Disclaimer,

Characters belongs to Kishimito-sensei

Story is mine, Hatake Aria

.

.

Oji-chan … Daisuki!

.

.

.

Chapter 10

.

.

"Kau bisa meletakkan jaketmu di situ"

Kedua sapphire Naruto mengikuti arah tangan Sasuke, Ia pun segera membuka jaket dan tasnya lalu meletakkannya di atas sofa, sementara sang paman tampak pergi ke dapur, entahlah, Naruto baru pertama ini masuk kedalam apartemen milik bungsu Uchiha tersebut, tapi instingnya mengatakan kalau sang Paman pergi kearah dapur.

Ia pun segera merebahkan tubuhnya disofa tersebut, dan taklama kemudian sang Paman kembali keruangan tamu, menghampirinya dengan membawa secangkir minuman yang kemudian disodorkan sang Paman padanya. Naruto menatap pria yang kini berdiri dihadapannya, kemudian melirik sekilas minuman yang disodorkannya, dari warna dan aromanya Ia mengetahui sang Paman ternyata membuatkannya secangkir coklat panas, pilihan yang tepat setelah berjam-jam diluar dengan udara musim gugur yang dingin.

"Sankyu" ujarnya seraya mengambil coklat panas tersebut dari tangan Sasuke.

Sasuke berusaha memalingkan wajahnya yang tiba-tiba memanas tatkala jemarinya bersentuhan dengan milik Naruto, saat gadis tersebut mengambil coklat panas yang Ia buat untuknya.

Ah, rasanya Ia seperti anak lelaki yang baru menginjak pubertas.

"Setelah hujan sedikit lebih reda Aku akan mengantarmu pulang"

Yah, taklama setelah keduanya bertemu, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung dan perlahan hujan pun turun, refleks Sasuke mengajak gadis itu ke apartemen nya yang jaraknya tidak jauh dari tempat tersebut.

Naruto meniup perlahan coklat panas ditangannya, minuman itu masih terlalu panas untuk bisa langsung dinikmati.

"Malam ini Aku berencana menginap ditempat Ino, Otou-san dan Ka-san sedang berada ditempat Jii-chan, mereka baru kembali minggu besok"

Pandangan Sasuke kembali pada sosok gadis bersurai pirang yang kini tengah fokus pada coklat panas ditangannya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ia pun segera mengambil tempat kosong tepat disamping Naruto, merebahkan badannya yang terasa lelah.

"Sepertinya Kau sering ditinggal pergi oleh orangtuamu" ujarnya seraya mengambil remote TV yang ada di meja didepannya, kemudian menyalakannya.

"Katanya Jii-chan sakit, jadi mereka pergi kesana" jawab Naruto seraya meletakkan coklat panasnya diatas meja.

Sasuke menatap Naruto yang kini fokus pada TV LED didepannya.

"Ah, maaf, semoga Kakekmu cepat sembuh"

Naruto menggeleng pelan, kemudian Ia menatap sang paman dengan tatapan polosnya.

"Ie, itu hanya alasan Jii-chan agar Ka-san dan Tou-san mengunjunginya"

Sasuke menaikkan sebelah alisnya.

"Jangan berfikiran yang macam-macam tentang Kakekmu"

Naruto mengerucutkan bibirnya tanda protes terhadap perkataan Sasuke.

"Jii-chan sendiri yang mengatakannya, dan Dia memintaku merahasiakannya dari Ka-san dan Tou-san, Jii-chan bilang mereka berdua sudah lama sekali tidak mengunjunginya"

Sasuke hanya tertawa kecil menanggapi penjelasan Naruto, Oniksnya kembali pada layar TV didepannya, dan jemarinya kembali menekan tuts-tuts pada remote-nya, masih berusaha mencari channel yang menarik.

"Ah, Oji-chan berhenti" refleks Naruto menarik tangan Sasuke yang memegang remote.

