It's Only My Secret – Bonus Chapter – Miku's Birthday
Musim panas sudah tidak menjadi musim panas, karena cuaca sudah mulai dingin dengan masuknya musim gugur. Tinggal menunggu tanggal saja berubah bulan menjadi September untuk benar-benar menandakan masuknya musim gugur–secara umum dan perhitungan bulan.
Tanggal hari ini adalah tanggal dua puluh sembilan Agustus. Tidak ada yang spesial pada hari ini, tapi hari spesial itu akan tiba besok lusa. Pada tanggalan di kamar Rin, tanggal tiga puluh satu dilingkari dengan lingkaran merah. Tapi tidak ada catatan apapun yang tertinggal dalam kalender tersebut.
Ran memerhatikan kalender yang ada di meja belajar Rin. Dia kemudian mengambil tanggalan tersebut, mempelajari betul kalender tersebut mencari memo untuk tanggal yang dilingkari. Ran merasakan sesuatu menepuk bahunya, Ran menoleh ke belakang. Rin ada di belakangnya memandangnya dengan heran dan mulut menganga. Rin memiringkan kepalanya. Ran kemudian mengedipkan matanya, menaruh kalender tersebut di meja Rin.
Rin memanjangkan lehernya dan mengintip kalender yang tertutupi oleh bahu Ran, wajahnya keheranan, "kamu sedang melihat tanggalan?"
Ran mengangguk-angguk pelan, "iya," Ran kemudian melirik kalender di belakangnya. "Apa tanggal tiga puluh satu ada acara penting di sekolah?" Ran menatap Rin dengan heran dan mengangkat sebelah alisnya.
Rin tersenyum tipis, matanya melembut. "Itu bukan acara penting sekolah, tapi ulang tahun Miku."
Mata Ran membulat. "Ulang tahun Miku?" Jantungnya berdebar mengetahui sesuatu yang baru tentang gadis yang disukainya.
Senyuman Rin melebar kemudian dia mengangguk-angguk. "Iya, niatnya kita ingin mengadakan pesta kecil-kecilan untuk merayakan ulang tahun Miku."
Alis Ran terangkat, dia berusaha menyembunyikan perasaan bahagia, geli dan malunya. "Kita? siapa saja?"
Rin melengkungkan mulutnya ke bawah, sedikit cemberut. "Aku, Gumi, dan Luka, tapi akhir-akhir ini Luka sedang sibuk dengan urusan OSISnya jadi dia tidak bisa ikut merayakan bersama," senyuman kemudian melengkung di bibirnya, matanya melembut ceria. Dia memanggil nama Ran, "apa kamu mau ikut merayakan ulang tahun Miku? menggantikan Luka," Rin terkekeh.
Jantungnya berdebar-debar kencang, tapi juga terasa geli. Wajahnya memerah, dia dapat merasakan telinganya terasa panas. "Bo-boleh..."
Rin tersenyum. "Baiklah, aku akan menambah porsi untukmu."
Ran mengangkat sebelah alisnya. "Porsi?"
Rin cekikikan. "Yaa, sebenarnya kita hanya merayakan ulang tahun Miku dengan membeli makan kecil-kecilan yang kita beli dari toko swalayan asrama." Rin mengangguk-angguk pelan.
"Kamu tidak marah padanya setelah apa yang dilakukan Miku tadi?" tanya Ran dengan mata dingin.
Rin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku sudah biasa diperlakukan seperti itu. Miku juga membela dirinya, tapi toh dia sudah meminta maaf, dan berjanji tidak akan melakukannya lagi," jawab Rin sambil tersenyum.
"Oh..." Ran memusatkan perhatiannya kembali pada kalender, pada tanggal tiga puluh satu Agustus yang dilingkari dengan tinta merah.
.
Ran terbaring di kasurnya, memikirkan ulang tahun Miku yang akan datang. Ran mengangkat kedua tangannya melipatnya di belakang tangannya, kepalanya bersansar pada lengan-lengannya. Ran melirik Miku. Miku sudah tertidur, menghadap ke padanya, dan menyelipkan satu tangannya di bawah bantal dan tangan lainnya terselip di antara pipinya dan bantalnya, rambutnya terurai di belakangny. Melihat Miku sudah terlelap dia memutuskan untuk membangunkan Len. Meskipun Len kesal pada Miku tapi dia sendiri tidak bisa membuatnya membenci Miku.
