Malam ini kamar pria Doug's Inn tampak sunyi meskipun kedua penghuninya berada di dalam. Kedua pemuda itu terdiam setelah mengobrol beberapa lama.

"Akhirnya!" Seru pemuda berkuncir memecah keheningan, lega.

"Kau tahu ini belum berakhir, Cliff" kata pemuda berambut emas, menghentikan kesenangan teman sekamarnya.

"Aku akan bicara pada Mary besok."

Mendengar keputusan temannya itu, Cliff tersenyum lega. Ia mengangguk bangga pada Gray. "Semoga berhasil, kawan."

-000-

Gray berdiri di depan Perpustakaan Mineral Town dengan tegap, menghela napas dalam-dalam, menghembuskannya, lalu melangkahkan kakinya ke dalam perpustakaan. Mary sedang duduk di counter, tampak sedang menulis sesuatu. Ia tak bergeming meskipun mendengar suara pintu terbuka.

"Mary," panggil Gray.

"Hm?" Mary menjawab tanpa mengalihkan pandangannya pada Gray. Gray menghela napas sekali lagi. Ia berjalan mendekati Mary, dan tanpa diduga duga oleh Mary, ia menundukkan kepala dalam-dalam di depannya.

"Maaf. Bagaimanapun aku tidak bisa menipu perasaanku dan bersamamu. Satu2nya kebahagiaanku adalah bersama Claire," kata Gray tegas.

Mary menghentikan pekerjaannya. Ia kemudian melotot pada Gray. "Apa bagusnya dia? Kenapa kau begitu tergila-gila padanya? Bukankah kau menyukaiku?" Teriak Mary.

Gray mengangkat kepalanya dan memandang Mary dengan pandangan khawatir."Pernah. Aku memang pernah menyukaimu, Mary. Tapi..."

"Sudahlah," potong Mary.

Ia mengejutkan Gray dengan mendorong tubuh Gray tiba-tiba. Gray yang tanpa persiapan terjatuh dan kepalanya terbentur meja counter. Mary berlari cepat keluar dari perpustakaan. Kepala Gray terasa pusing, tapi ia cepat menyadari apa yang akan dilakukan Mary, dan bangkit untuk mengejarnya.

"Mary! Berhenti! Mary!" Seru Gray sambil berlari mengejar Mary. Ia tertinggal cukup jauh karena tadi ia membutuhkan waktu beberapa detik untuk meringankan sakit di kepalanya. Teriakan Gray ini membuat Cliff yang sedang bekerja di Aja's winery segera menghentikan pekerjaannya dan mengikuti Gray.

Sementara itu Mary terus berlari menuju peternakan Claire. Larinya semakin cepat ketika matanya menemukan Claire yang sedang menyiram tanamannya. Ketika jarak mereka sudah cukup dekat, Mary mengeluarkan pisau yang ia simpan di kantong nya, lalu menikam perut Claire dengan itu.

"Ma... mary? Apa yang...?" Kata-kata Claire terhenti karena rasa sakit yang sangat di perutnya. Ia jatuh ke tanah sambil berusaha tetap sadar melihat apa yang terjadi.
Mary menusuknya. Gray tampak terengah-engah mengejar Mary, tapi langsung menghampiri dirinya yang tersungkur di tanah.

"Claire!" Teriak Gray. Gray mengangkat tubuhnya, lalu menggendong Claire di punggungnya.

"Hentikan, Mary!" Seruan Cliff mengagetkan Gray. Ketika Gray menoleh ke arah Cliff, ternyata Cliff sedang mengunci tangan Mary. Tampaknya Mary bermaksud menusuk Gray juga, tapi Cliff menghentikannya.

"Pergi, Gray! Cepat!" Teriak Cliff. Gray mengangguk, dan segera membopong tubuh Claire ke klinik Dokter Trent. Di perjalanan, ia bisa merasakan darah Claire mengalir menembus baju kerjanya, napas Claire yang terengah-engah dan suaranya yang berusaha menahan rasa sakit. Semua itu membuat mata Gray digenangi air bening. Ia sangat menyesal karena tidak bangkit lebih cepat untuk mengejar Mary. Ia sangat takut saat ini. Apa yang akan dilakukannya jika Claire...

"Dokter! Elli!"

Elli sangat kaget ketika melihat Claire berdarah-darah di punggung Gray. Ia segera mengarahkan Gray ke kamar pasien, dan dokter segera menghambur ke dalam ruang itu.

"Keluarlah dulu, Gray," perintah dokter.

Gray tidak mengangguk. Ia hanya bergeser tanpa tenaga, keluar dari ruang pasien. Matanya kosong. Dan air bening kembali menetes dari ujung matanya.