"Aku ingin menonton acara ini"

Sasuke melirik Naruto yang tengah fokus pada acara musik didepannya, sesekali gadis itu kembali menyeruput coklat panas yang tadi dibuatnya. Ia baru sadar kalau surai gadis ini lebih panjang dari terakhir kali mereka bertemu, dan kali ini oniksnya terfokus pada benda berkilauan yang ada ditelinganya. Tanpa sadar jemarinya menyingkirkan helaian rambut Naruto yang menutupi telinganya. Ia bisa merasakan tubuh sang gadis yang refleks membeku karna ulahnya barusan.

"Sejak kapan Kau memakai anting?" ujarnya dengan nada senormal mungkin.

"Ah .." Naruto refleks sedikit menjauhkan tubuhnya, namun tampaknya tangan sang Paman masih enggan meninggalkan surainya.

"Cantik kan"

Sasuke hanya bisa ikut tersenyum kecil melihat Naruto yang menjawabnya seraya menampilkan senyum 3 jarinya, Ia kemudian menarik tangannya dari surai sang gadis walaupun sebenarnya Ia masih ingin merasakan sensasi lembut yang menjalar di sela-sela jemarinya.

"Kau akan dimarahi pihak sekolah jika ketahuan menindik telingamu"

Naruto kembali mengerucutkan bibirnya.

"Aku selalu menutupinya dengan rambutku, ditambah sebentar lagi kan liburan musim dingin, jadi Aku akan aman"

Ah, inilah Naruto yang dikenalnya, yang selalu punya seribu jawaban dari setiap perkataannya.

Naruto kembali mengambil coklat panasnya, sementara sapphire nya kembali fokus pada acara musik didepannya.

Sasuke melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8 malam, Ia bisa mendengar suara hujan yang mulai kecil diluar sana, pertanda hujan mulai reda. Namun dirinya masih enggan untuk berpisah dengan gadis yang duduk disampingnya ini. Hingga sebuah ide cukup gila pun mucul dibenaknya.

"Naruto, kenapa Kau tidak menginap saja disini malam ini"

.

.

.

Sasuke tidak menyangka kalau Naruto langsung menganggukkan kepalanya tatkala Ia menawari tempatnya untuk menginap malam ini. Ah iya lupa, Naruto adalah gadis paling naïf yang pernah Ia temui seumur hidupnya.

Dan disinilah Naruto, berada diatas tempat tidurnya, memakai baju miliknya yang terlihat kebesaran ditubuhnya.

Ia kembali mengingat percakapannya dengan sang gadis beberapa menit lalu.

.

"Oji-chan, Aku tidak membawa baju tidur"

Sasuke refleks memijit dahinya.

"Bukannya Kau mau menginap ditempat Ino, seharusnya Kau membawa perlengkapan mu bukan?"

Naruto mengangguk pelan, kemudian Ia langsung menggelengkan kepalanya.

"Aku membawa yang lain, tapi tidak untuk piyama, Aku berencana meminjam milik Ino, karna kalau Aku harus membawa piyama juga, maka tasnya akan terasa lebih berat"

Sasuke refleks menyentil dahi Naruto, membuat gadis tersebut mengaduh kesakitan.

"Aw .., yah, Oji-chan, kenapa Kau suka sekali menyiksaku"

Sasuke tidak membalas perkataan Naruto, Ia segera beranjak dari sofanya menuju kamarnya, mencari pakaian yang akan dipinjamkannya untuk gadis bersurai pirang tersebut.

.

Dan disinilah Ia menatap Naruto yang tampak sedang fokus pada smartphone-nya, sampai-sampai gadis itu tidak menyadari kedatangannya.

Naruto refleks mengalihkan pandangannya dari smartphone-nya tatkala Ia merasakan seseorang menaiki tempat tidur yang tidak lain adalah Sasuke.

Sasuke menatap kearah Naruto, Ia bisa melihat ekspresi terkejut diwajah gadis tersebut, dan sekilas Ia bisa melihat wajah gadis itu yang tampak merona, tunggu dulu, merona? Tidak, tidak, Ia pasti salah lihat, atau jangan-jangan suhu kamarnya terlalu hangat sehingga membuat wajah gadis itu memerah?