Len menatap langit-langit kamarnya kemudian matanya melirik ke lemari pakaiannya. "Aku ingin memberinya kado... tapi aku tidak memiliki uang..." gumamnya. Len memiringkan badannya kepada Miku. "Apa aku harus memberinya salah satu bajuku?" Len memerhatikan Miku dari atas sampai bawah. "Mungkin cukup..." wajahnya tiba-tiba memerah, dia langsung membalikkan badannya memunggungi. "Apa yang kupikirkan tadi..." Len menarik nafasnya dan membuangnya dengan cepat berfikir ingin menenangkan irama jantungnya yang semakin cepat.
Dia tiba-tiba teringat akan uang yang diambilnya dari lemari pakaian di rumahnya dulu. Uang-uang itu adalah uang simpanannya dan ayahnya yang dikumpulkan bersama-sama. Tapi dulu dia menaruh uang itu di dalam tas yang sekarang di tahan oleh Gakupo di kantornya, tapi entah dimana tas itu sekarang. Karena tidak ada jejak-jejak tasnya di dalam ruangan Gakupo. Semua uangku ada di dalam sana... besok aku harus menemui paman atau Mikuo-san. Len kemudian memejamkan matanya, berharap kesadarannya tertidur agar ia bisa cepat-cepat menemui Gakupo.
.
Ran berdiri di depan meja Gakupo, menatapnya dengan wajah masam. Alisnya di tegakkan hingga menyentuh ujung-ujung dalam matanya. Dahinya berkerut, dan tangannya menekan meja kayu jati Gakupo. Tas sekolahnya di taruh di atas meja Gakupo.
Gakupo yang sedang membaca koran dan duduk menyamping kemudian memutar kursinya. Matanya melirik kepada Ran dan kemudian dia kembali menatap koran dengan tenang, melipat korannya dna menaruhnya di atas mejanya, di sebelah tas Ran. Dia melipat kakinya kemudian sedikit mencondongkan badanya dan menaruh tangannya pada tangan-tangan kursi putar. "Ada apa? kenapa wajahmu masam begitu? apa di sekolah tadi ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Wajah Ran kemudian memerah. Alis-alinya yang kemudian melemas, ujung luar alisnya turun kebawah, mulutnya rapat melengkung malu dan pipinya merona merah. "Se-sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu..." Ran berhenti sebentar mengumpulkan kekuatannya, "dimana tasku yang dulu? aku ingin uangku..." Ran menggaruk-garuk pipinya.
Gakupo mengangkat tangannya ke atas meja kemudian menelungkupkannya. "Kamu butuh uang? untuk apa? aku bisa memberimu uang, kamu butuh berapa?"
Ran menyipitkan matanya dan mengerutkan dahinya. "Ah... aku tidak membutuhkan uangmu... tapi uangku sendiri... rasanya akan berbeda kalau aku menggunakan uangmu." Ran sedikit berjalan mundur menjauhi kemudian menaruh satu tangan di pinggangnya.
Gakupo mendengus. "Akan kamu apakan uangmu itu?"
Wajahnya kembali memerah. Hari ini sudah tanggal tiga puluh Agustus, dia tidak boleh mengulur waktu untuk mendapatkan uang itu karena hari semakin sore dan beberapa jam lagi langit akan gelap. Meskipun dia tidak yakin, mungkin penjaga gerbang asrama memperbolehkannya keluar sebentar dari komplek sekolah dan kembali sebelum hari gelap, karena di sekolah ini tidak ada toko souvenir atau toko aksesoris.
Dengan malu-malu dan berat hati Ran memberanikan diri untuk membuka mulutnya. "Se-sebenarnya besok adalah ulang tahun seseorang di kelasku..." Ran menghindari wajahnya dari tatapan serius Gakupo kemudian menggaruk-garuk pipinya dengan jarinya. "Hm... a-aku ingin memberinya kado ulang tahun..."
Gakupo mengangkat sebelah alisnya dan mengayun tubuhnya menjadi tegap. "Besok? siapa? Rin?"
