Disclaimer: Manga Katekyou Hitman Reborn! milik Amano Akira. Bukan saya. Kalo saya yang punya, Yamamoto yang bakal jadi main chara-nya :)
Notes: AU, OOC, kata baku dan kata-kata sehari-hari saya dijadikan satu (?). Sepertinya majas hiperbola bertebaran di sana-sini. Udah diproof read berkali-kali, tapi sepertinya tetep ada typo. /hening/
italic means past even.
Alaude melipat kedua tangannya, lalu meletakannya di depan dada, dan bertanya pada bu Oregano, "Pelajaran apa saja yang tidak bisa dia kuasai?"
"Hm, hampir semuanya. Saya yakin anda sudah tau itu," jawab bu Oregano.
"Matematika?" Ah, Alaude, kau sudah tau keponakan jauhmu paling oon dipelajaran itu. Tapi untuk menjaga harga diri, tak apalah.
"Alaude-san, anda tau sendiri kan, kalau keponakan anda itu otaknya lama—"
"BE MORE SLOWLY. BE MORE SLOWLY. YUUKURI IKETE IKERU NARA," Dino nyanyiin lagu dari penyanyi (?) yang namanya sama kayak dia, sambil teriak-teriak nggak jelas dari dapur. Ya, dapur, bukan di ruang tamu. Alaude menyuruhnya menunggu di dapur bersama Romario, dan Fon, supaya nggak mengganggu jalannya introgasi antara dia dan bu Oregano(?).
"Bahasa?"
"Bahasa? Dia sebenernya pinter soal itu, apalagi bahasa Jepang, Indo, Itali, Prancis atau Inggris (?). Tapi pronouncetiontnya(?) suka nggak bener—"
"MAYBE I'M YOUR MR. RIGHT! BABY, MAYBE I'M THE ONE YOU LIKE," Dino teriak-teriakkan lagi. Kayaknya dia lagi galau-in taksirannya di sekolah deh…jangan tanya siapa taksirannya…saya nggak tau…
"IPA?"
"Itu apalagi. Di soal ulangan kan ada pertanyaan tentang bunga—"
"HANABIRA. YURA YURA! YURERU KOKORO, TSUNDAIDETE WASURENAI YOU NI~" Dino nyanyi sambil teriak-teriak lagi, nampaknya kali ini dia lagi nostalgia sambil nonton Bleached (?) di dapur. Iya, di dapur rumah ini ada tvnya, jangan tanya merknya apa, di letakinnya dimana, ukurannya berapa inch, emangnya saya yang beli?
"IPS?"
"Saya suruh anak sekelas hafalin peta Amerika—"
"I WAS MADE TO HIT IN USA! I WAS MADE TO HIT IN USA! I WAS MADE TO HIT IN USA! WHOOOO!" Oke, kali ini mungkin Dino lagi heboh nontonin BECeK (?).
"Seni lukis? Atau seni musik?"
"Seni lukis? Dia lumayan bisa gambar, tapi dia selalu ada masalah di gradasi warnanya. Dia tuh sering banget cuma pakai warna biru—"
"BABY, BABY BLUE EYES. STILL HERE BY MY SIDE. TILL THE MORNING TROUGH THE— uhuk, aduh. Romario! Tolong ambilin aku minum." galau-an Dino gagal.
"Seni musik. Dia biasanya di kelas musik megang gitar, tapi tiga kali gitar sekolah senarnya putus gara-gara dia. Jadi kadang dia suka cuma dengerin—"
"LISTEN TO STEREO! AROUND, AROUND, AROUND! HAYAKU, READY TO PLAY AGAIN!"
Alaude berdiri dari sofa empuk yang dari tadi dia duduki, "Permisi sebentar." Lalu dia keluar dari ruang tamu. Ouch, nggak usah dikasih tau kalian juga tau dia mau kemana. Mau ke dapur lah, mau nyamperin Dino terus gave him a mountain of punishment...
"UAAAAAAAAAAAAAA, ALAUDE-SAN! AMPUN ALAUDE-SAN! Tadi aku lagi mainan tap-tap (?) sama Fon-san! Aku nggak niat nyanyi sambil teriak-teriak buat ngeganggu Alaude-san!" Dino nunjuk-nunjukin iPed-nya, terus langsung lari dari dapur begitu Alaude udah sampe di dapur. Dia lari ngelilingin rumah, Alaude juga ngejar-ngejar dia. Yang malu-maluin itu, dia lari sampai masuk ke ruang tamu. Bu Oregano cuma bisa geleng-geleng kepala saja, melihat tingkah laku muridnya dan omnya itu. Lalu ia permisi untuk pulang.