"Claire..."

-000-

Sore itu Doug's Inn tampak ramai. Warga Mineral Town berkumpul untuk meminta informasi mengenai apa yang telah terjadi di desa kecil mereka.

"Cliff, apa yang sebenarnya terjadi? Tak bisakah kau menceritakan pada kami?" Tanya Duke. Cliff menggaruk kepalanya, ia tampak bingung harus mengatakan apa pada sekumpulan warga ini. Bagaimanapun ia membuat heboh Inn tadi siang karena membawa Mary yang tangannya berlumuran darah dan menyuruh Harris untuk memborgol Mary.

"Mary... menusuk Claire. Tampaknya ia marah pada Claire karena merasa bahwa Claire merebut Gray darinya. Meskipun sebenarnya mereka bahkan tak pernah pacaran..."
Pernyataan Cliff ini disambut dengan riuh beberapa warga yang berkumpul di sana. Banyak yang menyuarakan kekagetan, disusul dengan suara-suara simpati.

"Apa Basil sudah tahu soal ini?" Tanya Barley khawatir. Cliff mengangguk lemah. Ia teringat ekspresi Basil saat ia menyeruak ke dalam Inn mencari Harris. Basil tampak membatu melihat tangan putrinya berlumuran darah, terlebih ketika Cliff menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Harris.

"Basil dan Anna sedang menemani Mary yang di tahan sementara di rumah Thomas." Lanjut Cliff.

Ann memegang lengan Karen yang berdiri di sampingnya. Ia tampak shock dengan apa yang terjadi. "Lalu... apa Claire baik2 saja?" Tanya Ann.

"Dia masih koma. Bagaimanapun, dia telah kehilangan banyak darah. Semoga saja ia cepat sadar."

-000-

Dokter Trent keluar dari ruang pasien dan menghampiri Elli yang sedang menulis laporan hari ini di meja resepsionis. Begitu menyadari Dokter berada di dekatnya, Elli langsung beranjak dari duduknya. "Bagaimana keadaan Claire?"

Dokter menggelengkan kepalanya lemah. Gestur yang membuat kekecewaan di wajah Elli. "Aku tak pernah menyangka hal seperti ini bisa terjadi di Mineral Town. Kuharap Claire bisa melewati ini dengan baik." Kata Elli melontarkan kegelisahannya, dan air mata menetes ke pipinya. Melihat wajah Elli yang tampak sangat khawatir, Dokter Trent meraih kepala Elli dan mengelusnya.

"Dia akan baik-baik saja. Ia sudah melewati masa kritisnya. Tenanglah." Kata Dokter Trent, berusaha menenangkan pegawainya itu. Elli mengangguk pelan. Ia teringat saat Gray membawa Claire ke klinik tadi siang. Bagian punggung baju Gray bersimbah darah Claire yang ia gendong. Gray tampak terengah-engah, panik, dan air matanya mengalir. Meskipun dokter telah melakukan yang terbaik, Claire masih belum sadarkan diri.

"Malam sudah larut, kau istirahatlah dulu. Tenang saja, bukankah ada Gray yang menjaganya? Dengan pria seperti itu di sampingnya, bagaimana mungkin ia tidak bangun? "

Tambah Trent dengan senyum lembut di wajahnya. Itu benar. Gray selalu disamping Claire sejak tadi siang. Tak sekalipun ia meninggalkan Claire. Elli tersenyum tipis. "Kau benar, dokter."

Sementara itu, Gray duduk di kursi tepat di sisi tempat tidur Claire. Ia menggenggam tangan Claire, mengamati kembali wajahnya yang tampak tidur dengan nyaman. Ia tak bisa menghentikan perasaan bersalah yang menggebu di dalam hatinya. Seandainya ia tak memaksakan perasaannya, mungkin hal ini tdk akan terjadi. Seandainya ia lebih cepat, Claire mungkin tak akan terbaring begini... oh, seandainya saja!

"G..ra...y..."

Suara lemah berbisik yang disertai dengan gerakan lemah jemari Claire yang digenggamnya, membuat jantung Gray berdegup sangat kencang.

"Gra...y?"

Gray mencoba tersenyum untuk memberi rasa aman bagi Claire. Ia juga mempererat genggaman tangannya pada Claire.

"Syukurlah kau sudah sadar."

Claire tampak masih tak bertenaga bahkan untuk membuka matanya lebar-lebar. Ia mengerahkan segenap tenaganya untuk menoleh pada Gray.

"Gray... cium... aku..."

"Eh?" Kata-kata Claire barusan membuat wajah Gray merah sampai kuping. Ada apa tiba-tiba dengan Claire?