Mikuo tiba-tiba berjalan mendekati Ran dan berdiri di sebelahnya. Dia menatap Ran kemudian menatap Gakupo. "Besok adalah tanggal tiga puluh satu Agustus, itu artinya yang nona Ran maksud adalah nona Miku Hatsune yang satu kelas dengan nona Ran."
Gakupo mencondongkan tubuh ke belakang, tangan-tangannya menekan mejanya. Rahangnya jatuh ke bawah menganga, kedua alisnya terangkat membuat lipatan-lipatan pada keningnya. "Miku?! kamu ingin memberi Miku hadiah ulang tahun?" Gakupo kemudian mengayun badannya ke depan lagi, dia tersenyum melihat reaksi Ran yang mengangguk-angguk dengan kikuk. "Kamu suka padanya?"
Ran mengangguk-angguk lagi, tapi kemudian matanya terbelalak, dia mengangkat kepalanya dan memanjangkan lehernya. "E- ma-ma- i-iya aku menyukainya!" teriak Ran.
Gakupo kemudian tertawa geli. "Waw... ternyata kamu sudah dewasa juga... belum ada sepekan kamu masuk ke sekolah ini," Gakupo menutup mulutnya yang tertawa lebar dengan tangannya.
Otot-otot menonjol di pojok kening Ran. Ran menggertakkan giginya, wajahnya yang merah menghitam. "Ya tentu saja! aku kan laki-laki normal!"
Gakupo menatap datar Ran. "Ya... oh iya... aku lupa... ya sudah, kamu ingin membelikan apa untuk Miku? biar Mikuo yang membelikannya untuk Miku." Gakupo menatap Mikuo dan Ran.
Otot-ototnya melemas, alisnya terangkat membentuk lipatan-lipatan di keningnya. "Hah? Aku tidak bisa membelikan kado untuk Miku? kenapa?" tanya Ran.
Gakupo menghela nafasnya. "Kamu tidak pernah membaca peraturan asrama ya? semua murid dilarang untuk keluar dari area komplek sekolah selain hari Minggu, itu peraturan sekolah ini," jawab Gakupo dan menatap Ran.
Ran memegang pinggangnya, kepalanya menunduk miring, dan satu tangannya memegang keningnya. "Ah... lalu bagaimana aku memilih hadiah untuk Miku?"
Mikuo menoleh pada Ran. "Saya akan mengambil gambar barang-barang yang ada sesuai dengan kriteria barang yang diberikan oleh nona Ran. Saya akan mengirim foto-foto dari ponsel saya lalu akan membeli barang yang nona Ran pilih."
Ran berfikir dengan mengusap-usap dagunya sambil menunduk dan menatap lantai. "Hm... menurut paman... kado apa yang bagus untuk Miku?" dia kemudian menatap Gakupo, mengangkat alisnya, meminta pencerahan Gakupo.
Gakupo melirik ke atas kemudian menatap Ran. "Cincin?"
Ran menggeleng-gelengkan kepalanya, pipinya merona merah. "Tidak-tidak arti cincin itu terlalu besar, aku bahkan belum mengutarakan perasaanku, dan dia hanya mengetahuiku sebagai Ran, bukan Len. Aku tidak bisa memberikannya cincin karena nanti kesannya aneh..."
"Kalung?" tanya Gakupo.
Ran menggeleng-gelengkan kepalanya lagi dan melambai-lambaikan pelan tangannya memberi isyarat 'tidak'. "Tidak, tidak, arti kalung juga sangat besar." Ran mengalihkan pandangannya dari Gakupo berusaha menutupi wajahnya yang memerah dari Gakupo dan Mikuo.
Mikuo kemudian menepuk Ran. "Bagaimana kalau jepit atau ikat rambut?" Mikuo menatap wajah Ran dengan ekspresi datar.
Mata Ran membulat, alisnya melengkung dan naik, matanya bercahaya berseri-seri dan di bibirnya terbentuk senyuman lebar. Ran menoleh kepada Mikuo. "Kamu benar Mikuo! jepit dan ikat rambut! Miku 'kan selalu mengikat rambutnya, nah dia tidak akan curiga kalau aku memberinya barang seperti itu."
