melihat senyumannya, Neji sendiri pun tak bisa menahan senyum di bibirnya.

Ia tak siap ketika Hinata tiba-tiba memeluknya dengan erat. "Terima kasih nii-san," bisik gadis itu ditelinganya.

Neji mengecup pelipis sepupunya. "Jangan biarkan diri anda terluka."

Hinata menganggukkan kepala sebelum melepas pelukannya. "Umh... A-Aku pergi dulu ya." katanya canggung.

"Iya."

Dengan muram Neji melihat Hinata yang berlari ke arah Gaara. Dari jarak sejauh ini ia tak bisa mendengar suara mereka. Sekali atau dua kali ia bisa melihat Gaara yang melempar pandangan tak suka kearahnya. Ia mengacuhkan pria itu. Perhatiannya hanya tertuju pada Hinata. Mata gadis itu berbinar-binar, menandakan bahwa ia memang senang dengan keberadaan si Kazekage didekatnya.

Neji menghela napas untuk yang kesekian kalinya hari itu.

Sebelum meninggalkan taman tersebut, Neji menengok ke belakang sekali lagi dan melihat kedua tangan Hinata Hyuuga yang berada dalam genggaman si Kazekage. Tetapi, bukan hal itu yang membuat Neji memalingkan wajahnya. Yang membuat Neji berjalan menjauh dengan wajah menekuk adalah cara Hinata melihat si bocah kage. Mata gadis itu berbeda dibandingkan ketika ia menatap Naruto. Perasaan apapun yang tersembunyi dibalik ekspresi itu, Neji tahu, dia tak akan pernah memenangkan hati si pewaris Hyuuga.

Neji menegakkan badannya kemudian meninggalkan taman itu dengan langkah tegap. Ia tak bisa membiarkan orang lain tahu bahwa hatinya patah untuk kedua kalinya.


Dari gerakan bibir mereka, Gaara tahu bahwa kedua orang itu hendak mengakhiri percakapan mereka. Benar saja, Hinata langsung berbalik meninggalkan sepupunya yang berambut panjang itu dan berlari ke arahnya.

"A-Apa kau baik-baik saja?" tanya Hinata begitu sampai di dekat Gaara.

"Tak ada yang perlu dikhawatirkan." jawab Gaara tenang.

"K-Kau yakin?" Ia meraih kedua tangan Gaara, matanya menatap pria itu dengan khawatir.

"Sangat yakin. Kau bisa lihat sendiri, tidak ada pendarahan, patah tulang, atau semacamnya." kata Gaara sambil mengangkat bahu.

Hinata tersenyum kecil melihat gerakan pria itu. Entah mengapa ia merasakan kelegaan yang luar biasa begitu mengetahui bahwa pria itu sama sekali tak terluka.

"Bagaimana denganmu? Aku harus mengaku, kau mengagetkanku ketika menjebol perisai itu..."

"A-Aku baik-baik saja." jawab Hinata malu-malu. Karena kebiasaan ia otomatis menarik tangannya untuk memainkan jari-jarinya. Namun Gaara tak membiarkan kedua tangan gadis itu meninggalkan genggamannya. "M-Maafkan Neji... Dia tak bermaksud jahat, h-hanya salah paham."

Gaara memberi Hinata pandangan sangsi. "Tapi dia mencoba membunuh kita tadi."

"B-Bukan. D-Dia hanya mencoba melindungiku..."

"Melindungimu dariku?"

Hinata akhirnya berhasil melepaskan kedua tangannya dari genggaman Gaara. Kedua tangan tersebut kini berada di pipi sang Kazekage. "Sudah kubilang ini semua semua salah paham..." katanya lembut.

Gaara hanyut dalam pikirannya selama beberapa saat sebelum berkata, "Baiklah... Selama kau baik-baik saja. Aku akan menganggap masalah ini sebagai salah paham."

Hinata pun tersenyum lega, tangannya sudah kembali ke samping tubuhnya. Ia tiba-tiba teringat pada kegiatan yang sedang mereka lakukan sebelum Neji datang mengganggu. Pandangannya pun otomatis beralih pada sisa piknik mereka.