Ah, Ia mengerti sekarang.

"Kuharap Kau tidak keberatan berbagi tempat tidur denganku malam ini" ujarnya singkat seraya membenarkan posisi bantalnya.

"Yaahh .."

Tampak Naruto ingin memprotes dirinya.

"Aku tidak punya kasur lipat yang bisa Aku gelar dibawah, dan lagipula Aku tidak mau tidur dilantai, dan apa Kau tega menyuruhku tidur diluar dicuaca sedingin ini?"

Naruto kembali menutup mulutnya yang awalnya hendak memprotes perkataan Sasuke, namun Ia urungkan tatkala Ia melihat Sasuke yang sudah merebahkan dirinya tepat disampingnya. Pria itupun dengan enaknya langsung menarik selimut, menutupi tubuhnya hingga bagian dada.

"Hei, matikan handphone mu dan segera tidur" ujarnya seraya menarik pelan tubuh Naruto, memaksanya untuk merebahkan tubuhnya disampingnya.

Naruto hanya bisa mengedipkan matanya saat lengannya ditarik oleh Sasuke. Kini wajahnya sejajar dengan sang paman, yang malah membuat rona merah semakin tidak ingin hilang dari wajahnya.

Sasuke kembali menarik paksa smartphone Naruto tatkala tangan gadis itu masih setia pada benda persegi panjang tersebut. Tanpa memalingkan pandangannya dari wajah sang gadis, Ia meletakkan benda tersebut diatas meja kecil disamping tempat tidurnya. Ia bisa melihat wajah protes Naruto.

"Saatnya tidur" ujarnya seraya mematikan lampu kamarnya.

Naruto kembali mengerucutkan bibirnya, Ia pun kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.

"Tapi Aku belum mengantuk" lirihnya pelan, sementara Ia melihat sang Paman mulai memejamkan matanya.

Sasuke hanya diam, tidak merespon perkataan Naruto.

"Oji-chan, bagaimana kalau Kau menyanyikan lagu pengantar tidur untukku"

Naruto tahu betul kalau Pamannya ini belum tertidur. Dan Ia juga masih ingin menatap wajah sang Paman lebih lama lagi, Ia masih terlalu merindukan wajah sang bungsu Uchiha tersebut.

"Aku akan menciummu jika Kau tidak tidur juga" ujar Sasuke tanpa membuka matanya sedikitpun.

Ia bisa merasakan Naruto menarik selimutnya lebih keatas lagi, sepertinya gadis itu menutupi wajahnya dengan selimutnya. Sekilas seringai kecil menghiasi wajah pria bersurai raven tersebut.

Sejujurnya Ia juga sama sekali belum mengantuk, hanya saja Ia takut Ia akan berakhir mengatakan sesuatu atau melakukan sesuatu pada gadis tersebut, yang mungkin akan disesalinya keesokan harinya.

Cukup lama Ia berpura-pura untuk tertidur, sampai akhirnya Ia mendengar suara dengkuran halus dari balik selimutnya. Perlahan Ia membuka matanya, sesaat sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya.

'Bagaimana bisa gadis ini tertidur dengan selimut yang menutupi seluruh wajahnya? Apa Ia tidak kekurangan oksigen didalam sana' batinnya.

Perlahan Ia menarik selimut yang menutupi wajah Naruto, Ia bisa melihat wajah polos Naruto dengan bantuan cahaya yang masuk dari sela tirai jendela kacanya. Jemarinya perlahan menyingkirkan surai yang menutupi wajah gadis tersebut. Oniksnya menatap kedua mata sang gadis yang kini tertutup rapat, Ia menyukai warna bola mata Naruto yang biru, yang akan selalu mengingatkannya pada birunya langit. Perlahan pandangan mulai turun kehidungnya, ah, Ia ingat, Ia suka sekali menarik hidungnya, yang membuat sang gadis protes dan mengerucutkan bibirnya.

Tanpa disadarinya ibu jarinya kemudian mengusap lembut bibir Naruto.

'Lembut' batinnya.