Mikuo mengangguk kemudian mengeluarkan ponselnya san meminta nomor kontak Ran. Ran menyetujui usulan Mikuo dan memberikan kontaknya pada Mikuo. Kemudian memberi kriteria jepit rambut berwarna putih, dengan manik-manik tiruan yang memenuhi jepit tersebut, atau jepit putih dengan pita berwarna kuning, sementara ikat rambut ia meminta yang bergelombang besar warna kuning, atau pink dengan hiasan bunga atau pita. Tentunya Ran menyuruh Mikuo untuk memilih barang-barang yang tidak terlalu mahal, agar cukup dengan uangnya dan masih tersisa untuk dirinya.
Ran menatap Mikuo dengan penuh curiga. "Bagaimana kamu bisa mengetahui ulang tahun Miku?" Ran menyipitkan matanya.
Mikuo sedikit mengerutkan hidungnya dan sedikit mendengus. "Saya mengetahui semua data tentang murid-murid di sini, termasuk nona Ran."
Ran merasa merinding, bulu-bulu halus di punggungnya berdiri.
.
Ran duduk di atas kasurnya dan bersandar pada bantal. Dia asik memainkan ponselnya sambil berbalas pesan dengan Mikuo. Sesekali Ran melirik Miku, memastikan Miku tidak mencurigainya atau mendatanginya. Ran melirik Miku yang sedang fokus menonton acara televisi.
Suara dari televisi terdengar di telinganya. "Snow white! seharusnya kamu jangan percaya dengan orang asing," ucap kurcaci tertua yang ada di dalam televisi.
"Tapi dia adalah nenek tua... aku tidak bisa membiarkannya kehausan..." balas snow white.
Suara ponsel Ran menandakan adanya pesan masuk. Ran segera fokus kembali memerhatikan ponselnya, suara-suara dari televisi seakan tak menjangkau telinganya ketika perhatiannya teralih pada ponsel. Mikuo mengirimnya berbagai gambar jepit dan ikat rambut, Ran mengunduh semua gambar yang Mikuo berikan kemudian memeriksanya satu-satu melalui galerinya agar lebih mudah. Mikuo mencantumkan semua harga jepit dan ikat rambut itu satu persatu. Ran menggeleng-gelengkan kepalanya jika gambar yang dikirim Mikuo tidak sesuai dengannya dan menghapusnya.
Ran melewati semua foto yang harganya sedikit mahal dan tampak biasa, dia menyisakan dua gambar. Satu jepit yang harganya sedikit mahal, jepit itu berwarna putih perak, bentuknya bobby pin lebar. Di ujung belakang badan jepit tersebut terdapat manik-manik mutiara kecil. Satunya lagi harganya murah, bobby pin berwarna putih dengan pita kecil pink di ujungnya.
Kedua jepit ini bagus... apa aku pilih yang murah saja...? Ran kemudian membayangkan Miku dengan jepit yang diberikannya, wajahnya berseri-seri dan rasanya geli, tapi rasanya lebih bagus yang sedikit mahal ini... Ran kemudian melirik ke Miku yang fokus kepada televisi. Lebih baik aku pilih yang manik-manik ini saja, toh... harganya tidak beda jauh... aku tidak boleh pelit. Ran kemudian memulai mengeliminasi gambar-gambar ikat rambut. Setelah beberapa menit menyeleksi gambaf-gambar, pilihannya jatuh pada ikat rambut besar bergelombang berwaena kuning polos dengan hiasan berbentuk pita di ujungnya.
Aku pilih yang ini dan yang ini, dibungkus di kotak kecil saja ya, pilih motif yang biasa saja, warna apa saja boleh. Tulis Ran di ponselnya kemudian mengirim pesan tersebut kepada Mikuo, Ran juga mengirimkan kembali gambar yang dipilihnya.
Ok, saya akan membelinya dan membungkusnya. Nanti malam akan saya antarkan ke kamar nona. Balas Mikuo.
.
Waktu pun berlalu dan Miku sudah tertidur. Ran tidak bisa tertidur karena menunggu Mikuo mendatanginya. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih tiga puluh menit waktu malam. Ran berbaring di kasurnya sambil memandangi ponselnya dan berbalas pesan dengan Mikuo.
Suara ketukan pelan dari pintu terdengar dari pintunya. Ran bangkit dari kasurnya dan turun dari kasurnya. Kakinya menyentuh lantai yang dingin. Bulu di belakang punggungnya berdiri tegak merespon rasa dingin dari kakinya. "Itu pasti Mikuo," ucap Ran sambil berjalan mendekati pintu kamarnya.