"Kurasa sudah saatnya aku kembali ke penginapan dan menemui kakakku." kata Gaara dari belakang Hinata.

"Y-Ya. S-Sebaiknya kita pulang sekarang. A-Aku akan membereskan ini."

"Biar kubantu."

Mereka berdua pun membereskan sisa makan mereka pagi itu. Setelah selesai, Gaara bersikeras untuk mengantar Hinata pulang. Sehingga akhirnya pasangan itu berjalan kembali ke komplek Hyuuga.

"Aku bisa pulang sendiri dari sini..." kata Hinata saat mereka tinggal dua blok jauhnya dari komplek Hyuuga.

"Tapi kita belum sampai depan rumahmu."

"Gaara, kita tadi keluar diam-diam lewat jendela. Apa yang harus kukatakan pada ayahku kalau ia tiba-tiba melihatku muncul di pintu depan?"

"Tapi tadi Neji Hyuuga sudah melihatmu."

Hinata terkesiap begitu menyadari betapa benarnya Gaara. Ia langsung membeku di tempat. Takut kalau-kalau dugaannya menjadi kenyataan.

Gaara heran melihat ekspresi ngeri yang mendadak muncul di wajah Hinata. Ia menyentuh bahu gadis itu, "Kau baik-baik saja?"

"Y-Y-Ya ya." Hinata memberi Gaara senyuman gelisah. "K-K-Kau benar... M-Mungkin saat ini ayahku sudah tahu t-te-tentang pertemuan kita... dari Neji."

Hinata tidak menyangka betapa bodohnya dirinya karena baru menyadari hal itu sekarang.

"Lalu kenapa kalau dia tahu? Bukankah itu bagus?"

Hinata memberi pria itu pandangan tak percaya. "B-Bagus bagaimana?"

"Kau tak perlu lagi sembunyi-sembunyi seperti ini."

Hinata menundukkan kepala sebelum memunggungi Gaara, "Kau tak mengerti Gaara..."

"Kalau begitu buat aku mengerti!" Pria itu tiba-tiba berseru. "Dari awal kita bertemu sampai sekarang kau selalu mengulang-ulang hal yang sama! Gaara kau tak akan mengerti ini, Gaara kau tak akan mengerti itu. Bagaimana aku bisa mengerti jika kau tak pernah menjelaskan padaku kebenarannya?"

Hinata menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Haruskah ia mengatakan semuanya disini sekarang? "Aku... Aku..."

Gaara menanti Hinata melanjutkan kalimatnya. Tangannya menyilang tak sabar.

Setelah beberapa menit dengan "Aku... Aku...", Hinata akhirnya berkata "Aku... akan menjemputmu nanti." Gadis itu berbalik menghadap si Kazekage. "Terima kasih sudah mengantarku." Ia membungkuk sedikit sebelum kabur secepat kilat menuju komplek Hyuuga.

Gaara hanya bisa menatap punggung Hinata yang perlahan-lahan menjauh. Ia menghela napas sebelum menghilang dalam pusaran pasir. Dalam hati ia berharap gadis itu tak berbohong dan benar-benar akan menjemputnya nanti.


"Lalu, Kazekage-sama berkunjung ke apartemen Naruto, ia menghabiskan waktu cukup lama disana, kemudian setelah makan malam ia kembali ke apartemennya."

Hinata berdiri di hadapan sang Hokage yang sedang duduk bertopang dagu di mejanya, menatap kosong pada sesuatu di belakang si kunoichi muda. Beberapa menit sebelumnya, Hinata mendatangi kantor Tsunade dan ingin melaporkan pengamatannya mengenai misi yang ia berikan kemarin.

Namun, atasannya itu kelihatan sama sekali tak tertarik dan hanya menjawab setiap perkataan Hinata dengan gumaman "Hmm.. Hmm..." atau "Ya..."

"Uhh... Hokage-sama? Anda mendengarkan?"

Nada khawatir Hinata yang tiba-tiba menyebutkan namanya tersebut kelihatannya membangunkan Tsunade dari lamunannya.