"Saya permisi dulu. Masih ada urusan lain yang harus saya selesaikan. Dino, jangan lupa lusa mid test dimulai, yah."
Sesimple itulah hari Dino yang dipenuhi ketakutan berakhir.
Malamnya, Alaude langsung manggil Reborn ke rumahnya buat bantuin dia ngajarin Dino.
Mampuslah Dino.
1 minggu lewat 6 hari kemudian...
"Pssst, Lal-san emang ada di rumah nih?" bisik Uni.
"Tanya Haru-chan, dia yang liat tadi," balas Kyoko.
"Hahi, orang tadi aku liat dia abis dari mall kok," kata Haru.
"Abis dari mall, tante Lal pulang ke rumahnya atau ke rumah orang?" tanya Gokudera kesal.
"Emang tante Lal biasanya pulang ke rumah orang lain?" tanya Yamamoto dengan polosnya.
"Lambo-san ke sini hanya karena Lambo-san dikejar-kejar sama Lampodoh (?)," ujar Lambo dengan gaya like a bos.
"Lambo-kun, kamu sering ngambilin permennya Lampo-nii (?), sih," kata Byakuran.
"Enma, kamu sering ngintipin rumah orang kayak gini ya?" tanya Adelheid, yang kebetulan lagi nginep di rumahnya Enma dan kebetulannya lagi dia mau diajak main sama Enma dan anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK itu.
"Nggak kok," jawab Enma terbata-bata.
"UDAH BERAPA LAMA KITA NUNGGUIN NIH? MENDING KITA MASUK AJA DEH, AKU UDAH CAPEK TO THE EXTREME!" usul Ryohei.
"Benar, aku capek di sini," kata Hibari—ya keponakannya Alaude sama Fon itu—menyetujui. Omong-omong, Hibari lagi kesambet hari ini, mau ngumpul bareng anak VK lagi setelah beberapa hari lebih sering ngerem (?) di rumah.
"Mukuro-nii, oleh-oleh buat tante Lal, ada sama Mukuro-nii, kan?" tanya Chrome.
"Iyalah Chrome, kalau aku sampai lupa bawa, Mama bakal mecat aku dari jabatan anak," balas Mukuro.
"Wah, aku akan dengan senang hati datang ke acara pemecatan Master nanti," kata Fran santai. Mukuro pun langsung menjitaknya.
"Hm, teman-teman kita langsung masuk aja yah," kata Tsuna.
"Denger apa yang bos bilang? Ayo kita masuk!" perintah Gokudera. Semuanya pun langsung memasuki pekarangan rumah Lal.
"OI ANAK-ANAK TUNGGU! Kenapa kalian ajak aku ke sini? Aku pegel tau!" pekik Giotto. "Semalam Cuma tidur empat jam gara-gara belajar buat ulangan. Hari ini aku nggak belajar, tapi ulangan semua. Pas istirahat aku cuma sempat makan bekal buatan Mama sedikit. Abis istirahat aku ada olahraga, di suruh lari muterin lapangan sampe enam kali. Dan terakhir pas aku mau buka sepatu, kalian udah narik-narik aku ke sini! CAPEK TAU CAPEK!" dia malah curhat.
"Maaf, Giotto-nii GANTENG, sih," jawab anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK bersamaan sambil nyengir kuda. Entah apa hubungannya antara Lal dan kegantengan Giotto. Hanya yang maha kuasa, saya dan anak-anak imut itu doang yang tau dan ngerti hubungannya. Kalian yang nggak ngerti udah diem aja, baca yang khusyuk.
Anak-anak imut itu sekarang mendebatkan masalah bagaimana mereka harus mengetuk pintu rumah Lal. Apakah diketuk atau mencet bel yang ada di deket pintu tapi letaknya jauh di atas mereka? "GIOTTO-NII~~~~~" kata mereka serentak—minus adelheid yang nggak ngerti apa-apa dan Hibari tentunya— sambil memancarkan sinar menyilaukan dari puppy eyes mereka dengan efek sparkle-sparkle kayak di anime-anime.
Ah, sekarang Giotto ngerti apa gunanya dia di sini. Buat neken bel ternyata. Tapi intuisinya—ya, intuisi, gini-gini Giotto punya intuisi—ngasih dia firasat yang nggak enakin.
TING. TONG.
"Iya, tunggu sebentar ya." Terdengar suara wanita, yang tentunya itu Lal dari dalam rumah.
CKREK.
Begitu pintu di buka, Lal langsung berkata, "Ada perlu apa ya…" dia berhenti sejenak lalu melihat ada segorombolan anak-anak imut dan satu remaja ganteng berdiri tepat di depan pintu rumahnya.