Ran berdiri di depan pintunya dan membuka kunci kamarnya. Ran membuka pintunya perlahan.
Mikuo berdiri di depannya sambil membawa kotak yang besarnya segenggaman tangannya. Kotak itu dibungkus dengan kertas kado bergaris berwarna kuning dan hijau-kebiruan. Mikuo memberikan kotak tersebut dan sejumlah uang sisa dari belanjaannya.
"Terima kasih atas bantuanmu," ucap Ran sambil menerima kotak tersebut.
Tanpa banyak bicara Mikuo menganggukkan kepalanya dan berjalan menjauhi kamar Ran. Bayangannya menghilang ketika dia berbelok ke lorong sebelah kiri, lorong menuju aula lantai dua dan tangga.
Ran menutup pintunya perlahan sambil melirik kepada Miku, memastikan agar Miku tidak terbangun, kemudian kembali mengunci pintu kamarnya. Ran berjalan menuju lemari pakaiannya, dia membuka lemari pakaiannya tersebut dan menyelipkan uang serta kado untuk Miku di antara lipatan-lipatan baju-bajunya. Ran tersenyum tipis, dia melirik kepada Miku kemudian menolehkan kembali kepalanya kepada lemari dan menutup lemari tersebut.
Ran duduk di kasurnya dan membaringkan tubuhnya, dia menaikkan selimutnya se'pinggangnya, menyelimuti kakinya. Wajahnya berseri-seri dan matanya berbinar-binar membayangkan wajah Miku yang tersenyum ketika menerima kado pemberiannya. Semoga dia menyukainya. Ran menutup matanya dan bantal yang empuk serta selimutnya yang hangat membantunya pergi menuju dunia mimpinya.
.
Hari ini adalah hari yang dilingkari pada kalender Rin. Sebelum berangkat ke sekolah Ran tersenyum-senyum sendiri membayangkan ekspresi Miku dan kata-kata yang tepat untuk diucapkannya.
Setelah mengadakan pesta kecil-kecilan di kamar Miku dan Ran, mereka pulang setelah waktu menunjukkan pukul delapan lebih tiga puluh menit waktu malam.
Miku sudah menguap berkali-kali sambil membersikah kamar mereka. Ran terus memerhatikan Miku. Sekarang bagaimana aku memberikan kadonya? aku baru beberapa hari mengenalnya, lalu tiba-tiba dia ulang tahun dan aku memberikan kado... dia akan curiga dengan tindakanku tidak ya...? Berbagai pertanyaan berputar-putar di kepalanya sambil memerhatikan Miku yang sedang merapihkan kasurnya.
Miku menoleh kepada Ran, Miku sedikit membuang wajahnya dan pipinya merona merah muda. "Kenapa Ran? kenapa memerhatikanku seperti itu?" tanya Miku.
Mata Ran membulat. Tangannya mengikat kantung sampah. "Ti-tidak, tidak apa-apa." Ran kemudian membawa kantung sampah ke pojok kamar, di pojok kamar tersebut ada tong sampah yang terhubung dengan tembok. Ran kemudian memerhatikan sekitar kamarnya. Dia tersenyum ketika tidak ada sampah terlihat di matanya. Ran berjalan mendekati kasurnya dan duduk di kasurnya. Dia sudah mengganti pakaiannya dengan piyama sebelum pesta dimulai.
Miku duduk di sebelah kemudian menoleh Ran. "Terima kasih sudah mau ikut merayakan ulang tahunku," ucapnya dan tersenyum polos dengan manis. Senyuman itu membuat telinga Ran sedikit panas dan jantungnya berdebar-debar. Miku terlalu dekat dengannya dia harus menjaga jarak agar bunyi detak jantungnya tak sampai ke telinga Miku.
Ran memutar-mutar matanya, bulit keringat mengalir di keningnya. "Ah.. hm... i-iya, sama-sama..." Ran kemudian diam sebentar, matanya melirik Miku kemudian memperhatikan Miku yang tertunduk sambil memainkan, memutar-mutar jarinya. "Oh iya..." wajah Ran memerah, dia mendekati Miku. "Selamat ulang tahun..."