Ah, sebenarnya Ia ingin sekali merasakan bibir gadis tersebut. Ingin memastikan bahwa bibirnya selembut yang dirasakan ibu jarinya. Tak tahukah gadis itu bahwa setiap Ia mengerucutkan bibirnya padanya, maka setiap itu pula Sasuke harus menahan dirinya untuk tidak mencium gadis itu? Dan itu benar-benar menyiksanya.

Sasuke segera menggelengkan kepalanya pelan, Ia pun segera menarik jemarinya dari wajah sang gadis. Tidak, Ia tidak boleh melakukan itu, Ia tidak ingin Naruto tiba-tiba berteriak dan mengatainya pedofil.

Haahh,

Sasuke menghela nafasnya kasar.

Damn it, She will be the cause of his death!

.

.

.

Sasuke mengambil smartphone-nya yang bergetar, melirik caller-ID yang muncul di layar smartphone-nya. Jemarinya langsung menggeser icon hijau pada layar saat dipastikannya nama sang Ibu tertera di layar.

"Sasuke, kenapa Kau lama sekali mengangkat telpon mu?"

Sasuke refleks mejauhkan sedikit smartphone-nya saat mendengar suara nyaring Ibunya.

"Ka-san, bukannya Aku langsung mengangkat telpon Ka-san"

Sasuke bisa mendengar suara helaan nafas sang Ibu disebarang sana.

"Sasuke, malam Natal besok Kau pulang kerumah kan?"

Sasuke langsung melirik kalender yang berada disudut meja kerja nya. Benar saja, ini sudah tanggal 23 Desember.

"Ah, maaf Ka-san, sepertinya Aku tidak bisa pulang kerumah Natal kali ini, Aku masih punya setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan" ujarnya dengan nada pelan seraya menatap tumpukan berkas disamping laptopnya.

"Itu bukan alasanmu saja kan? Atau Kau sudah punya kencan dengan pacarmu malam Natal besok?"

Sasuke memijit pelan pangkal hidungnya.

"Sudah berapa kali Aku katakan pada Ka-san, saat ini Aku sedang tidak menjalin hubungan dengan wanita manapun"

Sasuke bisa mendengar kembali helaan nafas sang Ibu yang kali ini terdengar lebih panjang.

"Lebih baik besok Ka-san memanggil Naru-chan saja untuk makan malam disini, kasihan anak itu, sepertinya Ia sendirian .." Belum juga sang Ibu menyelesaikan kalimatnya, Sasuke sudah menginterupsinya.

"Apa? Kenapa orangtuanya selalu meninggalkannya sendirian dirumah?"

Yah, Sasuke mencoba menghitung kembali berapa kali Ia mendengar gadis itu tinggal sendirian dirumahnya.

"Ka-san dengar mereka buru-buru terbang ke Okinawa saat mendengar kalau Kakeknya Naruto jatuh sakit"

Ah, Sasuke kembali teringat cerita Naruto saat Ia menginap dirumahnya, dan Ia pun jadi ragu kalau saat ini Kakeknya itu benar-benar jatuh sakit.

"Ah, Sasuke, nanti Ka-san telpon kembali, sepertinya ada seseorang yang datang, jaga dirimu, dan jangan terlalu bekerja sampai larut malam"

Sang Ibu segera memutuskan telponnya, bahkan sebelum Sasuke membalasnya.

Sasuke meletakkan kembali smartphone-nya, perlahan Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, perlahan Ia memejamkan matanya. Kejadian sebulan yang lalu saat Naruto menginap dirumahnya kembali muncul.

Pagi itu Ia yang lebih dahulu terbangun, padahal dirinya hanya tidur beberapa jam malam itu, Ia terlalu menikmati memandang wajah Naruto, Ia ingat semasa kecil Ia sering menyebut Naruto setan cilik, bahkan sampai saat ini terkadang Ia juga menyebut Naruto seperti itu karena sikapnya yang terkadang seenaknya sendiri. Tapi siapa sangka kalau saat tertidur Naruto bagaikan malaikat. Dan Ia pun tidak sadar jam menunjukkan pukul 3 lewat saat Ia baru merasakan matanya mulai berat.