"Ya, ya, Hinata. Tolong teruskan."

"B-Baik. Di pagi hari, Temari Sabaku tiba-tiba datang ke apartemen Kazekage..."

"Apa? Temari Sabaku?"

"Ya, kakak Kazekage..."

"Aku tahu siapa Temari Sabaku..." Ekspresi Tsunade berubah menjadi serius ketika Hinata menyebutkan nama kapten pasukan ANBU Sunagakure tersebut. "Apa yang dilakukan wanita itu disini?"

"Erm... Dia kelihatannya tak terlalu senang ketika bertemu dengan Kazekage..."

Tsunade menangkupkan kedua tangannya, kemudian mengerucutkan bibir. "Hmm... Jangan-jangan... Kakaknya sendiri juga tak tahu tentang kehadirannya disini..."

"Ke-Kelihatannya begitu..."

"Kalau begitu semua ini makin aneh." Tsunade menyimpulkan. "Kalau dia memang berniat melanggar perjanjian yang sudah susah payah kita buat, kakaknya pasti tahu mengenai hal ini. Dan tak mungkin ia sampai mau repot-repot jauh-jauh datang kesini untuk mengomeli adiknya." Tsunade mengernyit, "Lalu... Apa yang sebenarnya anak itu lakukan disini?" tanya Tsunade, matanya mengarah pada Hinata seakan-akan berharap gadis yang lebih muda itu menjawab pertanyaannya.

Hinata tersenyum gelisah dan mengangkat bahu. Aku juga tak tahu, katanya dalam hati. Kalau aku tahu aku pasti sudah memberitahumu dan tak perlu repot-repot menjalankan misi ini.

"Baiklah Hinata. Masih ada beberapa hari sampai Kazekage pulang ke desanya. Sampai saat itu kau masih tetap harus mengikutinya. Cari tahu apa yang dilakukannya disini... Jika firasatku benar... Hmm.." Tsunade memejamkan mata, tak melanjutkan kata-katanya.

"Jika firasat anda benar?"

"Aku tak begitu yakin. Tapi kalau aku jadi dia, kurasa aku tinggal di desa orang lain untuk menghindari tugas seorang Kage." Wanita itu lalu tertawa lepas mendengar hipotesisnya sendiri.

Hinata hanya tersenyum kecil. Itu sih cuman kau yang mungkin begitu, pikirnya dalam hati.


Hinata sebenarnya tak ingin memikirkan kemungkinan bahwa Gaara merencanakan sesuatu untuk merusak perjanjiannya dengan Konoha. Gaara yang ia kenal selama beberapa hari belakangan ini rasanya tak mungkin melakukan hal tersebut. Seminggu yang lalu Hinata yakin dirinya tak mungkin berpikiran seperti ini. Tapi ia tahu, setelah kejadian pagi ini, ia yakin bahwa Gaara adalah pria yang baik.

Ia tersenyum lembut saat mengingat kejadian di malam sebelumnya.

Aku tak bisa berhenti memikirkanmu.

Hinata tak bisa menahan dirinya untuk tak merasa tersanjung. Gaara juga tak bisa berhenti memikirkannya.

"Kenapa kau senyum-senyum sendiri Hinata?"

Suara yang muncul tiba-tiba dari sampingnya itu membuat Hinata terlonjak dan segala lamunannya buyar. Saking kagetnya Hinata yakin jantungnya tadi hampir copot. Ia pun menoleh untuk melihat orang yang hampir membuatnya pingsan karena kaget tersebut.

"N-Naruto?"

"Hai!" Shinobi berambut pirang itu tersenyum lebar, "Jadi... hal baik apa yang sudah terjadi?"

"E-Eh? H-Hal baik?"

"Sesuatu yang baik pasti terjadi hingga membuatmu senyum-senyum seperti itu 'kan?"

Wajah Hinata langsung merona. Dari sekian banyak penduduk Konoha yang bisa menangkap basah ia senyum-senyum sendiri, kenapa harus Naruto yang memergokinya?