BLAM.
Hening.
Anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK itu langsung membully Giotto dengan menggunakan puppy eyes mereka dengan efek sparkle-sparkle tentunya, dan kali ini ditambah dengan background bunga-bunga bermekaran. Giotto facepalm sepespalm pespalmnya (?). "Tante, kita ke sini cuma mau nganterin Chrome sama Mukuro. Mereka mau ngasih oleh-oleh buat tante," kata Giotto.
"Ciyusssss?" balas Lal, yang sepertinya sedang ada di belakang pintu.
"Cungguh," balas Giotto.
…Well, percakapan di atas terkesan menggelikan…
CKREK.
"Masuk sini. Giotto, aku mau curhat." Nah, sejak kapan Giotto jadi tempat curhatnya sepasang suami-istri yang sedang ribut karena hal yang kurang jelas itu?
Saya nggak ngerti, hari itu hari apa, dan ada bencana alam apa kemarin malam. Bapak-bapak dan bujang-bujang (?) di RT yang dipimpin Reborn itu entah bagaimana bisa pada nggak kerja semua, nggak semuanya juga sih. Hampir semua. Dan... ah, ini yang paling nggak waras—se-enggaknya itu yang mereka pikirkan—, hampir semuanya dari mereka ngumpul di pos dan itu buat nyemangatin Collonelo…atau mungkin itu yang saya kira...
Yap, Collonelo udah ribut seminggu sama Lal. Jangan tanya saya dia nginep di rumah siapa aja.
"Kau ini bikin susah aja, sih," Reborn mendengus. "Contoh dong Daemon sama Elena, terus Iemitsu sama Nana. Utuh-utuh aja tuh mereka."
Yang disebutkan paling awal memasang gaya sekeren-kerennya. "Nufufufu, itu karena aku dan Elena memang punya ikatan yang kuat."
Mungkin kalau Iemitsu ada di situ dia juga akan melakukan hal yang sama dengan Daemon, tentunya hanya menirukan gaya bukan menirukan omongannya, serem bener kalau sampai Iemitsu ketawa, "Nufufufu". Sayangnya dia lagi sibuk di kantor lurah sih.
Collonelo mengangkat tangannya lalu jari telunjuk diikuti jari-jari di dekatnya, bertemu dengan jempolnya sehingga membentuk huruf O. Pada saat itu juga Daemon ingin menusuk Collonelo dengan scythe yang menjadi pajangan di rumahnya…
"Alaude sama Fon juga langgeng tuh (?)," kata Luce. Sepira mengangguk setuju.
...Tunggu...kenapa dua ibu-ibu ini bisa ada di gerombolan bapak-bapak...
"Luce-san...ampun deh," kata Gamma sambil face palm.
"Kalau mereka ribut, Perang Dunia III bakal meletus," kata Asari dengan tenangnya.
"Hah, kalian enak yah. Belum punya istri, c'mon now!" gumam Collonelo, itu ditujukan pada Asari, G., Knuckle, Skull, Verde dan mungkin juga pada Alaude dan Fon (?).
"Aku terlalu cinta sama sains, hampir lupa ngurusin perempuan (?)." Itu alasannya Verde.
"Aku masih menunggu adik sepupunya Cozart." Itu alasannya Skull. Oke, Skull, lapangan sekolah saya luas tuh, kita berantem yuk.
"Aku sedang fokus dengan hobiku dulu. Tapi pasti nanti aku akan menikah." Itu alasannya Asari.
"Rokok adalah istriku." Itu alasannya G.
"Tidak bisa begitu, G.. Menikah itu penting, dan harus dengan perempuan. Bukan rokok," kata Knuckle.
"Lah, kau sendiri belum menikah," celetuk G.
"Tinggal tunggu tanggal mainnya," kata Knuckle mantap. Yang lainnya tertegun. Mereka bertanya-tanya wanita macam apa yang ingin menjadi istrinya? Yang pasti wanita itu memiliki gendang telinga yang kuat.
Reborn membenarkan fedoranya, "Ada hal yang ingin aku ketahui." Dia mulai kepo. "Collonelo, kakimu kenapa? Kelindes tank? Kok nggak mati sekalian aja sih?"
Semuanya serentak melihat kaki kanan Collonelo yang sedang diperban. Collonelo pundung di tempat. Padahal kakinya kayak begitu udah dari dua hari yang lalu, tapi kenapa mereka baru sadar sekarang? Memang, mereka semua kejam.
"Ketimpa bazooka (?) pas lagi nyelamatin Lal, c'mon now."