Dan siksaan terberat Sasuke juga datang dipagi itu, jika malam itu Ia menganggap Naruto bagaikan malaikat, maka pagi itu Ia juga berfikir Naruto adalah malaikat. Ya, malaikat pencabut nyawanya.

Sasuke terbangun dan mendapati Naruto yang tengah memeluk erat dirinya, dengan wajahnya yang berada di ceruk lehernya. Ia bisa merasakan nafas teratur Naruto di lehernya, dan seketika itu juga hawa panas menjalari tubuh Sasuke. Sementara itu kaki Naruto berhimpitan dengan kakinya, membuat sesuatu dibawah sana bereaksi, dan itu membuat si bungsu Uchiha lebih menderita.

Ah, sepertinya gadis ini menganggap dirinya adalah sebuah guling.

Sesaat kemudian Ia merasakan tubuh sang gadis mulai bergerak, tampaknya gadis itu mulai terbangun. Tak ingin suasana menjadi canggung, Sasuke buru-buru menutup kembali matanya, berpura-pura masih tertidur.

Perlahan Ia merasakan tubuh Naruto menjauh darinya, sebenarnya Ia sangat menyayangkan hal itu, Ia masih ingin merasakan kehangatan dari tubuh sang gadis bersurai pirang itu.

Beberapa menit berlalu, Ia tidak lagi merasakan tubuh Naruto yang bergerak disampingnya, sebenarnya Ia ingin mencuri lihat, tetapi semua sandiwaranya akan terbongkar jika ternyata Naruto sudah terbangun. Kalau gadis ini sudah terbangun, kenapa Ia tidak bergerak sama sekali, apa gadis ini sedang menatap wajahnya? Ah, sial. Ia sudah tidak bisa berpura-pura tidur lebih lama lagi.

Gyut,

Sasuke merasakan pipinya ditarik.

"Oji-chan bangun, ini sudah siang, perutku lapar"

.

.

.

Gaara mengeratkan syal pada lehernya, kemudian kembali memasukkan kedua tangannya pada saku jaketnya. Udara di musim dingin terlebih dimalam hari memang sangat tidak bersahabat. Namun untuk kali ini Ia rela kedinginan, ini malam Natal, dan yang lebih penting saat ini Ia tengah menunggu kedatangan Naruto.

Ya, Ia bertekad untuk menyatakan cintanya pada Naruto malam ini.

Perlahan Ia merasakan smartphone nya bergetar. Langsung saja Gaara mengambilnya dan melihat sebuah pesan yang masuk.

Dari Ino ternyata.

'Semoga berhasil! Ganbate!'

Ia tersenyum kecil, baru saja Ia ingin membalas pesan Ino, namun diurungkannya saat netranya menangkap sosok bersurai pirang berlari kecil kearahnya.

"Gaara"

Gaara kembali memasukkan smartphone-nya kedalah saku celananya.

"Kau sudah lama menunggu? Maaf Aku harus mengurus Kyuubi terlebih dahulu" jelas Naruto sesaat setelah dirinya berdiri berhadapan dengan pria bersurai merah tersebut.

Gaara menggeleng pelan.

"Tidak, aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu" bohongnya, padahal karena terlalu memikirkan Ia akan menyatakan cintanya pada Naruto malam ini, Ia malah datang setengah jam lebih cepat dari waktu janjian mereka.

"Kau sudah lapar?"

Naruto hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Gaara.

Langsung saja Gaara menarik pergelangan tangan Naruto, membawa gadis itu mengikutinya kesebuah café yang tak jauh dari keduanya berdiri saat itu.

.

Sementara itu dilain tempat, Sasuke baru saja mematikan laptop nya. Ia kemudian melirik jam tangannya.

'Ah, sudah pukul 9 ternyata' gumamnya dalam hati.

Ia tidak menyangka pekerjaan nya akan memakan waktu selama ini. Sementara Shikamaru sudah sedari sore tadi pergi meninggalkannya, dengan alasan, Ia ada kencan dengan Temari malam Natal ini.