"Jadi?" Naruto mendekatkan wajahnya ke Hinata seakan-akan takut melewatkan satu kata pun yang hendak gadis itu katakan.

"Erm... T-Tidak a-apa-apa kok... C-Cuaca hari ini sa-sangat bagus... A-Aku senang melihatnya."

Naruto mendongak keatas, Hinata pun mengikuti dan ia mendesah lega. Untungnya langit berpihak padanya hari ini karena saat itu diatas mereka langit berwarna sangat biru tanpa awan yang menganggu.

"Aaaa, kau benar Hinata. Cuaca cerah seperti ini pasti membuat setiap orang senang."

Hinata mengangguk-angguk. Anggukannya terhenti saat ia tiba-tiba menyadari sesuatu. Ia mendongak untuk memandang wajah pria dihadapannya. Saat itu Naruto berada pada jarak yang untuk standar seorang Hinata Hyuuga –sangat dekat, karena bahu mereka saling bersentuhan.

Biasanya setelah Hinata menyadari betapa dekat jaraknya dengan cinta masa kecilnya itu, dia pasti langsung megap-megap seperti lupa cara bernapas dengan wajah yang merah membara.

Namun tidak kali ini.

Dan hal tersebut sangat membingungkan si kunoichi bermata pucat.

Apa ada sesuatu yang salah pada hormonnya?

Naruto mengalihkan pandangannya dari langit diatas kemudian kembali menatap Hinata. Mata birunya menatap kedalam mata Hinata yang pucat. Dan ia tersenyum.

"Kau terlihat sehat hari ini, Hinata."

"Eh?" Hinata menelengkan kepalanya ke samping, bingung dengan kata-kata pria itu. Apa ia selalu terlihat sakit di mata Naruto? "A-Aku tak mengerti..."

"Biasanya setiap aku melihatmu, wajahmu merah sekali seperti orang demam." Ia menyentuh dahi Hinata dengan telapak tangannya, "Tapi kali ini tidak..."

Pandangan Hinata jatuh pada wajah nyengir Naruto. Ia sendiri pun tak bisa mencegah cengiran untuk muncul di bibirnya saat gir didalam otaknya bergerak, membawa sebuah penjelasan yang membuat jantungnya berdebar. "Musimnya sudah berganti... kurasa."

"Hah?" Naruto menjauhkan tangannya. "Tapi ini 'kan masih pertengahan musim panas? Musim gugur masih jauh."

Hinata terkikik. Ya, dia sudah mengerti. Ia sangat mengerti dan begitu lega karena ia tak membutuhkan waktu begitu lama untuk menyadarinya.

"Bukan musim itu, Naruto... Musim yang lain..." Mendadak, tanpa si jinchuuriki duga, Hinata memeluknya, pelukan hangat yang menenangkan hati. Seperti yang dulu sering ia terima dari Guru Iruka. "Terima kasih," bisik Hinata di telinganya. "Terima kasih atas segalanya."

Hinata melepas pelukannya kemudian tersenyum lebar. "Aku harus pergi sekarang," Ia membungkuk dalam-dalam, "Seseorang sedang menungguku."

Naruto yang baru sembuh dari kekagetannya karena tindakan Hinata yang tiba-tiba kemudian tertawa kecil sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya dengan canggung. "Eh, iya baiklah. Umm, aku juga ingin berterima kasih atas bantuanmu selama ini. Aku juga tak akan bisa sampai disini tanpa dukunganmu, Hinata."

Senyum Hinata melebar mendengar kata-kata Naruto. "Aku senang bisa melakukan sesuatu untukmu. Sampai jumpa Naruto."

Dan si pewaris Hyuuga pun berlari ke arah yang berlawanan dari arah yang ia tuju sebelumnya, menuju pusat desa Konoha.

Naruto hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap Hinata yang lain dari biasanya itu. "Gadis aneh..." katanya sebelum melanjutkan perjalanannya menuju arena latihan tempat ia berjanji untuk bertemu dengan Sakura.