Hening.
"Apa?" tanya Luce, ia ingin memastikan.
"Ketimpa bazooka pas lagi nyelamatin Lal, c'mon now." Bagaikan ibu-ibu arisan yang kebanyakan memakai blash on, pipi Collonelo sekarang terlihat sangat merah.
"Pasti abis ketimpa bazooka, kalian langsung baikan ya?!" Sepira bertanya dengan semangatnya.
"Nggak."
Hening lagi.
"Serius deh, kalian berduanya mau apaan sih?" tanya Verde yang lama-lama geregetan sama kedua sahabat karibnya (?) itu.
"Orang abis aku selamatin Lal mau bilang terimakasih. Tapi tiba-tiba dia malah marah-marah, terus bilang, 'Jangan bilang kamu nyelamatin aku, sekalian mau minta restu buat poligami!' Kan aku bingung jadinya. Dia juga bilang, 'Sana kamu nikah sama si lima itu!' Kan aku tambah bingung lagi jadinya. Yang sialannya lagi, atasanku sama teman-temanku pada nyuruh aku cerai sama Lal. ITU APA MAKSUDNYA COBA?! C'MON NOW!" Collonelo hanya mendapatkan respon berupa anggukan, 'oh', gelengan, dan Daemon yang menirukan apa yang telah ia lakukan padanya tadi.
"Oh iya! Lal bilang kau sering mengigau setiap tidur terus nyebut-nyebut angka lima. Itu maksudnya apa?" Luce bertanya. Collonelo berpikir. Ada keheningan yang lumayan panjang.
"Aha!" Entah kenapa di atas kepalanya Collonelo langsung ada bohlam. "Skull ampun deh. Ini masih siang, lampunya matiin aja, c'mon now."
"Maaf..."
"Angka lima itu maksudnya tarif sewa kamar hotel. Harganya lima juta per—apa tau aku lupa! Oh ya, Reborn! Kita kapan beli tiketnya? C'mon now."
"Pesan online aja sih, eh, nggak deh jangan," kata Reborn. Yang lainnya kebingungan, nggak ngerti apa yang mereka berdua omongin.
"Oh ya, Alaude sama Fon lagi beli tiketnya ya. C'mon now."
"Kalian ngomongin apa sih?" tanya Daemon.
"Kepo. Yang ngerti omongan kita di sini Cuma Asari doang pokoknya, c'mon now," kata Collonelo, yang lainnya langsung melirik Asari. "Sama Gamma ding." Gamma juga dilirik.
"Gamma, kalian berenam lagi ngerencanain apa sih?" tanya Sepira.
"Kasih tau atau kau dan Aria cerai besok," Luce mengancam.
"Eh kok gitu? Entar Uni gimana?"
"Kasih tau aja udah," ujar G. "Kalian seneng banget rahasia-rahasiaan sih. Contoh dong, aku sama kakakku. Kita nggak pernah rahasia-rahasiaan."
"Oalah, Lavina orangnya terbuka sama baik begitu. Ya wajar aja, c'mon now," kata Collonelo.
"Nggak baik nanya-nanyain rahasia orang. Apalagi kalau rahasianya penting, tapi aku juga penasaran to the extreme nih," kata sang pengkhotbah. Yang lainnya sweatdrop.
"Well—"
"Bodoh, biarkan aku yang bicara," kata Reborn. Collonelo jadi ingin menembaknya dengan senapan yang ada di rumahnya, tapi sayangnya dia nggak boleh pulang sama Lal, kalau ada senapannya pun dia nggak mungkin nembak Reborn. Ya, taulah, yang ada sebelum dia nembak, senapannya udah ancur duluan.
"Luce. Aku, Collonelo, Gamma, Alaude sama Fon mau pergi ke Bali (?). Collonelo mau ajak Lal, dia bilang itu hadiah buat ulang tahunnya Lal. Telat banget emang ngasihnya, yah maklum aja dia memang idiot." Collonelo mendeath glare Reborn. "Gamma mau ngajak Aria sama Uni sama Byakuran, buat liburan. Alaude sama Fon punya janji sama Dino, katanya kalau nilai rapot bayangannya (?) Dino bagus, dia bakal diajak liburan walau pun sekolah belum libur. Dan entah itu Tuhan lagi kenapa, ternyata kemarin pas rapot bayangannya (?) Dino diambil, nilainya bagus semua," Reborn diam sejenak, "dan aku selaku orang yang berpengaruh atas kesuksesan Dino—"
"Bahasanya keribetan!" Skull protes. Saat itu juga, ada lubang karena peluru yang ditembakan Reborn di tiang pos tempat Skull bersandar.