Miku menegakkan kepalanya dan menoleh. Mulutnha sedikit terbuka dan matanya membulat, alisnya sedikit terangkat. "Terima kasih, kamu kan sudah mengucapkannya tadi."
Ran melirik ke arah lainnya menghindari tatapan Miku. "Ya..." matanya kemudian menatap Miku dengan mantap tapi malu-malu. "Aku ingin mengatakannya lagi saja."
Miku tersenyum. "Sama-sama." Dia kemudian berdiri. Kepala Ran mengikutinya yang berjalan ke kasurnya. Miku berbaring di atas kasurnya, kemudian memiringkan badannya menghadap Ran. "Kamu tidak tidur?" tanya Miku, bibirnya melengkungkan senyuman tipis. Miku kemudian melepaskan ikatan dari rambutnya, mendorong rambutnya kebelakang, dan menyelipkannya di balik telinga, dia menaruh kepalanya di atas bantal, tangannya meraih meja dan menaruh kedua ikat rambutnya.
"Aku akan tidur." Ran bangkit dari duduknya dan mematikan lampu kamar, meninggalkan lampu tidur yang terdapat di meja antara kasurnya dan kasur Miku. Ran kemudian membaringkan tubuhnya. Ran menolehkan kepalanya kepada Miku. Aku belum memberikannya kado...
Miku tersenyum. "Ran baru seminggu di kamar ini, tapi rasanya sudah lama, aku senang Ran ada di kamar ini." Miku kemudian terdiam tertawa dengan kikuk, wajahnha tampak bersalah. "Terima kasih sudah mau menjadi temanku."
Ran tersenyum tipis. "Ya..."
Miku kemudian menguap dan mengusap matanya, "aku sudah ngantuk... aku tidur duluan ya..." Miku kemudian menyelipkan tangannya ke bawah bantal dan yang satunya diselipkan di antara bantal dan pipinya.
Len memerhatikan Miku yang perlahan-lahan terlelap. Senyuman tipis tampak dari wajah Miku. Len menarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Aku tidak bisa memberikan kado itu... aku malu untuk memberikan kado... Aku baru mengenalnya sekitar seminggu lalu memberinya kado, kalau aku menjadi Len mungkin memang akan membuatnya curiga. Tapi kalau Ran yang memberikan, dia akan jauh lebih curiga dari mana aku mendapatkan barang sementara aku tidak keluar dari asrama sama sekali. Len kemudian membalikkan dirinya dan memunggungi Miku, rasa malunya yang mendorong Len untuk tidur memunggungi Len melirik kepada lemari pakaiannya. Rin bahkan tidak memberikannya kado, kalau aku yang baru mengenalnya dan memberi kado padanya, itu pasti aneh, aaah... Len menggaruk-garuk kepalanya. Kamu payah Len, tidak-tidak tapi Ran yang payah. Ah tapi Ran dan Len kan orang yang sama, aaah intinya aku yang payah. Len kembali menggaruk-garukkan kepalannya sambil menutup matanya dan menggertakkan gigi. Aku memang belum penah memiliki hubungan dengan perempuan... jatuh cinta seperti macam ini benar-benar pertama kalinya untukku, aku jadi canggung... aah... kamu payah Len. Len kemudian membuka matanya perlahan. Tapi yang terpenting aku sudah memberikan selamat... mungkin itu cukup untuk langkah awal pertemananku... Len memejamkan matanya. Aku bisa memberikan kado itu nanti... ya... nanti..., mungkin... kalau aku berani... Rasa kantuk mulai menyerangnya dan kenyamanan bantal seketika membuatnya lupa akan segala yang dipikirkannya dan kembali berpetualang dalam mimpinya.
A.N
hai, terima kasih sudah membaca bonus chapter XD aku dedikasian chapter ini untuk ulang tahun miku. siapa sih yang ga ingat sama ultah miku? XD
awalnya saya ingin bikin oneshot untuk ulang tahun Miku, melibatkan semua vocaloid, tapi setelah saya pikir-pikir kayaknya udah lumayan banyak. lalu ada keinginan untuk membuatnya MikuLen saja, tapi saya tidak terpikirkan plot seperti apa yang saya akan buat.
akhir kata. Selamat ulang tahun Hatsune Miku :D