Sudah bukan rahasia lagi kalau Hinata Hyuuga sejak dulu selalu menyukai Naruto. Orang-orang disekitarnya selalu berpikir itu hanyalah cinta kanak-kanak yang mungkin akan hilang seiring berjalannya waktu. Hinata tahu tentang apa yang orang pikirkan mengenai perasaannya. Dan ia bertekad untuk membuktikan bahwa cintanya pada Naruto bukan main-main.

Tapi apa sebenarnya yang membuat dirinya mencintai Naruto?

Apa karena sikapnya yang selalu penuh kasih sayang? Apa karena semangatnya yang selalu berapi-api dan pantang menyerah? Atau mungkin karena wajahnya yang tampan?

Hinata tidak menyangkal bahwa pria itu adalah sumber inspirasinya. Karena pria itulah Hinata mampu menjadi kunoichi seperti dirinya sekarang. Naruto adalah anak yang sangat ajaib. Orang yang mampu mempengaruhi pandangan orang lain serta mampu mengubah sesuatu yang 'tidak mungkin' menjadi 'mungkin'.

Namun...

Hinata berhenti berlari, ia memejamkan mata kemudian menarik napas dalam-dalam.

Awalnya Hinata berpikir, sikap baik Naruto padanya mungkin karena pria itu memendam suatu perasaan padanya. Begitulah yang ia percayai selama bertahun-tahun. Tetapi sekarang...

Hinata membuka matanya, kemudian menatap lurus ke depan, ia memandang jauh seakan-akan menerawang ke masa lalu.

Naruto bersikap baik pada semua orang. Naruto membela semua orang. Naruto menyayangi semua orang.

Dia bukanlah orang yang spesial bagi Naruto. Ia hanyalah seorang teman baik. Sama seperti Kiba, Shino, Lee, Tenten, Neji-nii-san, dan semua teman Naruto yang lain. Rasa sayang Naruto padanya adalah rasa sayang terhadap seorang teman.

Sekarang semuanya sangat jelas bukan?

Yang Hinata rasakan... daripada cinta... mungkin lebih tepat disebut kekaguman.

Ia tak pernah mencintai seseorang sebelumnya... Sampai-sampai mengira kekagumannya terhadap Naruto yang begitu luar biasa adalah perasaan cinta.

Saat ini Hinata ingin tertawa, tapi ia juga ingin menangis. Ia ingin menertawakan dirinya yang selama ini begitu bodoh mengira Naruto memiliki perasaan lebih padanya. Dan ia ingin menangis, menangis lega karena setelah bertahun-tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, akhirnya ia bisa merelakan Naruto.

Hinata menarik napas dalam-dalam.

Ia punya waktu untuk tertawa sambil menangis nanti. Bukan sekarang.

Sekarang ada seorang pria berambut merah diujung jalan ini yang dapat membuat jantungnya berdegup dua kali lipat lebih kencang, yang dapat membuat wajahnya memerah ketika kulit mereka bersentuhan, yang suaranya dapat menggetarkan relung hatinya yang terdalam, dan yang wajahnya akhir-akhir ini selalu menghiasi benaknya...

Mungkinkah ia bisa mengajarkan Hinata cara untuk membedakan antara cinta dan kekaguman?


"Aku sudah cukup dengan segala tingkah kekanak-kanakanmu Gaara. Tahukah kau berapa janji yang harus kujadwal ulang selama kau santai-santai pacaran disini? Tahukah kau jam berapa Kankurou kembali ke kamarnya karena harus menyelesaikan semua urusanmu? DEMI TUHAN! APA YANG KAU HARAPKAN DARI SEORANG PATROLI PENJAGA PERBATASAN UNTUK MENYELESAIKAN URUSAN DIBELAKANG MEJA?

Gaara menatap Temari dengan pandangan kosong saat wanita itu mencecarnya habis-habisan. Mereka berada di ruang tengah. Gaara duduk di belakang meja, mendongak menatap kakaknya. Sementara si pirang Sabaku berjalan bolak-balik dengan mulut yang tak berhenti berkoar. Tori disampingnya, berusaha menenangkan majikannya yang murka itu.

"Jika aku tak berada disana, hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasib desa kita..."