"Terus kau diajak Alaude sama Fon liburan juga gitu?" G. mengambil kesimpulan.
Reborn mengangguk. "Yoi, tapi aku cuma minta dibayarin tiket pesawat pulang-baliknya doang."
"Nggak modal banget," cibir Verde sambil benerin letak kacamatanya.
"Bawel." Reborn mendeath glarenya. "Nah, terus, Asari itu bagian yang nyari tempat nginepnya. Aku juga sempet tanya Lavina, mereka berdua kan sering konser di Bali (?). Untungnya Lavina nggak nanya-nanya, aku nanyain begituan buat apaan. Terus," Reborn menurunkan suaranya, yang lainnya tambah penasaran, "Luce. Aku juga niat buat ngajak kamu ke sana. Hm, sebut saja sekalian memperbaiki hubungan kita yang absurd ini."
Hening sejenak. Mereka mencoba menyerap apa yang baru saja Reborn katakan.
Entah karena terlalu bahagia karena ketua RT mereka akhirnya ingin kembali tinggal satu rumah lagi dengan istrinya atau emang karena benteng rasa gengsi mereka sudah runtuh, mereka semua—kecuali Luce yang diam terkesima dengan ucapan Reborn—teriak, "AWWWWWWWW SO SWEET!"
"Kalian menjijikan!"
DOR!
Hm, saya tau kalian ini kepo. Jadi, sebenernya Luce sama Reborn itu udah lama nikah. Pas Aria sekolah SMA (?), Luce sama Reborn berantem. Berantemnya itu gara-gara, Luce cemburu sama Reborn. Habisnya kadang Reborn lebih senang beli sekaligus minum espresso di cafe di dekat toko dagingnya Xanxus ketimbang minum espresso buatannya Luce. Semenjak itu, Luce langsung pergi dari rumah mengajak Aria, lalu tinggal di rumah Sepira. Pada saat itu, Luce nggak mau dengerin alasan Reborn kenapa dia lebih senang beli espresso di cafe ketimbang buatan istrinya sendiri.
Alasannya panjang, nggak jelas, lumayan mudah dimengerti, dan konyol.
"Luce kamu itu selalu masukin garam, waktu itu malah masukin mecin. Udah aku kasih tau, kalau di tempat yang tutupnya merah itu isinya gula yang tutupnya biru itu isinya garam. Terus kan aku udah bilang, aku kurang ngerti cara bikin espresso. Takarannya suka salah. Entah itu kekurangan, entah itu kelebihan. Espressomu itu takarannya selalu pas, tapi ya itu, seringan keasinannya. Kalau aku suruh Aria, dia pasti ujung-ujungnya bilang, 'Aku nggak bisa, Pa.' Makanya aku kadang suka beli di cafe di samping tokonya Xanxus. Tapi serius deh, aku di sana nggak godain petugas ceweknya kok. Tanya Xanxus kalau nggak percaya."
"Serius deh, Reborn. Sebenarnya dibanding Collonelo sama Lal, kau dan Luce itu lebih merepotkan," celetuk Daemon.
"Kita berantem nggak sampe banting-banting pintu ya," Reborn membalas dengan nada menyindir.
"Iya, emang nggak. Tapi adanya nembak-nembakin pintu," kata Skull yang pintu kos-annya selalu jadi sasaran penembakan. Maklum, kos-annya itu ada di samping rumahnya Reborn. Btw, ib—bapak kos-annya Skull itu Mammon lho…
"Collonelo, mending kau minta maaf deh sama Lal," ujar Sepira.
"Jangan sampai kalian berdua berantem sampai pisah ranjang bertahun-tahun. Kalau Reborn sama Luce sih, biar pisah rumah masih punya tempat buat tidur. Nah kalau kau," kata Verde, dengan terus terang nggak mau rumahnya jadi tempatnya disewa sama Collonelo walau pun Collonelo membayarnya.
"Aku setuju denganmu," kata G. menyetujui.
"Aku sih nggak maksa kalian berdua buat cepat-cepat baikan. Itu sih terserah kau saja. Kalau kau sudah siap buat minta maaf, ya silahkan saja." Ah, Asari kau memang selalu bisa berpikir dengan kepala dingin.
"Aduh, Asari. Kau itu baik banget, sih! Dari awal aku berantem sama Lal, kau selalu nyuruh Yamamoto buat nganterin sushi ke tempatnya Skull." Ya, akhirnya karena takut dicium ujung senapannya Collonelo. Skull ngebolehin Collonelo nginep di tempatnya.
"Terimakasihnya sama Tsuyoshi-san aja," kata Asari sambil tersenyum.