Ah iya, ini malam Natal.

Sudah sewajarnya setiap orang yang memiliki pasangan menghabiskan waktunya bersama dimalam Natal seperti ini. Dan sebagai atasan sekaligus teman yang baik, Ia pun rela bekerja sendirian dan memberikan kesempatan pada Shikamaru untuk menikmati malam Natal bersama kekasihnya.

Sasuke segera menyambar jasnya dan bergegas pergi meninggalkan kantornya. Tubuhnya perlu istirahat.

.

"Terima kasih untuk makan malamnya hari ini"

Gaara tersenyum kecil membalas perkataan Naruto.

"Kupikir pasti akan terasa sangat sepi menghabiskan malam Natal seorang diri dirumahmu"

Sebenarnya Gaara sangat berterimakasih karena sepertinya Tuhan membantu jalannya kali ini, dengan cara membuat kedua orangtua Naruto pergi ke Okinawa saat ini. Karena Ia yakin, jika bukan karena kedua orangtua nya sedang pergi, maka pasti Naruto tidak akan bisa pergi keluar dengannya di malam Natal seperti ini.

"Sebenarnya Mikoto Oba-san mengajakku makan malam dirumahnya, Ia bilang malam Natal ini Ia hanya makan malam berdua dengan suaminya, dan itu membuat rumahnya sedikit terasa sepi, tapi saat Aku bilang Kau mengajakku keluar malam Natal ini, entah mengapa tiba-tiba Ia berubah senang, malah tadi Oba-san menawarkan dirinya untuk menjaga Kyuubi"

Ah, Gaara ingat dengan Oba-san itu, kalau tidak salah Ia adalah tetangga Naruto, Ia juga dulu membantu Naruto mengenakan yukata saat liburan musim panas yang lalu. Sepertinya Oba-san itu mendukung hubungannya dengan Naruto, karena saat Ia menjemput Naruto musim panas itu, Oba-san itu mengedipkan matanya sesaat sebelum keduanya pergi, seraya membisikkan 'semoga kencan kalian menyenangkan'.

Tapi sayang, tidak dengan anaknya.

Gaara bisa merasakan bahwa Sasuke tidak menyukainya, hal itu terlihat jelas dari ekspresi pria itu saat menjemput Naruto malam itu.

'Atau jangan-jangan pria itu …'

Ah tidak-tidak, Gaara buru-buru menggelengkan kepalanya.

"… Gaara"

"Ah Iya" refleks Gaara menoleh kearah Naruto.

"Kau zone-out beberapa saat"

Gaara menggelengkan kepalanya pelan.

"Ah maaf, Aku mencoba mengingat kembali sosok Oba-san itu"

Naruto kembali fokus pada jalan didepannya, dan Gaara mengikuti disampingnya.

Naruto menghentikan langkahnya, membuat Gaara yang berjalan disampingnya juga ikut berhenti. Gaara menatap Naruto yang tampak begitu mengangumi sesuatu yang ada didepannya. Apa pun itu, Ia menjadi penasaran, netra nya pun mengikuti arah pandangan Naruto.

Dihadapan mereka sebuah Pohon Natal berdiri tegak di sudut jalan, dengan hiasannya yang sangat indah, membuat mata tidak ingin lepas dari pohon tersebut.

Gaara tersenyum kecil melihat ekspresi Naruto, siapa sangka hanya sebuah Pohon Natal raksasa bisa membuat gadis itu terlihat sangat bahagia.

Gaara kembali mengalihkan pandangannya, ikut bersama Naruto menikmati keindahan Pohon Natal tersebut. Namun Gaara tidak bisa terlalu lama menatap pohon tersebut, karena baginya gadis yang kini berdiri disampingnya jauh terlihat lebih indah dari apapun.

Sampai tanpa sadar Gaara perlahan menundukkan wajahnya, perlahan jarak keduanya semakin menipis, tapi sepertinya Naruto belum juga menyadarinya. Dan saat gadis itu tersadar, bibir Gaara telah berada diatas bibirnya.