"Apa kau sudah gila?" Tanya Gray sinis.

Tampak Claire mengerutkan alisnya dan mendesah kesal. Melihat itu, Gray merasa jantungnya berdegup sangat keras lagi. Sebenarnya, bahkan selama menjaganya ia juga ingin sekali mengecup dahinya atau apalah. Tapi ia menahan diri karena tahu ini bukan saatnya untuk itu. Melihat Gray bingung, Claire melepaskan tawa kecil. Hal ini membuat Gray sadar bahwa Claire sedang mengerjainya.

"Kau...!" Begitu Gray hendak marah, Claire tiba-tiba berhenti tertawa dan merintih kesakitan. "Kau tak apa?"

Claire tersenyum sambil menahan rasa sakitnya, disertai anggukan pelan. Gray kemudian terdiam dan kembali memasang wajah serius.

"Maafkan aku," kata Gray.

Karena Claire baru saja sadar, ia tak tahu masalah antara Gray dan Mary. Meskipun begitu wajah Gray saat ini jelas menunjukkan rasa penyesalan dan kesedihan yang dalam.
"Kau tak apa?" Kali ini balik Claire yang bertanya. Ia menyentuhkan tangannya pada pipi Gray yang langsung merah seketika.

"Itu pertanyaanku padamu barusan, kan?" Balas Gray sambil berusaha mempertahankan ketenangannya.

Claire menggelengkan kepalanya dan tersenyum, lalu berkata, "aku tak apa. Karena kau disini, aku merasa sangat nyaman dan tenang."

Ekspresi Claire yang tersenyum lembut, tangan Claire yang hangat di pipinya, serta tatapannya yang penuh kasih sayang, membuat Gray merasa meleleh. Gray menurunkan tangan Claire, lalu membungkuk sedikit dan memposisikan setengah bagian tubuhnya di atas Claire, dan mengecup keningnya. Saat ia melakukan itu, Claire merasakan tetesan hangat jatuh di pipinya. Gray menangis.

"Gray, ada ap..."

"Maafkan aku," potong Gray. "Mary jadi seperti itu... dan kau mengalami ini... semuanya salahku. Seandainya aku tidak ngotot ingin berada di sisimu, ini mungkin tak akan terjadi. Kupikir aku pasti bisa melindungimu, tapi ternyata tidak. Maaf Claire..." kata Gray dengan suara yang bercampur dengan tangisan pelan. Sejujurnya melihat Gray seperti ini membuat hati Claire sangat sakit. Gray yang selama ini selalu terlihat kuat dan keras, sekarang meneteskan air mata di depannya.

Claire mengulurkan tangannya, meraih pipi Gray sekali lagi, kali ini untuk menghapus air matanya. Ia belum begitu mengerti gambaran ceritanya, tapi ia paham bahwa Mary pasti mengancam Gray agar meninggalkannya, jika tidak ia akan membunuhnya.
"Terimakasih karena tidak meninggalkanku, Gray," ucap Claire sambil tersenyum. "Jika kau benar-benar meninggalkanku, keadaanku pasti akan lebih parah dari sekarang." lanjutnya.
Claire meletakkan jarinya di bibir Gray, melukis lengkungan di sana. "Aku ingin melihat senyummu," pinta Claire. Gray masih tak bisa menghentikan air matanya, tapi jemari Claire berhasil melukis senyuman di bibir Gray.

"Gray, setelah ini, mau mengantarku ke puncak Mother's hill untuk melihat bulan?" tanya Claire.

"Tidak. Kau terlalu sering ke sana, kau tahu itu berbahaya kan?" keluh Gray. Ia menggenggam tangan Claire yang tadi menyentuh bibirnya. Kali ini giliran Claire yang memerah karena Gray mencium tangannya.

"Kalau begitu setiap malam Sabtu. Setiap malam Sabtu, kau dan aku akan ke puncak Mother's hill," usul Gray.

"Meskipun bukan bulan purnama?" tanya Claire lagi. Ia mengasumsikan mereka hanya ke puncak untuk memandangi bulan.

"Bahkan sekalipun tak ada bulan tampak di langit," jawab Gray. Claire merespon dengan senyum lembut.

"Kalau begitu, setiap malam Sabtu."

"Yup."

-000-

-END-

Author Notes:

Sorry for the late late post! And yeah, finally it's end!

Terimakasih sudah membaca fanfic fluffy fluffy aneh ini sampai tamat~ hahaha.

Terimakasih juga yang udah repot-repot nge-review, nge-follow dan nge-favorite-in (bahasanya gk enak, haha). I HOPE YOU ENJOY THE WHOLE STORY! I love youuuuuu *lebay mode*