Dan pada saat itu juga, segerombolan anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK datang.
"Yah..." Itulah yang keluar dari mulut sebagian orang dewasa di sana.
"Firasatku nggak enak," kata Skull.
"Om Collonelo ganteng~~~~~" seru mereka.
Collonelo nggak ngasih respon apa-apa. "Tenang om, hari ini kita nggak mau minta dibeliin es krim." Collonelo melakukan pose O dengan tangannya setelah mendengar apa yang dikatakan Gokudera. "Eh om G.!" G. diem aja. "Om, kata Mama kalau simpen rokok itu di tempatnya. Rokok-rokok om jadi dimasukin ke tong sampah tuh sama Mama."
Mendengar kata 'rokok' dan 'tong sampah', G. langsung buru-buru kabur dari pos untuk menyelamatkan istri-istrinya.
"Om G. mau aja dibohongin Gokudera-kun," kata Tsuna sambil ngeliatin Gokudera.
Gokudera nyengir kuda. "Biarin, om G. pulang-pulang pasti dipaksa kakak buat makan mie bikinannya, HAHAHAHA. Sakit perut sakit perut deh." Yang lainnya sweatdrop.
Daemon ngeliatin gerombolan anak-anak imut itu. Omong-omong Kyoko, Haru, Chrome sama Lambo udah nggak ada. Mereka main masak-masakan (?). Lambo ikutan cuma buat grecokin doang. "Omong-omong anakku mana ya?" Yang dimaksud 'anakku' itu Mukuro sama Chrome. Ya, MUKURO diakuin sebagai ANAKnya.
"Mukuro-kun tidur di rumah tante Lal," Byakuran menjawab.
"Chrome pergi main sama Haru," sambung Tsuna.
"Bisa tidur siang juga dia. Yang biasa tidur kan dia." Daemon nunjuk Hibari. Hibari komat-kamit, bikin kata-kata buat ngadu ke Alaude. "Terus keponakanku?" Yang dimaksud 'keponakanku' TENTUNYA ITU FRAN.
"Masih di sana juga. Sama Mukuro dilarang pergi dia, terus dia juga lagi makanin kuenya tante Lal."
"Tumben diakuin," komentar Verde.
"Abis dapet pencerahan gara-gara liburan kemarin."
Verde bikin pose O. Dan itu membuat Daemon ingin memotong rambut jegriknya.
"Nah terus Yamamoto kenapa sesenggukan begitu," kata Collonelo yang nggak bisa nyembunyiin rasa penasarannya. Ah, betapa unyunya tampang Yamamoto yang masih setengah menangis itu.
"Abis nangis. Nggak sengaja kegeplak Gokudera-kun yang tadi berantem sekaligus misahin Mukuro, Hibari sama Adelheid," jawab Tsuna.
"Si Kepala-gurita ngegeplaknya kenceng to the extreme!" seru Ryohei, memperburuk keadaan.
"Aku nggak sengaja tau!"
"Nggak apa-apa." Asari tersenyum sambil nenangin Yamamoto.
Mendengar kata 'Adelheid', Skull langsung sumringah—ya dia baru mendengarnya, maklum otaknya Skull suka lama koneknya. "Hah? Ada Adelheid? Mana, mana?"
"Ka Adel, jangan deket-deket om Skull. Bahaya," kata enma memperingati. Adelheid mengangguk.
Skull meloncat mendekati Adelheid mencoba menggoda Adelheid. Belum sempat menggoda, kakinya udah diinjek duluan dan itu sangat sakit. "Ih, om om pedofil!" Orang-orang dewasa menahan tawa. Skull pundung di belakang pos.
Hibari memperhatikan orang-orang dewasa yang di hadapannya. Dia sama sekali nggak melihat Alaude atau pun Fon ada di situ. Ingin rasanya Hibari bertanya, tapi dia gengsi. Kecil-kecil begini gengsinya tinggi dia.
"Hibari, kamu nggak ikut Alaude pergi ke bandara?" tanya Gamma.
"Kan Alaude, Fon, sama Dino pergi ke Bali satu minggu," kata Reborn. "kasihan deh, ditinggal!"
Hibari langsung menyumpahi ketiga orang yang disebut oleh Reborn tadi.
"Nggak bohong, bentar lagi juga pulang kok—nah itu dia mobilnya." Collonelo nunjuk-nunjuk mobil yang berhenti di depan pos.
Tepat pada saat itu, mobil sejenis CVR, warna hitam melewati pos. Seorang berambut platinum blond, mengenakan baju polo putih dan celana jeans panjang keluar dari mobil.