Ya, Sabaku Gaara, sahabatnya tengah menciumnya saat ini.

Naruto mengerjabkan kedua sapphire nya, Ia masih tidak percaya dengan apa yang saat ini terjadi.

'Tunggu, Gaara .., Gaara..'

Ah, otaknya membeku seketika.

Gaara menyudahi ciumannya, sesaat terbesit penyesalan dibenaknya, tatkala melihat ekpresi blank Naruto.

"Gaa .. ra.."

Ia akhirnya sedikit lega tatkala mendengar suara lirih Naruto.

"Aku mencintaimu Naruto"

Akhirnya Ia mengatakannya, kata yang sudah lama sekali mengganjal dalam pikirannya.

"Ah .."

Refleks Naruto mengambil jarak dari pemuda yang merupakan sahabatnya itu, Naruto menundukkan kepalanya, Ia merasa belum siap untuk menatap Gaara kembali.

Sesaat Naruto mengalihkan pandangannya melihat ke sisi jalan tatkala indra pendengarannya menangkap suara deru mesin mobil yang melaju kencang, seperti mobil yang dari keadaan berhenti mendadak di gas sekencang mungkin. Dan sapphire nya membulat sempurna saat samar-samar Ia melihat merk dan plat mobil tersebut.

'Tidak mungkin ..' batinnya.

Naruto kembali menatap Gaara, tampaknya sahabatnya itu jadi merasa bersalah dan juga tampak sedikit menyesal dengan apa yang baru saja dilakukannya.

"Gaara .., itu .."

Gaara memegang kedua bahu Naruto yang tampak bergetar, sepertinya Ia sudah tahu apa jawaban dari gadis tersebut.

"Gaara, maaf.., maaf Aku tidak bisa membalas perasaanmu" Naruto mencoba memberanikan diri menatap Gaara.

"Ada seseorang yang Aku sukai, dan .."

"Tidak apa Naruto, Kau tidak perlu membalas perasaanku, hanya saja Aku ingin Kau tahu tentang perasaanku sesungguhnya padamu"

Perlahan Gaara menundukkan wajahnya.

"Dan maaf kalau Aku menciummu tanpa persetujuanmu"

Dan dengan itu, perlahan Gaara melepaskan cengkramannya di lengan Naruto.

"Gaara.., maaf"

Suara Naruto terdengar sangat lirih.

"Kuharap kita masih bisa tetap berteman seperti biasanya" lanjutnya tak kalah lirih dari sebelumnya.

Gaara tersenyum kecut, bisakah Ia bersikap seperti biasa pada Naruto setelah kejadian ini?

"Dan Gaara, maaf, Aku harus pergi sekarang"

.

.

.

Naruto terus berlari dan berlari, mengabaikan kakinya yang lelah, serta nafasnya yang mulai terasa berat. Ia ingin cepat sampai ketempat tujuannya. Ia ingin cepat sampai ke apartemen milik pria itu. Pria yang sebenarnya disukainya. Ia ingin menjelaskan pada pria itu bahwa semua yang dilihatnya tadi hanya sebuah kesalahpahaman, Ia ingin mengatakan pada pria itu bahwa dirinyalah yang disukai dan dicintai olehnya.

Naruto mencoba mentralkan nafasnya yang memburu akibat berlari, kakinya benar-benar lelah, bahkan Ia benar-benar sudah tindak sanggup berdiri lebih lama lagi. Kini Ia telah berada tepat didepan pintu apartemen Sasuke.

Tangannya menggantung diudara, tepat beberapa senti dari bel apartemen Sasuke. Perlahan Ia kembali mengumpulkan keberaniannya, dan beberapa saat kemudian Ia mendengar suara nyaring bel apartemen Sasuke.

Sekali …

Tidak ada jawaban.

Dua kali …

Tiga kali …

Dan hampir saja jemarinya kembali menekan bel apartemen Sasuke, namun diurungkannya saat mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya.

Refleks Naruto terdorong kedepan tatkala Sasuke membuka kasar pintu apartemennya.