"Miss Temari, Miss Temari, tenangkan diri anda. Duduklah dulu. Mau saya tuangkan kopi lagi?"

Temari berhenti untuk melihat Tori yang dari tadi kalang kabut berusaha menenangkannya. Dengan nada setajam ujung anak panah ia berkata, "Keluarlah Tori. Masalah ini hanya antara aku dengan Kazekage."

Ouch, pikir Gaara.

Tanpa bicara Tori dengan patuh keluar dari suite si Kazekage. Gaara tahu Tori tak bermaksud jelek. Pria itu sudah seperti keluarga sendiri. Sabaku bersaudara pun tak jarang mendiskusikan masalah desa dengan kehadiran pria itu. Gaara tak melihat alasan apapun Tori tak bisa hadir disini. Mungkin kali ini Temari memang agak keterlaluan.

"Kau harus minta maaf padanya nanti." kata Gaara kalem.

"Oh, akhirnya kau bicara juga." Temari mendengus. "Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan kita."

"Aku tidak..."

"Oh, diamlah! Sekarang jelaskan padaku tentang pemandangan yang kulihat pagi ini." Temari duduk bersila di lantai. Matanya menatap Gaara dengan tajam.

"Pemandangan apa?"

"Apa lagi? Tentu saja kau dengan gadis itu! Sudah sejauh mana hubungan kalian?"

"Kami baru berteman..."

"Omong kosong! Teman tidak tidur bersama. Setidaknya salah satu dari kalian tak seharusnya bertelanjang dada."

Gaara menyeruput tehnya sebelum menyahut, "Dan kau tak seharusnya mendobrak pintu kamar orang lain seperti tadi."

"Aku melakukannya demi kita semua." Suara Temari lebih tenang sekarang, dan saat ia tenanglah baru Gaara mau serius mendengarkannya. "Gaara, dengarkan aku. Kau harus ingat apa peranmu untuk desa kita." katanya lembut.

Gaara terdiam mendengar kalimat Temari yang terakhir.

Perannya untuk Sunagakure...

"Kau adalah Kazekage, Gaara. Tugasmu adalah memimpin desa kita." lanjutnya lagi dengan nada yang lebih lembut.

Temari benar, pikir Gaara.

"Kewajibanmu ada pada desa kita. Bukan pada Hinata Hyuuga."

Gaara menghela napas. Ia menunduk menatap pangkuannya.

Hinata Hyuuga...

Gadis yang menjadi objek obsesinya belakangan ini. Ia begitu terpaut pada gadis itu hingga ia melupakan kewajibannya pada desanya. Tidak, tidak, bukan salah gadis itu. Dialah yang salah karena dengan mudahnya terlena dengan segala kesenangan yang ditawarkan oleh Konoha.

Gaara menarik napas, kemudian mendongak menatap Temari. Ia sudah memutuskan.

"Kau benar. Beritahu Tori untuk membereskan barangku." Temari tersenyum lebar mendengar kata-kata adiknya. "Kita pulang besok."

Tak sia-sia ia berlari satu hari satu malam untuk mengejar adiknya kesini, begitulah pikir Temari dalam hati.


Aku sangat berterima kasih atas komentar serta review yang sudah kalian tulis untuk chapter sebelumnya. Juga semua PM yang kuterima, SMS, wall message, mention twitter yang menyemangatiku untuk mengupdate cerita ini :D

Aku lihat banyak dari kalian yang sukses menebak si cowok bermata pucat misterius yang mergoki GaaHina itu Neji-nii-san hehehe. Congrats yaa. Hadiahnya kapan-kapan *kicked*.

Aku tahu aku tahu aku ga pinter nulis adegan action. Ini pertama kalinya aku nulis adegan action and I know it sucks! (bahkan pas ngedit aku nutup mata bacanya) Jadi, mohon dimaklumi yaa. Mau diketawain juga gapapa. Asal ketawanya diem-diem, ok? *kicked*

Aku sangat menanti komentar kalian mengenai GaaHina di chapter ini. Aku sangat senang menulis chapter ini karena akhirnya Hinata sudah menyadari perasaannya XD *tepuk pundak Hinata* You've done great, girl! Kritik dan saran kalian mengenai perkembangan kedua karakter ini sangaaaat ditunggu!