"OMG! ALAUDE, YA AMPUN ALAUDE!" Sepira langsung fangirling. Gamma berusaha menenangkannya.
Alaude mendekati Reborn, dan berkata, "Kita berangkat besok sore. Kamar udah dibooking-in sama Fon. Kalau berangkat barengan, aku nggak mau kalian pakai mobilku."
"Mobilmu kecil. Yaudah aku sama Collonelo sama Lal pakai mobilku," kata Reborn.
"Kyouyaaaaaaaaa~~~ Wah, ada Tsuna juga! Enzo abis dibeliin rumah baru lho!" seru Dino dari dalam mobil dengan bahagianya.
"Wah, aku liat ya nanti!" pinta Tsuna.
Hibari mendekati mobil, lalu membalas, "Terus aku harus kopral sambil bilang wow gitu?"
"Nggak, nggak usah. Terus liat deh aku dapet apa!" Dino nunjukin cambuk yang keliatannya berkualitas tinggi (?). "Ini lho, cambuk yang ada di film yang kemarin malam kita tonton. Aku dibeliin Alaude-san, lho!"
"Widih, keren," kata Tsuna terkagum-kagum.
"Jangan dipakai buat berantem, ya. Buat koleksi aja (?)," Fon mengingatkan. Dino menoleh padanya lalu mengangguk.
Entah karena iri atau apa, Hibari langsung lari ke Alaude terus bilang, "Om Borgol, aku mau tonfa yang ada di film yang kemarin aku sama Kuda Jingkrak tonton."
Alaude menatap Hibari dengan tatapan dingin sedingin es. Hibari juga sebaliknya. Dia ngelakuin itu karena puppy eyes maut nggak akan mempan sama Alaude, lagian juga, Hibari ogah make mata begituan… "Sebentar." Itulah jawaban Alaude.
"Sekarang. Aku gigit nih," ancam Hibari.
"Aku borgol nih," Alaude balik mengancam.
"Aku buang borgolnya."
"Aku pecat jadi keponakan."
"Aku pecat jadi om."
"Tonfa-nya nggak jadi dibeli kalau gitu."
Hibari langsung diem lalu menyumpahi Alaude. Alaude kembali ngomongin urusan jalan-jalannya sama Reborn.
Byakuran mendekati Hibari, dan berkata dengan wajah sedih, "Yah, Hibari-kun mau pergi? Kita nggak jadi nyoret-nyoretin mukanya Mukuro-kun dong?"
"Hibari kau memang payah," kata Adelheid.
Hibari narik-narikin ujung bajunya Alaude. "Om Borgol, perginya nanti malam aja. Aku gigit nih kalau nggak." Bukannya menjawab Alaude malah ngeborgol tangannya Hibari.
"Hukuman karena berbuat iseng."
Byakuran juga kena borgol.
"Adelheid kok nggak diborgol? Lagian aku belum nyoret-nyoret mukanya Mukuro-kun, udah diborgol duluan kayak begini dah ya," protesnya. Entah itu anak belajar ngomong logatnya kayak begitu darimana.
"Tidak terima protes."
-line break-
Tsuna berjalan mendekati Collonelo lalu duduk di sampingnya, diikuti Gokudera dan Ryohei. "Apa?" tanya Collonelo waspada. Bocah-bocah itu malah mamerin gigi susu mereka yang masih tertata rapih, bersih, dan— WOW TERANG BANGET. Collonelo langsung membuang mukanya (?) lalu menukar mukanya dengan mukanya Lussuria. HORROR. NGGAK, BOHONG KOK BOHONG.
Di saat itu juga, Collonelo melihat seorang wanita, seorang remaja berambut jegrik—yang nggak kalah ganteng dengannya—dan dua sosok bocah—yang satu rambutnya ada pucuk nanasnya dan yang satu pakai topi apel.
"Oh, jadi sekarang Lal senengnya sama yang muda-muda," desis Verde sambil membenarkan posisi kacamatanya.
Lal sama Giotto kebingungan.
"Oh, Lal ternyata sukanya sama yang rambutnya pirang ya," sambung Sepira.
"Jangan-jangan besok dia sama Dino," kata Reborn…
"Sama Mama aja sekalian." Sejenak mata-mata orang dewasa itu menatap satu anak yang rambutnya bagaikan pucuk nanas. "Apa? Aku benar, kan?"
"Kamu salah besar, Master."
"Emang ngomongin apa sih?"
"Nggak tau."
Mereka semua langsung facepalm. Terutama Daemon, dialah yang merasa paling dipermalukan.
"Gini nih, bapak nggak bener jadi nurun ke anaknya." Collonelo mengacak-acak rambutnya, frustasi.