"Ah, Oji-…"

"Mau apa Kau kemari malam-malam seperti ini?"

Naruto menatap tak percaya pria yang kini berdiri dihadapannya.

'Benarkah ini Uchiha Sasuke, Oji-chan yang selama ini bersikap baik dan lembut padanya'

"Mana kekasih berambut merahmu itu? Apa Dia tidak bisa mengantarmu pulang kerumahmu?"

Sasuke masih bertanya dengan nada ketus padanya, bahkan tanpa menatap wajahnya sedikitpun.

Naruto menggeleng pelan, tanpa disadarinya airmatanya kini menetes di pipinya.

Ia ingin mengatakan apa yang dilihat oleh Sasuke tadi hanya kesalahpahaman, namun bibirnya mendadak kelu saat melihat raut wajah Sasuke yang penuh amarah.

Perlahan suara isakan tangis Naruto mulai terdengar, refleks oniks Sasuke menatap gadis bersurai pirang yang kini tertunduk dihadapannya. Perasaan bersalah mulai merasuki dirinya.

'Hei, lagipula siapa dirinya, kenapa Ia harus marah pada gadis ini, memangnya apa yang diperbuat gadis ini? Oh, iya, dia ingat, Ia melihat gadis ini dicium oleh pria lain, lalu apa masalahnya? Dirinya bukan siapa-siapa gadis ini'

Batin Sasuke mulai berkecamuk.

Cuma satu masalahnya, yaitu bahwa Ia mencintai gadis ini. Ia ingin memiliki gadis ini hanya untuk dirinya, Ia ingin memiliki gadis ini sepenuhnya, menjadikannya hanya miliknya seorang. Ia tidak ingin pria manapun menyentuh apa yang menjadi miliknya, apalagi sampai berani menyentuh bibirnya.

Sasuke sendiri tidak mengerti apa yang merasuki dirinya, jelas Ia masih kesal jika mengingat kejadian yang tadi dilihatnya saat dijalan menuju apartemennya. Bocah lelaki itu, adalah bocah lelaki yang sama saat festival musim panas tersebut. Darahnya mendidih sampai keubun-ubun taktakala melihat bocah lelaki itu mencium Naruto, Ia tahu itu adalah ciuman pertama Naruto, dan karena itu Ia kesal setengah mati. Ia ingin menjadi pria pertama bagi gadis itu dalam segala hal. Sasuke belum pernah seposesif ini terhadap seorang perempuan.

Naruto mulai memberanikan diri mengangkat kepalanya, menatap oniks kelam Sasuke yang menatapnya tajam.

"Kau salah, Gaara bukan kekasihku, Dia .. Dia memang mengatakan cintanya padaku tadi, tapi .."

Suara isakan tangis Naruto kembali terdengar.

"Tapi .. Aku mengatakan padanya kalau Aku menyukai pria lain, hiks …" kata-kata Naruto kembali terputus karena isakannya.

"Dan pria yang Aku sukai itu bernama Uchiha Sasuke"

Kedua oniks Sasuke melebar sempurna sesaat setelah kalimat itu keluar dari bibir mungil Naruto.

"Dan saat Ia menciumku tadi ..," Naruto perlahan menggelengkan kepalanya.

"Gaara .., Gaara tiba-tiba saja menciumku tanpa sepengetahuanku"

Suara isakan tangisnya kembali menggema.

"Kalau .., kalau boleh Aku .., mengulang waktu, hiks .., Aku inginnya Kau menjadi pria pertama yang menciumku"

Hiks ..

"Kau sebut itu ciuman?"

Sasuke mencengkram erat lengan kanan Naruto.

"Biar kutunjukkan padamu ciuman yang sebenarnya"

Naruto merasakan tubuhnya yang ditarik paksa oleh Sasuke, tubuhnya terdorong membentur pintu, bersamaan dengan pintu yang tertutup dibelakangnya. Dan beberapa detik kemudian Ia merasakan bibir Sasuke membungkam bibirnya.

.

.

.

TBC