Yak, sekarang balasan review~

Vany Rama-kun : Udah di update tuh Lawless. Baca yaa. ehehe. thanksss

Aya Kohaku : aduh makasih pujiannyaa. Mau belajar apa sama aku? Aku juga masih pemulaaa. ahaha. *lap mimisan Aya pake tisu*

MeraiKudo : Aku lulus lohhh. Kamu lulus ga? ehehehe.

Zaskey-chan : Sampe chap berapa yaaa... hmm... Masih belon tau tuh. Terserah ama GaaHina aja deh ehehehe.

Kumiko-chan : Temari ga nunggu di luar kok. Nunggunya di dalam suitenya Gaara ditemenin ama Tori. ehehehe.

Hina bee lover : awww makasih Hina. I lope you too xoxo

Sora Hinase : Suami istri? hmm itu artian yang jelek atau bagus?

OraRi HinaRa : TET TOOOT anda kurang beruntung haha. Aku kegoda sih bikin adegan kepergok ama Hiashi. Tapi tar jadinya ga seruuu. haha.

vifa schiffer : hello vifa! alhamdulillah aku udah resmi lulus sekarang dan untungnya dengan nilai yang lumayan lah buat orang pemales kek aku. haha. love you too vifa. thanks for reading :D

Madam-Fain : HALOOO FAINNN! aih aku engga produktif-produktif banged sih. Abis UN malah kena writer's block. Jadinya updatenya berantakan gini deh. hehe. Gimana chapter ini menurut Fain? Aku ga sabar nulis lanjutannya. haha.

tsuki-chan : aaaa bener-bener rambutnya temari itu pirang. aku salah nulis ya di chapter sebelumnya? hiks maafff. thanks udah ingetinn xoxo

Dee : setuju pa engga, ayo kita tanyai keluarga Hyuuga dan Temari nanti. ehehehe.

Mayra gaara : May cintanya ama ceritaku doang nih? ga cinta sama aku? ehehe becandaa. makasih yaa udah bacaa xoxo

Rei kun : makasih Rei-kun aduhhh bener" makasih deh. Aku senyum" sendiri baca review kamuuu. Hinata juga bilang makasih tuh. ehehhee *kicked*

nishikawa rui : halo rui, welcome to FFN. selamat membacaa xoxo

Rufa kha : selamat menempuh hidup baru ya di SMA. SMA asik loh, asik banged, kayak di komik-komik. ehehhe.

choco-momo : rating kayaknya ga akan naek deh... ehehe. tapi tergantung Gaara ma Hinata juga sih sebenernya. nyehehe.

Chikuma new : iyaa panggil apa aja boleh deh. Shio, rin, shiorin, shiorinchan, shiorinsan, shiorinkun, shiorinsama juga gapapa. wahahaha *kicked*

Uzumaki Panda : Ya saya juga cinta sama semua pembaca yang cinta sama GaaHina ehehehe.

HinataLawliet : hmmm... entahlah. Nanti aku tanya GaaHina dulu ya mereka mau xxx dan xxx sebelum Gaara balek ke suna ga. ehehhe *kicked by GaaHina* aku disini aja kok ga kemana-mana. Cuman kena writer's block aja kemaren. Tapi alhamdulillah sekarang udah bener dan bisa update lagiii.

ds xan cyank sasuhina : kenapa ga cyank gaahina? ehehe becandaa. iyaa kiss pasti ada kok. ok.

ckmendokusei : wokeh destiii. udah di add kan Fbnya ehehe. makasih yaa.

Yang balasan reviewnya ga saya tulis disini mohon maaf. Saya sangat berterima kasih atas reviewan kalian tapi... *lirik jam desktop* udah jem 5:19am dan saya belom bobok. So, sampai disini dulu ocehan sayaa. Semoga kalian menikmati chapter ini. hehe

Makasih udah baca cerita ini,

xoxo
shiorinsan