"Maksudnya apa tuh, Gokudera-kun?" bisik Tsuna.
Gokudera mikir-mikir. "Mungkin maksudnya kalau punya Papa kayak om Daemon nanti kita jadi nggak bener." Tsuna mengangguk takzim. Sekali lagi, orang-orang dewasa yang mendengarnya facepalm. Dan kali ini Daemon benar-benar ingin menancapkan trident—yang jadi pajangan di rumahnya—ke anak-anak itu. Serem.
"Wah, Gokudera-kun pintar yah," kata Enma kagum. Gokudera nyengir.
"Untung Papaku bukan om Daemon," kata Tsuna.
"Kalau Papamu om Daemon pasti kamu jadi nggak bener, Tsuna," kata Ryohei, enteng.
Yamamoto yang udah berhenti nangis, ikut-ikutan komentar. "Untung nama Ayahku Tsuyoshi, bukan Daemon." Lalu dia nyengir.
"Untung om Daemon itu omku, bukan Papaku," celetuk Fran.
"Kufufufufu, kalian kok gitu sih?" Mukuro sepertinya ingin membela Papa tercintanya itu. "Yang nggak bener dari Papaku cuma rambut sama cara ketawanya doang kok."
"…"
Ah, anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri kalian VK. Tau kah kalian si om Melon itu sekarang sedang ingin merae— menyiksa kalian karena dia udah nggak bisa nahan emosinya lagi.
"Daemon…" kata Asari sambil berusaha nenangin, Giotto ikut membantunya. Dan keributan pun terjadi.
Daemon marah-marah sama anak-anak unyu itu. Reborn dan Alaude yang biasanya langsung nenangin (?) keadaan, kali bodo amatan. Mereka asik ngomongin jalan-jalan mereka. Sementara itu, anak-anak VK, hanya menanggapi amarah Daemon dengan senyuman polos dan perkataan mereka yang seperti orang yang tak pernah punya dosa.
Selagi mereka berantem. Terlihat Lal dan Collonelo sedang duduk bersampingan— AWAW. Tapi tidak ada satu pun dari mereka berbicara. Sampai akhirnya Collonelo, memulai pembicaraan. "Hm, Lal—"
"Iya aku tau. Kamu mau ngajak aku pergi liburan kan? Sebagai ganti hadiah ulang tahunku. Aku dikasih tau Asari semalem."
"Terus sekarang masih marah nggak?"
"Masih."
Collonelo sweatdrop. "Lal, aku ngajak kamu liburan bukan buat minta restu buat poligami, lho."
"Bukan itu masalahnya." Lal menatap Collonelo. "Waktu itu, kamu sama teman-temanmu di tempat kerja diskusiin tentang jalan-jalan sama perempuan, gitu. Itu maksudnya sama siapa?"
Aduh.
Collonelo mengingat-ingat kapan ia mengatakan hal itu, lalu ia tertawa. "Lal. Perempuan itu, kamu. Masa kamu nggak ngerti juga masalah yang itu."
"Bener nih?"
"Serius. Ngapain bohong." Collonelo nyengir, lalu mengelus pipi Lal.
"Collonelo." Wajah Lal memerah.
"Lal." Wajah Collonelo juga memerah. Dan oh, sekarang wajah mereka mulai berdekatan.
5 cm.
4 cm.
3 cm.
2 cm.
1 c—
Tiba-tiba saja Collonelo jatuh kebelakang, karena ada pistol yang menghantam jidatnya dengan begitu kerasnya.
"Idiot! Ciuman jangan di sini! Di rumah sana!" seru Reborn.
"Melanggar peraturan perilaku kesopanan." Sebuah borgol melingkar dengan rapihnya di pergelangan tangan Collonelo.
Mereka yang tadinya ribut, langsung berhenti ribut. Anak-anak imut yang sialan yang menyebut diri mereka VK langsung sumringah, lalu teriak.
"HOREEEEEEEEE OM COLLONELO SAMA TANTE LAL BAIKAN! TRAKTIR KITA ES KRIM, OM!"
Double trouble, END.
Author's note: Chapter ini kepanjangan! Well yeah, pas saya proof read chapter ini, sebelum dipublish, hal yang pertama kali saya pikirin adalah, "INI FIC KENAPA JADI ADA HINT AF-NYA!" dan rasanya pengen langsung kayang saat itu juga. Terus pikiran saya yang kedua, "INI APA BANGET ALESAN SI REBORN SAMA LUCE PISAH RANJANG-NYA!?" Hah sudahlah... yang penting ini bisa memuaskan reader...
Review?
